00:00Di langit siang hari, awan cumulus yang tampak ringan dan lembut ternyata bisa memiliki berat lebih dari 500 ton.
00:07Itu berat yang setara dengan lebih dari 80 gajah Afrika yang melayang tepat di atas kepala kita dan semuanya tampak
00:14seperti kapas ringan.
00:16Tapi bagaimana benda seberat itu bisa tetap tinggi di langit?
00:20Hari ini kita akan membongkar fisika di balik awan yang mengapung dan jawabannya mungkin membuatmu melihat langit dengan cara yang
00:28berbeda.
00:30Para ahli meteorologi sudah lama menghitung berat-rat awan dengan metode yang cukup teliti.
00:35Menghitung volume awan, keadatan rata-rata air di dalamnya, lalu mengalihkan semuanya.
00:40Hasilnya selalu mengejutkan, awan besar bisa berisi ratusan hingga ribuan ton air.
00:46Dan yang membuat ilmuwan bertanya-tanya, awan itu tidak langsung turun seperti balon yang kelebihan beban.
00:53Dan ada satu ukuran kecil pada awan cumulus yang sampai sekarang belum bisa dijelaskan siapapun, ukuran yang membuktikan daya, apung
01:02awan bukan sekadar soal berat dan volume.
01:05Kita selalu diajarkan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ke bawah.
01:10Itu berlaku untuk batu, untuk logam, untuk hampir semua benda yang bisa kita pegang.
01:15Tapi awan sepertinya memainkan aturan yang berbeda.
01:18Sebuah awan cumulus rata-rata bisa memiliki kepadatan air hanya 0,5 gram per meter kubik.
01:25Bayangkan ruangan sebesar apartemen mewah di New York yang hanya berisi setengah gram air.
01:31Kepadatan udara di sekitarnya jauh lebih tinggi daripada kepadatan awan itu.
01:36Dan justru itulah kunci dari seluruh misteri ini, udara yang mengelilingi awan lebih berat daripada awannya sendiri.
01:45Semua awan bermula dari perjalanan air yang paling sederhana yang bisa kita bayangkan.
01:50Uap air dari lautan, danau, dan tanah terkena panas matahari lalu naik ke atmosfer.
01:56Udara yang membawa uap ini bergerak ke atas karena lebih ringan daripada udara di sekitarnya.
02:02Ketika sampai di ketinggian yang lebih dingin,
02:05Uap air itu mengembun menjadi tetesan mikroskopis yang menempel pada partikel debu dan serbuk sari melayang.
02:11Setiap tetesan itu hanya berdiameter sekitar 10 mikrometer,
02:15jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia.
02:19Dan yang menarik, tetesan sekecil itu justru begitu ringan sehingga gravitasi hampir tidak berpengaruh apapun terhadap pergerakannya.
02:28Tetesan air awan tidak melayang begitu saja tanpa hambatan.
02:32Setiap tetesan terus ditarik ke bawah oleh gravitasi,
02:35tapi pergerakannya terus melambat karena gesekan dengan udara di sekitarnya.
02:40Saking kecilnya, tetesan itu mencapai kecepatan jatuh yang sangat pelan hanya sekitar beberapa sentimeter per detik.
02:48Bayangkan air hujan yang jatuh pelan-pelan seperti debu yang mengendap di rak buku.
02:53Pada titik itu, arus udara naik yang terus bergerak ke atas justru lebih kuat daripada tarikan gravitasi ke bawah.
03:00Akibatnya, tetesan tetap berada di ketinggian yang sama melayang di antara arus udara yang saling bertabrakan.
03:08Dan setiap kali dua tetesan bertabrakan, mereka bisa bergabung menjadi tetesan yang lebih besar dan lebih berat.
03:15Dan inilah bagian paling menarik dari seluruh cerita awan ini.
03:19Selama tetesan masih cukup kecil, awan tetap mengapung dengan tenang di langit.
03:24Tapi ketika tabrakan antar tetesan berlangsung terus-menerus, mereka tumbuh menjadi butiran hujan yang berdiameter sekitar 2 mm.
03:33Pada titik itu, gravitasi akhirnya memenangkan pertarungan.
03:38Butiran hujan yang sudah cukup berat itu jatuh ke bawah dengan kecepatan sekitar 9 meter per detik menembus lapisan udara
03:45yang sebelumnya menahannya.
03:47Dan yang membuat penasaran, awan yang menurunkan hujan itu tidak langsung menghilang, awan baru terus terbentuk dari uap air yang
03:55terus naik dari bawah sehingga hujan bisa turun selama berjam-jam.
04:00Jadi lain kali kamu melihat awan cumulus yang tampak ringan dan lembut di langit, ingat bahwa di balik kelembutan itu
04:07ada ratusan ton air yang sedang bertahan melawan gravitasi dengan cara yang paling halus.
04:13Menurutmu, fenomena langit mana yang paling layak kita beda berikutnya?
04:17Apakah pelangi, badai petir, atau cahaya senja?
04:21Tulis di kolom komentar.
04:22Terima kasih sudah menemani sammenemani sampai akhir.
04:25Tekan subscribe dan like supaya kita bisa, bisa terus menjelajah bersama.
04:29Sampai ketemu di langit berikutnya.