Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 19 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik hingga Jabodetabek dan sejumlah wilayah lainnya.

Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga, penerbangan, hingga membuat sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Imbas erupsi Gunung Anak Krakatau, sejumlah bandara ditutup sementara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, Bandara Radin Inten II di Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat.

Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

Selain tiga bandara tersebut, lima bandara lain yang ditutup yakni Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabe, Bandara Taufik Kiemas, serta Bandara Atung Bungsu.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih memutuskan menutup operasional delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga pukul 24.00 WIB. Penutupan ini bisa diperpanjang sesuai kondisi sebaran abu vulkanik.

Dudy juga menjelaskan, terdapat dua bandara tambahan yang terdampak abu vulkanik hingga operasional ditutup sementara yakni Bandara Taufik Kiemas Lampung dan Bandara Atung Bungsu Pagar Alam. Dengan demikian, total terdapat delapan bandara yang terdampak abu vulkanik.

"Setelah kami melakukan koordinasi maka kami memutuskan bahwa 8 bandara tersebut akan kami tutup sampai dengan pukul 24.00 WIB," ucap Dudy, Minggu (6/9/2026).

BNPB memastikan kondisi Lampung, Banten, Jawa Barat hingga DKI Jakarta kondusif dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Saat ini terpantau arah pergerakan abu vulkanik cenderung menuju Laut Hindia.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatinkom) BNPB Berton Panjaitan mengatakan, berdasarkan analisis citra satelit, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bergerak ke arah barat mengikuti arah angin, Selasa (8/9/2026).

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/689998/menko-ahy-menhub-dudy-hingga-bnpb-soal-erupsi-anak-krakatau-penyebaran-abu-vulkanik-parasot
Transkrip
00:03Terdampak Albu Vukandik sejak tadi pagi kita rasakan.
00:08Kita pesankan kepada masyarakat agar tidak panik.
00:12Itulah mengapa sampai dengan saat ini Bandara Soekarno-Hatta dan sejumlah bandara lainnya
00:16masih diperpanjang sedikit untuk penutupan atau pengalihannya.
00:40Terima kasih telah menonton!
01:26Terima kasih telah menonton!
01:30Oke, itu sudah sejak tadi pagi atau sudah lebih lama lagi Pak dirasakan atau baru terlihat sekarang begitu?
01:40Ya, sebelumnya sempat ada dentuman itu dari hari Jumat malam ya.
01:45Nah, untuk Albu Vukandik sendiri dirasakannya tadi pagi ketika kami baru keluar rumah ketika akan melaksanakan sholat.
01:54Nah, itu terlihat Abu Vukandik sudah bertebaran di halaman rumah, di mobil, dan di area teras-teras masjid.
02:02Oke, Pak Komar ketika tadi soal dentuman itu sudah ada informasi belum Pak itu berasal dari mana begitu?
02:12Untuk dentuman sebelumnya kami belum tahu informasinya itu dari mana, tapi berita yang berada mungkin ada yang mengatakan oke dari
02:20anak Krakatau, tapi itu belum jelas.
02:22Nah, jelasnya itu baru tadi pagi ketika kami merasakan ada debu vulkanik.
02:28Nah, kita melihat-melihat berita bahwa itu ternyata ada letusan anak Gunung Krakatau.
02:36Terima kasih Mbak Gina, jadi ini ada beberapa kekhawatiran tentunya terhadap aktivitas di Gunung Krakatau,
02:42bahwa aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya,
02:48ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus.
02:52Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung.
02:59Namun, erupsi yang sering tidak otomatis ini berarti memang akan terjadi erupsi yang lebih besar,
03:08di mana badan geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan,
03:15bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi.
03:18Bahwa bahaya yang paling memang perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar,
03:24dan juga batuan vulkanik, serta abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi,
03:30serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh gunung anak Krakatau.
03:36Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas
03:41dan membahayakan siapapun yang masuk zona terlarang.
03:45Aktivitas berpotensi berfluktuasi dan meningkat ini karena gempa frekuensi rendah dan juga hibrid,
03:55harmonik, serta kremor masih terekam.
03:58Sehingga jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau pelepasan vida vulkanik dalam sistem gunung api.
04:05Meskipun demikian, waktu besar dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat.
04:12Karena itu evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan.
04:19Yang terdampak erupsi gunung anak Krakatau ini ada di tiga kawupaten dan 15 kecamatan.
04:29Yaitu yang pertama, Kabupaten Lampung Selatan, itu di kecamatan Punduf Pedada, kecamatan Raja Basa, kecamatan Kalianda, kecamatan Ketapang, kecamatan Bakahuni,
04:43kecamatan Sidomuyo, dan kecamatan Katibu.
04:46Kemudian Kabupaten Pandeglang, ada empat kecamatan, yaitu kecamatan Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput.
04:53Kemudian Kabupaten Tanggamus, ada empat kecamatan, yaitu kecamatan Pematang Sawa, Cuku Balak, Semaka, dan Kota Agung.
05:02Tadi kami sudah melakukan video konfren dengan para kepala pelaksana Badan Nasional Penanggulangan Daerah, ulangi Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
05:14Semua melaporkan bahwa tidak ada korban jiwa, sementara yang dilaporkan.
05:21Dampak secara fisik untuk kerusakan ini terus masih dilakukan pendataan.
05:26Memang di Provinsi Jakarta, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, ini semuanya terpapar.
05:34Banten, yang tadi sudah dijelaskan oleh Bapak Kepala BMKG.
05:41Kemudian langkah-langkah yang sudah dan akan dilakukan oleh BNPB.
05:47Yang pertama, tadi sekali lagi kami sudah melakukan video konfren, tentu saja ini terus kita lakukan untuk mengetahui detik per
06:00detik, jam per jam, hari per hari,
06:02daripada kondisi masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakato ini.
06:09Kemudian juga BNPB sudah mengirimkan tim pendahulu ke daerah Bencana.
06:15Yang tahap pertama kami mengirimkan 10 personil ini untuk sudah berangkat di sana.
06:20Mereka akan memantau secara langsung situasi di lapangan terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakato sendiri maupun dampaknya kepada masyarakat.
06:30Kemudian yang kedua juga kami sudah melaksanakan pengecekan, pengecekan terkait dengan kesiapan alat perangkat.
06:42Tadi Bapak Kepala BMKG juga menyampaikan seperti alat-alat pemantau, kemudian sirine rambut evakuasi, kemudian piranti lunak,
06:52rencana kontegensi masing-masing kabupaten yang terdampak.
06:56Termasuk juga kami mengecek ketersediaan permakanan, gudang-gudang logistik milik pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi.
07:05Jangan sampai nanti kosong isinya dan apabila memang diperlukan untuk bantuan dari pemerintah pusat, ini kami akan segera dorong.
07:13Kami informasikan rekan-rekan media, belum ada satupun pemerintah kabupaten dan provinsi yang terdampak,
07:19baik Banten maupun Lampung, ini yang menetapkan status kedaruratan.
07:25Artinya dengan status kedaruratan ini meminta bantuan pemerintah pusat lewat BNPB untuk segera turun ke lapangan membantu.
07:32Namun demikian, sekali lagi kami juga sudah menginikkan tim untuk turun ke lapangan.
07:38Kemudian tentu saja juga kami akan koordinasi terus, ini adalah salah satu bentuk koordinasi dari Kementerian Lembaga.
07:45Tadi juga kami sudah berkomunikasi langsung dengan Kepala BMKG terkait dengan perkembangan situasi menit per menit, jam per jam,
07:55mendapat arahan juga dari Bapak Menteri Kesehatan.
07:57Dan kami juga laporkan kepada Bapak Presiden terkait langkah-langkah ini,
08:02tentu saja koordinasi antar lembaga pemerintah pusat ini terus berjalan.
08:07Masyarakat, yang pertama dari sisi Kementerian Kesehatan, kita pesankan kepada masyarakat agar tidak panik.
08:16Agar tidak panik, dan titip ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama.
08:22Yang pertama, dari sisi kesehatan, abu vulkanik ini ada tiga dampaknya harus kita jaga.
08:31Pertama adalah kepernafasan, kedua adalah ke mata, dan yang ketiga adalah ke kulit.
08:39Jadi, pernafasan mata dan kulit adalah tempat-tempat di mana masalah kesehatan bisa terjadi akibat adanya debu vulkanik ini.
08:50Nah, apa yang harus kita lakukan?
08:53Pertama, untuk pernafasan.
08:55Untuk pernafasan, tolong pastikan Bapak Ibu di rumah saja dulu.
09:05Untuk perah-perah yang tadi disampaikan oleh Pak Kepala BMKG sama Pak Kepala BNPB.
09:10Kalau Bapak Ibu ada di daerah-daerah di sana, untuk menjaga kesehatan pernafasan Bapak Ibu,
09:16usahakan kegiatannya dilakukan di rumah.
09:18Kalau Bapak Ibu harus keluar rumah, pastikan memakai masker.
09:24Pastikan memakai masker.
09:29Kalau sudah merasa tidak enak pernafasannya,
09:33segera ke puskus mas terdekat,
09:35kita sudah mendeploy alat-alat,
09:41tenabulizer dan juga oksigen konsentrator.
09:44Itu pertama, mengenai masalah kesehatan pernafasan.
09:49Yang kedua, Bapak Ibu ingat juga masalah kesehatan mata.
09:53Karena debu ini ada partikelnya,
09:57itu bisa membuat mata gatel dan iritasi juga.
10:02Pencegahannya bagaimana?
10:04Itu tadi nomor satu.
10:06Kalau tidak ada kegiatan harus keluar,
10:08usahakan itu di dalam.
10:09Tapi kalau harus keluar,
10:12usahakan memakai kacamata.
10:15Usahakan memakai kacamata,
10:17agar debunya agak terhalang masuk ke mata kita.
10:21Kalau ternyata sudah debunya masuk,
10:25ya pastikan jangan dikucek-kucek.
10:27Bersihkan pakai air,
10:29dan segera ke puskus mas,
10:32karena semua puskus mas sudah kita kasih obat tetes mata.
10:35Jadi kalau sudah kena,
10:37treatmentnya seperti apa?
10:39Jangan dikucek-kucek,
10:40bersihkan pakai air,
10:43dan kalau perlu,
10:44obat tetes mata.
10:46Yang ketiga,
10:48itu adalah kulit.
10:49Karena debunya ini nanti akan berdampak ke kulit,
10:53tolong pastikan, Bapak Ibu,
10:55balik lagi,
10:56kalau tidak usah keluar rumah,
10:57ya di dalam rumah saja.
10:58Tapi kalau sudah kena,
11:00setiap keluar ke rumah,
11:02pastikan dibersihkan dengan air.
11:03Pastikan dibersihkan dengan air,
11:06dengan hati-hati,
11:07karena mungkin saja ada beberapa partikelnya yang tajam.
11:11Bersihkan dengan hati-hati.
11:13Kalau nanti ternyata sudah ada dampaknya,
11:17gatel-gatel kulitnya merasa tidak enak,
11:20itu bisa ke puskus mas,
11:21kita akan deploy salep kulit ke puskus mas.
11:25Pertama,
11:27Bapak Presiden dan pemerintah
11:29memantau secara cermat
11:30perkembangan aktivitas Gunung Anak Rakatau,
11:33beserta setiap potensi dampaknya.
11:36Seluruh pemantauan dilakukan berdasarkan data
11:40dan rekomendasi lembaga teknis yang berwenang.
11:44Kemudian,
11:45keselamatan dan keamanan masyarakat adalah
11:47prioritas utama dari Bapak Presiden dan pemerintah.
11:51Seluruh langkah penanganan,
11:53termasuk mitigasi terhadap dampak erupsi,
11:56dan penyesuaian aktivitas transportasi,
11:58bagaimana tadi sudah disampaikan juga oleh Bapak Menteri Perhubungan,
12:02dilakukan dengan prinsip penuh kehati-hatian.
12:06Kemudian,
12:07Bapak Presiden dan pemerintah
12:09mengimbau seluruh masyarakat
12:11untuk tetap tenang dan waspada.
12:13Selama Abu Kulkanik masih turun,
12:16seluruh warga yang berdampak
12:18dapat menjalankan langkah berikut.
12:20Pertama, gunakan masker penutup hidung dan mulut.
12:23Yang kedua,
12:25lindungi mata dengan kacamata,
12:27pelindung saat beraktifitas di luar ruangan,
12:30menutup pintu dan jendela,
12:31tutup rapat tempat penampungan air bersih,
12:35kemudian minum air putih yang cukup,
12:37serta cuci tangan dan wajah setelah beraktifitas.
12:40Warga yang membutuhkan bantuan
12:42dapat langsung menghubungi layanan darurat.
12:45Beberapa penjelasan ini juga sudah disampaikan
12:48oleh Bapak Menteri Kesehatan
12:49pada press conference yang sudah dilakukan
12:51sebelumnya pada jam 10.00 pagi.
12:55Kemudian,
12:56Bapkom atau Badan Komunikasi Pemerintah RI
12:59memastikan komunikasi pemerintah
13:02berjalan dengan satu narasi,
13:04cepat dan berbasis data.
13:06Informasi dari BPMBG,
13:09BMKG,
13:11BNPB,
13:12Kementerian Perhubungan,
13:13Kementerian Kesehatan,
13:14dan instansi terkait
13:16akan disinkronkan
13:17agar publik dapat memperoleh
13:19informasi yang jelas
13:21mengenai apa yang terjadi,
13:22apa dampaknya,
13:24langkah pemerintah,
13:26dan apa yang perlu dilakukan oleh masyarakat.
13:29Bapak Menteri juga menghimbau
13:31masyarakat untuk merujuk
13:33hanya pada informasi resmi pemerintah,
13:35tadi yang sudah disebutkan
13:37dari BPMBG,
13:38BMKG,
13:39BNPB,
13:41Kemenhub,
13:41Kemenkes,
13:42maupun instansi lainnya,
13:44dan tidak meneruskan kabar-kabar
13:48seperti potensi tsunami
13:49yang tidak berdasarkan sumber resmi.
13:52Kami ulangi,
13:54BAKO mengimbau
13:54masyarakat merujuk
13:55hanya pada informasi resmi pemerintah
13:58dan tidak meneruskan kabar-kabar
14:00seperti potensi tsunami
14:01yang tidak berasal dari sumber resmi.
14:04Pemerintah terus memperbarui
14:06informasi aktivitas gunung
14:08anak kerap atau secara berkala
14:10melalui kanal-kanal resmi
14:13dan setiap perkembangan
14:14disampaikan langsung kepada publik.
14:17Terakhir,
14:18Badan Komunikasi Pemerintah RI
14:20telah menyusun
14:21siaran pers,
14:23penjelasan lintas
14:24kementerian dan lembaga
14:25terkait sejak
14:26hari Minggu pagi,
14:286 September 2026,
14:29mengenai perkembangan erupsi
14:31dan dampaknya
14:32serta hal-hal
14:33yang perlu dilakukan masyarakat
14:35untuk mencegah dampak
14:36dari erupsi tersebut.
14:37Selain itu juga
14:39menyosialisasikan
14:40himbawan kewaspadaan
14:41dan keselamatan
14:42serta kanal informasi resmi
14:44melalui media sosial
14:46BAKO.MRI
14:47dan ini akan terus diperbaiki.
14:49Per tadi
14:50jam 5 ya,
14:52jam 5 lewat
14:53itu
14:56kondisi
14:57debu
14:59yang semula
15:00tadi siang itu
15:01anginnya mengarah
15:03ke barat,
15:04sekarang
15:04informasi dari BMKG
15:06anginnya mengarah
15:07ke timur
15:08dengan
15:09kecepatan
15:10lima not
15:10pada flight level
15:1215.000 feet.
15:14Melihat
15:15informasi tersebut
15:17dan setelah
15:17melakukan koordinasi
15:18dengan seluruh
15:19stakeholder
15:19yang terkait
15:20dengan penerbangan,
15:21maka
15:22kami memutuskan
15:23oh iya
15:25ada tambahan juga
15:26bahwa
15:26ada dua bandara tambahan
15:28yang terdampak
15:29yaitu bandara
15:29Taufik Kemas
15:30dan bandara
15:31yang ada di
15:31pagar alam.
15:33Jadi semua
15:33sekarang ada
15:34delapan bandara
15:35yang terdampak.
15:36Nah setelah
15:37kami melakukan
15:37koordinasi
15:38maka kami
15:39memutuskan bahwa
15:40ke delapan
15:41bandara tersebut
15:42akan kami tutup
15:44sampai dengan
15:45pukul 24.00.
15:47Kita akan melihat
15:49bagaimana
15:49kondisi nanti
15:50pada
15:51tengah malam nanti.
15:53Jadi
15:54supaya
15:55kita ingin
15:56memastikan
15:56apakah
15:58memang
15:58debunya ini
15:59sudah berkurang
16:01atau
16:02justru
16:03makin
16:03bertambah.
16:04Karena
16:05tadi kami
16:05putuskan bahwa
16:06penutupan operasional
16:08sementara bandara
16:09itu sampai dengan
16:11pukul 24.00.
16:12Tapi kami
16:13terus
16:14memonitor
16:15setiap
16:16setengah jam
16:1730 menit
16:18kami melakukan
16:19paper test
16:20di
16:20seluruh bandara
16:22tidak hanya
16:24di
16:24bandara
16:24tapi di
16:25seluruh bandara
16:25khususnya yang
16:26mengarah ke timur
16:27untuk mengantisipasi
16:29apakah
16:30penyebaran
16:30tubuh itu
16:31semakin
16:32melebar
16:32atau
16:32berkurang.
16:34Penerbang
16:35status
16:36abu vulkanis
16:37yang terjadi
16:38di
16:39kawasan
16:40terutama
16:40termasuk
16:41di Indonesia.
16:42Nah berdasarkan
16:43hasil
16:44dari
16:44VAAC
16:45tersebut
16:46maka
16:47dari
16:48erupsi
16:49Gunung
16:50Anak
16:51Krakatau
16:51pada ketinggian
16:5350.000 feet
16:54sebetulnya
16:55sudah semakin
16:56menjauh
16:57menuju
16:57ke
16:57Samudera
16:58Hindia.
16:59Sedangkan
17:00abu vulkanis
17:01yang berada
17:01di 15.000 feet
17:03dari permukaan
17:04itu masih
17:08sedikit
17:09menyentuh
17:09wilayah
17:10Lampung
17:12dan juga
17:13Banten
17:13termasuk
17:14mungkin
17:14Jabodetabek.
17:15Tapi ini
17:16terus bergeser
17:17dengan kecepatan
17:1810 knot
17:18menuju
17:19ke Barat Daya
17:20artinya
17:21ke wilayah
17:21Samudera
17:22Hindia
17:23juga.
17:24Nah
17:24ini yang
17:25mohon dimaklumi
17:26dipahami
17:27artinya
17:28kita juga
17:28mengacu ke
17:29referensi itu
17:30sehingga
17:31tadi Pak Menhu
17:32menjelaskan
17:34ketika tadi
17:34juga
17:35Bapak Presiden
17:36Rabu Subianto
17:37memimpin
17:38rapat terbatas
17:39secara
17:39VIKON
17:40melibatkan
17:41berbagai KL
17:42yang teknis
17:43terlibat secara
17:44langsung
17:44termasuk
17:45BMKG
17:45BNPB
17:46dan yang
17:48untuk
17:49memantau
17:50gejala vulkanis
17:52ini adalah
17:52yang disebut
17:53sebagai
17:54Pusat
17:54Vulkanologi
17:56dan Mitigasi
17:57Bencana Geologis
17:58BVMBG
18:00yang
18:01berada di bawah
18:02otoritas
18:03atau kewenangan
18:04Kementerian
18:04ESDM.
18:06Ya semua
18:06memberikan
18:08masukan tentunya
18:08kepada Pak Presiden
18:09Pak Presiden tentunya
18:10memberikan
18:11direktif-direktif
18:12yang
18:14memastikan
18:15agar
18:15sekali lagi
18:16keselamatan nomor satu
18:17terkait dengan
18:18keselamatan tadi
18:19walaupun mungkin
18:20paper testnya
18:20sudah semakin negatif
18:22kecuali Radin Inten
18:23masih
18:23harus kita kawal
18:24maka
18:25kita mengacu
18:27pada
18:27VIC tadi
18:28dan itulah
18:29mengapa
18:30sampai dengan saat ini
18:31Bandara Soekarno-Hatta
18:32dan sejumlah bandara lainnya
18:33masih diperpanjang
18:35sedikit
18:35untuk
18:36penutupan
18:37atau pengalihannya
18:38nanti
18:38mungkin di tengah malam
18:40akan dilakukan
18:41lagi
18:41pengecekan
18:43supaya bisa
18:44dijelaskan
18:45kepada publik
18:46untuk gunung
18:47anak Krakatau
18:48kalau kita lihat
18:50dari gambar ini
18:51bahwa
18:52arah
18:54angin sekarang
18:55abu
18:55bersama abunya
18:56sudah bergerak
18:57ke arah barat
18:58sesuai dengan
19:01analisis
19:02citra satelit
19:04dengan kecepatan
19:06angin
19:0615 knot
19:07jadi
19:09kalau kita lihat
19:11sigmatnya
19:12atau signifikan
19:13meteorologisnya
19:14bahwa
19:14saat ini
19:16abu vulkanik tersebut
19:17lebih cenderung
19:18mengarah ke
19:19laut
19:20Hindia
19:24dari
19:25informasi tersebut
19:27kita dapat tahu
19:29bahwa
19:29sekarang ini
19:32tersebut
19:33dan di
19:35Lampung
19:35dan Jawa Barat
19:39maupun Banten
19:40DKI termasuk
19:41di dalamnya
19:42lebih kondusif
19:45dari
19:45abu vulkanik
19:46dan
19:478 bandara
19:48yang tadinya
19:49sudah ditutup
19:51oleh otoritas
19:51saat ini
19:52sudah kembali
19:53dibuka
19:54pada hari ini
19:55juga
19:55BNPB
19:56sudah melakukan
19:57operasi modifikasi
19:58cuaca
19:58melalui
19:59metode
20:00water mist
20:00yaitu
20:01penyemprotan air
20:03yang dicampur
20:04dengan
20:05surfaktan
20:06yang bertujuan
20:07untuk
20:07agar
20:09layer
20:10polutan tersebut
20:11terperangkap
20:11dengan air
20:12yang disemprotkan
20:14dan
20:14hari ini
20:15dari pondok cabai
20:17sudah
20:18digunakan
20:19kemarin
20:20pondok cabai
20:21tidak bisa digunakan
20:21karena
20:22memang
20:23keadaan ditutup
20:24jadi kemarin itu
20:25dari Semarang
20:26pesawatnya
20:28dan hari ini
20:29kita sudah mulai
20:30melakukan
20:30modifikasi cuaca
20:32dari pondok cabai
20:33dengan
20:34semayan bahan
20:35yang disampaikan
20:37itu adalah
20:37200
20:38mohon maaf
20:392000 liter air
20:40ditambah dengan
20:41surfaktan
20:47cara baru
20:48nonton di
20:49Smart TV
20:49nonton live streaming
20:51dan ribuan
20:52tayangan
20:52Kompas Gramedia
20:53langsung dari
20:54Smart TV kamu
20:55cara installnya
20:57buka Google Play Store
20:58di Smart TV kamu
21:00cari Kompas TV
21:01melalui pencarian
21:03pilih aplikasi
21:04lalu install
21:05selesai
21:06kamu bisa menonton
21:08video pilihan
21:09editorial
21:09Kompas TV
21:10download
21:11Kompas TV
21:12apps
21:13di TV kamu
21:14sekarang juga
21:14terima kasih
21:16terima kasih
21:16Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan