00:01Memimpin, berkorban juga.
00:04Karena jadi pemimpin cabang olahraga di Indonesia tidak seperti di negara lain.
00:11Di kita ini berkorban.
00:14Berkorban waktu, berkorban tenaga, berkorban...
00:21Kalian tahu berkorban apa lagi?
00:25Iya kan?
00:30Saya yakin istri mereka sebetulnya tiap kali mereka berangkat untuk memimpin olahraga,
00:38sebetulnya istrinya itu mukanya enggak suka.
00:43Suaminya juga enggak suka.
00:45Di Indonesia lain.
00:48Mereka senyum agak kecut senyumnya itu.
00:53Tapi ada sesuatu di dalam diri mereka.
00:56Ada sesuatu.
00:58Mereka itu juga cinta tanah air.
01:00Mereka ingin berbuat.
01:05Mereka sebetulnya sudah sampai puncak-puncak karir mereka.
01:12Tapi di situ dia masih ingin, saya ingin.
01:16Walaupun sebagian besar juga dulu juga olahragaan-olahragaan hebat juga.
01:21Pak Luhut itu jago lari, jago tembak.
01:27Saya enggak pernah menang lawan beliau waktu itu.
01:30Tapi waktu saya jadi komandan, habis itu benar.
01:34Kalau tenis saya menang terus.
01:39Saya menang terus waktu tenis.
01:42Begitu saya pensiun, kaget saya.
01:45Saya kalah terus.
01:49Rupanya ini kalau di tentara itu anak buah enggak berani ngalahin komandan.
01:56Saya merasa diri hebat waktu itu.
01:58Tiap main sebagai waktu saya komandan itu, menang terus.
02:10Begitu pensiun, kalah terus.
02:13Habis itu teman-teman saya kan yang istilahnya pangkat ketinggalan, nah di situ.
02:18Saya diundang terus reuni.
02:20Main tenis saya dihabisin.
02:23Main tenis saya dapat 61.
02:2961, 60, 61.
02:35Tapi intinya kita semangat.
02:38Saya kira itu dari saya selamat berjuang.
02:40Semoga Tuhan yang maha besar selalu memberi kekuatan.
02:45Dan yang terbaik kepada kalian semua.
02:47Dan saya enggak lupa, saya diberi laporan oleh Pak Erick.
02:51Pak, untuk SEA Games, medali Mas dapat 1 miliar.
Komentar