Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo soal kekuasaan yang tidak boleh digunakan untuk menjatuhkan orang, ditafsirkan sebagai pesan kepada orang-orang di sekitar Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua, Ade Armando, menduga kritik Jokowi terutama diarahkan kepada orang-orang di sekitar Presiden Prabowo Subianto yang kini memiliki akses terhadap kekuasaan.

Menurut Ade, kedekatan dengan penguasa dikhawatirkan memunculkan sikap bahwa pihak yang berbeda pandangan dapat ditekan atau diserang.

Ade kemudian menjelaskan konteks pernyataan Jokowi tersebut.

Menurutnya, Jokowi menyampaikan pernyataan itu ketika diwawancarai majalah Tempo, media yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.

Ade kemudian menyinggung pernyataan wartawan Tempo yang menyebut telah membuat 120 kali cover stories mengenai Jokowi.

Menurut Ade, seluruh pemberitaan tersebut disebut bernada mengecam Jokowi.

Dalam konteks tersebut, Ade menilai Jokowi ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak mempersoalkan kritik.

Bahkan, menurut Ade, pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan kepada publik mengenai arti penting kritik dalam demokrasi.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/iUAlhRmHMEs?si=rgB1htAhQRICHoYF



#jokowi #prabowo #adearmando

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/688896/jokowi-disebut-kritik-orang-dekat-prabowo-ade-armando-ungkap-alasannya-rosi
Transkrip
00:00Saya berikan pada Anda Bung Ade.
00:04Ya buat saya itu, kalau mukasar-nya kan gak masuk akal argumen Anda kira-kira gini.
00:09Ini kita biasa-biasa aja nih ya, ini buat masyarakat juga harus tahu kalau kita mau diskusi,
00:14ya kalau mukasar cuman bilang, it doesn't make sense ya.
00:18Maksud saya gini, Pak Jokowi itu harusnya justru minta agar, kalau pakai logika Anda ya,
00:26Prabowo itu menghajar siapapun yang menyerang Gibran dong.
00:30Dia justru bilang, jangan, jangan kekuasaan kamu termasuk kekuasaan anaknya Gibran itu,
00:36jangan dipakai untuk melawan mereka-mereka yang menyerang Gibran.
00:42Nangkep gak logika?
00:43Enggak, enggak, enggak.
00:44Oke, kak gini, kalau aja Jokowi itu adalah orang yang ingin agar gunakanlah kekuasaan untuk mematikan lawan-lawanmu ya.
00:52Ya gak mungkin lah.
00:54Seandainya dalam hatinya nih ya, dia tidak akan ngomong semacam itu,
00:58dia akan biarkan aja misalnya sampai, saya ulang tadi ya,
01:03sebetulnya orang-orang di lingkungan, di lingkarannya Pak Prabowo,
01:07itu adalah orang-orang yang gak suka kalau bos mereka,
01:11yaitu Pak Prabowo dan mungkin juga Gibran, itu diganggu.
01:14Mereka bergerak begitu,
01:18bahkan sekedar orang yang ledek Pak Prabowo itu salah ngomong,
01:22itu dibilang hati-hati lu ya, gitu ya, misalnya itu semangatnya.
01:28Nah jadi sebetulnya Jokowi senang dong kalau Prabowo-nya begitu, harusnya.
01:34Karena artinya anak gue akan dilindungi oleh Prabowo.
01:37Nah justru bukan itu poinnya dari Bung Selamat dong,
01:40poinnya dari Bung Selamat adalah pidato Pak Jokowi itu justru ingin mengirim pesan pada Pak Prabowo,
01:47eh lu jangan ngapa-ngapain anak gue, berikan, jangan dibatasi kekuasaannya,
01:53jangan sampai duduk lagi hanya bersama Menko,
01:59duduk secara konstitusi di sebelah presiden,
02:02berikan juga akses,
02:04juga tadi Pak Bung Selamat Ginting mengatakan Budi Ari juga jangan dipidana.
02:10Gak gitu Rosi.
02:11Nah jawabnya makanya saya menekankan apa yang...
02:16Sebetulnya dia gak ngomong sama Prabowo sih, saya duga ya.
02:19Itu yang harus anda jawab dari penjelasannya Bung Selamat Ginting.
02:23Saya duga yang dia kritik terutama adalah orang-orang di sekitar Pak Prabowo,
02:28yang sekarang punya power nih,
02:31merasa punya power dong, saya dekat presiden,
02:33saya orangnya presiden.
02:35Begitu ada orang yang bertentangan sama kami,
02:38kami akan hajar.
02:39Nah itu jangan sampai tumbuh tuh perasaan.
02:42Oke.
02:43Oke.
02:43Oke, nah sekarang saya akan bilang,
02:45tapi lalu kenapa itu dia ucapkan?
02:47Ingat ya, ini dia ucapkan pada saat wawancara dengan Tempo.
02:53Ingat ya, ini Tempo adalah majalah yang luar biasa pedas.
02:59Dan selalu mengkritik Pak Jokowi atau setiap pemerintahan lah.
03:04Ya, terutama Pak Jokowi karena si wartawan-wartawan Tempo ini bilang,
03:08kami bikin 120 kali cover stories tentang anda dan tidak ada satu.
03:13Dan semuanya, all of them, 120-nya itu mengecam anda.
03:19Terus kenapa?
03:20Nah, enggak, disitulah kemudian Pak Jokowi harus menjelaskan.
03:23Saya enggak apa-apa loh dikritik semacam itu,
03:27kalau itu saya enggak punya masalah.
03:29Dan kemudian dia sedang berusaha mengajarkan kepada publik
03:32tentang arti penting demokrasi.
03:34Kalau anda ikuti diskusinya ya.
03:36Iya, saya ikutin.
03:37Tapi saya juga punya perspektif yang lain.
03:42Tentu aja.
03:42Gini, maksud saya, anda kan mengatakan...
03:44Anda punya hak sepenuhnya untuk anti-Jokowi juga.
03:47No, bukan.
03:48Tapi maksudnya bahwa anda ingin mengatakan bahwa,
03:52wah hebat banget Pak Jokowi menerima Tempo yang selama ini mengkritik.
03:55Tempo juga sudah minta berkali-kali wawancara, tapi tidak pernah.
03:58Tetapi saat ini diterima karena pasti Pak Jokowi juga memiliki goal
04:03supaya message dia sampai.
04:05Yang dipakai adalah majalah Tempo.
04:07Enggak apa-apa juga, itu bagus juga.
04:08Karena seorang Jokowi tahu,
04:11ia adalah seorang marketing politik yang ulung.
04:14Tapi yang ingin saya katakan,
04:16jangan menjadikan wawancara itu seolah-olah
04:20bahwa Pak Jokowi kemudian bisa bebas lebih baik
04:30dari apa yang sekarang terjadi di pemerintahan ini.
04:33Itu yang saat ini ingin dikatakan oleh Bung Selamat Ginting.
04:37Ya Pak, Bung Selamat boleh ngomong begitu.
04:39Anda ngomong begitu, enggak apa-apa.
04:40Nah, mahasiswa semua juga mengatakan,
04:42enggak, enggak lebih baik.
04:45Ya saya juga punya pendapat yang berbeda, guys.
04:48Saya menganggap bahwa Jokowi itu adalah orang
04:50yang sangat percaya pada demokrasi.
04:52Dia sangat percaya pada demokrasi.
04:54Karena itulah kalimat tadi.
04:56Kan ada tanyakan kalimat presisi itu tuh.
04:59Jangan gunakan kekuasaan Anda untuk melawan...
05:04Menjatuhkan orang.
05:05Menjatuhkan orang.
05:06Kan ada tanya, kenapa dia ngomong begitu?
05:08Karena betul-betul dia percaya.
05:10Itu harusnya dimiliki oleh setiap pemimpin di Indonesia.
05:14Mau gubernur, mau wali kota,
05:16mau anak presiden,
05:17mau cucunya presiden.
05:19Dan oke, menjawab pertanyaan tadi Bung Selamat Ginting,
05:21ini bukan untuk pesan dikirimkan ke Presiden Prabowo
05:27untuk melindungi keluarganya.
05:28Melindungi anaknya yang sedang jadi wakil presiden.
05:30Saya sama sekali enggak percaya.
05:31Mantunya yang jadi gubernur.
05:32Enggak.
05:32Bukan itu ya.
05:33Bukan.
05:33Tetapi pesan pada Presiden Prabowo
05:36tentang sekelilingnya.
05:37Oke.
05:38Tentang sekelilingnya, Pak Selamat Ginting.
05:41Iya.
05:42Jadi gimana pertanyaan ke saya?
05:45Jadi ini bukan
05:46kepada Pak Prabowo
05:47Pak Prabowo atau mengirim pesan bersifat ancaman kan
05:51bahwa eh lu jangan macam-macam sama anak gue
05:54karena masih perlu saya gitu.
05:57Tapi ini lebih kepada situasi saat ini
06:00di mana sekeliling Pak Prabowo tidak bisa menerima kritik.
06:03Makanya saya bilang tadi,
06:05ini kan bisa kepada personal sang presiden,
06:09bisa kepada lembaga yang lain,
06:13bisa kepada elit yang lain,
06:15termasuk elit penegak hukum.
06:17Bukan seperti itu.
06:18Jadi pesannya adalah
06:20apakah si pemberi nasihat itu
06:25bersedia meletakkan dirinya
06:28menjadi objek dari nasihat itu sendiri juga?
06:32Artinya Jokowi berani enggak
06:35menempatkan dirinya
06:37sebagai orang yang dinasihati juga?
06:40Kenapa?
06:41Karena orang yang pernah berkuasa
06:43pastilah akan ditanyakan pada publik.
06:47Publik akan bertanya,
06:49eh saat lu berkuasa gimana?
06:52Kira-kira kan seperti itu.
06:54Jadi seorang penguasa itu
06:56atau mantan penguasa itu
06:57harus siap
06:58kalau publik menanyakan hal serupa.
07:02Bukannya lu juga kelakuannya begitu dulu?
07:07Makanya seperti saya bilang,
07:10ini bukan ruang hampa.
07:12demokrasi itu kan seperti
07:14Bung Adek bilang,
07:16fitnah kritik.
07:17Nah sekarang siapa
07:18yang bisa memutuskan
07:21bahwa ini kritik atau fitnah?
07:23Kan bukan beliau.
07:25Enggak bisa dong
07:26beliau bilang juga
07:28ini fitnah.
07:30Kritik itu
07:31memang harus keras.
07:33Artinya gini,
07:34ketika rakyat
07:37dilarang melakukan kritik keras,
07:40maka jawabannya juga,
07:43maka penguasa juga
07:44tidak boleh menggunakan
07:46instrumennya
07:47untuk membungkam
07:49pengkritik.
07:50Sehingga etika demokrasi
07:53dua-duanya.
07:54Rakyat mengkritik penguasa,
07:57tapi itu tadi,
07:59dengan kebebasan
08:00yang bertanggung jawab.
08:01Bukan fitnah.
08:03Lalu si penguasa juga
08:05harus melindungi
08:06rakyat
08:07dengan tidak menggunakan
08:09instrumen kekuasaan.
08:11Singkat saja,
08:11pertanyaan saya segini
08:12sebelum kita break.
08:13Tapi Anda melihat
08:14apa yang dikatakan Pak Jokowi
08:16sebenarnya
08:18perlu gak sih
08:19untuk kita dengar
08:21bener gak
08:22petuahnya Pak Jokowi ini?
08:25Begini ya.
08:26Bener apa gak?
08:27Ini dalam teori jurnalistik juga.
08:30Nama membuat berita.
08:32Ketika orang punya nama,
08:34maka menjadi berita.
08:36bukan yang jadi
08:38pusat pemberitaan adalah
08:39bukan
08:40kepala atau
08:42kiai pesantrenya.
08:43Karena gak punya nama.
08:44Tapi begitu Jokowi
08:46berbicara
08:47di hari maulid Nabi
08:49yang orang
08:51membayangkan
08:52tadinya
08:52oh ini bicara
08:54keteladanan
08:55Nabi Muhammad.
08:56Loh tau-taunya
08:57bicara
08:57dengan
08:58budaya
08:59politik Jawa
09:00terkait dengan
09:01kekuasaan.
09:02Maka orang juga
09:03lihat,
09:03lu bukannya
09:04bagian dari
09:05kekuasaan.
09:06Karena jangan
09:07salahkan persepsi publik
09:09kalau melihat
09:10Gibran itu
09:12hanya casing.
09:14Tapi ada
09:15Jokowi
09:15di situ.
09:16Jokowi tetap
09:17berada di dalam
09:18istana.
09:19Gak salah dong
09:19persepsi politik
09:21seperti itu juga.
09:22Jadi maksudnya
09:23petuah ini
09:25sebenarnya
09:26jadi gak patut
09:27didengar?
09:28Atau sesuatu yang
09:29sebenarnya penting
09:30untuk didengar?
09:30Oh ya patut
09:31didengar.
09:31Jadi kita ingin
09:33lihat ini
09:33pesan ini
09:34disampaikan
09:35kepada siapa?
09:37Ujungnya
09:38pasti
09:38kepada
09:40penguasa
09:41saat ini.
09:42Pasti publik
09:44juga melihat
09:45bahwa eh
09:45belum dua tahun
09:47yang lalu
09:47lu juga berada
09:48di kursi itu.
09:50Lu juga
09:51gimana
09:51waktu itu?
09:52Jadi
09:52makanya
09:53saya bilang
09:54seperti orang Jawa
09:55barangkali
09:56menunjuk
09:56jarinya
09:57ke depan
09:58tapi empat
09:59jarinya
10:00ke dalam.
10:01Eh lu juga
10:02harus introspeksi
10:03terhadap
10:04ucapanmu
10:05karena kau
10:06mahluk politik.
10:07Mengapa
10:08satu petuah
10:09yang baik
10:09mengingatkan
10:10tentang kekuasaan
10:11bisa ditafsirkan
10:12berbeda?
10:13Padahal
10:14petuah tentang
10:15hai kekuasaan
10:16ketika Anda
10:17berkuasa
10:17janganlah
10:18kemudian
10:18membunuh
10:19atau
10:20memperlakukan
10:21orang dengan
10:22semana-mana
10:22itu adalah
10:23petuah yang baik.
10:24Tetapi ketika
10:25ini datang dari
10:26Jokowi
10:26kenapa ini
10:27jadi sesuatu yang
10:29nggak terlalu baik.
10:30selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan