00:00Saya berikan pada Anda Bung Ade.
00:04Ya buat saya itu, kalau mukasar-nya kan gak masuk akal argumen Anda kira-kira gini.
00:09Ini kita biasa-biasa aja nih ya, ini buat masyarakat juga harus tahu kalau kita mau diskusi,
00:14ya kalau mukasar cuman bilang, it doesn't make sense ya.
00:18Maksud saya gini, Pak Jokowi itu harusnya justru minta agar, kalau pakai logika Anda ya,
00:26Prabowo itu menghajar siapapun yang menyerang Gibran dong.
00:30Dia justru bilang, jangan, jangan kekuasaan kamu termasuk kekuasaan anaknya Gibran itu,
00:36jangan dipakai untuk melawan mereka-mereka yang menyerang Gibran.
00:42Nangkep gak logika?
00:43Enggak, enggak, enggak.
00:44Oke, kak gini, kalau aja Jokowi itu adalah orang yang ingin agar gunakanlah kekuasaan untuk mematikan lawan-lawanmu ya.
00:52Ya gak mungkin lah.
00:54Seandainya dalam hatinya nih ya, dia tidak akan ngomong semacam itu,
00:58dia akan biarkan aja misalnya sampai, saya ulang tadi ya,
01:03sebetulnya orang-orang di lingkungan, di lingkarannya Pak Prabowo,
01:07itu adalah orang-orang yang gak suka kalau bos mereka,
01:11yaitu Pak Prabowo dan mungkin juga Gibran, itu diganggu.
01:14Mereka bergerak begitu,
01:18bahkan sekedar orang yang ledek Pak Prabowo itu salah ngomong,
01:22itu dibilang hati-hati lu ya, gitu ya, misalnya itu semangatnya.
01:28Nah jadi sebetulnya Jokowi senang dong kalau Prabowo-nya begitu, harusnya.
01:34Karena artinya anak gue akan dilindungi oleh Prabowo.
01:37Nah justru bukan itu poinnya dari Bung Selamat dong,
01:40poinnya dari Bung Selamat adalah pidato Pak Jokowi itu justru ingin mengirim pesan pada Pak Prabowo,
01:47eh lu jangan ngapa-ngapain anak gue, berikan, jangan dibatasi kekuasaannya,
01:53jangan sampai duduk lagi hanya bersama Menko,
01:59duduk secara konstitusi di sebelah presiden,
02:02berikan juga akses,
02:04juga tadi Pak Bung Selamat Ginting mengatakan Budi Ari juga jangan dipidana.
02:10Gak gitu Rosi.
02:11Nah jawabnya makanya saya menekankan apa yang...
02:16Sebetulnya dia gak ngomong sama Prabowo sih, saya duga ya.
02:19Itu yang harus anda jawab dari penjelasannya Bung Selamat Ginting.
02:23Saya duga yang dia kritik terutama adalah orang-orang di sekitar Pak Prabowo,
02:28yang sekarang punya power nih,
02:31merasa punya power dong, saya dekat presiden,
02:33saya orangnya presiden.
02:35Begitu ada orang yang bertentangan sama kami,
02:38kami akan hajar.
02:39Nah itu jangan sampai tumbuh tuh perasaan.
02:42Oke.
02:43Oke.
02:43Oke, nah sekarang saya akan bilang,
02:45tapi lalu kenapa itu dia ucapkan?
02:47Ingat ya, ini dia ucapkan pada saat wawancara dengan Tempo.
02:53Ingat ya, ini Tempo adalah majalah yang luar biasa pedas.
02:59Dan selalu mengkritik Pak Jokowi atau setiap pemerintahan lah.
03:04Ya, terutama Pak Jokowi karena si wartawan-wartawan Tempo ini bilang,
03:08kami bikin 120 kali cover stories tentang anda dan tidak ada satu.
03:13Dan semuanya, all of them, 120-nya itu mengecam anda.
03:19Terus kenapa?
03:20Nah, enggak, disitulah kemudian Pak Jokowi harus menjelaskan.
03:23Saya enggak apa-apa loh dikritik semacam itu,
03:27kalau itu saya enggak punya masalah.
03:29Dan kemudian dia sedang berusaha mengajarkan kepada publik
03:32tentang arti penting demokrasi.
03:34Kalau anda ikuti diskusinya ya.
03:36Iya, saya ikutin.
03:37Tapi saya juga punya perspektif yang lain.
03:42Tentu aja.
03:42Gini, maksud saya, anda kan mengatakan...
03:44Anda punya hak sepenuhnya untuk anti-Jokowi juga.
03:47No, bukan.
03:48Tapi maksudnya bahwa anda ingin mengatakan bahwa,
03:52wah hebat banget Pak Jokowi menerima Tempo yang selama ini mengkritik.
03:55Tempo juga sudah minta berkali-kali wawancara, tapi tidak pernah.
03:58Tetapi saat ini diterima karena pasti Pak Jokowi juga memiliki goal
04:03supaya message dia sampai.
04:05Yang dipakai adalah majalah Tempo.
04:07Enggak apa-apa juga, itu bagus juga.
04:08Karena seorang Jokowi tahu,
04:11ia adalah seorang marketing politik yang ulung.
04:14Tapi yang ingin saya katakan,
04:16jangan menjadikan wawancara itu seolah-olah
04:20bahwa Pak Jokowi kemudian bisa bebas lebih baik
04:30dari apa yang sekarang terjadi di pemerintahan ini.
04:33Itu yang saat ini ingin dikatakan oleh Bung Selamat Ginting.
04:37Ya Pak, Bung Selamat boleh ngomong begitu.
04:39Anda ngomong begitu, enggak apa-apa.
04:40Nah, mahasiswa semua juga mengatakan,
04:42enggak, enggak lebih baik.
04:45Ya saya juga punya pendapat yang berbeda, guys.
04:48Saya menganggap bahwa Jokowi itu adalah orang
04:50yang sangat percaya pada demokrasi.
04:52Dia sangat percaya pada demokrasi.
04:54Karena itulah kalimat tadi.
04:56Kan ada tanyakan kalimat presisi itu tuh.
04:59Jangan gunakan kekuasaan Anda untuk melawan...
05:04Menjatuhkan orang.
05:05Menjatuhkan orang.
05:06Kan ada tanya, kenapa dia ngomong begitu?
05:08Karena betul-betul dia percaya.
05:10Itu harusnya dimiliki oleh setiap pemimpin di Indonesia.
05:14Mau gubernur, mau wali kota,
05:16mau anak presiden,
05:17mau cucunya presiden.
05:19Dan oke, menjawab pertanyaan tadi Bung Selamat Ginting,
05:21ini bukan untuk pesan dikirimkan ke Presiden Prabowo
05:27untuk melindungi keluarganya.
05:28Melindungi anaknya yang sedang jadi wakil presiden.
05:30Saya sama sekali enggak percaya.
05:31Mantunya yang jadi gubernur.
05:32Enggak.
05:32Bukan itu ya.
05:33Bukan.
05:33Tetapi pesan pada Presiden Prabowo
05:36tentang sekelilingnya.
05:37Oke.
05:38Tentang sekelilingnya, Pak Selamat Ginting.
05:41Iya.
05:42Jadi gimana pertanyaan ke saya?
05:45Jadi ini bukan
05:46kepada Pak Prabowo
05:47Pak Prabowo atau mengirim pesan bersifat ancaman kan
05:51bahwa eh lu jangan macam-macam sama anak gue
05:54karena masih perlu saya gitu.
05:57Tapi ini lebih kepada situasi saat ini
06:00di mana sekeliling Pak Prabowo tidak bisa menerima kritik.
06:03Makanya saya bilang tadi,
06:05ini kan bisa kepada personal sang presiden,
06:09bisa kepada lembaga yang lain,
06:13bisa kepada elit yang lain,
06:15termasuk elit penegak hukum.
06:17Bukan seperti itu.
06:18Jadi pesannya adalah
06:20apakah si pemberi nasihat itu
06:25bersedia meletakkan dirinya
06:28menjadi objek dari nasihat itu sendiri juga?
06:32Artinya Jokowi berani enggak
06:35menempatkan dirinya
06:37sebagai orang yang dinasihati juga?
06:40Kenapa?
06:41Karena orang yang pernah berkuasa
06:43pastilah akan ditanyakan pada publik.
06:47Publik akan bertanya,
06:49eh saat lu berkuasa gimana?
06:52Kira-kira kan seperti itu.
06:54Jadi seorang penguasa itu
06:56atau mantan penguasa itu
06:57harus siap
06:58kalau publik menanyakan hal serupa.
07:02Bukannya lu juga kelakuannya begitu dulu?
07:07Makanya seperti saya bilang,
07:10ini bukan ruang hampa.
07:12demokrasi itu kan seperti
07:14Bung Adek bilang,
07:16fitnah kritik.
07:17Nah sekarang siapa
07:18yang bisa memutuskan
07:21bahwa ini kritik atau fitnah?
07:23Kan bukan beliau.
07:25Enggak bisa dong
07:26beliau bilang juga
07:28ini fitnah.
07:30Kritik itu
07:31memang harus keras.
07:33Artinya gini,
07:34ketika rakyat
07:37dilarang melakukan kritik keras,
07:40maka jawabannya juga,
07:43maka penguasa juga
07:44tidak boleh menggunakan
07:46instrumennya
07:47untuk membungkam
07:49pengkritik.
07:50Sehingga etika demokrasi
07:53dua-duanya.
07:54Rakyat mengkritik penguasa,
07:57tapi itu tadi,
07:59dengan kebebasan
08:00yang bertanggung jawab.
08:01Bukan fitnah.
08:03Lalu si penguasa juga
08:05harus melindungi
08:06rakyat
08:07dengan tidak menggunakan
08:09instrumen kekuasaan.
08:11Singkat saja,
08:11pertanyaan saya segini
08:12sebelum kita break.
08:13Tapi Anda melihat
08:14apa yang dikatakan Pak Jokowi
08:16sebenarnya
08:18perlu gak sih
08:19untuk kita dengar
08:21bener gak
08:22petuahnya Pak Jokowi ini?
08:25Begini ya.
08:26Bener apa gak?
08:27Ini dalam teori jurnalistik juga.
08:30Nama membuat berita.
08:32Ketika orang punya nama,
08:34maka menjadi berita.
08:36bukan yang jadi
08:38pusat pemberitaan adalah
08:39bukan
08:40kepala atau
08:42kiai pesantrenya.
08:43Karena gak punya nama.
08:44Tapi begitu Jokowi
08:46berbicara
08:47di hari maulid Nabi
08:49yang orang
08:51membayangkan
08:52tadinya
08:52oh ini bicara
08:54keteladanan
08:55Nabi Muhammad.
08:56Loh tau-taunya
08:57bicara
08:57dengan
08:58budaya
08:59politik Jawa
09:00terkait dengan
09:01kekuasaan.
09:02Maka orang juga
09:03lihat,
09:03lu bukannya
09:04bagian dari
09:05kekuasaan.
09:06Karena jangan
09:07salahkan persepsi publik
09:09kalau melihat
09:10Gibran itu
09:12hanya casing.
09:14Tapi ada
09:15Jokowi
09:15di situ.
09:16Jokowi tetap
09:17berada di dalam
09:18istana.
09:19Gak salah dong
09:19persepsi politik
09:21seperti itu juga.
09:22Jadi maksudnya
09:23petuah ini
09:25sebenarnya
09:26jadi gak patut
09:27didengar?
09:28Atau sesuatu yang
09:29sebenarnya penting
09:30untuk didengar?
09:30Oh ya patut
09:31didengar.
09:31Jadi kita ingin
09:33lihat ini
09:33pesan ini
09:34disampaikan
09:35kepada siapa?
09:37Ujungnya
09:38pasti
09:38kepada
09:40penguasa
09:41saat ini.
09:42Pasti publik
09:44juga melihat
09:45bahwa eh
09:45belum dua tahun
09:47yang lalu
09:47lu juga berada
09:48di kursi itu.
09:50Lu juga
09:51gimana
09:51waktu itu?
09:52Jadi
09:52makanya
09:53saya bilang
09:54seperti orang Jawa
09:55barangkali
09:56menunjuk
09:56jarinya
09:57ke depan
09:58tapi empat
09:59jarinya
10:00ke dalam.
10:01Eh lu juga
10:02harus introspeksi
10:03terhadap
10:04ucapanmu
10:05karena kau
10:06mahluk politik.
10:07Mengapa
10:08satu petuah
10:09yang baik
10:09mengingatkan
10:10tentang kekuasaan
10:11bisa ditafsirkan
10:12berbeda?
10:13Padahal
10:14petuah tentang
10:15hai kekuasaan
10:16ketika Anda
10:17berkuasa
10:17janganlah
10:18kemudian
10:18membunuh
10:19atau
10:20memperlakukan
10:21orang dengan
10:22semana-mana
10:22itu adalah
10:23petuah yang baik.
10:24Tetapi ketika
10:25ini datang dari
10:26Jokowi
10:26kenapa ini
10:27jadi sesuatu yang
10:29nggak terlalu baik.
10:30selamat menikmati
Komentar