Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Lewat media sosialnya, Yurizal, seorang pasien BPJS mencoba menyampaikan keluh kesahnya, berharap ada yang mendengar di balik layanan kesehatan yang seharusnya memberikan rasa aman.

Namun, curahan hati Yurizal justru dibalas cibiran oleh oknum petugas medis yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan profesionalisme.

Jika seorang nakes yang seharusnya menjadi garda terdepan di rumah sakit justru mencibir, lalu siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab?

"8 jam belum dapat ruangan. Gamao spill RS-nya, soalnya gue pakai BPJS."

Lewat kalimat sederhana, ia mengungkapkan kegelisahannya di media sosial.

Beragam tanggapan mengalir, ada yang bersimpati, ada pula yang membagikan pengalaman serupa, hingga memicu diskusi panjang.

Alih-alih mendapatkan dukungan dan simpati, curahan hati Yurizal justru dibalas dengan berbagai komentar bernada nirempati.

Bahkan, sejumlah akun yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan dan dokter ikut melontarkan tanggapan yang dinilai bernada sinis.

Reaksi itu pun memperpanjang perbincangan di dunia maya dan memunculkan perdebatan tentang empati di tengah keluhan seorang pasien BPJS.

8 hari setelah mengunggah curahan hatinya di media sosial, Yurizal dinyatakan meninggal dunia.

Dihujani kecaman warganet, sejumlah tenaga kesehatan akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan mengakui bahwa kata-kata mereka tidak pantas dan telah melukai hati keluarga almarhum.

Komentar nirempati oleh nakes jelas menyalahi etika, namun kondisi ini tak bisa dilepaskan dari persoalan sistem kesehatan yang masih belum sehat.

IDI menyoroti efisiensi besar-besaran anggaran kesehatan yang dinilai berdampak pada layanan kesehatan yang belum merata dan optimal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku merasa gagal setiap kali mendengar ada pasien yang meninggal dunia.

Ia pun berkomitmen terus membenahi pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas dan SDM kesehatan, agar tak ada lagi pasien dan keluarga yang merasa terabaikan.

#bpjs #nakes

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/684732/miris-ramai-tenaga-medis-hina-curhatan-pasien-bpjs-di-medsos-idi-hingga-menkes-merespons
Transkrip
00:01Anda kembali di berita utama bersama saya, Asri Gunawan.
00:05Kami akan menghadirkan dua topik pilihan dalam sepekan,
00:09mulai dari nestapa pasien BPJS yang dihina saat curhat di media sosial
00:14dan kasus mutilasi yang menimpa seorang pria di Depok, Jawa Barat.
00:19Kita ke topik pertama.
00:238 jam bukan sekadar hitungan waktu saat seorang pasien harus menunggu ruang inap
00:29di tengah kondisi yang kian melebah.
00:31Lewat media sosialnya, Yurizal, seorang pasien BPJS,
00:36mencoba menyampaikan keluh kesahnya berharap ada yang mendengar
00:39di balik layanan kesehatan yang seharusnya memberikan rasa aman.
00:43Namun curahan hati Yurizal justru dibalas cibiran oleh oknum petugas medis
00:50yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan profesionalisme.
00:54Jika seorang nakes yang seharusnya menjadi garda terdepan di rumah sakit justru mencibir,
01:02lalu siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab?
01:098 jam belum dapat ruangan.
01:13Gak mau spill RS-nya soalnya gue pakai BPJS.
01:17Lewat kalimat sederhana, ia mengungkapkan kegelisahannya di media sosial.
01:22Beragam tanggapan mengalir.
01:24Ada yang bersimpati, ada pula yang membagikan pengalaman serupa
01:28hingga memicu diskusi panjang.
01:32Alih-alih mendapatkan dukungan dan simpati,
01:36curahan hati Yurizal justru dibalas dengan berbagai komentar
01:40bernada nirempati.
01:43Bahkan sejumlah akun yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan dan dokter
01:47ikut melontarkan tanggapan yang dinilai bernada sinis.
01:51Reaksi itu pun memperpanjang perbincangan di dunia maya
01:54dan memunculkan perdebatan tentang empati di tengah keluhan seorang pasien BPJS.
02:04Kabar duka pun datang menyelimuti.
02:078 hari setelah mengunggah curahan hatinya di media sosial,
02:12Yurizal dinyatakan meninggal dunia.
02:15Pihak keluarga mengungkapkan,
02:17almarhum tak pernah bercerita mengenai penyakit yang dideritanya,
02:21sehingga kepergiannya menjadi pukulan mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
02:26Semasa hidup, Yurizal dikenal aktif sebagai Master of Ceremony atau MC,
02:32khususnya untuk acara pernikahan dengan sosok yang hangat,
02:36ramah, dan muda akrab dengan siapa saja.
02:44Kepergian Yurizal tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga,
02:50tetapi juga menyisakan penyesalan bagi mereka yang sebelumnya menuliskan komentar
02:55bernada sinis di media sosial.
02:58Di hujani kecaman warganet,
03:00sejumlah tenaga kesehatan akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka
03:04dan mengakui bahwa kata-kata mereka tidak pantas
03:08dan telah melukai hati keluarga almarhum.
03:13Permintaan maaf dan penyesalan saya yang sebesar-besarnya
03:17terhadap sikap dan tindakan saya di sosial mediatris
03:21yang telah menyinggung dan menyakiti almarhum Yurizal beserta keluarga.
03:27Saya menyadari hal itu sangatlah tidak pantas
03:31dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
03:37Saya turut berduka cita atas meninggalnya almarhum Yurizal.
03:42Semoga amal ibadahnya dapat diterima di sisi Allah. Amin.
03:46Yang kedua, saya mengucapkan permohonan maaf
03:49yang sebesar-besarnya kepada pihak keluarga dari almarhum Yurizal
03:54atas utas saya yang menambah beban emosional dan luka pada keluarga.
04:00Saya menyadari kesalahan saya
04:02dan ketidakprofesionalan saya sebagai tenaga kesehatan.
04:09Komentar near empathy oleh Nakes jelas menyalahi etika.
04:14Namun kondisi ini tak bisa dilepaskan dari persoalan sistem kesehatan
04:18yang masih belum sehat.
04:20IDI menyoroti efisiensi besar-besaran anggaran kesehatan
04:24yang dinilai berdampak pada layanan kesehatan
04:28yang belum merata dan optimal.
04:32Sakit mereka yang bertugas juga seperti itu.
04:35Kalau memang sama, ini ada masalah di pelayanan kesehatan.
04:42Kedokteran itu tidak boleh melakukan diskriminasi.
04:46Ini tugas pemerintah gitu loh.
04:48Untuk melakukan pembiayaan tidak boleh efisiensi di bidang kesehatan itu tidak boleh.
04:53Apalagi di dalam mutu pelayanan.
04:55Jadi negara harus membiayai sesuai dengan kebutuhannya.
05:01Terkait kasus ini,
05:03Menteri Kesehatan Budi Gudadi Sadikin mengaku merasa gagal
05:07setiap kali mendengar ada pasien yang meninggal dunia.
05:11Ia pun berkomitmen terus membenahi pelayanan kesehatan
05:15termasuk fasilitas dan SDM kesehatan
05:18agar tak ada lagi pasien dan keluarga yang merasa terabaikan.
05:27Jadi setiap ada yang meninggal itu hati saya sedih.
05:31Apalagi kalau meninggalnya muda.
05:32Saya merasa saya sebagai main cash itu gagal.
05:35Kok teman-teman kita itu ada yang meninggal muda.
05:39Jadi harusnya memang kita usahakan memberikan layanan terbaik lah.
05:43Agar mereka bisa usianya lanjut sampai ke 76.
05:48Kekurangan itu ada, itu yang harus kita perbaiki.
05:50Baik di fasilitas kesehatannya,
05:52di alat-alat kesehatannya,
05:54maupun di SDM kesehatannya.
Komentar

Dianjurkan