Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat berbicara mengenai pentingnya keberagaman makanan daerah

Megawati bahkan mengusulkan agar menu khas daerah seperti rendang sesekali masuk dalam menu MBG.

Hal itu disampaikan dalam acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II yang digelar BPIP RI, Senin (10/11/2026).

Baca Juga Susno Duadji Desak Ekshumasi Guna Ungkap Kematian Sutrimo, Sebut Belum Dikatakan Wajar Tanpa Otopsi di https://www.kompas.tv/video/684858/susno-duadji-desak-ekshumasi-guna-ungkap-kematian-sutrimo-sebut-belum-dikatakan-wajar-tanpa-otopsi

Dalam pernyataannya, Megawati mengaku sempat menyampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto soal menu MBG yang dinilainya perlu lebih bervariasi.

Menurut Megawati, keberagaman kuliner Indonesia bisa menjadi bagian dari penyajian makanan bergizi untuk masyarakat.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Joshua

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/684925/megawati-usulkan-menu-rendang-untuk-mbg-ke-prabowo-sebut-makanannya-kok-itu-itu-aja
Transkrip
00:00Ini saya bilang pada Pak Prabowo urusan MBG, saya bilang sebagai ibu loh, saya sama beliau itu temenan, udah jaman
00:12dulu.
00:13Mas, makanannya saya lihat kok itu-itu aja to yuk.
00:19Lombok ya kan daerah kita ini macam-macam ya, kok ada rendang sekali-kali.
00:24Kalau saya disuruh pidato, saya ini pidato mungkin sudah, kalau mulut saya bisa bicara sendiri, saya bilang dia sudah minta
00:34pensiun.
00:36Karena pidato saya minta berangkali kalau mau sampai sejuta juga lebih, karena diundang ke konferensi di dunia dan lain sebagainya.
00:46Alhamdulillah, dari baru belajar pidato sampai orang bertanya, ibu kok bisa pidato, ya belajar dong.
01:00Kalau ada niat, ya ada kemauan dong.
01:04Jadi ini saya lihat banyak ibu-ibu, Alhamdulillah.
01:07Alhamdulillah, karena yang paling susah untuk diajari itu ibu-ibu, betul, saya kan ibu-ibu, kayaknya dengarkan, tetapi ternyata tidak.
01:21Tadi saya tanya pada beliau, itu banyak seragamnya dari mana ya?
01:25Karena katanya, oh guru-guru sekolah, waduh, dalam batin saya, apa ya iya sih, yang namanya nanti bisa mengerti urusan
01:38Pancasila.
01:41Karena apa?
01:44Lah disini aja kan, kayaknya, aduh keren banget ya, pertukaran pikiran dan kata-kata, bla bla bla bla.
01:53Nah apa ibu-ibu juga akan bisa sih, umpamanya membuat debat sendiri soal Pancasila.
02:02Lalu setelah itu, bisakah anak-anak sekolah itu memang menarik, menjadi sebuah mata pelajaran yang menarik.
02:12Kalau saya dulu, juga sekolahnya itu di perguruan Cikini, tapi karena bapak saya kebetulan presiden pertama,
02:22Jadi, saya itu sudah rupanya seperti air di tetes.
02:31Coba kalau dipikir ya, kan gampang tau sebetulnya.
02:36Kamu itu mesti cinta loh, sama binatang, sama tanaman.
02:41Terus kata ibu saya, saya katanya, saya nomor satu perempuan, tapi anak kedua.
02:48Katanya cerewet.
02:50Kenapa mesti begitu?
02:53Tapi kan kalau mungkin yang profesor, dokter, ngapain sih ibu mereka, ngomong mau pidato aja, baru kayaknya ngurusi kayak gitu.
03:04Tapi apa?
03:05Bapak saya bilang, itu roh kehidupan.
03:11Yang ada di mana?
03:14Yang ada di ketuhanan, yang Maha Esa.
03:17Kan benernya gampang tau.
03:19Ibu-ibu tapi bisa nggak itu?
03:22Nanti.
03:23Itu.
03:24Sekarang ini kan anak-anak banyak yang dirundung.
03:28Saya sampai mikir, ibu-ibunya ke mana ya?
03:33Dulu kalau di partai saya, saya bilangnya, udah bu ibu nggak usah dandan deh, pakai glowing-glowing kayak gitu.
03:42Lupa deh anaknya, mestinya kan dibuat stuntingnya hilang.
03:48Ini saya bilang pada Pak Prabowo, urusan MBG.
03:54Saya bilang, sebagai ibu loh, saya sama beliau tuh temenan, udah jaman dulu.
04:02Mas, makanannya saya lihat kok itu-itu aja toyo.
04:07Lompok ya kan daerah kita ini macam-macam ya.
04:10Bo ada rendang sekali-kali, ketawa beliau.
04:14Bener dong?
04:16Kan cuma itu-itu aja toyo.
04:18Ibu-ibu tuh nggak usah takut.
04:20Kok ini kalau saya lihat terus tegang gitu loh.
04:24Loh, saya pernah kuliahnya di psikologi loh.
04:28Makanya, mau tahu.
04:30Kan saya cuma dibilang presiden kelima.
04:33Doktor saya tuh tiga loh.
04:35Eh, profesor saya tiga loh.
04:37Tapi nggak belian loh.
04:42Doktornya sebelas loh.
04:50Mbak, kalau tepok tangan tuh nggak jangan kayak jaman dulu loh.
04:55Jaman Orde Baru.
04:56Tepok tangan aja itu disuruh loh.
04:59Eh, ingat kok nggak?
05:01Saya aja ingat kok.
05:03Manggala-manggala tuh kalau ini, ini kan BPIP.
05:07Iya, Manggala itu kan yang ngurusi katanya Pancasila.
05:10Datang ke saya.
05:11Terus saya ya bilang gitu.
05:13Eh, Mas.
05:14Mau ngosok sih?
05:15Telp, eh.
05:16Apa?
05:16Tepok tangan aja mesti dikongkon.
05:18Gue nggak apa-apa tau ya?
05:20Oh, memang gitu.
05:21Supaya kayaknya tuh, Pak.
05:25Bergemuruh gitu.
05:26Ah, itu sih bohong.
05:28Jangan ketawa, Mbak.
05:30Kalau Mbak Musdani,
05:32kalau Masaya buyon udah ketawa melulu.
05:36Dia, saya masukkan BPIP.
05:38Karena beliau profesor doktornya itu Al-Quran.
05:43Jadi saya belajar dari dia.
05:46Mbak, supaya saya pintar.
05:48Yang tanggung jawab jadi situ.
05:50Kalau saya salah.
05:52Iya dong.
06:00Terima kasih.
06:22Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan