00:00Sebenarnya jejak dua kampung yang tenggelam karena proyek pembangunan bendungan muncul kembali setelah kemarau melanda wilayah Banten.
00:07Sejumlah warga kembali ke lokasi kampung tersebut untuk sekedar bernostalgia.
00:14Seperti inilah penampakan bekas permukiman di kampung Somang, desa Sukarame, Lebak, Banten.
00:21Sisa-sisa bangunan, ruas jalan kampung hingga hamparan sawah dan ladang yang dahulu menjadi sumber penghidupan warga
00:28kini muncul kembali ke permukaan setelah bertahun-tahun tertutup genangan air.
00:33Kampung ini dapat terlihat karena musim kemarau menyusutkan air yang sebelumnya menenggelamkan kampung ini.
00:39Desa Sukarame dan desa Sukaraja adalah dua desa yang sebagian wilayahnya ditenggelamkan untuk proyek pembangunan bendungan kairan pada tahun 2015
00:47hingga 2019.
00:57Saat proyek pembangunan bendungan warga meninggalkan rumah mereka masih dalam keadaan utuh dan hanya mengangkut barang-barangnya.
01:07Itulah yang membuat tembok-tembok rumah masih utuh berdiri.
01:10Bagi masyarakat yang pernah tinggal di kawasan tersebut, pemandangan ini bukan sekedar fenomena musim kemarau,
01:17lanskap yang kembali terlihat membangkitkan kenangan tentang kampung halaman yang harus mereka tinggalkan demi pembangunan bendungan kairan.
01:30Ada banyak yang datang gitu.
01:32Dulunya warga yang disini pernah datang lagi kesini juga ya?
01:35Ada banyak.
01:38Banyak yang pada kesini pada main ngeliat-liat kampung gitu ya, pada bilang sedih gitu kan.
01:44Itu kalau bahasa kampungnya nelangsak gitu kan.
01:49Dampak musim kemarau, kawanan kera ekor panjang keluar dari habitatnya dan memasuki permukiman di Palian Gunung Kidul, Yogyakarta.
01:58Mengeringnya sumber air di kawasan Suaka Margasatwa BKSDA Palian memicu kawanan kera berpindah ke permukiman.
02:06Kawanan primata ini bergelantungan di pohon, memanjat atap rumah, hingga masuk ke pekarangan dan tanaman warga untuk mencari makanan dan
02:14sumber air.
02:18Kera, kera masuk kebun saya, naik dari pohon itu bambu terus turun ke rumah, ke kebun mencari air.
02:29Saudara kemarau melanda, sebagian warga di sejumlah wilayah sudah mulai mengeluhkan kekurangan air bersih yang mengganggu aktivitas mereka.
02:37Sampai kapan akan berlangsung dan bagaimana cara menghadapinya?
02:40Kita akan berbincang dengan Sekretaris Utama yang juga PLT Bidang Meteorologi BMKG Gus Suwanto.
02:46Selamat malam Pak Gus Suwanto.
02:48Selamat malam Bung Radi.
02:50Baik.
02:51Pak Gus, bagaimana fenomena Super El Nino katanya ini ya, Super El Nino dikatakan.
02:55Ini apakah akan memuat beberapa bulan ke depan yang akan memengaruhi kekeringan atau bagaimana Pak?
03:01Jadi untuk perkembangan saat ini, El Nino itu berada pada kategori kuat dan berpotensi mencapai sangat kuat ya.
03:12Dan ini berdasarkan analisis yang kita lakukan di BMKG, kawan-kawan klimatologi, fenomena ini akan diperkirakan.
03:20Nantinya itu bertahan hingga Oktober, bahkan berlanjut ke awal 2027.
03:27Kita perlu bedakan El Nino dengan Kemarau ya.
03:31Kalau El Nino itu sendiri kan sebenarnya adalah fenomena iklim global ya.
03:35Yang terjadi secara periodik akibat pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik, khususnya Samudera Pasifik bagian tengah.
03:43Yang nantinya kita sebut Nino 34.
03:46Sedangkan kalau musim Kemarau itu sendiri kan adalah siklus tahunan normal ya.
03:51Di Indonesia yang dipengaruhi oleh angin muson barat dan angin muson timur.
03:57Jadi kalau saat ini untuk Kemarau itu adalah muson timur dari Australia.
04:02Nah, keduanya ini kalau berimplikasi atau bersamaan, ini akan membuat implikasi sehingga memperparah ataupun musim Kemarau sehingga lebih panjang, kering,
04:17bahkan bisa ekstrim.
04:19Demikian, Bung Rady.
04:21Itu penjelasannya mengapa ini bisa memperparah musim Kemarau yang juga disertai ada fenomen El Nino itu ya Pak Guswanto ya?
04:29Betul, betul sekali Bung Rady.
04:31Ini jadi wilayah mana saja di Indonesia Pak yang paling terdampak El Nino dan musim Kemarau ini?
04:37Baik, BMKG melakukan analisis dan melakukan perakhiran, dampak paling signifikan itu akan dirasakan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Barat, Nusa
04:49Tenggara Timur, sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
04:54Ini kita prediksi puncaknya Kemarau ini diperkirkan terjadi bulan Agustus atau September 2026 ini.
05:01Kalau kita lihat juga Bung Rady bahwa sebenarnya kan dampak utak itu tadi saya sampaikan, musik keringannya itu akan meningkat.
05:21Nah, Sumatera dan Kalimantan ini yang akan memberikan dampak apabila terjadi kebekanan hutan dan lahan mereka di wilayah tanah gambut.
05:30Ini perlu diwaspadai.
05:32Dan kalau di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur itu adalah padang rumput ilalangnya.
05:37Ini yang perlu kita waspadai.
05:40Ini akan berdampak.
05:41Kira-kira demikian.
05:42Nah, ini yang juga memperparah Kemarau El Nino ini berdampak pada sektor pertanian, Pak Agustus.
05:48Bahwa sudah ada keluhan dari para petani yang menjadi daerah-daerah lumbung padi seperti di Pulau Jawa, di Bali juga,
05:56di Nusa Tenggara, di sebagian Sumatera, lalu di Kalimantan, dan Sulawesi.
06:00Ini bagaimana sebenarnya sektor pertanian terdampak terutama untuk ketersediaan air di sawah-sawah dari irigasi, Pak Agustus?
06:09Betul sekali, Bung Radi, bahwa saat ini ketersediaan air irigasi akan menurun.
06:15Karena itu kami ya dari BMKG menyarankan, menyesuaikan jadwal tanam dan penggunaan varitas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
06:26Nah, perlu diketahui di dalam beberapa pembahasan itu kan Kemarau itu memiliki kekeringan, ya maaf, itu memiliki beberapa tingkatan.
06:37Mulai dari kekeringan meteorologis, kekeringan pertanian, nanti akan berlanjut kekeringan hidrologis, hingga nanti terakhir adalah kekeringan sosioekonomis.
06:47Nah, kalau pada saat kita berbicara di awal-awal April kemarin, ya April, Mei, Juni, ya itu masih kita sampaikan
06:56kekeringan meteorologis,
06:58di mana tingkat curah hujannya di bawah normal dalam satu periode musimnya.
07:03Nah, sedangkan kekeringan pertanian, itu terjadi kandungan air yang mana di dalam tanah atau lengas tanah,
07:10itu sudah tidak cukup lagi mendukung pertumbuhan tanaman.
07:14Misalnya tanaman akan layu, atau stres air, hingga mengalami nantinya gagal panen, ya.
07:20Nah, yang lebih penting lagi, ini kan kita, kalau kita lihat saat ini, itu bergerak dari kekeringan pertanian menuju kekeringan
07:33hidrologis,
07:34di mana ini berkaitan dengan pasokan air pada sumber-sumber air permukaan, misalkan.
07:41Berkurang, apa, tinggi muka airnya mulai turun.
07:44Nah, ini yang perlu kita antifasasi, ya.
07:52Oke.
07:53Kekeringan itu ada empat tingkatan tadi.
07:56Nah, selain, apa ya, ada mengakali begitu ya, bagaimana mengganti lahan-lahan ini menjadi lahan produktif jika kekeringan melanda,
08:07ada modifikasi cuaca nggak kira-kira yang bisa dilakukan BMKG untuk misalnya menambah debit air di beberapa daerah irigasi sawah,
08:16Pak Guswanto?
08:19Ya, baik.
08:21Untuk modifikasi cuaca itu kan adalah sebenarnya suatu metode dalam rangka memberikan inti kondensasi pada awan-awan hujan.
08:29Ya, saat ini awan-awan hujan untuk wilayah selatan Ekuator itu sudah cukup jarang.
08:36Oke.
08:37Di Jawa, Bali, Nusa Tenggara ini sudah cukup jarang.
08:40Namun di wilayah-wilayah dengan curah hujan tipe Ekuator, Ekuatorial,
08:43misalkan kita lihat di wilayah utara Indonesia,
08:47kemudian ada di Kalimantan Barat, ada di Sumatera Barat, itu masih bisa dilakukan.
08:53Ya, misalkan juga di Aceh ini masih bisa dilakukan.
08:57Karena di sana pertumbuhan awan hujan itu masih bisa terjadi, Bung Rady.
09:02Oke.
09:02Dan modifikasi cuaca ini penting untuk dilakukan dalam rangka untuk betul sekali tadi,
09:08mengisi wadu untuk meninggikan tinggi muka air.
09:14Tinggi muka air.
09:15Sehingga bisa tetap berputar turbinnya itu.
09:21Ya, ya, ya.
09:22KELTA-nya bisa terjaga dan lain sebagainya.
09:25Seperti itu, Bung Rady.
09:27Oke, baik.
09:28Dan selain, apa namanya, irigasi yang saat ini juga cukup kering gitu ya,
09:34tidak ada air, ini juga kan rawan kebakaran hutan dan lahan.
09:38Dan moga-moga ada solusi juga ya dari BMKG ini untuk kebakaran lahan di beberapa daerah di Sumatera,
09:44sepertinya masih ada titik hotspot yang bisa diakali oleh modifikasi cuaca.
09:49Apakah demikian atau ada, apa namanya, mekanisme lain, Pak Agus Wanto?
09:54Terakhir.
09:56Wilayah-wilayah yang tadi saya sampaikan, Sumatera, Kalimantan,
10:00atau Ekuator dan wilayah utara Indonesia,
10:03itu masih bisa dilakukan modifikasi cuaca.
10:06Ini sangat betul sekali.
10:08Ini adalah strategi bagaimana untuk menambah tinggi muka air ya.
10:13Sehingga apabila terjadi kebakaran di lahan gambut,
10:16ini bisa kita antisipasi dan bisa kita,
10:19batasi, sehingga tidak menjadi meluas ya.
10:22Dan ini kita lihat memang risiko kebakaran hutan meningkat sejak Juli.
10:29Dan puncaknya kita masih harus berjuang nih,
10:32di bulan Agustus, September.
10:35Nanti kan November itu sudah akan masuk ke dalam musim hujan.
10:41Ya, oke.
10:42Baik, semoga bermanfaat.
10:43Informasi yang Anda berikan dan bisa diantisipasi oleh masyarakat juga ya,
10:47fenomena El Nino dan Kemarau ini.
10:49Terima kasih, Sekretaris Utama yang juga PLT Bidang Meteorologi BMKG,
10:54Pak Agus Wanto, telah berbagi informasinya di Sapa Indonesia Malam.
10:56Sampai jumpa lagi saat malam, Pak Agus Wanto.
10:58Yes, terima kasih, Bu Ngeradi.
10:59Salam sehat selalu.
11:00Salam sehat.
Komentar