Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Program Koperasi Desa Merah Putih kembali menjadi perdebatan. CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat 20192025, Suroto, menilai pemerintah perlu melakukan langkah afirmatif untuk memperkuat koperasi sebagai pilar ekonomi nasional.

Suroto mengutip data Badan Pusat Statistik terkait rendahnya kontribusi usaha koperasi.

"Bahwa data BPS itu turnover bisnis dari kooperasi ini tidak lebih dari 1%. Mau dibiarkan seperti ini terus? Mau dibiarkan kooperasi sebagai soko guru ekonomi ini ditelantarkan terus? Kemudian apa yang akan terjadi di dalam sistem kooperasi kalau tidak ada upaya pemerintah sebagai affirmative action untuk merubah struktur ekonomi?"

Sementara itu, Mensesneg Kabinet Bayangan, Feri Amsari, menilai persoalan utama bukan pada tujuan program, melainkan pada proses perencanaannya. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih dahulu memperkuat koperasi yang sudah ada dibanding membentuk lembaga baru.

Feri juga mempertanyakan mengapa pemerintah tidak mengoptimalkan sekitar 130 ribu koperasi yang telah berdiri.

Menurutnya, memperkuat koperasi yang telah berjalan lebih tepat dibanding membangun sistem baru.

Dalam perdebatan tersebut, Feri juga melontarkan kritik keras terhadap pola pengambilan kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak didasarkan pada perencanaan yang matang.

Ia mengatakan, "Saya agak khawatir dengan gagasan-gagasan yang muncul di presiden. Lebih kepada faktor wangsit saja. Misalnya MBG dikatakan itu wangsit dari Pak Presiden. Jangan-jangan Koperasi Merah Putih juga wangsit gitu ya. Universitas Republik Indonesia juga wangsit. Kenapa alat ukur melihatnya wangsit? Karena memang nihilnya perencanaan."

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/-b90us7CbOs




#kabinetmerahputih #kabinetbayangan #feriamsari

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/683176/feri-amsari-singgung-wangsit-presiden-saat-kritik-koperasi-merah-putih-rosi
Transkrip
00:00Belum genap sebulan, Kabinet Bayangan langsung mendapat tantangan debat terbuka untuk adu ide dan gagasan.
00:08Saya masih bersama Menteri Sekretaris Negara dari Kabinet Bayangan, Ferry Amsari,
00:14serta CEO Indokoperasi Usaha Rakyat 2019-2025 yang juga Ketua Asosiasi Kader Sosioekonomi Strategis Suroto.
00:21Mas Roto, dalam unggahan Anda tanggal 28 itu Anda fokus ingin adu gagasan, berdebat, terbuka soal KOPDES,
00:30terlepas dengan atribusi Anda yang juga mengurusi kooperasi,
00:33tapi kenapa KOPDES di tengah sekian banyak hal-hal terutama program-program pemerintah yang dikritisi oleh Kabinet Bayangan?
00:40Kabinet Bayangan ini kan dideklarasi 27, saya mengunggah surat ke Bung Ferry itu tanggal 28 baru satu hari,
00:47jadi mungkin belum sertijab atau baru ini ya, warming up gitu.
00:52Saya kira ini penting ya, saya menyambut juga gembira,
00:56ini macam pressure group yang mungkin dapat legitimasi luas dari sosial media, saya baca.
01:02Ini menurut saya harus juga jelas karena mereka mengklaim sebagai kelompok,
01:07semacam kelompok interaktual gitu, terus kemudian ada aktivismenya di situ,
01:12terus kemudian mereka mengatasnamakan Kabinet Bayangan yang itu sebenarnya berbeda perspektifnya
01:16dengan Kabinet Bayangan ada di, tadi saya sebut di luar negeri kan gitu.
01:21Nah, tapi paling tidak saya melihat, saya mengenal teman-teman ini,
01:26mereka ini adalah kelompok yang selama ini juga banyak mengkritik kebijakan pemerintah,
01:30terutama Kooperasi Desa Merah Putih.
01:32Nah, sementara saya sendiri dalam posisi sebagai pendukung dari programatika
01:36dari Kooperasi Desa Kelurahan Merah Putih ini, Mas Tifal.
01:39Jadi, saya ingin tahu sebetulnya, seperti apa gagasan kebijakan
01:44atau kritik kebijakan yang mereka ingin lontarkan terhadap program pemerintah
01:49yang saya lihat sekarang ini sedang dibangun sebagai kekuatan untuk membangun ekonomi masyarakat
01:55dan mendekonstruksi sistem kapitalis yang selama ini bekerja,
02:00yang selama ini mereka itu hidup di dalam satu sistem ekonomi yang itu menjadi mainstream.
02:07Kalau apakah ini berkaitan juga dengan pernyataan dari Menteri Pertanian dan Kedaulatan
02:12Tanpangan Kabinet Bayangan Isnawati Hidayah, makanya Anda terpancing untuk adu debat.
02:15Karena dia begini, Indonesia memiliki lebih dari 131 ribu kooperasi yang sudah beroperasi
02:21dan saat ini berjalan di masyarakat.
02:23Tetapi kenapa mereka selalu membangun hal yang baru, yang diragukan,
02:28yang mereka pun bingung sendiri dengan diri mereka.
02:30Makanya Anda terpancing pernyataan itu untuk debat terbuka.
02:32Jadi begini Mbak Isna itu, saya kira itu salah satu,
02:36tapi saya juga mengenal teman-teman misalnya seperti Bima itu kan ada di Selios
02:41dan mereka juga sering menguji ini kan gitu,
02:44kooperasi Desa Merah Putih dalam perspektif sebagai kritik kan gitu.
02:48Nah Mbak Isna ini juga mengatakan 131 ribu kooperasi sekarang sebagai badan hukum gitu kan.
02:54Tapi kalau Mbak Isna tambahkan, selama ini sekarang sudah 80 tahun lebih Indonesia Merdeka,
03:02itu kalau kita perbandingkan dari total turnover bisnis dari kooperasi ini,
03:08tidak lebih dari 1 persen. Tahun 2025 itu hanya 0,97.
03:12Nah jumlah kooperasinya banyak tapi kontras dengan bagaimana kontribusi ekonominya.
03:18Artinya kita di dalam situasi yang sedang dikuasai oleh sistem kapitalis
03:24dan Presiden Prabowo dengan konsep kooperasi Desa Kelurahan Merah Putihnya ini
03:28ingin mendekonstruksi ini, ingin merubah struktur ekonomi yang kapitalistik ini
03:32sehingga ada namanya ekonomi rakyat dan kemudian ekonomi rakyat ini adalah bergerak di seluruh desa
03:39sehingga disebut kooperasi Desa Kelurahan Merah Putih.
03:41Kalau kemudian dinilai oleh Isnawati bingung.
03:43Nah ini karena beliau ini saya kira tidak menguasai persoalan dan juga tidak menguasai data.
03:49Ini saya katakan tadi itu data BPS itu.
03:52Harusnya dicek bahwa data BPS itu turnover bisnis dari kooperasi ini tidak lebih dari 1 persen
03:58mau dibiarkan seperti ini terus.
04:00Mau dibiarkan kooperasi sebagai soko guru ekonomi ini ditelantarkan terus.
04:06Kemudian apa yang akan terjadi di dalam sistem kooperasi kalau tidak ada upaya pemerintah
04:12sebagai afirmatif action untuk merubah struktur ekonomi ini?
04:15Di mana letak bingungnya apa dasar bingung itu?
04:18Karena begini Bang, pernyataan Menkopangan Zulhas juga bilang terakhir kali dalam rapat koordinasi
04:23soal program kopdes ini, dia bilang tidak akan berkembang menjadi supermarket
04:27seperti yang dipersepsikan masyarakat.
04:29Jadi kooperasi desa ini menyalurkan barang-barang subsidi, berbagai bantuan pemerintah
04:34dan off-taker produk desa.
04:35Jadi di mana letak bingungnya? Kan sudah jelas begini?
04:37Ya, pertama begini.
04:39Beliau ini kan bekerja untuk kepentingan agrinas ya di dalam konten ini.
04:43Ya, saya setapahli agrinas ya.
04:45Kooperasi merah putih.
04:46Agrinas pangan.
04:47Ya, kooperasi merah putih kan.
04:49Artinya tentu saja kalau pekerjaan beliau dikritik wajar saja beliau marah-marah.
04:53Oh, no, no. Kita berdebat soal substansi data.
04:57Kalau seandainya program ini kata-kala bermasalah kemudian dibatalkan,
05:03beliau kan mengalami kerugian ekonomi juga.
05:06Tapi apapun pendapatan...
05:08Maksudnya kerugian ekonomi gimana ya?
05:09Ya kan bekerja di agrinas kan.
05:11Saya itu bekerja, saya dapat gaji dan saya bekerja sebagai profesional.
05:16Ya kan profesional kan dibayar.
05:19Makanya wajar saja dibela, saya tidak mempersoalkan itu.
05:22Oke, kembali ke pertanyaan saya.
05:23Ya, kritikan Anda apa? Gagasan Anda sebagai pengkritik apa?
05:25Ya, ini belum disampaikan sudah marah-marah.
05:28Sabar.
05:29Oke, lanjut.
05:31Makanya begini ya.
05:32Pertama, tentu saja kita lihat program ini harus terukur.
05:37Di dalam proses penyelenggaraan negara, ada namanya perencanaan.
05:43Perencanaan itu harus terbuka.
05:45Tidak kemudian ujuk-ujuk dilaksanakan.
05:49Saya agak khawatir dengan gagasan-gagasan yang muncul di presiden lebih kepada faktor wangsit saja.
05:55Misalnya MBG dikatakan itu wangsit dari Pak Presiden.
05:59Jangan-jangan kooperasi merah putih juga wangsit.
06:04Universitas Republik Indonesia juga wangsit.
06:07Kenapa alat ukur melihatnya wangsit?
06:09Karena memang nihilnya perencanaan.
06:12Kalau orang terencana, dia akan memperhatikan misalnya 130an ribu kooperasi tadi.
06:18Kalau memang ada turnover yang bermasalah, kenapa tidak diperkuat dengan dana dari negara?
06:25Ya, konsep Anda apa?
06:26Ini salah satu konsepnya, tidak Anda dengar.
06:29Bahwa peran negara untuk memperkuat dengan dana tambahan, memperkuat kooperasi rakyat yang sudah ada.
06:37Kenapa dibuat lagi?
06:39Ini rumahnya belum selesai, mau diruntuhkan, bangun rumah baru.
06:43Yang Anda khawatirkan kalau bertambah, bukannya itu akan menambah kemungkinan untuk menaikkan ekonomi di tingkat desa?
06:48Ini saja belum selesai, kok dibangun yang baru.
06:51Jadi saudara Ferry, Anda tidak memahami substansi.
06:54Jadi begini, 131 ribu itu kenapa turnover bisnisnya atau omsetnya itu hanya 1% itu?
07:02Itu karena mereka ini bekerja berada di dalam sistem, ya itu tadi kooperasi yang dilemahkan oleh sistem kapitalis.
07:14Nah pemerintah sekarang, pemerintah Prabowo ini ingin mendekonstruksi ini.
07:18Nah itu omong kosong.
07:19Kenapa omong kosong?
07:20Begini, karena tidak ada perencanaan maka terlihatlah di hutan, di bukit, dan segala macam.
07:27Padahal ada yang perlu...
07:28Nah ini, ini, ini.
07:29Tunggu sabar lah.
07:30Katanya mau mendengar perspektif orang.
07:33Katanya mau berdebat.
07:35Masa kemudian dipotong-potong.
07:37Jadi setelah kemudian terencana, kita bisa mengetahui kelemahan kooperasi selama ini apa?
07:43Katanya kapitalis, negara kan punya peran mengendalikan pemilik modal.
07:49Kenapa itu tidak dilakukan?
07:51Kenapa buat yang baru?
07:52Bagi kita ini proyek militer lah.
07:54Agrinas kan bagian dari militaristik ini.
07:58Ini kan hanya kooperasi-kooperasian, pura-puranya kooperasi.
08:03Kalau dia kooperasi, dia akan berdasar kepada kepentingan anggota.
08:08Ada anggotanya.
08:09Tanya siapa anggotanya, masyarakat nggak?
08:11Modalnya saja dari negara.
08:14Kooperasi itu kan ada tiga jenisnya.
08:16Konsumsi, produksi, kredit gitu ya.
08:19Ini apa makhluknya?
08:21Dimana pengaturannya?
08:23Bagaimana pengelolaannya?
08:24Belum dimulai saja sudah menyerah.
08:27Sampai diancam oleh menteri desa.
08:29Kalau tidak dibantu oleh minimarket-minimarket itu dalam supply chain atau dalam segala hal,
08:35mau diberhentikan, ditutup.
08:37Ini saya kira asal-asalan ini disini.
08:39Jadi saya bisa jelasin ya.
08:41Boleh nanti sabar.
08:43Ini kan Anda minta dulu.
08:44Oleh karena itu peran negara mengancam untuk membantu kooperasi desa merah putih ini janggal bagi saya.
08:51Pada titik tertentu negara harus bekerja demi kepentingan raya.
08:55Ini kepentingan siapa?
08:56Ngapain negara kemudian tidak menyokong kooperasi yang ada?
09:00Aneh bagi saya kalau kemudian cerita dari orang yang menjalankan bisnis kooperasi merah putih
09:07ini bertahan dan mengatakan kooperasi rakyat bermasalah.
09:11Padahal dia sendiri orang kooperasi.
09:13Nah gimana tuh Mas?
09:14Jadi begini Saudara Ferry ya.
09:17Saya mau jelaskan yang namanya kondisi kooperasi di Indonesia itu sekarang ini.
09:21Itu tidak lebih dari soko pinggiran.
09:24Soko pinggiran pun enggak karena apa?
09:26Tidak lebih dari 1% jika dibandingkan dengan total GDP tadi kan.
09:30Nah terus kemudian ini artinya apa?
09:34Ekonomi konstitusi itu kan pasal 33 itu yang dimaksud dengan demokrasi ekonomi itu
09:39bentuknya wujudnya adalah badan hukum kooperasi ini.
09:41Bangun perusahaan yang sesuai dengan demokrasi itu
09:43iyalah kooperasi itu di state di penjelasan pasal 33
09:47yang itu masih berlaku aktif kan gitu.
09:49Kalau itu karena ayat-ayatnya kan tidak dirubah itu kan.
09:54Nah sekarang ini pemerintah berkeinginan supaya apa ada namanya kepemilikan rakyat
10:02yang ini bentuknya adalah yang paling mungkin adalah kooperasi.
10:06Tadi kan siapa anggotanya apa segala lainnya.
10:09Jadi Saudara PNI itu sebetulnya belum banyak diskusi,
10:12belum banyak tahu tentang konsep dari kooperasi desa Kelurahan Merah Putih
10:15tapi sudah komentar duluan kemana-mana.
10:17Sesungguhnya yang namanya kooperasi desa Kelurahan Merah Putih
10:20karena sudah dibayar pakai pajak
10:21dan pemerintah kemudian ini membangun infrastrukturnya
10:25ya kan.
10:27Nah ini anggotanya adalah seluruh masyarakat desa.
10:30Dan kalau kawan-kawan ini kan kritiknya kooperasi harus bottom up.
10:34Selama ini kooperasi bottom up.
10:36Kooperasi yang ditumbuhkan dari bawah juga tidak dilarang oleh pemerintah.
10:39Tapi hasilnya yang 1% kooperasi sokong pinggiran aja belum seperti ini.
10:44Nah sekarang kenapa masalahnya ini terjadi seperti ini?
10:48Pemerintah Presiden Prabowo ini punya satu gagasan besar
10:52ingin apa?
10:53Merubah struktur ekonomi supaya tidak kapitalis.
10:56Supaya demokrasi politik ini yang banyak kita bicarakan
11:01itu juga ada perimbangannya dengan demokrasi ekonomi.
11:04Karena apa? Kalau demokrasi politik tanpa demokrasi ekonomi
11:07itu sesungguhnya ya kuasa dari sistem kebijakan pemerintah kita dan sebagainya
11:14itu akan dikuasai oleh kapitalis.
11:14Sederhananya berarti kooperasi desa merah putih ini akan menggenjot ekonomi desa
11:18akan seberapa besar?
11:19Ini adalah aset yang ditransfer itu kalau dalam prognosa atau rencah anggaran yang akan ditransfer ke seluruhan
11:30itu 83 ribu itu kalau dikalikan 3 miliar itu kan 249 triliun.
11:35Ini bujatnya.
11:36Kenapa?
11:37Angka mana itu?
11:38Ya ini angka untuk pembangunan kooperasi desa keluruan merah putih yang dikerjakan dalam bentuk prasana sarana
11:44dan kemudian juga membangun ekor sistem dari bisnisnya.
11:47Nah dari besaran ini ini kalau dibandingkan dengan sistem ekonomi dengan putaran bisnis kapitalis ini
11:56ini kan gak seberapa.
11:57Belum seberapa yang tadi dari putaran ekonominya tidak lebih dari berapa persen itu.
12:03Kalau dibandingkan itu dengan total di kita itu hanya 1 persen.
12:07Nah bagaimana kita mau membangun bangsa ini dan perekonomian itu pasal 33 jelas sekali
12:13perekonomian harus disusun.
12:16Kalau saya tidak tahu beliau baca buku kooperasi yang mana dan jilid berapa ya.
12:21Tapi ada problematika di konsep pasal 33 undang-undang dasar.
12:26Kan di pasal 33 ayat 1 itu perekonomian dibangun.
12:30Disusun?
12:31Ya disusun berdasarkan ekonomi kekeluargaan kan gitu ya.
12:36Nah kalau kita lihat ini bukan kooperasi kekeluargaan.
12:40Karena konsep kooperasi itu adalah berbasis kepada keanggotaan.
12:45Setiap anggota itu punya one man one vote.
12:48Tadi sudah dijelaskan ini dibangun dari pajak APBN negara itu.
12:54Iya.
12:54Bukan konsep kooperasi.
12:56Anda kan pembayar pajak juga.
12:57Tunggu dulu.
12:58Anda punya hak suara sama Anda kalau warga negara kecuali warga negara lain.
13:01Jangan Anda manipulasi konsep pajak dengan iuran anggota kooperasi.
13:07Itu dua hal yang berbeda.
13:09Kooperasi itu berbasis kepada iuran anggotanya.
13:12Ini mazhab Anda mazhab kuno ini.
13:14Anda hanya berkotat di satu mazhab.
13:17Ada banyak mazhab kooperasi.
13:18Mazhab persemakmuran, mazhab sosialisme atau mazhab diakstik.
13:22Nah yang ekspektasi Anda ya mazhab yang mana?
13:24Kalau dari permazhaban ini mazhab kuno.
13:27Makanya kooperasi mau dibiarkan tidak bergerak.
13:30Sehingga ekonomi masyarakat kita tidak akan berkembang.
13:32Dan kemudian dikuasai oleh kapitalis.
13:34Saya malah curiga ini jangan-jangan Bang Ferry ini sudah agensi dari kapitalis juga.
13:38Saya puas sekali dengan gagasan Anda yang penuh emosional itu.
13:42Menunjukkan lemahnya rasa persaudaran dalam diskusi.
13:46Silahkan Bang Ferry.
13:47Ketika dia menyumbang dia punya hak one man one foot.
13:52Sekarang bagaimana cara kooperasi merah putih memberikan hak suara kepada anggotanya yang disebut pembayar pajak itu.
14:01Jadi aneh sekali konsepnya.
14:03Kedua dia mempermasalahkan turnover dari kooperasi yang sudah ada.
14:10Tetapi yang dia bicarakan adalah berapa banyak uang negara yang dipakai untuk membangun kooperasi baru.
14:16Jadi ini pengeluaran.
14:18Bukan juga kekuatan ekonomi baru yang timbul dari masyarakat.
14:22Belum ada.
14:23Nah itu sebabnya sebenarnya ini proyek ambisius belaka untuk menghidupkan mesin-mesin kepentingan politik yang ada.
14:31Beliau bicara tidak dari sudut membangun kooperasi ala Indonesia yang dicita-citakan oleh ibu bapak bangsa kita.
14:40Jadi saya bisa jelaskan ini mas.
14:42Jadi begini.
14:44Bapak bangsa itu.
14:45Belum selesai.
14:46Bapak bangsa itu macam-macam.
14:48Tetapi kan dalam pemahaman kita, kita bisa lihat.
14:52Pastikan dulu apakah anggota punya hak suara di dalam kooperasi merah putih anda.
14:59Siapa anggotanya?
15:00Rakyat yang mana pembayar pajaknya?
15:02Jadi aneh sekali kalau gagasannya Ferry Amsari kan pembayar pajak.
15:06Jadi saya anggota kooperasi merah putih.
15:09Secara otomatis.
15:09Bagaimana saya punya hak suara?
15:10Anda punya hak suara, Anda punya hak kendali.
15:12Bagaimana caranya?
15:17Anda punya KTP di mana?
15:19Desa mana?
15:19Ya di Sumatera Barat.
15:20Sumatera Barat di desa apa?
15:22Anda adalah menjadi pemegang KTP di situ, Anda menjadi anggota di situ.
15:26Bagaimana mekanismenya?
15:27Mekanismenya ya Anda sebagai pemilik dari kooperasi.
15:31Sejak kapan itu saya tahu?
15:32Sejak ketika nanti dioperasionalkan.
15:35Seluruh yang punya KTP?
15:37Seluruh yang punya KTP bro.
15:38Ini namanya demokrasi ekonomi.
15:40Betul-betul demokrasi ekonomi yang luar biasa tapi tidak kerencana.
Komentar

Dianjurkan