- 1 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS TV Di tengah tren penurunan harga emas, psikolog konsumen Irfan Agia mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO) maupun kepanikan saat harga turun.
Menurut Irfan, fenomena masyarakat berbondong-bondong membeli emas ketika harganya tinggi, namun buru-buru menjual saat harga turun, lebih dipengaruhi faktor psikologis daripada pertimbangan investasi.
"Ada fenomena FOMO atau fear of missing out dan yang kedua herd mentality atau perilaku ikut-ikutan. Saat harga mahal muncul rasa takut tertinggal, sementara saat harga turun terjadi kepanikan massal karena melihat orang lain juga menjual," kata Irfan Agia dalam program Kompas Bisnis, Jumat (24/7/2026).
Bagi investor jangka panjang, emas masih memiliki potensi karena secara historis menunjukkan tren kenaikan dalam periode lima hingga sepuluh tahun. Namun, bagi yang mengejar keuntungan jangka pendek, emas belum tentu menjadi instrumen yang tepat.
"Kalau tujuan utamanya untuk jangka panjang, lima sampai sepuluh tahun, emas masih memiliki potensi. Tapi kalau mengejar cuan jangka pendek, bisa mempertimbangkan instrumen investasi lain," katanya.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/682079/bimbang-emas-turun-jual-atau-beli-ini-saran-dari-psikolog-konsumen-kompas-bisnis
Menurut Irfan, fenomena masyarakat berbondong-bondong membeli emas ketika harganya tinggi, namun buru-buru menjual saat harga turun, lebih dipengaruhi faktor psikologis daripada pertimbangan investasi.
"Ada fenomena FOMO atau fear of missing out dan yang kedua herd mentality atau perilaku ikut-ikutan. Saat harga mahal muncul rasa takut tertinggal, sementara saat harga turun terjadi kepanikan massal karena melihat orang lain juga menjual," kata Irfan Agia dalam program Kompas Bisnis, Jumat (24/7/2026).
Bagi investor jangka panjang, emas masih memiliki potensi karena secara historis menunjukkan tren kenaikan dalam periode lima hingga sepuluh tahun. Namun, bagi yang mengejar keuntungan jangka pendek, emas belum tentu menjadi instrumen yang tepat.
"Kalau tujuan utamanya untuk jangka panjang, lima sampai sepuluh tahun, emas masih memiliki potensi. Tapi kalau mengejar cuan jangka pendek, bisa mempertimbangkan instrumen investasi lain," katanya.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/682079/bimbang-emas-turun-jual-atau-beli-ini-saran-dari-psikolog-konsumen-kompas-bisnis
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:10Intro
00:21Demikian saudara, Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis.
00:25Saudara, setelah mencapai posisi puncak pada 29 Januari di harga Rp3.100.000 per gram,
00:31hingga kini harga emas belum mampu bangkit ke harga tertingginya.
00:38Setelah beberapa bulan berlangsung, harga emas batangan ini masih di kisaran Rp2.500.000 hingga Rp2.600.000 per gram,
00:46turun hampir 17% dari harga tertingginya.
00:49Sejumlah faktor masih membayangi, mulai dari penguatan dolar AS,
00:53yang biasanya bergerak berlawanan dengan harga emas,
00:57imbal hasil obligasi Amerika Serikat tenor pendek yang dinilai lebih aman,
01:02ekspektasi suku bunga The Fed hingga ketegangan geopolitik perang Iran versus Amerika Serikat.
01:15Pasar emas antam masih bergerak stabil, saudara, setelah mencatat kenaikan dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.
01:22Pada Kamis sore, emas antam ukuran 1 gram masih dipasarkan ataupun diperdagangkan seharga Rp2.640.000 per gram.
01:31Harga ini naik tipis Rp5.000 dibandingkan perdagangan pada hari Rabu 22 Juli 2026 yang berada di level Rp2.635
01:40.000 per gram.
01:41Selain harga dasar, Antap juga mencantumkan harga setelah dikenakan pajak penghasilan sebesar 0,25%
01:48untuk emas 1 gram harga setelah pajak menjadi Rp2.646.600 per gram.
01:55Sementara sebulan terakhir harga emas turun 1,2% dari Rp2.673.000 ke Rp2.640.000 per gram.
02:07Sementara itu, saudara, harga emas dunia melemah pada perdagangan hari Kamis setelah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 2 pekan.
02:14Penurunan dipicu kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah
02:19yang memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong The Fed menaikan suku bunga.
02:23Data dari Bloomberg, harga emas dunia turun 1,56% menjadi Rp4.087 USD per troy ounce.
02:33Padahal sehari sebelumnya, logam mulia sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli 2026 di Rp4.165 USD per ounce.
02:43Sementara sebulan terakhir, saudara, harga emas dunia turun 1,3% dari Rp4.149 USD pada 23 Juni turun ke
02:51Rp4.087 USD per ounce pada perdagangan kemarin.
03:02Harga emas antam turun 17% dari level tertingginya.
03:06Apakah saat ini waktunya membeli atau tahan dulu karena masih ada potensi penurunan?
03:10Dan bagaimana bagi mereka yang sudah terlanjur membeli di harga tinggi agar mental aman?
03:16Kita bahas bersama psikolog konsumen Irfan Agia.
03:19Mas Agia, selamat datang di Kompas Bisnis. Apa kabar?
03:23Pagi, kabar baik. Terima kasih.
03:25Dan saya juga tak lupa mengundang Anda, saudara, untuk bergabung dalam perbincangan pagi hari ini.
03:30Sharing atau jika ingin bertanya soal pertimbangan dalam membeli emas,
03:34di telpon interaktif di 021-5366-0500 atau di 021-5366-1313.
03:44Bisa juga di 021-535-9518.
03:48Seperti yang tertera di layar kaca Anda.
03:52Mas Agia, ini menurut Anda mengapa ketika harga emas turun,
03:56sebagian masyarakat justru panik dan ingin segera menjual.
04:01Sebaliknya, saat mahal malah lomba untuk membeli.
04:05Ya, jadi ini memang kita bisa lihat dari sisi psikologis ya.
04:08Jadi ada fenomena, ada dua hal, yaitu FOMO atau Fear of Missing Out.
04:12Dan yang kedua adalah Heart Mentality atau Perlaku Ikut-Ikutan.
04:16Jadi saat harga mahal, itu masyarakat melihat berita bahwa harga emas mencetak rekor.
04:21Muncul rasa takut tertinggal karena melihat orang lain seolah-olah dapat keuntungan besar.
04:26Jadi ada greedy, istilahnya itu mulai mengambil alih, jadi bisa membeli tanpa melihat valuasi.
04:31Karena kita akan berasumsi tren ini akan terjadi selamanya yang naik.
04:35Nah, tapi saat harga turun, itu terjadi sebaliknya.
04:38Ketika grafik memerah, itu muncul kepanikan masal.
04:41Kenapa? Karena melihat orang lain juga jual, secara naluriah manusia kan makhluk sosial ya.
04:47Jadi ada ikut-ikutan juga atau heart mentality dalam psikologi.
04:50Karena merasa jika semua orang lari, itu pasti ada sesuatu bahaya.
04:54Jadi logika investasi jangka panjang yang tadi mungkin jadi acuan,
04:59itu yang terkalahkan oleh insting bertahan hidup di jangka pendek, seperti itu.
05:03Oke, kita langsung sama Pak Penelpon.
05:05Mas Agia sudah ada Dame.
05:07Selamat pagi, Mbak Dame.
05:10Halo.
05:11Selamat pagi, Mbak Dame di mana?
05:13Halo, saya di Jogja.
05:16Oke, baik. Ada pertanyaan atau bisa sharing dengan resumber kami pagi ini?
05:20Saya punya dua pertanyaan.
05:24Salah satunya tanya, salah satunya minta saran.
05:27Pak Agia, ini kita kan ya namanya ibu rumah tangga gitu ya.
05:35Kadang kalau investasi ya kadang coba-coba, kadang harapannya gede banget.
05:42Kenapa ya kalau kayak menghadapi harga emas ini kita rugi, itu rasanya rugi banget.
05:48Tapi kalau untung, itu kayaknya kurang gitu.
05:53Kenapa kita merasa begitu?
05:57Yang kedua adalah, saya ini dititipin emas oleh orang tua saya.
06:02Beliau berdua ini rencananya akan melakukan pelunasan biaya haji.
06:09Masalahnya, beliau titip ke saya pas harganya 3 juta.
06:13Nah ini, saya mau jual harganya cuma 2 juta 300 kayak gitu loh.
06:21Saya bingung ini ngomong ke orang tuanya ya.
06:23Bagaimana ya?
06:25Kumpung sama orang sepuh, itu biar memahami investasi begitu loh.
06:31Oke, baik.
06:32Kami tangkap pertanyaan Anda dari Yogyakarta, Mbak Dame.
06:36Terima kasih.
06:37Saya langsung lepatkan ke Mas Agia.
06:39Ada 2 pertanyaan di sini.
06:40Yang pertanyaan pertama, ketika rugi begitu dalam peninvestasi khususnya emas,
06:44ini merasa rugi banget.
06:46Tapi ketika untung kok nggak berasa ya?
06:49Ya, jadi ini bisa dilihat dari sisi psikologi ya kembali.
06:52Jadi yang dialami Bu Dame itu sangat wajar.
06:54Dan itu kombinasi dari satu ekspektasi yang tidak realistis gitu ya.
06:58Dan juga ada dalam psikologi nama lost aversion atau menghindari kerugian.
07:01Kenapa?
07:02Karena ketika seseorang berinvestasi hanya coba-coba,
07:05seperti yang Bu Dame bilang,
07:07atau ikut tren,
07:08petak kita biasanya sudah dibuai dengan iming-iming keuntungan instan yang besar.
07:12Nah, karena ekspektasi orang sudah terlalu tinggi,
07:14misalnya sudah berharap untungnya 50 persen gitu ya.
07:17Maka ketika kenyataannya itu hanya untung 5 persen,
07:20hanya ya, padahal itu sudah untung gitu 5 persen,
07:23kita menerjemahkan keuntungan kecil itu sebagai sebuah kegagalan atau kecewaan.
07:28Walaupun itu sudah untung, ya 5 persen.
07:31Nah, sebaliknya, karena uang yang dipakai itu biasanya memiliki kedekatan emosional yang tinggi.
07:35Misalnya, uang untuk beli emas itu mungkin dari uang belanja,
07:39atau uang tabungan keluarga gitu ya.
07:41Jadi kerugian sedikit saja,
07:42itu akan terasa menyakitkan gitu, dan menunjuk stres gitu ya.
07:45Nah, itu jadi betul-betul seperti itu.
07:49Oke, pertanyaan yang kedua ini,
07:50Mbak Damir tadi dititipin emas oleh orang tuanya ketika harganya masih tinggi,
07:56begitu di 3 juta.
07:57Sementara harganya saat ini di buybacknya di 2 juta 300.
08:01Berarti ada margin kerugian, begitu sekitar 700 ribu.
08:05Dan ini bagaimana menjelaskan kepada orang tua yang sudah sepuh,
08:08terkait dengan investasi emas itu tidak selalu untung, begitu?
08:11Ya, ini situasi yang cukup tricky ya, istilahnya.
08:16Karena kan ini melibatkan, satu, ada beban moral, gitu ya.
08:18Dua, ada dana spiritual, gitu ya.
08:20Haji dan perbedaan generasi juga tadi ya.
08:22Karena orang yang lebih seniority biasanya melihat emas itu sebagai
08:25bentuk tabungan absolut,
08:27yang nilainya itu selalu naik, gitu.
08:29Jadi, sulit bagi mereka itu mencerna konsep fluktuasi, gitu ya.
08:33Karena ada harga pasar jangka pendek.
08:35Jadi, kita bisa melakukan framing, istilahnya, atau membingkai komunikasi kita, gitu.
08:40Jadi, kita harus fokus dengan satu, cek tanggap waktu pelunasannya juga, gitu ya.
08:46Karena jika jadwal pelunasan hajinya memang harus bulan ini,
08:49maka emas tersebut itu wajib harus dijual, terlepas harganya sedang turun.
08:53Karena tujuan awalnya kan memang untuk berangkat haji, gitu ya.
08:56Bukan untuk cari cuan, istilahnya, atau trading, gitu.
08:59Jadi, kita bisa membingkai kalimatnya menjadi, ya, Alhamdulillah, gitu ya.
09:03Tuan-tuan, emas yang sedikit-sedih sudah cukup dan dicairkan.
09:07Tapi memang jika ada perbedaan, itu karena ada beberapa faktor, gitu ya.
09:11Karena emas itu adalah salah satu instrumen yang bisa naik dan juga bisa turun, gitu.
09:16Jadi, memang harus pelan-pelan sekali, gitu ya, untuk menjelaskan kepada orang yang lebih senior, gitu.
09:21Karena memang mereka menganggap emas itu adalah tabungan yang absolut, seperti itu.
09:25Yang menganggapnya selalu naik.
09:27Diberikan pengertian dan juga penjelasan secara pelan-pelan hingga akhirnya mengerti.
09:31Karena memang instrumen investasi apapun memiliki risiko, termasuk emas, begitu, yang memang kerap selama ini disebut stabil.
09:38Terima kasih, Mbak Dami, tadi juga penelpon.
09:40Dan kami juga mengundang Anda, saudara, selain Mbak Dami, tadi Anda bisa bergabung bersama kami di Kompas Bisnis
09:47untuk sharing ataupun berbagi dan bertanya terkait dengan pertimbangan membeli emas di nomor telepon interaktif di 021-5366-0500
09:56atau di 021-5366-1313.
10:00Dan Anda juga bisa bergabung di 021-535-9518, seperti yang tertera di layar kaca Anda.
10:10Kita ke pertanyaan selanjutnya, Mas Agia.
10:13Ini kan sebelumnya, seperti yang saya bilang, emas dikenal sebagai instrumen investasi yang stabil.
10:18Namun selama kuartal tahun ini, termasuk di kuartal 2 tahun ini, harganya terus turun tajam.
10:25Melihat kondisi ini, apakah artinya warga jadi harus lebih ekstra hati-hati dalam membeli emas
10:29atau justru ini jadi peluang untuk membeli, menurut Anda?
10:33Ya, jadi bisa kita lihat juga terkait profil resiko.
10:37Ini hal yang penting, karena apapun instrumen investasi, kita harus kembali pada profil resiko.
10:42Jadi, kembali lagi dalam psikologi ada namanya mental accounting atau tujuan utama.
10:47Jadi, kalau tujuan utamanya untuk jangka panjang, gitu ya, misalnya 5-10 tahun ke depan,
10:52instrumen emas itu masih menjadi memiliki potensi.
10:55Karena kalau kita lihat secara historik, mungkin dari 5-10 tahun ke belakang,
11:00emas itu termasuknya stabil dan juga memang meningkat secara gradual.
11:04Tapi, kalau memang profil resiko kita itu misalnya tinggi, kita tidak melihat bahwa
11:10emas itu menjadi satu instrumen yang tepat untuk mendapatkan istilahnya cuan jangka pendek.
11:15Kita bisa melihat juga instrumen investasi lain, di saham misalnya.
11:20Jadi, memang kembali lagi ke profil resiko masing-masing dan juga tujuan awal
11:24untuk melihat emas itu sebagai instrumen apa.
11:27Oke, kalau kita melihat profil resiko emas itu termasuk low risk, begitu, dan menengah.
11:34Apabila kita melihat secara psikologis terkait dengan profil resiko menengah
11:39ataupun juga low risk, begitu, ketika melihat nilai investasinya terus turun secara psikologis,
11:46ini seperti apa sih? Apa yang terjadi secara psikologis?
11:49Ya, jadi kita melihat investasi kita minus, gitu ya, atau misalnya turun.
11:54Otak kita itu memproses kerugian nasihat sama seperti ancaman fisik, gitu.
11:58Kenapa? Karena ada di bagian otak bernama amigdala, itu pusat pengatur rasa takut dan emosi,
12:03itu akan aktif dan memicu respon fight or flight, gitu, lawan atau lari.
12:07Nah, inilah kenapa saat melihat harga emas anjlo, gitu ya, seseorang itu tiba-tiba kesulitan,
12:12berpikir jernih, merasa cemas, dan juga ada dorongan impulsif untuk segera menghentikan rasa sakit tersebut
12:18dengan cara bisa jadi menjual rugi atau cut loss, gitu, ya, itu jadi sangat kuat.
12:22Itu yang memang terjadi di belakang, di balik layar, seperti itu.
12:27Oke, kemudian kan sekarang banyak yang ingin berinvestasi termasuk emas tergantung profil resikonya.
12:33Bagi mereka yang saat ini punya cash dan ingin masuk ke instrumen emas,
12:36apa saja menurut Anda yang perlu jadi pertimbangan?
12:40Ya, yang perlu menjadi pertimbangan adalah apakah uang tersebut itu uang dingin atau tidak, gitu ya.
12:46Ini kenapa? Karena ini bergantung lagi sama tadi seperti pertanyaan Gudame, gitu ya,
12:52karena akan ada attachment dan juga ekspektasi tambahan terkait dengan jenis dana yang kita gunakan.
12:59Kalau kita gunakan dana dingin, itu menurut saya adalah sesuatu hal yang bisa kita manfaatkan,
13:05ya, ketika memang harganya sedang turun, gitu.
13:08Tapi, kalau kita menggunakan uang panas, misalnya menggunakan uang belanja kita, uang bulanan,
13:14akan ada ekspektasi lain, ekspektasi tambahan, yang membuat nanti kondisi seperti yang pertanyaan Gudame sebelumnya.
13:20Jadi, ketika ada keuntungan, walaupun 5%, itu kita anggap rugi.
13:25Tidak setinggi yang kita harapkan, seperti itu.
13:28Oke, kita kembali sapa penelpon, ada Raden. Selamat pagi, Pak Raden.
13:35Ya, selamat pagi.
13:37Di mana, Pak Raden, posisi?
13:39Ini di Jakarta.
13:41Oke, ada pertanyaan atau bisa sharing terkait dengan pertimbangan membeli emas.
13:45Pak Raden, silakan.
13:48Mas Agus, saya sebenarnya bingung ya, karena memang sudah punya emas dari dulu, gitu ya.
13:55Saya beli di harga yang cukup murah, sekarang sih sudah dapat untung lumayan banyak, seperti itu.
14:01Tapi, karena saya belinya itu regular ya, jadi tidak secara FOMO gitu.
14:08Pokoknya, ada uang saya beli, ada uang saya beli, tapi ada ketika saya beli di harga yang tinggi.
14:13Yang ketika kemarin, sampai di angka 2,9, 2,8.
14:17Nah, sekarang dengan kondisi yang makin turun, di satu sisi saya ingin tetap tahan,
14:23karena mungkin yakin akan lebih tinggi lagi, nanti bisa jadi, apa ya, naik lagi.
14:28Tapi juga di satu sisi saya takut, gitu, karena bisa jadi turun kembali.
14:33Nah, bagaimana kemudian bisa, seseorang tuh bisa, tidak terlalu khawatir lah soal naik turunnya harga emas kali ini.
14:43Karena dibilang, pokoknya kalau emas akan naik lah, gitu kan, orang-orang biasanya bilang seperti itu.
14:48Seperti apa, Mas? Terima kasih.
14:50Baik, terima kasih Pak Raden, domisili di Jakarta, dengan pertanyaannya.
14:55Mas Agia, ini, Pak Raden ini tampaknya membeli emas secara reguler, dollar cost averaging, begitu.
15:01Menyicil bulan per bulan, tapi masih ada rasa khawatiran dan juga ketakutan,
15:05karena harga emas ini naik turunnya cukup tinggi beberapa bulan terakhir ini.
15:10Mas Agia.
15:11Ya, jadi pertama-tama ini apresisi juga, gitu ya, karena memang ini salah satu contoh yang sudah punya literasi.
15:17Tadi ada dollar cost averaging, gitu, jadi memang sudah rutin.
15:20Jadi secara strategi ini, Pak Raden sudah menang lah.
15:24Tapi memang yang harus menjadi catatan ada dari sisi emosionalnya.
15:28Ya, kenapa biasanya-biasanya tetap cemas, gitu.
15:30Karena kalau sudah untung banyak, kenapa kita masih merasa takut dan gelisah.
15:35Jadi ada dua hal yang memang menjadi pertimbangan.
15:39Satu, ada istilah itu negativity bias.
15:41Jadi kita tuh, otak manusia dirancang untuk lebih fokus pada hal yang mengancam,
15:45warna merah, gitu ya, dibandingkan hal yang aman, warna hijau, gitu.
15:49Dan kedua, kita takut kehilangan keuntungan, gitu.
15:52Nah, jadi solusinya sebetulnya adalah kita bisa merubah cara kita melihat aset.
15:56Jadi kita fokus itu bukan ke harga saat ini, tapi fokus ke harga rata-rata, gitu.
16:01Jadi kita lihat, jangan melihat emas.
16:03Harga emas itu jadi keping per keping, gitu.
16:05Jadi mana yang beli yang murah, mana yang beli yang mahal.
16:07Karena yang sudah dilakukan Pak Raden itu adalah dollar cost averaging,
16:11yang sudah melihat harga rata-rata.
16:13Jadi kalau kita lihat keseluruhan harga emas, gitu ya,
16:16saya yakin sekarang rata-rata modal dari Pak Raden di sebelumnya jauh,
16:20itu sudah di bawah harga pasar saat ini, gitu ya.
16:22Dan yang kedua adalah kita pertanyaan kembali, uangnya mau dipakai kapan?
16:26Nah, ini jadi sesuatu yang penting juga.
16:28Kenapa? Karena rasa takut itu muncul ketika kita bereaksi pada harga hari ini.
16:32Jadi kalau kita kembalikan ke niat awal,
16:34kalau emas ini memang disiapkan untuk pensiun, misalnya, gitu,
16:37atau jangka menengah 5-10 tahun lagi,
16:40maka penurunan harga bulan ini memang sama sekali tidak relevan untuk dikhawatirkan.
16:44Seperti itu.
16:44Jadi kita bisa lakukan tetap partial take profit jika dibutuhkan,
16:48jual sebagian, misalnya untuk keterangan mental,
16:50tapi tetap lakukan dollar cost averaging tadi, seperti itu.
16:54Oke, bisa tetap diteruskan kalau kita melihat,
16:56kalau memang uang dingin, begitu,
16:57karena memang kalau kita melihat tren histori secara tahunan juga emas ini terus naik,
17:02begitu, kalau memang uangnya tidak,
17:04bukan uang darurat, begitu ya, bisa terus diteruskan dollar cost averaging ini.
17:08Yang juga jadi pertanyaan, Mas Agia, terkait dengan mental.
17:11Sebetulnya mental apa saja sih yang perlu dipersiapkan bagi mereka yang ingin masuk ke dunia investasi,
17:17termasuk emas.
17:18Namun, kita bahas susah jeda, Mas Agia.
17:20Dan saudara, perbincangan ini akan kami lanjutkan susah jeda.
17:23Bagi Anda, pemirsa Kompas TV yang memiliki pertanyaan seputar pertimbangan membeli emas
17:27di tengah harga yang naik turun,
17:29bisa bergabung bersama kami di telepon interaktif di 021-5366-0500
17:35atau di 021-5366-1313,
17:39bisa juga di 021-535-9518,
17:44seperti yang tertera di layar kaca Anda.
17:46Jangan kemana-mana susah jeda Kompas Bisnis,
17:48akan kembali untuk Anda.
17:57Kita kembali lanjutkan perbincangan soal pertimbangan membeli emas saat harga turun
18:01bersama psikolog konsumen Irfan Agia.
18:04Dan kami juga mengundang Anda, saudara,
18:06untuk bergabung dalam perbincangan pagi ini
18:08atau juga ingin bertanya soal pertimbangan dalam membeli emas
18:11di telepon interaktif di 021-5366-0500
18:17atau bisa juga di 021-5366-1313,
18:23bisa juga di 021-535-9518,
18:29seperti yang tertera di layar kaca Anda.
18:31Kami lanjutkan perbincangan, saudara.
18:33Mas Agia, tadi pertanyaan saya terkait dengan mental.
18:36Sebelum masuk ke ranah instrumen investasi,
18:39sebelum berinvestasi,
18:40apa mental yang perlu dibangun?
18:44Jadi ada, bisa dibilang, ada beberapa mental ya
18:47yang harus disiapkan sebelum beli emas.
18:49Pertama adalah satu mentalnya maraton,
18:51bukan sprint.
18:53Jadi kesiapan untuk menunda kepuasan.
18:55Kenapa? Karena secara psikologis,
18:56masyarakat kita seringkali terjebak dengan keinginan cepat,
18:59kaya, gitu ya, atau instant gratification.
19:01Jadi persiapan mental pertama adalah menyadari bahwa
19:04emas itu bukan instrumen pencetak uang yang cepat,
19:07melainkan ini lebih ke melindungi kekayaan.
19:09Kedua adalah mental untuk kebal terhadap komo dan ikut-ikutan, gitu ya.
19:13Jadi jangan membeli emas itu hanya karena melihat orang,
19:16tetangga, influencer, atau grup WhatsApp misalnya,
19:19yang sedang heboh membicarakannya.
19:20Yang ketiga adalah siap menerima kenyataan selisih harga atau spread.
19:25Nah ini adalah konsep yang memang harus dipahami juga sebelum beli emas.
19:28Karena ini shock terapi paling umum, gitu ya, bagi pembeli pemula, seperti itu.
19:32Oke, kalau secara psikologis,
19:35hal bias psikologis apa saja sih yang biasanya muncul ketika harga emas turun
19:41ataupun anjok seperti kondisi saat ini?
19:43Ya, jadi ada beberapa kacamata kuda atau bias psikologi istilahnya
19:48yang otomatis dipakai oleh otak kita saat pasar itu sedang panik
19:51saat emasnya turun.
19:54Satu adalah namanya bias kebaruan atau resensi bias.
19:57Jadi otak manusia itu cenderung meyakini bahwa
19:59apa yang terjadi baru-baru ini itu akan terus berlanjut, gitu.
20:02Jadi saat harga emas turun, investor merasa harga itu akan turun terus, gitu ya.
20:07Yang kedua adalah confirmation bias atau bias konfirmasi.
20:10Jadi saat panik, itu investor emas hanya akan mencari-cari berita buruk saja
20:14yang membenarkan rasa takutnya dan mengabaikan data positif, seperti itu.
20:19Oke, Mas Agia tadi kita sempat berbincang dengan penelpon Pak Raden,
20:24salah satunya yang melakukan investasi secara dollar cost averaging.
20:29Menurut Anda strategi apa yang perlu dilakukan untuk
20:31misalkan meminimalisasi kerugian dalam berinvestasi emas?
20:35Konsep mana yang lebih aman menurut Anda?
20:37Apakah seperti yang Pak Raden tadi lakukan, DCA, dollar cost averaging, atau all in?
20:42Ya, yang tadi dilakukan oleh Pak Raden itu sudah tepat, sebetulnya.
20:47Kenapa? Karena kita harus melihat sesuai instrumen yang strategi,
20:51itu sesuai instrumen, dan sesuai proyek resiko.
20:53Karena emas itu adalah instrumen untuk jangka menengah dan panjang,
20:57dollar cost averaging adalah metode yang paling tepat digunakan.
21:02Kenapa? Karena tadi kita menjadi zooming out,
21:06melihat emas itu bukan hanya sebagai harga keping-perkeping,
21:09atau beli saat naik, beli saat turung, tapi dari harga rata-rata, seperti itu.
21:14Nah, berbeda dengan kalau kita melihat instrumen saham, gitu.
21:17Kita all in ketika memang momentumnya itu ada,
21:20karena kan fluktuasinya lebih tinggi dibandingkan dengan emas.
21:23Jadi, strategi untuk all in itu lebih cenderung tepat untuk,
21:27misalnya, emas, sorry, untuk saham.
21:29Tapi kalau untuk emas, dengan instrumen yang pelindung kekayaan,
21:33sifatnya, jangka menang panjang, dollar cost averaging itu strategi yang tepat,
21:37dan juga untuk menjaga psikologis kita, sebetulnya, seperti itu.
21:42Oke, baik dollar cost averaging maupun all in,
21:45begitu tentunya ini memiliki keputusan dan juga strategi berbeda-beda.
21:49Bagaimana membedakan sebuah keputusan yang didasarkan pada analisis
21:52dengan keputusan yang didorong rasa takut?
21:56Ya, jadi ada hal yang fundamental berbeda, gitu ya.
21:59Jadi, yang pertama, kalau keputusan itu emosional, itu biasanya ada rasa takut, gitu ya.
22:03Itu sifatnya tergesa-gesa atau impulsif,
22:06itu disertai juga ada gejala fisiknya, biasanya.
22:09Misalnya, jantung berdebar saat melakukan keputusan tersebut, gitu ya.
22:12Karena fokusnya hanya untuk menyelamatkan diri hari ini, gitu ya.
22:15Dan sering dipicu juga rumor-rumor atau berita-berita yang sentasional, istilahnya.
22:20Tapi, kalau keputusannya itu analitis atau sifatnya rasional,
22:23itu bisa diambil dalam kondisi yang tenang.
22:26Jadi, fokusnya itu pada tujuan yang jangka panjang.
22:28Jadi, keputusan yang lebih rasional itu biasanya didasarkan pada strategi awal
22:32dan juga data historis.
22:34Melihat harga turun itu sebagai justru peluang, gitu ya.
22:37Bukan suatu impulsif menjual, seperti itu.
22:39Oke.
22:40Mas Agia, tadi Anda sempat bilang terkait dengan apabila merasa khawatir,
22:45kerap kali fokusnya adalah dengan informasi-informasi
22:48yang memang menambah rasa cemas dan juga rasa khawatir.
22:51Ini terkait dengan rasa cemas dan juga khawatir.
22:53Kecewa dengan penurunan emas, biasanya diperparah dengan paparan media sosial,
22:58yang membuat informasi soal sentimen-sentimen, yang membuat harga emas ini terus turun.
23:03Jika sudah demikian, sebetulnya apa yang perlu dilakukan?
23:05Apakah membatasi screen time atau seperti apa?
23:09Ya, satu betul, itu membatasi screen time, gitu ya.
23:12Kedua, kalau memang sulit untuk dilakukan,
23:14karena kan biasanya kita memang buka media sosial,
23:17sebetulnya tidak cari-cari info terkait emas, gitu ya.
23:19Tapi datang aja begitu ya, secara algoritmanya.
23:23Kita bisa fokus untuk following, misalnya kalau di media sosial,
23:27itu outlet-outlet news atau mungkin pakar-pakar yang memang membahas emas tersebut
23:34dari sisi rasional, gitu ya, dari sisi misalnya trend, historis, data.
23:37Jadi jangan sampai kita melihat hanya dari sentimen-sentimen negatif saja,
23:42tapi kita juga bisa memperkeluas wawasan kita,
23:46mempelajari lebih lanjut tentang makro, sifat-sifat makro dari emas yang mempengaruhi, gitu ya.
23:51Kemudian strategi-strategi.
23:52Kita juga bisa memperkeluas wawasan kita dengan juga following, gitu ya,
23:56beberapa media-media atau juga beberapa pakar yang memang membahas hal tersebut.
24:01Sehingga mengimbangi, gitu ya, arus-arus sentimen negatif kita dari media sosial
24:06dibarengi dengan aspek-aspek rasional yang memberikan kita edukasi juga
24:10terhadap strategi dan juga bagaimana kita melihat instrumen emas ini, seperti itu.
24:15Mas Agia, kita juga sempat tadi berbincang di segmen 1 terkait dengan rasa penyesalan dan juga greedy.
24:21Kalau bisa diantisipasi, bagaimana sih mengantisipasi rasa penyesalan dan rasa greedy?
24:26Karena kan kalau kita beli saat harga tinggi, biasanya datang penyesalan.
24:29Kenapa kok saya beli saat harganya mahal, begitu?
24:32Ketika berlawanan, sentara saat harganya rendah, kemudian naik beberapa waktu kemudian,
24:39muncul perasaan, kenapa ya nggak dari dulu nggak beli banyak?
24:42Ini bagaimana mengantisipasi perasaan greedy dan juga penyesalan ini?
24:46Ya, dalam psikologi itu sebenarnya simple.
24:49Kenapa? Karena akar dari semua masalah itu biasanya dari ekspektasi, gitu ya.
24:53Jadi biasanya yang harus kita set adalah ekspektasi kita.
24:56Seperti tadi ada beberapa contoh, bahwa kalau kita membeli instrumen emas,
25:00kita merasa sudah terlindungi saat ini.
25:03Ya, padahal kan yang kita tuai nanti itu ada di jangka panjangnya.
25:06Jadi ada juga ekspektasi bahwa kita bisa mengambil keuntungan secara cepat,
25:11walaupun secara instrumen itu kita butuhnya jangka panjang.
25:14Kedua, ekspektasi terkait keuntungan.
25:17Karena kan memang secara historis, tidak pernah emas itu yang betul-betul melonjak tinggi harganya,
25:23sehingga kita bisa mendapatkan spread yang tinggi, istilahnya.
25:27Atau saat kita jual itu jadi lebih tinggi, tidak.
25:29Jadi memang ekspektasi ini adalah hal yang paling dasar,
25:33hal paling simple yang perlu kita manage, istilahnya,
25:36sebelum kita membeli emas.
25:38Itu yang bisa kita antisipasi, karena penyesalan itu pasti akan ada,
25:41tetapi yang bisa diberikan adalah kadarnya,
25:43kadar penyesalan tersebut.
25:45Kalau kita sudah mengantisipasi, ekspektasi kita sudah sesuai, rendah,
25:50ketika ada penyesalan turun, oh tidak masalah,
25:52karena kita bisa punya ekspektasi bahwa ini akan gradual,
25:56akan jangka panjang, saya akan mendapatkan keuntungannya seperti itu.
26:00Jadi simpelnya adalah manage ekspektasi sebelum membeli emas, seperti itu.
26:05Oke, intinya kendalikan ekspektasi begitu apabila tidak ingin kecewa,
26:09karena setiap investasi memiliki risiko termasuk emas,
26:12bisa naik, bisa turun, walaupun memang secara historis sebelumnya stabil,
26:16tapi tidak menutup kemungkinan karena banyak hal dan juga faktor,
26:19termasuk kondisi geopolitik dan juga domestik,
26:21yang membuat harga emas ini volatilitasnya juga tinggi.
26:25Terima kasih psikolog konsumen Irfan Agia,
26:28atas penjelasannya bersama kami di Kompas Bisnis.
26:30Sehat selalu.
26:31Sehat selalu, terima kasih.
26:34Saudara, jangan kemana-mana karena Sapa Indonesia Pagi akan kembali untuk Anda.
26:39Dengan informasi susah jeda, hari ini penyidik kejagung akan memeriksa
26:43X Jampinsus Febri sebagai saksi untuk dugaan kasus tindak pidana pencucian uang.
Komentar