- 6 hari yang lalu
- #alikhamenei
- #pemakamankhamenei
- #iran
KOMPAS.TV - Penulis Asma Nadia menceritakan pengalamannya saat diundang ke Iran, pengamanan di lokasi, antusiasme masyarakat, hingga menyaksikan langsung prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen bersejarah yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Selama berada di Iran, Asma Nadia melihat pengamanan yang sangat ketat, namun seluruh rangkaian acara berlangsung tertib meskipun dihadiri jutaan masyarakat.
Simak cerita lengkap Asma Nadia dalam wawancara berikut ini.
Executive Produser: Theo Reza
Produser: Dian Septina
Content Creator: Aisha Amalia
Video Editor: Joshua Victor
#alikhamenei #pemakamankhamenei #iran
Baca Juga Mojtaba Khamenei Serukan Pembalasan atas Kematian Ali Khamenei: Ini yang DItuntut Bangsa Kita di https://www.kompas.tv/internasional/680113/mojtaba-khamenei-serukan-pembalasan-atas-kematian-ali-khamenei-ini-yang-dituntut-bangsa-kita
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/680450/kesaksian-wni-asma-nadia-hadiri-pemakaman-ali-khamenei-di-iran-zoomcast
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen bersejarah yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Selama berada di Iran, Asma Nadia melihat pengamanan yang sangat ketat, namun seluruh rangkaian acara berlangsung tertib meskipun dihadiri jutaan masyarakat.
Simak cerita lengkap Asma Nadia dalam wawancara berikut ini.
Executive Produser: Theo Reza
Produser: Dian Septina
Content Creator: Aisha Amalia
Video Editor: Joshua Victor
#alikhamenei #pemakamankhamenei #iran
Baca Juga Mojtaba Khamenei Serukan Pembalasan atas Kematian Ali Khamenei: Ini yang DItuntut Bangsa Kita di https://www.kompas.tv/internasional/680113/mojtaba-khamenei-serukan-pembalasan-atas-kematian-ali-khamenei-ini-yang-dituntut-bangsa-kita
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/680450/kesaksian-wni-asma-nadia-hadiri-pemakaman-ali-khamenei-di-iran-zoomcast
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:06Wafatnya yang mulia Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya kehilangan besar bagi bangsa Iran,
00:14tetapi juga telah mengguncang hati banyak orang yang mencintai keadilan,
00:20kedaulatan bangsa, dan kemanusiaan di seluruh penjuru dunia.
00:25Bagi saya pribadi, sosok Ayatollah Ali Khamenei bukanlah sekadar pemimpin politik atau tokoh agama
00:34dari bangsa Iran yang dikenal sangat patriotik dan tidak pernah mengenal kata menyerah.
00:42Pemimpin itu kan cuma dua, yang ketika dia hidup kita nangis, atau ketika dia pergi kita nangis.
00:49Bahwa beliau syahid itu menjadi kehilangan yang luar biasa besar bagi masyarakat, yes.
00:57Tapi bahwa itu melemahkan masyarakat Iran sama sekali juga.
01:00Lebih dari empat bulan setelah tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei,
01:05pemakaman kenegaraan digelar secara tertutup di kota kelahiran Khamenei,
01:09masyad yang terletak di bagian timur laut Iran.
01:11Sebelum prosesi pemakaman tersebut, jutaan warga Iran telah membandati jalan-jalan di Teheran
01:16untuk mengantarkan jenazah dalam iring-iringan duka.
01:18Di tengah momen bersejarah itu, penulis Asma Nadia berada di Teheran
01:23dan menyaksikan langsung suasana kota, antusiasme warga,
01:26hingga rangkai penghormatan terakhir kepada Ayatollah Ali Khamenei.
01:29Lalu seperti apa pengalamannya?
01:31Kita akan berbincang langsung bersama penulis Asma Nadia.
01:35Halo, selamat malam Ibu Asma Nadia.
01:38Selamat malam Mbak.
01:40Ibu bagaimana kabarnya Bu?
01:42Alhamdulillah baik, masih jet lag, jadi tadi pagi masih belum bisa tidur.
01:46Oh iya, namanya dari perjalanan jauh ya Bu ya.
01:50Bu, bukan dari Iran Ibu.
01:53Bisakah Ibu ceritakan bagaimana Bu Asma bisa berada di Iran
01:56dan menyaksikan langsung prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Bu?
01:59Iya, jadi sebelumnya itu beberapa waktu Asma itu memang dihubungin sama pihak
02:06awalnya itu asosiasi radio dan televisi Iran untuk datang ke Iran gitu.
02:10Tapi awalnya rencananya untuk turisme, jadi Asma sudah siapin tim gitu kan untuk itu gitu.
02:18Ternyata kemudian datang undangan yang ini gitu.
02:21Mereka melihat ya ingin melibatkan Asma dan mengundang Asma.
02:27Jadi dari Indonesia itu ada Asma, ada Mbak Andini ya yang host Metro dulu.
02:34Kemudian ada dari media, dari Kompas juga ada gitu.
02:40Jadi ada beberapa orang, ada humanitarian juga yang diundang gitu.
02:44Dan pas sampai di sana ternyata ya Allah mereka tuh punya markas sendiri gitu untuk media.
02:49Dan itu ada sekitar lebih dari 60 negara yang sudah beberapa hari mereka di situ gitu.
02:55Jadi ada dapurnya gitu ya, ada tempat buat mereka sarapan gitu.
02:58Tapi Masya Allah sih memang, saya nggak yakin ya.
03:03Saya merasa bersyukur karena bisa menyaksikan.
03:06Ini kan kayak sekali seumur hidup gitu.
03:08Dan saya ketika melihat besarnya, siapa ya gitu yang bisa menandingi gitu.
03:13Karena Masya Allah gitu luar biasa.
03:15Kalau misalnya kesan pertama Ibu yang dirasakan saat tiba-tiba di lokasi pemakaman, bagaimana Ibu?
03:21Kita pertama kali datang itu sebetulnya awalnya untuk itu dulu Mbak, untuk ada konferensi gitu terkait beliau.
03:28Dan ada pembicara juga ya, Ustadz Pemuka Agama dari Indonesia.
03:33Ada sekitar 600 delegasi tuh yang kita berkumpul di situ dulu gitu.
03:37Baru besoknya harusnya kita kesana, tapi saya waktu itu insis malamnya.
03:41Saya mau malamnya itu juga gitu.
03:43Karena menurut saya besoknya tuh pasti udah rame gitu ya, udah nggak bisa dapet gambar.
03:47Dan saya pengen dapet gambar dua gitu, pengen dapet suasana dua gitu.
03:50Ketika siang dan ketika malam gitu.
03:52Dan mumpung malam tuh sepi gitu.
03:53Jadi saya agak insis sih ke Panitia gitu.
03:56Tapi akhirnya mereka membawa kita gitu.
03:58Dan untuk masuknya tuh berlapis-lapis sih Mbak gitu.
04:01Jadi kita tuh dikasih kartu ini ya, kartu dari mereka.
04:04Jadi yang ada foto kita, ada nama kita gitu.
04:07Dan itu pun sebetulnya ada levelnya gitu.
04:09Nah sebetulnya tuh yang bisa masuk sampai ke titik yang atas itu ya.
04:12Yang bisa melihat meskipun dari jauh itu.
04:14Itu kalau barcode-nya tuh biru, apa hijau gitu.
04:18Barcode kita tuh merah.
04:19Jadi ada dari Panitia tuh bener-bener nego-nego biar kita tuh bisa masuk satu lapis.
04:23Jadi ada sekitar mungkin empat kali atau lima kali gitu Mbak.
04:26Kita memperlihatkan itu untuk masuk gitu.
04:28Jadi keamanannya memang dijaga ketat banget.
04:31Kalau boleh diceritakan tadi barcode biru dan merah itu bedanya apa Bu?
04:35Barcode hijau.
04:36Kayaknya hijau itu untuk yang bisa sampai lebih leluasa gitu ya.
04:41Mungkin tingkatannya gitu.
04:42Sementara mungkin yang merah itu media biasa gitu.
04:45Tapi dari tim kami, Alhamdulillah bisa meyakinkan gitu.
04:48Sampai akhirnya bisa lolos juga ke sana gitu.
04:50Dan ketika di sana itu yang saya lihat ya waktu itu ya.
04:55Saya begitu melihat ke bawah tuh.
04:59Masyarakat tuh ramai sekali gitu.
05:01Ramai sekali gitu.
05:02Dan terasa ada ayat Quran diputar gitu.
05:05Terasa gitu nuansa kehilangannya.
05:07Karena kalau dilihat kan gini.
05:08Itu kan momen udah lewat dari 125 hari ya.
05:14Ayatullah kami ini wafat gitu.
05:17Tapi kesedihan, kehilangan itu masih terus berlanjut.
05:21Tapi yang menarik adalah Mbak ketika kita tiba di bandara gitu.
05:24Bukan suasana berkabung yang menyambut kita gitu.
05:27Suasana perlawanan, resistance gitu.
05:29Jadi ada kayak apa?
05:31We must rise kayak gitu gitu ya.
05:33Kalimat-kalimat yang memacu semangat gitu.
05:37Jadi memang bahwa beliau syahid itu menjadi kehilangan yang luar biasa besar bagi masyarakat.
05:44Yes gitu.
05:45Tapi bahwa itu melemahkan masyarakat Iran sama sekali tidak.
05:49Berarti kalau bisa diceritakan suasananya itu selain suasana duka pemakaman.
05:54Tapi juga ada suasana perlawanan ya Bu.
05:57Oh suasana perlawanan.
05:58Jadi jelaskan lebih detail lagi Bu bagaimana suasananya di sana.
06:01Kalau ketika mereka yang dihadapan jenazah.
06:03Jadi hari itu kan saya lihat.
06:04Nah besoknya itu kita yang sholat jenazahnya Mbak gitu.
06:07Jadi berkumpul lagi.
06:08Masyarakat jauh lebih banyak lagi.
06:10Bahkan ada yang mengatakan dari sumber yang insya Allah bisa dipercaya gitu ya.
06:15Anak Pak Duta Besar Iran untuk Indonesia.
06:19Yang waktu itu sempat kita ngobrol sama Asma.
06:21Dia bilang masyarakat Teheran itu kan 20 juta gitu.
06:24Nah pada hari itu sebelum itu.
06:26Itu ada sekitar 35 juta orang yang datang.
06:31Jadi memang terutama ketika arak-arakan gitu.
06:34Jadi kenapa harus ditunda.
06:36Kenapa harus cari tanggal yang tepat ya.
06:37Selain situasi perang dan sebagainya.
06:39Karena memang mereka menyiapkan sekali gitu.
06:43Supaya ketika para pendatang itu memenuhi Teheran gitu.
06:46Itu mereka siap gitu.
06:48Dengan posko-posko dan lain-lain gitu.
06:50Jadi yang terasa ketika di itu ya suasana sedihnya.
06:54Suasana.
06:55Tapi yang menarik buat saya tuh gini.
06:57Kak saya bisa mengerti kalau misalnya ibu-ibu dewasa.
07:00Bapak-bapak dewasa yang bercucuran air mata gitu ya.
07:03Ini anak belasan tahun mbak.
07:04Yang mungkin umurnya 11 tahun gitu.
07:0712 tahun gitu.
07:08Itu bisa nangis sampai ngapus abayaknya gitu.
07:10Waktu sholat jenazah gitu.
07:13Terus melihat tidak cuma itu.
07:15Kemudian melihat ketika arak-arakan.
07:20Jadi kan datang gitu ya.
07:22Asma lihat malamnya.
07:23Besoknya itu sudah sholat jenazah gitu kan.
07:26Besoknya lagi tuh kan arak-arakan ya gitu.
07:28Nah ketika arak-arakan itu.
07:30Kita bisa melihat kayak semua orang tuh tumpah.
07:33Dan seperti gak ingin tidak mengambil bagian gitu.
07:36Untuk memberikan penghormatan terakhir mereka gitu.
07:39Dan di antara mereka tuh ada istilahnya gini.
07:41Tua, muda, kemudian yang laki-laki, yang perempuan.
07:46Ada yang bawa bayi dengan troli.
07:48Ada bapak-bapak yang udah sepuh gitu ya.
07:51Dorong istrinya yang juga di kursi roda gitu.
07:53Saya ketemu nenek-nenek tuh banyak banget.
07:55Yang mereka tuh wah kelihatan banget.
07:57Walaupun mereka susah jalan.
07:58Tapi mereka berusaha gitu.
07:59Jadi bagian itu.
08:00Dan termasuk mereka yang sebetulnya kelihatan sakit banget gitu.
08:04Yang mungkin sakit kanker atau apa.
08:05Yang benar-benar kurus banget gitu.
08:07Tapi tetap di kursi roda.
08:08Ikut menjadi bagian gitu.
08:10Itu yang buat saya luar biasa.
08:11Dan jalan itu kita sampai satu sisi tuh penuh gitu.
08:14Dan itu bukan cuma satu sisi itu gitu.
08:15Tapi ada beberapa sisi jalan yang itu semuanya tuh penuh gitu.
08:18Mau dilihat dari manapun gitu.
08:20Itu yang luar biasa gitu.
08:21Dan gak ada kekacauan gitu ya.
08:23Gak ada chaos.
08:24Itu buat saya amazing sih.
08:26Berarti kita bisa melihat kedukanya tidak hanya dirasakan oleh orang-orang tua.
08:31Ataupun orang dewasa.
08:32Tapi juga sampai anak-anak ya Ibu.
08:34Selain itu apa lagi yang membekas diingatan Ibu saat prosesi pengelakaman?
08:38Atau suasana di sana?
08:40Iya yang membekas adalah yang tadi itu ya antara lain ya.
08:43Bahwa itu kan orang berkumpul banyak sekali gitu.
08:45Tapi gak ada misalnya yang meninggal gitu.
08:48Gak ada yang tewas terinjak-injak gitu.
08:50Gak ada yang misalnya kecopetan gitu.
08:56Gak ada pelecehan gitu.
08:57Bahkan sekedar suara siulan gitu ya.
08:59Itu tuh gak ada gitu.
09:00Jadi benar-benar semua tuh teratur banget gitu.
09:02Dan dari sebelum hari yang diarak-arakan yang tumpah di jalan puluhan juta orang itu.
09:07Itu dari pemerintah tuh sudah menyiapkan tuh.
09:10Dari mulai mereka datang ya.
09:12Mama Dati.
09:15Jenasah kan awalnya disemayamkan di kalau di Teheran itu di tempat namanya Mushola ya mbak.
09:20Bukan Mushola tapi namanya Mushola.
09:21Itu tuh tempat eksibisi yang bisa menampung 4 atau 5 juta orang.
09:25Kalau misalnya ada pameran segala macem.
09:26Salat Idul Fitri, Salat Idul Arha juga kadang-kadang disitu gitu.
09:30Nah itu pemerintah sudah menyiapkan water spray.
09:33Jadi suarca kan panas banget ya gitu.
09:34Tapi water spraynya itu benar-benar merata gitu.
09:37Benar-benar dipikirkan di berbagai titik.
09:38Dan ternyata itu juga ditemukan di jalan-jalan gitu.
09:41Jadi di jalan-jalan memastikan.
09:42Bahkan di jalan itu ada kayak mobil yang memang mereka tuh nyemprot-nyemprotin kita gitu ya.
09:50Nyemprot-nyemprotin.
09:50Terus ada keluarga yang kepanasan mendekat disitu.
09:53Minta disemprot gitu.
09:53Jadi suasana itu kayak semua orang berusaha meringankan.
09:57Dan kalau kita berpikir, wah harus bawa minum, harus ini.
10:00Enggak juga gitu.
10:01Kenapa?
10:01Karena setiap kayak jalan berapa, jalan sebentar itu ada yang nawar yang kita minum gitu.
10:06Jalan sebentar ada yang nawar yang minum lagi gitu.
10:08Jadi kayak semua orang berusaha meringankan.
10:10Dan gak cuma dari pemerintah gitu.
10:11Jadi ini yang terlihat ya hospitality ya.
10:14Terlihat kemurahan rakyat Iran gitu dalam hari ini menyambut pendatang gitu.
10:19Dan tidak hanya itu.
10:21Kemudian teman ada yang bilang.
10:22Nanti ini jam makan siang ini mereka akan bagi-bagi makanan.
10:24Dan itu benar gitu.
10:25Mereka bagi-bagi makanan.
10:26Jadi kayak sholat.
10:27Saya pikir kan ini pada sholat ya di bahu jalan gitu.
10:30Mereka wudunya di mana gitu.
10:31Eh ternyata wudunya di sebelas kanan ini udah ada gitu.
10:34Tempat buat apa keran-keran wudu yang banyak gitu ya.
10:37Jadi memang dengan cermat diatur.
10:41Memang dengan cermat direncanakan.
10:42Makanya mungkin ya perlu waktu sampai selama itu gitu ya.
10:45Untuk itu selain memang kondisi perang dan sebagainya gitu.
10:48Itu baru kita bicara Teheran ya.
10:50Belum bicara kom, belum bicara masyarakat.
10:52Berarti kita bisa lihat kalau misalnya situasi di tengah keramaian itu tetap dijamin ketertiban dan juga kondusifnya ya Bu ya.
11:00Iya.
11:01Jadi kalau kita lihat ya misalnya.
11:03Ini kan menunjukkan ya.
11:04Seperti apa pemimpin yang pergi gitu.
11:07Pemimpin itu kan cuma dua.
11:08Yang ketika dia hidup kita nangis gitu kan.
11:12Atau ketika dia pergi kita nangis.
11:15Kalau yang hidup ketika dia bikin kita nangis itu karena menderita, bikin ketakutan gitu kan.
11:20Tapi kan ini yang begitu gak ada tuh kayak semua kehilangan gitu.
11:23Saya sempat bikin beberapa interview gitu ya.
11:26Saya tanya gitu kenapa sih apa yang menyebabkan beliau ini amat sangat dicintai gitu.
11:31Dan jawabannya beragam gitu.
11:32Dari mulai ada yang bilang karisma, ada yang bilang beliau itu sangat stay true gitu.
11:38Dengan dirinya sendiri.
11:39Ada yang bilang ketika beliau berada di mana.
11:42Terus kalau ada anak-anak kecil yang datang.
11:43Terus yang mengamankan itu mau ngebawa anak-anak itu pergi.
11:47Dia bilang gak, jangan-jangan biarkan di sini.
11:49Makanya kita lihat banyak foto-fotonya atau lukisan-lukisan beliau sama anak-anak gitu.
11:53Karena memang mereka seperti itu gitu.
11:55Dan yang menarik juga menurut saya bagaimana perempuan-perempuan Iran.
11:59Asma kan Alhamdulillah Allah izinkan ke 83 negara ya Mbak, 700 kota.
12:03Tapi saya melihat salah satu sosok perempuan paling kuat selain Palestina, itu Iran.
12:11Perempuan-perempuan itu gak ada hesitated gitu loh Mbak.
12:13Jadi gak ada keraguan untuk berbicara, gak ada keraguan untuk menyampaikan pendapat gitu loh.
12:21Dan mereka ternyata memang ada salah satunya, apa ya, mereka itu 60% dari perempuan Iran itu pendidikannya master atau
12:30PhD.
12:3160%.
12:32Dan ketika di sana, semua diwawancara juga sama channel yang apa, channel 3 ya, TV terbaik mereka.
12:40Itu ketika diwawancara juga, saya ngelihat sendiri gitu.
12:43Ini ada yang bawa anak, itu sampai jam 2 malam Mbak gitu.
12:45Bawa anak, kemudian anaknya itu umur 6 tahun gitu kan, mau salaman aja Mbak, kita gak mau.
12:52Karena dia dari umur 3 tahun itu udah dididik, gak salaman gitu sama cewek gitu.
12:56Tapi yang saya lihat ini anak dibawa ke kantor, iya.
12:58Terus yang bantu jaga, kita semua sama-sama.
13:01Jadi itu kayak sesuatu yang biasa banget gitu.
13:04Sesuatu yang memang sistemnya udah terbentuk, rasa pengertian support women supporting women sudah berjalan gitu ya.
13:11Bahkan kalau dilihat dari situ kan berarti suami mengizinkan isinya bekerja gitu kan.
13:15Pihak pertua gak ada yang lewel gitu kan, anaknya dibawa bekerja ayo gitu.
13:19Dan situasi semua itu mendukung dan berusaha meringankan gitu.
13:22Dan itu gak cuma terjadi di televisi, tapi di tempat-tempat lain gitu, di perkantoran.
13:26Jadi ini yang buat saya, aduh luar biasa ya gitu.
13:29Dan ternyata memang salah satu ya, kalau Asma boleh kutip ya, salah satu yang pernah beliau sampaikan.
13:36Jadi beliau ini memang memperhatikan sekali terkait hak-hak perempuan, hak-hak perempuan dan identitas mereka gitu.
13:45Jadi salah satunya beliau pernah bilang, women can play an active role in society, business, politics, and every spare of
13:53life.
13:53Jadi perempuan tuh boleh mereka berekspresi di mana aja, mau di politik, mau di bisnis, mau di semua bagian dari
14:01kehidupan itu silahkan gitu.
14:02Dan beliau memastikan, ini juga mungkin apa ya, yang kita lihat kenapa ketika kejadian itu gitu, ketika ramai sekalipuluhan juta
14:11sekalipun gak ada yang melecehkan perempuan.
14:13Saya tuh naik, ini loh mbak, ngelompat jembatan supaya bisa naik ke atas jembatan penyeberangan untuk dapat gambar.
14:19Dan itu jembatan itu ditutup, karena supaya semua orang tuh gak bisa masuk kan gitu.
14:23Jadi saya harus lompat gitu.
14:25Tapi tuh gak ada yang cie-cie, gak ada yang gimana-gimana, gak ada yang ngelaba, gak ada yang berusaha
14:29megang atau, enggak gitu.
14:31Mereka tuh nunggu dan memberikan saran, kaki kamu kesini, kaki kamu kesini gitu.
14:35Baru ketika saya minta, boleh gak saya pakai punggung kamu untuk saya injak gitu ya, baru mereka ini-ini gitu.
14:40Jadi mereka sangat-sangat menghormati perempuan.
14:42Antara lain, beliau pernah bilang, a woman is like a flower.
14:45Perempuan itu seperti bunga gitu.
14:47Dan bunga itu harus, bunga itu indah, dijaga keindahannya, dilindungi, dihormati gitu.
14:52Dan beliau sangat berseberangan gitu dengan Barat yang menurut beliau itu membuat apa ya, posisi perempuan itu seperti barang gitu.
15:01Seperti komoditi gitu, yang tidak punya nilai, dimanfaatkan sesuka hati gitu.
15:07Jadi ini yang kemudian menarik adalah gini, bahwa beliau punya banyak pemahaman ya, punya banyak pemahaman yang kemudian beliau sampaikan.
15:15Tapi kemudian itu sampai dan diterima gitu loh.
15:19Dan itu berjalan, bahkan ketika beliau gak ada, itu masih dipegang gitu.
15:22Termasuk tadi, hospitality terhadap orang asing.
15:26Jadi, apa yang terjadi di Iran itu juga sebuah gambaran dari kepemimpinan Ayatullah Ali Khamini ya, Bu ya.
15:34Tergambar dari bagaimana dia, omor rakyatnya, mengetreat warga ataupun orang datang ke negaranya atau sesamanya kepada anak, kepada perempuan.
15:44Dan itu dibuktikan oleh hasil kepemimpinan dari Ayatullah Ali Khamini.
15:49Nah, kalau kita lihat ini kan jalanan, jalan prosesi pemahaman itu sangat panjang, Bu.
15:54Kita sama tahu, yang dari ibu saksikan, dari saat ibu sampai di Iran, sampai nanti pulang lagi,
16:00mungkin ibu bisa jelaskan lebih rinci apa saja yang sudah ibu saksikan selama prosesi pemahaman Ayatullah Ali Khamini.
16:07Kebetulan saya tidak ikut ke kom.
16:09Jadi kan jenazah itu setelah diarak ya, setelah diarakannya, dibawa ke kom gitu kan.
16:14Nah, ketika di kom, kemudian baru di masyad gitu.
16:18Nah, kami ini perjalanannya nggak sampai, para wartawan sampai ke kom, mereka sampai ke kom gitu.
16:23Dan dari cerita mereka itu juga dari jam, bayangkan gini, mereka rombongan wartawan itu nyampe sekitar jam tigaan gitu ya,
16:31jam tiga, jam empat, itu dari jam mbak dan maghrib itu udah penuh mbak.
16:35Udah nggak bisa sama sekali gitu.
16:38Dan keramaiannya pecah, pecah banget juga di kom gitu, begitu pun di masyad ya.
16:43Dan yang ya, saya tuh sebetulnya kemarin sempat berpikir kan, aduh pengen banget ya kalau misalnya bisa ikut sampai ke
16:50masyad juga gitu kan.
16:52Tapi situasinya memang udah nggak memungkinkan, kemudian diperlukan izin yang lebih,
16:57sehingga para media dari Indonesia juga kita waktu itu nggak sampai ke masyad gitu.
17:01Kecuali media jurnalis yang memang udah di sana ya, memang orang Indonesia yang di sana,
17:05nah itu masih bisa pergi, tapi kalau yang lain mereka, kita nggak dapat izinnya gitu.
17:08Dan keamanan juga terkait kami selama di sana, itu bener-bener panitia itu tidak mengizinkan kami kemana-mana mbak.
17:14Jadi kita nggak boleh jalan-jalan sendirian.
17:16Saya kan sebelumnya pernah ke Iran kan gitu, dan situasi kan berbeda karena Teheran International Book Fair kan.
17:21Kalau ini tuh bener-bener mereka kawal, tolong kalau mau kemana-mana bilang, tolong kalau kemana-mana bilang.
17:25Saya bilang, ketika datang ke sana tuh kita nggak ngeliat ini negara perang gitu loh mbak.
17:29Suasanya tuh kayak biasa aja gitu, kayak aman-aman aja gitu, ini perangnya di mana gitu.
17:35Padahal ternyata Teheran kan cukup ya, belakangan baru kami datang ke tempat yang,
17:38wah jejak perangnya, istilahnya kriminalitas Amerikanya tuh luar biasa gitu.
17:42Pemukiman sipil yang mereka serang gitu.
17:44Tapi kalau kita ngeliat awal-awal tuh kayak biasa gitu, kayak kehidupan berjalan normal dan sebagainya gitu.
17:49Jadi memang situasinya cuma buat mereka tuh penting banget kita tetap sama rombongan gitu.
17:55Karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi, kalau tiba-tiba ada apa-apa takutnya teman-teman panik gitu.
18:02Dan air mata yang jatuh mbak, bukan cuma air mata orang Iran.
18:06Ya tapi air mata dari media aja nangis ya, media yang laki-laki, itu nangis.
18:12Jadi saya sempat ngambil gambar dari jembatan ya, ketika saya ngambil gambar.
18:16Ketika saya zoom out gitu, saya baru nge-bo ada wartawan cowok, bule gitu sebelah kiri.
18:23Itu nangis itu sampai yang sampai gitu gitu.
18:26Mungkin terharu juga dengan situasi, mungkin mengenal juga kebaikannya beliau gitu.
18:33Baik, berarti kalau misalnya tadi saya dengar di cerita ibu-ibu, hanya sampai teheran ya ibu ya?
18:37Saya hanya sampai teheran.
18:38Kayaknya sampai melihat arak-arakan.
18:40Melihat arak-arakan, dan setelah itu kita mengikutinya tuh ya ada wawancara-wawancara, kemudian kita mengikuti dari berita.
18:50Tapi teman-teman media setahu saya mereka sampai, mereka sampai kekom.
18:53Meskipun tidak sampai ke masyarakat, kalau yang dari Indonesia ya, gitu dari Indonesia.
18:57Karena juga pengamanannya sangat ketat ya, bu.
19:00Pengamanannya sangat ketat, dan waktu itu juga beliau sampaikan sih, kalau mbak Asma juga,
19:03saya tadi kan bersikeras banget ya, pengen kekomnya, gitu.
19:06Kalau mbak Asma bersikeras juga, itu juga nggak akan bisa dekat, gitu.
19:10Nggak akan bisa melihat juga, nggak akan bisa motret juga, gitu.
19:14Saya bilang apa? Iya, iya.
19:15Karena mereka tuh dari maghrib udah penuh, dikasih tuh gambar ke saya, gitu kan, video kan, gitu.
19:19Jadi ya situasinya lebih kurang sama seperti ketika di Teheran, gitu.
19:25Nah, yang menarik juga bu, saat arak-arakan yang tumpah di Teheran,
19:29itu banyak sekali masyarakat yang membawa bendera Iran dan juga bendera merah.
19:33Nah, apa sih sebenarnya, bu, makna simbol-simbol itu menurut yang Anda lihat langsung di lokasi?
19:39Ya, itu bukan cuma membawa itu, mbak.
19:42Tapi jadi rata-rata orang itu mendekat foto, ya kan, Ali Kamini sama bawa bendera, gitu kan.
19:49Dan kita dibagi-bagi tuh benderanya, gitu.
19:50Dan saya sempat tanya, ini bendera artinya apa, gitu.
19:53Terus mereka bilang, macam-macam, mbak.
19:54Jadi ada yang kita harus bangkit, ya.
19:57Mas Rais itu ada, gitu.
19:58Ada yang revenge, ya.
20:01Ada yang darah harus dibalas darah, gitu.
20:04Ada yang seperti itu, gitu.
20:05Jadi, kalimat-kalimat yang membangun semangat dan motivasi, gitu.
20:09Tapi itu juga menunjukkan bahwa masyarakat Iran tidak lemah dengan kedukaan ini, gitu.
20:14Tapi mereka malah menjadi lebih kuat, mereka malah menjadi lebih bersatu, gitu.
20:17Yang saya aja cengeng, mbak, gitu.
20:19Di sana tuh bu Oni melukin ibu-ibu.
20:21Satu ibu-ibu saya peluk, satu ibu-ibu saya bilang, makasih ya, makasih ya, makasih ya, gitu.
20:25Terutama kecengengan asma tuh, ya, maksudnya di antara semua negara saat ini kan yang sejak awal membela Palestina,
20:33semenjak 7 Oktober itu, itu kan Iran, gitu.
20:35Dan di luar segala macem-segala macem, saya sempat tanya sama Pak Rayan.
20:40Rayan ini pimpinan dari Friends of Palestine untuk Indonesia.
20:45Jadi beliau orang Palestina, bukan orang Iran, gitu.
20:47Saya tanya, negara mana yang sejak awal Tufanul Akso dari tanggal 7 Oktober itu hadir buat Palestina?
20:54Dia bilang, Iran.
20:55Dan itu sama sekali nggak ada urusan ideologi, bener-bener mereka ngebantu, gitu.
21:00Sebisanya mereka.
21:02Baik, bu.
21:03Harunya kerasa sampai sini, bu.
21:05Kalau misalnya kita, saya meminta ibu menggambarkan sosok Ayatullah Ali Khamenei,
21:10walaupun tidak kenal langsung, ya, bu, dalam tiga kata apa yang akan ibu pilih?
21:14Tiga kata tuh susah, ya, mbak.
21:16Tapi saya ingin coba, pertama, bukan sebelum kesitu ya,
21:19saya pernah diundang waktu ke Teheran International Book Fair itu.
21:22Jadi teman yang penerbit Iran itu membawa saya ke Bud Ali Khamenei.
21:27Di situ saya tahu, bom, beliau ternyata sangat gila membaca.
21:30Jadi sangat suka membaca.
21:31Dan cerama-cerama beliau kemudian dibukukan, dan itu tentang banyak hal.
21:35Termasuk tentang musik, banyak tentang perempuan, banyak tentang remaja.
21:38Jadi banyak hal yang menjadi perhatian beliau.
21:40Kalau harus menggambarkan dengan tiga kata, saya kira saya akan menggambarkan beliau itu kekinian.
21:44Itu yang pertama.
21:45Kekinian dalam arti ketika banyak yang salah paham dengan misalnya,
21:53wah, di sana tuh syiah tuh begini, menghina Aisyah, dan sebagainya ya.
21:57Ternyata beliau itu tahun 2010 itu mengeluarkan fatwa.
22:01Mengeluarkan fatwa bahwa melarang rakyatnya untuk menghina Aisyah, menghina Abu Bakar, menghina Umar, menghina sahabat-sahabat Rasul.
22:09Itu dilarang. Itu fatwa resmi tahun 2010.
22:12Itu kan menunjukkan beliau update ya dengan situasi gitu ya.
22:15Oh sekarang situasinya seperti ini, harusnya kita seperti ini.
22:17Kemudian bagaimana terkait perempuan juga beliau mengatakan,
22:20ini saya dengar langsung dari produser TV3, yang beliau tuh PhD-nya tentang Ali Kamini.
22:28Dan beliau bilang, salah satunya adalah beliau bilang,
22:32Aisyah itu bilang, jangan poligami, karena poligami itu menyakiti perempuan.
22:36Wah di timeline saya, di Instagram Aswananda, dia bilang,
22:40iya gak poligami, tapi mut'ah gitu kan.
22:42Enggak, dia juga bilang, jangan mut'ah.
22:43Jangan menyakiti hati perempuan, karena hati perempuan pasti sakit.
22:46Nah itu kan ada hal-hal yang ini ya.
22:49Kemudian termasuk kekinian juga menurut saya ketika beliau memperhatikan terhadap bagaimana perempuan harus berperan.
22:56Ya gak cuma laki-laki yang berperan gitu menurut saya itu bagian dari itu.
22:59Jadi kalau satu kata, itu kekinian.
23:00Termasuk juga isu Palestina dan di mana Iran harus berdiri gitu ya,
23:04itu juga menurut saya bagian dari cara dia membaca terhadap hal-hal isu-isu kekinian.
23:08Yang kedua, menurut saya beliau itu melihat kebermanfaatan.
23:12Kebermanfaatan ini kita bisa lihat salah satunya mungkin kalau buat saya pribadi,
23:16saya melihat interaksi beliau gitu ya dengan rakyatnya gitu.
23:20Kita pernah lihat ada anak kecil yang udah pengen syahid aja gitu.
23:23Tapi beliau bilang, enggak, kamu sekolah dulu gitu.
23:26Kamu sekolah yang tinggi dulu, cari kerja dulu, pintar dulu gitu kan ya.
23:30Nanti kalau kamu ini kamu bisa syahid gitu.
23:32Jadi asres kebermanfaatannya itu jelas gitu.
23:34Dan setiap orang didorong untuk menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat gitu.
23:40Pribadi-pribadi yang bergerak.
23:41Ini juga terbukti mbak, ketika pecah perang itu saya tuh gak bisa tidur
23:47karena memikirkan karena ada beberapa teman-teman dari penerbit ya.
23:50Kalau kenalan Asma itu penerbit, kalau enggak dari penulis,
23:52saya mikirin mereka gitu, gimana mereka.
23:54Tapi yang terjadi adalah, mereka malah nanya saya,
23:56Asma mana naskah buku anak yang katanya mau dikasih lihat ke kami.
23:59Asma ini saya mesti minta endorsement ke siapa ya, pihak Indonesia gitu.
24:03Jadi kehidupan, usaha, segala macam itu bergerak gitu.
24:07Masing-masing tuh gak jadi diam, terpaku, bertopang tangan, stres, depresi, enggak gitu.
24:11Masing-masing tuh tetap berusaha menggali potensi dirinya dan berusaha bermanfaat.
24:14Dan menurut saya kebermanfaatan ya.
24:16Termasuk juga ya tadi gitu, bahwa Iran memilih, ya harus gitu.
24:20Harus bermanfaat bagi Libanon, bagi Palestina gitu, dan lain-lain.
24:25Yang ketiga mungkin yang bisa saya katakan adalah kestaraan.
24:29Kestaraan itu yang membuat semua orang kayak mendapatkan ini yang sama gitu, kesempatan yang sama.
24:35Perempuan mendapatkan kesempatan yang sama.
24:38Perempuan mendapatkan kesempatan untuk sekolah, tinggi-tinggi gitu.
24:42Saya punya teman di sana yang kemarin yang awalnya mengundang, namanya Zahra.
24:46Saya pikir dia sudah S2, dia bilang enggak saya baru S1, karena saya menikah dulu.
24:50Tapi kan itu artinya setelah dia menikah, suaminya mengizinkan gitu dia.
24:54Saya jujur yang saya enggak kenal beliau, tapi saya haru banget gitu.
24:58Atas nama perempuan seluruh dunia gitu, pengen mengucapkan terima kasih gitu kepada beliau gitu.
25:04Dan juga kita sempat ya ketemu juga sama Profesor Marandi waktu itu.
25:11Dan sempat juga pertanyaan-pertanyaan kita ajukan nih, gimana situasinya, seberapa siap Iran dan sebagainya gitu.
25:17Tapi yang menarik adalah bagaimana kemudian Iran juga berusaha merangkul gitu.
25:22Dan kalau kita lihat ya mbak, termasuk kekinian itu tadi, kalau asma ini terlewat,
25:26bagian dari kekinian itu kita lihat ya bagaimana video-video Lego yang beredar gitu kan.
25:31Bagaimana Iran memenangkan narasi gitu.
25:34Terlepas perang, belum sepenuhnya berakhir, tapi narasi itu berpihak ke Iran.
25:38Bagaimana dia melihat, dia bisa mengangkat tuh.
25:40Bahkan isu tentara TNI yang kena aja di Libanon gitu kan, sama dia dibales dendam pakai rudalnya dia gitu.
25:46Itu yang menurut saya luar biasa gitu.
25:48Tapi ada satu kalimat beliau ya, selain bahwa Palestina bukan hanya persoalan sebuah negeri gitu ya.
25:54Palestina adalah masalah ya, adalah persoalan umat Islam ya.
25:58Beliau mengatakan satu hal yang menurut saya, ini seharusnya membangkitkan semangat kita sih sebagai satu bangsa ya.
26:03Beliau bilang, jika suatu bangsa percaya pada dirinya sendiri, tidak ada kekuatan yang dapat mengalahkan.
26:08Dari sini kita bisa melihat, aku merinding mbak, kita bisa melihat maksudnya, ya Allah gitu ya, pantas Iran sehebat itu,
26:14pantas Iran sekuat itu gitu.
26:15Makanya, saya ada banyak berita-berita miring terkait asma.
26:19Nah dia, saya bilang, saya cuma perhatikan deh apa yang saya ungkapkan di sosial media, itu semua kemanusiaan gitu.
26:24Semua hal baik yang kita sangat bisa belajar gitu dari situ gitu.
26:28Sangat banyak yang bisa dipelajari ya bu ya, dari sosok Ayatullah Ali Khamini.
26:33Bu, kalau kemarin kita juga pada saat setelah di prosesi pemakaman, itu Amerika sempat menyerang Iran kembali.
26:41Nah apakah pada saat itu ibu masih di sana atau sudah pulang bu?
26:45Masih mbak.
26:46Masih, bagaimana bu situasinya?
26:48Mungkin bisa diceritakan apakah ibu ada di mana, lalu bagaimana pengamanan di Iran?
26:54Iya, jadi kita itu ketika pergi pun sebetulnya orang-orang pada banyak yang,
26:59ini serius gila lu mau pergi ke sana gitu ya, ini ke tempat ke negeri perang gitu.
27:03Tapi pengalaman traveling kan mengatakan biasanya ya nggak seserem itu juga gitu.
27:08Banyak tempat yang dianggap seram tapi nggak seserem itu juga gitu.
27:10Alhamdulillah damai-damai tapi pas mau pulang itu memang ada kalau nggak salah 60 titik ya yang diserang sama Amerika.
27:16Dan kemudian kalau saya tidak salah hari ketika kita atau sehari ketika kita mau pulang itu Iran membalas.
27:22Dengan 60 titik gitu, Iran membalas.
27:24Dan waktu itu ya jujur kita udah dek-dekan nih gitu soal pulang gimana.
27:30Kemudian lebih diberi warning lagi gitu ya, dikasih ajakan untuk jangan keluar.
27:38Jangan keluar hotel, jangan pergi sendiri-sendiri, udah di hotel aja.
27:42Kalau ada yang masih pengen ketemu, masih pengen meeting dan sebagainya, udah di hotel aja gitu.
27:46Jadi kita disuruh tetap sama-sama, tetap di hotel gitu ya.
27:50Dan ya kita udah menguatkan doa deh gitu supaya bisa pulang gitu.
27:54Karena beberapa penerbangan terutama yang ke Dubai dan lain-lain itu sudah di-cancel.
27:57Banyak yang sudah di-cancel gitu.
27:59Ya Alhamdulillah penerbangan ke bandaranya itu kita jadi lebih bersyukur sih.
28:03Pas ke bandaranya bersyukur, pas bisa ini terbang kemudian bersyukur gitu.
28:07Tapi buat saya ini jujur saya sangat-sangat terkesan gitu.
28:11Baik dengan pemerintahnya, baik dengan alih kamininya,
28:15baik dengan bagaimana perempuan di sana gitu ya.
28:19Bisa menjadi pribadi yang kuat gitu.
28:22Dan juga mendapatkan banyak kesempatan.
28:24Dan yang menarik kan gini mbak, biasanya kan kalau isu kesetaraan ya,
28:28gender aja gitu, perempuan gitu kan, ujung-ujungnya nggak mau nikah.
28:31Atau kalau menikah jatuhnya child free gitu.
28:33Tapi bahwa kenyataan bahwa di Iran kesetaraan itu terjadi,
28:37perempuan bisa mengisi banyak sisi, perempuan menjadi profil yang kuat,
28:41tapi mereka tidak lepas gitu.
28:43Mereka menyadari bahwa al-umum adusatulullah ibu itu madrasa pertama buat anak-anaknya.
28:47Sehingga mereka tetap berperan sebagai ibu, berperan sebagai istri,
28:51mereka bawa anak ini, semua saling bekerja sama, itu yang buat saya indah gitu.
28:54Sementara banyak orang mungkin akan beranggapan bahwa Iran sebagai negara Islam,
28:58pasti nih perempuannya tertindas nih gitu ya.
29:01Pasti begini, pasti begitu.
29:02Ternyata nggak gitu.
29:0260% itu angka yang besar ya untuk perempuan-perempuan yang master dan PhD di sana.
29:08Baik, Bu.
29:09Ini terakhir, Bu.
29:11Selain tadi cerita tentang bagaimana perempuan yang selalu dihargai di Iran,
29:17setelah ibu menyaksikan langsung peristiwa bersejarah ini,
29:20apa pelajaran yang paling ibu dapatkan?
29:25Saya langsung berpikir sebetulnya apa yang harus dilakukan ibu-ibu sedunia gitu
29:31untuk melahirkan seorang anak, menghadirkan lagi sosok dengan keperibadian kuat,
29:37dengan kecerdasan, dengan kebaikan hati yang luar biasa,
29:40dengan pembelaan dan empati untuk Palestina gitu seperti Alikam ini.
29:44Itu saya pikirkan, gimana caranya gitu?
29:46Kenapa bisa ada seperti ini gitu?
29:48Yang berduka itu dunia gitu, yang berduka itu bukan cuma umat Islam gitu.
29:52Ada veteran perang Amerika yang juga influencer ya, O'Keefe yang juga ke sana gitu.
29:58Ada yang influencer barat yang menangis gitu, padahal dia laki-laki gitu,
30:02nggak pernah bertemu langsung gitu.
30:03Ini kan sesuatu yang luar biasa.
30:05Makanya saya langsung bilang,
30:06udah kalau pemerintah kita mau studi banding ke Iran deh gitu.
30:09Belajar gitu ya bagaimana pemerintahnya itu benar-benar berkhidmat,
30:14benar-benar berusaha untuk meringankan rakyat gitu.
30:17Baik, terima kasih Ibu.
30:18Semoga nanti ada lagi sosok seperti Aliyah Tua Alikam ini yang bisa hadir ke dunia ya, Bu.
30:24Terima kasih Ibu atas waktunya.
30:26Kita dari Kompas TV, pamit.
30:28Terima kasih Ibu.
30:30Assalamualaikum.
30:31Waalaikumsalam.
30:31Terima kasih Ibu.
30:35Terima kasih.
Komentar