00:00Karena itu menurut saya, dan saya kalau empat kali ketemu para rektor itu bagi saya belum apa-apa.
00:10Kalau perlu tiap bulan kita ketemu.
00:18Benar, saya butuh jumpa dengan orang-orang pintar.
00:24Saya kasihan beberapa profesor yang tinggal di sekitar Jakarta itu.
00:27Bola balik dipanggil, saya dengar mereka itu tiap dua jam buka handphone.
00:38Yang di Bandung pun tidak ada alasan, karena sekarang dipanggil ya 45 menit bisa di Jakarta.
00:49Yang di Bandung pun, saya perhatikan berapa pembantu saya.
01:00Waktu awal dilantik, rambutnya masih bagus.
01:06Setelah 18 bulan, semakin botak.
01:15Aku perhatikan Pak Brian, banyak itu.
01:22Rambutnya sudah makin ke atas.
01:26Banyak profesor ini memang.
01:29Jadi, Surafdara, inilah yang kita inginkan.
01:33Kita berada di satu kapal besar yang namanya NKRI.
01:40Saya kemarin sampaikan, kita berbeda pandangan, tidak ada masalah.
01:48Universitas adalah tempat di mana gagasan-gagasan diadu-adu gagasan.
01:56Adu pandangan, adu filosofi, adu inovasi.
02:04Disitulah.
02:05Disitu disebut bahwa kampus punya academic freedom.
02:11Academic freedom.
02:13Kebebasan akademis.
02:16Bukan kebebasan yang lain-lain.
02:20Apalagi kampus menjadi tempat pemikiran-pemikiran atau tempat katakanlah pertetangan.
02:34Biarlah kampus aktif menggeluti sains dan teknologi.
02:43Untuk memberi manfaat kepada rakyat yang membiayai kampus-kampus itu.
02:52Yang membiayai semua lembaga pendidikan.
03:04Swasta berperan sangat penting.
03:07Tapi swasta pun menikmati uang rakyat.
03:14Dari subsidi listrik, subsidi BBM, dengan segala upaya yang kita lakukan.
03:21Jadi saudara, ini adalah bernegara.
03:26Jadi, terima kasih saudara dengan tukun mengikuti selesai ini.
03:31Dan saya terima daftar usulan dan daftar pertanyaan yang tadi disampikan cukup banyak.
03:42Saya janji satu-satu akan saya perhatikan.
03:50Saudara-saudara, jangankan usul dari profesor.
03:56Usul dari anak di desa.
04:00Yang sampai langsung ke saya lewat TikTok atau lewat...
04:05Saya segera tindak lanjut, saudara-saudara.
04:10Ya, karena saya berkeyakinan bahwa kesulitan itu harus dihadapi.
04:26Kesulitan harus dihadapi.
04:29Dan kita harus berani menghadapi kesulitan.
04:35Berani mengakui kesulitan.
04:37Dan kerja keras mencari solusi terhadap kesulitan.
04:45Ini saya dapat dari banyak masukan.
04:50Organisasi, masyarakat, negara yang sukses adalah masyarakat dan negara.
05:01Organisasi yang berani mengetahui mencari kesulitan dan kekurangan dan mengatasinya.
05:13Jadi saya, saya terima kasih.
05:17Teknologi bisa berbuat itu.
05:20Kesulitan di suatu desa, di nias, langsung.
05:25Dan itu kita selesaikan dalam waktu cepat.
05:27Tapi kita tahu juga teknologi juga belum tentu selalu positif bagi manusia.
05:37Sekarang kita lihat, nuklir di suatu pihak luar biasa.
05:44Bisa membantu manusia.
05:46Energi yang sangat murah.
05:50Energi yang relatif bersih.
05:52Nuklir untuk medis.
05:57Nuklir untuk pertanian.
05:58Ya, tapi nuklir bisa menghabiskan peradaban manusia langsung.
06:11Sekarang, AI, Artificial Intelligence.
06:16Hampir semua negara sekarang mengejar AI.
06:21Tidak mau ketinggalan.
06:22Tapi, bapak-bapak penemu AI sendiri sudah memberi AI.
06:32Sudah ada agent AI.
06:36Konon kabarnya agent AI ini.
06:40AI yang bekerja, berkarya untuk satu orang atau satu kelompok
06:48Atau satu korporasi, satu organisasi, satu negara, atau satu.
06:54Dan konon kabarnya sekarang sudah ada 5 juta AI.
06:58Agent AI.
07:005 juta.
07:01Mungkin 5 juta itu 3 minggu lalu.
07:06Dan mereka katanya sudah punya chat room sendiri.
07:115 juta ini berbicara sendiri.
07:15Dalam bahasa kode mereka sendiri.
07:20Jadi, manusia yang menciptakan sesuatu yang lebih hebat.
07:25Sekarang, juara catur saja kalah sama mesin.
07:29Juara catur.
07:32Mesin sekarang bisa membuat karya-karya luar biasa.
07:35Jadi, saudara-saudara, inilah nanti para guru besar, para profesor yang harus mendalami itu.
Komentar