- 3 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk.
Dalam dialog ini, Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran, Prof. Muradi, bersama Dosen Hubungan Internasional UNS, Septyanto Galan Prakoso, mengulas mengapa kesepakatan damai yang baru disepakati justru kembali berada di ujung tanduk.
Mereka membahas peran Selat Hormuz, lemahnya isi nota kesepahaman (MOU), hingga faktor-faktor yang memicu eskalasi terbaru.
Prof. Muradi menilai terdapat aktor ketiga yang berperan besar dalam menggagalkan proses perdamaian, sementara Septyanto Galan menjelaskan bagaimana perbedaan tafsir terhadap pengelolaan Selat Hormuz memicu saling serang antara AS dan Iran.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Rizal
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/677712/as-vs-iran-memanas-lagi-guru-besar-unpad-dosen-hi-uns-bongkar-peran-israel-faktor-tunggal
Dalam dialog ini, Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran, Prof. Muradi, bersama Dosen Hubungan Internasional UNS, Septyanto Galan Prakoso, mengulas mengapa kesepakatan damai yang baru disepakati justru kembali berada di ujung tanduk.
Mereka membahas peran Selat Hormuz, lemahnya isi nota kesepahaman (MOU), hingga faktor-faktor yang memicu eskalasi terbaru.
Prof. Muradi menilai terdapat aktor ketiga yang berperan besar dalam menggagalkan proses perdamaian, sementara Septyanto Galan menjelaskan bagaimana perbedaan tafsir terhadap pengelolaan Selat Hormuz memicu saling serang antara AS dan Iran.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Rizal
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/677712/as-vs-iran-memanas-lagi-guru-besar-unpad-dosen-hi-uns-bongkar-peran-israel-faktor-tunggal
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:03Intro
00:12Kesepakatan damai AES Iran kembali berada di ujung tanduk
00:15setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan teluk
00:20Insiden ini menunjuk kekhawatiran bahwa kesepakatan damai yang baru tercapai akan kembali terancam batal
00:27Sebagai bentuk balasan terhadap serangan Amerika Serikat, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke wilayah Bahrain dan Kuwait
00:35Selainnya berbunyi di kota Kuwait menyusul serangan drone dan rudal Iran yang menarketkan wilayah Kuwait dan Bahrain
00:44Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ibrahim Azizi menyatakan
00:50Teheran siap menanggapi secara tegas tindakan Amerika Serikat yang melanggar kesepakatan damai
00:57Ibrahim juga menegaskan siapapun yang melewati Selat Hormuz harus mengikuti aturan yang ditetapkan Teheran
01:04Setiap langgaran dan ketentuan tersebut pasti akan ditindak
01:10Terima kasih telah menanggapi
01:15Terima kasih telah menanggapi
01:27Terima kasih telah menanggapi
01:33Amerika akan membeli dan
01:35Terima kasih telah menanggapi
01:50Terima kasih telah menanggapi
02:04Sebelumnya, militer Amerika Serikat merilis video serangan udara yang menarketkan militer Iran di sekitar Selat Hormuz.
02:11Siaran televisi Iran menyebut serangan AS menyasar daerah desa Tahroyyi, wilayah Sirik, Iran.
02:19Serangan menghantam sepuluh target militer Iran mengganggu infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, hingga fasilitas penyimpanan drone dan kapal
02:30ranjau.
02:31AS mengeklaim serangan itu konsekuensi atas pelanggaran perjanjian yang dilakukan Iran.
02:36Dram menyebut, Iran menyerang kapal dagang di Selat Hormuz menggunakan drone.
02:41Dram bahkan mengancam akan melenyapkan Iran.
02:44Melalui akun terut sosialnya, Dram menulis, pesawat AS baru saja menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone,
02:52serta situs radar pesisir milik Iran, karena mereka melanggar perjanjian rincatan senjata lagi.
02:58Sangat mungkin mereka tidak akan pernah belajar.
03:00Bisa jadi akan tiba saatnya kita tidak bisa lagi bersikap nasional,
03:04dan terpaksa menyelesaikan secara militer tugas yang telah kita mulai dengan sangat sukses.
03:09Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi.
03:15Guru Besar Kamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia, Angel Damayan Tidilal,
03:20ketegangan ini terjadi karena kedua belah pihak masih memiliki rasa saling curiga satu sama lain.
03:26Angel mengambahkan, jika konflik ini terus berlanjut, maka kesepakatan damai sulit tercapai.
03:34Kedua belah pihak lah ya, sama-sama melihat atau mempersepsikan masing-masing itu pihak lawannya itu sebagai ancaman.
03:41Iran melakukan serangan ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait,
03:46yaitu bentuk dari respons karena Amerika sebelumnya menyerang beberapa kota di Iran.
03:52Dan Amerika pun mengklaim dia melakukan itu karena Iran sebelumnya menyerang kapal kargo di Slathomus.
03:59Hari Kamis tanggal 26 Juni yang lalu, artinya ini masih akan terus berlanjut.
04:03Aksi reaksi terus terjadi.
04:05Dan ini sebenarnya kan semacam apa ya mas, kayak upaya hanya untuk membuat kesepakatan damai ini tidak sungguh-sungguh terrealisasi.
04:16Sementara pengamat intelijen dan keamanan Universitas Indonesia, Stanislaus Rianta bilang,
04:22saling serang antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan bahwa perjanjian antara kedua negara ini sifatnya rapuh.
04:30Stanislaus menjelaskan, jika ada pihak memprovokasi, maka dengan cepat kedua negara itu akan kembali saling serang.
04:37Kalau kita melihat situasi ini, maka sebenarnya memang perjanjian yang rapuh tersebut,
04:42sudah banyak pengamat yang menduga seperti itu, maka akan mudah sekali akan terjadi pelanggaran-pelanggaran,
04:48termasuk serangan.
05:07Eskalasi terbaru ini sekaligus memutarkan harapan terhadap terciptanya perdamaian yang lebih berkelanjutan di Timur Tengah.
05:14Padahal, sepekan sebelumnya kedua negara disebut telah menunjukkan sinyal positif untuk meredakan ketegangan melalui kesepakatan gencatan senjata.
05:28Kesepakatan damai Amerika Serikat Iran kembali berada di ujung tanduk setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk.
05:35Pada Jumat 26 Juni 2026, pasukan militer Amerika Serikat merilis video serangan udara yang menargetkan militer Iran di sekitar Selat
05:43Hormuz.
05:44Sebagai bentuk balasan terhadap serangan Amerika Serikat, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke wilayah Bahrain dan juga Kuwait.
05:51Bagaimana membaca situasi ini dan apa dampaknya terhadap proses kesepakatan damai antara kedua negara?
05:57Kita bahas bersama dengan Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Pajajaran, Buradi,
06:02dan Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas 11 Maret Surakarta, Septianto Galan Prakoso.
06:08Selamat pagi Prof. Muradi, Mas Galan.
06:11Pagi Mas, Mas Galan pagi.
06:12Pagi Prof.
06:13Baik, saya ke Prof. Muradi terlebih dahulu.
06:16Prof. Muradi, kita lihat ini saling serang terjadi, kedua pihak saling tuduh gitu ya.
06:21Amerika Serikat tuduh Iran yang melanggar genjatan, Iran menunduh Amerika Serikat yang melanggar genjatan senjata.
06:27Kemudian, kalau kita lihat pemicunya di Selat Hormuz, ada drone yang kemudian diluncurkan ke sebuah kapal kargo.
06:34Ini adakah upaya dari Iran memang untuk menegakkan aturan saja?
06:38Atau sebenarnya siapa sih yang melanggar dalam konflik yang terjadi sekarang ini?
07:11Ya, Mas. Saya kira ada tiga hal yang penting perlu digeris bahwa.
07:13Menemukan peran dalam konteks misalnya memastikan tetap membarangnya konflik di Timur Tengah.
07:19Katanya saya nyebut misalnya Israel.
07:21Yang faktor kedua adalah, faktor yang kemudian memang lobby-lobby mereka yang ada di internal Amerika Serikat.
07:27Yang saya kira akan memprovokasi berkali-kali langkah-langkah US yang sebenarnya secara principle sudah sangat baik minggu lalu ya.
07:36Artinya memang sebenarnya secara principle ada yang tidak ingin kemudian ini terjadi.
07:39Nah, yang ingin terjadi adalah bukan Eropa, bukan Amerika, bukan Timur Tengah, tapi juga Israel.
07:48Tapi Israel ini pengen bahwa kemudian mereka terlibat dalam posisi yang jauh lebih strategis.
07:52Ini yang nggak mungkin dilakukan oleh kedua perjanjian antara Iran dengan US.
08:00Karena Israel itu dianggap sebagai bagian yang terpisah atau bagian yang kemudian perspesi Iran sebagai bagian dari yang terkait.
08:08Sebenarnya kemudian APS ini nggak pengen itu di dalam posisi perjanjian tadi.
08:13Nah, saya ingin menegaskan bahwa ini adalah bagian provokasi yang saya kira serius ya.
08:18Ini serius begini.
08:19Kita nggak bisa lagi menganggap bahwa Israel faktor tunggal.
08:23Tapi Israel adalah bagian penting yang memang akan memainkan betul penamanya hitam-butuh perjanjian ini.
08:28Saya kira selama kemudian Amerika Serikat tidak mampu mengendalikan, tanda kutip ya, Israel tidak mampu kemudian memastikan lobby-lobby mereka
08:36di dalam negara mereka kemudian.
08:38Secara detil maka saya kira perjanjian ini akan sulit untuk dilakukan.
08:43Oke, peran aktor ketiga yang kemudian bisa memboyarkan ini semua.
08:47Tapi saya ke Mas Galan terlebih dahulu.
08:49Mas Galan yang soal bagaimana saling serang ini bermula gitu ya di Selat Hormuz.
08:54Ada serangan dari Iran yang menyasar sebuah kapal kargo kemudian dibalas oleh Amerika Serikat.
08:59Iran balas lagi ke Bahrain dan juga Kuwait.
09:02Ini sebenarnya pemicunya itu apa sih?
09:04Karena memang ada pengaturan nih oleh IMO dan juga Oman untuk bisa lewat jalur alternatif.
09:10Sehingga ini kemudian membuat kesepakatan yang awalnya sudah ada ini 14 poin.
09:14Jadi kayak diabaikan seperti itu.
09:18Ya, betul sekali Mas Berman.
09:19Jadi apa yang terjadi sebenarnya adalah perbedaan persepsi dari bagaimana kemudian manajemen perairan Selat Hormuz itu akan terlaksana gitu ya.
09:28Jadi 14 poin.
09:30Tapi Iran masih melihat bahwa rute yang kemudian akan menjadi rute primet itu rute yang di dekat perairan Iran.
09:37Di antara pulau Khasem dan pulau Larak begitu.
09:40Nah, beberapa vessel, beberapa kapal-kapal internasional itu tradisional kan secara tradisional mereka melewati rute yang tengah gitu ya.
09:46Yang di tengah-tengah lah.
09:48Tidak di perairan Iran dan tidak di perairan Oman, perairan internasional.
09:51Namun demikian, ketika konflik di Selat Hormuz ini kemudian semakin tereskalasi,
09:57rute alternatif disiptakan mendekati perairan Oman.
10:00Nah, ini kemudian yang Iran melihat ini sebagai salah satu bentuk, apa istilahnya, bentuk, bentuk, bukan pelanggar,
10:07tapi bentuk ketidakstabilan atau ketidaksepakatan yang kemudian dilakukan oleh AMO dan mungkin juga biaya Amerika Serikat dalam bahasa ini biaya
10:15Barat.
10:16Kenapa? Karena pada akhirnya nanti sebagian besar kapal pastinya memilih rute yang mendekati Oman dan tentunya tidak membayar tol ke
10:23Iran.
10:23Dalam hal ini, serangan yang kemudian kemarin aja tuli ke kapalnya Singapur ya, kalau tidak salah, vessel-nya itu ada
10:29pecahan terutnya,
10:30yang mendekati perairan Oman ini juga menjadi satu hal yang dipandang Iran sebagai bentuk peringatan,
10:36sebagai bentuk kontrol dari apa yang kemudian nanti menjadi bagian dari manajemen Selat Hormuz.
10:44Nah, dari tiga rute ini, kemudian Iran melihat kalau memang ini merupakan sesuatu yang perlu dilakukan
10:49untuk kemudian mengingatkan bahwa sebenarnya ini belum selesai, kita perlu menyepakati jalur,
10:54kita perlu menyepakati mekanisme, tapi kalau sudah banyak kapal vessel yang lewat,
10:58kita baru mendekati 89 kemarin yang melakukan transit, meskipun rata-rata peringatan itu 120-an kapal.
11:04Nah, Iran melihat ini sebagai sebuah hal yang bisa mengancam kontrol Selat Hormuz nantinya,
11:09karena perusahaan pasti akan memilih untuk melewati jalur yang menjauhi Iran dalam hal ini,
11:15kalau ini dibiarkan bisa jadi bersedan.
11:17Nah, yang menjadi masalah adalah bagaimana kemudian reaksi yang saling dilakukan oleh kedua belah pihak,
11:25di mana mereka menyerang Iran, kemudian Iran balas balik menyerang Kuwait dan Bahrain,
11:30dan akhirnya tereskalasi lagi.
11:32Meskipun hal ini memang menjadi satu resiko atau dampak yang tidak dapat terelakkan,
11:40tapi sebenarnya ini bisa dihindari ketika dalam MOU, poin-poin ini, poin MOU kesempatan kemarin itu,
11:48poin-poin ini sudah ditampakkan.
11:49Ternyata, setelah dicek, ya banyak sekali poin yang masih tidak di-address dalam MOU kemarin.
11:56Ada pasal-pasal ambigu yang secara efektif mungkin memberi Iran peran dalam mengelola Selat Hormuz,
12:01tapi Amerika Serikat juga bisa membuat ruta alternatif ya, Oman.
12:05Nah, hal ini sebenarnya kemudian menjadi pemicu dari apa yang terjadi akhir-akhir ini.
12:12Kesepakatannya kurang detail, sehingga bisa diartikan mungkin berbeda dan juga menguntungkan masing-masing pihak seperti itu.
12:18Sehingga terjadi tadi ketidaksepakatan di lapangan dan memicu serangan ini ya, Mas Galan, ya?
12:24Iya.
12:24Oke.
12:25Oke, kemudian saya ke Prof Muradi lagi.
12:27Prof Muradi, terkait dengan hal ini gitu ya, oke sudah terlanjur, saling serang terjadi,
12:33ini kita nggak tahu sampai kapan, ini akan kembali saling serang lagi, saling balas-balas lagi.
12:38Kalau menurut Anda, Prof Muradi, ini akan berakhir hanya saling balas-membalas,
12:42atau mungkin bisa ke arah yang lebih besar lagi?
12:46Ya, dua hal, Mas. Yang pertama memang ini berkaitan soal keinginan Israel itu tetap berperang ya.
12:52Saya kira, kenapa saya seberapa kali-kali ngomong Israel?
12:54Karena dia faktor penentu, faktor tunggal yang saya kira perlu kemudian betul-betul dikendalikan.
13:00Karena yang di sini misalnya Amerika Serikat dalam konteks itu.
13:03Yang kedua adalah, ini menyangkut soal kepentingan global ya.
13:07Nah, sejauh kemudian kepentingan dalam masing-masing itu masih sangat kuat,
13:12saya kira ini problem baru.
13:14Problem baru kenapa?
13:15Karena Netanyahu tetap ingin berperang, karena Amerika berasumsi berperang, mereka akan menang.
13:20Di pemilu yang akan datang.
13:22Sementara kemudian di dalam negeri US sendiri, saya kira juga ini mungkin penggalangan terkait dengan isu ini menjadi sangat krusial.
13:32Nah, saya ingin mengatakan bahwa problem-problem ini sebenarnya ditambah lagi misalnya,
13:36apa nama dinamiknya di internal Iran.
13:38Saya meyakini betul bahwa ketidaknyamanan terkait dengan, walaupun dalam misalnya draft 14 poin itu menguntungkan Iran ya secara politik ya.
13:48Tapi kemudian itu ada faksi-faksi yang tidak terlalu nyaman dengan itu.
13:52Nah, ini yang saya kira juga menjadi dinamika yang saya kira perlu dilihat secara detail.
13:57Karena keberadaan perang ini itu menguntungkan faksi-faksi yang ada di Iran maupun di Amerika Serikat.
14:03Walaupun kemudian secara prinsipal juga itu menguntungkan sangat besar misalnya memastikan bahwa
14:08saya kira Netanyahu akan berpikir minimal berperang sampai nanti pemilu yang akan datang.
14:13Begitu dia menang mungkin dia akan memikirkan apakah akan duduk dalam perundingan serius atau tidak.
14:18Saya kira itu poin. Jadi kalau kemudian misalnya prosesnya belum sampai yang dia bayangkan,
14:23maka politika advisor dan Netanyahu ingin mengatakan bahwa Israel harus berperang supaya kemudian Netanyahu menang dalam pemilu yang akan datang.
14:31Oke, saya kemas Galan kembali. Mas Galan, betulkah memang ini aktor ketiga yang menjadi faktor utama
14:37kemudian ini kemudian pecah lagi konfliknya, saling serang lagi,
14:41atau memang, ya tadi, soal detail kesepakatan yang seharusnya lebih dijembrengin lagi?
14:47Jangan sampai ada kesalahpahaman ataupun pihak-pihak ini saling pengen untungnya sendiri seperti itu?
14:54Ya, saya kira itu kombinasi keduanya ya, Mas Bro.
14:57Jadi, memang secara detail MOU, itu kalau memang tidak bisa menyelesaikan permasalahan dan masih bisa banyak penafsiran,
15:05tentu pasti pelaksanaannya atau aksinya kan pasti akan memiliki berbagai macam, ini ya,
15:11tafsir, berbagai macam aksi yang berbeda.
15:13Namun juga, sepakat dengan apa yang disampaikan Pramurati barusan,
15:16bahwa Israel ini bertindak sebagai spoiler begitu.
15:20Kalau kita pakai spoiler konsep dalam perundingan perdamaian,
15:22dia ini pihak yang memang tidak ingin damai,
15:24dia ini pihak yang memang ingin selalu dalam tanda kutip melestarikan atau mungkin memperwajar konflik.
15:29Kenapa? Karena mungkin objektifnya atau target dia belum tercapai,
15:33atau dia punya tujuan lain di dalam negeri,
15:35atau memang yang penetanya memandang bahwa dia tidak terikat oleh MOU dari Amerika Serna dan Iran.
15:40Ya kan, saya di sini berperang sendiri lawan sebuluh begitu kan, di Lebanon.
15:44Sementara Iran melihat, tuh, Lebanon itu juga front.
15:46Kalau kemudian kita kejatan senjata,
15:48maka kita hentikan semua peperangan, kekerasan, serangan di semua front.
15:52Tapi Israel merasa ini adalah sebuah celah.
15:55Dia tetap kemudian menyerang Lebanon dan Iran tentunya tidak sepakat dengan hal ini.
15:59Sehingga ini menjadi suatu yang sangat kompleks ketika memang ada satu pihak yang seakan-akan selalu menghambat dan tidak ingin
16:06damai dalam soal ini.
16:07Nah, dalam hal ini ya Israel itu.
16:09Memang juga, satu lagi mungkin ya,
16:11memang juga kita bisa melihat selain dia menjadi spoiler,
16:14Israel ini juga pasti memiliki objektif yang belum terpenuh atau yang mungkin sekarang bergeser.
16:19Kalau dulu dia melihat supaya Iran itu dilemahkan atau nuklernya dihilangkan,
16:23sekarang mungkin dia melihat kalau itu sudah cukup berat dicapai yang dalam jangka dekat begitu ya.
16:29Sehingga dia mengalihkan fokusnya ke Yisbullah di Lebanon.
16:32Bagaimana bisa melucuti senjata Yisbullah?
16:34Bagaimana bisa melemahkan proksi dari Iran ini yang ada di Lebanon?
16:37Ini satu hal yang kelihatannya adalah proyeksi apa yang kemudian ingin dicapai oleh Netanyahu dalam hal ini.
16:44Oke, baik.
16:45Kemudian bicara soal Selat Hormus kembali.
16:47Saya ke Prof. Muradi, bagaimana keamanan di sana gitu Prof. Muradi,
16:51yang dimana sekarang masih belum sepakat, dalam tanda kutip belum sepakat secara full.
16:56Ini maunya seperti apa sih Selat Hormus ini selama paling tidak 60 hari untuk notak sepaman kemarin?
17:01Nah, awalnya sudah ada rencana untuk evakuasi kapal, namun ternyata ada serangan-serangan ataupun drone yang diserang lagi di sana
17:08gitu kan.
17:08Nah, bagaimana kemudian memastikan Selat Hormus ini aman paling tidak sementara gitu ya?
17:14Sementara di sisi lain juga masih ada serang-serang di sana?
17:18Ya, ada tiga aktor sana.
17:20Ada AIMO, ada kemudian Oman ya, kemudian juga ada yang berkonflik Amerika Sekarang dengan Iran.
17:26Saya kira AIMO sudah secara prinsipal membagi wilayahnya tadi yang sepakat segalanya.
17:31Tapi kemudian ada, saya nyebutin begini, kenapa kemudian dalam konflik tertentu itu kemudian terjadi apa namanya,
17:38saya nyebutin apa ya, apa namanya, hentakan-hentakan yang tidak terduga gitu,
17:43itu kemudian terjadi misalnya tadi yang saya pake Mas Galan soal ada rute pelayaran yang melipir,
17:49yang jauh lebih di luar yang disepakati antara AIMO, kemudian Oman dan juga dua negara yang berkonflik.
17:56Itu poin pertama itu.
17:57Yang kedua, saya sih berharap memang kedua negara bisa menahan diri untuk kemudian tetap dalam posisi yang sama ketika draft
18:05itu sedang dibahas.
18:07Nah masalahnya masih gini, mas. Masalahnya adalah kita punya apa namanya, negara-negara yang kemudian menginisiasi perdamaian Adekatan dan Pakistan.
18:17Dua negara yang saya kira tidak terlalu bisa mengendalikan betul misalnya hasrat kedua negara ya,
18:23untuk kemudian melakukan manufur-manufuran yang sebenarnya jauh lebih merusak ketimbang misalnya peperangan itu sendiri.
18:30Nah yang ketiga saya kira, apa yang kemudian yang harus dilakukan, saya kira memang pada akhirnya pendekatan-pendekatan sifatnya lebih
18:38pada penguatan sanksi ya,
18:42yang kemudian sama-sama bisa kemudian saling mengikat. Karena dua negara ini kan merasa punya kuasa yang memang pada akhirnya
18:50membuat orang-orang yang fesat-fesat yang mau melewati kemudian menjadi salah satu yang tidak bisa kita, mereka bisa lewati.
18:58Artinya memang sebenarnya bisa jadi misalnya yang jalur di luar kesepakatan tiga aktor tadi,
19:06itu kemudian difroksi ya, dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain untuk kemudian misalnya memprovokasi itu.
19:13Dan saya kira, froksi itu kemudian diambil oleh Amerika sebagai,
19:19apa, dan sebagai, apa, Iran sebagai bagian dari yang kemudian tidak sepakat dengan perjanjian,
19:24yang sepakat menjawab, terkait dengan pilihan sejata gitu, Mas.
19:27Oke, baik. Perlu ada sanksi seperti itu untuk bagaimana menjaga selat hormus tetap aman.
19:32Tapi saya mau ke Mas Galan soal bagaimana nasib negosiasi ini?
19:36Ini 60 hari ke depan belum tercapai gitu.
19:39Udah ada 14 poin notak kesepahaman sementara untuk 60 hari,
19:42tapi belum sampai 60 hari sudah pecah lagi ini kesepakatannya.
19:46Lalu bagaimana nasibnya ke depan, Mas?
19:47Ini kita semakin mundur jauh, semakin jauh dari kata damai,
19:50semakin jauh dari kata kesepakatan,
19:52atau masih ada harapan sebenarnya dalam konflik ini?
19:57Dibilang masih ada harapan, ya pasti masih ada harapan.
20:00Kemarin kita sempat agak lega begitu melihat ada rekaman Trump tanda tangan,
20:05kemudian dari pihak Iran juga memperlihatkan, apa,
20:09lembar penerbangan yang ada.
20:11Tapi kemudian ketika ya reaksi dari salah satu mediator ya,
20:15Perdana Menteri Pakistan, Seba Syarif sendiri ketika kaget bahwa Iran tidak jadi mau gitu kan,
20:21belakang langsung pulang begitu ketika ada rencana untuk disusun dan lain sebagainya,
20:25begitu, ini menjadi satu hal yang sesuai dengan apa yang sudah dibahas dari mulai awal,
20:32atau dari mulai pertengahan perang ini,
20:34dimana perundingan perdamaian itu pasti ada kemungkinan untuk berhasil,
20:38pasti bisa damai, tapi sangat berat.
20:40Selain Negeri pasti tidak terjal, ini salah satu hal yang kemudian memang ya resiko dari sebuah negosiasi,
20:49dari sebuah proses perjanjian dan perundingan damai begitu.
20:51Ibaratnya kalau boleh dianalogikan ini seperti demam berdarah, Mas Brie.
20:55Jadi siklus pulangnya kuda itu ya.
20:56Di saat kemudian kelihatannya paling kalem,
20:58di saat orang sudah mau tanda tangan,
21:00itu justru yang malah paling beresiko berbahaya,
21:02karena tiba-tiba bisa kritis, justru lah ini bukti kritisnya ketika sudah ada tanda tangan,
21:08tapi masih ada distrust.
21:10Dan ini permasalahan adalah harus menghilangkan distrustnya dulu,
21:12entah dengan cara mencari mediator atau menambah mediator supaya lebih kuat lagi,
21:18atau ya memang mencari momentum yang saya kira juga masih agak sedikit tricky,
21:23agak sedikit rumit begitu,
21:26karena situasi internasional juga fokusnya sangat terpecah.
21:30Saat ini ada pihal adulia, ada berbagai macam kejadian,
21:34ada gempa juga di Venezuela,
21:36ada berbagai macam hal yang selalu terjadi setiap hari,
21:38sehingga banyak kemudian pihak yang menginginkan perdamaian,
21:42tapi tidak ada pressure point kepada kedua belah pihak yang katanya sepakat untuk 60 hari ke depan.
21:49Mungkin akan terjadi perdamaian kalau memang sudah ada jaminan atau ada progres
21:56dari pihak, baik itu pihak Amerika, maupun pihak Iran sendiri.
21:59Cuma bisa jadi ketika sudah momentumnya oke,
22:02tiba-tiba Israel datang lagi, kemudian nyerang Lebanon lagi,
22:05lebih keras, nah ini bubar lagi.
22:06Seperti itu, kemudian ya betul, jadi kesimpulannya,
22:10ya kita harus bisa kemudian memastikan semua pihak tidak ada yang menginisiasi agresi atau menginisiasi eskalasi.
22:16Nah ini yang memastikan bagaimana tidak ada pihak yang melakukan ekskalasi lagi,
22:22yang bikin onar lagi itu,
22:24Prof Muradi, setuju juga dengan misalnya menambah mediator,
22:28atau misalnya ada pihak yang kemudian bisa memastikan kedua pihak antara Amerika Serikat dan juga Iran ini,
22:35bisa masing-masing menyepakati dan juga menaati aturan ataupun kesepakatan yang sudah ditandatangani?
22:40Ya saya bagi tiga poin ya,
22:43pertama poin-pertama poin 10 hari,
22:46poin 10 hari ini memang poin krusial,
22:47memang saya memprediksi akan terjadi sering-serang,
22:51bahkan kemudian nanti, apa namanya,
22:53Yaman terlibat lagi,
22:55UTI ya,
22:55kemudian di menyerang Israel dan sebagainya.
22:59Nah faktor apa,
22:59yang kedua adalah,
23:01waktu 20 hari,
23:0220 hari ini saya kira ini akan kemudian fase,
23:05fase agak lebih sesidup,
23:07kemudian mereka akan duduk bersama.
23:10Mungkin juga poin-poin apa,
23:11fase ke 20 hari ini adalah,
23:13itu melibatkan pihak ketiga baru ya.
23:15Saya kira memang pada akhirnya kita semua maksa,
23:18dari pihak Iran,
23:19katakanlah misalnya Cina atau Rusia,
23:21sebenarnya dari pihak US,
23:23bisa kemudian misalnya katakanlah,
23:24yang diangkat dekat,
23:25katakanlah misalnya Jerman,
23:26nah yang baru kemudian fase ke 30 hari.
23:30Nah fase ke 30 hari ini yang saya kira,
23:32fase krusial,
23:33karena kita mengasumsikan fase 30 hari ini fase,
23:35di mana kemudian mereka duduk bareng,
23:38dan kita sama-sama akan melihat,
23:40mereka berdua negara ini bertakad,
23:43plus kemudian juga bisa memastikan Israel tidak melakukan manufa,
23:47yang jauh lebih membuat berantakan situasi.
23:49Saya kira fase 10 hari,
23:5120 hari, 30 hari ini akan kita lihat,
23:53sampai paling enggak akhir Juli.
23:54Nah saya menduga,
23:56fase 10 hari awal,
23:57ini akan terjadi saling serang,
23:58dan lumayan lame,
24:00walaupun tadi Mas Jalan sampaikan,
24:01bahwa akan terdisak dengan,
24:03dengan momen-momen yang lainnya.
24:05Tapi di 10 hari ini,
24:07negara kemudian,
24:08negara-negara itu akan memastikan mereka melakukan serangan-serangan,
24:11sifatnya sporadis,
24:12yang saya kira akan membuat,
24:13kita agak,
24:14agak sangsi ya.
24:16Tapi nanti masih 20 hari,
24:17dan masih 20 hari,
24:18saya kira kita sama-sama melihat bahwa,
24:19akan ada kesepakatan yang jauh lebih strategis.
24:21Oke, baik.
24:23Terakhir saya ke Mas Galan.
24:24Mas Galan,
24:25kita melihat serangan yang ditujukan Iran ini,
24:28ke pangkalan militer di Kuwait,
24:30dan juga Bahrain,
24:30ini terjadi.
24:31Kalau Anda melihat,
24:32di Timur Tengah sendiri,
24:34mungkin negara-negara sekutu Amerika Serikat,
24:36di Timur Tengah,
24:37seperti apa nanti sikapnya?
24:39Ya, pasti,
24:41banyak kemudian protes,
24:43banyak kemudian reaksi keras,
24:45yang tentunya akan ditujukan kepada Iran,
24:47bagaimana kemudian pihak yang dianggap
24:53sebagai sekutunya Amerika,
24:55mendapatkan getahnya,
24:58mendapatkan akibat dari serangan Amerika,
25:00di mana Iran dengan terang-terangan menyerang.
25:02Saya kira sama dengan apa yang sudah terjadi
25:05di beberapa waktu yang lalu,
25:06pasti negara-negara Teluk terutama,
25:09dan negara-negara Timur Tengah pada umumnya,
25:11pasti akan kemudian merasa was-was,
25:13dan pasti juga akan mengecam serangan ini.
25:15Bahkan Menteri Luar Kanada saja mengecam,
25:17karena dinilai itu kurang berimbang.
25:19Sebenarnya bukan masalah imbang-imbangan,
25:21semua serangan pasti harus disikapi dengan serius,
25:24tapi bagaimana kemudian Amerika menyerang Iran,
25:27tapi Iran menyerang negara,
25:28dua negara bahkan yang sekiranya
25:31tidak terlibat dalam serangan Amerika secara langsung.
25:34Meskipun Bahrain sebagai negara
25:36yang menjadi pangkalan dari armada kelima Amerika Serikat,
25:39dalam bahrain ini juga di satu sisi
25:41juga sangat jelas bahwa
25:43apa yang dilakukan tentunya akan sejalan
25:45dengan apa yang diarahkan oleh Amerika.
25:47Namun, serangan Iran dalam hal ini
25:50juga diangkat mungkin terlalu apa ya,
25:52mungkin terlalu reaktif begitu,
25:54terkait konteks di mana masa seharusnya
25:57yang sudah kita berbicara perdamaian,
25:59tapi serangannya malah menyasar ke negara-negara
26:02yang sebenarnya tidak langsung
26:04ikut serta dalam serangan tempuh hari
26:07yang dilakukan oleh Amerika sebagai respon dari
26:08serangan ke kapal tadi.
26:10Yang jelas, apa yang kemudian dilakukan oleh Iran,
26:15di pantai Iran, pasti juga sangat justified,
26:17sangat-sangat legal dan wajar
26:19karena sebagai reaksi
26:20dan sebagai manajemen kontrol dari
26:22Selat Gorbus tadi yang disampaikan oleh
26:25jurubicara parlemennya,
26:26Ebram Azizi,
26:27oh sorry, ketua komisi keamanan parlemen Iran.
26:30Kemudian dari segi Amerika,
26:32ketika mereka menyerang,
26:33ya mereka menganggap apa yang dilakukan Iran itu
26:35mengancam kejatan-kejatan,
26:36dan bahkan kita bisa masuk perang lagi
26:38untuk kita lenyapkan Iran,
26:39kata Trump dan sebagainya,
26:41ini retorik yang tidak akan pernah berakhir
26:43kalau kemudian pandai serangan-serangan
26:44atau pit for tap ya,
26:45jadi apa yang kemudian dilakukan,
26:48pasti ada jawabannya,
26:49lu jual, boleh beli gitu kan,
26:50dan saya kira,
26:51betul tadi saya sepakat dengan
26:53Pak Ismail Pramuradi,
26:55segmentasi dari 60 hari ke depan
26:57atau mungkin fragmentasi waktu momentum
26:59dari 60 hari ke depan,
27:00itu harus disekapi secara cepat
27:01dan juga secara sigap oleh
27:03stakeholder-stakeholder
27:05atau pemapu kepentingan yang terlekat
27:06dalam hal ini di dunia internasional.
27:08Oke, kita lihat di 10, 20, 30 hari tadi
27:11seperti kata Prof Muradi,
27:12seperti apa perkembangannya,
27:14semoga benar ya,
27:15ada pihak ketiga yang bisa
27:18menengahi dengan lebih baik gitu,
27:20agar kedua pihak,
27:21Amerika Serikat juga,
27:22Irani bisa saling menyepakati
27:24dan juga menaati kesepakatan yang sudah ada,
27:27paling tidak selama 60 hari ke depan.
27:28Terima kasih Mas Galan,
27:31dosen ilmu hubungan internasional UNS
27:33dan juga Prof Muradi,
27:35dosen,
27:35masuk kami,
27:36guru besar ilmu politik
27:36dan juga keamanan UNFAD,
27:37sudah bergabung bersama kami
27:38di Sampai Indonesia Pagi.
27:39Selamat pagi Mas Galan,
27:40Prof Muradi.
Komentar