Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden Prabowo Subianto menyinggung berbagai konflik yang masih terjadi di dunia sebagai pengingat pentingnya persatuan dan kerja sama di kalangan elite bangsa.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam Sarasehan Kebangsaan bertajuk Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia dalam rangka Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia, Jumat (26/6/2026).

Ia menilai konflik berkepanjangan tersebut menjadi pelajaran bahwa perpecahan di kalangan elite dapat membawa dampak besar terhadap sebuah negara.

"Kita lihat apa yang terjadi di Ukraina, di Eropa. Rasnya sama sukunya sama agamanya juga banyak sama perangnya puluhan ribu korban mati tiap bulan. Kita lihat apa yang terjadi di Gaza, Palestina, Lebanon. Iran, seluruh negara Teluk, Yaman, perang di Afghanistan, perang di Balukistan, perang di Myanmar, semakin dekat perang antara Thailand dan Kamboja," katanya.

Menurut Prabowo, Indonesia patut bersyukur karena hingga saat ini masih berada dalam kondisi damai di tengah situasi global yang penuh peperangan dan ketidakpastian.

"Di tengah ini semua, kuncinya adalah antara lain elit yang tidak bisa bekerja sama," ujar Prabowo seraya mengingatkan bahwa menjaga persatuan merupakan syarat penting bagi kemajuan bangsa.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Lintang

#prabowo #perangukraina #gaza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/677456/prabowo-singgung-perang-ukraina-hingga-gaza-ingatkan-bahaya-konflik-dan-perpecahan-elit
Transkrip
00:00Salah satu ilmu kepimpinan yang saya dapat dalam perjalanan saya adalah bahwa seorang pemimpin seorang nakoda harus seorang nakoda yang
00:19mau aman membawa kapalnya sampai ke tujuan.
00:24Dan dia harus punya awak yang handal. Itu pelajaran kepimpinan yang paling dasar.
00:35Kalau kita mau menang sepak bola, kita harus punya manager yang baik, coach yang baik, pelatih-pelatih yang baik.
00:53Tukang pijit yang baik, tukang bawa minuman yang baik, dan kesebelasan yang terbaik.
01:06Baru kita bisa jadi juara.
01:08Sama, di semua bidang.
01:12Ini bukan teknologi, ini bukan percuma.
01:20Ini adalah lelaki dan wanita yang di belakang percuma.
01:26Ini yang kita sadari.
01:29Percuma, kita punya pesawat yang paling canggih.
01:33Pilotnya tidak handal.
01:36Jadi, saudara-saudara, dengan kesadaran itu, saya sangat berterima kasih atas inisiatif konfesi ini yang mengikut sertakan sebuah sarasihan kebangsaan.
01:57Saudara-saudara sekalian,
02:03Saya, di hadapan saudara-saudara, saya ingin menyampilkan beberapa peranggapan saya.
02:12Selalu, dalam setiap pertemuan, saya menyampilkan ini.
02:16Peranggapan.
02:17Saya berperanggapan kita semua di sini, semuanya adalah anak Indonesia yang cinta bangsanya dan rakyatnya.
02:35Kita berbeda, pasti.
02:39Kita berbeda suku.
02:42Kita berbeda agama.
02:45Kita berbeda latar belakang.
02:49Kita berbeda, mungkin ideologi.
02:54Kita berbeda sejarah.
02:59Kita berbeda pengalaman.
03:04Saudara-saudara.
03:05Ada, apalagi profesi.
03:09Ada yang dokter.
03:11Ada yang insinyur sipil.
03:14Ada yang insinyur mesin.
03:18Ada yang insinyur pesawat terbang.
03:20Ada yang ahli arkeologi.
03:25Ada yang ahli antropologi.
03:29Ada yang ahli bahasa.
03:31Ada mantan tentara.
03:34Ada pengusaha.
03:36Berbeda.
03:38Berbeda kita punya latar belakang.
03:40Dan, saudara-saudara, pengalaman kita pasti berbeda.
03:45Tapi, dengan premis tadi.
03:50Dengan anak Indonesia yang cinta tanah airnya.
03:56Saya kira dalam perbedaan ini.
03:59Kita harusnya bisa mencari titik-titik kebersamaan.
04:09Dan, inilah yang saya lihat dari apa yang saya pelajari dari sejarah.
04:20Karena salah satu hobi saya, passion saya adalah sejarah.
04:32Dari apa yang saya belajar dari sejarah ribuan tahun.
04:38Bangsa-bangsa yang elitnya bisa kerjasama.
04:44Itu bangsa itu yang bangkit.
04:50Bangsa yang elitnya selalu tidak bisa kerjasama.
04:55Bangsa itu tidak bisa mencapai.
04:59Potensinya.
05:00Ini sejarah mengajarkan.
05:02Sampai hari ini.
05:06Sampai hari ini, marilah kita lihat.
05:10Lihat di berita.
05:13Apa yang terjadi di Ukraine.
05:15Di Eropa.
05:20Kalau kita lihat.
05:22Rasnya sama.
05:24Sukunya sama.
05:27Agamanya juga banyak yang sama.
05:30Perangnya itu sampai puluhan ribu korban mati tiap bulan.
05:40Dan perang di Ukraine sudah lebih lama dari perang dunia kedua.
05:47Perang di Ukraine sudah lebih lama dari perang dunia kedua.
05:52Kita lihat apa yang terjadi di Gaza.
05:55Kita lihat apa yang terjadi di Gaza, di Palestina, di Lebanon.
05:5990% dari Gaza rata.
06:02Mungkin mungkin sama akibatnya dengan Hiroshima atau Nagasaki.
06:13Libanon sekarang seperti itu.
06:16Iran.
06:19Perang.
06:21Perang.
06:22Perang.
06:27Perang di Afghanistan, perang di Balukistan, perang di Myanmar.
06:34Semakin dekat.
06:35Semakin dekat.
06:35Perang antara Wang Thai dan Kamboja.
06:40Segitu.
06:41Segitu.
06:42Segitu.
06:43Di tengah ini semua.
06:46Kuncinya adalah antar lain elit yang tidak bisa kerjasama.
06:57Jadi saudara-saudara, bernegara saya kira kita perlu untuk renungkan masalah bernegara.
07:11Saya kira saudara-saudara, ini adalah kata-kata pembukaan saya.
07:16Saya selalu berusaha dengan persuasi, saya sebagai pemimpin politik, saya dipilih secara demokratis.
07:30Saya maju ke rakyat, lima kali minta mandat, empat kali tidak diberi mandat.
07:44Empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat.
08:01Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan