00:00Salah satu ilmu kepimpinan yang saya dapat dalam perjalanan saya adalah bahwa seorang pemimpin seorang nakoda harus seorang nakoda yang
00:19mau aman membawa kapalnya sampai ke tujuan.
00:24Dan dia harus punya awak yang handal. Itu pelajaran kepimpinan yang paling dasar.
00:35Kalau kita mau menang sepak bola, kita harus punya manager yang baik, coach yang baik, pelatih-pelatih yang baik.
00:53Tukang pijit yang baik, tukang bawa minuman yang baik, dan kesebelasan yang terbaik.
01:06Baru kita bisa jadi juara.
01:08Sama, di semua bidang.
01:12Ini bukan teknologi, ini bukan percuma.
01:20Ini adalah lelaki dan wanita yang di belakang percuma.
01:26Ini yang kita sadari.
01:29Percuma, kita punya pesawat yang paling canggih.
01:33Pilotnya tidak handal.
01:36Jadi, saudara-saudara, dengan kesadaran itu, saya sangat berterima kasih atas inisiatif konfesi ini yang mengikut sertakan sebuah sarasihan kebangsaan.
01:57Saudara-saudara sekalian,
02:03Saya, di hadapan saudara-saudara, saya ingin menyampilkan beberapa peranggapan saya.
02:12Selalu, dalam setiap pertemuan, saya menyampilkan ini.
02:16Peranggapan.
02:17Saya berperanggapan kita semua di sini, semuanya adalah anak Indonesia yang cinta bangsanya dan rakyatnya.
02:35Kita berbeda, pasti.
02:39Kita berbeda suku.
02:42Kita berbeda agama.
02:45Kita berbeda latar belakang.
02:49Kita berbeda, mungkin ideologi.
02:54Kita berbeda sejarah.
02:59Kita berbeda pengalaman.
03:04Saudara-saudara.
03:05Ada, apalagi profesi.
03:09Ada yang dokter.
03:11Ada yang insinyur sipil.
03:14Ada yang insinyur mesin.
03:18Ada yang insinyur pesawat terbang.
03:20Ada yang ahli arkeologi.
03:25Ada yang ahli antropologi.
03:29Ada yang ahli bahasa.
03:31Ada mantan tentara.
03:34Ada pengusaha.
03:36Berbeda.
03:38Berbeda kita punya latar belakang.
03:40Dan, saudara-saudara, pengalaman kita pasti berbeda.
03:45Tapi, dengan premis tadi.
03:50Dengan anak Indonesia yang cinta tanah airnya.
03:56Saya kira dalam perbedaan ini.
03:59Kita harusnya bisa mencari titik-titik kebersamaan.
04:09Dan, inilah yang saya lihat dari apa yang saya pelajari dari sejarah.
04:20Karena salah satu hobi saya, passion saya adalah sejarah.
04:32Dari apa yang saya belajar dari sejarah ribuan tahun.
04:38Bangsa-bangsa yang elitnya bisa kerjasama.
04:44Itu bangsa itu yang bangkit.
04:50Bangsa yang elitnya selalu tidak bisa kerjasama.
04:55Bangsa itu tidak bisa mencapai.
04:59Potensinya.
05:00Ini sejarah mengajarkan.
05:02Sampai hari ini.
05:06Sampai hari ini, marilah kita lihat.
05:10Lihat di berita.
05:13Apa yang terjadi di Ukraine.
05:15Di Eropa.
05:20Kalau kita lihat.
05:22Rasnya sama.
05:24Sukunya sama.
05:27Agamanya juga banyak yang sama.
05:30Perangnya itu sampai puluhan ribu korban mati tiap bulan.
05:40Dan perang di Ukraine sudah lebih lama dari perang dunia kedua.
05:47Perang di Ukraine sudah lebih lama dari perang dunia kedua.
05:52Kita lihat apa yang terjadi di Gaza.
05:55Kita lihat apa yang terjadi di Gaza, di Palestina, di Lebanon.
05:5990% dari Gaza rata.
06:02Mungkin mungkin sama akibatnya dengan Hiroshima atau Nagasaki.
06:13Libanon sekarang seperti itu.
06:16Iran.
06:19Perang.
06:21Perang.
06:22Perang.
06:27Perang di Afghanistan, perang di Balukistan, perang di Myanmar.
06:34Semakin dekat.
06:35Semakin dekat.
06:35Perang antara Wang Thai dan Kamboja.
06:40Segitu.
06:41Segitu.
06:42Segitu.
06:43Di tengah ini semua.
06:46Kuncinya adalah antar lain elit yang tidak bisa kerjasama.
06:57Jadi saudara-saudara, bernegara saya kira kita perlu untuk renungkan masalah bernegara.
07:11Saya kira saudara-saudara, ini adalah kata-kata pembukaan saya.
07:16Saya selalu berusaha dengan persuasi, saya sebagai pemimpin politik, saya dipilih secara demokratis.
07:30Saya maju ke rakyat, lima kali minta mandat, empat kali tidak diberi mandat.
07:44Empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat.
08:01Terima kasih.
Komentar