Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 12 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Perdebatan mengenai tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan peran Badan Gizi Nasional (BGN) mengemuka.

Dalam kesempatan itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menyoroti keterlibatan TNI dan Polri dalam pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"DPR bisa bertanya kenapa polisi bisa punya SPPG, kenapa TNI bisa punya SPPG. Itu harus dipertanyakan karena kewenangannya tidak sampai ke sana," kata Ray.

Ia menilai pengawasan terhadap persoalan tersebut kurang mendapat perhatian.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi NasDem Irma Chaniago membantah anggapan bahwa DPR tidak melakukan fungsi pengawasan

"BGN menyampaikan bahwa siapa pun boleh punya dapur, termasuk anggota DPR atau pihak lain, sepanjang tidak untuk jualan," ujar Irma.

Dalam diskusi tersebut, Irma juga mengungkapkan bahwa BGN pernah tidak memenuhi panggilan DPR.

Menurutnya, kondisi itu menimbulkan kesan bahwa ada pihak-pihak di BGN yang merasa memiliki posisi sangat kuat sehingga tidak mengindahkan pengawasan legislatif.

Pernyataan itu kemudian ditanggapi Ray Rangkuti yang mempertanyakan sumber kekuatan tersebut.

"Kalau ada pejabat yang merasa sakti, apakah itu bisa terjadi tanpa ada sesuatu di belakangnya? Itu yang penting ditelusuri," ujarnya.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Aqshal

Baca Juga Kemenkum Gelar Program 'Pasti Ada Solusi', Tampung Aduan & Masukan soal Kekayaan Intelektual di https://www.kompas.tv/nasional/674600/kemenkum-gelar-program-pasti-ada-solusi-tampung-aduan-masukan-soal-kekayaan-intelektual



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/674607/ray-rangkuti-soroti-kesaktian-pejabat-bgn-irma-chaniago-dpr-sudah-berkali-kali-mengkritik
Transkrip
00:00Sebetulnya menurut saya DPR bisa bertanya, kenapa polisi bisa punya SPPG?
00:05Kenapa TNI bisa punya SPPG?
00:08Itu kan harus bertanya, karena polisi dan TNI tidak, kewenangannya tidak sampai ke sana loh.
00:15Saya menjawab karena tadi dia masuk di klaster pertama, pemerintah, kementerian, dan lembaga.
00:21Boleh, dia.
00:22Artinya, Bung, artinya Anda sedang tidak melakukan kritisi terhadap repres itu.
00:27Itu yang mestinya dikritisi saja dari awal.
00:30Eh, yang namanya dengan klaster pemerintah ini tidak boleh dong masuk TNI.
00:35Yang namanya klaster pemerintah ini tidak boleh dong masuk polisi.
00:38Kira-kira gitu loh.
00:39Bahkan dalam bayangan saya, pemerintah itu yang tidak punya SPPG gitu.
00:44Bang, sebentar, sedikit saya tambahin, karena itu di mitra komisi saya, saya tahu persis.
00:48Jadi begini, ketika kami RDP dengan BGN, BGN menyampaikan, Pak Dada menyampaikan bahwa
00:54siapapun boleh punya dapur.
00:57Jelas, masih ada catetannya, pasti ada notulensinya di Komisi 9.
01:01Siapapun boleh, silahkan.
01:03Mau ongota DPR, mau siapapun boleh, sepanjang tidak jualan titik.
01:09Itu pernah disampaikan, Pak Dada, kepada kami.
01:11Yang penting tidak jualan titik.
01:14Kita, kami di Komisi 9, mendukung penuh program presiden dengan pengawalan.
01:20Saya mati, chat saya sama Sonis, saya bacakan bisa nanti di sini.
01:25Apa yang kami lakukan.
01:27Saya melakukan kritisi.
01:29Bahkan ketika beliau, Pak Dada, masih di Arab, di Mekah,
01:35saya juga melakukan kritisi ketika misalnya Pak Dada bilang,
01:38mau buka SPPG di Arab, saya yang bicara di detik.
01:41Silahkan cek.
01:42Jadi, tidak benar juga ketika misalnya anggota DPR tidak melakukan kritisi.
01:47Tidak, kami melakukan kritisi.
01:49Tetapi memang, ya sama-sama kita tahu.
01:53Karena terlalu, terlalu, apa ya, terlalu sakti gitu ya,
01:58dipanggil juga kadang-kadang tidak datang gitu ya,
02:01kita juga tidak bisa ngapa-ngapain.
02:03Jadi, jangan juga sekarang, nama-nama itu ditulis ya,
02:09seolah mengaburkan apa yang sebetulnya terjadi di BGN.
02:13Jangan juga, ini kan terjadi pengalihan isu nih.
02:17Ya, makanya pertanyaannya.
02:18Menjadi isu yang konkret, menjadi isu yang dibuat rame-ramean,
02:24seperti Abang Jasma.
02:25Tidak rame-rame, kalau menurut saya, kalau bisa ditindaklanjuti oleh kejaksaan,
02:29kan kenapa rame-rame?
02:30Rame-rame itu kalau tidak serius ditindaklanjuti, itu satu.
02:35Yang kedua, pertanyaan saya, ada tadi Ibu Irma mengatakan,
02:38ini orang seperti sakti.
02:41Kan artinya, direktur, ketua, atau apalah namanya di BGN itu,
02:47bisa merasa sakti, emang bisa kalau tidak ada sesuatu di belakang dia?
02:53Ya, tidak bisa Bang.
02:54Nah, itu dia.
02:55Tidak bisa.
02:56Bahkan kami juga memanggil BGN, pernah kami panggil juga,
03:01mereka juga tidak mau datang.
03:02Kalau dibilang itu tidak, misalnya ada yang bilang tidak, silakan cek.
03:07Undangannya ada kok.
03:09Jadi tidak bisa juga kemudian, makanya saya bilang,
03:13jangan mengaburkan masalah utamanya.
03:16Dilarikan ke masalah politik, jangan.
03:18Masalah utamanya dulu diselesaikan.
03:20Kan seperti itu.
03:22Kita ini mau menegakkan hukum, betul.
03:26Kalau soal tata kelola,
03:29tata kelola yang kami sampaikan kepada BGN itu sudah clear.
03:34Di RDP kami juga selalu menyampaikan bagaimana tata kelola,
03:38blueprint-nya, semuanya sudah kita bahas.
03:41Betul.
03:42Masalahnya tidak dilakukan.
03:44Betul.
03:45Karena disebutkan mereka merasa sakti.
03:47Kan saya pikir sakti.
03:48Itu siapa yang salah gitu kalau kemudian kami terbawa-bawa terseret-seret ke sana kemari.
03:53Pertanyaannya adalah siapa yang backup tertentu.
03:55Sehingga orang-orang ini merasa sakti.
03:56Nah itu penting ditelusuri itu.
03:59Dan dalam rangka itulah kehendak dari Pak Soni untuk menjadi justice kolaboratif itu menjadi penting.
04:05Dan oleh saya kira, Pak Kejaksaan, jangan anggap sepele, jangan dulu buat perseratan.
04:10Oh ini pelaku utama apa enggak?
04:13Informasi-informasi yang disampaikan oleh Pak Soni,
04:16kalau itu betul dilakukan, boleh jadi akan mengungkap apa yang terjadi di belakang persatian mereka.
04:21Soal orang sakti nanti dijawab sama Mas Krisna.
04:23Sekarang saya Mas Guntur dulu, udah diem mulu ya tadi soalnya.
Komentar

Dianjurkan