00:00Sebetulnya menurut saya DPR bisa bertanya, kenapa polisi bisa punya SPPG?
00:05Kenapa TNI bisa punya SPPG?
00:08Itu kan harus bertanya, karena polisi dan TNI tidak, kewenangannya tidak sampai ke sana loh.
00:15Saya menjawab karena tadi dia masuk di klaster pertama, pemerintah, kementerian, dan lembaga.
00:21Boleh, dia.
00:22Artinya, Bung, artinya Anda sedang tidak melakukan kritisi terhadap repres itu.
00:27Itu yang mestinya dikritisi saja dari awal.
00:30Eh, yang namanya dengan klaster pemerintah ini tidak boleh dong masuk TNI.
00:35Yang namanya klaster pemerintah ini tidak boleh dong masuk polisi.
00:38Kira-kira gitu loh.
00:39Bahkan dalam bayangan saya, pemerintah itu yang tidak punya SPPG gitu.
00:44Bang, sebentar, sedikit saya tambahin, karena itu di mitra komisi saya, saya tahu persis.
00:48Jadi begini, ketika kami RDP dengan BGN, BGN menyampaikan, Pak Dada menyampaikan bahwa
00:54siapapun boleh punya dapur.
00:57Jelas, masih ada catetannya, pasti ada notulensinya di Komisi 9.
01:01Siapapun boleh, silahkan.
01:03Mau ongota DPR, mau siapapun boleh, sepanjang tidak jualan titik.
01:09Itu pernah disampaikan, Pak Dada, kepada kami.
01:11Yang penting tidak jualan titik.
01:14Kita, kami di Komisi 9, mendukung penuh program presiden dengan pengawalan.
01:20Saya mati, chat saya sama Sonis, saya bacakan bisa nanti di sini.
01:25Apa yang kami lakukan.
01:27Saya melakukan kritisi.
01:29Bahkan ketika beliau, Pak Dada, masih di Arab, di Mekah,
01:35saya juga melakukan kritisi ketika misalnya Pak Dada bilang,
01:38mau buka SPPG di Arab, saya yang bicara di detik.
01:41Silahkan cek.
01:42Jadi, tidak benar juga ketika misalnya anggota DPR tidak melakukan kritisi.
01:47Tidak, kami melakukan kritisi.
01:49Tetapi memang, ya sama-sama kita tahu.
01:53Karena terlalu, terlalu, apa ya, terlalu sakti gitu ya,
01:58dipanggil juga kadang-kadang tidak datang gitu ya,
02:01kita juga tidak bisa ngapa-ngapain.
02:03Jadi, jangan juga sekarang, nama-nama itu ditulis ya,
02:09seolah mengaburkan apa yang sebetulnya terjadi di BGN.
02:13Jangan juga, ini kan terjadi pengalihan isu nih.
02:17Ya, makanya pertanyaannya.
02:18Menjadi isu yang konkret, menjadi isu yang dibuat rame-ramean,
02:24seperti Abang Jasma.
02:25Tidak rame-rame, kalau menurut saya, kalau bisa ditindaklanjuti oleh kejaksaan,
02:29kan kenapa rame-rame?
02:30Rame-rame itu kalau tidak serius ditindaklanjuti, itu satu.
02:35Yang kedua, pertanyaan saya, ada tadi Ibu Irma mengatakan,
02:38ini orang seperti sakti.
02:41Kan artinya, direktur, ketua, atau apalah namanya di BGN itu,
02:47bisa merasa sakti, emang bisa kalau tidak ada sesuatu di belakang dia?
02:53Ya, tidak bisa Bang.
02:54Nah, itu dia.
02:55Tidak bisa.
02:56Bahkan kami juga memanggil BGN, pernah kami panggil juga,
03:01mereka juga tidak mau datang.
03:02Kalau dibilang itu tidak, misalnya ada yang bilang tidak, silakan cek.
03:07Undangannya ada kok.
03:09Jadi tidak bisa juga kemudian, makanya saya bilang,
03:13jangan mengaburkan masalah utamanya.
03:16Dilarikan ke masalah politik, jangan.
03:18Masalah utamanya dulu diselesaikan.
03:20Kan seperti itu.
03:22Kita ini mau menegakkan hukum, betul.
03:26Kalau soal tata kelola,
03:29tata kelola yang kami sampaikan kepada BGN itu sudah clear.
03:34Di RDP kami juga selalu menyampaikan bagaimana tata kelola,
03:38blueprint-nya, semuanya sudah kita bahas.
03:41Betul.
03:42Masalahnya tidak dilakukan.
03:44Betul.
03:45Karena disebutkan mereka merasa sakti.
03:47Kan saya pikir sakti.
03:48Itu siapa yang salah gitu kalau kemudian kami terbawa-bawa terseret-seret ke sana kemari.
03:53Pertanyaannya adalah siapa yang backup tertentu.
03:55Sehingga orang-orang ini merasa sakti.
03:56Nah itu penting ditelusuri itu.
03:59Dan dalam rangka itulah kehendak dari Pak Soni untuk menjadi justice kolaboratif itu menjadi penting.
04:05Dan oleh saya kira, Pak Kejaksaan, jangan anggap sepele, jangan dulu buat perseratan.
04:10Oh ini pelaku utama apa enggak?
04:13Informasi-informasi yang disampaikan oleh Pak Soni,
04:16kalau itu betul dilakukan, boleh jadi akan mengungkap apa yang terjadi di belakang persatian mereka.
04:21Soal orang sakti nanti dijawab sama Mas Krisna.
04:23Sekarang saya Mas Guntur dulu, udah diem mulu ya tadi soalnya.
Komentar