Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Isu pangan bukan hanya soal produksi dan harga, tetapi juga kesejahteraan petani dan nelayan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Melihat kondisi tersebut, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menggelar "Bekal Mapan" di Taman Ismail Marzuki. Kegiatan ini menghadirkan diskusi, pameran foto, hingga pemutaran film dokumenter Besok Kita Nanem Lagiyang menyoroti kehidupan petani di Jawa Barat.

Kepala Peneliti CIPS, Aditya Alta, menilai kebijakan pemerintah perlu lebih memperhatikan kebutuhan petani, tidak hanya melalui pupuk murah, tetapi juga dukungan peralatan dan infrastruktur.

#pangan #cips #bekalmapan

Baca Juga Dirut PLN Janji Evaluasi Sistem Kelistrikan Sumatera Usai Listrik Padam Massal di https://www.kompas.tv/nasional/670565/dirut-pln-janji-evaluasi-sistem-kelistrikan-sumatera-usai-listrik-padam-massal



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/670570/cips-soroti-minimnya-dukungan-infrastruktur-untuk-petani-lewat-film-sapa-pagi
Transkrip
00:00Isu pangan bukan sekedar bicara tentang produksi dan harga,
00:04tapi juga kesejahteraan petani dan juga nelayan.
00:06Meski punya peran strategis,
00:09nyatanya pelaku sektor pangan kerap menemui keterbatasan akses.
00:17Sistem pangan di Indonesia masih menemui beragam tantangan.
00:20Bagi sejumlah pelaku di sektor pangan seperti pertanian dan perikanan,
00:24setiap proses yang dilalui dianggap masih perlu sejumlah perbaikan.
00:27Melihat kondisi ini, Center for Indonesian Policy Studies atau CIPS
00:33menggelar Bekal Mapan atau Bersama Kawal Masa Depan Pangan
00:37sebagai produk dari inisiasi Mapan alias Masa Depan Pangan.
00:43Bertempat di Taman Ispail Marzuki, Jakarta,
00:46digelar diskusi dan berbagai aktivitas seperti pameran foto
00:49hingga pemutaran film dokumenter berjudul Besok Kita Nanem Lagi
00:53yang memotret realita dan tantangan kehidupan petani di wilayah Jawa Barat.
00:58Kepala Peneliti CIPS, Aditya Alta, menyebut
01:02apa yang dilakukan pemerintah harus lebih sensitif terhadap kebutuhan petani.
01:06Seperti misalnya, bantuan yang diberikan bukan sebatas pada pupuk murah,
01:10tapi bisa juga keperalatan dan infrastruktur yang kerap memakan biaya besar.
01:15berbicara soal subsidi pupuk itu bukan berarti bahwa kita tidak butuh gitu kan pupuk-pupuk murah ya.
01:21Jelas gitu kan pupuk yang terjangkau kita semua butuh.
01:25Nah, namun sekarang itu kan persyaratan misalnya ya,
01:28persyaratan penerimaan pupuk itu adalah di bawah 2 hektare.
01:32Nah, apakah, salah satu pertanyaan misalnya,
01:35apakah yang di luar 2 hektare semuanya itu tidak punya
01:39ekonomis of scale yang memungkinkan dia untuk memperoleh pupuk di pasar bebas misalnya.
01:46Karena kita melihat misalnya saja rata-rata luas lahat pertanyaan itu kan
01:50misalkan sensus terakhir 0,5 hektare gitu,
01:53sekitar 90 persen mungkin 0,5 hektare gitu kan.
01:57Nah, apakah yang sampai 2 hektare seriogianya diberikan juga gitu.
02:02Karena kalau tidak, berarti kan kita punya saving tuh.
02:04Kita punya dana lebihan yang bisa kita alirkan ke tempat lain.
02:08Nah, mungkin kalau saya jadi pembuat kebijakan
02:11dan ada yang bisa saya koprek-koprek,
02:12itu tuh kira-kira bisa nggak sih ini dihemat masukin kemana,
02:17mungkin jadi bisa investasi di peralatan atau di infrastrukturnya misalnya.
02:23Staff Ali Menteri Bidang Manajemen Konektivitas Kemenko Bidang Pangan,
02:27Prayudis Syamsuri dalam diskusi mengatakan,
02:30saat ini pemerintah berupaya ada generasi yang seimbang
02:33dibarengi dengan kemudahan akses teknologi.
02:36Harapannya ke depan, petani bisa lebih modern
02:39dan memiliki harapan atas hidup yang lebih baik.
02:42Artinya bahwa semakin dekat pemerintah ini terhadap masyarakatnya,
02:47termasuk di sektor pertanian ini dan pertaniannya.
02:51Oleh karena itu, bisa kita katakan bahwa sehari-hari
02:56teman-teman itu didampingi juga oleh penyuluh,
02:59sebagian-bagian dari wakil dari pemerintah kita.
03:04Nah, apa yang dibutuhkan oleh petani kita?
03:07Tentu adalah pendampingan, kemudian pelatihan-pelatihan,
03:11harapan kita bahwa kita semakin menjadikan pertanian ini
03:16menjadi usaha yang presisi.
03:19Presisi itu apa?
03:21Presisi itu artinya bahwa
03:22kalau kebutuhan pupuknya per kilogram di lahan tersebut
03:29hanya butuh 200 kilo,
03:32tidak perlu membeli sampai 250 kilo.
03:35Dua petani dari generasi berbeda,
03:37Sardi dan Rian dalam film dokumenter
03:39Besok Kita Nanam Lagi, juga angkat bicara.
03:42Rian misalnya, menjadi petani beras organik di Karawang
03:45sejak 2024, tetap optimis.
03:48Bagi Rian misalnya, tingginya biaya produksi
03:50dan pasar yang terbatas harus diimbangi dengan
03:52kreativitas berjualan lewat daring
03:53seperti yang dilakukan, sehingga hasil panennya bisa terserap.
03:57Sementara Sardi, yang sudah bertani sejak tahun 90-an,
04:01percaya bisa terus maju dan hidup
04:02menjadi petani yang berkecukupan.
04:05Petani itu untuk hajat hidup orang banyak.
04:10Bahkan tadi kata Bapak Sekarang sampaikan,
04:13selagi masih ada orang hidup,
04:16petani akan tetap berjalan.
04:18Yang selanjutnya, tadi saya sampaikan bahwa
04:21petani itu sosok manusia tangguh.
04:27Gagal panen, tanam lagi.
04:30Bahkan krisis moneter, saya terus saya sampaikan,
04:3481, 90 perang teluk, 98,
04:39perusahaan kolek,
04:42petani malah maju.
04:44Bagian yang tertarik melihat peran orang-orang
04:46di balik tiap suapan makanan,
04:48acara bekal mapan,
04:49masih digelar hingga 23 Mei 2026.
04:52Pengunjung diharapkan mendapat pengalaman
04:55menarik akan pentingnya sistem pangan yang terbuka,
04:57inklusif, dan mendukung kesejahteraan petani
04:59dan layan Indonesia.
Komentar

Dianjurkan