Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 menit yang lalu
MALANG, KOMPAS.TV - Di sentra industri tempe Sanan Kota Malang naiknya harga bahan baku tempe yakni kedelai impor sangat berpengaruh terhadap kondisi perajin tempe. Naiknya harga kedelai impor akhir akhir ini dirasakan perajin tempe cukup memberatkan.



Berbagai macam cara dilakukan oleh perajin tempe agar tetap bertahan. Ada yang mengurangi ukuran tempe namun ada juga yang memilih tetap dengan ukuran normal. Seperti Wiji Astuti, salah satu perajin tempe yang memilih tidak mengurangi ukuran tempe dan tidak menaikkan harga jual tempe.



Namun dengan cara ini Wiji harus kehilangan laba hingga 50 persen. Selain harga kedelai yang saat ini Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per kilogram, perajin tempe seperti Wiji juga harus menanggung kenaikan harga plastik pembungkus yang sebelumnya Rp 19.000 per rol kini naik menjadi Rp 30.000 per rol.



"Kita nggak bisa hitung-hituangan secara ekonomi, kita pasrah pokoknya setiap hari bisa jalan, tetap produksi dengan mengurangi laba." Kata Wiji.



Perajin tempe seperti Wiji saat ini hanya bisa pasrah dengan kondisi ekonomi yang ia hadapi. Namun Wiji masih berharap pemerintah bisa menurunkan harga bahan baku tempe dan plastik agar perajin tempe seperti dirinya bisa terus berproduksi.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/670230/harga-kedelai-mahal-kondisi-perajin-tempe-semakin-sulit
Transkrip
00:00Di sentra industri tempe sanang, kota Malang naiknya harga bahan baku tempe,
00:06yakni kedelai impor sangat berpengaruh terhadap kondisi perajin tempe.
00:11Naiknya harga kedelai impor akhir-akhir ini dirasakan perajin tempe cukup memberatkan.
00:17Berbagai macam cara dilakukan oleh perajin tempe agar tetap bertahan.
00:21Ada yang mengurangi ukuran tempe, namun ada juga yang memilih tetap dengan ukuran normal seperti sebelumnya.
00:28Seperti Wiji Astuti, salah satu perajin tempe yang memilih tidak mengurangi ukuran tempe dan tidak menaikkan harga jual tempe.
00:36Namun dengan cara ini, Wiji harus kehilangan laba hingga 50%.
00:41Selain harga kedelai yang saat ini Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram,
00:47perajin tempe seperti Wiji juga harus menanggung kenaikan harga plastik pembungkus,
00:53yang sebelumnya Rp19.000 perol, kini naik menjadi Rp30.000 perol.
01:01Kita tidak bisa hitung-hitungan secara ekonomi, saya hanya jenis pasro sama yang kuasa,
01:07tapi tiap hari bisa jalan.
01:10Jadi tetap produksi?
01:12Tetap produksi dengan mengurangi laba tadi.
01:17Ukurannya tidak ada yang dikurangi?
01:20Untuk sementara saya tidak, karena nanti pengaruh juga sama konsumen.
01:23Kalau saya kurangi sedikit, tapi dengan harga yang sama, nanti ya konsumennya lari.
01:32Perajin tempe seperti Wiji saat ini hanya bisa pasrah dengan kondisi ekonomi yang ia hadapi.
01:38Namun, Wiji masih berharap pemerintah bisa menurunkan harga bahan baku tempe dan plastik
01:44agar perajin tempe seperti dirinya bisa terus berproduksi.
01:49Dedy Prasetyo, Kompas TV Malang, Jawa Timur.
01:54Kompas TV Malang, Jawa Timur.
Komentar

Dianjurkan