00:00Di sentra industri tempe sanang, kota Malang naiknya harga bahan baku tempe,
00:06yakni kedelai impor sangat berpengaruh terhadap kondisi perajin tempe.
00:11Naiknya harga kedelai impor akhir-akhir ini dirasakan perajin tempe cukup memberatkan.
00:17Berbagai macam cara dilakukan oleh perajin tempe agar tetap bertahan.
00:21Ada yang mengurangi ukuran tempe, namun ada juga yang memilih tetap dengan ukuran normal seperti sebelumnya.
00:28Seperti Wiji Astuti, salah satu perajin tempe yang memilih tidak mengurangi ukuran tempe dan tidak menaikkan harga jual tempe.
00:36Namun dengan cara ini, Wiji harus kehilangan laba hingga 50%.
00:41Selain harga kedelai yang saat ini Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram,
00:47perajin tempe seperti Wiji juga harus menanggung kenaikan harga plastik pembungkus,
00:53yang sebelumnya Rp19.000 perol, kini naik menjadi Rp30.000 perol.
01:01Kita tidak bisa hitung-hitungan secara ekonomi, saya hanya jenis pasro sama yang kuasa,
01:07tapi tiap hari bisa jalan.
01:10Jadi tetap produksi?
01:12Tetap produksi dengan mengurangi laba tadi.
01:17Ukurannya tidak ada yang dikurangi?
01:20Untuk sementara saya tidak, karena nanti pengaruh juga sama konsumen.
01:23Kalau saya kurangi sedikit, tapi dengan harga yang sama, nanti ya konsumennya lari.
01:32Perajin tempe seperti Wiji saat ini hanya bisa pasrah dengan kondisi ekonomi yang ia hadapi.
01:38Namun, Wiji masih berharap pemerintah bisa menurunkan harga bahan baku tempe dan plastik
01:44agar perajin tempe seperti dirinya bisa terus berproduksi.
01:49Dedy Prasetyo, Kompas TV Malang, Jawa Timur.
01:54Kompas TV Malang, Jawa Timur.
Komentar