Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Pemerintah AS memastikan konflik dengan Iran tidak akan menjadi perang tanpa akhir. Namun, Washington meminta Iran tunduk pada kesepakatan damai atau kembali menghadapi operasi militer dari AS.

Di tengah ancaman tersebut, Iran tampaknya siap menghadapi tekanan dari AS. Teheran menggelar parade militer yang dipadati warga.

Tiga unit drone jenis Shahed-136, drone penyerang tak berawak buatan Iran, dibawa melintasi kerumunan sebagai simbol kesiapan tempur dan ketahanan nasional.

Kehadiran fisik drone militer itu juga diklaim sebagai pesan keras kepada pihak asing bahwa setiap upaya pelanggaran kedaulatan akan mendapat perlawanan total dari Iran.

Selain itu, kantor berita Iran, Fars News, merilis rekaman saat Iran menggelar pelatihan militer kepada warga sipil dan relawan yang tergabung dalam gerakan kemasyarakatan.

Pelatihan tersebut berfokus pada penguasaan taktis senjata pertahanan udara portabel buatan dalam negeri. Pelatihan massal yang digelar di area publik itu bertujuan membekali masyarakat sipil untuk menghadapi skenario infiltrasi udara.

Iran bersama Oman sedang merancang mekanisme baru yang mengatur transit melalui Selat Hormuz.

Di lain pihak, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) terus menjalankan blokade maritim terhadap Iran.

CENTCOM mengklaim sebanyak 89 kapal komersial yang terkait dengan Iran telah dicegat dan dialihkan.

Iran seolah dipaksa Amerika Serikat untuk menyetujui kesepakatan damai demi menghentikan perang. Namun, Iran juga terus menyiapkan militernya jika Amerika Serikat kembali memulai serangan.

Apakah perang belum akan berakhir, terlebih solusi terkait pembukaan Selat Hormuz juga belum menemukan titik terang?

Kita bahas bersama praktisi pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan untuk Kedaulatan NKRI (KERIS), Adrianus Prima dan pakar hubungan internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah.

#iran #as #selathormuz #perang #timurtengah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670131/full-praktisi-dan-pakar-hi-soal-iran-siapkan-strategi-hingga-alat-tempur-baru-hadapi-as
Transkrip
00:00Juga belum ada. Kami akan diskusikan bersama dengan dua narasumber kami melalui sambungan daring.
00:06Pertama ada praktisi pertahanan lembaga kajian pertahanan kedaulatan NKRI.
00:11Ada Bung Adrianus Prima dan juga pakar hubungan internasional dari BINUS University.
00:17Ada Mbak Tia Mariatul Kiptia. Selamat pagi Bung Prima dan juga Mbak Tia.
00:26Selamat pagi Mbak Lisi.
00:28Ya, saya ke Bung Prima dulu. Bung Prima, ini kan kalau kita lihat ada informasi terbaru dari Trump yang bilang
00:34negosiasi Iran ini berada di ambang batas.
00:37Apakah Anda memiliki kepercayaan penuh terkait dengan pernyataan Trump?
00:41Kalau memang Amerika Serikat akan kembali memulai serangan?
00:46Ya, memang kita sudah memasuki hari ke-82 ya dan kita juga belum melihat ada simpul negosiasi.
00:55Meskipun tadi kemarin ya, itu Presiden Trump melakukan telepon dengan Perdana Menteri Israel.
01:07Kemudian di telepon itu, setelah telepon dia melakukan konferensi pers menyatakan bahwa perundingannya sebentar lagi akan disepakati.
01:15Dengan secara umum akan dilanjutkan dengan negosiasi untuk poin-poin tertentu seperti masalah pengayaan nonglir Iran ya.
01:28Itu akan dibahas secara terpisah.
01:30Nah, cuman memang kita masih menunggu langkah konkret ya.
01:33Apalagi kita ketahui bersama bahwa Amerika masih secara aktif melakukan blokade di Selat Hormuz.
01:41Jadi kan sekarang ini kan malah Amerika yang lebih aktif.
01:44Sedangkan di sisi lain, Iran sendiri sudah akan menerapkan resim, ini ya, otoritas pengaturan Selat Hormuz ya, PGSA itu.
01:56Jadi mereka sudah seperti menyiapkan jalan untuk bagi kapal-kapal dapat melalui Selat Hormuz.
02:04Meskipun ada banyak yang bilang ini tidak sesuai dengan UNCLOS.
02:08Tapi saat ini kita ketahui bersama malah yang lebih ketat dalam menutup Selat Hormuz ini adalah Amerika.
02:15Jadi memang kita masih menunggu sinyal-sinyal yang lebih konkret ya.
02:18Nah, apalagi Presiden Iran juga menyatakan bahwa kita masih, Iran masih membuka jalan untuk democratic solution.
02:28Sedangkan tentu saja kita juga melihat bahwa baik Iran dan Amerika pasti tentu saja memanfaatkan masa kejahatan senjata ini untuk
02:36mempersiapkan diri jika memang perang harus berlanjut.
02:40Oke, kalau saya bertanya kepada Mbak Tia, Mbak Tia, kalau dari perspektif Anda, apa strategi yang saat ini tengah dimainkan
02:47oleh Amerika Serikat untuk kemudian mengatakan kembali atau side war kembali kalau Amerika Serikat akan memulai kembali serangan?
02:57Tapi di sisi lain kita melihat bagaimana pertemuan Putin dan juga Presiden Xi Jinping usai Trump bertemu dengan Presiden Tiongkok.
03:07Apa yang Anda baca dari sini, Mbak Tia?
03:10Sebetulnya kan harapan kita itu ketika Trump bertemu dengan Jinping itu kan ada satu solusi ya untuk Iran ini.
03:16Meskipun dalam pembicaraan mereka berdua kan banyak poin-poin yang didiskusikan.
03:20Salah satunya adalah tarif dagang antara China-Amerika Serikat.
03:23Jadi China dalam hal ini kita bisa melihat Mbak Adisti ternyata tetap masih mementingkan kepentingan nasionalnya dibanding diskusi mendalam tentang
03:32Iran.
03:32Jadi Iran itu satu poin saja.
03:34Ini terbukti ketika selesai pembicaraan atau pertemuan kedua belah pihak, Trump pulang tuh mukanya itu asem ya Mbak Adisti.
03:44Artinya memang tidak ada solusi untuk Iran ini.
03:47Dan kita melihat bagaimana setelah pertemuan tersebut, Selat Hormuz juga tetap di blokado oleh pihak Amerika Serikat.
03:53Amerika Serikat malah mengeluarkan statement akan menyerang Iran.
03:56Artinya memang pertemuan Trump dengan Jinping itu tidak membuangkan hasil apa-apa.
04:00Dilanjutkan sekarang dengan Putin dengan China.
04:03Jadi saya melihat tiga negara ini, Iran, Rusia, dan China itu masih menjadi kiasi permanen.
04:10Belum ada tanda-tanda misalnya China mampu dibujuk oleh Trump, tidak ada.
04:15Ternyata itu malah mereka sekarang bertemu kembali China dengan Rusia, dengan Putin.
04:21Dan salah satunya saya pikir adalah tetap untuk membicarakan masalah Iran ini.
04:25Dan tentu ini memicu emosi dari pihak Trump, sehingga menyatakan bahwa kalau misalnya kita tidak deal terus, kita akan menyerang
04:34Iran.
04:34Nah Iran memang kan tipenya defense ya.
04:37Dia tidak akan menyerah begitu saja.
04:40Makanya keluar statement, kalau begitu bahkan ada berita terbaru Mbak Adisti, kita akan bikin teks untuk pipeline internet Google gitu
04:48ya.
04:49Atau milik perusahaan Amerika Serikat di bawah Selat Hormuz.
04:51Wah ini ngeri nih, makin panjang nih urusan begitu kan.
04:53Jadi terus Iran akan melakukan defense, akan melakukan beberapa polisi yang kira-kira kalau Amerika tekan, dia tekan balik.
05:00Kalau Amerika akan menyerang, dia akan mengeluarkan statement bahwa kita sudah mempersiapkan beberapa alat tempur yang memang itu terbaru dan
05:08canggih dan belum bisa dideteksi oleh pihak Amerika Serikat.
05:12Oke, itu artinya kalau dari perspektif Anda masih jauh dari kata sepakat nanti akan ada negosiasi lanjutan setelah ini.
05:22Apalagi dengan sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara tegas mengatakan akan kembali menyerang Iran.
05:31Iya, harapannya kan tadinya Jinping ya, Jinping itu harapannya akan memberikan solusi.
05:36Tapi ternyata dia tidak bisa ditekan Amerika Serikat, jadi dua-duanya keras kepala nih.
05:40Jadi artinya mentah lagi nih, saya memperkirakan tadinya setelah kembali bertemu Jinping itu Trump itu akan kembali melakukan round 3.
05:49Dan Iran juga bersedia.
05:51Saya pikir Iran sangat bersedia karena mereka juga posisinya secara ekonomi sudah tidak bagus juga Mbak Disti.
05:56Jadi memang harus kembali ke perundingan.
05:58Hanya saja kan belum ada titik temu nih di proposal Iran yang dikirimkan oleh Trump dan yang dikirimkan oleh Iran
06:05ke Trump.
06:05Dan Trump juga belum bisa men-checklist atau men-approve keinginan Iran.
06:09Terutama masalah hormus dan masalah uranium itu berat ya buat kedua negara ini.
06:14Jadi titik temunya belum dapat begitu sehingga untuk kembali ke round 3 agak berat ini Mbak Disti.
06:19Oke ada beberapa poin yang memang masih belum menemukan titik temu soal nuklir ataupun uranium dan juga hormus.
06:28Inilah poin yang kemudian sampai saat ini rasa-rasanya kok ya masih deadlock begitu ya.
06:33Tapi kita melihat begitu ya Bung Adrianus dan juga Mbak Tia.
06:37Iran ini disebut tengah mempelajari proposal baru dari Amerika Serikat.
06:42Apa kesepakatan yang kemudian paling mungkin berpotensi diterima Iran untuk mengakhiri konflik ini?
06:50Kalau tadi Anda mengatakan kalau soal hormus dan juga soal uranium atau nuklir ini kok rasa-rasanya agak berat ya?
07:00Mbak Tia.
07:01Ya saya melihatnya begini.
07:03Ada beberapa poin yang mungkin bisa di approve oleh Amerika Serikat dan juga tentu ini proposal dari Iran ya.
07:09Pertama mengenai perbaikan infrastruktur Iran yang sudah dirusak Amerika Serikat.
07:13Berapa bilion itu?
07:15Ada listnya saya tapi lupa persisnya Mbak Adisti.
07:18Itu Amerika Serikat saya pikir itu siap kalau berkaitan dengan uang untuk mengganti kerusakan perang itu bisa di approve oleh
07:24Amerika Serikat.
07:25Yang kedua mengenai pelonggaran sanksi ekonomi itu juga bisa di approve begitu ya.
07:31Nah ini yang dari Amerika Serikat ke Irannya nih.
07:34Saya tidak yakin Iran akan bisa meng-approve begitu ya.
07:38Salah satunya adalah mengenai pengayaan uranium yang Amerika Serikat minta 20, Iran minta 5.
07:43Itu agak jauh ya Mbak Adisti untuk bisa ketemunya begitu ya.
07:46Kecuali kalau kira-kira naik sedikit Amerika juga turun begitu.
07:50Mungkin bisa bertemu kedua poin ini.
07:53Kemudian yang kedua adalah mengenai front.
07:55Front Iran itu juga kan diminta Amerika Serikat untuk Iran membebaskan diri dari front-front yang ada di Timur Tengah.
08:01Terutama yang berkaitan dengan membahayakan supernitinya Israel.
08:05Apakah Iran akan meng-approve itu?
08:07Nah itu juga agak berat Mbak Adisti.
08:09Kemudian yang ketiga masalah korpuskan Iran pasti ingin kembali bahwa itu merupakan bagian dari teritori Iran.
08:13Nah itu juga akan di-approve begitu ya oleh Iran.
08:17Karena saya pikir Amerika juga mulai ingin involve atau ingin intervention terhadap Selat Hormuz ini.
08:26Jadi dua-duanya mengirimkan masing-masing proposal yang cukup berat.
08:30Oke masih cukup berat begitu ya untuk proposal-proposal terutama untuk beberapa poin tertentu begitu ya.
08:38Bung Adrianus kalau benar apa yang dikatakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin kembali menyerang Iran.
08:47Apakah ada pola penyerangan yang berbeda kali ini ketika operasi militer Sledgehammer benar-benar akan dilakukan atau diberlakukan kembali?
09:02Ya Mbak Adisti jadi kita harus sama-sama ketahui ya bahwa beberapa negara teluk setelah masa gencatan sejata ini sudah
09:11mengirimkan notifikasi resmi ke Amerika Serikat
09:15bahwa mereka melarang penggunaan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat yang berada di negara mereka untuk melakukan serangan ofensif ke Iran.
09:25Jadi ada beberapa negara seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan UAE itu sebenarnya sudah menyatakan hal ini.
09:32Nah ini tentu saja akan menjadi hal yang cukup ini ya menantang dari sisi Trump.
09:40Dan kita harus ingat bahwa Trump juga sempat agak marah dengan yang terjadi ini karena ini mengganggu lah proyek freedom
09:50yang dia luncurkan.
09:52Kemudian jadinya saat ini opsi yang dimiliki Amerika Serikat apabila dia ingin melancurkan serangan baru adalah menggunakan rudal-rudal jarak
10:02jauh dari kapal-kapalnya
10:03maupun kalau pesawat tempur opsinya akan sangat terbatas yaitu hanya bisa dari pangkalan-pangkalan yang berada di wilayah Israel.
10:12Nah jadi memang semenjak ditutupnya akses untuk serangan ofensif dari pangkalan-pangkalan yang berada di negara Timur Tengah
10:22Nah itu memang nampaknya Amerika sedikit menggeser, bukan sedikit lagi sih sebenarnya lebih tepatnya menggeser sebagian besar kekuatan ofensif mereka
10:31ke pangkalan-pangkalan yang berada di wilayah Israel.
10:34Jadi yang sebelumnya mereka tidak menempatkan aset dalam jumlah besar di Israel sekarang bisa dilihat ya dari akun-akun OSIN
10:42itu menunjukkan bahwa banyak pesawat-pesawat tempur Amerika itu sekarang berada di Israel.
10:48Nah sedangkan kalau dari kapal induk tentu saja saat ini masih menjadi tantangan tersendiri karena kita sama-sama ketahui bahwa
10:56sekarang hanya ada dua kapal induk yang berada di area operasi
11:01kemudian mereka nampaknya masih cukup berhati-hati jadi menghindari kapal induk ini mendekat kejangkuan rudal-rudanya Iran ya
11:10meskipun memang beberapa kali Iran mengklaim bahwa mereka berhasil menembak tapi ternyata kita belum melihat buktinya ya
11:17tapi nampaknya pihak Angkatan Laut Amerika itu masih cukup berhati-hati jadi memang yang banyak mendekat ke wilayah Selat Hormus
11:27ini adalah kapal-kapal perusaknya atau destroyernya begitu
11:30jadi memang kita akan melihat pergeseran pola serangan ya apalagi kalau saat ini juga tidak ada peningkatan pasukan yang cukup
11:39besar
11:40jadi kalau kami lihat itu mungkin penambahnya tidak signifikan ya dibanding waktu mereka mengirim grup Airborne 82 kemudian mengirim USS
11:51Tripoli itu begitu
11:52oke terakhir Mbak Tia kalau dengan kondisi yang benar-benar akan terjadi Amerika Serikat akan kembali melakukan serangan ofensif begitu
12:02kepada Iran
12:03jadi kapan kita tidak berharap itu terjadi tapi setidaknya dari perspektif Anda puncaknya stabilitas dunia ini bisa terganggu jika memang
12:13ini akan terus berlangsung lama
12:15termasuk juga Selat Hormus yang tidak kunjung dibuka kembali apa yang nanti akan dilakukan oleh dunia dalam hal ini
12:25termasuk juga bagaimana peranan dari Tiongkok serta Rusia
12:30ya harusnya dalam kondisi seperti ini kan ini deadlock ya Mbak Adisti
12:35tidak ada titik temu antara proposal yang dikirimkan Iran juga proposal yang diinginkan oleh Amerika Serikat ini kan tidak bertemu
12:43begitu ya
12:44masing-masing keras kepala untuk mempertahankan keinginannya dan inilah yang membuat deadlock
12:49sehingga kemungkinan akan ada serangan kembali dari pihak Amerika Serikat
12:53bahkan sudah mengganti operasinya ya berarti sudah tiga kali Mbak Adisti
12:57yang terbaru adalah tadi yang Mbak Adisti sampaikan SAS Hammer namanya
13:01jadi memang nanti akan lebih keras lagi justru proyek yang terbaru ini
13:05tapi lagi-lagi saya tegaskan Iran bukan tipe yang menyerah
13:09atau Iran bukan tipe bangsa yang ya sudah diserang berarti menyerah dengan keadaan
13:15dia juga akan meningkatkan kemampuan militernya
13:19meskipun Amerika Serikat sudah menerima ya bahwa angkatan laut Iran sudah habis begitu ya
13:22kekuatannya sudah lemah itu kan klaim sepihak
13:25tapi Iran tidak sebodoh itu ada beberapa senjata yang memang bisa jadi belum dikeluarkan
13:32yang terbaru itu yang pertama
13:33kedua kekuatannya masih melihat di drone begitu ya di kemampuan Iran dalam membuat rudal balistik
13:39itu juga masih menjadi andalan begitu ya bagaimana Iran melakukan defense atau pertahanan dirinya
13:44nah untuk dalam jangka pendeknya itu yang akan terjadi Mbak Adisti ketika deadlock
13:50nah sayangnya dunia internasional harusnya berperan
13:54nah harapan saya itu kemarin itu Cina
13:56tapi ternyata diam juga dan sekarang mereka bertemu berdua nih Putin dengan Cina
13:59kita lihat nanti setelah pertemuan dua negara besar ini ya
14:03apakah mereka akan melakukan action yang memang bisa membantu untuk
14:07bisa mendamaikan
14:09ya ya atau sama saja gitu ya
14:11karena ternyata setelah Cina juga bertemu Trump
14:14ternyata nihil juga
14:15nah sekarang Cina bertemu dengan Putin
14:19mudah-mudahan ada
14:20ya mudah-mudahan ada satu solusi lah untuk keperdamaian
14:23oke kita akan tunggu bagaimana hasil pertemuan antara Presiden Tiongkok
14:27Xi Jinping bersama dengan Presiden Rusia
14:29Vladimir Putin apa hasilnya
14:31apakah nanti akan memberikan dampak positif
14:33terkait dengan perang Amerika Serikat dan juga Iran
14:37untuk bisa kembali ke meja perundingan
14:39dan juga menemukan kata sepakat
14:41terima kasih pakar hubungan internasional
14:42dari BINUS University
14:44ada Mbak Tia Mariatul Kiptia
14:46dan juga ada praktisi pertahanan lembaga kajian pertahanan untuk kedaulatan NKRI
14:52Bung Adrianus Prima juga telah bergabung bersama kami
14:55sehat selalu
14:56Assalamualaikum
14:57selamat pagi
14:57Waalaikumsalam
14:59selamat pagi
Komentar

Dianjurkan