Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV -Iran seolah dipaksa Amerika Serikat untuk setuju dengan kesepakatan damai untuk menghentikan perang. Tapi, Iran juga terus menyiapkan militernya jika AS memulai serangan.

Apakah perang belum akan berakhir? Apalagi, solusi terkait pembukaan Selat Hormuz juga belum ada.

Kita bahas bersama Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Heribertus Jaka Triyana, dan pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi.

#as #iran #tiongkok

Baca Juga Harga Pangan Kamis 21 Mei 2026: Cabai Melonjak Tajam, Daging Sapi Ikut Merangkak Naik di https://www.kompas.tv/ekonomi/670152/harga-pangan-kamis-21-mei-2026-cabai-melonjak-tajam-daging-sapi-ikut-merangkak-naik



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670155/guru-besar-hi-soroti-tujuan-agenda-pertemuan-trump-dan-xi-jinping-ada-transaksional
Transkrip
00:00Sudah kita lanjutkan perbincangan bersama Guru Besar Hukum Internasional
00:03Pakultas Hukum UGM, Eribertus Jakatriana dan juga ada pengamat Timur Tengah,
00:08Hasibullah Satrawi.
00:10Pak Hasibullah, kita sempat terpotong, tadi ada sempat melibaratkan
00:12apa yang tengah dilakukan oleh Amerika Serikat.
00:14Di saat Hormus ada sebuah investasi bodong, bisa dijelaskan lebih lanjut.
00:19Pak Hasibullah.
00:20Ya, saya rasa memang itu kenyataan daripada perang ini,
00:25kalau kita baca dari awal, saya berada pada asumsi dan opini
00:29pendapatan bahwa perang ini adalah diorder, diminta oleh Netanyahu.
00:34Jadi kalau saya anggap perang ini adalah seperti investasi bodong,
00:38itu karena Trump tidak teliti, tidak mengecek secara lebih seksama
00:42proyek dan rencana yang diajukan oleh Netanyahu.
00:46Dan bagi saya adalah dua faktornya di situ,
00:49mungkin Trump terbawa dengan kisah sukses di Venezuela,
00:53sementara Netanyahu terbawa oleh pikiran kisah sukses di Gaza.
00:57Jadi ini adalah Iran yang kesempatan terakhir untuk kemudian
01:01istilahnya menghabisi ancaman dari sumber utamanya.
01:04Karena kalau kita bicara kepentingan Israel,
01:07maka kemudian Iran itu sebagai sumber ancaman
01:09yang sekarang terbuka mungkin untuk dihabisin sekaligus.
01:14Nah persoalannya memang banyak sumber,
01:17banyak laporan makin kesini menunjukkan
01:19betapa dia keliru di dalam membaca rencana-rencana yang ada.
01:23Katakan yang terbaru mas, bagaimana seorang Ahmadinejad,
01:27itu nyoyok time sudah memuat itu,
01:29direncanakan untuk menjadi pengganti daripada rezim baru
01:32yang akan dibuat oleh yang namanya Trump dan Netanyahu
01:36dalam perang ini.
01:38Itu belum ada bantahan itu.
01:39Jadi Ahmadinejad mantan presiden itu
01:42diharapkan nanti bisa menjadi pengganti daripada rezim.
01:45Padahal kita baca Ahmadinejad itu orang juga yang sangat keras.
01:49Sama hanya, coba kita baca di tanggal saya bilang itu
01:54di kurang lebih di hari ke-25 dari perang.
01:56Itu yang saya bilang cara Trump mengerim pertama kali
02:00laju perang ini karena sudah tidak sesuai dengan konsepnya Netanyahu.
02:04Makanya dalam jumpa PES di Florida,
02:06itu kemudian Trump untuk pertama kali menyampaikan
02:09dengan diksi-diksi positif bahwa perang akan segera berakhir,
02:12bahkan ada pemimpin baru yang dikatakan jauh lebih rasional.
02:15Beberapa hari kemudian kita tahu toko itu ternyata adalah Bakir Galibab.
02:19Nah sekarang kita tahu bagaimana Bakir Galibab
02:23yang justru melawan pernyataan-pernyataan keras Trump.
02:26Yang sekali lagi ini yang dinyatakan setelah terbuka.
02:30Bahwa ada kemungkinan di belakang ternyata Bakir Galibab juga
02:33orangnya Trump bisa jadi.
02:35Tapi minimalnya dari pernyataan yang disampaikan terbuka
02:38itu tidak menunjukkan bahwa Bakir Galibab adalah orang yang sesuai dengan kriterianya.
02:43Saya ingin mengatakan itulah yang saya sebut sebagai faktor-faktor
02:48yang akhirnya membuat rencana investasi Netanyahu ini adalah bodoh.
02:53Dan ketika tolong seperti sekarang,
02:56Trump menurut saya dalam dua kebingungan.
02:58Apakah dia akan melakukan penyelamatan dengan menambah modal lebih besar?
03:03Itu artinya dia harus perang lagi.
03:05Tapi betul-betul dia menghitung
03:06kalau dia menyertakan modal lebih besar lagi,
03:09apa yang bisa memastikan ini tidak akan bikin dia tambah bangkrut.
03:12Kalau dikatakan dia serang lagi Iran,
03:16Iran sudah siap menyampaikan berkali-kali
03:19untuk meladani perang yang ada.
03:22Bahkan yang terbaru, Iran menyatakan
03:24siap buka front baru yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh Amerika dan Israel.
03:29Ini saya yakin tidak akan dibiarkan menjadi suara percuma oleh Trump.
03:34Karena 40 hari membuktikan bahwa Iran itu bukan letorika.
03:40Dia punya kemampuan yang mau tidak atau diakui atau tidak.
03:45Kenyataannya seperti itu.
03:46Belum lagi dia bilang juga,
03:48kalau Amerika betul-betul menyerang kembali,
03:51maka kemudian akan katakanlah ada perlawanan lebih keras,
03:55termasuk mungkin melalui bab mandab itu.
03:58Yang itu akan membuat sekarang double-nya itu,
04:02double apa namanya,
04:03blokade lautnya akan lebih besar.
04:04Belum lagi fakta-fakta bagaimana rakyat Iran siap jadi tentara semuanya.
04:10Yang saya bilang,
04:11kalau perang ini menjadi perang ekonomi dan berkelanjutan,
04:14saya khawatir Amerika kalah ke depan.
04:16Bukan semata-mata karena senjata yang tidak canggih lagi,
04:21kecanggihan Amerika tidak tertandingi,
04:23tapi banyak varian yang Amerika tidak punya.
04:26Salah satunya adalah siapa di antara rakyat Amerika yang siap untuk jadi tentara
04:31dalam mereka mendukung untuk memenangkan ini.
04:35Kalau di Iran sudah terkonfirmasi,
04:37mereka siap untuk menjadi martir,
04:39mereka siap untuk menjadi tentara untuk membela rezim ini.
04:43Dari aspek moralitas dan totalitas perjuangan seperti itu,
04:46menurut saya Trump akhirnya juga harus berfikir kalau mau nambah modal.
04:50Nah pilihan yang lebih realistis adalah memang logikanya memper, apa namanya,
04:56menahan kerugian lebih besar.
04:58Nah, menahan kerugian lebih besar itu salah satunya bisa kita baca dengan cara lobi-lobi
05:03agar Iran tadi, kalau dalam bahasanya Jaka,
05:07bisa berkompromi pada isu-isu yang nanti bisa dianggap,
05:11bisa dipersifiskan oleh Trump sebagai bukti kemenangannya.
05:15Dan itulah menurut saya yang betul-betul diupayakan.
05:17Dengan berbagai macam cara, termasuk pergi ke Tiongkok,
05:21termasuk dengan ancaman-ancaman lebih besar lagi, mundur lagi.
05:24Saya bilang secara teori dagang, begitu orang kalau belum dapat.
05:28Jadi dia akan melakukan macam cara obral harga dan lain-lain.
05:32Oke.
05:33Di tempatan, dia akan mendapat yang dia mau.
05:35Oke.
05:35Begitu Mas.
05:36Baik, saya ke Prof. Jaka.
05:37Prof. Jaka, lawatan Trump ke Tiongkok bertemu dengan presidensi,
05:41apakah menurut Anda tidak se-efektif itu?
05:45Karena memang salah satu pembahasannya adalah terkait dengan perdamaian
05:48antara Iran dan juga Amerika Serikat.
05:51Saya melihat ada beberapa hal yang bisa kita kritisi pertemuan Trump dengan Xi.
05:57Yang pertama adalah memang satu basisnya adalah transaksional.
06:00Kepentingan Amerika terhadap China di kawasan,
06:03kepentingan China terhadap isu ini apa?
06:05Saya kira terjadi transaksi yang saya kira jangka pendek dan sangat ekonomis.
06:11politikal.
06:12Transaksional ini bisa kita lihat dari kenyataan saat sekarang,
06:16China itu ada dua kaki terkait dengan isu di Iran.
06:19Apa?
06:20Dia menyatakan membantu Amerika dalam kerangka pengamanan Paislat Hormuz,
06:25tapi dia juga masih membeli minyak dari Iran.
06:28Dan ini kontekstualisasinya masih berjalan,
06:31sehingga hubungan ekonomi di antara dua negara masih terus berjalan.
06:35Tetapi kita juga lihat saat sekarang bagaimana China itu ketemu dengan Putin
06:40yang menyatakan secara tegas dan jelas bahwa penggunaan kekerasan bersenjata Amerika terhadap Iran
06:46itu adalah illegal under international law.
06:49Sehingga kalau kita lihat, tekanan secara geopolitik internasional dan hukum internasional,
06:55apapun secara formal, ini tidak akan menguntungkan Trump.
06:59Kalau kita lihat apapun nanti yang akan terjadi terkait dengan penggunaan kekerasan bersenjata Amerika terhadap Iran
07:06di dalam mekanisme PBB misalnya, ini pasti akan dapat veto dari China dan juga dari Rusia terkait dengan eksistensi Iran
07:14yang menurut saya dari sisi politik internasional sangat tidak menguntungkan buat Trump.
07:20Sehingga sekali lagi, kita melihat tadi, kalau bahasa Pak Hazibullah investasinya bodong,
07:26ini ada satu tekanan yang lebih besar, yang kalau kurang ini dilanjutkan,
07:30saya yakin kerugian ekonomi dari Amerika, Donald Trump itu akan semakin besar.
07:36Sehingga perhitungan terkait dengan risk mitigation, kepentingan Amerika atas Iran,
07:41dan itu akan lebih besar daripada, sekali lagi, daripada Trump itu mengedepankan kepentingan Israel terhadap Iran
07:49dan juga terhadap proksinya.
07:51Saya menduga dan memperkirakan seperti itu, supaya bocornya, kerugiannya tidak lebih besar
07:58yang berdampak secara global, yang berdampak secara nasional untuk kepentingan elektoral,
08:04untuk kepentingan ekonomi, dan lain sebagainya.
08:06Sehingga sekali lagi, sekarang juga Trump dihadapkan untuk secara merata, secara balance,
08:15untuk juga bisa melihat perkembangan di halaman belakang dia, di Latin Amerika,
08:19yang juga semakin memanas Cuba, Venezuela, dan lain sebagainya, itu juga memerlukan perhatian.
08:24Dan ini menjadi sebuah pressure yang luar biasa buat Trump di dalam masa kepemimpinannya ke depan.
08:31Oke, berarti tekanan geopolitik ini semakin besar,
08:33begitu mengingat juga setelah adanya pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan juga Putin,
08:38begitu apa, kemudian yang akan dilakukan Trump, apakah Trump juga akan mengindahkan tekanan geopolitik ini
08:44karena mengingat, kita ketahui, Trump ini selalu tidak mengindahkan,
08:50baik itu tekanan dari negara-negara sekutunya maupun dari Iran apalagi begitu.
08:55Kita bahas usaha jeda, Bapak-Bapak tetaplah bersama kami di BG News Kompas TV.
Komentar

Dianjurkan