Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Selat Hormuz jadi titik krusial. Jalur energi dunia dipertaruhkan.

AS menuntut akses penuh, sementara Iran justru menguatkan kontrol.

Sejak Iran memblokade jalur pelayaran pada Februari 2026, aktivitas di Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia nyaris lumpuh.

Organisasi Maritim Internasional menyatakan lebih dari seribu 500 kapal terjebak di wilayah tersebut.

Sebagai tandingan, militer AS pun mengerahkan kapal perangnya melakukan blokade di Selat Hormuz.

Kapal-kapal tersebut bersiaga di Teluk Oman, mencegat kapal-kapal yang berasal dan menuju pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Tujuan Amerika Serikat melakukan blokade adalah untuk menekan Iran secara ekonomi dan menghentikan pendapatan mereka dari penjualan minyak.

Iran tutup Selat Hormuz selama AS masih memblokade jalur menuju jalur pelayaran strategis tersebut.

Siapa yang memegang kendali atas Selat Hormuz dan akankah negosiasi damai tercapai?

Kita bahas bersama Aisha Kusumasomantri, Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence.

Baca Juga Iran-Oman Bahas Aturan Baru Selat Hormuz, Fokus Jaga Jalur Pelayaran Aman | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/669817/iran-oman-bahas-aturan-baru-selat-hormuz-fokus-jaga-jalur-pelayaran-aman-kompas-petang

#iran #selathormuz #amerika

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/669837/full-analisis-peneliti-senior-isi-soal-iran-vs-as-berebut-kendali-di-selat-hormuz-kompas-malam
Transkrip
00:00Saudara Iran menutup Selat Hormuz selama Amerika Serikat masih memblokada jalur menuju jalur pelayaran strategis tersebut.
00:08Siapa yang memegang kendali atas Selat Hormuz dan akankah negosiasi damai ini tercapai?
00:14Kita akan bahas bersama Aisyah Kusuma Sumantri, peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence.
00:20Selamat malam Mbak Aisyah, apa kabar?
00:24Selamat malam Mbak Palen, kabar baik di sini, semoga sehat selalu.
00:28Semoga sehat selalu juga untuk Anda dan juga keluarga.
00:31Mbak Aisyah, jadi sebenarnya siapa sebenarnya yang punya kendali di Selat Hormuz?
00:36Iran apakah karena posisi geografisnya atau Amerika Serikat karena kekuatan militernya?
00:42Iya, kita lihat di sini Mbak Palen memang ada dua posisi yang berbeda dari Amerika Serikat dan Iran.
00:47Kalau kita runut memang urutannya adalah Iran ini menutup Selat Hormuz atau kemudian menantukan protokol di Selat Hormuz itu karena
00:54ada serangan dari Amerika Serikat.
00:57Jadi sebenarnya kontrol Iran di sana itu adalah sebagai bentuk dari retaliasi Iran terhadap apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
01:04Lalu kemudian kita tahu bahwa Amerika Serikat melakukan blokade di atas blokade tersebut.
01:09Jadi ini cukup menarik karena sekarang saya kira Iran ini sudah menunjukkan adanya etikat baik untuk bisa membuka blokadenya secara
01:16tidak terbatas.
01:16Ketika adanya konsesi terkait ceasefire di antara Libanon dan kemudian Israel.
01:23Akan tetapi saat itu kita tahu bahwa Amerika Serikat ini menolak untuk membuka blokadenya.
01:27Ini kan cukup menarik kalau kita lihat di sini karena pada kondisi ini yang paling membutuhkan konsesi untuk bisa keluar
01:34dari peperangan itu adalah Amerika Serikat.
01:36Tetapi sepertinya memang ada beberapa pertimbangan lain yang melandasi keputusan Amerika Serikat.
01:40Di antaranya adalah kekhawatiran bahwa ketika Iran menguasai Selat Hormuz maka kemudian Iran juga akan menguasai dan menjadi super power
01:50baru dalam bidang energi dunia.
01:51Karena sebagai perbandingan Amerika Serikat itu sebagai produsen terbesar minyak dunia itu menghasilkan sekitar 16-18 persen.
02:00Lalu kemudian Rusia di posisi kedua itu 11 persen dan Arab Saudi itu sekitar 10,5 persen.
02:05Ini akan memberikan Iran kekuatan yang sangat besar dalam mengatur pola perekonomian serta harga-harga energi dunia.
02:13Nah kemudian kita lihat di sini Amerika Serikat ini membutuhkan adanya pengakuan terkait kemenangan.
02:18At the very least, satu saja kemenangan strategis yang bisa diklaim Amerika Serikat sebagai hasil dari peperangan ini.
02:24Karena sekarang Kongres Amerika Serikat juga mulai mempertanyakan kenapa kemudian Trump memulai perang ini
02:30dan apa hasil signifikan yang konkret yang bisa didapatkan oleh AS dari peperangan ini.
02:35Sekarang pilihannya apabila Amerika Serikat mundur maka kemudian Amerika Serikat akan meresikukan beberapa hal.
02:41Di antaranya adalah pertama munculnya Iran sebagai power kekuatan baru
02:45serta kemudian konfigurasi baru di dunia internasional di Selat Hormos.
02:49Lalu yang kedua ini adalah melemahnya posisi Amerika Serikat sebagai hegemon
02:53dan yang ketiga adalah rusaknya legitimasi serta kemudian legacy atau warisan yang Trump hasilkan secara sejarah untuk Amerika Serikat.
03:02Jadi sebenarnya untuk Amerika Serikat ini adalah masalah pride dia sebagai hegemon
03:05sementara untuk Iran ini adalah masalah eksistensial.
03:09Dua-duanya sama-sama mempertahankan untuk menutup Selat Hormos baik itu dari Iran ataupun juga jalurnya lewat kapal perang Amerika
03:18Serikat.
03:19Nah ini mereka kan tahu bahwa Selat Hormos ini menjadi keran energi dunia
03:25dan otomatis punya resiko yang sudah dipertimbangkan oleh masing-masing negara.
03:31Seberapa besar resiko kemudian yang dimiliki oleh negara lain akan terseret jika penutupan Selat ini terus berlangsung?
03:39Ya di dalam kemudian membahas terkait blokade sebenarnya kita bisa melihat dan mengimplementasikan
03:45ada teori namanya chicken game theory.
03:47Ini kan permasalahan resiliensi.
03:49Siapa duluan yang akan fold atau menyerah ya terhadap tekanan ekonomi kita?
03:53Pertama kita lihat dari Amerika Serikat tekanan yang mereka hadapi itu lebih ke arah tekanan politik
03:58yang akan kemudian ditimbulkan oleh pemilu Selat nanti di bulan November.
04:01Sementara kita tahu bahwa popularitas Trump, proses drastis beberapa bulan terakhir ini
04:06apalagi kemudian disertai dengan kenaikan harga energi serta kemudian kelangkaan bahan-bangan.
04:11Nah sementara itu dari sisi Iran saya rasa Iran juga kerugiannya cukup besar sekitar 435 juta USD.
04:18Lalu kemudian kita tahu kalau diakumulasikan itu jumlahnya mencapai 13 miliar USD per bulannya.
04:24Nah jumlah ini sebenarnya tidak sedikit.
04:26Tetapi hal yang kemudian paling menentukan secara signifikan adalah kapasitas storage minyak dari Iran.
04:31Iran ini kan membiayai sebagian besar ya biaya perangnya itu dari penjualan minyak.
04:35Khususnya dari backhand transaction yang dikeluarkan melalui shadow fleet-nya.
04:39Tanpa adanya ya penjualan minyak via laut, Iran harus berusaha untuk mendistribusikan minyak yang diproduksi di dalam negeri
04:47melalui jalur-jalur darat serta kemudian jalur lain seperti jalur laut Kaspia
04:51yang pasti secara kapasitas tidak akan berjumlah sebesar ya distribusi via laut.
04:57Dan ini kemudian yang menjadi permasalahan karena terakhir kita mengetahui bahwa minggu lalu
05:02kalau nggak salah storage Iran itu tinggal sekitar 20 hari.
05:04Nah sekarang mungkin sudah makin menipis ya kapasitas storage-nya.
05:07Nah dan ini menjadi permasalahan karena apabila kemudian storage-nya habis ya
05:11maka kemudian produksi Iran di masa depan pasti akan terganggu.
05:15Meskipun ada kemungkinan untuk direvitalisasi tetapi pasti tidak akan 100%.
05:20Nah jadi saya rasa sebenarnya kedua negara ini masih dikejar oleh waktu ya
05:24untuk hal yang berbeda yang satu terkait masalah kelangsungan ekonomi
05:27dan kemudian industri minyaknya yang satu permasalahan
05:30kemudian kita bicara tentang pekanan politik dalam negeri gitu.
05:33Bagaimana kemudian Trump ini meresikokan sebenarnya adanya kekalahan
05:37di bidang politik gitu ya.
05:39Apalagi kita tahu bahwa sampai saat ini
05:40dana tambahan yang kemudian diajukan di Kongres oleh Amerika Serikat itu belum disepakati.
05:47Ada hitung-hitungan untung dan kerugian
05:50terutama kerugian yang seperti Anda sampaikan yang saat ini menekan irana
05:54bahwa ekonominya sedang turun karena memang impor dari minyak sendiri tidak bisa berlangsung secara maksimal
06:02karena penutupan jalur Selat Hormuz oleh Amerika Serikat itu.
06:06Nah mungkinkah dengan adanya negosiasi ini Iran dan juga Amerika Serikat akan saling berkompromi
06:13untuk kemudian lebih meringankan tensi mereka karena ya sama-sama sudah lemah di keduanya.
06:19Mungkin saja tetapi lagi-lagi kita bicara tentang game teori
06:22tapi kali ini game teori yang berbeda nih kalau soal konflik
06:25kita bicara tentang prisoner's game, prisoner's dilemma game teori
06:28ya dimana kemudian kedua negara ini sebenarnya takut mengalah
06:31karena takut negara lain itu akan mendominasi
06:34dalam artian kalau Iran ini dia mengalah AS akan mendominasi
06:37begitu juga sebaliknya kalau misalnya AS mengalah Iran yang akan mendominasi.
06:41Nah pada akhirnya kan kita lihat apa yang kemudian terjadi
06:43karena ketakutan itu mereka berdua terjebak di dalam yang namanya adalah spiral of escalations
06:49dua-duanya semakit kemudian meninggikan ya tensi di dalam peperangan itu
06:53karena merasa bahwa mereka harus mendapatkan upper hand.
06:56Pilihan lain betul kata Mbak Palen yang paling menguntungkan adalah
06:59kemudian melakukan negosiasi tetapi harus dilandasi dengan kepercayaan satu sama lain.
07:05Masalahnya sekarang kedua negara masih mengalami trust deficit
07:08ya ini dilandasi bagaimana kemudian Amerika Serikat ini sudah berkali-kali mundur
07:13dan kemudian malah berbalik menyerang Iran ketika negosiasinya sudah mencapai konsesi atau kesepakatan.
07:19Nah lalu kemudian kita lihat juga di sini ya
07:21yang harus dilakukan adalah at the very least itu melakukan trust building
07:26melalui apa? Confidence building measure, pertukaran informasi.
07:29Tadi peran negosiator di sini ya atau kemudian mediator di sini
07:33ini menjadi sangat penting karena kita lihat bahwa komunikasinya tidak berjalan di antara keduanya.
07:38Nah permasalahannya baik Iran maupun Amerika Serikat sekarang memiliki stake
07:42atau risiko yang sangat besar untuk bisa menurunkan ya tensi tersebut
07:46karena mereka tidak percaya satu sama lain.
07:48Yang diinginkan nih sekarang oleh Iran itu adalah kebunculan negara-negara lain
07:52yang bisa menjadi garantor atau penjamin.
07:55Termasuk diantaranya kan ini China, Rusia ya dan bahkan negara P5 lainnya.
08:00Ini yang sampai saat ini mungkin masih kita tunggu-tunggu.
08:03Kapan kira-kira ada negara-negara yang berani step in ke dalam konflik ini?
08:08Oke, peran dari Tiongkok ini juga menjadi sorotan apalagi pertemuan yang sudah dilakukan oleh Trump sebelumnya.
08:15Nah seberapa besar sih apa namanya peran dari Tiongkok ini terutama dalam menengahi kedua negara?
08:21Karena sebelumnya juga mediator Pakistan ini beberapa kali sudah menjadi mediator
08:27namun negosiasi yang sudah dicanangkan, sudah ditunggu-tunggu beberapa kali bahkan
08:35itu kayak tidak membuahkan hasil.
08:37Seperti apa kuatnya peran Tiongkok menjadi mediator antara dua negara ini?
08:44Ya, makasih Bapak Lain. Ini menarik sekali.
08:46Karena kemarin kita tahu bahwa kunjungan Donald Trump ke China
08:49itu sebenarnya tidak terlalu menghasilkan hasil yang signifikan ya.
08:52Karena setelah itu Trump melakukan press release, tetapi ternyata isinya
08:57ini setelah dikonfirmasi melalui pernyataan resmi China
09:01ternyata itu bukan sesuatu yang kemudian sudah bisa dipastikan 100% gitu ya.
09:06Ini merupakan kemudian pernyataan Trump yang selama ini kita tahu kadang-kadang
09:09detached from reality gitu.
09:11Nah tetapi di satu sisi kita lihat memang bahwa Tiongkok ini memegang peranan penting.
09:16Kenapa? Yang pertama ya secara kekuatan ya memang Tiongkok ini juga
09:20merupakan negara nuklir dan kemudian memiliki kedekatan yang khusus dengan Iran.
09:24Kita harus cermati bahwa ada deal-deal yang sebenarnya sebelumnya
09:28apa namanya dapat dilakukan oleh Amerika Serikat dengan Iran.
09:31Dan salah satu caranya itu adalah dengan merangkul misalnya
09:34sekutu-sekutu Iran yang ada di dunia ini termasuk diantaranya adalah China dan Rusia.
09:39Ini terjadi ketika GCPOE di tahun 2015
09:42di mana kemudian ya saat itu Amerika Serikat berusaha untuk mendapatkan
09:46deal terkait masalah pengayaan uranium dengan Iran.
09:50Yang akhirnya disepakati 3,67 persen ya.
09:54Lalu kemudian imbalannya adalah pelonggaran sanksi-sanksi yang dimiliki oleh Iran.
09:59Dan saat itu Amerika Serikat melakukan konsesi
10:01baik itu dengan Tiongkok maupun dengan Rusia.
10:03Ya saat itu banyak kemudian pembicaraannya itu adalah
10:06menyangkut mengenai trade lalu kemudian peringanan sanksi dan lain-lain.
10:10Dan bahkan saat itu ya meskipun ketegangan di Taiwan itu sudah ada
10:13tapi belum setinggi yang sekarang.
10:16Itu juga dengan di Ukraina dan kemudian di Rusia saat itu sudah mulai ada nih
10:21bibit-bibit konflik sejak tahun 2014 tetapi perang invasinya belum berlangsung.
10:26Saya kira sekarang Amerika Serikat bisa menawarkan sesuatu yang lebih besar
10:30itu ya kepada baik itu China maupun Rusia.
10:33Karena saat ini fokus dari Donald Trump adalah mengambil alih dulu nih selat hormus itu.
10:38Nah khawatirnya memang Arakci menyadari hal ini
10:41oleh karena itu dia pun melakukan shuttle diplomasi ke sekutu-sekutu terdekatnya
10:44dan negara-negara yang bisa menjadi mediator gitu ya.
10:47Jadi sebenarnya ada nih ruang diplomasi yang harus dimenangkan
10:50baik itu oleh Amerika Serikat maupun Iran terkait
10:53bagaimana kemudian standing position China dan Rusia dalam hal ini.
10:57Betul secara DNA politik memang Rusia dan China itu sangat dekat dengan Iran.
11:00Tetapi kemudian kita lihat ada pragmatisme yang tidak boleh kita lupakan
11:05karena yang namanya kebijakan luar negeri itu selalu berakar
11:08dari kepentingan nasional.
11:10Apa yang diinginkan oleh China dan kemudian Rusia di sini
11:13itu bisa menjadi salah satu daya tarik yang bisa ditawarkan oleh Amerika Serikat
11:16sebagai harga konsesi.
11:18Ya Amerika Serikat Iran berebut kendali selat hormus
11:21kita nantikan bagaimana proses negosiasi antar keduanya yang jelas.
11:24Kita tahu bahwa selat hormus ini adalah keran energi dunia
11:29yang pasti sangat dinanti bagaimana perdamaian prosesnya antara kedua negara.
11:33Terima kasih sudah berbagi pandangan bersama kami di Kompas Malam Kompas TV
11:36Peneliti Senior in the Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusuma Sumantri.
11:41Terima kasih Mbak Salam Sehat Selalu.
11:42Terima kasih banyak Mbak Valen, selamat malam.
11:44Selamat malam.
Komentar

Dianjurkan