KOMPAS.TV - Ini sudah kesekian kalinya Trump mengumumkan akan menyerang Iran lagi, tetapi dalam beberapa jam kemudian dibatalkan karena, kata Trump, ada perkembangan dalam negosiasi.
Bagaimana sebenarnya rencana Trump, dan bagaimana pula strategi Iran mengantisipasi sikap AS yang menyebut Teluk Oman akan menjadi lokasi serangan AS?
Kita bahas bersama peneliti Asian Middle East Center for Research and Dialog Pizaro Gazali dan Atase Pertahanan Iran di ASEAN periode 20092012 Mayjen TNI Purnawirawan Budi Pramono.
#iran #as #trump
Baca Juga Cerita Ronggo WNI di Kapal Zefiro Sebelum Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza di https://www.kompas.tv/nasional/669829/cerita-ronggo-wni-di-kapal-zefiro-sebelum-ditangkap-israel-dalam-misi-kemanusiaan-ke-gaza
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/669831/full-peneliti-atase-pertahanan-iran-dean-2009-2012-soroti-klaim-trump-soal-tunda-serangan-ke-i
Bagaimana sebenarnya rencana Trump, dan bagaimana pula strategi Iran mengantisipasi sikap AS yang menyebut Teluk Oman akan menjadi lokasi serangan AS?
Kita bahas bersama peneliti Asian Middle East Center for Research and Dialog Pizaro Gazali dan Atase Pertahanan Iran di ASEAN periode 20092012 Mayjen TNI Purnawirawan Budi Pramono.
#iran #as #trump
Baca Juga Cerita Ronggo WNI di Kapal Zefiro Sebelum Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza di https://www.kompas.tv/nasional/669829/cerita-ronggo-wni-di-kapal-zefiro-sebelum-ditangkap-israel-dalam-misi-kemanusiaan-ke-gaza
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/669831/full-peneliti-atase-pertahanan-iran-dean-2009-2012-soroti-klaim-trump-soal-tunda-serangan-ke-i
Kategori
đź—ž
BeritaTranskrip
00:00Ini sudah kesekian kalinya Trump mengumumkan akan menyerang Iran lagi tapi dalam beberapa jam kemudian dibatalkan karena kata Trump ada
00:10perkembangan dalam negosiasi.
00:12Bagaimana rencana Trump dan bagaimana pula strategi Iran mengantisipasi serangan dari sikap AS yang menyebut Teluk Oman akan menjadi tempat
00:21serangan bagi AS?
00:22Kita akan bahas bersama peneliti Asian Middle East Center for Research and Dialogue Pizarro Ghazali dan atas sepertahanan Iran periode
00:312009-2012 Majenteni Purnawirawan Budi Pramono.
00:35Selamat petang jelang malam Mas Pizarro juga Pak Budi.
00:39Ya selamat petang Mbak Friska.
00:42Terima kasih sudah hadir di Sapa Indonesia malam saya ke Pak Budi.
00:46Ini kan sudah kesekian kalinya terakhir kita ketemu di studio berbicara soal Trump mau menyerang tapi batal.
00:53Dengan kesekian kalinya ini apa yang Pak Budi baca dengan sikap Trump sebenarnya ingin menyerang Iran atau ini hanya sekadar
01:00untuk mengancam Iran untuk segera membebaskan Hormuz atau menguasai Hormuz bagi AS?
01:10Pak Budi mohon maaf masih di mute.
01:14Sudah Mbak.
01:15Ya sudah terdengar silahkan Pak Budi.
01:17Ya kalau menurut saya justru yang kedua itu Mbak jawabannya maksudnya adalah jadi ini memang ultimatum yang koersif ultimatum yang
01:27teramat sangat memaksa.
01:29Tapi kalau misalnya ups and downs habis mau diserang kemudian di cancel dan lain sebagainya itu kan memang stereotipenya Trump.
01:38Jadi sekali lagi Mbak ini memang apa membangun tekanan waktu kalau menurut saya agar apa?
01:44Agar Iran menerima kerangka kesepakatan.
01:48Kenapa?
01:49Karena sebelum AS ini kembali memakai opsi militer yang lebih keras maka ultimatumnya Trump terima proposal saya atau menerima serangan
02:01saya.
02:01Ini memang suatu retorika yang sangat emosional dan selalu saya sampaikan bahwa ini adalah koersif military diplomacy.
02:12Tapi ini memang lagi-lagi adalah Trump yang selalu memaksakan kehendaknya paket besar itu yang masih belum tercapai.
02:22Jadi kalau menurut saya Mbak ini Amerika Serikat sedang merencanakan beberapa strategi kalau menurut saya.
02:33Strateginya yang pertama katakanlah tetap tekanan maritim terhadap aksesiran ini tetap.
02:39Jadi maritime koersif diplomasi tekanan keras maksimum tekanan ini tetap.
02:45Nah strategi yang kedua kalau menurut saya dia ini sedang menyiapkan serangan yang presisi Mbak terhadap fasilitas baik itu nuklir
02:55yang cita-cita dia kan tentunya.
02:57Kemudian fasilitas rudalnya dia, dronenya dia termasuk chain of command, rantai komandanya ARGC.
03:03Ini kan memang tujuan utama dia untuk melumbuhkan sepah ini, pasdaran, korga dari revolusi ini.
03:09Dan strategi yang ketiga kalau dia lakukan maka dia akan mempertahankan.
03:14Jadi benar-benar pertahanan pangkalan kan dia punya teman-teman sekutu di teluk nih Mbak.
03:21Nah ini jangan sampai pertahanan pangkalan ini terserang lagi seperti yang sudah dilakukan oleh Iran sebelumnya.
03:27Nah ini strateginya dia.
03:28Nah yang paling terakhir dan paling akan dilakukan oleh Amerika ini ya information warfare.
03:36Perang informasi kemudian sekaligus ini membuat dia kan selalu mensasar elit-elit yang ada di Iran.
03:44Nah makanya bagaimana caranya elit Iran ini percaya bahwa hey Iran menunda kesepakatan itu sebetulnya akan membawa kehancuran lebih besar.
03:55Jadi inilah Mbak yang dilakukan oleh Amerika yang kata Sun Tzu ya supreme art of war is to subdue the
04:02enemy without fighting.
04:04Pengennya dia, meskipun sadar Amerika bahwa dua-duanya ini memang menghindari perang besar.
04:10Menghindari terbuka.
04:12Tapi Amerika lebih ke arah gimana caranya kalau nggak usah perang tapi kamu sudah tunduk sama saya kan.
04:18Kira-kira seperti itu Mbak.
04:19Ya termasuk Trump juga bilang tadi gimana caranya biar nggak perang tapi Mas Pizarro Trump juga bilang bahwa dia mengklaim
04:26bahwa Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab lah yang minta membatalkan serangan.
04:31Kita bisa membaca klaim ini sebagai suatu kebenaran atau ya sebenarnya nggak gitu-gitu amat juga ya memang keinginan Amerika
04:38Serikat untuk menunda perang seperti yang kita bahas tadi.
04:41Iya menurut Mbak Friska menurut saya itu dusta, dusta dari Trump ya menurut saya tidak ada tekanan ataupun permintaan dari
04:49Saudi, dari Uni Emirat Arab dan Qatar untuk tidak menyerang Iran.
04:52Toh dulu ketika Amerika Serikat melakukan serangan 28 Februari jangan lupa Mbak Friska itu beberapa pekan sebelumnya itu Qatar, Saudi,
04:59Uni Emirat Arab itu juga udah minta.
05:01Jangan serang Iran deh nanti kita yang kena, nanti kita yang ketembak kejadian kan.
05:04Toh akhirnya diserang juga tuh sama Donald Trump melakukan serangan kepada Iran dan kemudian akhirnya terjadi eskalasi beran besar.
05:11Jadi menurut saya itu dusta.
05:11Fakta yang sebenarnya terjadi ialah Pentagon itu meminta Amerika Serikat untuk tidak melakukan serangan besar-besaran kepada Iran karena Iran
05:19ternyata sudah berhasil membaca bagaimana pola operasi serangan udara yang akan dilakukan Amerika Serikat kepada Iran.
05:25Seperti itu.
05:26Pentagon kemudian menyarankan kepada Donald Trump untuk menunda dulu.
05:29Karena ternyata sekarang Iran itu sudah bisa efektif melacak ya operasi udara yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat atas bantuan
05:37dari Rusia.
05:37Jadi Rusia itu memberikan banyak sekali input ya radar input data intelijen atau artificial intelijen untuk kemudian bisa secara presisi.
05:45Tadi Pak Budi juga udah mengatakan bahwa untuk melakukan serangan kepada Amerika Serikat.
05:50Jangan lupa Mbak Fazizka beberapa waktu lalu kapal-kapal pesawat tempur Amerika Serikat itu bisa ditembak jatuh oleh Iran gitu.
05:56Dan sekarang Iran setelah satu bulan peperangan ini dia berhasil kembali pulih.
05:59Bahkan sekarang Iran itu udah kembali memulai membuka roket-roketnya, membuka falsitas rudal-rudalnya untuk kemudian mengantisipasi akan terjadinya serangan.
06:07Dan ini yang kemudian akhirnya membuat Pentagon berpikir ulang.
06:10Janganlah dilakukan serangan sekarang karena Iran bisa akan membalas gitu.
06:13Tetapi kan kalau kemudian dibungkus mereka menunda karena ada masukan dari Pentagon ini kan bentuk kekalahan bagi Donald Trump.
06:18Maka Donald Trump kemudian mengkreasi bahwa seolah-olah ini ada tekanan dari negara teluk.
06:22Seolah-olah tekanan dari Saudi dan Qatar dan sebagainya.
06:25Saudi Qatar udah dari lama kok minta agar Amerika Serikat tidak melakukan serangan dari Iran tetap dilakukan sama mereka gitu.
06:30Jadi menurut saya itu dusta dari Donald Trump dengan seolah-olah negara teluk mempressor dia.
06:36Padahal sebenarnya Amerika Serikat belum siap sebenarnya untuk melakukan peperangan tempur besar-besaran.
06:41Karena sekarang kekuatan Iran itu semakin kuat, semakin besar.
06:44Dan bahkan kita lihat tadi ya ada simulasi ngokak senjata.
06:49Sekarang 30 juta warga Iran Mbak Friska itu daftar jadi milisi gitu.
06:53Jadi petempur kayak kan.
06:54Dan kenapa? Karena ada informasi Donald Trump bukan tidak mungkin akan melakukan operasi darat.
06:59Dan ketika jadi operasi darat kalau kita lihat ya ini pasukan-pasukan sipilnya Iran itu siap itu untuk melakukan pertempuran.
07:05Atau bahasa itu mereka siap mati sakit lah jika bertempur dengan Amerika Serikat dulu.
07:09Jadi itu yang sekarang yang terjadi. Iran Amerika Serikat perlu menunda dulu.
07:13Dia kemudian mengatur ulang bagaimana kemudian skenario-nya untuk melakukan serangan kepada Iran.
07:17Karena sebenarnya serangan itu udah memang pengen ingin dilakukan.
07:20Buktinya Mbak Friska sekarang 40-60 pesawat tempur Amerika Serikat itu sekarang udah nongkrong di Tel Aviv.
07:25Yang sekarang menjadi pangkalan terbaru militer Amerika Serikat untuk melakukan serangan kepada Iran.
07:28Ini bahkan lebih besar loh dari bulan-bulan sebelumnya.
07:31Dulu ketika serangan 28 Februari itu hanya belasan kapal yang kemudian bergeser ke Tel Aviv.
07:35Tapi sekarang 40-60 gitu. Jadi Amerika Serikat itu dalam kondisi on fire untuk melakukan serangan.
07:41Tetapi tiba-tiba kemudian tadi ada komunikasi dari Pentagon jangan diserang dulu karena Iran ternyata sudah mengetahui konten kita.
07:47Saya kira itu sebenarnya motif kenapa kemudian Trump menunda serangan kepada Iran.
07:52Membaca soal petak kekuatan ini menarik juga saya ke Pak Budi.
07:55Apakah posisi AS saat ini dengan kekuatan sebenarnya yang on fire, kita tahulah kemampuan perangnya Amerika Serikat seperti apa.
08:03Tapi apakah rentan jikalau medannya adalah Iran, Pak Budi?
08:09Ya rentan, Pak. Kenapa? Karena konvensionalnya memang Amerika sangat siap.
08:16Dan lagi-lagi Iran tidak akan membalas konvensional warfare-nya Amerika Serikat.
08:21Tapi kalau berbicara masalah rentan dan tidak rentan, sangat rentan dong, Pak.
08:25Kenapa? Karena kapal Indo ini kan ukurannya, katakanlah, meskipun Geralt Fort ini sudah ditarik karena memang timingnya.
08:35Tapi lagi-lagi bahwa sekarang mandala yudanya untuk perang laut ini kan teramat sangat sempit.
08:44Lalu hormus ini kan ruangan sempit, kemudian padat, dekat dengan pesisir Iran.
08:49Nah, sedangkan kapal besar Iran ini memang unggul, tapi unggulnya kan di laut terbuka.
08:56Kalau di check point seperti di mana hormus, nah ini dia mau tidak mau, harus face to face.
09:04Harus benar-benar menghadapi bagaimana rudal pesisirnya Iran, bagaimana drone-drone murahnya Iran,
09:10bagaimana kapal cepat air jisinya Iran, kemudian ranjur-ranjurnya Iran juga.
09:16Dan ini kan apabila miskalkulasi terhadap kapal sipil, lagi-lagi selalu saya sampaikan bahwa perang besar itu
09:23kepolitisasi dari perang-perang kecil apabila ini salah.
09:28Nah, kemudian yang paling penting yang perlu dicatat dalam hal ini selalu saya sampaikan,
09:33bagaimana itu yang namanya just at bellum dan just in bellumnya,
09:36dalam artian apa alasannya Amerika melaksanakan perang ini, harus hati-hati secara hukum internasional.
09:43Dan bagaimana cara pelaksanaannya, dia kan mau tidak mau harus memperhatikan beberapa kriteria.
09:49Sampai sejauh mana? Proporsionality-nya, dia penyerangannya proporsional apa enggak, berlebihan apa enggak,
09:55pembedaannya, distinction-nya seperti apa, pembatasannya dia memakai senjata-senjata apa saja.
10:01Nah, kalau AS ini melakukan blokade, melampaui dasar hukum pertahanan, mau tidak mau,
10:07dia akan berlawanan dengan mandat internasional.
10:10Dan Iran, dari pihak Iran, mau enggak mau narasi legal diplomatiknya,
10:15ini akan dibalikkan dengan opini global, gitu.
10:18Ini mau sebagai senjatanya Iran.
10:22Jadi, sekali lagi, penarikan kapal lindung yang memang ada di situ,
10:26itu sebetulnya untuk menunjukkan bahwa ini memang tekanan AS agak dikurangi,
10:36tetapi bukan berarti menghapus superioritasnya Amerika Serikat.
10:42Kenapa?
10:43Ini adalah memang mau tidak mau, Amerika harus menghadapi serangan asimetris, serangan jauh.
10:49Kemudian, kalau terjadi salah identifikasi,
10:52serta eskalasi yang tidak pada tempatnya, akan terjadi insiden kecil,
10:59jadilah mbak, start menjadi perang besar yang tidak diharapkan oleh keduanya tentunya.
11:06Itu menurut saya mbak.
11:06Dan sampai sekarang itu kan yang masih jadi bottleneck adalah Hormuz.
11:09Tapi bicara Hormuz jadi complicated, kenapa?
11:12Karena Iran juga menganggap tidak apple to apple,
11:14apa yang diinginkan Amerika Serikat terkait dengan uranium.
11:17Nah, sebenarnya untuk menghelesaikan Hormuz ini,
11:20apa sih yang bisa dilakukan di tengah negosiasi,
11:22tapi juga ada ancaman serangan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump?
11:27Sesaat lagi kita bahas di Sampai Indonesia Malam.
11:31Ini sudah kesekian kalinya,
11:32Trump mengumumkan akan menyerang Iran lagi,
11:34tapi dalam beberapa jam kemudian dibatalkan,
11:37karena kata Trump ada perkembangan negosiasi.
11:39Lalu masih membahas ini bersama dengan peneliti Asian Middle East Center for Research and Dialogue,
11:46Pizarro Ghazali, dan atas sepertahanan Iran periode 2009-2012,
11:50Majenta Anipurna Wirawan Budi Pramono.
11:53Mas Pizarro, kita menyambung yang tadi ya, sebelum jeda.
11:56Slut Hormuz ini kan masih jadi bottleneck dengan perundingannya Iran,
12:01dengan Amerika Serikat.
12:02Tapi apa ya sebenarnya yang bisa dilakukan untuk memecah kebuntuan ini?
12:06Tadi Iran sudah menyiapkan badan untuk mengelola Slut Hormuz.
12:10Tapi di sisi lain, Iran juga menganggap tidak apple to apple apa yang ditawarkan Trump
12:15terkait dengan Slut Hormuz ini.
12:18Ya, menurut saya ini memang terjadi kebuntuan ya,
12:20di dalam negosiasi mengenai Slut Hormuz ya,
12:22karena kalau kita lihat pihak dari Amerika Serikat sendiri itu enggan ya,
12:26untuk mengikuti kemauan dari Iran ya.
12:28Kalau begini terus, kalau saya lihat ya sampai sekarang,
12:31maka jalan untuk negosiasi menjadi buntu.
12:33Sebenarnya salah satu cara ya Friska yang bisa membujuk Iran untuk membuka Slut Hormuz ya,
12:38pertama ialah dia meminta agar aset-aset yang selama ini ditahan oleh Amerika Serikat,
12:43yang jumlahnya ratusan miliar di luar, itu bisa dicairkan.
12:45Saya kira itu salah satu cara yang bisa dilakukan oleh Amerika Serikat
12:48untuk membujuk Teheran untuk menjadikan wilayah Slut Hormuz menjadi new normal kembali,
12:54seperti itu ya.
12:54Kemudian juga, ini masalah rekonstrikan gini,
12:56karena Iran itu kenapa dia menerapkan sekarang,
12:58konsesien fee untuk Slut Hormuz,
13:00dia memang berpikir rasional.
13:01Karena pasca serangan dari Amerika Serikat kepada wilayah Iran,
13:04kalau kita lihat ya, banyak fasilitas pelabuhan dari Iran itu hancur,
13:09fasilitas militer dia hancur, fasilitas energi dia hancur,
13:12sedangkan dunia internasional kan tidak mungkin kemudian menaling ini semua.
13:14Nah, sedangkan Amerika Serikat sendiri kan sekarang misalkan dituntut untuk memberi ganti rugi,
13:18dia juga nggak mau.
13:19Karena kalau dia ganti rugi atas apa yang dia harus dilakukan,
13:21itu sama saja Amerika Serikat mengakui bahwa dia telah melakukan tindakan yang salah
13:25dan kejahatan terhadap Iran, seperti itu.
13:26Tetapi dua hal ini menurut saya,
13:28itu bisa dipakai oleh Amerika Serikat
13:30untuk kemudian membujuk Iran untuk membuka Slut Hormuz.
13:32Iran sendiri sebenarnya kan tidak menutup total Slut Hormuz gitu.
13:35Menariknya misalkan ya,
13:36beberapa tahun lalu itu kapal-kapal Cina,
13:39misalkan kapal-kapal Jepang,
13:40kapal-kapal Pakistan, dan lain sebagainya,
13:42itu diizinkan sama Iran gitu.
13:43Karena apa?
13:44Dia mengikuti kesepakatan yang sudah dilakukan tadi,
13:47otoritas di Teluk Persia tersebut gitu ya.
13:49Nah, inilah kemudian sekarang,
13:50tinggal sekarang bolanya ada di tangan Trump.
13:52Apakah dia mau membuka level blockade misalkan,
13:54kemudian dia juga memberikan,
13:56tadi ya, mencairkan aset-aset yang ditanggung oleh Iran
13:59untuk kemudian itu menjadi salah satu cara
14:01membawa Iran ke meja perundingan.
14:03Karena menurut saya itu agak susah sekarang
14:04melobby Iran, Mbak Friska.
14:06Kan dia sudah kadang tidak percaya,
14:08kalaupun ada implementasi kesepakatan
14:10selama ini kan juga dikhianati oleh Amerika Serikat,
14:12itu susah gitu.
14:13Eh, Iran mau ke meja perundingan aja,
14:14itu kan udah bagus sebenarnya.
14:16Kadang-kadang mereka tadinya kan maunya hanya kemudian
14:17menyelesaikan ini di median pertempuran,
14:19karena selama ini negosiasi itu selalu dikhianati oleh mereka.
14:22Dan jangan lupa juga,
14:23sekarang kan Mustafa Khomeini itu sudah sembuh ya,
14:26dia sekarang berarti puncak kontrol RGC
14:28itu sekarang memegang kendali penuh di wilayah Iran.
14:31Dan RGC agak sangat sulit
14:33untuk dinegosiasi, didiplomasi,
14:35kecuali dia mendapatkan konsensi,
14:37mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukan dari Amerika Serikat.
14:40Problematikanya, Amerika Serikat juga gak punya banyak pilihan sekarang
14:42untuk mengandeng negara-negara kawasan untuk memujuk Iran.
14:46Saudi tidak mau, Qatar tidak mau,
14:47bahkan Cina pun gak 100% kan setuju dengan kuasa punya Trump
14:51untuk kemudian memaksa Iran untuk membuka saat hormon.
14:53Saya kira ini yang menjadi rumit,
14:54kenapa akhirnya perundingan ini sangat sulit diwujudkan di antara kedua belah pihak.
15:00Ya, inilah kenapa masih rumit sekali
15:02dan tampaknya masih jauh panggang dari api
15:05ke kesepakatan negosiasi.
15:07Negosiasi, artinya kan yang diantisipasi adalah
15:09jika serangan pecah lagi, meskipun kita sama-sama tidak mengharapkan.
15:12Pak Budi, tapi gambarannya,
15:15the worst case-nya bagaimana
15:17jika situasi militer dan ekonomi kawasan Teluk Arab ini
15:19kalau perang kembali pecah,
15:21apakah akan lebih parah dari serangan sebelum gencatan senjata
15:25atau bahkan di akhir Februari lalu, Pak Budi?
15:29Iya, Mbak, ini kalau terminus militer ini bukan parah lagi.
15:34Ini the big calamity.
15:37Jadi, kehancuran yang sangat total tentunya.
15:40Kenapa?
15:41Karena memang tidak menemui titik temu.
15:45Iran di satu sisi menuntut agar akhirilah permusuhan ini.
15:50Kemudian, Iran juga kan mau nggak mau
15:53seperti yang disampaikan oleh Mas Bicara tadi,
15:56kompensasi kerusakan perang,
15:57dia kan mau nggak mau harus diganti.
16:00Dan juga, sudah lah, jangan pencabutan,
16:03jangan blokade-blokade terus
16:04sampai mulai dari Project Freedom,
16:08kemudian Project Freedom Plus,
16:10kemudian yang saya dengar ada Sledgehammer,
16:12dan lain sebagainya.
16:13Ini kan harus dicabut lah, blokade laut ini.
16:17Dan harus dijamin bahwa tidak ada penyerangan lagi,
16:20tidak diserang lagi.
16:21dan harus diyakinkan bahwa sudah pulih bagaimana ekspor minyak.
16:28Nah, Amerika sendiri berpikirnya gimana?
16:30Amerika selalu paket besar, mbak,
16:32menekan isu nuklir, ya kan,
16:34hormus mau tidak mau harus menjadi navigasi internasional,
16:39harus lancar.
16:40Sedangkan ini, ya,
16:42memang ini kedaulatan Iran, gitu.
16:45Tapi kalau misalnya navigasi internasional,
16:48mau tidak mau kan unclose 82
16:50yang ada di pasal 46 sampai 44,
16:54ini kan ya ada kebebasan
16:56untuk navigasi internasional.
16:59Jadi, menurut saya ini ya negosiasi,
17:02tapi ya,
17:03kalau switch, ya,
17:06ini adalah battlefield by other means.
17:09Nah, mau tidak mau kan dalam hal ini kan
17:12pakai proposal untuk membeli waktu, mbak.
17:15Jadi, membeli waktu sekaligus bagaimana
17:17memecah koalisi lawan,
17:19lawan-lawan koalisi ini dipecah,
17:21dan mau tidak mau ya harus mengurangi tekanan ekonomi.
17:26Nah, ancaman AS yang memaksa ini,
17:28ya, ini dalam posisi lemah.
17:31Pakistan juga kurang berhasil,
17:34kemudian komunikasi langsung juga biayanya tinggi.
17:39kemudian secara hukum internasional
17:41yang tadi saya sampaikan,
17:42jangan sampai apa negosiasi ini
17:46enggak ada lagi,
17:47kalau negosiasi ini enggak ada lagi,
17:50bagaimana ceasefire,
17:51bagaimana monitoring sanksi yang terbatas,
17:55mekanisme inspeksi nantinya gimana,
17:57kemudian jalan laut yang untuk internasional gimana,
18:00mau nggak mau kan ini cuma jadi rusak semua.
18:04Kalau rusak semua, ya,
18:05tentunya krisis koersip,
18:07ya diambang perang ini akan berulang,
18:11mau nggak mau ya ultimatum, ultimatum, ultimatum,
18:14yang ujung-ujungnya ya akan terjadi perang,
18:18total perang besar,
18:19meskipun ada beberapa sisi mengatakan
18:22jauh api dari panggang.
18:23Coba tadi yang keluarkan dengan info-info tadi,
18:28kan tetap aja ini.
18:31dengan sembuhnya,
18:32tadi yang sampaikan Mas Pijaro,
18:34Rahbar,
18:35nggak mau kan ya,
18:36one God,
18:37one leader,
18:39one nation,
18:40one path,
18:41satu Tuhan,
18:43satu pimpinan,
18:44dan satu nasionalism,
18:46satu bangsa,
18:47dan satu garis perjuangan yang sama semua.
18:52Nah ini kalau digabungkan atau dikontradikkan dengan kepentingan Trump,
18:57ya tidak akan pernah ketemu gitu,
18:59kalau menurut saya.
19:00Betul,
19:01tidak akan ada titik ketemu,
19:02dan ini yang jadi ganjalan sejak awal perang ini pecah.
19:06Mas Pijaro,
19:07jadi bagaimana kita masih mendudukan relevansi negosiasi
19:11di tengah saling ancam kedua pihak?
19:13Jikapun iya,
19:15apa yang bisa dilakukan,
19:17dan siapa yang bisa menengahi itu,
19:19di tengah tidak ada ya trust,
19:20atau kepercayaan dari Amerika Serikat maupun Iran?
19:24Ya problematikanya Friska,
19:26di tengah pemerintahan Donald Trump,
19:28ini sebenarnya Donald Trump itu tidak berdaulat.
19:30Jadi ada secret societies,
19:31ada kelompok kecil yang bermain sekarang di pemerintahan Amerika Serikat,
19:34yang itu terkonek dengan johonisme,
19:35dengan Israel,
19:36dengan Netanyahu.
19:37Yang ideologi mereka itu kelanjutan perang.
19:38Netanyahu sendiri pun udah bilang,
19:40kami siap untuk kelanjutan perang,
19:41kami siap untuk melakukan serangan kepada Iran,
19:43tinggal membutuhi green light dari Donald Trump.
19:45Ini yang kemudian menjadi sulit,
19:47ya karena kalau kita lihat ya,
19:48di internal pemerintahan Amerika Serikat tadi ada tim kecil,
19:50yang memang punya ideologi untuk melanjutkan perang.
19:53Kemudian ini juga akan sangat susah,
19:55kalau kemudian ideologi johonisme dan Israel ini sekarang,
19:58sangat mendominan di Amerika Serikat,
19:59itu untuk berhadapan dengan Iran.
20:01Kalau kita lihat sekarang aja,
20:02di Libanon itu saling tembak antara Hezbollah dan Israel,
20:04udah sangat sengit banget sekarang itu,
20:06walaupun ada kesepakatan internal senjata gitu.
20:08Maka menurut saya menjadi sangat sulit,
20:09walaupun memang tetap masih ada harapan.
20:11Karena kalau kita lihat,
20:11masing-masing pihak itu masih membuka ruang diplomasi.
20:14Sekarang misalkan Galibaf itu ketemu Cina,
20:16kemudian Iran itu juga berkomunikasi dengan Pakistan.
20:18Tapi memang ada,
20:19tapi kita harus juga rasional,
20:21itu sangat tipis Friska.
20:23Peluangnya itu sangat tipis gitu.
20:24Kemungkinan sekenalnya ke depan ialah,
20:26terjadinya peperangan,
20:27mungkin skala terbatas,
20:28atau konfliknya tinggi,
20:29tapi konfliknya jangka pendek,
20:31tapi intensitasnya tinggi.
20:32Misalkan Amerika Serikat menyerang,
20:33pasal-pasal Iran di bombardir,
20:35Iran kemudian melakukan serangan,
20:36begitu terus,
20:37sehingga kemudian masing-masing pihak sudah kelemah,
20:40sudah lelah,
20:41merasa perang itu mahal,
20:42dan kemudian akhirnya,
20:43baik saja kemudian menjadi kencang senjata formal,
20:45tetapi eskalasi di lapangan,
20:47masih terjadi peperangan,
20:48walaupun sekaliannya menjadi kecil seperti itu.
20:50Karena kan tadi,
20:51problematikannya Donald Trump itu,
20:53waktu tidak berbiak sama dia,
20:54dia mau ada pemilu selak,
20:56mau ada pemilu midterm election,
20:58yang kemudian dia harus berpikir,
20:59pada batas mana dia akhirnya akan berhenti.
21:00Tetapi,
21:01tadi ya,
21:02kemungkinan dia akan melakukan serangan kepada Iran,
21:03kemudian mengklaim victory,
21:05dan kemudian dia akhirnya menyudahi.
21:06Hingga kemudian setelah midterm election,
21:07bukan tidak mungkin,
21:08perang akan pecah lagi antara Amerika Serikat dengan Iran.
21:11Jadi,
21:11cuma jeda sementara saja itu yang terjadi.
21:13Tapi,
21:14ini yang tidak kita harapkan,
21:15meskipun ada kemungkinan terburuk di depan mata,
21:19yang masih ada sedikit secara caharapan,
21:21semoga negosiasi ini setidaknya ada peluang,
21:24untuk mengakhiri chaos di Timur Tengah ini.
21:27Terima kasih atas waktu dan analisisnya,
21:30peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue,
21:33Mas Pizarro Ghazali,
21:35juga atas sepertahanan Iran periode 2009-2012,
21:38Majentani Purnawirawan Budi Pramono.
21:40Terima kasih Pak Budi,
21:41terima kasih Mas Pizarro.
21:42Terima kasih Mbak Prisga.
21:44Terima kasih Mbak,
21:44terima kasih.
Komentar