Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Wacana pelaksanaan perundingan kembali muncul di tengah situasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkat. Keduanya dikabarkan bakal melanjutkan perundingan paling cepat pada pekan depan di Islamabad.

Lalu, sebesar apa peluang perdamaian itu muncul di ambang ketegangan yang kembali memanas?

Kita akan membahasnya bersama Yulius Purwadi selaku pakar hubungan internasional dari Universitas Parahyangan dan Mahfuz Sidik selaku pengamat Timur Tengah.

Baca Juga Israel Lancarkan Serangan Udara ke Lebanon Selatan, 15 Orang Tewas! di https://www.kompas.tv/internasional/668074/israel-lancarkan-serangan-udara-ke-lebanon-selatan-15-orang-tewas

#iran #as #negosiasi #perang #timurtengah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/668085/full-timur-tengah-memanas-pakar-hi-dan-pengamat-baca-peluang-as-iran-kembali-berunding
Transkrip
00:00Saudara wacana pelaksanaan perundingan kembali muncul di tengah situasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat.
00:06Keduanya dikabarkan bakal melanjutkan perundingan paling cepat pada pekan depan di Islamabad.
00:11Lalu sebesar apa peluang perdamaian itu muncul di ambang ketegangan yang kembali memanas,
00:16kita akan membahasnya bersama Julius Purwadi, pakar hubungan internasional Universitas Parahyangan,
00:21dan bergabung juga Mahfuz Siddiq, pengamati Timur Tengah.
00:24Selamat malam Pak Julius dan juga Pak Mahfuz. Assalamualaikum.
00:29Selamat malam Pak Aditya.
00:31Ya, saya ke Pak Julius dulu.
00:33Pak Julius, melihat eskalasi serangan Loftat dari Amerika Serikat baru-baru ini,
00:38apakah menurut Anda pekan depan adalah waktu yang realistis bagi kedua pihak untuk duduk di meja perundingan,
00:43atau ini hanya strategi buying time bagi masing-masing pihak?
00:47Ya, buying time untuk Iran, tetapi Presiden Trump maunya semakin cepat, semakin baik.
00:52Kemarin kan hari Jumat ya, ditunggu oleh Presiden Trump respon proposal 14 poin yang diajukan ke Iran ya, melalui Pakistan.
01:02Tapi kan tidak terjadi ya, tidak terjadi.
01:05Sementara ini justru ironinya di pihak Iran ini seperti buying time, mengelur-melur waktu gitu.
01:11Nah, kenapa buat Presiden Trump sangat penting?
01:14Satu, terkait dengan tekanan publik ya, domestik itu luar biasa, menjelang pemilu selah.
01:20Tapi yang lebih penting lagi ini sebelum kunjungan ke Beijing, tanggal kira-kira 14-15 Mei ini ya,
01:26berharap sekali Trump sudah ada kesepakatan.
01:29Dan ini nanti menjadi bahasanya amunisi ya, untuk berdiplomasi dengan Xi Jinping,
01:34bahwa Amerika Serikat memenangkan perundingan dengan cara terdiplomasi.
01:40Itu maunya gitu.
01:41Tetapi dari sisi Iran, kelihatan bahwa dia masih sangat hati-hati,
01:45dan kita paham ya, masalah ditia ya, bahwa harus hati-hati karena pernah ditipu ya,
01:50pada tanggal 28 Februari diserang, padahal tanggal 27 waktu itu sedang perundingan,
01:56dan sudah ada signyal positif ya, untuk lanjutan perundingan, tapi digempur.
02:00Jadi ini sedang buying time, dan tidak ada sesuatu yang dikejar oleh Iran,
02:05dan pada saat yang sama mau meyakinkan bahwa Presiden Trump memang betul-betul bisa dipercaya.
02:11Oke, ya bicara soal buying time, ini juga sedang, artinya Iran juga sedang menata ulang gitu ya,
02:18strategi berikutnya, apakah akan ada strategi militer tambahan,
02:23ataupun justru masuk ke meja perundingan.
02:25Saya ke Pak Mahfuz, di bawah kepemimpinan Mostabah Haimeni,
02:31rezim Haimeni yang baru ini, saya bertanya juga ke Pak Mahfuz,
02:34saat ini kan ada kabar bahwa Mostabah Haimeni sudah sembuh, nah sebelumnya dikabarkan sakit.
02:39Nah kira-kira dengan kehadiran Haimeni di tengah-tengah pasukan militer Iran,
02:44yang kalau kemarin kan tidak direct perintahnya,
02:47sekarang mungkin akan direct dan akan menjadi penyemangat dari Mostabah kepada pasukan Iran.
02:52Apakah ini akan juga menjadi pelecut semangat mereka dan juga mengubah pola pikir Iran
02:58untuk melangkah ke langkah selanjutnya, apakah itu ke meja perundingan atau langkah militer selanjutnya, Pak Mahfuz?
03:06Ya, memang selama jeda gencatan senjata ini,
03:10ada langkah-langkah untuk konsolidasi rantai komando,
03:13bukan saja di militer, tapi di pimpinan politik Iran ya.
03:18Dan konsolidasi ini lebih didasari oleh ketidakpercayaan bahwa Amerika dan Israel
03:26ini dalam waktu dekat tidak akan mengulangi lagi serangan dalam skala yang besar.
03:32Jadi memang ketidakpercayaan ini sangat kuat dalam pikiran para pimpinan politik dan militer di Iran.
03:41Dan kalau kita lihat misalnya, apa yang disampaikan oleh Presiden Trump
03:45agar Iran segera menandatangani atau menyetujui sembilan poin yang diujudkan Amerika lewat Pakistan,
03:54ini justru di dalam sembilan poin itu ada beberapa klausul yang justru memperkuat ketidakpercayaan itu.
04:02Yang pertama adalah bahwa misalnya klausul tentang perpanjangan gencatan senjata selama dua bulan.
04:09Dan ini terkait juga dengan poin ke sembilan misalnya dari Amerika,
04:13bahwa komitmen non-agresi itu bersifat terbatas, yaitu selama masa negosiasi berlangsung.
04:19Nah dua poin ini saja, ini kan sebenarnya membuka ruang bagi Amerika dan juga Israel
04:24untuk melakukan serangan setelah berakhirnya masa gencatan senjata
04:29atau di luar masa negosiasi itu berlangsung.
04:34Dan kita lihat misalnya kalau masa negosiasi dan gencatan senjata ini kita anggap dua bulan,
04:41apa yang disampaikan oleh pihak Rusia misalnya,
04:44ini juga mungkin memperkuat ketidakpercayaan.
04:47Karena yang disampaikan oleh intelijen Rusia misalnya,
04:52bahwa masa gencatan senjata ini dan perundingan lanjutan,
04:55itu besar kemungkinan dipakai oleh Amerika dan Israel
04:59untuk melakukan persiapan bagi serangan militer yang lebih kuat, yang lebih besar.
05:05Walaupun secara politik domestik ada banyak kendala bagi Trump
05:10untuk melancarkan kembali serangan militer.
05:13Nah jadi menurut saya dari sembilan poin yang diajukan Amerika
05:17atau 14 poin yang diusulkan melalui Pakistan,
05:22itu memang masih ada beberapa poin, beberapa klausur
05:26yang gapnya ini masih sangat jauh, masih sangat besar
05:30untuk bisa disepakati antara para pihak di Islamabad nanti.
05:34Oke, bicara proposal 14 poin dari Iran.
05:37Saya ke Pak Yulis lagi.
05:38Pakistan telah menjadi perantara aktif selama ini
05:40dalam menyampaikan proposal itu.
05:42Tapi yang ini saya tanya, sejauh mana efektivitas Islamabad
05:45sebagai mediator dalam menjembatani kebuntuan komunikasi langsung
05:48antara Washington dan Teheran, Pak Yulis?
05:50Ya, seberapa jauh efektivitas ya peran Islamabad.
05:56Harfi akui isunya berat ya.
05:58Isunya sangat berat.
05:59Pertama terkait dengan pengayaan luranium
06:01yang dikhawatirkan bisa dikembangkan untuk senjata nuklir.
06:06Lalu yang kedua juga terkait dengan kontrol atas Sertormus.
06:09Dan dari awal kita ragu-ragu apakah seorang Pakistan
06:15bisa melakukan itu, tugas yang sangat berat itu.
06:17Terutama terkait dengan isu yang luranium.
06:19Kalau kita menurut pada pengalaman di 2015,
06:22kan termasuk P5 ya,
06:25anggota KPPB yang terlibat di sana.
06:28Dan itu bisa dibayangkan.
06:29Tetapi sejauh ini yang kita lihat,
06:32di tengah situasi yang sangat sulit,
06:35peran sebagai interlocutor itu kan dilakukan ya.
06:37Jadi pesan dari Iran disampaikan kepada
06:39Amerika Serikat melalui Pakistan,
06:42lalu kemudian respon dari Amerika Serikat
06:44terhadap proposal Iran juga disampaikan ke Iran
06:46melalui Pakistan.
06:48Dan ini sudah terjadi ya.
06:49Hanya memang yang belum bisa dilakukan adalah
06:52sebatas sebagai pembawa pesan.
06:54Pesan dari Iran ke Amerika Serikat,
06:57lalu kemudian pesan dari Amerika Serikat ke Iran.
06:59Belum pada posisi di mana misalnya dia
07:03mengajukan poin-poin yang bisa diturunkan
07:06dari masing-masing pesan tadi.
07:08Nah itu belum ya, itu belum.
07:09Tetapi paling tidak ada komunikasi
07:12itu sudah kita harus apresiasi.
07:13Mas Raditya ya.
07:15Kalau dalam situasi yang sangat menegangkan seperti ini,
07:18di mana penggunaan militer,
07:19cara-cara militer untuk menyelesaikan konflik itu
07:22sangat-sangat besar kemungkinannya,
07:24saya kira komunikasi harus dijaga.
07:25Dan itu yang menurut saya harus diapresiasi dari Pakistan ya.
07:29Menjaga komunikasi,
07:30lalu kemudian mencoba merangkai pesan-pesan
07:34dan harapannya nanti ujungnya adalah ada titik temu.
07:37Dan titik temu itu artinya adalah
07:39kemungkinan untuk memulai perundingan secara lisan ya.
07:42Bukan sekedar menyampaikan pesan.
07:44Oke, tapi sebelum bicara meluas komunikasi
07:47langsung antara Washington dan Teheran,
07:49Pak Mahfuz, saya ingin bertanya juga soal komunikasi internal Iran sendiri.
07:52Karena sempat juga ada terdengar bahwa
07:56situasi politik di dalam negeri Iran saat ini juga agak
07:59bukan terpecah, tapi ada perbedaan persepsi
08:02mengenai perundingan di Islamabad.
08:04Nah apakah ada perbedaan pendapat,
08:06menurut Anda, Anda melihat ada perbedaan pendapat
08:08antara Khamenei, pemerintahan Raisi,
08:11dan juga Arakci, atau Tun Arakci,
08:13serta Korps Gerai Revolusi soal menerima tawaran AS
08:16di meja perundingan, Pak Mahfuz?
08:19Ya, saya kira dalam setiap fase perundingan
08:22dari konteks konflik bersenjata,
08:24itu pasti akan muncul perbedaan-perbedaan pandangan
08:28terkait dengan proses negosiasi atau perundingan yang berlangsung.
08:33Itu sesuatu yang terjadi di setiap situasi
08:37atau setiap aktor yang terlibat.
08:40Jadi kalau saya sih membacanya,
08:42perbedaan-perbedaan pandangan yang muncul di elit Iran,
08:46misalnya kalau kita mau buat polarisasi sederhana,
08:51dari kubu pemimpin politik,
08:56itu memang ada perbedaan,
08:58tetapi kalau saya melihatnya,
09:00perbedaan ini justru sengaja dimunculkan
09:03untuk saling memperkuat posisi dalam proses negosiasi.
09:07Misalnya pimpinan-pimpinan militer Iran
09:10di Gadar Revolusi,
09:11itu kan cenderung menyampaikan pesan ke publik,
09:14ke media,
09:15bahwa mereka siap melakukan pertarungan yang lebih besar
09:18dan mereka akan melakukan perlawanan yang lebih kuat lagi.
09:22Tetapi pada sisi yang lain,
09:23misalnya melalui jalur pimpinan politik,
09:26apakah dari pimpinan DPR
09:28atau dari menteri luar negerinya,
09:30kita lihat ada pesan untuk kemudian lebih terbuka
09:34menegosiasikan poin-poin yang diajukan para pihak.
09:39Jadi menurut saya,
09:40ini orkestrasi yang memang sengaja dibangun,
09:43sehingga kemudian pihak Pakistan maupun Amerika
09:48tidak bisa secara sefiak menentukan
09:50bahwa hanya satu arah kekuatan
09:55yang harus mereka lakukan kesepakatan.
09:59Jadi ini menurut saya cara Iran
10:01di dalam bernegosiasi dengan Amerika,
10:04dengan Trump yang menurut mereka
10:06tingkat unpredictable-nya sangat tinggi
10:09dan yang kedua,
10:10basis kepercayaan politiknya juga memang sangat rendah.
10:13Oke.
10:14Nah, selama ini uranium kan jadi juga
10:16ganjalan ya di meja perundingan
10:19untuk membahas lebih lanjut
10:21langkah apa yang akan sama-sama ditempuh
10:23dan juga disepakati oleh kedua belah pihak
10:24dari Iran maupun juga di Amerika Serikat.
10:27Nah, yang menarik,
10:28Presiden Rusia, Vladimir Putin,
10:31baru saja menawarkan bantuan pengenceran uranium Iran
10:33sebagai solusi teknis.
10:35Ini apakah tawaran Rusia ini akan jadi katalisator
10:37yang mempercepat terjadinya perundingan pekan depan?
10:39Akan saya tanyakan hal ini kepada Pak Julius,
10:42tapi setelah jeda ya Pak,
10:43di Sampai Indonesia Malam tetaplah bersama kami.
10:52Tadi sebelum jeda saya bertanya ke Pak Julius
10:55soal Presiden Putin
10:57yang baru saja menawarkan bantuan pengenceran uranium Iran
10:59sebagai solusi teknis.
11:01Nah, saya tanyakan tadi,
11:02apakah tawaran Rusia ini akan jadi katalisator
11:04yang bisa mempercepat terjadinya perundingan pekan depan, Pak?
11:10Oh, mohon maaf Pak Julius,
11:12sepertinya masih di mute audionya.
11:15Cek, cek, cek, cek.
11:16Ya, baik, silakan Pak.
11:18Ya, dalam konteks situasi buntu,
11:21harus ada inovasi terobosan.
11:23Dan itu yang dilakukan oleh Presiden Vladimir Putin,
11:27menawarkan agar Rusia bisa menampung
11:29seluruh stok uranium yang telah diperkaya oleh Iran,
11:33termasuk kemudian mengolah menjadi bahan bakar sipil.
11:36Itu yang ditawarkan oleh Vladimir Putin.
11:39Saya kira ini satu hal yang sangat penting,
11:41tawaran ini,
11:42dan itu bisa menjadi pemecah kebuntuan
11:44dari satu isu yang paling berat,
11:47yaitu terkait dengan pengayaan uranium.
11:49Hanya pertanyaannya adalah,
11:51apakah Amerika Serikat akan menerima ini?
11:54Itu satu hal yang berbeda ya.
11:56Dan hal ini sudah disampaikan oleh Putin
11:59waktu melakukan pembicaraan per telpon
12:01beberapa waktu yang lalu
12:02dengan Presiden Trump.
12:05dan tawaran hal yang sama
12:07sudah disampaikan oleh Putin ke Trump,
12:10siap untuk menampung 440 kg uranium
12:13yang diperkaya,
12:15lalu kemudian dibawa ke Rusia,
12:17dikontrol ke Rusia.
12:18Itu kan isu yang selama ini
12:20Iran betul-betul sangat keberatan,
12:22menghentikan pengayaan uranium,
12:24lalu yang sudah diperlihatkan
12:25mau diambil oleh Amerika Serikat.
12:27Itu harus diapresiasi,
12:31tetapi apakah Amerika Serikat akan menerima,
12:33itu sisi yang lain.
12:34Bayangan saya kalau tidak Rusia,
12:36lalu siapa?
12:36Yang pasti Iran tidak mau Amerika Serikat.
12:39Mungkin China ya.
12:40Atau mungkin negara lain
12:42yang belum terdengar suaranya,
12:43seperti Prancis dan Inggris ya.
12:46Mungkin ya.
12:47Tapi ini salah satu solusi,
12:48saya melihatnya.
12:50Oke.
12:51Oke, baik.
12:51Nah, saya juga mendengar
12:54jurubicara kementerian luar negeri Iran,
12:57saya bertanya ke Pak Mahfuz ini,
12:58jurubicara kementerian luar negeri Iran ini
13:01sempat menyatakan bahwa militer mereka
13:02dalam kondisi siaga penuh.
13:04Tadi juga di berita pengantar kita saksikan
13:06bahwa di tengah gencatan senjata
13:10sebenarnya ketegangan masih tetap ada begitu.
13:12Nah, jika Iran setuju berunding, Pak Mahfuz,
13:15bagaimana mereka menyeimbangkan narasi perlawanan
13:17di mata sekutu regional mereka,
13:20poros perlawanan,
13:22dengan tindakan diplomasi
13:23seperti yang diupayakan juga selama ini, Pak Mahfuz?
13:27Ya, salah satu kekhawatiran
13:30bahwa akan ada faktor tidak terduga
13:33yang merusak proses perundingan atau negosiasi
13:35adalah serangan dari pihak Israel.
13:39Dan kalau kita lihat misalnya,
13:42komplain yang diajukan oleh Uni Emirat Arab
13:44termasuk Kuwait dan juga Qatar
13:47terhadap serangan drone dan rudal
13:50itu ditujukan, klaim ini kepada Iran.
13:55Tetapi kalau kita lihat,
13:56pihak juru bicara militer Iran
13:58itu secara tegas menyatakan
14:01mereka membantah bahwa drone dan rudal itu
14:05berasal dari Iran.
14:06Dan mereka kemudian balik menuding
14:08bahwa ini adalah operasi false flag,
14:15tindakan palsu dari pihak Israel.
14:18Jadi kalau kita lihat,
14:20ini membuat kemudian pihak militer Iran
14:23itu diposisikan siaga penuh
14:26dan itu juga atas arahan dari
14:30pimpinan tertinggi Iran saat ini
14:33ketika dari pihak militer revolusi Iran
14:36melakukan konsultasi secara khusus.
14:39Jadi kalau kita lihat,
14:41sikap waspada Iran secara militer
14:44itu ditunjukkan untuk mengantisipasi
14:47ada serangan dari pihak Israel
14:49yang kacaukan proses negosiasi
14:53yang akan dilakukan pekan depan ini.
14:55Oke, sikap waspada Iran ini
14:57tergantung Israel kalau begitu.
14:59Kalau begitu,
15:00seberapa besar pengaruh Israel,
15:02Pak Julius,
15:03terhadap ketegangan yang kembali memanas ini?
15:05Jangan-jangan memang ini
15:06ada peran Israel juga selama ini
15:09ketika ketegangan yang terus memanas
15:12di saat gencatan senjata.
15:13Apakah serangan Israel yang terus berlanjut
15:14meski ada gencatan senjata ini bisa merusok
15:16perundingan pekan depan kira-kira, Pak Julius?
15:18Nah, itu satu isu lagi yang sangat penting.
15:22Yang maunya Iran itu juga menjadi satu paket
15:25dari perundingan Amerika Serikat.
15:27Nah, sayangnya memang Israel itu memang
15:29tidak bisa kooperatif ya.
15:31Bahkan konteks gencatan senjata
15:33masih menggempur Libanon,
15:35Libanon Selatan.
15:36Itu kan benar-benar tidak kooperatif.
15:39Ini bisa jadi strategi Israel
15:41untuk mengacokkan rencana perundingan.
15:43Dan ini tentu saja menjadi pertimbangan Iran
15:47yang sedang mempertimbangkan 14 proposal tadi
15:50untuk menerima tawaran Amerika Serikat atau tidak.
15:53Nah, menempatkan isu Israel dan Libanon
15:56dalam kaitannya ini adalah perang Israel
15:59melawan Hezbollah,
16:00itu menjadi sesuatu yang sangat penting
16:03yang kelihatannya membuat Iran
16:06harus mempertimbangkan dengan sangat serius
16:09dan butuh waktu untuk itu.
16:10Nah, sekarang persoalannya adalah
16:12apakah Presiden Trump bisa meyakinkan Netanyahu
16:15untuk benar-benar mematuhi gencatan senjata?
16:18Dan kalau kita melihat beberapa hari yang terakhir yang terjadi
16:21setelah perpanjangan gencatan senjata,
16:24berikutnya sampai pertengahan Mei ini,
16:26kelihatannya Trump gagal juga
16:27meyakinkan Netanyahu untuk mematuhi
16:30serangannya ke Libanon Selatan.
16:33Ini yang jadi catatan,
16:35karena Israel juga terus sepertinya
16:37apa yang dibilang Pak Julius juga,
16:39saya memperkirakan benar-benar terjadi
16:40bahwa Israel tidak rela
16:41sepertinya perundingan akan terjadi.
16:44Tapi Pak Mahfus,
16:46kalau bicara soal red line,
16:48garis merah Iran yang tidak bisa lagi ditawar begitu,
16:51terutama soal program nuklir,
16:52kehadiran di Selat Hormuz,
16:54dan dukungan kepada Proxy Yaman,
16:56ini apa yang jadi red line utama
17:00dari hal-hal yang saya sebutkan tadi,
17:02kira-kira Pak Mahfus?
17:05Yang jelas bahwa isu nuklir ini memang akan
17:09menjadi red line kedua belah pihak.
17:12Dan disitulah kemudian gapnya menjadi sangat besar.
17:15Oleh karena itu kalau kita lihat,
17:17dari pihak Islamabad, dari pihak Pakistan,
17:20itu kan mencoba memformulasi 14 poin
17:23yang coba dinegosiasikan sebagai kerangka
17:26pembicaraan nanti,
17:27ke dalam tiga fase.
17:29Dan fase pertama ini adalah fase
17:31untuk menghentikan permusuhan terlebih dahulu.
17:33Ya dengan mengakhiri perang total,
17:36kencatan senjata regional,
17:37pembukaan Selat Hormuz,
17:39pembersihan ranjau sehingga
17:41jalur Selat Hormuz ini menjadi aman,
17:43dan pengakhiran blokade dari pihak Amerika.
17:46Ini yang ditawarkan oleh Islamabad
17:48untuk disepakati di fase pertama.
17:50Dan kalau kita lihat,
17:52untuk pengaturan isu nuklir,
17:53itu untuk masuk di fase kedua.
17:56Jadi kalau kita lihat,
17:57karena gap isu yang menjadi red line bagi Amerika
18:01dan juga red line bagi Iran,
18:02ini kelihatannya tidak akan bisa dicapai
18:05dalam waktu cepat,
18:06maka Islamabad mencoba mengajukan
18:09pembahasan ini dalam tiga fase.
18:11Atau kesepakatan ini nanti dibuat tiga fase.
18:14Dan fase yang ketiga,
18:16ini adalah fase yang nanti
18:19sudah mencakup fakta non-agresi
18:25yang melibatkan proksi atau sekutu para pihak.
18:28Dan kenapa ini dijadikan fase ketiga?
18:31Karena kelihatannya Pakistan memahami betul
18:33bahwa posisi Israel itu memang sangat jelas
18:37tidak menyetujui semua upaya untuk
18:39menghentikan perang ini.
18:41Upaya perdamaian secara permanen.
18:43Karena ada kepentingan-kepentingan
18:45domenik Israel yang sampai hari ini belum tercapai.
18:48Nah, oleh karena itu ini dijadikan
18:49bagian dari fase yang ketiga
18:51yang sangat mungkin itu masih
18:52sekitar dua bulan dari sekarang
18:55atau dari pekan depan
18:56kalau perundingan itu mulai dilakukan.
18:58Oke, bicara gangguan-gangguan
19:00termasuk Israel juga ya tadi.
19:01Bicara gangguan-gangguan
19:03di tengah upaya diplomasi
19:04dan juga perundingan, Pak Julius.
19:06Ini pihak Iran menyebut
19:08serangan Amerika Serikat
19:09yang muncul di saat upaya perundingan
19:12tetap terus dilakukan.
19:14Ini kan menyebut pihak Iran
19:15serangan AS telah dihalau.
19:17Sementara Donald Trump, Presiden Amerika Serikat
19:18menyebutnya ini sekedar sentuhan ringan katanya.
19:20Nah, bagaimana perbedaan persepsi ini
19:22memaruhi psikologis negosiator Iran
19:25saat berhadapan dengan perwakilan Amerika Serikat nantinya?
19:28Ya, perang narasi itu
19:30bagian yang sangat penting ya
19:32untuk memenangkan diplomasi
19:34atau memenangkan perang secara keseluruhan.
19:37Nah, itu yang kita sedang saksikan sama-sama.
19:39Apa yang kita pake oleh Presiden Amerika Serikat
19:41buat saya adalah itu narasi.
19:43Narasi yang berulang-ulang
19:44selalu disebut bahwa
19:46kemampuan militer Iran sudah berakhir.
19:49Jadi, jangan nyoba-nyoba lagi
19:52untuk melawan Amerika Serikat.
19:55Segeralah untuk bersepakat
19:56terkait dengan usulan Amerika Serikat.
19:58Kan seperti itu.
19:59Sementara di sisi yang lain
20:01kita yakin betul bahwa
20:02Iran juga cukup kuat.
20:03Dan kita tahu betul itu.
20:05Yang sedang terjadi sekarang adalah
20:07mencoba-coba untuk membuka blokade
20:10dengan cara-cara lain.
20:11Di luar meja perundingan.
20:12Seperti misalnya dari sisi Iran
20:14dua kapal tanker
20:15mencoba menembus.
20:17Dan menurut mereka harusnya bisa.
20:18Karena itu kan di wilayah kedaulatan Iran.
20:20Paling tidak itu klaimnya ya.
20:22Lalu dari Amerika Serikat
20:23beriaksi dengan menyerang.
20:25Melakukan serangan itu.
20:26Kan itu fakta yang kita lihat di lapangan.
20:29Dan akhirnya
20:31yang terjadi adalah
20:32kemudian schooling down.
20:33Ini menarik sebenarnya
20:34yang sangat penting.
20:35Dan Amerika Serikat
20:36tidak bereaksi lebih keras
20:38daripada itu.
20:39Sementara Iran juga tetap
20:41menahan diri
20:41untuk melakukan serangannya.
20:43Bisa saja seharusnya
20:44Iran mengirimkan rudalnya
20:46terkait dengan
20:47apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
20:49Dan ini yang dilakukan.
20:50Dan pada saat yang sama sebetulnya
20:52Trump juga mencoba
20:53makin mendekati Selanormus.
20:54Yang kita lihat
20:55dengan caranya Amerika Serikat.
20:57Dan itu nanti pada akhirnya
20:58pada akhirnya kan akan kebuka
21:00dengan sendirinya gitu ya.
21:02Dan mau gak mau
21:03leverage Iran
21:04itu akan menurun.
21:05Karena leverage Iran kan
21:07lebih sekarang
21:08menekankan pada
21:09kontrol atas Ratormus.
21:10Dan itu
21:11aspek lain
21:12dari negosiasi
21:13yang Iran
21:14tidak mau
21:15diturunkan ya
21:16sebagai satu red line.
21:18Oke.
21:19Ini juga
21:20tampaknya
21:22jadi atau tidak
21:23nyeperundingan
21:23yang akan dilakukan
21:24pekan depan.
21:25ini akan
21:26memunculkan dampak
21:27jangka panjang
21:28terhadap
21:28arsitektur
21:29keamanan Timur Tengah
21:30jika Amerika Serikat
21:31Iran juga akhirnya
21:32mencapai kata
21:32sepakat damai
21:33ataupun
21:34nanti
21:35diputuskan
21:36tidak ada perdamaian
21:37dan akhirnya
21:37perang terus berlanjut.
21:39Baik
21:39perbincangan yang sangat
21:40menarik malam hari ini.
21:41Terima kasih
21:41kedua narasumber saya
21:43Pak Julius Purwadi
21:45ada
21:46apa
21:47dosen hubungan
21:49internasional
21:49dari
21:50Universitas Parahyangan
21:52dan juga Pak Mahfus Siddiq
21:53pengamatan Timur Tengah
21:54sekaligus
21:55Ketua Komisi 1
21:56periode
21:572010-2016
21:58telah bergabung
21:59di Sapa Indonesia Malam.
22:01Terima kasih Bapak-Bapak
22:01selamat malam
22:02sampai jumpa lagi.
Komentar

Dianjurkan