Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah proses pembersihan "pulau sampah", Pengawas Pesisir Sudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Supendi, menjelaskan penyebab tumpukan sampah yang kini menjadi perhatian publik.

Menurut Supendi, volume sampah semakin meningkat ketika terjadi banjir kiriman dari wilayah hulu.

Kondisi tersebut terjadi saat Jakarta juga menghadapi persoalan keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah.

Untuk membersihkan kawasan pulau sampah, pemerintah mengerahkan puluhan personel gabungan dari berbagai instansi.

Proses pembersihan dilakukan secara manual dengan memungut sampah satu per satu sebelum diangkut menggunakan kapal menuju lokasi pembuangan.

Mayoritas sampah yang ditemukan berupa sampah plastik rumah tangga yang terbawa aliran sungai hingga ke laut.

Supendi menegaskan bahwa laut bukan sumber utama sampah yang menumpuk di kawasan pesisir.

Menurutnya, pulau sampah yang kini terlihat bukan hanya terdiri dari sampah, tetapi juga sedimentasi lumpur yang terus mengendap.

Dalam lima hari pembersihan, sejak 2 hingga 6 Juni 2026, petugas gabungan telah mengangkut lebih dari 12 ton sampah dari lokasi tersebut.

Meski demikian, proses penanganan masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan alat berat.

Akibatnya, timbunan sampah dan lumpur terus bertambah hingga membentuk daratan yang membentang ratusan meter.

Pembersihan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan agar kondisi perairan kembali normal.

Namun Supendi menilai upaya pembersihan tidak akan cukup tanpa dukungan masyarakat untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/kpbZOKo3cok

#pulausampah #jakarta #pencemaran

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/673734/ngeri-12-ton-sampah-diangkut-dari-laut-jakarta-pulau-sampah-belum-hilang-dipo-investigasi
Transkrip
00:02Sampah yang terbawa dari 12 sampai 13 sungai di Jakarta yang bermuara ke laut,
00:07sampah ini semakin mengalir akibat dari juga banjir kiriman dari Jawa Barat.
00:13Apalagi sekarang kita juga memang sedang darurat sampah dalam tanda kutip,
00:17akibat keterbatasan Bantar Gebang untuk bisa menerima sampah-sampah buangan dari Jakarta.
00:35Berapa personil Pak yang diturunkan Pak?
00:38Kita gabungan ya, dari UPS Badan Air 35 orang, dari Sundara Rakhpulat Seribu 20 orang,
00:45dan dari anggota Paspol Arut 20 orang.
00:51Mereka ikut kegiatan juga.
00:53Artinya ini sampah-sampah di sini dipungut seperti itu ya Pak, dimasukkan ke dalam karung,
00:56setelah itu dibawa ke mana?
00:57Kita mau ke kapal, bawa karung-karmuatnya, kita ada tempat di bermangga docking,
01:03di sana, dimasukkan ke mobil, buang ke TPS Bantar Gebang.
01:09Dibawa ke Bantar Gebang?
01:10Iya.
01:11Oke.
01:12Artinya ada puluhan ya Pak ya, puluhan petugas yang ada di sini untuk membersihkan sampah,
01:17yang sana bisa dibersihkan juga Pak?
01:18Bisa, bisa, bisa.
01:25Mayoritas di sini sampahnya apa Pak?
01:27Ya ini apa, plastik, kayu-kayu, campuran Pak?
01:31Tapi lebih banyak plastik sih.
01:33Lebih banyak plastik?
01:33Lebih banyak plastik ya, plastik.
01:35Tapi ini sampah domestik kali Pak ya?
01:37Iya.
01:40Kalau saya lesung ya Pak, kalau mungkin ya sebenarnya kalau laut itu sebenarnya bersih ya Pak ya?
01:46Laut itu bersih?
01:46Bersih.
01:47Sampah sebenarnya dari aliran sungai semua.
01:57Dorengan.
01:58DKI Jakarta itu kan ada 13 buah yang membelah sup sampai ke laut ya?
02:0313 termasuk Provinsi Banten dan Jawa Barat, Bekasi.
02:06Dari Bekasi, mereka kan kalau DKI sudah punya tugasnya, dari sungai sampai, untuk Banten dan Bekasi belum ada.
02:16Tapi dari Sudin sendiri mendeteksi pulau sampah ini ada dari tahun berapa Pak?
02:21Sebenarnya bukan tahun yang saya luruskan ya.
02:23Bukan tahun Pak?
02:23Lurusan ya.
02:24Karena setiap hari itu kita tangani dari lumpurnya sampai sampahnya.
02:28Ya.
02:29Kenapa sampai setiap hari itu, hampir satu bulan ini alat berat kita rusak Pak.
02:35Dua alat berat ini ya.
02:36Nah sekarang baru bisa beroperasi.
02:38Nah itu.
02:39Kalau pendapat ini, semua dari aliran sungai sih.
02:43Lumpur itu dari aliran sungai.
02:45Oke.
02:46Ini karena bawahnya ini lumpur ya?
02:47Baik sampah maupun lumpur itu dari aliran sungai.
02:52Terempaslah dengan ombak ya Pak ya.
02:54Gompak-gompak.
02:55Terbentuk Pak.
02:56Terbentuk Pak seperti ini.
02:57Itu bukan tahunan ya.
02:59Bukan ya.
02:59Bukan.
03:00Sudah setahun mungkin Pak ini Pak?
03:01Belum sampai setahun.
03:03Belum tahun belum.
03:04Karena setiap hari kita tangani.
03:07Oke setiap hari?
03:08Sebenarnya untuk memaksimalkan penanganan seperti ini ya.
03:13Dibutuhkan 4 sampai 5 alat berat.
03:15Kita hanya cuma punya dua.
03:17Dan ini yang sekarang dibukulisikan satu Pak?
03:20Satu.
03:21Ini baru beroperasi.
03:22Hampir satu bulan kita.
03:24Kendalanya rusak.
03:25Oke artinya kendala yang paling besar ini persoalan alat Pak.
03:29Alat yang digunakan.
03:30Untuk manual kita bisa kita tangan tapi tidak bisa cepat.
03:35Maksimal pun.
03:36Akhirnya timbunan seperti ini.
03:38Karena kalau sedimen-sedimen seperti ini lumpur ini diangkat oleh tenaga manusia itu namanya sulit sekali ya Pak ya.
03:45Dalam kurun waktu 5 hari, yaitu tanggal 2 hingga 6 Juni 2026, petugas gabungan telah mengangkut sebanyak 12,32 ton
03:53sampah dari Pulau Sampah.
03:55Di hari kelima, Dinas Lingkungan Hidup Jakarta memperkirakan penanganan Pulau Sampah sudah mencapai 50%.
04:02Tadi sudah dikalkulasi berat ya Pak.
04:05Untuk luasnya Pak dari Pulau-Pulau Sampah ini?
04:07Kalau panjangnya lebih kurang 400 sampai 300 meter ya.
04:11400 sampai 300 meter?
04:12Iya panjangnya ya.
04:14Panjangnya ya sampai ujung sana ya?
04:15Untuk lebarnya 8 sampai 6 meter ya Pak.
04:20Iya, 10 meter ya.
04:22Panjangnya 400 meter, lebarnya 10 meter?
04:26Oke.
04:27Butuh waktu berapa lama untuk membersihkan ini semua?
04:29Estimasinya sih dikurang 1 bulan ya, agar lebih kondisif ya.
04:35Termasuk juga sedimennya Pak.
04:36Melihat fenomena Pulau Sampah ini yang kemudian belakang menjadi perbincangan.
04:41Dari Sudin, apakah ada antisipasi khusus?
04:46Agar ketika selesai dibersihkan, sampah ini tidak kembali datang dan tidak kembali membentuk Pulau-Pulau Bar?
04:52Sebenarnya kan kembali kepada diri masing-masing ya.
04:55Jika manusianya sadar atas kebersihan, mungkin enggak terjadi seperti ini.
05:02Bayangkan, petugas dengan masyarakat yang didekai itu perbandingannya berapa?
05:08Mungkin 1 banding 100.
05:09Oke.
05:10Nah, kalau tanpa dukungan kesadaran dari masyarakatnya,
05:13kita hanya ya menangannya menangannya, tapi mungkin enggak semaksimal ya.
05:27Setelah kapal pasyari sudah merapat ya Pak ya, ke area hutan lindung betul ya Pak ya?
05:31Iya, benar.
05:32Pak, kalau tadi sampahnya itu kan berbentuk Pulau-Pulau.
05:34Iya.
05:35Di hutan lindung ini sendiri, banyak sampahnya Pak?
05:37Ya ini terjadinya karena ingin sampah.
05:41Mendapatkan sampah.
05:42Ini sampah-sampah ini Pak?
05:43Iya, dulunya ini laut.
05:44Laut ini dulunya ini laut.
05:46Ini plastik ya Pak ya?
05:47Nah, plastik jadi mendap-mendap, jadilah ini.
05:51Tanah-tanah timbul lah istilahnya lain ini.
05:53Bahkan itu ada sepatu ya Pak ya?
05:54Iya.
05:55Bisa dilihat mungkin ada sepatu itu di pinggir dari hutan lindung ini.
06:00Boleh kita kartos Pak?
06:01Ayo, silahkan.
06:01Oke.
06:02Saya bersama dengan Pak Syafil, saudara akan melihat ya,
06:05para apa sebenarnya kondisi dari hutan lindung yang ada di Jakarta.
06:08Ini satu-satunya Pak?
06:09Iya, satu-satunya di Jakarta ini.
06:11Ini sampah semua tapi ya?
06:12Iya, harus direstarikan ini.
06:14Karena kalau enggak ada hutan, bagaimana ya kita juga?
06:16Ini kondisinya, saudaranya bisa dilihat.
06:19Dari tadi banyak sampah ini.
06:21Sampah kering di sini, sampah basahnya di sini, saudara.
06:24Bisa dilihatnya ini sebenarnya plastik-plastiknya bisa dikatakan juga plastik-plastik.
06:27Kayaknya ada yang sampah yang lama, ada yang baru ya Pak ya?
06:30Iya, ada yang baru yang ngambang gitu.
06:32Bersih berona putih bersih itu sampahnya.
06:34Dan itu pulau yang tadi kita datangi ya Pak ya?
06:37Iya, iya itu.
06:37Oke, artinya tidak hanya di pulau itu Pak, tidak hanya di hutan lindung ini, di bagian sana juga ya Pak
06:42ya?
06:43Ada juga itu, ada pendapatan itu Pak.
06:45Oke.
06:46Meskipun sebenarnya tahun 2023, dinas lingkungan hidup dalam hal ini, dalam Pemprov DKI Jakarta dan juga Polda Metro Jaya, sebenarnya
06:53sudah melakukan operasi gabungan ya Pak ya?
06:55Untuk membersihkan ya?
06:56Sudah bekerja Pak, sudah maksimal dia bekerja.
06:58Melihat kondisi, mohon maaf, pencembaran lingkungan yang ada, seberapa jauh mempengaruhi pendapatan Bapak?
07:05Sebenarnya, kalau kita cita-cita masa lalu ya, kita cita-cita dari tahun 80 aja ya, itu kita nelayan mencarikan
07:13enak.
07:14Saat ini kondisinya?
07:15Kondisinya sekarang Pak, jauh, drastis, 50% lah.
07:1950%?
07:1950% lah, gitu.
07:20Kita nelayan harian ya, ya kalau nelayan itu nggak bisa dipastiin ya, kalau lagi istilahnya, kalau lagi along ya, itu
07:27ya bisa lumayan, penghasilan bisa sampai jutaan.
07:30Tapi kalau lagi kosong, bakal okosolar aja nggak kecabut.
07:34Nggak cukup?
07:35Nggak cukup.
07:43Sebenarnya, saya berada di kampung nelayan Mora Angke, penjaringan Jakarta Utara, tepatnya di Blok Empang, RT6 RW22,
07:52yang menjadi wilayah terdekat dengan pulau-pulau sampah yang sebelumnya sudah saya datangi, saudara.
07:59Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Pelikanan, 80% sampah yang ada di laut bersumber dari daratan, saudara.
08:07Saya akan coba dalami seberapa besar dampak sampah-sampah ini, tidak hanya untuk pelestarian di laut,
08:13tetapi juga dampak-dampak kepada para warga yang tinggal di wilayah terdekat dari pulau-pulau sampah.
08:19Saya bersama dengan Butati, warga setempat yang tinggal di sini.
08:23Butati, terima kasih untuk waktunya, Bu.
08:25Saya izin konfirmasi, Bu. Butati betul tinggal di sini, ya, Bu.
08:28Betul.
08:28Sebelumnya saya sudah ke pulau sampah, Bu.
08:31Ya, mungkin jaraknya cukup dekat, Bu, ya, dengan wilayah ini.
08:35Ketika memang pulau sampah itu berdampak bagi para nelayan,
08:38untuk warga yang tinggal di area sekitar ini, berdampak juga?
08:41Berdampak.
08:42Itu makanya dari tahun 2025 itu saya sebenarnya sudah memposting,
08:49memberikan konfirmasi ke pemerintah, cepat-cepat ditangani.
08:54Soal pulau sampah ini?
08:55Iya, betul.
08:56Apakah juga sampah-sampah ini, Bu, yang membentuk pulau sampah?
09:00Karena ini wilayah terdekat.
09:01Apakah merusak, mencemari juga lingkungan di sini?
09:04Ya, kita kayaknya pemandangannya kurang enak juga dilihat.
09:09Ini kok laut, tapi semacam kayak daratan.
09:12Kayak gitu.
09:13Boleh kita ke depan, Bu, ya, untuk melihat seperti apa kondisinya?
09:17Boleh, boleh. Silahkan.
09:18Baik. Saya bersama Bu Tati, Saudara akan melihat.
09:20Mungkin dari sebelah sini, Bu, ya.
09:21Ini belakang rumah Ibu, ya?
09:23Ya, itu dampaknya sampah juga, tuh.
09:26Oke.
09:27Sampah, penang arus air pasang, rob.
09:31Ini sampah-sampah artinya bukan dari sini, Bu?
09:34Iya, dari laut ini.
09:35Ini sampah yang terbawa rob dan berkumpul di tempat ini.
09:39Oke.
09:40Untuk bagian depan, sama seperti ini, Bu?
09:43Iya.
09:43Lebih banyak, Bu?
09:44Iya, coba kita cek lagi.
09:45Oke, kita coba lihat, ya.
09:51Dan ini semuanya tertutupi lumpur, ya, yang sudah mengeras dan juga sampah.
10:01Oke.
10:02Kita bingung mau ngambilnya bagaimana caranya, karena yang campur dengan lumpur sampah, kan?
10:08Artinya bisa dikatakan, Ibu mau naf, tapi hidup berdampingan dengan sampah.
10:12Iya, betul.
10:20Ini sempat, ini dikeruk semua dari pemerintahan UP3 ini udah dikeruk tahun, nggak salah, tahun kemarin, ya.
10:272023, nggak salah.
10:29Nah, itu dikeruk hampir 50 meter.
10:32Lanjangnya?
10:33Iya.
10:33Nah, tapi belum satu tahun itu sampah, saya nggak pernah lihat warga buang sampah, tapi sampah belum setahun udah numpuk
10:40lagi.
10:46Ini lebih banyak lagi, Bu?
10:48Iya.
10:48Oke, saya akan tunjukkan ya, ini betul-betul berada di area permukiman warga, Bu, ya.
10:55Kita lihat juga di sana banyak anak-anak yang bermain, bahkan di antara sampah ini, Bu, banyak warga yang tinggal
11:02di sekitaran area sampah ini.
11:03Apakah ada dampak penyakit, Bu, mungkin yang dialami oleh warga?
11:06Ya, kalau dampak penyakit, pasti ada.
11:09Salah satunya gatel, cuma gatel itu gatel sewajarnya saja.
11:14Kalau air pasang, banjir, kita, apa namanya, kayak kejalan, itu kadang-kadang gatel juga kaki-kaki.
11:21Iya, karena memang wilayah ini juga sering rok, Bu, ya?
11:24Iya, sering rok.
11:24Artinya ketika rok, sampah terangkat, dan itu terkena kepada para warga.
11:30Ya, kita berharapnya jangan setahun sekali atau kalau bisa, ada kegiatan tiap harinya itu, Pak.
11:40Karena memang sampah terus berdatangan, dan artinya kalau misalnya dibersihkan hari ini, besok mungkin datang lagi.
11:45Iya, betul.
11:46Dan ini sudah terjadi sejak?
11:47Sejak, sebenarnya ini sudah lama.
11:49Nah, dari tahun 2017 juga sempat viral, kan?
11:53Itulah dibikinkan hutan mangrove.
11:54Itu asalnya pulau sampah plastik juga.
12:02Saudara, bertempatan dengan hari lingkungan hidup sedunia,
12:05saya akan membahas persoalan pengelolaan lingkungan hidup,
12:08termasuk juga persoalan-persoalan terkait dengan pengelolaan sampah.
12:11Secara eksklusif, saya akan tanyakan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Bapak Jumhur Hidayat.
12:16Pak Menteri, terima kasih untuk waktunya, Pak.
12:18Iya, siap, siap, siap.
12:19Pak Menteri, momentum kita berbincang saat ini masih masuk ke dalam momentum hari lingkungan hidup sedunia.
12:26Pertama, saya ingin tanyakan, bagaimana Bapak memaknai hari lingkungan hidup sedunia ini,
12:31kalau kita lihat dengan lingkungan hidup yang ada di Indonesia saat ini, termasuk juga persoalan sampah yang menyelimuti?
12:38Ini jadi PR kita yang diingatkan pada hari ini, untuk tetap alert, waspada, dan kerja keras menyelesaikan masalah-masalah lingkungan,
12:50termasuk sampah dan sebagainya.
12:51Dan itu yang menjadi target Pak Menteri 2-3 tahun ke depan, bahwa persoalan ini akan selesai, Pak?
12:56Ya, Pak. Yang spesifiknya soal sampah ya, itu harus selesai.
13:02Dan mudah-mudahan nggak sampai selama itu udah bisa perurai dengan baik lah, karena udah ada tahapan-tahapan yang udah
13:08kita kerjain.
13:09Bertepatan dengan momentum hari lingkungan hidup, Pak, ada sebuah kondisi yang cukup memilukan,
13:15di mana di pesisir Laut Jakarta, Pak, ada tumpukan sampah, tidak hanya mengapung, tidak hanya terbawa ombak,
13:23tetapi juga membentuk pulau baru, yaitu Pulau Sampah.
13:26Tanggapan Anda, Pak Menteri?
13:27Sampah laut, seberan debris, itu tidak hanya di Jakarta.
13:30Tidak hanya di Jakarta?
13:31Tapi di semua tempat juga seperti itu.
13:33Karena tempat yang ada sungai, biasanya orang suka buang sembarangan,
13:37akhirnya sampai ke laut, ke bawah kemana-mana,
13:40akhirnya sampai di satu wilayah pantai dan sebagainya.
13:44Jadi itu problem besar.
13:45Dan kita sedang bekerja keras dan sudah membersihkan di berbagai tempat juga tentunya.
13:51Tapi kita yang paling utama kalau soal sampah laut ini adalah dari hulunya.
13:56Dari hulu?
13:56Dari hulu. Dari hulu itu hulu permasalahan.
13:58Misalnya bagaimana budaya orang membuang sembarangan ke sungai,
14:05nah itu yang harus di, dan kedua nanti yang utama lagi adalah
14:10ada sekarang satu, sekarang kita lagi kembangkan ya,
14:14teknologi di mana dengan campuran tertentu,
14:18plastik itu bisa dengan lebih mudah terurai.
14:22Dibandingkan kalau dia tidak diintervensi dengan zat tertentu lah.
14:27Sekarang lagi ada riset tentang itu,
14:29dan mudah-mudahan ini tetap jalan, artinya membenahi hulunya ketertiban orang
14:35untuk tidak sebuah sama sebarang di sungai dan sebagainya,
14:38itu tetap kita kerjain, kita kembangkan.
14:40Bahkan mungkin ada, kita sekarang sedang mengembangkan EPR ya.
14:45EPR itu Extended Producer Responsibility.
14:49Mereka membentuk organisasi sendiri, antar produsen gitu.
14:54Organisasi inilah yang kemudian berkewajiban untuk memastikan
14:58sampah-sampah atau bekas-bekas itu bisa dikeluar dengan baik.
15:07Pertanyaannya, di mana celah terbesar Pak?
15:10Sehingga begitu banyak sampah yang datang ke Hilir Jakarta berasal dari hulu.
15:14Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan