Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, langkah Presiden Prabowo Subianto yang aktif melakukan kunjungan luar negeri terus menjadi sorotan.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai, dalam situasi krisis global, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan menjawab kekhawatiran publik.

Ia menekankan, selama kebijakan pemerintah tidak membebani rakyat dan kondisi fiskal tetap stabil, maka langkah diplomasi luar negeri tidak perlu dikhawatirkan.

"Yang penting sekalipun presiden sering keluar negeri itu ada hasilnya sebagai sebuah solusi untuk memberikan bagaimana jawaban-jawaban yang konkret.Yang penting ada 'oleh-olehnya'," katanya.

Dubes RI untuk Rusia 2008-2011, Prof. Hamid Awaluddin, menilai aktivitas luar negeri Presiden memberikan dampak positif terhadap citra Indonesia di mata dunia. Namun, ia mengingatkan agar langkah eksternal diiringi pembenahan di dalam negeri.

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Ramson Siagian menilai kunjungan Presiden bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan bagian dari strategi besar mengejar pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi.

"Bapak Presiden Prabowo keluar negeri bukan artinya asal jalan-jalan," katanya.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/PuC9wc3XsJI



#prabowo #rusia #bbm



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/663213/prabowo-aktif-ke-luar-negeri-pengamat-yang-penting-ada-oleh-olehnya-satu-meja
Transkrip
00:00Masih di Satu Majadah Forum, Mas Hadi, apa yang kira-kira harus dijaga oleh pemerintah dalam situasi geopolitik yang masih
00:09berkecamuk di berbagai wilayah dunia termasuk di Timur Tengah
00:16supaya pendekatan kebijakan luar negeri juga seiring sejalan dengan bagaimana mengelola. Karena pro kontra pasti ada, kekhawatiran publik pasti ada.
00:24Ya saya kira bagi saya secara prinsip bahwa persoalan-persoalan yang dianggap insecure bagi negara kita itu harus ada solusinya
00:32Mas Yogi.
00:33Ketika muncul kekhawatiran soal adanya krisis energi global akan berdampak ke Indonesia sepanjang itu misalnya tidak ada kenaikan-kenaikan BBM
00:42yang membebani rakyat dan kemudian fiskal kita juga stabil.
00:46Sekira langkah apapun yang dilakukan oleh pemerintah itu tidak akan perlu untuk dirisaukan.
00:51Yang penting sekalipun Presiden sering keluar negeri itu ada hasilnya sebagai sebuah solusi untuk memberikan bagaimana jawaban-jawaban yang konkret.
00:59Jalan-jalan yang penting ada oleh-olehnya.
01:01Yang penting ada oleh-olehnya kan sudah begitu banyak. Nah disinilah pentingnya sebenarnya juru bicara pemerintah untuk mengekspos apa saja
01:08yang sebenarnya sudah didapatkan oleh pemerintah dari sekian begitu banyak kunjungan keluar negeri.
01:13Oke. Pak Hamid, kalau tadi Pak Hamid mengatakan sudah benar langkah Presiden Prabowo tapi kan Pak Hamid sebagai duta besar
01:20paham juga hubungan internasional.
01:22Kira-kira apa yang harus diantisipasi dalam waktu dekat?
01:24Sebenarnya eksposur Presiden kita itu secara internasional itu luar biasa ya.
01:33Karena aktivitinya melakukan kunjungan eksternal itu bisa membuat image kita bahwa kita memang adalah negara yang terbuka.
01:45Kita adalah negara yang bisa didatangi untuk investasi hanya di saat yang sama ketika beliau lakukan itu semua harus segera
01:57membenahi internal kita, domestik kita.
01:59Misalnya, birokrasi negara tidak ribet, pemungutan kepada para pengusaha dari aparat dihilangkan, itu sudah sejalan.
02:11Tidak ada lagi laporan asal Bapak Senang.
02:14Iya, tidak ada.
02:15Oke, oke.
02:17Pak Hamid, DPR tadi dibilang tidak hanya fraksi Partai Gerindra tapi semua di Komisi 12 setuju dan memberikan dukungan.
02:24Iya, betul.
02:25Tapi kan tetap yang namanya DPR punya fungsi pengawasan.
02:27Harus ada yang dibaca bahwa ini kalau tidak sesuai dengan rencana, antisipasinya apa?
02:32Kita tetap kita lakukan fungsi pengawasan.
02:34Tapi kita objektif juga karena Bapak Presiden Prabowo keluar negeri bukan artinya asal jalan-jalan.
02:40Pertama, dari sisi, karena kita juga 12 itu mitranya Menteri Investasi.
02:45Kita lihat bahwa untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, beberapa variabel yaitu konsumsi masyarakat, net export-import, dan juga investasi.
02:54Nah, investasi kalau tidak ditingkatkan, sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dari 5,4 ke 6 ke 7 nanti ke 8.
03:02Jadi sudah pas.
03:02Dari sisi energi, bahwa dalam keadaan sekarang, mungkin 2-3 bulan ini, kita memerlukan diversifikasi supply chain, diversifikasi sumber energi
03:12yang untuk dibawa ke Indonesia.
03:15Kalau perhitungan kita juga nanti, mungkin 2-3 bulan lagi harga minyak akan menurun.
03:20Karena apa? Nanti negara yang sudah diambil oleh Amerika itu, Venezuela, itu akan memproduksi habis-habisan.
03:28Itu nomor 1 terbesar cadangan minyak di dunia.
03:31Kita sudah berbaik-baik dengan Amerika.
03:32Iya, nomor 2 Arab Saudi, nomor 3 Iran.
03:36Tadinya kalau ini sudah baik-baik Iran ini, nanti supply kita sangat besar.
03:39Mungkin 65 dolar per minyak.
03:43Iya, sudah di bawah itu.
03:45Pokoknya kita tenang, jangan terlalu grogi-grogi sehingga kasak-kasak kusuk tapi ya itulah namanya,
03:50apa, sepidak ini kan punya hak berbicara.
03:53Terima kasih.
03:55Mas Fitrah, geopolitik orang memprediksi belum tentu, tapi Anda punya bacaan buat tenang aja,
04:02perang akan berakhir dalam waktu singkat, kemudian hitung-hitungan kita secara asumsi APBN dan kekuatan visual juga tidak terlalu mengkhawatirkan.
04:08Iya, saya bukan ingin mendahului hendak Tuhan ya, tetapi sebenarnya kalau dalam hitung-hitungannya,
04:14pertama, Gulf War itu biasanya selesai di spring ya, mungkin sampai bulan musim panas ya, karena terlalu panas.
04:21Terus yang kedua adalah ada yang disebut sebagai taco zone, Trump always chicken out zone.
04:26Yang pertama adalah indikator dari US Treasury Yield, itu sekarang sudah 4,2 sampai 4,5,
04:31artinya yield terlalu besar itu tekanan fiskalnya paling besar untuk administrasi Trump.
04:35Yang kedua adalah, tadi yang disampaikan oleh Pak Dubas juga, itu konstituent Trump itu sangat sensitif terhadap pergerakan harga petrol,
04:43dan ini sekarang sudah sangat tinggi.
04:45Dan yang ketiga, ini juga yang teman-teman market lihat, di bulan Juni nanti itu Elon Musk bakalan IPO,
04:52nah kalau 2 triliun USD, nah kalau mau IPO 2 triliun USD, dan dia bakalan menjadi orang pertama di dunia
04:58menjadi manusia 1 triliun USD,
05:00itu pastinya kan minta iklim perangnya juga relatif kondusif, atau bahkan tidak ada perang ya.
05:07Dan as we speak, sekarang sebenarnya market sudah memprice in bahwa perang itu akan selesai di bulan ini.
05:12Dan dalam konteks ini, meskipun tentunya kita tidak tahu kapan perangnya,
05:17dan makanya pemerintah sekarang sudah membuat skenario sampai 100 shares per barrel.
05:21Tetapi pengalaman 2024, dulu kita sempat mencadangkan 80 triliun rupiah sebagai tambahan dari subsidi dan komisasi energi.
05:28Tapi kita tidak gunakan di semester 2-nya, kenapa?
05:31Karena ya kecenderungan di semester 2 selalu ada deeskalasi begitu.
05:34Oke, oke. Terima kasih.
05:36Terima kasih Pak Ransom, terima kasih Bung Fitra, terima kasih Mas Adi, terima kasih Pak Hamid Awaludin.
Komentar

Dianjurkan