00:00Jadi, ingin menegaskan lagi bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir tahun dan anggaran saya cukup.
00:11Kalau ketatak gimana? Biar harganya lebih tinggi lagi.
00:15Tidak terkenal misalnya.
00:17Selainnya sebuahnya ada, kita masih punya bantalan uang sebesar 413 rupiah
00:23yang sekarang dalam bentuk sisa anggaran lebih atau sal.
00:30Kalau ketatak itu masih bisa dipakai.
00:32Tapi rasanya sih kita ke sana masih jauh.
00:40Masih di Satu Menjadi Forum, Mas Adi.
00:43Jadi saya memulai pertanyaannya, Presiden menyampaikan itu untuk meyakinkan publik.
00:50Pak Purbayo juga menyampaikan bahwa menenangkan.
00:53Tenang aja, masih aman.
00:55Kita punya uang gitu.
00:56Ini kan berhadapan dengan dinamika bahwa sekarang juga banyak pro-kontra gitu.
01:01Sebagai pengamat politik, Anda melihat bahwa ya ini juga konteks mengamankan dalam negeri.
01:06Satu hal juga penting bagi Pak Prabowo, supaya menjaga persepsi publik.
01:10Dan di sisi lain beriringan itu melakukan kegiatan politik luar negeri dengan melakukan approach ke berbagai kepala negara.
01:17Ya saya kira dua hal, Mas Yogi.
01:20Pertama, kita kan sebelumnya punya Presiden dianggap relatif setelah banyak absen di forum-forum internasional.
01:26Di jamannya Pak Jokowi.
01:27Sebelumnya?
01:27Sebelumnya.
01:28Itu kan juga sering digosipkan oleh banyak orang.
01:30Bagaimana Indonesia bisa hadir di forum-forum internasional,
01:33tapi Presidennya tidak secara officially menghadiri forum-forum penting.
01:37Nah kita saat ini punya Presiden yang sering ke luar negeri, juga diomongkan.
01:41Juga diomongkan ramai dan viral.
01:44Apalagi misalnya di tengah ada upaya efisiensi dan seterusnya.
01:47Cuman kalau saya hitung rata-rata syarumum, apa yang dilakukan oleh Pak Prabowo,
01:51ini sepertinya ingin menata ulang kembali hubungan internasional dengan negara-negara di luar.
01:56Dengan Amerika, dengan Uni Eropa, termasuk juga di Timur Tengah dan bahkan di Asia.
02:01Artinya apa?
02:01Indonesia ingin tunjukkan punya Presiden yang memang pergaulan internasionalnya itu di atas rata-rata.
02:07Itu tujuan awalnya.
02:08Nah yang kedua ketika kita mendengar apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo
02:12ataupun Pak Menteri Keuangan bahwa sebenarnya semua aman terkait dengan energi.
02:17Ini kan memastikan bahwa apa yang dilakukan oleh Prabowo,
02:20ke luar negeri itu ada oleh-olehnya.
02:22Kan sebelum Kursia dan Perancis kan datang ke Jepang dan Korea
02:25dan itu menghasilkan investasi kurang lebih sekitar 574 triliun.
02:33Itu angka yang cukup fantastis tentu saja untuk investasi,
02:37di Indonesia yang saat ini memang sedang melakukan inovasi.
02:41Itu real atau enggak? Atau baru sebatas?
02:43Kalau kita membaca argumen yang kita minimal di media
02:47ataupun teman-teman dari istana, itu kan sesuatu yang sudah real.
02:51Ada poin per poin MOU yang sudah ditandatangani.
02:54Antara Indonesia dengan Jepang kurang lebih sekitar 400 triliun.
02:58Antara Indonesia dengan Korea, Republik Korea kurang lebih sekitar 100 triliunnya.
03:03Kan itu yang kemudian tersirat.
03:05Artinya kalau sudah ada hitam di atas putih,
03:08itu kan mostly bisa-bisa kita simplifikasi bahwa sebenarnya
03:11investasi yang dilakukan oleh negara-negara yang sudah dikunjungi oleh Pak Prabowo,
03:16ini kan tinggal lengku waktu.
03:17Nah, terkait dengan apa yang disampaikan oleh Pak Purbaya misalnya,
03:21ataupun Pak Prabowo ke Rusia.
03:23Bagi saya ini kan untuk menjaga sustainability,
03:25krisis energi, efek dari perang yang ada di Timur Tengah.
03:29Kalau kita mau jujur sebenarnya, Indonesia itu adalah negara yang relatif santai-santai saja nih Mas Yogi.
03:35Di tempat yang lain itu sudah mengumumkan krisis energi.
03:38Bukan hanya soal WFH.
03:40Santai-santai saja ini dalam artinya positif atau negatif nih?
03:43Dalam arti maksudnya, ketersediaan pasokan BBM kita itu tergaransi.
03:48Kan dengan asumsi bahwa seakan-akan perang di Timur Tengah itu kan kiamat bagi segala-galanya.
03:53Kalau kita hitung rata-rata dari data-data itu, kan impor dari Timur Tengah itu sekitar 20%.
03:59Tapi selebihnya kan dari tempat yang lain.
04:01Dari Singapura 60%.
04:02Dari Malaysia hampir 30%.
04:04Dan dari kekurangan itulah kemudian ada dari Amerika dan mungkin nanti akan disupply dari Rusia dan seterusnya.
04:12Jadi itu yang saya sebutkan.
04:13Kenapa Indonesia itu tidak terlampau agresif seperti yang lain?
04:16Mungkin karena skenario untuk mempertahankan penyakitnya sejak awal itu sudah diprediksi.
04:23Dan ada pernyataan dari Menteri SDM Bahlil yang mengatakan bahwa memang saya diperintah oleh Presiden untuk mencari sumber minyak sebanyak
04:32-banyaknya.
04:32Kita dengarkan dulu pernyataan Bahlil Hadalia.
05:01Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, masalah kita sendiri.
05:04Saya memohon, menyarankan, agar ayo kita harus memakai agensi dengan bijak.
05:14Pak Hamid, coba kalau melihat ini nih ya Pak Hamid.
05:17Kayaknya tenang-tenang aja sementara Pak Hamid, Pak JK, sepertinya ada situasi genting gitu mengumpulkan di rumah berturut-turut.
05:24Kemudian meminta supaya naikkan harga BBM untuk menjaga bisnis.
05:28Gimana Pak Hamid sebetulnya? Penjelasannya?
05:30Itu bukan apa. Itu semata-mata untuk melihat postur APBN kita.
05:37Jadi sebenarnya tujuannya dia itu, sebenarnya dia tidak mengundang kelompok-kelompok itu datang.
05:44Karena kenapa dia didatang? Kan orangnya kalau ngomong apa adanya.
05:49Tidak tersirat dan kelebihan beliau itu kan hitungannya ya.
05:53Jadi sebenarnya motifnya itu.
05:56Ya intinya ingin ikut berkontribusi lah.
05:59Nah, saya ingin komentari tadi persoalan kenapa Pak Presiden kita itu disorot kalau ke luar negeri.
06:11Ya karena kan...
06:12Sedangkan karena seolah-olah ini antitesa ini.
06:15Iya.
06:16Presiden sebelumnya itu sangat pasif keluar.
06:19Itu satu sisi ya.
06:20Pak Presiden Pak Prabowo itu aktif sekarang.
06:24Jadi orang melihat, loh apalagi nih?
06:27Ada update. Padahal sebenarnya tujuannya bagus.
06:29Kenapa Pak Hamid? Kan ini berbarengan dengan instruksi Presiden soal efisiensi.
06:33Dan semua daerah merasakan.
06:35Kemudian orang melihat.
06:36Ini kan mesti dijelaskan.
06:38Bahwa kenapa Presiden setiap hampir 2 minggu keluar negeri.
06:42Nah, sampai akhirnya kemarin menjelaskan salah satunya untuk menggunakan minyak.
06:44Ya, pasti.
06:46Ada berapa sih tingkat efisiensinya kalau Presiden keluar negeri.
06:50Kan beda.
06:52Nah, Presiden kita ini keluar negeri memang karena visinya tau.
06:57Visinya eksternal.
06:59Beda dengan pendahulunya.
07:01Kedua, passion.
07:03Passionnya ada.
07:04Ya ada di situ.
07:06Ketiga, ability kemampuan.
07:07Dia bisa bercakap dengan leluasan.
07:10Kemampuan berbahasa asing.
07:11Berbahasa asing.
07:15Kemudian eksposurnya memang eksposur yang cocok di luar negeri dan sebagainya dan seterusnya.
07:21Jadi kalau saya melihatnya bahwa ini hanya orang memandang aja sebagai antitesis.
07:27Dari yang sangat pasif menjadi sangat aktif.
07:31Meskipun publik dalam negeri tidak semuanya setuju juga dengan misalnya contoh BOP, pendekatan ke Amerika.
07:36Terus kemudian kenapa tidak segera memikirkan untuk menaikkan harga.
07:41Karena kan asumsi di APB-nya.
07:43Nah begini, kalau persoalan harga ini, itu kan dua hal yang berbeda ya.
07:50Satu hitungannya adalah matematik, satu hitungannya adalah saya mau melihat rakyat saya dulu tenang.
07:58Saya tidak mau membuat rakyat saya tiba-tiba membayar, mengeluarkan uang begitu banyak untuk BBE.
08:04Jadi kita tidak bisa mengatakan yang mana yang salah.
08:08Satu menggunakan hitungan, satu menggunakan visi populisme.
08:15Nah itu ya.
08:16Nah kembali ke soal tadi itu, soal kenyakan harga BBM.
08:20Samata-mata hitungannya Pak Jika itu adalah hitungan APBN.
08:25APBN kita sekian, ekspenditurnya sekian, lantas kalau di visi bagaimana?
08:32Kan ada undang-undang, 3 persen.
08:33Artinya yang saya merujuk yang disampaikan Pak Jika untuk mengingatkan bahwa segera naikkan harga BBM itu penjelasannya adalah itu.
08:41Untuk semata-mata antisipasi supaya tidak.
08:43Saya ke Bung Fitra-Bung Fitra.
08:45Ini kan seperti ada operasi besar-besaran pencarian sumber minyak.
08:50Kalau tadi dari Pak Bahlil, terus kemudian tadi penjelasannya bahwa sudah dengan Singapura, sudah dengan Malaysia.
08:56Ini kan bisa dibaca, satu memang antisipasi, disitu bagus tadi disampaikan Pak Ramson.
09:01Atau memang mengantisipasi, ini kita nggak bisa memprediksi ini perang sampai kapan.
09:06Sehingga cadangan harus dibuka seluas-luasnya.
09:09Dan benar, memang ini adalah operasi besar-besaran untuk meminta sumber-sumber kepada Menteri untuk mencari sumber-sumber minyak.
09:16Ya oke, sekarang saya bicara dari sisi umumnya dulu.
09:19Tadi disampaikan perjalanan Presiden keluar negeri.
09:22Kita bicara itu dulu.
09:23Nah, memang kalau kita lihat secara sempit di seminggu, dua minggu terakhir, dalam konteks pencarian ke sumber-sumber energi baru.
09:32Sumber-sumber energi yang didapatkan dari negara-negara alternatif atau non-tradisional.
09:37Tapi secara umum, kalau kita lihat, kebutuhan investasi kita untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8%,
09:45hitung-hitungannya adalah 10 ribu triliun, at the very least.
09:48Itu dibagi menjadi ICT, energy, water sanitation, water resources, transportation among housing.
09:54Nah, maksimum yang bisa digunakan di luar negeri, di dalam negeri, kapasitas maksimumnya 3 ribu triliun.
10:00Nah, 7 ribu triliun harus didapatkan dari luar negeri.
10:02Nah, dalam konteks itulah kemudian Presiden beranjang sana,
10:06mengait komitmen dari negara-negara tetangga, negara-negara yang kita lihat punya resources yang cukup baik,
10:13untuk kemudian berinvestasi di Indonesia ya, untuk kemudian mengejar pertumbuhan ekonomi 8% itu.
10:18Jadi kalau kita maknai perjalanan dari Presiden itu kan ada return on investment-nya.
10:22Jadi ibaratnya ini ada...
10:23Biaya perjalanannya itu bisa dibayar dengan...
10:26Investasi yang...
10:27Oleh yang tadi dibilang oleh Mas Adi.
10:28Ada Mas Adi.
10:28Ibaratnya ini dalam satu keluarga, Bapak kita lagi bekerja di luar,
10:32pulang-pulang bawa berkat.
10:33Nah, itulah yang sekarang sedang dikerjakan Bapak Presiden.
10:36Nah, yang berikutnya adalah dalam konteks energi tadi ya,
10:39ini sebenarnya oke kita sedang mencari,
10:41tapi di sisi yang lain dalam konteks ketersediaan pasokan,
10:45dalam hal sekarang ini,
10:47itu sebenarnya tidak masuk dalam ilai kegentingan.
10:50Tetapi kan tetap harus kita antisipasi ke depannya ya.
10:53Tadi ada wacana perangnya itu bisa berlanjut sangat lama sekali dan seterusnya.
10:58Nah, oleh karenanya,
10:59apa yang kita hadapi sekarang adalah fungsi dari perangnya itu sampai kapan.
11:03Nah, yang pertama yang ingin saya jelaskan adalah
11:06this is not our first rodeo.
11:07Tahun 2022, bahkan sudah ada perang Rusia dan Ukraina,
11:10waktu itu yang memuncak,
11:12dan kita masih bisa bertahan ya sepanjang tahun itu,
11:14meskipun harga minyak dunia sampai 120 USD per barrel.
11:17Dan itu kita harus nambahin lebih dari 50 triliun kan?
11:20Kita memenyalakan penyesuaian harga waktu itu ya.
11:23Saya mau ke Pak Ramson.
11:25Pak Ramson, kalau gitu,
11:25Komisi 12 juga setuju bahwa
11:28belum saatnya menaikkan harga BBM,
11:30atau punya analisa lain.
11:31Tapi jawabannya ditahan dulu,
11:33kita akan kembali setelah yang satu ini,
11:34tetaplah bersama satu meja depan.
Komentar