Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah ancaman perang global dan dinamika Rusia serta Amerika, Presiden Prabowo Subianto menegaskan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai, langkah ini juga bagian dari strategi menjaga stabilitas dalam negeri.

Menurut Adi, kunjungan luar negeri yang intens dilakukan Presiden bukan tanpa hasil. Selain membuka jalur energi, juga menghasilkan komitmen investasi besar. Di tengah perang Timur Tengah, Indonesia disebut masih dalam kondisi relatif aman dari sisi energi.

"Bagi saya ini kan untuk menjaga sustainability, krisis, energi, efek dari perang yang ada di Timur Tengah," katanya.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/PuC9wc3XsJI



#prabowo #rusia #bbm

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/663207/kunjungan-luar-negeri-prabowo-disorot-di-tengah-efisiensi-pengamat-sebut-strategi-amankan-cadangan
Transkrip
00:00Jadi, ingin menegaskan lagi bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir tahun dan anggaran saya cukup.
00:11Kalau ketatak gimana? Biar harganya lebih tinggi lagi.
00:15Tidak terkenal misalnya.
00:17Selainnya sebuahnya ada, kita masih punya bantalan uang sebesar 413 rupiah
00:23yang sekarang dalam bentuk sisa anggaran lebih atau sal.
00:30Kalau ketatak itu masih bisa dipakai.
00:32Tapi rasanya sih kita ke sana masih jauh.
00:40Masih di Satu Menjadi Forum, Mas Adi.
00:43Jadi saya memulai pertanyaannya, Presiden menyampaikan itu untuk meyakinkan publik.
00:50Pak Purbayo juga menyampaikan bahwa menenangkan.
00:53Tenang aja, masih aman.
00:55Kita punya uang gitu.
00:56Ini kan berhadapan dengan dinamika bahwa sekarang juga banyak pro-kontra gitu.
01:01Sebagai pengamat politik, Anda melihat bahwa ya ini juga konteks mengamankan dalam negeri.
01:06Satu hal juga penting bagi Pak Prabowo, supaya menjaga persepsi publik.
01:10Dan di sisi lain beriringan itu melakukan kegiatan politik luar negeri dengan melakukan approach ke berbagai kepala negara.
01:17Ya saya kira dua hal, Mas Yogi.
01:20Pertama, kita kan sebelumnya punya Presiden dianggap relatif setelah banyak absen di forum-forum internasional.
01:26Di jamannya Pak Jokowi.
01:27Sebelumnya?
01:27Sebelumnya.
01:28Itu kan juga sering digosipkan oleh banyak orang.
01:30Bagaimana Indonesia bisa hadir di forum-forum internasional,
01:33tapi Presidennya tidak secara officially menghadiri forum-forum penting.
01:37Nah kita saat ini punya Presiden yang sering ke luar negeri, juga diomongkan.
01:41Juga diomongkan ramai dan viral.
01:44Apalagi misalnya di tengah ada upaya efisiensi dan seterusnya.
01:47Cuman kalau saya hitung rata-rata syarumum, apa yang dilakukan oleh Pak Prabowo,
01:51ini sepertinya ingin menata ulang kembali hubungan internasional dengan negara-negara di luar.
01:56Dengan Amerika, dengan Uni Eropa, termasuk juga di Timur Tengah dan bahkan di Asia.
02:01Artinya apa?
02:01Indonesia ingin tunjukkan punya Presiden yang memang pergaulan internasionalnya itu di atas rata-rata.
02:07Itu tujuan awalnya.
02:08Nah yang kedua ketika kita mendengar apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo
02:12ataupun Pak Menteri Keuangan bahwa sebenarnya semua aman terkait dengan energi.
02:17Ini kan memastikan bahwa apa yang dilakukan oleh Prabowo,
02:20ke luar negeri itu ada oleh-olehnya.
02:22Kan sebelum Kursia dan Perancis kan datang ke Jepang dan Korea
02:25dan itu menghasilkan investasi kurang lebih sekitar 574 triliun.
02:33Itu angka yang cukup fantastis tentu saja untuk investasi,
02:37di Indonesia yang saat ini memang sedang melakukan inovasi.
02:41Itu real atau enggak? Atau baru sebatas?
02:43Kalau kita membaca argumen yang kita minimal di media
02:47ataupun teman-teman dari istana, itu kan sesuatu yang sudah real.
02:51Ada poin per poin MOU yang sudah ditandatangani.
02:54Antara Indonesia dengan Jepang kurang lebih sekitar 400 triliun.
02:58Antara Indonesia dengan Korea, Republik Korea kurang lebih sekitar 100 triliunnya.
03:03Kan itu yang kemudian tersirat.
03:05Artinya kalau sudah ada hitam di atas putih,
03:08itu kan mostly bisa-bisa kita simplifikasi bahwa sebenarnya
03:11investasi yang dilakukan oleh negara-negara yang sudah dikunjungi oleh Pak Prabowo,
03:16ini kan tinggal lengku waktu.
03:17Nah, terkait dengan apa yang disampaikan oleh Pak Purbaya misalnya,
03:21ataupun Pak Prabowo ke Rusia.
03:23Bagi saya ini kan untuk menjaga sustainability,
03:25krisis energi, efek dari perang yang ada di Timur Tengah.
03:29Kalau kita mau jujur sebenarnya, Indonesia itu adalah negara yang relatif santai-santai saja nih Mas Yogi.
03:35Di tempat yang lain itu sudah mengumumkan krisis energi.
03:38Bukan hanya soal WFH.
03:40Santai-santai saja ini dalam artinya positif atau negatif nih?
03:43Dalam arti maksudnya, ketersediaan pasokan BBM kita itu tergaransi.
03:48Kan dengan asumsi bahwa seakan-akan perang di Timur Tengah itu kan kiamat bagi segala-galanya.
03:53Kalau kita hitung rata-rata dari data-data itu, kan impor dari Timur Tengah itu sekitar 20%.
03:59Tapi selebihnya kan dari tempat yang lain.
04:01Dari Singapura 60%.
04:02Dari Malaysia hampir 30%.
04:04Dan dari kekurangan itulah kemudian ada dari Amerika dan mungkin nanti akan disupply dari Rusia dan seterusnya.
04:12Jadi itu yang saya sebutkan.
04:13Kenapa Indonesia itu tidak terlampau agresif seperti yang lain?
04:16Mungkin karena skenario untuk mempertahankan penyakitnya sejak awal itu sudah diprediksi.
04:23Dan ada pernyataan dari Menteri SDM Bahlil yang mengatakan bahwa memang saya diperintah oleh Presiden untuk mencari sumber minyak sebanyak
04:32-banyaknya.
04:32Kita dengarkan dulu pernyataan Bahlil Hadalia.
05:01Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, masalah kita sendiri.
05:04Saya memohon, menyarankan, agar ayo kita harus memakai agensi dengan bijak.
05:14Pak Hamid, coba kalau melihat ini nih ya Pak Hamid.
05:17Kayaknya tenang-tenang aja sementara Pak Hamid, Pak JK, sepertinya ada situasi genting gitu mengumpulkan di rumah berturut-turut.
05:24Kemudian meminta supaya naikkan harga BBM untuk menjaga bisnis.
05:28Gimana Pak Hamid sebetulnya? Penjelasannya?
05:30Itu bukan apa. Itu semata-mata untuk melihat postur APBN kita.
05:37Jadi sebenarnya tujuannya dia itu, sebenarnya dia tidak mengundang kelompok-kelompok itu datang.
05:44Karena kenapa dia didatang? Kan orangnya kalau ngomong apa adanya.
05:49Tidak tersirat dan kelebihan beliau itu kan hitungannya ya.
05:53Jadi sebenarnya motifnya itu.
05:56Ya intinya ingin ikut berkontribusi lah.
05:59Nah, saya ingin komentari tadi persoalan kenapa Pak Presiden kita itu disorot kalau ke luar negeri.
06:11Ya karena kan...
06:12Sedangkan karena seolah-olah ini antitesa ini.
06:15Iya.
06:16Presiden sebelumnya itu sangat pasif keluar.
06:19Itu satu sisi ya.
06:20Pak Presiden Pak Prabowo itu aktif sekarang.
06:24Jadi orang melihat, loh apalagi nih?
06:27Ada update. Padahal sebenarnya tujuannya bagus.
06:29Kenapa Pak Hamid? Kan ini berbarengan dengan instruksi Presiden soal efisiensi.
06:33Dan semua daerah merasakan.
06:35Kemudian orang melihat.
06:36Ini kan mesti dijelaskan.
06:38Bahwa kenapa Presiden setiap hampir 2 minggu keluar negeri.
06:42Nah, sampai akhirnya kemarin menjelaskan salah satunya untuk menggunakan minyak.
06:44Ya, pasti.
06:46Ada berapa sih tingkat efisiensinya kalau Presiden keluar negeri.
06:50Kan beda.
06:52Nah, Presiden kita ini keluar negeri memang karena visinya tau.
06:57Visinya eksternal.
06:59Beda dengan pendahulunya.
07:01Kedua, passion.
07:03Passionnya ada.
07:04Ya ada di situ.
07:06Ketiga, ability kemampuan.
07:07Dia bisa bercakap dengan leluasan.
07:10Kemampuan berbahasa asing.
07:11Berbahasa asing.
07:15Kemudian eksposurnya memang eksposur yang cocok di luar negeri dan sebagainya dan seterusnya.
07:21Jadi kalau saya melihatnya bahwa ini hanya orang memandang aja sebagai antitesis.
07:27Dari yang sangat pasif menjadi sangat aktif.
07:31Meskipun publik dalam negeri tidak semuanya setuju juga dengan misalnya contoh BOP, pendekatan ke Amerika.
07:36Terus kemudian kenapa tidak segera memikirkan untuk menaikkan harga.
07:41Karena kan asumsi di APB-nya.
07:43Nah begini, kalau persoalan harga ini, itu kan dua hal yang berbeda ya.
07:50Satu hitungannya adalah matematik, satu hitungannya adalah saya mau melihat rakyat saya dulu tenang.
07:58Saya tidak mau membuat rakyat saya tiba-tiba membayar, mengeluarkan uang begitu banyak untuk BBE.
08:04Jadi kita tidak bisa mengatakan yang mana yang salah.
08:08Satu menggunakan hitungan, satu menggunakan visi populisme.
08:15Nah itu ya.
08:16Nah kembali ke soal tadi itu, soal kenyakan harga BBM.
08:20Samata-mata hitungannya Pak Jika itu adalah hitungan APBN.
08:25APBN kita sekian, ekspenditurnya sekian, lantas kalau di visi bagaimana?
08:32Kan ada undang-undang, 3 persen.
08:33Artinya yang saya merujuk yang disampaikan Pak Jika untuk mengingatkan bahwa segera naikkan harga BBM itu penjelasannya adalah itu.
08:41Untuk semata-mata antisipasi supaya tidak.
08:43Saya ke Bung Fitra-Bung Fitra.
08:45Ini kan seperti ada operasi besar-besaran pencarian sumber minyak.
08:50Kalau tadi dari Pak Bahlil, terus kemudian tadi penjelasannya bahwa sudah dengan Singapura, sudah dengan Malaysia.
08:56Ini kan bisa dibaca, satu memang antisipasi, disitu bagus tadi disampaikan Pak Ramson.
09:01Atau memang mengantisipasi, ini kita nggak bisa memprediksi ini perang sampai kapan.
09:06Sehingga cadangan harus dibuka seluas-luasnya.
09:09Dan benar, memang ini adalah operasi besar-besaran untuk meminta sumber-sumber kepada Menteri untuk mencari sumber-sumber minyak.
09:16Ya oke, sekarang saya bicara dari sisi umumnya dulu.
09:19Tadi disampaikan perjalanan Presiden keluar negeri.
09:22Kita bicara itu dulu.
09:23Nah, memang kalau kita lihat secara sempit di seminggu, dua minggu terakhir, dalam konteks pencarian ke sumber-sumber energi baru.
09:32Sumber-sumber energi yang didapatkan dari negara-negara alternatif atau non-tradisional.
09:37Tapi secara umum, kalau kita lihat, kebutuhan investasi kita untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8%,
09:45hitung-hitungannya adalah 10 ribu triliun, at the very least.
09:48Itu dibagi menjadi ICT, energy, water sanitation, water resources, transportation among housing.
09:54Nah, maksimum yang bisa digunakan di luar negeri, di dalam negeri, kapasitas maksimumnya 3 ribu triliun.
10:00Nah, 7 ribu triliun harus didapatkan dari luar negeri.
10:02Nah, dalam konteks itulah kemudian Presiden beranjang sana,
10:06mengait komitmen dari negara-negara tetangga, negara-negara yang kita lihat punya resources yang cukup baik,
10:13untuk kemudian berinvestasi di Indonesia ya, untuk kemudian mengejar pertumbuhan ekonomi 8% itu.
10:18Jadi kalau kita maknai perjalanan dari Presiden itu kan ada return on investment-nya.
10:22Jadi ibaratnya ini ada...
10:23Biaya perjalanannya itu bisa dibayar dengan...
10:26Investasi yang...
10:27Oleh yang tadi dibilang oleh Mas Adi.
10:28Ada Mas Adi.
10:28Ibaratnya ini dalam satu keluarga, Bapak kita lagi bekerja di luar,
10:32pulang-pulang bawa berkat.
10:33Nah, itulah yang sekarang sedang dikerjakan Bapak Presiden.
10:36Nah, yang berikutnya adalah dalam konteks energi tadi ya,
10:39ini sebenarnya oke kita sedang mencari,
10:41tapi di sisi yang lain dalam konteks ketersediaan pasokan,
10:45dalam hal sekarang ini,
10:47itu sebenarnya tidak masuk dalam ilai kegentingan.
10:50Tetapi kan tetap harus kita antisipasi ke depannya ya.
10:53Tadi ada wacana perangnya itu bisa berlanjut sangat lama sekali dan seterusnya.
10:58Nah, oleh karenanya,
10:59apa yang kita hadapi sekarang adalah fungsi dari perangnya itu sampai kapan.
11:03Nah, yang pertama yang ingin saya jelaskan adalah
11:06this is not our first rodeo.
11:07Tahun 2022, bahkan sudah ada perang Rusia dan Ukraina,
11:10waktu itu yang memuncak,
11:12dan kita masih bisa bertahan ya sepanjang tahun itu,
11:14meskipun harga minyak dunia sampai 120 USD per barrel.
11:17Dan itu kita harus nambahin lebih dari 50 triliun kan?
11:20Kita memenyalakan penyesuaian harga waktu itu ya.
11:23Saya mau ke Pak Ramson.
11:25Pak Ramson, kalau gitu,
11:25Komisi 12 juga setuju bahwa
11:28belum saatnya menaikkan harga BBM,
11:30atau punya analisa lain.
11:31Tapi jawabannya ditahan dulu,
11:33kita akan kembali setelah yang satu ini,
11:34tetaplah bersama satu meja depan.
Komentar

Dianjurkan