Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dubes RI untuk Rusia 2008-2011, Prof. Hamid Awaluddin, memprediksi konflik yang terjadi tidak akan berlangsung lama.

"Amerika itu tidak pernah menang kalau perangnya panjang," katanya.

Ia menilai tekanan ekonomi dan domestik akan memaksa Amerika untuk segera mengakhiri konflik.

Bahkan menurutnya, perang diperkirakan akan selesai dalam beberapa minggu lagi.


Sementara itu, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Ramson Siagian, menilai kebijakan Presiden menahan harga BBM merupakan bagian dari strategi fiskal yang tepat.

Menurut Ramson, kebijakan harga BBM tidak bisa hanya dilihat dari sisi biaya produksi semata, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.

DPR juga menegaskan dukungan terhadap langkah Presiden dalam menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian global.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/PuC9wc3XsJI



#prabowo #rusia #bbm

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/663209/hamid-awaluddin-prediksi-perang-segera-berakhir-dpr-dukung-prabowo-jaga-stabilitas-bbm-satu-meja
Transkrip
00:00Kita juga menekankan kembali, pentingnya untuk kembali ke meja perundingan.
00:07Saya juga menyampaikan concern dari rekan-rekan kita yang ada di negara-negara Teluk
00:15terhadap serangan yang mereka dapatkan di wilayah-wilayah mereka.
00:20Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator,
00:22tapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu, ya kita kembalikan kepada mereka.
00:30Masih di Satu Menjadi Forum, Pak Ramson, saya melanjutkan.
00:33Jadi pandangan DPR sejauh ini sudah ada nggak beberapa usulan atau mungkin plan untuk salah satunya
00:39juga menjaga ketahanan fiskal untuk skema kenaikan harga BPM
00:44atau tetap ada itu karena tadi cadangan berdasarkan hitungan, kekuatan kilang, dan sebagainya?
00:49Jadi kita tetap melihat kira-kira bagaimana visi Bapak Presiden.
00:53Apalagi referensi Bapak Presiden Prabowo, heavy-nya kuatnya pasal 33 Undang-Undang Dasar 45
01:00sama sila kelima keadaan sosial bagi seluruh Indonesia.
01:04Bisa kita lihat dari program MPG yang untuk rakyat, termasuk juga untuk BPM ini kenapa tidak naik.
01:09Ini kan soal strategi kebijakan fiskal aja nih.
01:13Kalau soal tidak menaikkan harga BPM.
01:15Jangan dilihat kos per unitnya.
01:19Kos per unit memang mungkin artinya harga pokok penjualan sudah di atas harga jual.
01:27Tapi kan ada keterbatasan waktu bahwa sampai kapan menahan?
01:32Kalau memang perangnya lewat dari tahun ini, kalau dari Pak Purbayang maka sampai akhir tahun tidak ada kenaikan BPM.
01:38Itu soal strategi men-switch fiskalnya.
01:42Di mana yang perlu dulu, tapi ini kan perhitungannya tidak terlalu jarak jauh.
01:48Buktinya nanti, kenapa misalnya contohnya setiap ada, kenapa juga Trump tidak suka kalau harga minyak tinggi.
01:56Padahal mereka punya produksi terbesar sekarang, Amerika.
01:59Karena kan harga minyak itu kan pasar global.
02:02Jadi biarpun mereka punya minyak sangat besar, kalau harga pasar global sempat USD per barrel, di Amerika juga segitu.
02:10Rakyatnya warah sama dia.
02:11Makanya dia tekan terus.
02:13Dia berusaha menekan.
02:14Sekarang sudah 94.
02:15Jadi ini kepentingan Amerika juga kuat di situ.
02:18Artinya paling tidak dari fraksi Gerindra di DPR melihat bahwa ini sudah tepat apa yang dikerjakan oleh Presiden
02:25dan belum ada, perlu ada berbagai alternatif untuk mengantisipasi kalau perang ini berkepanjangan.
02:30Bukan hanya dari fraksi Gerindra, hampir semua komisi 12 pimpinan dan anggota mendukung apa yang dilakukan oleh Bapak Presiden.
02:39Dan kita juga memberikan masukan-masukan strategis melalui Bapak Menteri SDM.
02:46Tentunya kalau Bapak Presiden kan dari fraksi bisa internal lah, itu tidak perlu dikemukakan.
02:50Tapi dari sisi kepentingan, dari sisi komisi 12, kita kontak.
02:56Kita kasih masukan ke Bapak Menteri SDM untuk solusi-solusi sebagai referensi untuk beliau, tambahan referensi.
03:04Terima kasih Pak Ramstadz.
03:04Jadi tidak ada masalah kalau kepentingan energi kita sekarang.
03:07Prof. Hamid, ini kan perundingannya kemarin di Islam Babad tidak mencapai hasil apapun.
03:14Belum.
03:14Bahkan, ya oke lah, bahasa positifnya belum.
03:17Tapi sudah disiapkan, difasilitasi, dan kemudian orang memprediksi bahwa ini makin panjang.
03:23Begini.
03:23Bahkan Rusia aja sama Ukraine belum selesai kan?
03:25Ya, kalau saya.
03:26Apa kira-kira posisi Indonesia yang lebih pas supaya, karena ada keterbatasan,
03:31kesiapan kita menahan fiskal sampai dengan akhir tahun juga disebutkan oleh Pak Purbaik.
03:35Kalau Anda tanya saya soal perang Timur Tengah ini, tidak lama, tidak lama lagi.
03:42Tidak lama lagi?
03:43Apa, apa risernya?
03:44Gini, gini, simple.
03:46Amerika itu tidak pernah menang kalau perangnya panjang.
03:50Tidak pernah menang.
03:51Dan dia sadar sepenuhnya itu.
03:53Tahu nggak, ekonomi Amerika sekarang ini, setiap hari dia harus keluarkan 2 miliar dolar untuk berperang.
04:01Sampai kapan?
04:02Kedua, tekanan domestiknya kan, sangat keras sehingga Trump tidak akan mungkin lanjutkan ini perang.
04:11Sekarang tinggal cari alasan menyelamatkan muka.
04:15Dan sudah ditemukan satu alasan.
04:18Saya nggak peduli hasilnya ini, yang penting kita sudah menang secara militer.
04:23Nanti alasan keduanya, bisa jadi mengatakan, yang penting kita sudah bunuh Ali Hameni.
04:28Wah, ya kan? Jadi kalau Anda tanya saya, apakah perang ini panjang?
04:35Jelas, saya katakan, tidak bakal panjang.
04:38Hanya kelas.
04:39Ukurannya panjang pendek itu apa? Akan melampaui tahun ini atau berhenti sebelum?
04:43Oh, enggak. Menurut saya beberapa minggu selesai.
04:46Dalam berapa minggu ini?
04:47Dalam berapa minggu ini.
04:48Nah, memang ada kesalahan kemarin, kesalahan teknis perundingan.
04:54Mestinya mediator Pakistan melarang kedua belah pihak merilis poin-poin yang ingin mereka ajukan.
05:04Itu kesalahan teknis.
05:06Sebelum dilakukan perundingan sudah dipublish dulu.
05:08Iya. Jadi kalau ada yang tidak cocok, harga diri kan?
05:11Mestinya di mana-mana perundingan damai itu, semua poin dari pihak yang bertiknya tidak dirilis ke publik.
05:20Kan itu harus dibicarakan internal.
05:23Jadi kegagalan kemarin itu karena kegagalan teknis operasional.
05:29Oke, oke. Nah, kalau begitu kemudian peran Indonesia yang di awal tadi disampaikan sempat ingin mengusulkan menjadi mediator, penengah, dan
05:37sebagainya.
05:38Apakah tetap dalam posisi itu, meskipun dalam praktiknya tidak mudah atau seperti apa?
05:44Oh, Anda tanya saya. Bukan beliau.
05:46Iya. Niat baik itu ya tetap harus niat baik.
05:49Sekarang pertanyaannya, apakah itu applicable?
05:53Bisa.
05:54Nah, untuk sementara saya tidak melihat bahwa itu bisa.
05:57Oke.
05:58Oke.
05:58Ya, cukup.
05:59Mas Adi, Mas Adi, saya mau lihat dalam politik, kan penting sekali nih dalam situasi krisis itu juga menjaga stabilitas
06:06politik dalam negeri.
06:07Ya kan, karena kebijakan-kebijakan terkait dengan mengantisipasi krisis yang dilakukan oleh pemerintah melalui presiden dengan kebijakan luar negeri itu
06:14juga pro-kontra.
06:16Nah, Mas Adi melihat bahwa ini penting juga dan ada nggak potensi yang memang ini dipakai, dilihat celah oleh kelompok
06:23-kelompok yang berseberangan dengan pemerintahan?
06:26Iya, pastinya situasi gejolak global itu kan dalam banyak hal turut mendinamisasi bagaimana respon dan sikap pemerintah terkait dengan kebijakan
06:36-kebijakan domestik.
06:37Salah satunya soal apakah boleh menaikkan BBM ataupun tidak.
06:41Nah, kalau saya...
06:42Kan ada asumsi, kalau ada asumsi bahwa kalau BBM itu naik maka akan banyak orang yang kemudian akan berhemat.
06:50Tidak keluar rumah kalau nggak penting-penting amat.
06:53Konsumsinya juga bisa dibatasi.
06:55Tapi kalau ditanya ke saya, Mas Yogi, saya dari dulu adalah madhab yang sangat setuju dengan isu dan kebijakan populisme.
07:02Apapun judulnya, rakyat kelas menengah ke bawah, kelompok miskin, itu jangan sampai terbebani dengan kenaikan-kenaikan apapun.
07:10Jangan ada judul kenaikan BBM, jangan ada judul kenaikan tarif dasar listrik,
07:14jangan ada pencaputan subsidi di sektor misalnya pupuk, petani, dan seterusnya, dan seterusnya.
07:19Meski ada yang bicara dengan nada yang cukup kritis,
07:22kalau terus-terusan misalnya tidak menaikkan harga BBM, subsidi untuk kelas miskin ke bawah,
07:27maka APBN akan jebol.
07:29Pertanyaannya adalah, kan memang APBN itu untuk rakyat kecil, bukan untuk yang lainnya.
07:34Jadi Pak Prabowo itu ketika memilih untuk tidak menaikkan BBM bagi saya,
07:38ini adalah mata rantai bagaimana Prabowo itu memang mempertahankan kebijakan populismenya.
07:43Disamping juga menjaga stabilitas politik dalam negeri.
07:46Kalau kita mendengarkan pidato Pak Prabowo, ya duit negara itu memang diperuntukkan untuk orang miskin,
07:51bukan untuk yang lainnya.
07:52Kalau pun toh IDN itu agak mentok-mentok, APBN kita agak mau jebol lah kira-kira begitu,
07:58kalau pun toh mau dinakan memang untuk kelas menengah ke atas,
08:00yang saya kira memang saatnya mereka untuk berkontribusi untuk bangsa dan negara.
08:05Minimal tidak membeli BBM bersubsidio.
08:06Saya ke Mas Fitra lagi, Pak Kom dan pemerintah lah khususnya, apa antisipasinya?
08:12Ini kan prediksi nih, bagaimanapun kemarin kita berharap keperundingan ternyata zong lah.
08:17Yang pertama kalau kita lihat dari sisi fiskal, we are in a very good condition.
08:22Kenapa?
08:22Karena dari awal tahun sampai sekarang, kita sudah mampu menyisir 130 triliun rupiah.
08:27That's the first stage.
08:27Nah, yang berikutnya bisa disisir lagi sampai 100 triliun rupiah tambahan, jadi 230 triliun rupiah.
08:33Belum ditambah lagi dengan saldo anggaran lebih, yang kita all in all punya sekitar 450 triliun rupiah.
08:39Yang bisa digunakan juga ya nanti dengan persetujuan DPR tentunya, 100 triliun tambahan.
08:43Tidak mesti harus semuanya dipakai ya, 100 triliun tambahan itu bisa digunakan sebagai buffer.
08:48Jadi kita sudah ada multi-layer.
08:49Nah, yang dibutuhkan untuk subsidi rekomendasi energi tanpa harus menaikkan harga BBM itu berapa sih?
08:55Nah, pemerintah sudah men-set ya, kemarin Pak Purbayo sudah men-set 100 USD per barrel.
09:01Nah, yang bisa kita maknai juga harusnya, sebenarnya sampai sekarang ini ya, year to date, harga ICP itu baru 74
09:10USD per barrel.
09:11Di mana asumsi makronya 70.
09:12Jadi tidak jauh-jauh gitu kan, kalau kita average dalam 3 bulan terakhir.
09:17Nah, tapi kalau pun sampai 100 USD per barrel, itu duitnya sudah ada.
09:21Nah, itu yang pertama.
09:21Jadi tanpa harus men...
09:22Gimana itu duit ya, Mas?
09:23Kalau sampai 100 USD?
09:26130 triliun rupiah kita sudah sisir.
09:28Dari mana sumbernya itu?
09:30Sumbernya itu dari APBN.
09:31APBN, jadi pertama itu...
09:33Itu bukan dari sisa anggaran lebih?
09:35Bukan, bukan.
09:35Dari mana itu memang penting sih?
09:36Saldo anggaran lebih itu lain lagi ya.
09:38Yang 130 triliun rupiah itu sudah ada realokasi dan refocusing.
09:42Ini dari diskusi saya dengan Pak Wamenkew, kita sudah mengamankan 130 triliun rupiah.
09:48Dari anggaran-anggaran yang tidak penting, yang tidak prioritas, itu diamankan.
09:51Tidak, maksud saya anggaran yang di...
09:55Ini anggaran dipangkas...
09:57Anggaran yang sudah di...
09:58Atau switch anggaran.
09:59Switch anggaran.
09:59Switch anggaran.
10:01Efisiensi di kementerian-kementerian lembaga tertentu...
10:04Termasuk dana transfer ke daerah juga dipakai ini, di alokasi...
10:07Transfer ke daerah kan sudah ada di plan ya.
10:09Betul.
10:09Secara umum, kalau kita sisir ke kementerian-kementerian, ada anggaran-anggaran misalnya ya.
10:13Ada ATK, ini puluhan triliun buat apa?
10:15Itu kan, itu di...
10:16Jadi 100 triliun tadi dari situ?
10:18Kedinasan, itu buat apa jalan-jalannya efisiensi kalau nggak ada keuntungan ekonominya.
10:21Itu kita sudah mengamankan on hand, 130 triliun rupiah, dan bisa dapat 100 triliun rupiah lagi.
10:26Jadi buffer...
10:27Itu memang hebat.
10:27Menteri Keuangan langsung di bawah beliau.
10:29Oke.
10:29Yuk, tahu betul.
10:30Buffer ada cukup.
10:31Kita akan lanjut.
10:32Kita harus jadah dulu, bagaimana pemerintah harusnya merespon kekhawatiran publik
10:36dan juga melihat peluang dari kondisi geopolitik, kita akan bahas usai jadah.
10:40Tetaplah bersama Satu Menjadah Forum.
Komentar

Dianjurkan