Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, marah dengan sikap sejumlah negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, yang menolak terlibat dalam upaya Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz. Trump mengancam akan mengurangi iuran ke NATO.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan, apa pun tekanannya, Inggris tidak akan terseret perang dengan Iran. Inggris juga menolak terlibat dalam blokade Selat Hormuz. Ia menambahkan, sangat penting agar Selat Hormuz dibuka sesegera mungkin.

Sikap yang sama juga diambil Italia. Negara itu menolak keterlibatan militer dalam memblokade Selat Hormuz dan lebih memilih pendekatan diplomatik.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut keputusan Trump memblokade Selat Hormuz sebagai tindakan berbahaya.

Tiongkok menegaskan, menjaga keamanan dan stabilitas kawasan serta memastikan kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz adalah kepentingan bersama komunitas internasional.

Iran telah mengumumkan rute alternatif untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Teheran beralasan risiko ranjau laut di zona utama jalur air vital tersebut masih sangat tinggi. Iran juga menyiapkan semua skenario, termasuk perang dengan armada laut Amerika Serikat.

Apakah tekanan negara-negara Eropa mampu meruntuhkan blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz? Kita bahas bersama Kepala Badan Intelijen dan Strategis TNI 20112013, Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman Ponto, dan peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga Makin Tegang! AS-Iran Berebut Selat Hormuz, Negara-Negara Eropa Kecam Langkah Amerika di https://www.kompas.tv/internasional/663172/makin-tegang-as-iran-berebut-selat-hormuz-negara-negara-eropa-kecam-langkah-amerika

#selathormuz #as #trump #perang #timurtengah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/663201/full-soleman-ponto-peneliti-senior-soal-negara-negara-eropa-tolak-blokade-as-di-selat-hormuz

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:07Intro
00:27Saudara di tasmen kapal perang dari Armada Pasifik Rusia melakukan serangkaian latihan penembakan artileri langsung di Laut Cina Selatan.
00:39Rekaman yang dirilis pers Armada Pasifik Rusia pada selasa waktu setempat menunjukkan korvet Rusia Super Cheney dan Resky menembakkan artileri
00:48dan senapan mesin.
00:49Latihan juga melibatkan helikopter KA-27 yang patroli di atas kawasan tersebut.
00:54Kementerian Pertahanan Rusia menambahkan bahwa latihan diakhiri dengan pelatihan kru tentang prosedur pengendalian kerusakan.
01:01Jelasmen Armada Pasifik berangkat dari Vladivostok Rusia pada 12 Februari untuk menempatkan di kawasan Asia Pasifik.
01:15Presiden Amerika Serikat Donald Trump marah dengan sikap sejumlah negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO
01:22yang menolak terlibat dalam upaya Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz.
01:26Trump mengancam akan mengurangi iuran ke NATO.
01:51Sebelumnya Perdana Menteri Inggris menegaskan apapun tekanannya, Inggris tidak akan terseret perang dengan Iran.
01:57Inggris juga menolak terlibat dalam blokade Selat Hormuz.
02:01Perdana Menteri Inggris menambahkan sangat penting agar Selat Hormuz dibuka sesegera mungkin.
02:37Sikap yang sama juga diambil Italia.
02:40Negara itu menolak keterlibatan militer dalam memblokade Selat Hormuz dan lebih memilih pendekatan diplomatik.
03:14Sementara itu, Kementerian Luar Negri Tiongkok
03:16menyebut keputusan Trump memblokade Selat Hormuz sebagai tindakan berbahaya.
03:20Tiongkok menegaskan menjaga keamanan dan stabilitas kawasan
03:24serta memastikan kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz adalah kepentingan bersama komunitas internasional.
04:01Iran telah mengumumkan rute alternatif untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
04:06Teheran beralasan resiko ranjau laut di zona utama jalur air vital tersebut masih sangat tinggi.
04:13Iran juga menyiapkan semua skenario termasuk perang dengan armada laut Amerika Serikat.
04:22Dua hari blokade maritim oleh Amerika Serikat ke pelabuhan Iran, dunia bergerak,
04:26sejumlah negara menolak ikut dalam aksi Amerika dan mencari jalan lain untuk membuka Selat Hormuz.
04:31Apakah tekanan negara-negara Eropa mampu meruntuhkan blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz?
04:35Kita bahas bersama Kepala Badan Intelijen dan Strategis TNI 2011-2013,
04:40Laksamana Muda TNI Pernawirawan Soleyman Ponto dan Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusuma Sumantri.
04:47Mbak Aisyah, selamat petang.
04:50Selamat petang, Mas.
04:51Baik, kita masih tunggu ya Pak Soleyman untuk bergabung,
04:54tapi saya ingin ke Mbak Aisyah terlebih dahulu bahwa setelah Amerika Serikat ini
04:58memblokade pelabuhan Iran, negara-negara Eropa ini sepertinya berlawanan arah.
05:03Apakah dunia, termasuk Rusia dan Tiongkok, mampu menghentikan blokade Amerika?
05:07Mbak Aisyah?
05:09Ya, memang blokade ini kan sebenarnya permasalahan kontrol ya,
05:14karena setelah kemarin negosiasi yang gagal di antara Iran dan Amerika Serikat,
05:19salah satu sticking point yang ada di antara keduanya itu adalah permasalahan Selat Hormuz.
05:23Kita lihat bahwa Iran ini kan bertujuan untuk mendapatkan sebuah kontrol bersamaan dengan Oman di sana,
05:29dengan menggunakan ring inbi di dalamnya.
05:31Dan saya rasa ini merupakan sebuah pukulan terhadap ekonomi Amerika Serikat,
05:34yang sekarang sudah terdesak, ditambah lagi dengan kemudian keinginan Iran memuasai Selat Hormuz.
05:41Meskipun secara hukum internasional ini sebenarnya sesuatu yang dilarang,
05:44tetapi sekali lagi ya, jika kita kembali memahami bahwa ini adalah sebuah victor's peace,
05:50jadi siapa yang memenangkan peperangan secara setelah itu yang biasanya akan memiliki kemampuan untuk bisa mengatur nanti norma-norma internasional,
05:58maka kita akan melihat kemungkinan bahwa di masa depan ya Iran akan bisa saja gitu ya,
06:03memiliki kontrol yang penuh atas Selat Hormuz dan memperlakukan Selat Hormuz sama dengan seperti terusan Suez atau terusan Perang.
06:09Nah, lalu kita lihat di sini sebenarnya Amerika Serikat ini meminta sebenarnya bantuan dari negara-negara lain,
06:16yang saya rasa sebenarnya responnya ini sebenarnya sudah bisa ditebak.
06:19Karena sejak keperangan, Amerika Serikat ini kan berusaha untuk meminta koalisi dari negara-negara barat untuk membantu membuat kembali Selat
06:29Hormuz,
06:29tetapi ditolak.
06:30Kemudian sekarang dengan melakukan blokan dari Selat Hormuz,
06:33yang terjadi adalah sebenarnya ini strategi yang sifatnya counter-intuitive dengan apa yang harusnya dilakukan oleh Amerika Serikat.
06:39Ada alasan kenapa dulu di awal-awal peperangan, Amerika Serikat sempat melakukan pembebasan sanksi dari minyak Rusia
06:46dan kemudian pembebasan sanksi dari minyak Iran gitu ya.
06:50Jogalah untuk bisa menstabilkan harga ekonomi dengan seperti ini,
06:54maka kemudian ini akan menjadi memperparah kondisi ekonomi global dunia.
06:58Oke, memperparah kondisi ekonomi global dunia.
07:00Saya ingin ke Pak Soleyman Ponto bahwa Amerika menempatkan 13 kapal dari Laut Merah hingga Laut Arab.
07:05Apa yang bisa dilakukan Amerika Serikat dengan kekuatan itu kepada Iran selain blokade saat ini, Pak Soleyman?
07:11Ya hanya itu yang biasa dilakukan, nggak bisa lebih dari itu.
07:15Hanya memblokade.
07:18Itu nggak ada lebih dari itu, karena kan laut juga terbatas.
07:22Jadi dengan kapal-kapal itu saja yang dapat dilakukan oleh Amerika.
07:25Tidak lebih dari itu.
07:27Tapi apakah ini juga akan meningkatkan eskalasi potensi, mohon maaf, perang di tengah genjatan senjata yang tengah terjadi, Pak Soleyman?
07:33Oh ya, sangat bisa, sangat bisa.
07:36Itu sangat bisa itu.
07:38Kalau tinggal apakah mereka menahan diri atau tidak.
07:42Kalau diakumat gilanya semua serang-menyerang,
07:44lalu juga Iran juga mengadakan salvo rudal, salvo peluru kendali,
07:53wah itu tambah rame itu nanti.
07:56Menang jadi Arab, jadi abu itu.
07:59Gitu.
08:00Oke, tapi Anda melihat seberapa besar potensi tersebut bisa terjadi dengan melihat dinamika yang terjadi saat ini, Pak Soleyman?
08:06Ya, sangat besar dengan sudah siap seperti itu.
08:11Tidak ada persetujuan untuk berhenti.
08:15Semua siap perang.
08:16Ya, sangat besar.
08:17Tinggal siapa yang sekarang yang akan mendahului.
08:21Itu saja.
08:22Artinya apa yang kemudian diputuskan oleh Presiden Amerika Serikat untuk mengerahkan armada,
08:27angkatan laut Amerika ke sisir selatan Iran,
08:30ini bukan hanya sekedar gertakan saja?
08:34Iya, itu bukan gertak.
08:36Itu dia, selama ini kan kita belum pernah melihat kalau si Trump ini gertak,
08:41apa yang dia sebut, dia lakukan apapun hasilnya.
08:45Gitu.
08:46Oke.
08:47Tapi eskalasinya akan meluas, Pak?
08:48Karena kita tahu bahwa negara-negara Eropa juga nampaknya sudah mulai menolak sikap yang kemudian diambil oleh Amerika?
08:55Iya, pasti meluas.
08:56Pasti meluas.
08:58Tidak mungkin tidak meluas itu.
09:00Pasti meluas lah.
09:01Oke, baik.
09:03Oke, saya ingin ke Mbak Aisyah bahwa tadi sudah dijelaskan,
09:06ada kemungkinan eskalasinya ini meningkat.
09:09Apakah bisa jadi Rusia dan juga kemudian Tiongkok juga terlibat dalam peristiwa ini?
09:15Ataupun dalam situasi ini?
09:17Tapi kita tahan dulu, Mbak Aisyah, kita akan kembali usai jeda untuk membahas hal ini.
09:21Tetaplah di Kompas Petang.
09:34Kita lanjutkan dialog terkait dengan blokada Amerika Serikat di Selat Hormuz.
09:37Saya ingin ke Mbak Aisyah.
09:38Mbak Aisyah bahwa tadi disampaikan oleh Pak Soleman,
09:41ada kemungkinan eskalasi di Timur Tengah kembali meningkat dan bahkan melibatkan sejumlah negara.
09:46Apakah kemudian Tiongkok dan Rusia bisa saja terlibat dalam situasi yang kemudian terjadi di sana?
09:52Ya, kita lihat di sini sebenarnya Tiongkok dan Rusia ini merupakan dua dari aliansi terdekat yang dimiliki oleh Iran.
09:59Dan keduanya sebenarnya mendukung Iran dengan cara-cara yang tidak langsung.
10:03Mereka ini berusaha untuk kemudian menjaga jarak sebenarnya dari konflik tersebut.
10:08Nah, kita lihat di sini sebenarnya sudah ada pernyataan dari baik itu Rusia dan China
10:12bahwa mereka akan berkontribusi aktif di dalam perdamaian di kawasan Timur Tengah.
10:17Nah, tetapi sebenarnya dibalik itu kita lihat sebenarnya keduanya ini memiliki keuntungan.
10:21Ada keuntungan yang bisa diperoleh dari peperangan bertanjangannya yang dilakukan di Iran.
10:25Terutama ketika perang ini pasifat, perang atrisi.
10:28Ada keuntungan yang didapatkan oleh Rusia karena Amerika Serikat ini vakum di wilayah Eropa.
10:34Sehingga dukungannya terhadap Ukraina ini berkurang.
10:37Dan kemudian untuk China, di sini juga ada vakum kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.
10:42Khususnya dengan penarikan sejumlah ya kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut
10:47dan adanya penarikan TAT System di Korea Selatan saat itu.
10:51Nah, tetapi permasalahannya dua negara ini tetap menginginkan bahwa perang terkonten di kawasan Iran dan Timur Tengah ya.
10:58Jadi tidak melebar ke kawasan lain.
10:59Nah, saya kira di sini Amerika Serikat ini dengan melakukan blokade,
11:04ya ini akan melakukan ekskalasi lebih besar.
11:07Dan konflik ini akan kemudian mengamplifikasi dampak-dampak ekonomi,
11:11lalu kemudian dampak yang mungkin akan didapat.
11:13Tapi saya kira Rusia dan China belum ada niatan untuk kemudian bisa bergabung dan mendukung Iran di kawasan Selat Hormuz
11:20ya.
11:20Oke, meskipun di sisi lain Rusia juga sudah merilis video latihan dalam tanah kutip perang di Laut Cina Selatan,
11:26tidakkah ini menjadi simbol atau kode khusus untuk Amerika Serikat?
11:30Ya, kita ketahui bahwa sekarang kapal perang Rusia termasuk di antaranya Pacific Fleet Corvettes dan Frigates Marshal Saposhiknov itu
11:39sudah melakukan kemudian patroli aktif dan kemudian di sini ada latihan bersama
11:43yang kemudian berfokus kepada anti-submarine warfare di kawasan Laut Cina Selatan.
11:49Ini sebenarnya merupakan kerjasama yang sudah terjalin di antara Moskow dan Beijing.
11:53Dan ini kita lihat sebenarnya latihan bersama ini mungkin perlu kita pahami terpisah dari apa yang terjadi di kawasan Timur
11:59Tengah ya.
11:59More of that, I think itu justru merupakan sebuah sinyal yang kemudian menunjukkan bahwa China dan kemudian Rusia itu memperkuat
12:07presencenya di kawasan Laut Cina Selatan dan di Pasifik.
12:11Oke, kalau ditanyakan siapa yang kemudian mampu meruntuhkan blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz, yang paling memungkinkan, Baishya?
12:18Ya, kita lihat di sini saya rasa ini cukup menarik ya karena Amerika Serikat sendiri menurut saya yang paling bisa
12:24memungkinkan ya meruntuhkan blokade tersebut.
12:27Karena pertama begini, masalah blokade ini akan berdampak sangat besar di Amerika Serikat.
12:31Sekarang, harga minyak itu di Amerika Serikat sudah mencapai sekitar 4-5 USD per galon, itu lebih sekitar 1,5
12:40USD ya.
12:41Lalu kemudian harga LNG itu sudah mencapai sekitar 2 galon lebih mahal ya dibandingkan, sorry 2 dolar lebih mahal dibandingkan
12:48dengan sebelumnya.
12:48Dan ini kan ada politik dalam negeri yang dihasilkan dari harga-harga barang yang semakin mahal.
12:53Yes, blokade ini akan merugikan Iran sekitar 435 juta dolar perharinya atau sekitar 13 miliar USD dalam satu bulan penuh.
13:02Tetapi kita lihat, untuk Iran ini adalah perang-perang yang existential threat ya.
13:07Ini akan mempengaruhi bertahannya bangsa mereka di dalam peperangan ini gitu.
13:12Keberlangsungan rezim mereka akan sangat bergantung dari peperangan ini.
13:15Nah, saya kira Amerika Serikat jauh lebih merugi karena adanya tekanan domestik ya dan kemudian tekanan internasional.
13:21Baik, saya ingin ke Pak Soleyman Fonto bahwa tadi Anda menyebutkan eskalasi di Timur Tengah ini bisa saja meningkat.
13:27Kemudian pertanyaannya apakah memungkinkan Pak Soleyman ketika Tiongkok dan juga Rusia turut terlibat dalam situasi yang terjadi di Timur Tengah?
13:36Nah, Rusia sama Tiongkok tinggal dilihat apakah mereka dirugikan atau tidak.
13:42Yang pertama.
13:43Kedua, apakah mereka merasa harus membela Iran atau tidak.
13:48Kalau itu tidak ada, ya dia pikir untuk apa dia masuk ke sana.
13:54Oke.
13:55Tapi menurut Anda apakah Cina ataupun Tiongkok dan Rusia ini masih kemudian dalam tanda kutip menyuplai informasi-informasi intelijen untuk
14:03kemudian membantu Iran?
14:04Ya bisa, itu kan kawan lama.
14:06Jadi kalau hanya menyuplai informasi, menyuplai mungkin juga senjata-senjata kecil dia suplai itu.
14:14Oke, tapi secara hitung-hitungan armada ataupun kemudian pasukan yang kemudian ditempatkan Amerika Serikat di Timur Tengah, apakah armada laut
14:26Amerika Serikat ini cukup unggul untuk kemudian melawan rudal dan juga drone Iran?
14:31Saya tidak bisa, kalau Iran melaksanakan salvo rudal, ya anjur, rontok semua tuh kapal-kapal itu.
14:42Kalau sekarang kan baru satu, satu, satu, satu.
14:45Tapi itu kan coba di salvo sekalian itu.
14:48Nah itu akan kerepotan juga tuh.
14:50Karena kapal juga setelah menembak, kan berkurang isinya, lama isinya.
14:57Sedangkan Iran di darat itu ada terus.
15:01Oke.
15:01Nah, dia dipancing suruh nembak, nembak, nembak, nembak terus sampai habis baru nanti di salvo.
15:06Wah, celaka kan?
15:08Oke, baik.
15:09Saya ingin ke Mbak Isya lagi, Mbak Isya bahwa blokade yang kemudian dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran,
15:15ini tujuannya adalah dapat dikatakan untuk negosiasi ulang.
15:20Agar Iran mau kembali duduk bersama dengan Amerika Serikat.
15:22Apakah tujuan tersebut bisa tercapai dengan tindakan yang kemudian dilakukan oleh Amerika Serikat, Mbak Isya?
15:29Ya, menariknya sebenarnya, Iran ini kan sudah ada keinginan untuk bisa bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
15:34Meskipun di negosiasi pertama ini, Iran sebenarnya tahu bahwa negosiasinya akan gagal, gitu ya.
15:39Jadi sebenarnya tidak.
15:40Ketika kita lihat sticking point-nya ini, ini sangat berat ya untuk kedua belah pihak, gitu.
15:45Nah, tetapi saya kira di sini, apabila kemudian Amerika Serikat terus-menerus melakukan coercive diplomacy,
15:51yang ada namanya adalah trust deficit, ini semakin besar.
15:55Karena di perundingan pertama kemarin, kita lihat bahwa perundingan ini kan dimulai secara tergesa-gesa ya.
16:00Pertama kita lihat ceasefire baru dimulai sekitar 2-3 hari,
16:03lalu kemudian keduanya sudah diseret ke meja perundingan.
16:06Nah, dari situ kemudian pembicaraannya dimulai dengan masing-masing ini sama-sama tidak percaya antara satu sama lain.
16:13Sebelumnya di perundingan sebelumnya di tahun 2015,
16:16ataupun bahkan di tahun 2025 kemarin,
16:19ada jeda cukup waktu ya untuk bisa menyusul strategi dan kemudian sama-sama gitu ya,
16:25mendiskusikan apa sih yang menjadi tuntutan, gitu.
16:27Saya rasa di sini Amerika Serikat yang harus dilakukan dibandingkan dengan melakukan coercive diplomacy strategi seperti ini,
16:34adalah melakukan CBM atau Confidence Building Measure.
16:37Mungkin pun keras di antara kedua negara sebelum menarik kembali Iran ke meja perundingan.
16:41Oke, baik. Itu kita tunggu.
16:43Semoga ada solusi yang kemudian lahir di situasi Timur Tengah.
16:46Terima kasih Mbak Aisyah dan juga Pak Soleyman Ponto telah berjabat.
Komentar

Dianjurkan