Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Donald Trump mengatakan kemungkinan adanya putaran pembicaraan lanjutan dengan pihak dari Iran.

Ia mengaku telah ada pihak dari Iran yang menghubunginya untuk membuat kesepakatan.

Hal itu disampaikan Donald Trump pasca negosiasi pertama yang dilakukan di Islamabad berakhir pada kebuntuan.

Apakah negosiasi tahap dua antara Amerika Serikat dan Iran bakal terjadi? Dan jika benar terjadi, apakah kesepakatan bakal tercapai dan bisa menghentikan perang? Terutama dibukanya Selat Hormuz?

Kita bahas bersama Pengamat Timur Tengah yang sudah hadir di studio KompasTV, Zulvan Lindan dan bergabung lewat sambungan daring, Pakar Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung, Yulius Purwadi.

Baca Juga Peluang Negosiasi Kedua, Wapres AS: Trump Ingin Kesepakatan Besar dengan Iran | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/internasional/663157/peluang-negosiasi-kedua-wapres-as-trump-ingin-kesepakatan-besar-dengan-iran-sapa-malam

#trump #negosiasi #iran #amerika

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/663168/full-pengamat-dan-pakar-bongkar-peluang-negosiasi-kedua-as-iran-selat-hormuz-bisa-dibuka
Transkrip
00:00Pertanyaan barunya sekarang, apakah negosiasi tahap 2 antara Amerika Serikat dan Iran bakal terjadi?
00:06Dan jika terjadi, apakah kesepakatan bakal tercapai untuk kedua belah pihak dan bisa menghentikan perang utamanya pembukaan Selat Hormuz?
00:16Kami akan diskusikan ini bersama dengan para narasumber.
00:18Di Studio Kompas TV sudah bergabung pengamat timur tengah Zulfan Lindan.
00:22Pak Zulfan, apa kabar Pak?
00:23Baik.
00:23Terima kasih sudah datang ke Studio Kompas TV.
00:25Sementara lewat sambungan dalam jaringan, sudah bergabung juga pakar hubungan internasional dari Universitas Parahyangan Jawa Barat, Julius Purwadi.
00:33Pak Julius, dengan Tifal, selamat malam Pak.
00:36Selamat malam Mas Tifal.
00:37Terima kasih sudah bergabung bersama kami dalam diskusi kali ini.
00:40Kalau dihitung pakai presentasi, Pak Zulfan, seberapa persen Anda yakin, optimis bahwa perundingan tahap 2 bakal terjadi setelah sempat buntu
00:47di putaran pertama gara-gara 2 hal?
00:50Seyakin apa Anda soal ini?
00:51Pertama saya ingin menjelaskan dulu kebohongan Trump lagi.
00:54Apa tuh?
00:55Dia mengatakan bahwa ada pihak Iran yang menghubungi dia untuk perundingan tahap kedua kan gitu.
01:02Itu pasti bohong.
01:03Saya tidak yakin.
01:05Karena masalah luar negeri di Iran bukan ditentukan oleh presiden atau eksekutif.
01:12Tapi?
01:12Tapi Rahbar, yang dipanggil Rahbar itu Ayatullah.
01:15Yang sekarang dicabat oleh Mustafa Khamenei.
01:19Dia yang berperan 100 persen menyangkut masalah-masalah luar negeri.
01:24Termasuk masalah perang, IRGC dia juga.
01:27Makanya presiden tidak pernah muncul.
01:30Karena menteri luar negeri memang di bawah Mustafa.
01:34Jadi kalau kita lihat kebijakannya, polusi-polusinya.
01:37Jadi saya katakan bahwa tidak mungkin Iran yang minta untuk perundingan kedua.
01:45Itu tidak mungkin.
01:46Ini kan belafnya Amerika, Trump kan dari dulu begitu.
01:50Ya kan?
01:50Nah.
01:51Karena apa?
01:52Iran tahu betul bahwa ini kebohongan-kebohongan akan terjadi.
01:56Tanggal 22 Februari lagi berunding, tahu-tahu menyerang Khamenei.
02:02Meninggal.
02:03Ya kan?
02:03Kemudian perundingan ini juga, apa yang terjadi?
02:07Yaitu Israel bombardir Lebanon habis-habisan.
02:12Ini Iran nggak mau.
02:13Iran bukan hanya perdamaian dengan dia, tapi dengan Israel dan kawasan harus aman.
02:18Tapi kan perundingan sedang berjalan, kemudian Israel bombardir Lebanon di selatan, itu sampai 1 juta orang lebih mengungsi.
02:30Nah Iran pasti minta ada jaminan itu nggak?
02:34Bukan hanya kita aja nih, ada jaminan nggak?
02:36Kalau nggak ada jaminan nggak usah.
02:38Nah sekarang, kalau dulu Iran mengatakan, kalau ada penyerangan, tangan kami di pelatuk.
02:45Nah sekarang, peluru itu lebih dekat lagi ditembakkan ke Israel.
02:49Sehingga kalau kembali ke pertanyaan saya, seberapa yakin bahwa ini perundingan jilid 2 ini bakal terjadi sementara Mujib Sabah Khamenei
02:56sampai saat ini belum mengeluarkan statement apapun?
02:58Belum mengeluarkan statement apa-apa.
02:59Ini berapa yakin?
03:00Itu hanya Amerika sendiri, hanya Trump yang berkatakan kan?
03:04Nah, jadi, dan kemudian Trump sendiri bingung.
03:08Ini di mana kita tempatnya?
03:10Di Uni Eropa kah?
03:12Atau di negara mana?
03:14Dia bilang, dia nggak yakin dengan Pakistan.
03:17Padahal Pakistan itu kan kita tahu betul boneka Amerika.
03:21Si Perdana Menteri sekarang ini naik kan karena menjatuhkan Imran Khan.
03:26Kemudian dia naik, dia memang boneka Amerika.
03:29Yang dukung dia jadi Perdana Menteri kan Amerika.
03:32Iran juga berpikir.
03:35Ya kan?
03:35Jadi, Iran mau hormati, mau datang ke Pakistan itu faktor tetangga aja.
03:41Oke.
03:42Mbak aktor tetangga, menghormati tetangga, iyalah.
03:46Tapi kan kita lihat besoknya, kemana si Perdana Menteri Pakistan itu datang?
03:53Datang ke Saudi Arabia.
03:55Ketemu dengan MBS.
03:57Buat kesepakatan.
03:59Kalau MBS diserang, atau Pakistan diserang, kita bersama-sama ikut menyerang.
04:04Siapa yang akan menyerang Saudi dan Pakistan?
04:08Udah pasti dianggap Iran kan?
04:09Bagaimana Iran mau bicara?
04:11Mau percaya?
04:12Oke.
04:13Kalau keyakinan Anda, Pak Julius juga sama seperti apa disampaikan Pak Zulfan ini.
04:18Bahwa kemungkinannya bisa jadi kecil karena sampai sekarang Mujtabakam ini juga belum menyampaikan statement apapun pemimpin tertinggi Iran sampai dengan
04:25sedetik ini.
04:26Soal kemungkinan jilid kedua perundingan itu?
04:29Ya.
04:30Kalau pandangan saya, Iran akan melihat 1% Mas Zulfan.
04:34Jadi kemungkinan itu 1% untuk perundingan tahap kedua.
04:38Sementara dari perspektif Amerika Serikat, 99%.
04:41Jangan khawatir, pada perundingan pertama sebetulnya posisinya kurang lebih sama.
04:46Bahwa sangat kemungkinan Iran mau berunding.
04:49Tapi pada waktu itu kan ada lobby Pakistan melalui China, sorry, lobby China melalui Pakistan untuk meyakinkan Iran.
04:58Dan yang 1% bisa berubah jadi 100%.
05:02Nah, kenapa saya bilang 1%?
05:05Tentu saja menunggu sampai besok hari, atau lusa.
05:08Tentu saja dari delegasi Iran ketika perundingan gagal, dia masih menyampaikan ada ruang untuk diplomasi yang terbuka.
05:18Lebih dari itu resiko untuk berperang jauh lebih besar ya.
05:21Opsi yang lain selain perundingan kan berperang.
05:24Dan berperang biayanya lebih besar secara ekonomi, secara politik.
05:28Kita harus berhitung juga nyawa yang nanti akan jatuh di keluarga pihak.
05:33Termasuk kehancuran infrastruktur sipil Iran, jembatan, pusat tenaga listrik gitu ya.
05:39Itu kan sudah disampaikan oleh Trump.
05:41Jadi, dalam hal ini, 1% itu termasuk satu hal yang sahnya siwikan.
05:48Tapi kita lihat besok ya, Mas Tifa, Mas Sulfan ya.
05:53Moga-moga yang 1% bisa berubah gitu.
05:55Sanya tergantung lobby-l lobby, detik-detik hari ini.
06:00Karena dampaknya kan udah global sekali kan seperti ini.
06:03Cuman begini, Pak Julius, kalau Anda menangkap sejauh analisis Anda,
06:07nuansa kebatinan secara diplomatik antara dua belah pihak Iran dan AS ini
06:11dengan munculnya rencana buat negosiasi jilid dua ini,
06:15siapa yang paling butuh sebetulnya?
06:18Dua-duanya butuh ya.
06:20Dua-duanya butuh gitu.
06:21Yang pasti pertama, kebutuhan Amerika Serikat terkait dengan Selat Hormus.
06:25Itu satu ya, selain daripada soal pengayaan uranium.
06:32Sekarang kan berketer ya dari pengembangan kapasitas membangun persenjataan nuklir gitu.
06:38Tapi sudah dipersempit ke pengayaan uranium.
06:41Jadi pengayaan uranium pun kan nggak boleh gitu ya.
06:43Tidak boleh gitu.
06:44Di berbagai macam level.
06:45Kalau kita lihat dulu kesepakatan tahun 2015 kan masih bisa ya,
06:49masih diizinkan.
06:50Kesepakatannya itu sejauh tidak untuk pengembangan senjataan nuklir.
06:54Itu satu ya gitu.
06:56Dan mungkin itu lebih apa, sekalipun sulit ya,
07:00lebih mungkin dinegosiasikan daripada kalau kita bicara soal pembukaan Selat Hormus.
07:06Nanti masa depannya seperti apa.
07:08Jadi dua isu ini akan menjadi sangat berat gitu ya.
07:11Tetapi kalau ditanya siapa yang butuh,
07:13siapa yang butuh gitu.
07:15Saya mungkin akan menyampaikan Amerika Serikat jauh lebih butuh gitu.
07:18Sekalipun hari ini sudah dilakukan blokade Selat Hormus,
07:21tetapi Iran masih di atas angin.
07:24Masih menguasai, betul, sepenuhnya Selat Hormus.
07:28Jadi yang saya tuligai kemarin ya,
07:31Mas Ulvan, saya tuliga bahwa
07:32perhundingan memang gagal.
07:34Tapi pada saat yang sama Amerika cukup waktu untuk
07:38mengirimkan kapal-kapal tempurnya.
07:40Kira-kira sudah 12 sampai 15 kan sudah ada di sana.
07:4310 ribu personil juga sudah ada di sekitaran Teluk Oman gitu ya.
07:47Dan Laut Arab gitu ya.
07:49Dan ini saya kira cukup anumunis Amerika Serikat
07:52untuk melakukan gertakannya gitu.
07:53Termasuk blokade tadi.
07:54Tetapi belum bisa mengambil alih kontrol atas Selat Hormus.
07:59Jadi di perundingan dua,
08:01saya kira Iran tetap akan di atas angin
08:03dan Amerika punya kebutuhan yang lebih besar untuk itu.
08:05Oke.
08:06Pak Zulfan, seyakin apa kalau kemudian Hormus ini
08:08akan dibahas di perundingan tahap dua?
08:10Sementara yang gerunding tahap pertama aja ya buntu seperti ini
08:13malah sekarang-sekaling blokade gitu.
08:15Bagi Iran, posisi Selat Hormus strategis itu
08:19sudah diputuskan sejak Ali Khamenei belum meninggal.
08:25Dia mengatakan ini kekuatan kita.
08:28Katakanlah ini harta kita.
08:31Kekuatan kita yang paling penting itu adalah Selat Hormus.
08:34Bagaimana Iran dan eksekutif Iran
08:38tidak berani menentang keputusan Ali Khamenei
08:44yang sekarang digantikan oleh Mostabah Khamenei.
08:47Itu fatwa.
08:49Kan gitu.
08:50Putusan itu fatwa.
08:51Eksekutif tidak berani menentang itu.
08:54Ikuti saja apa yang disini.
08:55Kecuali kalau Mostabah merubah.
08:57Boleh kalau dia kan.
08:59Karena dia pengganti.
09:00Kalau Presiden, nggak bisa.
09:03IRGC, ya nggak bisa.
09:04Dia tunggu perintah aja.
09:05Serang-serang.
09:06Berhenti-berhenti.
09:06Nah, jadi kita harus melihat juga latar belakang.
09:11Apakah Iran menyerah?
09:13Saya bilang sampai titik akhir Iran nggak bakal menyerah.
09:16Karena ada keyakinan mereka.
09:18Begini ya, saya sambil contoh ilustrasi aja.
09:21Jangan ajarkan kami tentang kelaparan.
09:24Kami ini anak-anaknya Ramadhan.
09:27Maksudnya sudah biasa berpuasa.
09:30Jangan ajarkan kami tentang kematian.
09:32Kami anak-anak Karbala.
09:35Yaitu ketika Hussein terbunuh.
09:39Jadi jangan ajarkan kami untuk kematian.
09:42Kami siap untuk mati.
09:44Untuk susah.
09:44Kamu menghancurkan seluruh infrastruktur apapun, nggak ada masalah.
09:48Kita akan bertahan sampai di darah terakhir.
09:52Ini keyakinan ini nggak dipahami oleh Trump.
09:55Sehingga kemudian, Pak Julius, Anda meyakini kalau intensitasnya masih cukup tinggi saat ini,
10:02kemungkinan perundingan jilid dua-dua pihak dalam hal ini, Iran dan AS, akan melonggar?
10:08Atau hanya salah satu di antara itu dan seberapa mungkin itu akan terjadi?
10:12Jawabnya nanti, kita jeda dulu.
10:14Kita lihat di kompas ini.
10:21Mas Julius, saya terpikir begini.
10:23Kalau melihat pernyataan Presiden Trump beberapa kali soal Selat Hormuz yang terkesan tidak konsisten.
10:29Ada memilih untuk tidak memikirkan itu lagi.
10:32Terus tiba-tiba berubah lagi.
10:33Pasukan diarahkan untuk mendekat ke Selat Hormuz.
10:35Kemudian blokade.
10:36Tarik ulur semacam ini.
10:38Posisinya akan bagaimana kalau di perundingan nanti menurut Anda?
10:42Ya, itu satu hal kita melihat ada sisi frustasi dari Trump.
10:47Lalu sisi lain memang karakter dia.
10:49Berubah-ubah dari waktu ke waktu.
10:52Satu jam mungkin berubah lagi ke depannya.
10:55Itu kita harus paham.
10:57Tetapi sekalipun berubah-ubah, setiap negara kan harus waspada terhadap ancaman.
11:04Ancaman bisa dieksekusi, ancaman bisa tidak dieksekusi.
11:07Karena berubah di waktu yang lain.
11:08Tapi belajar dari pengalaman yang sudah-sudah.
11:12Setiap negara harus ancang-ancang bahwa ancaman itu akan dieksekusi.
11:17Apakah ini kemudian berpengaruh terhadap perundingan?
11:20Kalau itu terjadi, ya pasti akan berpengaruh.
11:22Tetapi sekali lagi ya, situasi sekarang Mas Tifa kan semuanya sama-sama siap berperang ini.
11:28Amerika lebih melayat diri nih dengan dukungan dari 10 ribu personel yang sudah ada di Teluk Oman.
11:34100 pesawat tempurnya, ditambah 12 sampai 15 kapal perangnya.
11:40Itu sudah diposisikan di sana.
11:43Sementara dari Iran sendiri, Menteri Pertahanan kan sudah menyampaikan si agak penuh nih, si agak maksimal untuk berperang.
11:49Lalu kemudian IJRC juga menyampaikan akan ada strategi baru yang akan mengejutkan Amerika Serikat.
11:54Nah, lalu kemudian Amerika confident karena satelit ya.
11:58Ini juga ditunggu oleh teknologi satelit.
11:59Dan hari kemarin kan ketahuan bahwa Iran kan membuka kembali launchernya yang ditimbun, disimpan di bawah tanah.
12:12Dan itu terbaca ya.
12:14Dan ini lagi mencerminkan bahwa dalam konteks gencatan senjata setelah perundingan,
12:19semuanya sedang bersiap-siap untuk perang yang sangat besar, sangat dasar.
12:23Nah, menurut saya, ini resikonya akan sangat besar sekali untuk baik Amerika Serikat maupun Iran.
12:31Saya nggak yakin perangnya akan berlangsung sangat cepat.
12:34Dan ini resiko politiknya sangat besar, selain resiko ekonomi untuk Presiden Trump.
12:39Kehilangan popularitas, legitimasi, seperti yang sudah dikritik oleh Demokrat.
12:45Nah, tidak punya pilihan, termasuk nanti kalau perundingan akan dilakukan.
12:49Dan saya berharap perundingan itu jalannya, sekalipun tadi saya nyebut 1 persen.
12:53Tetapi itu bisa menjadi titik balik yang sangat besar ketika pada akhirnya ada negara yang menjamin.
13:00Dan seperti perundingan pertama, saya sih berharap China ya.
13:03Kemudian mengetuk hati pemimpin besar tertinggi Iran untuk bersepakat memulai negosiasi.
13:12Mungkin besok atau lusa atau akhir pekan inilah.
13:15Dan harapannya tentu saja adalah Trump memerintahkan kali ini harus lebih komunikatif.
13:21Kalau kemarin kan kritiknya one-sided negotiation.
13:24Tapi kali ini harus lebih lunak gitu ya.
13:27Jadi kalau kemarin posisinya maksimalis, sekarang harus diturunkan lagi ya target capiannya.
13:33Pak Zulfan, Anda yakin juga bahwa nanti akan ada peran Tiongkok seperti yang disampaikan analisisnya Pak Julius itu tadi?
13:39Atau jangan-jangan ada pihak lain yang juga ikut turunkan di situ?
13:41Jadi saya ingin, sebelum perundingan ini ya ketika kira-kira dua minggu yang lalu ada tulisan dari mantan menteri luar
13:50negeri Iran.
13:51Sebelum Arachi ini, pada presiden yang lalu, kabinet yang lalu.
13:57Itu dia menyarankan, kalau ada perundingan-perundingan, kesempatan-kesempatan antara pihak-pihak yang bersengketa, itu dimanfaatkan.
14:08Karena posisi Iran sekarang kan sebenarnya sudah di atas angin.
14:13Oleh karena itu, kalau ada perundingan itu harus dimanfaatkan oleh Iran.
14:19Itu saran dia sebagai mantan menteri luar negeri.
14:22Tetapi kan persoalannya, ketika itu dibawa ke dalam kabinet, kemudian disampaikan kepada pemimpin tertinggi, kan itu lain lagi.
14:31Ini kan masalahnya pemimpin tertinggi ini kan bicara dari segi teologi.
14:36Sementara disini lagi bicara dari segi taktik dan perang, kan.
14:42Nah bagaimana mensinergikan kedua ini sehingga menjadi satu, menjadi kekuatan, sehingga itu bisa terjadi apakah perundingan.
14:51Tentu saya kira, Iran kan mereka ada satu ajaran ya, Imamul Hujah namanya.
14:58Artinya bahwa kalau Cina memang bisa menyelesaikan ini, kenapa tidak kita ajak.
15:06Kalau Rusia memang bisa atau Inggris, negara-negara lain memang bisa membantu untuk menciptakan perdamaian.
15:14Kita siap.
15:14Yang logis menurut Anda cukup Tiongkok saja atau ada peran negara lain juga ikut turun?
15:19Ini kan, kalau Tiongkok saja, ini kan Tiongkok ada ketegangan dengan Amerika.
15:25Iya kan?
15:26Dia seolah-olah Tiongkok ini akan perlu Iran, kan begitu lagi.
15:29Rusia juga gitu, sudah blok Iran.
15:31Jadi saya kira memang jangan negara-negara yang bermasalah dengan Amerika.
15:37Analisis Anda yang paling ideal?
15:39Ya misalnya Inggris, UK, itu bisa.
15:44Atau Itali, Spanyol.
15:46Spanyol juga nggak bisa, terlalu keras.
15:48Sudah terang-terangan juga, sudah menyatakan sikap.
15:51Ya mungkin, misalnya Jerman, kan itu fasilitator saja.
15:56Bukan menentukan mereka kan, baik tempat atau segala macam.
15:59Jadi nggak masalah menurut saya.
16:01Oke, tapi pertanyaan barunya gini Pak Julius, apakah kemungkinan kalau terjadi ini perundingan jilid duanya,
16:06dua pihak dalam hal ini, Iran dan AS, akan melonggarkan egonya masing-masing?
16:10Atau justru hanya salah satu di antara itu?
16:13Ya, secara teori, perundingan bisa berjalan kalau masing-masing menurunkan ego.
16:18Nah, perkualannya apakah isunya bisa?
16:21Bisa mendorong menurunkan ego.
16:23Mungkin nggak ada ruang-ruang itu.
16:25Nah, kalau saya melihat harusnya mungkin ya.
16:28Harusnya ya.
16:29Dan kita punya banyak pembelajaran yang sangat baik dalam sejarah perundingan,
16:34termasuk perunding Amerika Serikat dengan Iran.
16:36di tahun 2015.
16:38Yang akhirnya, Iran bisa menurunkan, sorry, Amerika Serikat bisa menerima.
16:42Iran mengembangkan pengajaran nuklir dengan level yang sangat rendah.
16:46Tetapi, komitmen paling utama adalah tidak untuk persenjataan nuklir.
16:51Itu kan pada akhirnya.
16:52Nah, saya berharap sih, dalam perundingan kedua,
16:56jika itu terjadi, turunkanlah itu.
16:58Nah, mungkin secara prinsip dulu, apakah bisa disepakati?
17:02Nah, kalau kita melihat pada masa lalu,
17:04sebenarnya sudah ada kesepakatan yang pernah dibuat.
17:07Pengajaran nuklir oke, tetapi pada level yang sangat rendah.
17:12Atau, bayangkan saya, suspension.
17:15Ini kan word of choice, choice of words ya.
17:17Pilihan kata-katanya, suspension.
17:19Suspension artinya penundaan.
17:21Tidak boleh sama sekali dalam jangka waktu tertentu
17:23untuk melakukan pengajaran nuklir.
17:25Nah, saya sudah mendengar ada diskusi tentang ini.
17:28Sekarang berapa lama penundaannya?
17:30Amerika Serikat pasti akan meminta sepanjang mungkin ya.
17:3320 tahun atau minimal.
17:35Sementara Iran pasti akan minta 5 tahun.
17:37Nah, kalau secara prinsip pengajaran uranium boleh,
17:40lalu kita bisa secara teknis.
17:42Itu berikutnya.
17:42Nah, saya berharap nanti di tahap yang pertama,
17:46perlulingan itu, misalnya ya, secara prinsip dulu.
17:48Tetapi dengan Iran pasti akan minta sesuatu.
17:50Gimana kalau Iran sepakat untuk penundaan pengajaran nuklir,
17:54tidak sama sekali melakukannya,
17:56Iran dapat apa?
17:58Nah, ini pertanyaan Amerika bisa ngasih apa berikutnya?
18:00Yang dimintakan misalnya pencaputan sanksi.
18:04Lalu kemudian aset-aset Iran yang di luar negeri,
18:07yang pernah dibekukan, itu juga bisa lagi.
18:10Nah, yang paling berat pasti hormus.
18:12Kalau misalnya Amerika harus mengikhlaskan hormus,
18:15itu juga tidak mungkin.
18:16Nah, itu artinya hormus akan jadi isu yang lain.
18:18Untuk secara prinsip disepakatin dulu,
18:21teknisnya itu kemudian.
18:22Baik.
18:23Pak Julius, terima kasih sudah bergabung lewat sambungan dalam jaringan.
18:26Pak Zulfan, terima kasih juga sudah mau datang ke Studio Kompos TV.
18:29Saya selalu semuanya. Selamat malam.
18:31Selamat malam, Pak Elius.
18:32Terima kasih sudah menonton.
Komentar

Dianjurkan