Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Isu makar mengemuka di dunia maya usai beredar potongan video pernyataan Saiful Mujani yang dianggap berisi ajakan agar Presiden Prabowo dijatuhkan.

Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari menilai tafsir tersebut tidak tepat jika langsung dikaitkan dengan makar.

"Memaknai kalimat menjatuhkan menjadi makar menurut saya itu berlebihan saja," katanya.

Ia menegaskan bahwa mekanisme menjatuhkan Presiden sudah diatur dalam konstitusi, termasuk melalui impeachment.

Sementara itu Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari menilai setiap sikap politik memang sah, namun implementasinya perlu diperhatikan.

Qodari juga menyoroti penggunaan diksi "menjatuhkan Presiden" yang dinilai memiliki konsekuensi tafsir serius dalam konteks konstitusi.

"Setiap orang kan punya sikap politik. Tapi saya kira setiap sikap politik itu kan ada turunannya, ada operasionalisasinya," ujarnya.

Bagaimana menurut Anda?

#kritik #prabowo #saifulmujani



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/661739/debat-panas-feri-amsari-menjatuhkan-presiden-disebut-berlebihan-dimaknai-makar-satu-meja
Transkrip
00:02Bisa enggak kita mengkonsolidikan diri untuk menjatuhkan Prabowo?
00:09Diisi dengan pidato-pidato yang memprovokasi bangsa sendiri,
00:15pidato-pidato yang mengajak orang lain untuk menjatuhkan pemerintah.
00:45Selamat malam, demokrasi di Indonesia tengah diuji.
00:49Partisipasi publik sebagai kunci kualitas demokrasi bertemu koridor konstitusi yang harus dihormati bersama.
00:56Kritik dan sikap politik, apa iya harus dimaknai sebagai makar?
01:01Samar-samar, kabar makar.
01:03Inilah satu Meja The Forum malam ini bersama saya, Yogi Nugraha.
01:08Sudah hadir di Studio Kompas TV, para tamu terhormat saya, Muhammad Kodari.
01:13Selamat malam, staf Presidenan.
01:16Apa kabar?
01:16Baik, Alhamdulillah.
01:18Dan juga Bung Fahri Hamzah, wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman.
01:24Sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora.
01:28Apa kabar, Bung?
01:29Baik, Alhamdulillah.
01:31Ada juga Prof Ikrar.
01:34Bersambang.
01:36Pengamat politik ya?
01:38Iya.
01:38Masih pengamat politik kan?
01:40Masih.
01:41Duta Besar Tunisia 2017-2021.
01:44Terima kasih sudah hadir.
01:46Alhamdulillah.
01:46Last but not least, Bung Fahri Hamzahri.
01:50Saya sebut aktivis atau pengamat hukum tata negara?
01:52Insya Allah yang baik.
01:53Oke.
01:55Saya ke Bang Fahri.
01:58Bang Fahri.
01:59Saya dulu.
02:01Ketika ada statement muncul perkumpulan para pengamat merespon ternyataan Presiden bahwa harus ditertibkan dalam halal bihalal.
02:12Itu kan ada statement dan ada kalimat dari seorang tokoh politik Saiful Mujandi yang mengatakan bahwa ada diksi menjatuhkan setelah
02:21panjang.
02:22Kalau Bang Fahri kemudian merespon bahwa ini harus dijaga nih koridor demokrasi konstitusi itu.
02:28Sebetulnya Bang Fahri ingin mengatakan apa?
02:29Saya yakin Bang Fahri sebagai aktivis juga ingin tetap mempertahankan bahwa Indonesia sudah seribu persen lah menjaga demokrasi.
02:36Tapi apa yang ingin Bang Fahri sampaikan?
02:39Sebenarnya saya malam ini mau halal bihalal aja.
02:42Halal bihalal ya gak apa-apa deh.
02:44Semakin menunjukkan bahwa sebetulnya gak ada apa-apa ya.
02:47Sama dengan acara kemarin halal bihalal juga betulnya.
02:51Ini jilid dua aja kalau saya lihat sih jilid dua.
02:53Halal bihalal.
02:54Jilid dua.
02:54Halal bihalal.
02:55Iya lawan hal bihalal.
02:57Ya karena sebenarnya saya tahunya Bang Saiful itu kan sebagai akademisi bukan politisi ya.
03:06Tapi bahwa kemudian beliau memulai satu ajakan.
03:11Menurut saya disitu ada beberapa concern ya.
03:15Yang pertama adalah bahwa ya tentu orang bebas berpendapat.
03:20Ya.
03:20Sebagaimana konstitusi demokrasi kita menjamin.
03:24Tapi rasanya kita juga berkepentingan untuk menjaga demokrasi konstitusional kita.
03:33Karena kalau kita mengizinkan inkonstitusionalitas maka ada banyak pintunya ya.
03:42Macam-macam kalau kita sebut dan itu di masa-masa yang lalu itu sangat secara keras.
03:49Tapi Bang Fahri melihat bahwa pernyataan utuh dari Saiful Mujadi itu sudah masuk koridor menuju inkonstitusionalitas?
03:55Saya menganggap bahwa ini ada spiritualnya ya, ada politiknya, ada akademiknya.
04:04Bahwa saya sendiri terus terang, saya kan seumur politik saya ini kan mayoritas saya sebagai anggota DPR.
04:12Seperempat abad hampir atau setengah dari umur saya kan disenayat sebenarnya.
04:17Dan cukup lama juga dikenal sebagai oposisi.
04:20Cukup lama sebagai oposisi dan menjaga apa namanya, apa yang sudah kita bangun bersama-sama lebih dari 30 tahun sekarang
04:28ini.
04:30Bahwa demokrasi kita ini sudah menuju pematangan dan ciri daripada kematangannya itu adalah
04:37kita menjaga jiwanya, menjaga jadwal-jadwalnya, artinya menjaga konstitusionalitasnya.
04:46Sehingga ruang bermain kita itu sebenarnya ruang bermain yang sudah sangat enak.
04:52Karena saya sendiri makin lama juga makin percaya bahwa memang demokrasi itu harus kita sadari,
05:01tidak saja definisi dan pengertiannya atau jiwanya, tapi juga jadwal-jadwalnya.
05:08Termasuk juga apa tugas dari akademisi, apa tugas dari politisi, apa tugas yang di dalam eksekutif.
05:18Saya misalnya diserang banyak orang karena katanya kurang banyak ngomong dan makin jinak.
05:23Bukan, karena saya sekarang menjadi bagian dari pemenang pemilu.
05:27Dan saya adalah bagian dari eksekutif, kan saya enggak mungkin lagi kayak waktu senaya.
05:32Bang Fahdi, di tengah kontra ya soal pernyataan Pak Saiful Mujani itu kan ada statement dari saskap
05:41dari Indra Wijaya yang menurut saya dan menurut kami itu mudah-mudahan itu betul-betul subsansi dari Presiden.
05:48Karena Presiden seperti tidak merisaukan dan membiarkan itu, biarkanlah dinamika civil society.
05:53Ini kita dengarkan dulu kutipan dari saskap.
06:08Saya masih banyak sekali kerjaan, saya belum lihat beliau bicara apa, gitu kira-kira.
06:17Apalagi Bapak Presiden, Bapak Presiden ngurusin hal-hal besar, lagi fokus dengan hal-hal yang lebih strategis, dan ya gitu.
06:30Apalagi Bapak Presiden, Bapak Presiden sedang mengurusin hal-hal besar.
06:34Satu sisi itu mungkin bisa jadi kabar baik, arti tidak buru-buru reaktif dan sebagainya.
06:39Tapi satu sisi Bang Fahdi mengingatkan bahwa ada koridor keluar dari konstitusi.
06:45Saya kadang-kadang juga, makin lama ya, semakin melihat betapa besarnya negara kita, sejarahnya, masa depannya, kehebatannya hari ini, dan
06:54janji-janji kebesarannya di masa yang akan datang.
06:58Makin sadar bahwa memang masalah itu banyak sekali.
07:01Sehingga apa yang menjadi kesibukan kita dalam dinamika masyarakat sipil, itu kan tidak semuanya juga, apa namanya, langsung menjadi perhatian
07:13seketika.
07:15Dan itu biarlah menjadi kesibukan kita sebagai bagian dari masyarakat sipil.
07:20Saya sendiri kadang-kadang karena dikasih tugas di satu sektor yang lebih spesifik, kadang-kadang juga tidak mau terlalu banyak
07:28masuk ke dalam perdebatan politis dan sebagainya.
07:33Meskipun saya ngerti temanya, saya menulis buku, saya bicara tentang itu dulu.
07:37Tapi karena tahu juga bahwa sekarang ini ada pekerjaan-pekerjaan yang memang membuat kita sangat sibuk.
07:43Betul-betul saya dulu di legislatif itu merasa sudah banyak tahu banyak hal begitu.
07:47Tapi setelah menjadi anggota eksekutif itu memang kita banyak enggak tahunya.
07:51Karena eksekutif itu rumit, kompleks, kita harus melacak seluruh persoalannya dari regulasi sampai pertanggung jawaban anggarannya itu.
08:01Kita harus betul-betul deal dengan sistemnya begitu ya.
08:04Kalau dulu kan kita habis ngomong nyerotos kita tinggal tidur kan kalau di legislatif.
08:09Kalau di eksekutif susah.
08:11Ada tol ukur.
08:12Iya di awal itu ada percanaannya, di ujung ada pemeriksaannya yang itu tidak boleh ada celah persoalan.
08:19Karena umur dari peristiwa pidana itu kan bisa berapa tahun sekarang.
08:23Boleh dibilang secara politik seorang Fahri Hamzah sekarang udah lebih dewasa.
08:28Bukan lebih dewasa.
08:29Gara-gara eksekutif aja.
08:31Ntar kalau saya kembali ke Senayan ribut juga.
08:34Cuman kayaknya udah enggak di Senayan lagi.
08:36Tahu diri lah.
08:36Udah tua bos.
08:37Iya, iya, iya.
08:38Tua tapi semangat masih buku.
08:40Saya ke Mas Kodari.
08:41Mas Kodari, Pak Saiful Mujani kan sahabat Mas Kodari juga dalam konteks polster kan banyak.
08:47Dan saya tahu riwayatnya.
08:49Betul.
08:50Ada penjelasan dari Pak Saiful Mujani loh bahwa sebenarnya itu adalah political engagement.
08:54Itu adalah sikap politik.
08:56Apa yang salah dalam dunia demokrasi.
08:59Sementara anak buahnya Pak Kodari kan yang munculin pertama ngeri, makar gitu.
09:03Gimana?
09:05Pertama begini, kalau soal sikap politik sih sah-sah saja ya setiap orang kan punya sikap politik yang pertama.
09:12Tapi saya kira setiap sikap politik itu kan ada turunannya, ada operasionalisasinya.
09:18Nah operasionalisasi yang keluar dari Pak Saiful Mujani kan beda dengan orang yang juga sama pada forum itu yang namanya
09:25Ferry Amsari kan begitu.
09:26Ferry Amsari itu bicara mengenai, mungkin sikap politik dasarnya sama, tidak happy, tidak puas, tidak percaya dengan Presiden Prabowo.
09:36Tapi Ferry Amsari mengusulkan impeachment begitu.
09:39Bahkan beliau karena gak suka juga dengan Wakil Presidennya, saya kasih resep katanya.
09:46Impeach dua-duanya kan begitu.
09:47Dalam terminologi.
09:48Sebentar, sebentar, kasih kesempatan.
09:51Jadi itu yang keluar dari Bang Ferry Amsari, yang keluar dari Bang Saiful Mujani adalah bahwa yuk kita konsolidasi, kita
10:00jatuhkan Presiden.
10:02Ini perbatim ya saya pakai kalimatnya, jatuhkan Presiden.
10:05Nah dalam tafsir saya tentu ini bisa salah dan tentu kita bisa berdebat, my words against your words, yang sekarang
10:11ini populer kan.
10:12Oke dan hari ini kita ketemu.
10:13Iya saya, iya sebetulnya kan akan senang kalau ada Bang Saiful di sini kan bisa langsung dialuh dengan beliau kan.
10:19Ini juga menurut saya juga gak enak juga sebetulnya karena Bang Saifulnya gak ada gitu.
10:25Nah tapi Bang Saiful kan bahasa menjatuhkan Presiden itu saya kira kalau kita bicara minimal contoh-contoh sejarah atau mungkin
10:33memori atau pengertian umum.
10:35Itu kan berarti menjatuhkan Presiden di tengah jalan.
10:38Nah sementara kalau kita kembali kepada konstitusi, konstitusi kita itu sudah mengatur mekanisme untuk seorang Presiden itu jatuh.
10:46Baik secara apa namanya, secara harfiah maupun secara konotatif maupun denotatif.
10:53Kalau secara konotatif ya menjatuhkan Presiden lewat pemilu kan begitu, jangan dipilih lagi.
11:00Nah kalau soal itu sikap Presiden sangat jelas termasuk tadi di rapat kabinet dalam taklima tadi.
11:04Meskipun di undang-undang secara rasanya ada juga.
11:07Kalau saya ini tidak berhasil, jangankan masyarakat saya pun malu, saya pun tidak akan maju lagi.
11:13Itu kata beliau sendiri.
11:15Jadi Presiden bisa menjatuhkan dirinya sendiri dalam tanda kutip ya konotatif.
11:19Denotatif bisa juga dengan mekanisme impeachment.
11:23Dan itu ada di undang-undang.
11:24Dan karena itu tidak ada yang mengatakan Ferry Amsari itu seorang makar, gak ada.
11:28Gak sampai hari ini saya gak ketemu tuh orang yang mengatakan Ferry Amsari itu makar.
11:32Nah karena saya bukan ahli makar, jadi saya cari-cari pasal mengenai makar itu apa.
11:40Nah ini ada dua pasal, pertama itu 104 KUHP lama, kemudian ada KUHP baru itu 191.
11:50Saya bacakan aja ya.
11:51Setiap orang yang melakukan makar dengan maksud untuk membunuh atau merampas kemerdekaan Presiden dan atau Wakil Presiden
11:59atau menjadikan Presiden dan atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan.
12:05Jadi gak harus membunuh makar itu.
12:07Presiden atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan dipidana dengan pidana mati,
12:13pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun.
12:18Nah sekarang yang dibayangkan oleh Pak Saiful itu seperti apa?
12:24Menurut saya kita harus kejar sampai ke sana kan.
12:26Dan kalau diruntut kalimat beliau sebelumnya, beliau kan tidak percaya dengan apa-apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo.
12:33Dan itu disebut sebagai sikap politik.
12:35Dan bahkan beliau mengatakan begini, kalau saya gak salah lagi nih, karena ini ingatan, berasal ingatan ya.
12:41Dan saya mohon maaf sibuk banyak pekerjaan juga.
12:43Wah luar biasa.
12:44Gak selalu bisa menghafal juga tuh kalimat perbatim.
12:46Tapi seingat saya, beliau itu percaya bahwa kalau mengandalkan pada proses, sebutlah partai politik atau impeachment,
12:55itu gak akan terjadi.
12:56Karena itu beliau menggunakan mekanisme konsolidasi kita, ada pertemuan begini,
13:01yang saya bayangkan adalah demo-demo ya, mungkin kemudian apa mengepung istana dan seterusnya yang,
13:08ya saya juga belum tahu persis.
13:09Dan itu tidak dilakukan kan.
13:10Membuat Presiden tidak mampu menjalankan keperintahan.
13:12Dan itu hanya pertemuan halal-halal.
13:14Mas Yogi, saya tidak menyimpulkan pada hari ini.
13:17Oke.
13:17Bukan bila saya menyimpulkan.
13:19Tetapi biarlah pemirsa yang mendengar sendiri.
13:22Saya bacakan pasal 191 KUHP baru.
13:25Oke saya ke Bung Feri.
13:27Kan Anda hadir ya kan, itu tajuknya adalah halal-halal.
13:31Ya bisa dibilang merespon pernyataan Presiden yang akan menertibkan para pengamat.
13:36Gimana sebetulnya?
13:37Dan saya percaya lah, ini kesempatan Anda menjelaskan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan penggerakan,
13:42mobilisasi, apalagi ingin menjatuhkan Presiden.
13:45Mas Yogi, apa yang dipikirkan Fafari belum tentu sama dengan Pak Saiful loh.
13:48Harus jelas loh kita ini ngomong siapa.
13:49Jadi sebenarnya diskusi soal ini sudah selesai ketika Presiden baru saja menyampaikan silahkan jatuhkan
13:58asal dengan cara-cara yang sesuai dengan konstitusi kan.
14:01Impeachment dan segala macamnya itu.
14:03Nah ketika Presiden sudah menyelesaikan dengan ucapan itu berarti menjatuhkan bukan lagi dimaknai terlalu jauh menjadi makar.
14:14Impeachment juga maknanya menjatuhkan.
14:19Bahkan kalau mau lebih luas maknanya menjadi remove from the office ya, memakzulkan.
14:25Nah ketentuan memakzulkan, menjatuhkan Presiden ada di ketentuan pasal 7A, 7B, 7C, dan pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945.
14:37Ini sesuatu yang konstitusional.
14:41Memaknai kalimat menjatuhkan menjadi makar menurut saya Mahesh Yogi itu berlebihan saja.
14:47Karena dalam perkembangan KUHP kita ada tiga jenis makar.
14:52Satu makar terhadap fisik Presiden dan Wakil Presiden, pasal 191 yang dibacakan Bang Kodari tadi.
15:00Bahwa membunuh Presiden, mengancam fisik Presiden, menghilangkan kemerdekaan Presiden,
15:08membuat Presiden tidak bisa bertindak sebagai pemerintah itu dalam artian dikuncinya oleh Bang Kodari Pak Presiden di toilet.
15:16Oh jangan saya dong, Saiful Mujani kalau mau ngasih contoh.
15:19Kalau gitu, dikuncinya, ini contoh yang lebih bagus Bang Kodari ini contoh yang lebih bagus.
15:26Saya tolong diganti dengan Saiful Mujani, jangan Mohamad Kodari itu, protes saya.
15:34Dikuncinya Presiden di toilet oleh Mayor Teddy.
15:37Oh jangan juga.
15:37Tidak berlangsung.
15:38Jangan dong.
15:40Misalnya, ini contohnya, misalnya tidak bisa Presiden memerintah berkomunikasi.
15:45Ganti saya belum mau jadi, ganti dengan kata Ferry Amsari.
15:48Baru fair, menurut saya, jangan ganti dengan Ted, let's call Ted.
15:50Sifulan.
15:51Ya, Sifulan saja lah.
15:52Baya Bang Kodari selesai dengan urusan nama itu contoh.
15:56Tidak penting soal nama itu.
15:57Sifulan, kemudian mengunci Presiden di toilet, 2 jam, sehingga tidak bisa berkomunikasi dalam menjalankan.
16:03Masuk bagian ini, 191 ini, fisik Presiden yang kemudian diserang.
16:09Kedua, wilayah NKRI, baik seluruhnya maupun sebagiannya, untuk dipecah belah.
16:16Di pasal 192 KUHP Yombaru.
16:21Ketiga, menggulingkan pemerintah yang sah.
16:26Menggulingkan, bukan menjatuhkan.
16:29Anda ingin mengatakan bahwa selama pertemuan halal-halal itu, tidak ada satu pun yang mengarah ke sana.
16:33Lebih kepada sikap politik, orang kalau mau makar, apalagi seorang profesor, tidak pakai pengumuman di depan halayak ramai untuk melakukan
16:42makar.
16:43Jadi niatnya memberikan sikap politik.
16:45Ini niatnya untuk mengkritik Presiden, menjelaskan bahwa Presiden sudah menyimpangi konstitusi.
16:51Pasal 11 di BOP, sikap Presiden terkait perang, sikap Presiden soal MBG, sikap Presiden yang mengabaikan undang-undang.
17:01Nah, ini yang kemudian mau dikoreksi.
17:04Ini ada niat baik orang mengoreksi di luar, sebenarnya jauh lebih baik, Mas Yogi, dibandingkan di parlemen kalau mengoreksi.
17:12Karena orang di luar tidak punya kekuatan.
17:15Ini profesor senjata, tidak punya kekuatan yang dikatakan preman yang bisa menyimpang untuk melakukan kekuasaan yang...
17:24Saya tanya ke Pro Iqrar yang ada di sini dan ada di sana juga saat pertemuan.
17:28Saya tidak datang, oh tidak datang, oh yang ada di sini ya.
17:32Saya diundang tapi kebetulan.
17:33Oh tapi tidak datang, oke.
17:35Apakah iya pertemuan itu, terus kemudian Prog mengamati bahwa makin hari makin setiap ada yang berbeda pendapat selalu mendapatkan tekanan
17:44dari kekuasaan.
17:45Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan