- 3 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Cadangan devisa Indonesia kembali menyusut dan memperpanjang tren penurunan selama lima bulan terakhir hingga mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Yoshua Pardede, menegaskan kondisi ini belum menjadi sinyal melemahnya ketahanan eksternal Indonesia karena level cadangan devisa masih tergolong kuat dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Namun, Yoshua mengingatkan persoalan utama bukan sekadar turunnya cadangan devisa, melainkan apakah penurunan tersebut mampu menstabilkan rupiah dan menghentikan arus keluar modal asing.
Menurutnya, Bank Indonesia sudah all out melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valas, pasar obligasi, hingga meningkatkan daya tarik instrumen SRBI. Meski begitu, rupiah masih tertekan dan investor asing masih terus keluar dari pasar keuangan domestik.
Yoshua menilai akar persoalan bukan berada pada kebijakan moneter, melainkan faktor lain yang harus segera diidentifikasi pemerintah.
Ia mengibaratkan Bank Indonesia sebagai pemadam kebakaran, sementara sumber api yang menyebabkan gejolak pasar belum sepenuhnya diselesaikan. Karena itu, pemerintah didorong untuk memperkuat transparansi, komunikasi kebijakan, dan membangun kembali kepercayaan investor agar stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah dapat terjaga.
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/673691/full-kepala-ekonom-bank-permata-blak-blakan-soal-cadangan-devisa-ri-susut-rp23-5-triliun
Kepala Ekonom Bank Permata, Yoshua Pardede, menegaskan kondisi ini belum menjadi sinyal melemahnya ketahanan eksternal Indonesia karena level cadangan devisa masih tergolong kuat dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Namun, Yoshua mengingatkan persoalan utama bukan sekadar turunnya cadangan devisa, melainkan apakah penurunan tersebut mampu menstabilkan rupiah dan menghentikan arus keluar modal asing.
Menurutnya, Bank Indonesia sudah all out melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valas, pasar obligasi, hingga meningkatkan daya tarik instrumen SRBI. Meski begitu, rupiah masih tertekan dan investor asing masih terus keluar dari pasar keuangan domestik.
Yoshua menilai akar persoalan bukan berada pada kebijakan moneter, melainkan faktor lain yang harus segera diidentifikasi pemerintah.
Ia mengibaratkan Bank Indonesia sebagai pemadam kebakaran, sementara sumber api yang menyebabkan gejolak pasar belum sepenuhnya diselesaikan. Karena itu, pemerintah didorong untuk memperkuat transparansi, komunikasi kebijakan, dan membangun kembali kepercayaan investor agar stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah dapat terjaga.
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/673691/full-kepala-ekonom-bank-permata-blak-blakan-soal-cadangan-devisa-ri-susut-rp23-5-triliun
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:10Intro
00:13Saudara Anda menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya Nanda Aprilia
00:17Bank Indonesia melaporkan data cadangan devisa per akhir Mei 2026
00:21Cadangan devisa kembali turun kini ke level terendah dalam hampir 2 tahun
00:29BI mengumumkan cadangan devisa Indonesia untuk posisi Mei ada di 144,9 miliar dolar AS
00:36Turun 1,3 miliar dolar atau setara 23,5 triliun rupiah dibandingkan dengan bulan sebelumnya
00:43Sepanjang tahun ini cadangan devisa terus menyusut setiap bulannya
00:48Kini cadangan devisa tanah air sudah mencapai titik terendah sejak Juni 2024 atau nyaris 2 tahun terakhir
00:55Secara keseluruhan saudara posisi cadangan devisa pada akhir Mei setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor
01:02Atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah
01:07Ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor
01:17Dalam rilis resmi Bank Indonesia, Ramdan Deni Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengatakan
01:25Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah
01:30Serta penerimaan pajak dan juga jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah
01:35Dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia
01:39Sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global
01:43Dan permintaan valuta asing musiman dari domestik
01:52Cadangan devisa RI menyusut 1,3 miliar dolar AS dibandingkan akhir April yang masih berada di 146,2 miliar dolar
02:03AS
02:04Bahkan jika dibandingkan akhir Januari cadangan devisa menyusut 9,7 miliar dolar AS
02:10Dengan kurs 18 ribu
02:13Artinya setara dengan 174,6 triliun rupiah
02:17Meski demikian Bank Indonesia meyakini sodara
02:20Ketahanan sektor eksternal tetap baik
02:22Didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai
02:25Serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor
02:29Terhadap perspek perekonomian nasional
02:32Dan juga imbal hasil investasi yang tetap menarik
02:41Sementara data dari JIS Dorbank Indonesia terpantau
02:45Pada penutupan perdagangan Senin kemarin
02:47Rupiah melemah berada di level 18.171 per dolar AS
02:53Padahal pada selasa, pekan lalu rupiah masih berada di angka 17.863
03:00Tertekan ke 17.931 keesokan harinya
03:04Dan menembus level psikologis di atas 18.000 rupiah per dolar AS
03:09Pada 4 Juni 2026
03:16Tak jauh berbeda dengan rupiah
03:19IHSG juga terus rontok dalam 4 hari perdagangan
03:23Tak henti berada di zona merah
03:25Pada penutupan perdagangan Senin
03:27IHSG ambles 4,52% ke level 5.342
03:34Dengan 661 saham terkoreksi
03:3778 naik dan 78 saham lainnya pun stagnan
03:41Sementara dalam sepekan terakhir ini
03:43IHSG terjun di 12,82%
04:01Sementara kembali lagi di Kopas Bisnis berbicara resiko yang membayangi akibat cadangan devisa yang terus menyusut setiap bulannya
04:08Bahkan kini sudah mencapai titik terendah sejak Juni 2024 atau nyaris 2 tahun terakhir
04:14Kita bahas bersama dengan Kepala Ekonomi Bank Permata Yoshua Pardede yang sudah tergabung bersama kami melalui sambung gendaring
04:20Selamat pagi Mas Yoshua, apa kabar?
04:23Selamat pagi Nanda, kabar baik
04:24Oke, kabar baik Alhamdulillah
04:27Mas, kalau kita berbicara mengenai cadangan devisa kembali menyusut
04:30Kondisi ini memperpanjang tren penurunan selama 5 bulan terakhir
04:34Yang mencapai 11,57 miliar dolar AS
04:37Sebenarnya BI sudah bilang posisi ini masih tergolong kuat
04:40Tapi kalau dari sudut pandang Mas Yoshua melihat penyusutan cadangan devisa terus-terusan terjadi
04:46Apa resikonya Mas?
04:49Ya, kembali lagi kalau saya melihat memang ini penyusutan dari cadangan devisa ini kan memang sudah dari awal tahun ya
04:54Hampir 11 bilion lebih, 11 bilion dolar lebih
04:58Dan ini tentunya kalau kita melihat memang ini belum bisa kita simpulkan bahwa ini sebagai indikasi ataupun sinyal bahwa ketahan
05:06eksternal kita ini sudah lemah gitu ya
05:09Karena tadi juga sudah disampaikan bahwa dalam hal level dari sisi kondisi posisi cadangan kita ini kan sudah masih relatif
05:18kuat ya
05:18Sekalipun tadi disampaikan terendah dalam 2 tahun terakhir ini
05:22Tapi masih mampu untuk membiayai misalkan lebih dari 5 bulan impor dan juga pembayaran utang lagi pemerintah
05:28Dan ini juga jauh di atas batas kecukupuan internasional ya 3 bulan impor
05:34Namun memang masalahnya bukan hanya seberapa cepat cadangan devisa itu turun
05:39Tapi juga yang mungkin harus kita concern adalah bagaimana apakah penurunan dari cadangan ini berhasil ataupun bisa menstabilkan rupiah
05:48Ya, karena jika kalau cadangan itu turun tapi rupiahnya masih melemah dan juga investor asing tetap keluar
05:55Ya, khususnya dari pasar saham ke pasar resbank
05:58Artinya memang pasar membacanya bahwa kos untuk mempertahankan stabilitas rupiah masih mahal
06:03Artinya adalah kalau kita bisa tafsirkan adalah
06:05BI ini semacam pemadam kebakarannya gitu ya
06:09Artinya kita perlu harus identifikasi sumber kebakarannya ini dari mana
06:13Yang saya duga adalah bukan dari moneter gitu ya
06:17Sehingga kalaupun BI berupaya untuk memadamkan kebakaran dari kodeksi di pasar saham
06:24Dan juga obligasi dengan menstabilkan rupiah
06:27Ya, tapi isu permasalahan utamanya tidak disolve ya
06:31Tidak diselesaikan
06:34Sepertinya penurunan cadangan devisa ini pun juga belum akan bisa
06:40Mestabilkan dari sisi
06:42Ataupun bisa meredam koreksi di pasar keuang kita
06:46Dan juga bisa meredam pelemahan rupiah ke depannya
06:50Oke, jadi penyusutan cadangan devisa ini mengartikan apa Mas Joshua?
06:55Apakah ini bukti nyata sebenarnya Bank Indonesia sudah habis-habisan melakukan intervensi
06:59Di pasar falas dan juga pasar SBN untuk bisa menjaga rupiah?
07:03Ya, kembali lagi ya
07:05Bahwa permasalahan intinya dari koreksi di pasar saham dan juga pasar obligasi
07:10Ini tidak berkaitan dengan kebijakan moneter
07:12Dan Bank Indonesia yang tadi sudah saya sampaikan bahwa sudah menggelontorkan cadangan devisa
07:17Lebih dari 11 miliar USD
07:19Dan ini mengindikasikan bahwa Bank Indonesia sudah all out ya
07:25Dalam hal melakukan langkah-langkah stabilisasi di luar triple intervention-nya
07:31Di dalam pasar SBN dan juga di pasar DNDF dan juga pasar spot 2 rupiahnya
07:36Dan juga meningkatkan attractiveness dari pasar SRBI-nya
07:41Karena kalau kita lihat di sepanjang tahun ini sampai dengan awal Juni ini sekalipun
07:47Ini pasar SRBI yang masih mencatatkan influence dari asing
07:53Dan ini menunjukkan kembali lagi bahwa ini menjadi salah satu upaya langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank Indonesia
08:00Artinya Bank Indonesia sudah melakukan segala macam upaya gitu ya
08:04Tapi kembali lagi, kalau kembali lagi pemerintah
08:06Mesti harus melihat lagi apa sih sebenarnya penyebab keluarnya dana-dana asing
08:11Dan ini harus disolve ya
08:13Karena kalau tidak disolve permasalahan penyebab dari keluarnya dana-dana asing dari pasar keuang kita
08:19Koreksi di pasar saham dan pasar obligasi
08:23Kalaupun Bank Indonesia sudah cukup habis-habisan ya
08:27Mengintervensi di pasar dengan menggelontorkan Cadef-nya
08:32Kembali lagi ini tidak akan optimal ya
08:34Untuk bisa menenangkan rupiah dan juga menstabilkan dari sisi pasar keuang kita
08:38Oke saya tangkap pernyataan Anda Mas Yosua, pemerintah
08:41Di sini menjadi PR ya sebenarnya untuk pemerintah
08:43Untuk bisa mencari permasalahan investor keluar
08:45Padahal BI ini sudah all up
08:47Nah yang menjadi perhatian banyak pihak sebenarnya kan bukan cuma seberapa besar cadangan devisa kita saat ini
08:52Tapi juga laju penyusutannya
08:55Nah apakah Mas Yosua melihat laju penyusutan ini merupakan hal yang wajar atau normal
09:00Atau memang kondisi ini mengartikan dalam tanda kutip kedaruratan nilai tukar rupiah?
09:08Ya kalau kita melihat bagaimana aliran modal asing keluar ya dari sejak awal tahun
09:14Memang jelas sekali ya di pasar saham sampai sepanjang tahun ini misalkan hampir 3,56 miliar USD
09:21Lalu juga di pasar SBN ya memang sudah mulai terjadi outflow itu cukup besar itu di bulan Maret ya
09:28Di bulan Juni ini sudah mulai terjadi mulai inflows lagi
09:31Tapi secara tahun kalender outflow sekitar 0,42 miliar USD
09:35Jadi jelas sekali bahwa upaya-upaya ini ya tadi untuk bisa menenangkan pasar gitu ya
09:42Dan juga dengan beberapa kebijakan yang mungkin beberapa belakangan ini digulirkan oleh pemerintah
09:47Ya terkait dengan DHSDA
09:49Lalu juga terkait dengan badan ekspor satu pintu
09:52Yang mungkin harus di eksplorasi oleh pemerintah kira-kira sekalipun memang ada koreksi kebijakan di dalamnya
10:02Itu saya pikir sangat dimungkinkan gitu ya
10:04Agar bisa membalikan memulihkan lagi kepercayaan dari para investor gitu ya
10:08Karena kembali lagi kalau itu tidak bisa disolve tentunya
10:11Apa namanya kondisi seperti ini
10:14Tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya gitu ya
10:17Karena kebakaran ini masih akan tetap terjadi
10:19Dan kecepatan penurunan dari kira-kira ini pun juga akan semakin tidak bisa terkelola dengan baik
10:27Dan ini tentunya bukan sepenuhnya yang bisa kita persalahkan terus Bank Indonesia
10:34Karena kembali lagi permasalahan utamanya bukan dari Bank Indonesia
10:38Oke berarti artinya saat ini adalah bagaimana pemerintah untuk bisa mencari akar permasalahan itu tadi ya
10:45Tapi kalau kita katakan kita bertanya lagi mengenai posisi BI disini Mas Joshua
10:49Langkah apa lagi yang kira-kira bisa dilakukan BI dalam hal ini adalah untuk menstabilkan rupiah
10:54Karena kalau kita lihat kemarin BI dengan menaikan BI rate tampaknya juga belum terlihat ampuh
11:00Apakah dengan menaikan lagi suku bunga di periode bulan-bulan ke depannya
11:04Ini yang menjadi hal yang relevan begitu yang akan diterapkan oleh BI ke depannya
11:09Ya tentu ruang-ruang untuk adanya kenaikan suku bunga itu memang tetap terbuka gitu ya
11:14Namun kalau kita mencermati juga bagaimana koordinasi atau pengkomunikasi yang sudah dibangun
11:21Antara Gubernur Bank Indonesia dan juga Menteri Keuangan di akhir pekan lalu di hari Sabtu pagi
11:25Yang juga didukung oleh DPR ya dimana disana disampaikan bahwa Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa
11:33Mengupayakan ya Bank Indonesia ada dua strateginya adalah bagaimana meningkatkan daya tarik imbal hasil
11:38Untuk menarik kembali portfolio investment ya ini dengan mengingat tadi adanya arus keluar modal ya
11:44Dan ini akibat tadi kenaikan bunga di luar negeri yang mempengaruhi saham dan juga SBM
11:50Dan juga deposito bank dan ini ada kesepakatan dari fiskal dan moneter
11:54Dimana akan meningkatkan daya tarik imbal hasil ya agar tadi aliran modal asing ini kembali masuk
11:59Dan ini sudah nyata dimana imbal hasil SBM 10 tahun di peredangan kemarin naik signifikan
12:07Lalu yang kedua adalah menjaga kecumpuan likuiditas di pasar uang dan perbankan
12:11Dengan pemerintah dan pengelolaan operasi moneter
12:14Dimana memang pemerintah mengelola kasnya untuk menjaga likuiditas
12:18Dan sementara bank Indonesia juga mengelola operasi moneter untuk mendukung stabilitas dunia tukar
12:22Dan juga disampaikan ditambah yang menjadi pecatatan penting adalah pengelolaan bunga
12:26Yang dibayarkan oleh BI kepada pemerintah
12:27Ini juga akan diperhatikan untuk mendukung operasi moneter ini
12:30Dan memang ini salah satunya adalah terkait dengan koordinasi ini akan terus diperkuat
12:35Termasuk juga tadi remunerasi penempatan kas pemerintah di bank Indonesia pun juga
12:41Memang akan dinaikkan gitu ya
12:44Sehingga tadi akan bisa meningkatkan juga
12:47Untuk bisa bahwa Indonesia bisa lebih fleksibel lagi untuk menjaga likuiditas rupiahnya
12:54Sehingga harapannya ini akan bisa mendukung upaya-upaya untuk bisa menjaga penguatan
12:59Ataupun mendorong penguatan
13:03Oke
13:05Tadi menyambungkan pernyataan dari Mas Yoshua
13:08BI bilang kan akan menaikkan imbal hasil alias remunerasi
13:12Ketika kemarin bertemu dengan DPR dan juga Menteri Keuangan
13:14Tapi kalau Mas sendiri melihat apakah ini merupakan langkah yang win-win solution?
13:20Ya tentunya kalau kita melihat kan sebelumnya
13:22Beberapa hari sebelumnya memang kurva imbal hasil SBN kita kan inverted ya
13:27Ataupun tidak well shaped gitu ya
13:29Dimana imbal hasil yang jangka pendek ini relatif lebih tinggi dibandingkan yang jangka panjang
13:34Tentunya ini mengindikasikan bahwa perekonomian mengalami sesuatu kondisi yang tidak baik gitu ya
13:40Dan ini cerminan tadi ada kondisi yang krisis justru malah
13:43Tidak bagus gitu buat perekonomian
13:45Sehingga ini harus di respon kebijakan tersebut dengan kebijakan tadi ya
13:51Dengan meningkatkan remunerasi penempatan kas pemerintah di Bank Indonesia
13:56Dan juga tadi dengan mengoptimalkan juga ya operasi Monoter Bank Indonesia gitu ya
14:01Sehingga harapannya ini juga dan kemarin juga Bank Indonesia sudah merilis juga bagaimana
14:07Dari sisi upaya-upaya Bank Indonesia ya dengan kurva imbal hasil transaksi di pasar uangnya pun
14:13Juga akan mulai dipublikasikan secara harian gitu ya
14:17Sehingga harapannya ini akan bisa meningkatkan lagi kepercayaan dari para investor gitu ya
14:22Dan harapannya meskipun memang ini bukan solusi tunggal kembali lagi ya
14:26Ini upaya-upaya yang diupayakan oleh Kementerian Keuangan dan juga Bank Indonesia
14:33Tapi kembali lagi ini harus ditambah lagi dengan tadi kebijakan-kebijakan yang
14:37Dimana tadi bisa menjawab ya
14:40Apa keresahan ataupun kegelisahan dari para investor dan juga pelaku industri mungkin
14:48Terkait dengan merespon kebijakan-kebijakan yang belakangan ini digulirkan oleh pemerintah
14:55Sehingga ini akan memboost lagi ataupun memberikan confidence lagi kepada para investor dan juga pelaku industri
15:02Oke berbicara soal kegelisahan investor saat ini kita berbicara soal SRBI
15:06Ini juga tampaknya kurang dilirik oleh investor
15:09Sebenarnya apa yang terjadi Mas? Apakah memang belum optimal? Apa yang belum optimal di situ?
15:15Saya justru melihatnya sebaliknya ya
15:17Kalau kita melihat memang saat ini kemarin kan memang Bank Indonesia mengupayakan
15:21Karena tadi terjadi outflow di pasar SBN dan juga pasar saham
15:24Oleh sebab itu Bank Indonesia meningkatkan attractiveness dari SRBI
15:29Dimana kalau kita lihat dalam lelang SRBI
15:32Dari mungkin beberapa bulan terakhir ini
15:34Trendnya yield ataupun imbal hasil SRBI 12 bulan itu terus melalui peningkatan
15:38Dan yang terakhir tanggal 29 Mei yang lalu
15:40Imbal hasilnya sudah mendekati 7% ya
15:456,9% gitu ya
15:47Dan ini kembali lagi mengindikasikan bagaimana untuk bisa menarik investasi asing
15:52Investor asing ini untuk masuk ke instrumen BI yang relatif memang jangka pendek gitu ya
15:57Meskipun tadi ya implikasi dampaknya tadi padalah
15:59Imbal hasil SBNnya jadinya kurang will shape gitu ya
16:04Dan akhirnya inverted
16:05Namun kalau tidak dilakukan langkah-langkah meningkatkan attractiveness dari SRBI tentunya
16:12Ini dampaknya pasti kepada rupiah mungkin saja rupiah akan bisa lebih melemah dari kondisi saat ini gitu ya
16:19Sehingga makanya saya melihat bahwa instrumen SRBI ini juga menjadi salah satu instrumen yang dimaksimalkan
16:27Dioptimalkan oleh Bank Indonesia untuk juga bisa menyerap investasi asing
16:33Di tengah tadi outflow dari pasar SBNnya juga sahamnya
16:37Sehingga kalau saya lihat memang sampai dengan sejauh ini
16:41Investor asing justru masih tetap masuk ya di pasar SRBI
16:45Meskipun memang secara bulanannya udah mulai agak sedikit menurun ya
16:51Kalau kita lihat sampai dengan mungkin di bulan ini agak turun sekitar hampir 40 triliun di awal bulan
16:58Ya tapi secara kuartal 2 tahun ini masih naik 108 triliun
17:03Dan secara tahun kalender sebenarnya naik juga kepemilikan
17:06Ataupun kepemilikan ekses likuritas yang ditempatkan di SRBI
17:11Itu di kenaikannya deltanya itu sekitar 209 triliun
17:15Jadi makanya ini cukup meningkat cukup signifikan
17:18Oke tapi bagaimana dengan fenomena sel Indonesia Mas Yosua
17:23Di kalangan investor global khususnya
17:25Jika memang ekonomi kita kuat seperti apa yang disampaikan atau diklaim oleh pemerintah
17:30Mengapa hal ini terjadi?
17:31Apakah permasalahannya di krisis kepercayaan?
17:35Ya kembali lagi ya
17:36Kalau kita bicara mengapa ada seruan sel Indonesia
17:40Dari salah satu analis aset peninjaman Australia gitu ya
17:43Dan ini tentunya kan karena analis aset peninjaman tersebut
17:48Ataupun riset apa
17:49Analis itu kan tidak tidak apa namanya tidak
17:52Tentunya tidak sudah bisa membaca ya
17:55Pernyataan-pernyataan ataupun komentar-komentar
17:57Ataupun kebijakan-kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah gitu ya
18:00Dan itu tentunya sudah akan mempengaruhi bagaimana kinerja dari
18:05Sektor-sektor ekonomi yang terdampak gitu ya
18:08Dan ini tentunya memberikan indikasi
18:10Apakah itu memberikan misalkan berdampak negatif
18:13Misalkan kepada fleksibilitas investor asing
18:17Memberikan dampak negatif fleksibilitas
18:19Misalkan kepada eksportir
18:21Kan itu mungkin saja sangat dimungkinkan gitu ya
18:24Sehingga reaksi-reaksi seperti itu
18:26Dan juga mungkin masih investor asing pun juga
18:30Masih menunggu misalkan terkait dengan S&P
18:33Rating S&P gitu ya
18:34Karena sebelumnya
18:36Moody's dan Fitch sudah menurunkan auto rating Indonesia
18:40Dari stable menjadi negatif gitu ya
18:42Sehingga dengan kondisi seperti ini
18:44Dan kondisinya bahwa harga minyak masih trennya masih meningkat
18:48Dan juga rupiah masih lemah
18:49Tentunya ini masih akan mempengaruhi juga ya
18:52Kinerja dari sisi fiskalnya gitu ya
18:53Sehingga ini yang tentunya masih akan mempengaruhi bagaimana
18:57Dan juga di luar itu ya
18:58Bagaimana sekalipun memang sudah melakukan
19:01Pemerintah sudah melakukan terus melakukan reformasi strukturalnya
19:03Tapi mungkin persepsi yang dipersepsikan oleh para investor asing
19:08Khususnya pun analis-analis di aset penjaman asing
19:11Ini justru malah sebaliknya gitu ya
19:13Artinya ada permasalahan komunikasi
19:15Kebijakan yang dinilai
19:17Ataupun etikat yang
19:18Dinilai etikat yang baik oleh pemerintah
19:20Tapi ternyata belum dikomunikasikan
19:22Belum dikomunikasikan secara baik
19:24Kepada pihak luar
19:26Ataupun pelaku industrinya
19:27Dan juga investor asing
19:28Dan juga mungkin
19:29Apa namanya
19:30Pelaksanaan ataupun
19:32Pelaksanaan teknisnya
19:33Ini juga belum dipersiapkan dengan matang gitu ya
19:35Sehingga makanya
19:36Ini pun juga akhirnya memberikan
19:37Pertanyaan-pertanyaan besar juga
19:39Kepada investor asing
19:40Sehingga makanya ini yang harus
19:42Dijelaskan secara gamblang
19:44Dan secara transparan
19:45Karena yang diharapkan juga oleh investor asing
19:49Alah transparansi dan juga
19:52Predictability dari kebijakan pemerintah ke depannya gitu ya
19:54Karena perlu ada trust ya
19:57Kalau misalkan pemerintah saja
19:59Belum memberikan transparansi
20:01Tentunya investor asing pun juga
20:03Akhirnya mengurungkan ya
20:05Trustnya kepada pemerintah Indonesia gitu
20:07Sehingga makanya ini yang harusnya
20:08Ada jalan tengahnya gitu
20:10Supaya kita bisa meningkatkan trustnya
20:12Dari investor asing
20:13Kita harus meningkatkan juga
20:15Predictability kebijakan pemerintah
20:16Dan juga bagaimana meningkatkan transparansi
20:19Dan juga koordinasi kebijakan
20:21Antara kementerian lembaga
20:21Dan juga komunikasinya diperkuat
20:23Sehingga harapannya
20:24Trust itu akan kembali meningkat lagi
20:26Oke
20:27Saya tangkap
20:28Semuanya Mas Yusho
20:29Poinnya mengenai cadangan defisa
20:31Yang terus menyusut
20:31Bahwa ini menjadi PR besar
20:33Untuk pemerintah
20:33Untuk bisa segera mencari akar permasalahan
20:35Karena BI dinilai saat ini
20:37Sudah all out
20:38Dengan apa yang sudah dilakukan
20:39Terima kasih
20:40Kepala Ekonombang
20:41Permata Yusho Pardede
20:43Yang sudah berbagi perspektifnya
20:44Bersama kami di Kompas Bisnis
20:45Pagi ini
20:46Saat salu Mas
20:47Selamat pagi
20:48Sampai jumpa di video selanjutnya
Komentar