Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penggerak Kebhinekaan sekaligus putri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inaya Wahid mengatakan bahwa Imlek merupakan bagian dari budaya Indonesia.

Baginya, tanpa adanya pengaruh budaya Tionghoa maka Indonesia tidak ada.

"Apa yang kita miliki sebagai Imlek, itu adalah bagian dari budaya Indonesia. Itu menegaskan bahwa Imlek atau sesuatu yang dianggap ke-China-an adalah bagian dari Indonesia. Indonesia nggak ada tanpa ke-China-an itu," ujar Inaya.

Baca Juga Perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Inaya Wahid: Bagian dari Demokrasi Kita | GAGAS RI di https://www.kompas.tv/nasional/651587/perayaan-tahun-baru-imlek-2026-inaya-wahid-bagian-dari-demokrasi-kita-gagas-ri

#imlek #tahunbaruimlek #inaya

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Vila

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/651588/inaya-wahid-imlek-adalah-bagian-dari-budaya-indonesia-gagas-ri
Transkrip
00:01Dari langit yang luas tadi kita melihat kebinikaan menjadi sumber kekuatan dan kontribusinya membuat Indonesia maju dan bersatu.
00:12Sosok yang satu ini tentunya sudah tidak asing lagi buat kita.
00:15Melalui berbagai ruang ekspresi, mulai dari panggung seni, gerakan sosial, hingga forum lintas agama.
00:22Ia aktif menyuarakan persatuan di tengah perbedaan.
00:26Hingga detik ini, ia pun tetap setia meneruskan dan memperjuangkan nilai toleransi dan pluralisme yang diwariskan ayahnya untuk Indonesia.
00:37Karena jasa itu, ayahnya Kiai Haji Abdul Rahman Wahid dijuluki sebagai Bapak Tionghoa Indonesia.
00:44Mari kita sambut, inilah Inayah Wahid.
00:57Inayah Wahid, pelaku seni dan juga penggerak kebinikaan yang teguh meneruskan jejak humanisme sang ayah, Abdurrahman Wahid Presiden keempat Republik
01:06Indonesia.
01:09Melalui gerakan Positif Movement yang didirikannya sejak 2006, ia aktif mengajak generasi muda untuk menyebarkan toleransi dan semangat positif.
01:18Baginya, keragaman adalah fondasi utama demokrasi yang harus dirawat, bukan untuk diseragamkan.
01:27Inayah Wahid, suara generasi muda yang konsisten menjaga toleransi dan kebinikaan Indonesia.
01:38Selamat malam semuanya. Selamat Imlek. Hari ini sudah dapat angpau?
01:46Kalau belum, boleh silakan nanti ke koordinator di sini, enggak ya? Saya pikir kita bakal dapat angpau.
01:56Hari ini, kalau bapak, ibu, kakak-kakak semua pergi jalan-jalan, hari ini libur, kita bisa makan enak di mal
02:05dengan sentuhan warna merah dan emas.
02:09Kalau untuk tahun ini temanya ada begitu banyak gambar kuda, yang mungkin maknanya kita hari ini harus dilecut, karena mungkin
02:17kita harus kerja keras sebagai kuda.
02:19Hal ini tampak menyenangkan, tapi dia tidak muncul tiba-tiba.
02:27Dulu, lewat kepres, maaf, maksud saya, inpres tahun 1967, inpres nomor 14, Imlek, dan segala sesuatu yang berbau Tionghoa, dilarang.
02:44Semua identitas itu, enggak boleh ada.
02:50Hingga kemudian, waktu berlalu pada saat presiden yang mengeluarkan inpres tersebut berhasil dijatuhkan oleh rakyat,
03:02kemudian digantikan oleh masa reformasi.
03:05Gus Dur mengeluarkan kepres tahun 2000 yang mengatakan Imlek boleh ada lagi.
03:16Kauhucu menjadi salah satu dari salah satu agama ofisial di Indonesia.
03:23Mulai dari situ, banyak sekali perubahan yang terjadi.
03:28Jadi, kalau hari ini kita bisa jalan-jalan, lihat pada saat Imlek, karena kita libur,
03:35kalau hari ini kita bisa makan bersama dengan keluarga, menghabiskan waktu, saling bertukar angpau,
03:41kita bisa lihat begitu banyak kemeriahan yang kita dapatkan.
03:47Ada sejarah panjang di belakangnya.
03:50Nah, ada hal-hal yang menarik pada saat kita sekarang sudah merasakan sendiri,
03:58apa yang kita miliki sebagai Imlek, itu adalah bagian dari budaya Indonesia.
04:03Itu menegaskan bahwa Imlek atau sesuatu yang dianggap kecinaan adalah bagian dari Indonesia.
04:12Indonesia enggak ada tanpa kecinaan itu.
04:16Enggak ada tanpa bakso, semangkok mie bakso yang tadi dimunculkan oleh Bu Mari.
04:22Harian kompas, tanpa penemuan koran yang dilakukan oleh orang Cina, enggak mungkin ada.
04:31Teman-teman perempuan hari ini enggak akan mungkin pakai make up doing.
04:36Dan cowok-cowok di sini enggak akan mungkin, enggak tahu mengidolakan, pengen jadi rapper seperti Rich Brian, atau apapun.
04:45Kalau tanpa ada bagian dari kecinaan itu menjadi bagian dari Indonesia.
04:49Kita tidak bisa menikmati itu semua.
04:52Keindonesiaan ada karena ada nuansa kecinaan yang muncul di situ.
04:58Dia jadi bagian satu padu.
05:01Dan hari ini menariknya ketika identitas Tionghoa itu kemudian kembali lagi,
05:09dia tidak menjadikan Indonesia jadi, Indonesia berubah jadi Cina, hilang Indonesia-nya.
05:16Enggak.
05:17Dan bukan hanya untuk pemilik identitasnya saja, tapi hari ini kita semua merasakannya.
05:24Hari ini kita semua seperti tadi, kita bisa jalan-jalan menikmati diskon.
05:32Kita bisa menikmati begitu banyak.
05:38Bahkan mungkin teman-teman yang hari ini pasang hiu melakukan sembayang, besok akan jadi bagian yang ikut takjil war.
05:51Artinya, ini semua memang sudah menjadi bagian dari Indonesia.
05:55Dan artinya apa?
05:57Artinya, keuntungannya untuk Indonesia.
06:01Tanpa ada lebur yang identitas yang tadi, teman-teman Tionghoa tadi,
06:06kita tidak akan mungkin punya tokoh-tokoh yang memperjuangkan Indonesia.
06:13Kita tidak akan mungkin punya orang-orang hebat yang membawa nama Indonesia jadi lebih besar.
06:21Kita tidak akan punya Rich Brian yang pertama kali membawa rap Indonesia ke kancah internasional misalnya.
06:31Kita tidak mungkin punya ekonom yang membawa ekonomi Indonesia jadi luar biasa.
06:38Seperti Bumari LK Pangestu misalnya.
06:42Kita tidak mungkin punya pilot tempur yang keren banget seperti Mayor Marco tadi.
06:48Yang agak ajaib karena wajahnya Tionghoa, namanya Eropa, tapi warga negaranya Indonesia.
06:57Komplit.
07:00Kita tidak akan mungkin punya tokoh-tokoh seperti Mayor Marco tadi.
07:04Yang karena kehebatannya, saya mendoakan Mayor Marco segera mendapatkan pangkat let call.
07:11Karena di sini, Mayor kalau ganteng bisa langsung naik jadi let call.
07:20Poinnya apa?
07:21Poinnya, keuntungan dari diberlakukannya atau dirayakannya identitas-identitas yang berbeda di Indonesia menjadi keuntungan buat kita semua.
07:36Bukan hanya bagi sebagian kecil saja, bukan hanya bagi identitas-identitas tersebut saja.
07:43Kita semua bisa menikmati.
07:46Kita semua mendapatkan jalur-jalur berkah.
07:51Jalur-jalur ekonomi hari ini yang bikin kue keranjang, mungkin di daerah gelodok sana, belum tentu orang yang merayakan Imlek.
08:02Hari ini, orang-orang yang kemudian men-support segala sesuatu yang digunakan untuk berdoa bersama, untuk memperingati Imlek.
08:17Bukan hanya orang-orang yang merayakan Imlek.
08:20Dari situ ada begitu banyak perputaran ekonomi, ada begitu banyak politik, ada begitu banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan.
08:30Jadi, dengan kita memperkuat identitas kita sebagai identitas-identitas yang menjadi bagian dari Indonesia, malah hal tersebut yang akan menguatkan
08:42keindonesiaan kita.
08:43Itu satu hal.
08:45Hal kedua, tadi kalau dibilang oleh Bumari, ada beberapa orang yang kemudian menjadikan hari ini tampak berbeda.
08:53Kemarin ketika saya di mal, saya melihat begitu banyak hiasan, begitu banyak aksesoris-aksesoris Imlek.
09:05Saya baru menyadari satu hal yang membuat perubahan ini, kondisi Indonesia berubah selama 26 tahun ini, selama 27 tahun ini,
09:18tidak banyak.
09:20Dibutuhkan hanya tiga orang untuk membuat hal tersebut.
09:26Pak Habibie yang mengubah stigma dari peribumi non-peribumi menjadi semuanya setara.
09:32Gus Dur yang kemudian membolehkan Imlek, dan Ibu Megawati yang kemudian menjadikan itu sebagai hari libur.
09:41Saya tahu, bagian paling enak pasti ke Ibu Megawati ya.
09:46Jadi, tidak dibutuhkan banyak orang.
09:50Artinya apa?
09:51Artinya ada dua hal yang mau saya propose.
09:53Satu, identitas-identitas kita yang berbeda.
09:56Itu menjadi keuntungan untuk kita sendiri, untuk Indonesia.
10:00Yang kedua, tidak dibutuhkan banyak orang untuk membuat perubahan.
10:06Artinya hari ini, ketika kita sudah melihat dengan jelas bagaimana keuntungan yang kita dapatkan,
10:14manfaat yang kita dapatkan dengan identitas keindonesiaan yang punya banyak sekali sentuhan Tionghoa dan sentuhan-sentuhan lain,
10:24kita kemudian mungkin perlu diingatkan bahwa belum semua identitas di Indonesia juga sudah mengalami kemerdekaan seperti itu.
10:33Masih banyak identitas-identitas lain yang belum mendapatkan haknya, yang belum setara.
10:41Dan tidak dibutuhkan banyak orang ternyata untuk membuat perubahan itu.
10:47Hanya dibutuhkan orang yang punya point of view, yang punya POV, kalau hari ini, yang punya POV, yang memang mencintai
10:57keberagaman dan percaya pada keberagaman.
11:00Keberagaman dan orang yang mau, orang yang willing untuk melakukan perubahan tersebut.
11:08Kalau teman-teman lihat, tiga orang tersebut saja bisa mengubah peta Indonesia dengan begitu besarnya, bisa bayangkan kalau kita melakukannya
11:18bersama-sama.
11:19Ada banyak hak-hak teman-teman kelompok identitas berbeda yang belum didapatkan.
11:27Sudah saatnya kita semua muncul memperjuangkan mereka, memperjuangkan Indonesia yang betul-betul demokrasi.
11:36Jangan cuma di jargon saja, Indonesia bineka tunggal ika, Indonesia negara toleran.
11:45Kalau adanya cuma di jargon, adanya cuma di spanduk dan di baliho, atau di background ketika pejabat sedang pidato, maka
11:54namanya bukan demokrasi, tapi dekorasi.
11:58Ada perbedaan yang besar di situ.
12:01Untuk itu, saya mempropos kepada kita semua, mungkin sudah saatnya kita merayakan Imlek.
12:08Bukan hanya dengan makan-makan enak, bukan hanya dengan berkumpul bersama keluarga, bukan hanya dengan berbagi angpau.
12:18Meskipun tentu saja saya menerima dengan senang hati kiriman itu semua, tapi juga dengan semangat untuk memperjuangkan yang lain.
12:29Sehingga Indonesia betul-betul bisa menjadi negara demokrasi, di mana semua identitas betul-betul setara dan semua identitas menjadi kebanggaan
12:41untuk Indonesia dan menjadi sumber kekuatan untuk Indonesia.
Komentar

Dianjurkan