Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua DEN sekaligus Penasihat Panitia Imlek Nasional, Mari Elka Pangestu mengaku bersyukur seteleh reformasi 1998, masyarakat Tionghoa dapat merayakan Imlek secara terbuka hingga saat ini.

Baginya, hal itu menjadi momentum baik untuk kembali berdampingan dan terjadinya kembali akulturasi budaya.

"Kini, saya sangat bersyukur karena kita bisa merayakan Imlek secara terbuka. Setelah reformasi 1998 banyak presiden-preisden berikutnya membuka ruang untuk kita kembali bisa berdampingan dan akulturasi budaya terjadi lagi," ujar Mari.

Baca Juga Libur Imlek Usai, Ganjil Genap Jakarta Kembali Berlaku Hari Ini Rabu 18 Februari 2026 di https://www.kompas.tv/regional/651345/libur-imlek-usai-ganjil-genap-jakarta-kembali-berlaku-hari-ini-rabu-18-februari-2026

#imlek #tahunbaruimlek

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Vila

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/651584/mari-elka-pangestu-bersyukur-bisa-rayakan-imlek-secara-terbuka-di-indonesia-gagas-ri
Transkrip
00:07Terima kasih telah menonton
00:58Terima kasih telah menonton
01:28Terima kasih telah menonton
01:55Terima kasih telah menonton
02:25Terima kasih telah menonton
02:54Terima kasih telah menonton
03:22Terima kasih telah menonton
03:41Terima kasih telah menonton
03:57Terima kasih telah menonton
04:26Terima kasih telah menonton
04:44Terima kasih telah menonton
05:06Terima kasih telah menonton
05:19Terima kasih telah menonton
06:00Terima kasih telah menonton
06:29Menjadi Tionghoa Indonesia
06:31Terima kasih telah menonton
07:29Sebagai utusan
07:52Terima kasih telah menonton
08:20Selamat menonton
08:26Terima kasih telah menonton
09:42Terima kasih telah menonton
09:45Jadi selamat menonton
09:51Terima kasih telah menonton
10:15Terima kasih telah menonton
10:22Terima kasih telah menonton
10:57Terima kasih telah menonton
11:38Terima kasih telah menonton
11:47Terima kasih telah menonton
12:18Terima kasih telah menonton
12:46Terima kasih telah menonton
13:01Terima kasih telah menonton
13:26Terima kasih telah menonton
13:29Terima kasih telah menonton
13:31Terima kasih telah menonton
13:34Terima kasih telah menonton
13:36Terima kasih telah menonton
13:42Terima kasih telah menonton
13:43Ketegangan ekonomi yang berbeda dan akhirnya muncul ketegangan sosial yang akhirnya sepertinya ada masalah di dalam orang-orang Cina. Jadi
13:53negatif. Maka itu sangat berterima kasih sekarang kita tidak lagi menggunakan kata-kata Cina tetapi Tionghoa.
14:00Saya generasi ke-6 dari pihak ibu saya dan generasi ke-3 dari pihak saya. Kami leluhurnya datang dari Provinsi
14:09Fujian. Kami baru saja menyelesaikan buku yang memerlukan waktu 15 tahun untuk diselesaikan untuk melihat leluhur kita yang datang keluarganya
14:20dari Hangdao. Hangdao itu nama desanya.
14:22Dan ternyata leluhur kita seperti leluhur Tionghoa yang lain bergerak di berbagai bidang. Sebagai pedagang, sebagai pembatik dan pada akhirnya
14:34berbisnes maupun banyak yang seperti saya akhirnya masuk ke dunia pendidikan.
14:40Jadi bercabang dengan kemana-mana. Dan saya mungkin beruntung bisa berbakti kepada negara. Saya awalnya berbakti sebagai dosen sampai sekarang
14:55ini foto saya ngajar hari Senin yang lalu.
14:57Sampai sekarang saya masih mengajar karena buat saya itu adalah salah satu wujud saya berkontribusi dan kemudian saya beruntung bisa
15:07berbakti ke negara.
15:08Di waktu saya menjadi menteri maupun di dunia internasional maupun sekarang membantu Presiden Prabowo.
15:15Dan di luar itu tentunya banyak hal yang kita lakukan untuk tadi disebut. Saya sangat percaya dengan pentingnya melakukan penelitian
15:24dan membuat kebijakan.
15:27yang berbasis data dan berbasis penelitian atau evidence ya.
15:33Nah inilah yang menjadi mungkin kalau dilihat benang merahnya itulah yang benang merah yang menjalankan bagaimana saya berbakti pada negara.
15:42Tapi sebetulnya saya tidak berintensi untuk mencerita mengenai diri saya. Saya hanya menggunakan diri saya sebagai contoh.
15:50Di mana seorang keturunan Tionghoa, etnis Tionghoa akhirnya bisa berbakti dan berkontribusi ke negara.
15:59Dan saya bukan satu-satunya. Banyak sekali yang berkontribusi ke Indonesia.
16:05Ini hanya sekilas saja kontribusi ke bangsa ya.
16:12Di perjuangan pada saat awal kita mau merdeka ada namanya John Lee yang adalah dari angkatan laut.
16:21Dan dia yang membantu senjata dan logistik sehingga kita bisa melawan Belanda, melawan Jepang untuk bisa merdeka.
16:30Ada yang namanya Si Konglian. Ini orang jarang tahu mengenai dia.
16:35Tapi sebenarnya Sumpah Pemuda Kedua di tahun 1928 dilakukan di rumahnya dia.
16:41Yang sekarang menjadi gedung Sumpah Pemuda itu rumahnya dia.
16:45Dan banyak lagi. Olahraga, siapa tidak tahu Rudy Hartono, Lim Suiking maupun Susi Susanti.
16:51Zaman sekarang masih ada lagi yang menang gold medal di Asian Games baru-baru ini maupun di Wushu dan lain
16:58sebagainya.
16:59Kalau akademik ada Yusuf Panglaikim, kebetulan ayah saya sendiri.
17:04Meling Ui, Te Kian Ui, banyak lagi yang ada di situ.
17:07Di pemerintah saat ini ada Veronika Tan, Stella Christie dan Irene Umar.
17:13Di zaman saya, saya sendiri dan kemudian ada juga Ignatius Yonan dan seterusnya.
17:18Ini bukan saja di bidang ini, di bidang seni.
17:22Seperti Krisha, Anda tidak tahu ya bahwa Krisha itu keturunan Tionghoa.
17:27Ada lagi yang penari Didi Nini Tawo, yang tari topeng itu juga keturunan Tionghoa.
17:37Jadi banyak sekali yang berkontribusi untuk seni.
17:42Nah mungkin kalau nama-nama itu adik-adik di sini tidak kenal ya.
17:46Tapi mungkin yang dikenal saat ini Agnes Monika.
17:50Ernest Prakarsa.
17:52Siapa yang belum nonton agak lain?
17:54Atau cek toko sebelah, ini adalah juga berkontribusi ke bangsa dan banyak lagi.
18:00Saya tidak, sini hanya cuplikan kontribusi ke bangsa.
18:06Peran keturunan Tionghoa dalam membangun ekonomi Indonesia.
18:10Sebagai pedatang seperti saya sampaikan tadi, membawa barang, membawa teknologi, dan berperan membangun industri.
18:18Jadi kalau kita lihat industri-industri 100 tahun atau 80 tahun yang lalu, seperti jamu, kretek, batik, itu semua ada
18:30unsur leluhur Tionghoa di dalam situ.
18:33Termasuk keluarga saya.
18:34Ternyata keluarga saya datangnya ke Semarang, terus nyebar ke Solo, ke Ambarawa, ke Lasem.
18:40Semuanya bergerak di bidang batik yang pergi ke daerah situ.
18:45Kenapa?
18:45Karena asalnya sebagai pedagang, suaminya pedagang membawa kain dan malam untuk digunakan pembatik.
18:53Kemudian yang menjadi menteri keuangan dan yang benar-benar berbisnis itu sebetulnya ibunya, istrinya.
18:58Dia mengambil batik yang telah diselesaikan oleh pembatik-pembatik itu dan dia bantu jual.
19:06Dan pada akhirnya menjadi industri batik.
19:08Dan banyak yang menjadi pedagang, tapi akhirnya masuk ke industri tekstil, makanan, elektronik, kretek, dan obat.
19:16Dan membuat brand-brand global.
19:18Pada tahun 90-an, para pengusaha besar Tiongkok ini, keturunan Tiongkok, diminta oleh Soeharto pada waktu itu memberi kembali ke
19:28masyarakat.
19:29Dan maka itu dibuat Prasetya Mulia, MBA pertama untuk melatih manajer di Indonesia.
19:35Oke, saya rasa saya sudah sampai ke ujung.
19:38Apa gagasan saya?
19:41Saya pribadi mengalami tahun 65.
19:43Saya masih cukup, ini mencerminkan umur saya barangkali ya, kalau saya mengalami 65 dan 98.
19:52Dimana setelah 65 sampai 98, kita tidak bisa merayakan Imlek secara terbuka.
20:00Kini saya sangat bersyukur karena kita bisa merayakan Imlek secara terbuka.
20:05Setelah reformasi 98, banyak presiden-presiden berikutnya yang membuka ruang
20:12untuk kita kembali bisa berdampingan dan akulturasi budaya terjadi lagi dan membangun kembali bagaimana kita sebagai keturunan Tiongkok.
20:23Bisa merayakan Imlek secara terbuka.
20:25Itu karena adanya dihilangkan istilah pri dan non-pri di tahun 98 oleh Habibi, presiden Habibi.
20:33Kemudian presiden Gus Dur, ayahnya Ian Inaya, mencabut peraturan yang 67 yang melarang kebebasan untuk beragama dan merayakan Imlek.
20:47Dan kemudian tahun 2002, Imlek dijadikan liburan nasional.
20:54Ini sudah berarti hampir 20 tahun yang lalu.
20:57Sekarang kita tidak pernah berpikir lagi kita merayakan Imlek secara meriah dan bersama-sama.
21:05Bukan hanya antara kelompok Tionghoa.
21:07Dan saya sangat bersyukur dan bangga menjadi orang Indonesia.
21:13Karena saya tidak lagi mengalami kepahitan-kepahitan diskriminasi.
21:17Dan inilah yang kita harus rawat.
21:19Alam sudah berbicara.
21:21Ini untuk 3 tahun ke depan, Ramadan dan Imlek bersinggungan.
21:26Itu sudah menjadi tanda-tanda zaman kita harus merawat dan menjaga kebinekaan kita.
21:34Dan ini adalah kekuatan bangsa kita.
21:37Terima kasih.
21:38Kita tutup dengan video singkat.
21:50Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan