00:07Terima kasih telah menonton
00:58Terima kasih telah menonton
01:28Terima kasih telah menonton
01:55Terima kasih telah menonton
02:25Terima kasih telah menonton
02:54Terima kasih telah menonton
03:22Terima kasih telah menonton
03:41Terima kasih telah menonton
03:57Terima kasih telah menonton
04:26Terima kasih telah menonton
04:44Terima kasih telah menonton
05:06Terima kasih telah menonton
05:19Terima kasih telah menonton
06:00Terima kasih telah menonton
06:29Menjadi Tionghoa Indonesia
06:31Terima kasih telah menonton
07:29Sebagai utusan
07:52Terima kasih telah menonton
08:20Selamat menonton
08:26Terima kasih telah menonton
09:42Terima kasih telah menonton
09:45Jadi selamat menonton
09:51Terima kasih telah menonton
10:15Terima kasih telah menonton
10:22Terima kasih telah menonton
10:57Terima kasih telah menonton
11:38Terima kasih telah menonton
11:47Terima kasih telah menonton
12:18Terima kasih telah menonton
12:46Terima kasih telah menonton
13:01Terima kasih telah menonton
13:26Terima kasih telah menonton
13:29Terima kasih telah menonton
13:31Terima kasih telah menonton
13:34Terima kasih telah menonton
13:36Terima kasih telah menonton
13:42Terima kasih telah menonton
13:43Ketegangan ekonomi yang berbeda dan akhirnya muncul ketegangan sosial yang akhirnya sepertinya ada masalah di dalam orang-orang Cina. Jadi
13:53negatif. Maka itu sangat berterima kasih sekarang kita tidak lagi menggunakan kata-kata Cina tetapi Tionghoa.
14:00Saya generasi ke-6 dari pihak ibu saya dan generasi ke-3 dari pihak saya. Kami leluhurnya datang dari Provinsi
14:09Fujian. Kami baru saja menyelesaikan buku yang memerlukan waktu 15 tahun untuk diselesaikan untuk melihat leluhur kita yang datang keluarganya
14:20dari Hangdao. Hangdao itu nama desanya.
14:22Dan ternyata leluhur kita seperti leluhur Tionghoa yang lain bergerak di berbagai bidang. Sebagai pedagang, sebagai pembatik dan pada akhirnya
14:34berbisnes maupun banyak yang seperti saya akhirnya masuk ke dunia pendidikan.
14:40Jadi bercabang dengan kemana-mana. Dan saya mungkin beruntung bisa berbakti kepada negara. Saya awalnya berbakti sebagai dosen sampai sekarang
14:55ini foto saya ngajar hari Senin yang lalu.
14:57Sampai sekarang saya masih mengajar karena buat saya itu adalah salah satu wujud saya berkontribusi dan kemudian saya beruntung bisa
15:07berbakti ke negara.
15:08Di waktu saya menjadi menteri maupun di dunia internasional maupun sekarang membantu Presiden Prabowo.
15:15Dan di luar itu tentunya banyak hal yang kita lakukan untuk tadi disebut. Saya sangat percaya dengan pentingnya melakukan penelitian
15:24dan membuat kebijakan.
15:27yang berbasis data dan berbasis penelitian atau evidence ya.
15:33Nah inilah yang menjadi mungkin kalau dilihat benang merahnya itulah yang benang merah yang menjalankan bagaimana saya berbakti pada negara.
15:42Tapi sebetulnya saya tidak berintensi untuk mencerita mengenai diri saya. Saya hanya menggunakan diri saya sebagai contoh.
15:50Di mana seorang keturunan Tionghoa, etnis Tionghoa akhirnya bisa berbakti dan berkontribusi ke negara.
15:59Dan saya bukan satu-satunya. Banyak sekali yang berkontribusi ke Indonesia.
16:05Ini hanya sekilas saja kontribusi ke bangsa ya.
16:12Di perjuangan pada saat awal kita mau merdeka ada namanya John Lee yang adalah dari angkatan laut.
16:21Dan dia yang membantu senjata dan logistik sehingga kita bisa melawan Belanda, melawan Jepang untuk bisa merdeka.
16:30Ada yang namanya Si Konglian. Ini orang jarang tahu mengenai dia.
16:35Tapi sebenarnya Sumpah Pemuda Kedua di tahun 1928 dilakukan di rumahnya dia.
16:41Yang sekarang menjadi gedung Sumpah Pemuda itu rumahnya dia.
16:45Dan banyak lagi. Olahraga, siapa tidak tahu Rudy Hartono, Lim Suiking maupun Susi Susanti.
16:51Zaman sekarang masih ada lagi yang menang gold medal di Asian Games baru-baru ini maupun di Wushu dan lain
16:58sebagainya.
16:59Kalau akademik ada Yusuf Panglaikim, kebetulan ayah saya sendiri.
17:04Meling Ui, Te Kian Ui, banyak lagi yang ada di situ.
17:07Di pemerintah saat ini ada Veronika Tan, Stella Christie dan Irene Umar.
17:13Di zaman saya, saya sendiri dan kemudian ada juga Ignatius Yonan dan seterusnya.
17:18Ini bukan saja di bidang ini, di bidang seni.
17:22Seperti Krisha, Anda tidak tahu ya bahwa Krisha itu keturunan Tionghoa.
17:27Ada lagi yang penari Didi Nini Tawo, yang tari topeng itu juga keturunan Tionghoa.
17:37Jadi banyak sekali yang berkontribusi untuk seni.
17:42Nah mungkin kalau nama-nama itu adik-adik di sini tidak kenal ya.
17:46Tapi mungkin yang dikenal saat ini Agnes Monika.
17:50Ernest Prakarsa.
17:52Siapa yang belum nonton agak lain?
17:54Atau cek toko sebelah, ini adalah juga berkontribusi ke bangsa dan banyak lagi.
18:00Saya tidak, sini hanya cuplikan kontribusi ke bangsa.
18:06Peran keturunan Tionghoa dalam membangun ekonomi Indonesia.
18:10Sebagai pedatang seperti saya sampaikan tadi, membawa barang, membawa teknologi, dan berperan membangun industri.
18:18Jadi kalau kita lihat industri-industri 100 tahun atau 80 tahun yang lalu, seperti jamu, kretek, batik, itu semua ada
18:30unsur leluhur Tionghoa di dalam situ.
18:33Termasuk keluarga saya.
18:34Ternyata keluarga saya datangnya ke Semarang, terus nyebar ke Solo, ke Ambarawa, ke Lasem.
18:40Semuanya bergerak di bidang batik yang pergi ke daerah situ.
18:45Kenapa?
18:45Karena asalnya sebagai pedagang, suaminya pedagang membawa kain dan malam untuk digunakan pembatik.
18:53Kemudian yang menjadi menteri keuangan dan yang benar-benar berbisnis itu sebetulnya ibunya, istrinya.
18:58Dia mengambil batik yang telah diselesaikan oleh pembatik-pembatik itu dan dia bantu jual.
19:06Dan pada akhirnya menjadi industri batik.
19:08Dan banyak yang menjadi pedagang, tapi akhirnya masuk ke industri tekstil, makanan, elektronik, kretek, dan obat.
19:16Dan membuat brand-brand global.
19:18Pada tahun 90-an, para pengusaha besar Tiongkok ini, keturunan Tiongkok, diminta oleh Soeharto pada waktu itu memberi kembali ke
19:28masyarakat.
19:29Dan maka itu dibuat Prasetya Mulia, MBA pertama untuk melatih manajer di Indonesia.
19:35Oke, saya rasa saya sudah sampai ke ujung.
19:38Apa gagasan saya?
19:41Saya pribadi mengalami tahun 65.
19:43Saya masih cukup, ini mencerminkan umur saya barangkali ya, kalau saya mengalami 65 dan 98.
19:52Dimana setelah 65 sampai 98, kita tidak bisa merayakan Imlek secara terbuka.
20:00Kini saya sangat bersyukur karena kita bisa merayakan Imlek secara terbuka.
20:05Setelah reformasi 98, banyak presiden-presiden berikutnya yang membuka ruang
20:12untuk kita kembali bisa berdampingan dan akulturasi budaya terjadi lagi dan membangun kembali bagaimana kita sebagai keturunan Tiongkok.
20:23Bisa merayakan Imlek secara terbuka.
20:25Itu karena adanya dihilangkan istilah pri dan non-pri di tahun 98 oleh Habibi, presiden Habibi.
20:33Kemudian presiden Gus Dur, ayahnya Ian Inaya, mencabut peraturan yang 67 yang melarang kebebasan untuk beragama dan merayakan Imlek.
20:47Dan kemudian tahun 2002, Imlek dijadikan liburan nasional.
20:54Ini sudah berarti hampir 20 tahun yang lalu.
20:57Sekarang kita tidak pernah berpikir lagi kita merayakan Imlek secara meriah dan bersama-sama.
21:05Bukan hanya antara kelompok Tionghoa.
21:07Dan saya sangat bersyukur dan bangga menjadi orang Indonesia.
21:13Karena saya tidak lagi mengalami kepahitan-kepahitan diskriminasi.
21:17Dan inilah yang kita harus rawat.
21:19Alam sudah berbicara.
21:21Ini untuk 3 tahun ke depan, Ramadan dan Imlek bersinggungan.
21:26Itu sudah menjadi tanda-tanda zaman kita harus merawat dan menjaga kebinekaan kita.
21:34Dan ini adalah kekuatan bangsa kita.
21:37Terima kasih.
21:38Kita tutup dengan video singkat.
21:50Terima kasih.
Komentar