00:02Saya akan ke pertanyaan-pertanyaan dari netizen yang sudah dikumpulkan, masing-masing bisa menjawab dan siapa yang akan merepondulan.
00:10Pertanyaan pertama dari Rediantina, apa tantangan yang masih ada dalam merawat kebenekaan di Indonesia hari ini?
00:20Saya rasa walaupun empat orang ini sudah meletakkan dasar dan kita sudah menjalankannya mungkin terutama 10 tahun terakhir sih kerasa
00:30sekali.
00:31Tapi menurut saya masih ada sekat-sekat dan masih ada diskriminasi yang tidak terselubung mungkin ya, lebih terselubung sekarang dibanding
00:43yang lalu.
00:44Dan ini yang perlu kita atasi dan seperti ada persepsi, kalau urusan keuangan itu pasti orang Tionghoa yang harus kerusin.
00:56Jadi kalau di suatu perusahaan itu keuangan, jadi maka itu istilahnya role model itu penting.
01:05Jadi beliau ini saya rasa role model yang bagus gitu ya dalam arti orang Tionghoa itu bisa kontribusi di mana
01:11-mana, bukan hanya untuk keuangan dan usaha.
01:14Dan usaha juga ini juga ada stereotip ya bahwa dunia usaha ini taunya hanya cari uang, tidak memberi balik, tidak
01:26memberi kontribusi balik ya.
01:28Ini juga mungkin salahnya orang pengusaha juga ya. Nah ini juga antara pengusaha saya rasa sudah sangat sadar sekarang bagaimana
01:37kita juga membaur dan menjadi bagian dari kebangsaan kita ya.
01:43Dan di sini mungkin menegaskan kembali kontribusi dari orang Tionghoa di berbagai bidang itu perlu kita terus dorong dan mendorong
01:57juga lebih banyak orang Tionghoa.
01:59Untuk tidak hanya jalurnya itu yang stereotyping, bantu usaha bapaknya atau ibunya ya, tapi juga masuk ke bidang-bidang lain
02:08yang berkontribusi ke bangsa.
02:11Karena saya rasa bukan hanya saya, saya merasa saya ini orang Indonesia.
02:16Saya orang Indonesia yang berketurunan Tionghoa, tapi saya first of all adalah orang Indonesia.
02:23Dan saya bangga jadi orang Indonesia.
02:25Terima kasih Bumari. Marco?
02:28Menurut saya untuk merawat kebinekaan yang penting adalah ketika kita sudah punya fondasi, yang penting adalah konsistensi.
02:36Kita terus menjalankan itu, kita tularkan kepada orang-orang di sekeliling kita, kita tunjukkan juga kita mau berkontribusi, kita mau
02:46terlibat untuk kemajuan, kita mau terlibat dalam berbagai hal untuk kemajuan terutama untuk kemajuan Indonesia.
02:54Tepuk tangan buat Marco.
02:55Mbak Inaya, tantangan yang real, yang mungkin terlihat oleh Mbak Inaya.
03:00Ya kalau yang saya lihat sih ada dua ya.
03:02Yang pertama tentu aja itu adalah sudut pandang yang belum secara menyeluruh memang kemudian menganggap perbedaan gitu sebagai, sebagai satu,
03:12apa ya, satu benefit besar gitu.
03:16Sebagai sesuatu yang memang perlu dirayakan gitu.
03:19Jadi ada banyak sentimen-sentimen negatif yang kemudian memang saya rasa bukan hanya memang dia tumbuh secara organik, tapi juga
03:27kemudian dibudidayakan gitu ya.
03:29Dan digunakan.
03:30Itu satu.
03:31Dan yang kedua, kurangnya pendegakan hukum.
03:35Itu yang jelas.
03:35Yang memang betul-betul fair gitu.
03:38Dan equal.
03:38Itu sih yang saya rasa, andai kata itu bisa berjalan dengan baik gitu ya, tepat, itu akan bikin kita ini
03:48banget.
03:49Thank you Mbak Inaya.
03:50Kita akan ke pertanyaan netizen yang kedua nih, dari John Parlo HTB.
03:57Izin bertanya, ini kayak tentara nih.
04:01Bagaimana caranya agar Imlek dapat menjadi momentum untuk memperkuat identitas nasional Indonesia yang beragam dan multi-kultural?
04:10Itu sebetulnya intensi kita tahun ini dengan Imlek nasional.
04:15Bahwa apalagi dengan momen bahwa ini sama-sama dengan bulan puasa dan lain sebagainya.
04:20Jadi kita merayakan tapi kita juga menghormati bahwa ini juga bulan puasa gitu kan.
04:26Jadi ini dan atribut ataupun penggelaran kultur maupun ekshibisi yang akan dilakukan dalam open museum.
04:34Itu semuanya bercerita mengenai bagaimana akulturasi dari Tionghoa di dalam budaya Indonesia dan gaya hidup Indonesia itu benar-benar sudah
04:44berintegrasi gitu ya.
04:47Jadi ini kan selalu ada perdebatan asimilasi atau integrasi.
04:50Sebenarnya ini integrasi yang terjadi.
04:52Dan ini yang saya rasa dari tahun ke tahun dan mungkin ini pertama kalinya sebelumnya saya juga perlu menggarisbawahi.
05:01Ini Imlek nasional dirayakan oleh semua kelompok yang ada kaitannya dengan Tionghoa.
05:08Islam Tionghoa, Kongucu, Walubi, semuanya bersatu.
05:13Kita akan merayakan bersama-sama.
05:15Dan ini momen yang luar biasa sih.
05:17Karena saya mengalami waktu saya di pemerintahan bagaimana selalu harus melayani kelompok-kelompok yang berbeda.
05:24Nah ini kelompok-kelompok internalnya sudah bersatu.
05:27Nah bersatu ini harus juga bersatu dengan komunitas yang lain.
05:32Dan ini saya rasa salah satu cara untuk juga mengurangi.
05:37Saya juga tadi ingin mengapresiasi apa yang disampaikan Marco.
05:42Bahwa ya kita bergerak sebagai profesional dan melakukan yang terbaik.
05:49Karena kita sering dicurigai ya.
05:50Jadi saya punya banyak pengalaman negatif dicurigai lah, didiskriminasi.
05:56Tapi saya melawannya bukan dengan sedih atau kecil hati.
06:00Akhirnya saya harus membuktikan bahwa saya ini profesional dan saya melakukan ini yang terbaik gitu ya.
06:06Dan itu memang double burden sih.
06:08Mungkin di tentara tidak mengalami yang itu seperti itu.
06:11Tapi kita mengalami double burden.
06:13Kita harus membuktikan bahwa kita mungkin dua kali lebih baik ya daripada yang bukan minoritas.
06:21Tapi itu adalah role modeling yang perlu dilakukan sih kalau menurut saya.
06:25Tapi IMLEC ini sudah menjadi momentum ya?
06:27Ya IMLEC itu momentum karena sudah banyak yang diterima masyarakat ya.
06:33Bahwa IMLEC ini bagian dari perayaan budaya tapi semua masyarakat berpartisipasi ya.
06:39Betul.
06:40Jadi ya open house di masing-masing keluarga saya sendiri juga mempunyai open house.
06:46Itu banyak sekali teman yang datang dan saya dulu waktu kecil juga senang ke open house karena dapat angpau kan
06:52ya.
06:53Betul.
06:55Inaya bagaimana momentum ini bisa menjadi memperkuat identitas nasional kita?
07:00Ya ini menarik.
07:00Tadi waktu sebentar, waktu Bu Mari bilang, ya kita kan sering dicurigai.
07:05Mukanya ngeliat ke saya.
07:07Bukan apa Bu?
07:08Ya maaf.
07:09Saya gak tahu saya beneran memang keturunan apa enggak.
07:12Tapi yang pasti ini cuma casingnya doang.
07:15Saya gak tahu.
07:16Cik Inayah panggilnya.
07:17Iya.
07:18Cik Inayah.
07:18Betul.
07:19Meme Inayah.
07:19Meme kalau kata Bu Mari saya memenya.
07:24Tapi yang pasti gini, saya mau cerita sedikit mungkin gitu ya.
07:31Yang menarik buat saya itu adalah ketika kita di Agustus kemarin, ketika Indonesia lagi dalam kondisi gak baik-baik aja.
07:40Dan mungkin untuk banyak orang itu menjadi titik, titik bener-bener mungkin apa ya, luapan, vomit gitu ya, kemarahan dan
07:49segala macem.
07:50Satu hal yang membuat saya sangat, apa ya, sangat di tengah kondisi yang mungkin untuk banyak orang gelap gitu ya.
08:01Yang membuat saya sedikit berbesar hati itu adalah banyak sekali teman-teman yang kalau mungkin hari ini kita nyebutnya teman
08:07-teman cindo gitu ya.
08:08Itu yang turun.
08:09Terlibat.
08:10Terlibat.
08:10Mulai dari bikin video, mulai dari betul-betul memberikan informasi, ngomongin apa segala macem dan punya keterlibatan besar dalam konteks
08:22keindonesiaan hari ini gitu.
08:24Jadi saya rasa kalau ditanya gimana kita bisa bikin kemudian Imlek jadi sesuatu yang emang buat kita semua gitu ya.
08:32Ya satu, berhenti untuk berpikir bahwa Imlek itu hanya untuk sekelompok orang.
08:37Tapi memang betul-betul ini bagian dari Indonesia, ini perayaannya Indonesia gitu.
08:42Nah itu satu gitu.
08:43Itu satu yang kedua, betul-betul kita sudah bicara sebagai, ya tadi kalau katanya Bu Mari, bukan label lagi bahwa
08:50saya keturunan apa, keturunan apa gitu.
08:52Saya malah nggak pengen keturunan, saya pengennya kena ikan ya nggak gitu.
08:56Saya keturunan melulu gitu.
08:59Jadi saya rasa itu penting, bicaranya memang dalam konteks Indonesia hari ini gitu.
09:05Iya. Marco, Imlek sebagai momentum untuk memperkuat identitas kita.
09:10Jadi Imlek ini juga ya sebagai momentum kita untuk, kita merayakan Imlek berarti kita juga berbagi kepada, ikut merayakan bersama
09:22yang lain.
09:22Kemudian juga, ini momentum juga kita menunjukkan walaupun kita adalah Indonesia.
09:29Intinya kemudian di Imlek ini pun, kita pun sekarang sudah diakui, sekarang sudah sebagai libur nasional.
09:38Semua ikut merasakan bahagia kalau kita merasakan libur.
09:44Dan kita merayakan dengan sangat gembira karena, bersamaan dengan libur yang kejepit nih besoknya.
09:50Dan kota-kota lain merayakan Imlek loh.
09:53Jadi ada Singkawang, Solo, Semarang, semua juga mempunyai perayaan Imlek.
09:58Dan ada dampak ekonominya, diskon.
10:00Diskon.
10:02Dan membuat kita punya kemampuan untuk festifnya lebih meriah ya.
10:06Mungkin salah satu hal yang bisa kita lakukan juga, untuk yang mendapatkan angpau nih.
10:11Saya tahun ini gak dapet angpau, saya agak langsung.
10:15Karena ini, apa namanya, statusnya berubah.
10:20Mungkin penting untuk misalnya mengingat bahwa, oh angpau ini bukan hanya bisa saya gunakan buat diri saya sendiri loh.
10:26Tapi juga ada saudara-saudara lain yang mungkin lebih membutuhkan.
10:29Itu aja, sesimpel itu aja sebenarnya udah menjadikan, tadi itu Imlek jadi momentum buat semuanya.
10:37Saya undang untuk closing statement masing-masing.
10:40Terkait dengan Imlek, merayakan keindonesiaan kita, dan upaya kita bersama untuk menjaga kekayaan dan kebinikan ini sebagai kekuatan untuk Indonesia.
10:51Gua Mari.
10:52Saya mulai dengan barongsai ya.
10:54Kenapa ada barongsai?
10:56Barongsai itu untuk mengusir roh jahat dan energi negatif.
11:00Tadi kan udah ada barongsai ya.
11:02Akan banyak barongsai.
11:03Jadi kita udah mengusir nih yang negatif dan jahat.
11:06Marilah kita bangun yang positif dan merawat kebersamaan kita.
11:11Dan membangun Indonesia yang benar-benar menghargai keberagaman.
11:17Dan tadi saya setuju bagaimana kita melakukan dalam behavior kita maupun tidak adanya diskriminasi lagi.
11:25Dan perlindungan hukum juga penting ya.
11:28Untuk benar-benar diskriminasi itu tidak ada lagi ruangnya.
11:32Terima kasih Ibu Mari.
11:34Marco.
11:38Saya mengajak Mari kita menjadikan kebinikanan ini sebagai kekuatan bagi Indonesia untuk menuju Indonesia yang maju, Indonesia yang kuat.
11:51Terima kasih Marco.
11:52Inaya.
11:54Setelah 33 tahun ya Imlek itu gak ada gitu.
11:57Dan seorang Abdurrahman Wahid itu dulu kemudian memutuskan untuk Imlek boleh ada gitu ya.
12:05Yang pertanyaannya adalah kemudian kenapa dia melakukan itu gitu.
12:11Dibutuhkan satu orang tadi seorang Abdurrahman Wahid untuk melakukan itu.
12:15Saya tidak sedang ingin mengglorifikasi Abdurrahman Wahid gitu ya.
12:19Apa namanya terlebih karena orang ini suka ngaku-ngaku ayah saya bukan itu.
12:24Tapi poin saya adalah bahwa malah saya pengen bilang itu bukan hadiah.
12:32Itu bukan hadiah dari negara.
12:34Ketika ketiga orang keempat toko tadi kemudian memberikan apa namanya mengembalikan Imlek.
12:40Imlek menghilangkan kata-kata pribumi dan non-pribumi atau kemudian menjadikan Imlek sebagai hari libur dan kemudian menghilangkan surat kewarganegaraan
12:50itu gitu.
12:51Itu bukan hadiah dari negara.
12:52Itu adalah hak yang sudah dimiliki setiap warga Indonesia, warga negara Indonesia.
12:58Setiap orang yang lahir di Indonesia punya hak itu.
13:01Jadi penting untuk hak itu kita sadari bersama, kita perjuangkan bersama untuk yang belum memilih hak.
13:08Terima kasih, Mbak Imlek.
13:12Dari ketiga narasumber tadi kita sudah mendapatkan gagasan pemikiran tentang bagaimana Imlek yang kita rayakan juga sebagai kesempatan untuk merayakan
13:23kebinekaan kita.
13:24Nah, dan dari POV empat orang yang membuat perubahan tadi, dari Presiden Habibi, Presiden Gus Dur, Presiden Megawati, dan Presiden
13:34Susilo Bambang Yudonyo,
13:36memungkinkan apa yang kita lakukan hari ini punya pijakannya kokoh.
13:41Dan tadi yang saya perlu garis bawahi, terakhir dikatakan oleh Mbak Inayah bahwa kita merayakan sesuatu bersama-sama di situasi
13:49yang kurang lebih berhimpitan.
13:51Dan ketika kita memiliki sesuatu secara kecukupan, itulah kesempatan kita untuk bersolidaritas.
13:57Dan kesempatan Imlek, puasa, dan juga perayaan keagamaan lain, itu akan menjadi lebih sempurna ketika kita juga mengingat saudara-saudara
14:08kita yang dalam posisi yang mungkin tidak seberuntung yang kita rasakan saat ini.
14:13Dan kebinekaan kita, persatuan kita akan diperkokoh dengan kemauan kita untuk melakukan solidaritas bersama dalam konteks Indonesia yang bineka.
14:23Terima kasih Ibu Mari Elka Pangestu, Mayor Marco Andersen, dan Mbak Inayah Wahid untuk kesempatannya.
14:32Sampai jumpa di episode Gagas RI selanjutnya.
14:35Saya Wisnu Nugroho, pamit undur diri.
14:37Terima kasih dan selamat malam.
14:42Terima kasih Ibu Mari.
Komentar