Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu tidak menafikan bahwa masih terjadi diskriminasi terhadap warga keturunan Tionghoa meski Imlek telah dirayakan secara terbuka di Indonesia.

Ia menilai hal itu menjadi tantangan yang perlu diatasi.

"Saya rasa walaupun empat orang ini sudah meletakkan dasar dan kita sudah menjalankannya terutama 10 tahun terakhir. Tapi menurut saya masih ada sekat-sekat, masih ada diskriminasi yang terselubung dibanding yang lalu. Ini perlu kita atasi," ujar Mari.

Baca Juga Jadi Pilot TNI AU Keturunan Tionghoa, Marko Andersen: Kebinekaan Bukan Sekadar Slogan | GAGAS RI di https://www.kompas.tv/nasional/651585/jadi-pilot-tni-au-keturunan-tionghoa-marko-andersen-kebinekaan-bukan-sekadar-slogan-gagas-ri

#imlek #tahunbaruimlek #tionghoa

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Vila

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/651586/refleksi-perayaan-imlek-mari-elka-pangestu-masih-ada-diskriminasi-terselubung
Transkrip
00:02Saya akan ke pertanyaan-pertanyaan dari netizen yang sudah dikumpulkan, masing-masing bisa menjawab dan siapa yang akan merepondulan.
00:10Pertanyaan pertama dari Rediantina, apa tantangan yang masih ada dalam merawat kebenekaan di Indonesia hari ini?
00:20Saya rasa walaupun empat orang ini sudah meletakkan dasar dan kita sudah menjalankannya mungkin terutama 10 tahun terakhir sih kerasa
00:30sekali.
00:31Tapi menurut saya masih ada sekat-sekat dan masih ada diskriminasi yang tidak terselubung mungkin ya, lebih terselubung sekarang dibanding
00:43yang lalu.
00:44Dan ini yang perlu kita atasi dan seperti ada persepsi, kalau urusan keuangan itu pasti orang Tionghoa yang harus kerusin.
00:56Jadi kalau di suatu perusahaan itu keuangan, jadi maka itu istilahnya role model itu penting.
01:05Jadi beliau ini saya rasa role model yang bagus gitu ya dalam arti orang Tionghoa itu bisa kontribusi di mana
01:11-mana, bukan hanya untuk keuangan dan usaha.
01:14Dan usaha juga ini juga ada stereotip ya bahwa dunia usaha ini taunya hanya cari uang, tidak memberi balik, tidak
01:26memberi kontribusi balik ya.
01:28Ini juga mungkin salahnya orang pengusaha juga ya. Nah ini juga antara pengusaha saya rasa sudah sangat sadar sekarang bagaimana
01:37kita juga membaur dan menjadi bagian dari kebangsaan kita ya.
01:43Dan di sini mungkin menegaskan kembali kontribusi dari orang Tionghoa di berbagai bidang itu perlu kita terus dorong dan mendorong
01:57juga lebih banyak orang Tionghoa.
01:59Untuk tidak hanya jalurnya itu yang stereotyping, bantu usaha bapaknya atau ibunya ya, tapi juga masuk ke bidang-bidang lain
02:08yang berkontribusi ke bangsa.
02:11Karena saya rasa bukan hanya saya, saya merasa saya ini orang Indonesia.
02:16Saya orang Indonesia yang berketurunan Tionghoa, tapi saya first of all adalah orang Indonesia.
02:23Dan saya bangga jadi orang Indonesia.
02:25Terima kasih Bumari. Marco?
02:28Menurut saya untuk merawat kebinekaan yang penting adalah ketika kita sudah punya fondasi, yang penting adalah konsistensi.
02:36Kita terus menjalankan itu, kita tularkan kepada orang-orang di sekeliling kita, kita tunjukkan juga kita mau berkontribusi, kita mau
02:46terlibat untuk kemajuan, kita mau terlibat dalam berbagai hal untuk kemajuan terutama untuk kemajuan Indonesia.
02:54Tepuk tangan buat Marco.
02:55Mbak Inaya, tantangan yang real, yang mungkin terlihat oleh Mbak Inaya.
03:00Ya kalau yang saya lihat sih ada dua ya.
03:02Yang pertama tentu aja itu adalah sudut pandang yang belum secara menyeluruh memang kemudian menganggap perbedaan gitu sebagai, sebagai satu,
03:12apa ya, satu benefit besar gitu.
03:16Sebagai sesuatu yang memang perlu dirayakan gitu.
03:19Jadi ada banyak sentimen-sentimen negatif yang kemudian memang saya rasa bukan hanya memang dia tumbuh secara organik, tapi juga
03:27kemudian dibudidayakan gitu ya.
03:29Dan digunakan.
03:30Itu satu.
03:31Dan yang kedua, kurangnya pendegakan hukum.
03:35Itu yang jelas.
03:35Yang memang betul-betul fair gitu.
03:38Dan equal.
03:38Itu sih yang saya rasa, andai kata itu bisa berjalan dengan baik gitu ya, tepat, itu akan bikin kita ini
03:48banget.
03:49Thank you Mbak Inaya.
03:50Kita akan ke pertanyaan netizen yang kedua nih, dari John Parlo HTB.
03:57Izin bertanya, ini kayak tentara nih.
04:01Bagaimana caranya agar Imlek dapat menjadi momentum untuk memperkuat identitas nasional Indonesia yang beragam dan multi-kultural?
04:10Itu sebetulnya intensi kita tahun ini dengan Imlek nasional.
04:15Bahwa apalagi dengan momen bahwa ini sama-sama dengan bulan puasa dan lain sebagainya.
04:20Jadi kita merayakan tapi kita juga menghormati bahwa ini juga bulan puasa gitu kan.
04:26Jadi ini dan atribut ataupun penggelaran kultur maupun ekshibisi yang akan dilakukan dalam open museum.
04:34Itu semuanya bercerita mengenai bagaimana akulturasi dari Tionghoa di dalam budaya Indonesia dan gaya hidup Indonesia itu benar-benar sudah
04:44berintegrasi gitu ya.
04:47Jadi ini kan selalu ada perdebatan asimilasi atau integrasi.
04:50Sebenarnya ini integrasi yang terjadi.
04:52Dan ini yang saya rasa dari tahun ke tahun dan mungkin ini pertama kalinya sebelumnya saya juga perlu menggarisbawahi.
05:01Ini Imlek nasional dirayakan oleh semua kelompok yang ada kaitannya dengan Tionghoa.
05:08Islam Tionghoa, Kongucu, Walubi, semuanya bersatu.
05:13Kita akan merayakan bersama-sama.
05:15Dan ini momen yang luar biasa sih.
05:17Karena saya mengalami waktu saya di pemerintahan bagaimana selalu harus melayani kelompok-kelompok yang berbeda.
05:24Nah ini kelompok-kelompok internalnya sudah bersatu.
05:27Nah bersatu ini harus juga bersatu dengan komunitas yang lain.
05:32Dan ini saya rasa salah satu cara untuk juga mengurangi.
05:37Saya juga tadi ingin mengapresiasi apa yang disampaikan Marco.
05:42Bahwa ya kita bergerak sebagai profesional dan melakukan yang terbaik.
05:49Karena kita sering dicurigai ya.
05:50Jadi saya punya banyak pengalaman negatif dicurigai lah, didiskriminasi.
05:56Tapi saya melawannya bukan dengan sedih atau kecil hati.
06:00Akhirnya saya harus membuktikan bahwa saya ini profesional dan saya melakukan ini yang terbaik gitu ya.
06:06Dan itu memang double burden sih.
06:08Mungkin di tentara tidak mengalami yang itu seperti itu.
06:11Tapi kita mengalami double burden.
06:13Kita harus membuktikan bahwa kita mungkin dua kali lebih baik ya daripada yang bukan minoritas.
06:21Tapi itu adalah role modeling yang perlu dilakukan sih kalau menurut saya.
06:25Tapi IMLEC ini sudah menjadi momentum ya?
06:27Ya IMLEC itu momentum karena sudah banyak yang diterima masyarakat ya.
06:33Bahwa IMLEC ini bagian dari perayaan budaya tapi semua masyarakat berpartisipasi ya.
06:39Betul.
06:40Jadi ya open house di masing-masing keluarga saya sendiri juga mempunyai open house.
06:46Itu banyak sekali teman yang datang dan saya dulu waktu kecil juga senang ke open house karena dapat angpau kan
06:52ya.
06:53Betul.
06:55Inaya bagaimana momentum ini bisa menjadi memperkuat identitas nasional kita?
07:00Ya ini menarik.
07:00Tadi waktu sebentar, waktu Bu Mari bilang, ya kita kan sering dicurigai.
07:05Mukanya ngeliat ke saya.
07:07Bukan apa Bu?
07:08Ya maaf.
07:09Saya gak tahu saya beneran memang keturunan apa enggak.
07:12Tapi yang pasti ini cuma casingnya doang.
07:15Saya gak tahu.
07:16Cik Inayah panggilnya.
07:17Iya.
07:18Cik Inayah.
07:18Betul.
07:19Meme Inayah.
07:19Meme kalau kata Bu Mari saya memenya.
07:24Tapi yang pasti gini, saya mau cerita sedikit mungkin gitu ya.
07:31Yang menarik buat saya itu adalah ketika kita di Agustus kemarin, ketika Indonesia lagi dalam kondisi gak baik-baik aja.
07:40Dan mungkin untuk banyak orang itu menjadi titik, titik bener-bener mungkin apa ya, luapan, vomit gitu ya, kemarahan dan
07:49segala macem.
07:50Satu hal yang membuat saya sangat, apa ya, sangat di tengah kondisi yang mungkin untuk banyak orang gelap gitu ya.
08:01Yang membuat saya sedikit berbesar hati itu adalah banyak sekali teman-teman yang kalau mungkin hari ini kita nyebutnya teman
08:07-teman cindo gitu ya.
08:08Itu yang turun.
08:09Terlibat.
08:10Terlibat.
08:10Mulai dari bikin video, mulai dari betul-betul memberikan informasi, ngomongin apa segala macem dan punya keterlibatan besar dalam konteks
08:22keindonesiaan hari ini gitu.
08:24Jadi saya rasa kalau ditanya gimana kita bisa bikin kemudian Imlek jadi sesuatu yang emang buat kita semua gitu ya.
08:32Ya satu, berhenti untuk berpikir bahwa Imlek itu hanya untuk sekelompok orang.
08:37Tapi memang betul-betul ini bagian dari Indonesia, ini perayaannya Indonesia gitu.
08:42Nah itu satu gitu.
08:43Itu satu yang kedua, betul-betul kita sudah bicara sebagai, ya tadi kalau katanya Bu Mari, bukan label lagi bahwa
08:50saya keturunan apa, keturunan apa gitu.
08:52Saya malah nggak pengen keturunan, saya pengennya kena ikan ya nggak gitu.
08:56Saya keturunan melulu gitu.
08:59Jadi saya rasa itu penting, bicaranya memang dalam konteks Indonesia hari ini gitu.
09:05Iya. Marco, Imlek sebagai momentum untuk memperkuat identitas kita.
09:10Jadi Imlek ini juga ya sebagai momentum kita untuk, kita merayakan Imlek berarti kita juga berbagi kepada, ikut merayakan bersama
09:22yang lain.
09:22Kemudian juga, ini momentum juga kita menunjukkan walaupun kita adalah Indonesia.
09:29Intinya kemudian di Imlek ini pun, kita pun sekarang sudah diakui, sekarang sudah sebagai libur nasional.
09:38Semua ikut merasakan bahagia kalau kita merasakan libur.
09:44Dan kita merayakan dengan sangat gembira karena, bersamaan dengan libur yang kejepit nih besoknya.
09:50Dan kota-kota lain merayakan Imlek loh.
09:53Jadi ada Singkawang, Solo, Semarang, semua juga mempunyai perayaan Imlek.
09:58Dan ada dampak ekonominya, diskon.
10:00Diskon.
10:02Dan membuat kita punya kemampuan untuk festifnya lebih meriah ya.
10:06Mungkin salah satu hal yang bisa kita lakukan juga, untuk yang mendapatkan angpau nih.
10:11Saya tahun ini gak dapet angpau, saya agak langsung.
10:15Karena ini, apa namanya, statusnya berubah.
10:20Mungkin penting untuk misalnya mengingat bahwa, oh angpau ini bukan hanya bisa saya gunakan buat diri saya sendiri loh.
10:26Tapi juga ada saudara-saudara lain yang mungkin lebih membutuhkan.
10:29Itu aja, sesimpel itu aja sebenarnya udah menjadikan, tadi itu Imlek jadi momentum buat semuanya.
10:37Saya undang untuk closing statement masing-masing.
10:40Terkait dengan Imlek, merayakan keindonesiaan kita, dan upaya kita bersama untuk menjaga kekayaan dan kebinikan ini sebagai kekuatan untuk Indonesia.
10:51Gua Mari.
10:52Saya mulai dengan barongsai ya.
10:54Kenapa ada barongsai?
10:56Barongsai itu untuk mengusir roh jahat dan energi negatif.
11:00Tadi kan udah ada barongsai ya.
11:02Akan banyak barongsai.
11:03Jadi kita udah mengusir nih yang negatif dan jahat.
11:06Marilah kita bangun yang positif dan merawat kebersamaan kita.
11:11Dan membangun Indonesia yang benar-benar menghargai keberagaman.
11:17Dan tadi saya setuju bagaimana kita melakukan dalam behavior kita maupun tidak adanya diskriminasi lagi.
11:25Dan perlindungan hukum juga penting ya.
11:28Untuk benar-benar diskriminasi itu tidak ada lagi ruangnya.
11:32Terima kasih Ibu Mari.
11:34Marco.
11:38Saya mengajak Mari kita menjadikan kebinikanan ini sebagai kekuatan bagi Indonesia untuk menuju Indonesia yang maju, Indonesia yang kuat.
11:51Terima kasih Marco.
11:52Inaya.
11:54Setelah 33 tahun ya Imlek itu gak ada gitu.
11:57Dan seorang Abdurrahman Wahid itu dulu kemudian memutuskan untuk Imlek boleh ada gitu ya.
12:05Yang pertanyaannya adalah kemudian kenapa dia melakukan itu gitu.
12:11Dibutuhkan satu orang tadi seorang Abdurrahman Wahid untuk melakukan itu.
12:15Saya tidak sedang ingin mengglorifikasi Abdurrahman Wahid gitu ya.
12:19Apa namanya terlebih karena orang ini suka ngaku-ngaku ayah saya bukan itu.
12:24Tapi poin saya adalah bahwa malah saya pengen bilang itu bukan hadiah.
12:32Itu bukan hadiah dari negara.
12:34Ketika ketiga orang keempat toko tadi kemudian memberikan apa namanya mengembalikan Imlek.
12:40Imlek menghilangkan kata-kata pribumi dan non-pribumi atau kemudian menjadikan Imlek sebagai hari libur dan kemudian menghilangkan surat kewarganegaraan
12:50itu gitu.
12:51Itu bukan hadiah dari negara.
12:52Itu adalah hak yang sudah dimiliki setiap warga Indonesia, warga negara Indonesia.
12:58Setiap orang yang lahir di Indonesia punya hak itu.
13:01Jadi penting untuk hak itu kita sadari bersama, kita perjuangkan bersama untuk yang belum memilih hak.
13:08Terima kasih, Mbak Imlek.
13:12Dari ketiga narasumber tadi kita sudah mendapatkan gagasan pemikiran tentang bagaimana Imlek yang kita rayakan juga sebagai kesempatan untuk merayakan
13:23kebinekaan kita.
13:24Nah, dan dari POV empat orang yang membuat perubahan tadi, dari Presiden Habibi, Presiden Gus Dur, Presiden Megawati, dan Presiden
13:34Susilo Bambang Yudonyo,
13:36memungkinkan apa yang kita lakukan hari ini punya pijakannya kokoh.
13:41Dan tadi yang saya perlu garis bawahi, terakhir dikatakan oleh Mbak Inayah bahwa kita merayakan sesuatu bersama-sama di situasi
13:49yang kurang lebih berhimpitan.
13:51Dan ketika kita memiliki sesuatu secara kecukupan, itulah kesempatan kita untuk bersolidaritas.
13:57Dan kesempatan Imlek, puasa, dan juga perayaan keagamaan lain, itu akan menjadi lebih sempurna ketika kita juga mengingat saudara-saudara
14:08kita yang dalam posisi yang mungkin tidak seberuntung yang kita rasakan saat ini.
14:13Dan kebinekaan kita, persatuan kita akan diperkokoh dengan kemauan kita untuk melakukan solidaritas bersama dalam konteks Indonesia yang bineka.
14:23Terima kasih Ibu Mari Elka Pangestu, Mayor Marco Andersen, dan Mbak Inayah Wahid untuk kesempatannya.
14:32Sampai jumpa di episode Gagas RI selanjutnya.
14:35Saya Wisnu Nugroho, pamit undur diri.
14:37Terima kasih dan selamat malam.
14:42Terima kasih Ibu Mari.
Komentar

Dianjurkan