00:02Bapak, Ibu, serta para wisodawan dan wisodawati yang saya banggakan,
00:08saya selain perjuangan wisodawan-wisodawati,
00:13ada orang tua yang konsisten mendidik tanpa pamrih,
00:18tentu ada juga dosen yang membentuk disiplin, berpikir, dan karakter.
00:22Jadi, hari ini saya juga berdiri di sini dalam dua posisi.
00:33Saya sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia
00:35dan sebagai seorang ayah yang anaknya ikut di wisodawati di ruangan hari ini.
00:47Sebenarnya, Pak Rektor, saya ke sini agak takut.
00:53Karena pada waktu saya jadi Menteri, hari pertama,
00:57BEM UI demo depan DPR suruh saya turun.
01:02Di sini mana yang demo?
01:04Ada nggak? Nggak ada ya?
01:07Yang mereka nggak tahu, saya juga pernah dosen di UI.
01:13Jadi kalau Anda ngajak debat saya, Anda pasti kalah.
01:18Saya dosen S3 Economic Business.
01:21Anda kan masih mahasiswa pada waktu kemarin.
01:25Yang kedua, hubungan saya dengan UI cukup dalam.
01:31Waktu saya jadi Ketua Lembaga Penjamin Simpanan,
01:34saya mengalukan sendara cukup untuk membantu program di Fakultas Teknik UI
01:41yang berkerjasama dengan Fakultas Teknik di Berkeley.
01:46Jadi kita kirim setiap tahun tiga orang UI ke Berkeley.
01:51Dan mereka mendapat apresi yang tinggi di Berkeley.
01:56Ini sebenarnya sudah gelombang kedua atau ketiga mungkin kita kirim ke Berkeley.
02:01Tapi kan sekarang saya bukan di LPS lagi, bukan Lembaga Penjamin Simpanan.
02:06Saya pindah jadi Menteri Keuangan.
02:09Saya pikir uang saya sedikit, tapi ternyata uang saya lebih banyak lagi.
02:16Saya boleh dibilang menguasai LPDP yang sekarang punya 150 triliun rupiah dana abadi
02:25untuk dipakai untuk program pendidikan.
02:32UI kan sekarang satu-satunya penipunitas yang rangkingnya di bawah 200 kan.
02:39Presiden minta UI meningkatkan ke bawah 100 kalau tidak salah.
02:45Dalam waktu berapa tahun?
02:47Secepat-cepatnya ya?
02:54Jadi, sebagai Menteri Keuangan, saya pakai alasan itu untuk kembali membantu Universitas Indonesia.
03:07Kalau tadi Anda lihat dana abadi, ternyata baru 260 miliar ya Pak ya.
03:13Masih kecil.
03:15Kecil-kecil ya.
03:18Untuk tahun ini, lewat LPDP, kita berencana, boleh gak ngomongin?
03:22Boleh kan ya.
03:23Biasanya Menteri Keuangan ini.
03:25Anak buah saya gak bisa marah sama saya.
03:28LPDP dibahas saya, kalau dia ribut, saya ganti dia kepalanya.
03:33Tahun ini, kita rencanakan memberikan bantuan kepada Fakultas Teknik ya itu.
03:39Apa UI semua?
03:40Fakultas Teknik itu sekitar 100 miliar rupiah.
03:49Jadi, nanti BEM, jangan protes lagi.
03:52Dan sekarang di titik ini, ada satu pertanyaan yang mesti kita hadapi bersama.
03:58Anda mau jadi apa?
04:02Bagi sistem yang lebih besar, yaitu NKRI.
04:08Kalau jadi mahasiswa, gampang.
04:10Kalau ada protes, ada ketimpangan, turun ke jalan, ribut, protes, selesai.
04:14Sekarang, Anda gak bisa melakukan itu lagi.
04:17Anda sebentar lagi adalah pelaku yang menentukan arah ekonomi ke depan, arah bangsa ke depan.
04:23Dan nanti Anda yang akan diprotes oleh BEM-BEM di bawah Anda.
04:30Jadi, kalau Anda cerdas, ajarin mereka.
04:32Ke depan jangan banyak protes.
04:33Belajar aja, gitu.
04:35Supaya Anda nanti gak diprotes.
04:38Bapak, Ibu yang berbahagia.
04:42Saya dididik sebagai insinyur lulusan teknik elektro dari Institut Teknologi Bandung.
04:48Di sini elektro mana?
04:50Oh, gak ada elektro ya?
04:52Ada.
04:53Oh, cuma sedikit.
04:55Rupanya fakultas minoritas.
04:59Waktu itu saya belajar tentang arus, tegangan, sistem kontrol, dan stabilitas.
05:06Setelah lulus, saya bekerja sebagai field engineer offshore.
05:10Di onshore juga, di selam bersih.
05:13Lingkungannya keras, keputusan harus cepat, dan konsekuensinya nyata.
05:19Jadi di lapangan itu, keputusan cepat.
05:22Kalau kita salah ambil keputusan, kita bisa mati.
05:26Jadi ancamannya betul-betul nyata.
05:29Saya kerja di sana lima tahun dengan ancaman yang seperti itu.
05:32Maka ketika ancaman dari BMI suruh mundur, ya gampang.
05:35Paling mundur.
05:36Kecil itu.
05:37Tapi kita pastikan, kita menjalankan apa yang diminta oleh masyarakat kita.
05:47Di lapangan tersebut, saya belajar satu prinsip yang sangat sederhana, tapi fundamental, yaitu sistem secara keseluruhan.
05:56Seorang hinur tidak boleh melihat satu kabel saja.
06:00Dia harus melihat seluruh rangkaian.
06:03Kalau satu komponen gagal, efeknya menjalar, dan tidak berhenti di satu titik saja.
06:09Jadi ketika saya memutuskan pindah bidang dan mengambil MSI setiap PhD di bidang ekonomi, banyak yang bertanya, kenapa?
06:17Jawaban saya sederhana, saya ingin memahami sistem yang lebih besar.
06:25Itu jawaban kalau akademis, seperti itu.
06:29Jawaban yang sebenarnya sih, saya disuruh pacar saya dulu.
06:32Kalau saya tidak ambil PSD, dia tidak mau kawin sama saya.
06:37Jadi kepaksa lah.
06:39Tapi tidak apa-apa, kita nikmati kepaksaan yang ada.
06:44Ekonomi negara juga suatu sistem.
06:47Fiskal adalah arusnya, moneter adalah pengatur tekanannya.
06:52Sektor real adalah bebannya.
06:55Kalau salah satu tidak seimbang, sistem akan bergetar.
06:59Dan getaran itu dirasakan masyarakat.
07:03Cara berpikir teknik itu yang saya bawa ke kebijakan fiskal.
07:08Sebetulnya, ini yang nulis staff saya, Pak Mungkinda S.O. 4.
07:12Jadi dia bilang, dia tidak mengerti ekonomi.
07:14Jadi saya berpikir yang holistik, itu katanya dari teknik.
07:20Padahal tidak betul.
07:22Yang fakultasi ekonomi mana di sini?
07:25Oh sedikit semua ya?
07:27Di ekonomi, kalau ada cara berpikir yang menyeluruh disebutnya apa?
07:35Pendekatan apa?
07:38Tidak ada yang bisa?
07:40Anda mungkin baru belajar ilmu ekonomi sepotong-sepotong.
07:45Itu kita bilang partial equilibrium approach.
07:49Tapi kalau Anda sudah jadi pengambil keputusan nanti,
07:53Anda harus mengambil approach secara general equilibrium.
07:59Di mana semuanya dihitung.
08:04Kejutan satu titik akan mempengarik tempat lain.
08:07Itu harus Anda hitung terus-menerus.
08:10Jadi mungkin sekarang Anda belum cukup karena baru S1.
08:15Jadi yang mau belajar, belajar terus dan lamit terus untuk memahami hal itu.
08:18Indonesia masih membutuhkan orang-orang pintar lebih banyak lagi.
08:24Terima kasih telah menonton!
Komentar