Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kasus anak mengakhiri hidup di Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi potret kelam kondisi perlindungan anak di Indonesia.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 20222027, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan tragedi ini bukanlah kasus pertama.

Berdasarkan data KPAI, Indonesia bahkan disebut menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara dalam kasus anak yang mengakhiri hidupnya.

Margaret menyebut fakta ini sebagai alarm keras bagi seluruh elemen bangsa. Menurutnya, ada sejumlah faktor utama yang berulang kali muncul dalam kasus-kasus serupa.

"Faktor penyebabnya macam-macam. Di antaranya bullying, pengasuhan, faktor ekonomi, dan juga persoalan asmara," jelasnya.

Dari berbagai faktor tersebut, bullying menjadi perhatian serius KPAI. Dalam kondisi tertentu, tekanan dan perundungan yang terus-menerus dapat mendorong anak pada dorongan ekstrem, termasuk keinginan untuk membalas dendam atau membuktikan diri.

Ia menyinggung kasus kekerasan di lingkungan sekolah yang sempat terjadi, di mana pelaku terdorong untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak selemah yang selama ini dicap oleh lingkungan sekitarnya.

Selain bullying, Margaret menegaskan pengasuhan memegang peran paling krusial dalam kehidupan anak. Keluarga disebut sebagai sistem pendukung utama yang menentukan bagaimana anak menghadapi tekanan hidup.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U

**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.

#siswa #alissawahid #kpai

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/648882/kpai-indonesia-peringkat-pertama-kasus-anak-akhiri-hidup-di-asia-tenggara-rosi
Komentar

Dianjurkan