Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Istana menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi kasus anak SD diduga bunuh diri di NTT.

Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Istana menyebut bahwa kasus ini jadi atensi Presiden.

Pemerintah akan mengevaluasi untuk mengantisipasi agar tak terjadi kejadian serupa.

Namun pihak Istana menunggu hasil penyelidikan polisi untuk mengetahui penyebab bunuh diri siswa SD di Ngada.

Kasus siswa SD NTT bukan hanya duka bagi keluarga korban, tapi juga alarm keras bagi kita semua tentang kondisi perlindungan anak.

Kita bahas selengkapnya bersama Komisioner KPAI, Diyah Puspita Rini.

Baca Juga Pilu! Deretan Fakta Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup Gegara Tak Mampu Beli Alat Tulis Rp10 Ribu di https://www.kompas.tv/regional/648840/pilu-deretan-fakta-siswa-sd-di-ngada-akhiri-hidup-gegara-tak-mampu-beli-alat-tulis-rp10-ribu

#anak #ntt #bunuhdiri #kpai

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/648858/miris-kpai-ungkap-kasus-anak-akhiri-hidup-di-ngada-bukan-pertama-kali-ini-penyebabnya-sapa-malam
Transkrip
00:00Intro
00:00Saudara istana menyampaikan keprihatinan mendalam
00:06atas tragedi kasus anak sekolah dasar diduga bunuh diri di NTT
00:11melalui Menteri Sekretaris Negara Presidio Hadi.
00:14Istana menyebut kasus ini jadi atensi presiden.
00:21Pemerintah akan mengevaluasi, mengantisipasi agar tak terjadi kejadian serupa.
00:26Namun pihak istana menunggu hasil penyelidikan polisi
00:29mengetahui penyebab bunuh diri siswa sekolah dasar di Ngada.
00:37Kita sangat prihatin dengan adanya kejadian yang menimpa adik kita
00:42yang sudah barang tentu kita tidak menghendaki.
00:47Maka sebagai sebuah tanggung jawab, kita sebagai pemerintah, sebagai bangsa,
00:52mari kita menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan pembelajaran
00:57yang sangat keras kepada kita untuk ke depan memastikan hal-hal seperti ini
01:05tidak terjadi kembali.
01:08Tidak kalah pentingnya juga, ini juga alarm, warning buat kita untuk
01:14sekali lagi mari kita menumbuhkan rasa kepedulian sosial di antara kita semua.
01:19Mungkin program kepedulian itu bisa diwujudkan dalam bentuk misalnya orang tua angka
01:27atau ada keluarga yang lebih mampu untuk memperhatikan keluarga yang kurang mampu
01:34dan seterusnya dan seterusnya.
01:36Tentu kasus siswa sekolah dasar di Ngada NTT bukan hanya duka bagi keluarga korban
01:43tapi juga alarm keras bagi kita semuanya tentang kondisi perlindungan anak.
01:50Selengkapnya saudara, kita akan sapa malam hari ini dengan komisioner KPAI
01:58ada Ibu Dia Puspitarini, selamat malam Bu Dia.
02:03Selamat malam Mbak Udri.
02:04Bu Dia ini kan kasus siswa SD di NTT tentu bukan hanya duka bagi keluarga korban
02:11tetapi juga alarm keras bagi kita semuanya tentang kondisi perlindungan anak.
02:15Nah belajar dari kasus yang baru saja terjadi, apa kira-kira menurut Bu Dia
02:21faktor yang lebih dominan membuat anak kemudian berbuat keputusan yang tidak selazimnya?
02:29Apakah murni karena faktor keluarga, ada faktor sosial, atau kegagalan dalam sistem perlindungan anak?
02:37Oke, baik terima kasih Mbak Udri.
02:39Yang pertama kita harus mendudukkan persoalan ini kembali kepada Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 20
02:46dimana setiap kasus perlindungan anak itu siapa yang bertanggung jawab?
02:51Yang pertama adalah anak sendiri, tetapi kita lihat ya kalau anak masih SD
02:56tentu saja dia belum bisa berpikir dengan sengah jernih, berbeda dengan anak usia 15 tahun begitu ya.
03:02Kemudian yang kedua adalah keluarga, keluarga itu orang tua, keluarga itu juga bertanggung jawab.
03:09Yang ketiga adalah masyarakat, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan juga.
03:14Nah kemudian yang keempat adalah negara, negara pemerintah daerah, pemerintah pusat.
03:19Jadi kalau kita melihat dari sini saja, siapa yang paling bertanggung jawab?
03:25Ya semuanya bertanggung jawab.
03:27Dan ingat Mbak, kalau kasus perlindungan anak, perlindungan khusus pada anak, terutama di dalam kasus anak mengakhiri hidup,
03:35itu motifnya tidak bisa berdiri sendiri.
03:37Artinya selama ini ketika kami menangani kasus, menampingi kasus seperti ini sejak 2023,
03:44itu ada banyak kompleksitas persoalan yang pada akhirnya anak menjadi memutuskan untuk mengakhiri hidup.
03:53Data di KPAI Mbak, faktor yang mempengaruhi anak mengakhiri hidup itu yang pertama adalah bullying.
03:59Ini faktor yang terbesar.
04:01Kemudian yang kedua adalah pengasuhan dalam keluarga.
04:06Jadi kalau kita melihat di kasus ini kan memang anak tidak hidup dengan orang tua,
04:10kemudian orang tua juga tidak lengkap.
04:14Itu sebenarnya sudah kerentanan ya.
04:16Kemudian yang ketiga adalah ekonomi.
04:19Betul Mbak, ada faktor ekonomi yang mengakibatkan anak mengakhiri hidup.
04:24Tidak hanya di Ngada.
04:25Ini di Ngada ini juga salah satunya.
04:27Kemudian yang keempat adalah game online.
04:30Dan yang kelima adalah faktor asmara atau percintaan anak-anak.
04:33Itu juga ada faktornya.
04:36Apa yang kira-kira membuat Mbak, tadi kan ada beberapa faktor gitu ya,
04:40tapi kemudian ketika anak memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri,
04:47ini apa yang dibendak anak itu kira-kira Bu Dia?
04:52Ya, jadi...
04:53Kenapa ada optik itu Bu gitu?
04:55Ya, ini mohon maaf saya luruskan ya Mbak.
04:58Kalau untuk mengakhiri hidup pada orang dewasa itu pilihan.
05:02Tetapi kalau pada anak itu keputusan.
05:04Karena anak tidak punya pilihan.
05:06Namanya anak-anak dia tidak mempunyai choice life yang lebih gitu ya.
05:11Jadi dia hanya taunya ya sudah mungkin ini cara mengakhiri hidup.
05:14Nah, kemudian kenapa sampai anak memutuskan demikian?
05:19Ya, saya yakin ini kompleksitas persoalan yang kemudian anak mengalami kebingungan.
05:25Dia mau menyalurkan ke siapa, dia mau ngomong ke siapa, dia merasa sedih,
05:29mungkin juga dia merasa terpojokkan, sehingga pada akhirnya dia memutuskan demikian.
05:34Nah, faktor yang lain, mohon maaf, mungkin ini perlu kita perdalam lagi,
05:37adalah socioculture di sana itu seperti apa?
05:41Kenapa? Dalam catatan kami, di Ngada ini bukan kejadian pertama,
05:46anak pengakhiri hidup Mbak.
05:48Oke, jadi artinya temuan dari KPI ada juga anak-anak atau siswa di Ngada?
05:53Di Ngada juga?
05:54Di Ngada, tahun yang lalu ada Mbak.
05:56Apa temuannya?
05:59Ya, memang ada, kalau yang tahun yang lalu itu, mohon maaf,
06:04lebih ke pelecehan seksual, yang pada akhirnya memang keluarga,
06:08ini dari keluarga miskin juga Mbak, dari keluarga miskin juga.
06:11Ya, pada akhirnya terus dia mengakhiri hidup dengan membakar diri.
06:15Ya, nah kemudian di tahun ini kejadian lagi, begitu ya, di Ngada.
06:20Nah, kalau melihat ini, makanya tadi saya sampaikan,
06:22socioculture masyarakat di sekitar itu bagaimana?
06:25Itu yang ingin sebenarnya saya highlight juga, gitu loh.
06:29Setelah kami dalami lagi, oh ternyata ini kejadian ada.
06:32Bahkan di tahun 2023 juga ada Mbak, juga ada.
06:36Oke.
06:36Nah, sehingga kalau tiap tahun ada, ini kan ada persoalan.
06:40Ada pertanyaan kenapa ya, mengapa gitu ya?
06:43Ya, mohon maaf, mohon maaf sekali ini harus kami sampaikan.
06:47Data di KPI, kami gitu ya, itu dua provinsi dengan anak mengakhiri hidup tertinggi,
06:55salah satu, yang paling tinggi adalah di NTT, kemudian yang kedua di Bali Mbak.
06:58Oke.
07:00Nah, ini mungkin yang harus menjadi catatan kita, jangan sampai kejadian berulang,
07:06dan kalau di NTT memang faktor ekonomi itu sangat kuat ya Mbak,
07:10dari keluarga yang, apa, dari keluarga garis kemiskinan yang ekstrim dan lain sebagainya,
07:17itu memang menjadi salah satu catatan tersendiri untuk kita.
07:19Nah, kalau tadi tercatat masuk dalam garis kemiskinan ekstrim,
07:24sehingga tadi kejadiannya mungkin dengan kasus atau latar belakangnya berbeda,
07:29tetapi kemudian untuk memilih keputusan yang berat itu dilakukan di Ngada,
07:33dan tadi sudah ada track recordnya atau rekam jejaknya ya, Budia ya.
07:38Apakah hal ini kemudian sudah pernah disampaikan oleh pemerintah kabupaten,
07:43pemerintah provinsi mengenai apa yang terjadi?
07:46Sudah Mbak, tahun yang lalu itu kami kes konferensi kasus ya,
07:49bahkan kami mengundang dari PORES juga,
07:52dari unsur pemerintah daerah, organisasi pemerintah daerah,
07:57lintas organisasi pemerintah daerah sudah,
07:59dan bahkan ya ternyata terjadi lagi ya.
08:04Begitu.
08:05Nah, kemudian kami juga expose ya,
08:08anak mengakhiri hidup ini di akhir tahun kemarin di dalam RAKORNAS KPAI
08:14bahwa kita tidak boleh menyepelekan,
08:16ini alarm yang kuat,
08:17dan kita tidak melihat dari jumlah angka,
08:21ya jumlah angka.
08:21Kita melihat ini satu anak itu masa depan bangsa loh,
08:25gitu ya.
08:25Jadi tidak bisa disamakan dengan jumlah angka,
08:28tetapi walaupun ada data angka,
08:30tetapi kita melihat lebih jauh bahwa ini adalah generasi bangsa
08:33yang meninggal dengan memutuskan untuk mengakhiri hidup
08:37dengan cara yang tragis gitu.
08:40Budia, saya belum pernah ke Ngada,
08:41tapi kalau kita lihat apa yang terjadi pada saat baru-baru ini,
08:45ini nampaknya antara satu rumah berjauhan ya dengan tetangga lainnya,
08:49tidak berdekatan begitu hidup,
08:51tidak saling berdekatan antara satu rumah dengan rumah lainnya.
08:55Apakah kemudian ketika tadi sudah berbicara dengan pemerintah daerah,
09:00apakah ini juga kemudian ketika anak-anak mungkin merasa cemas,
09:04merasa bingung, mau cerita, mau curhat ke siapa,
09:07begitu buntu,
09:08apakah karena faktor juga untuk mereka curhat tidak bisa,
09:12bingung mau kemana, ini yang juga akhirnya jadi pasrah anak-anak ini di sana.
09:19That's right, betul mbak.
09:21Begitu kira-kira ya.
09:22Jadi kalau kemarin kami konfirmasi ketika case conference untuk yang kasus ini,
09:27yang terakhir ini, sebelum dulu kan juga udah pernah,
09:30tapi yang ini juga kami case conference kemarin,
09:33itu memang salah satunya kultur masyarakat di Ngada kan memang berbeda.
09:40Begitu ya, memang daerahnya agak berjauhan dan lain sebagainya.
09:45Nah artinya ini kan PR dari pemerintah, PR untuk pemerintah daerah mendatang,
09:50ya kerentanan warga.
09:52Itu yang sekali lagi kami sampaikan.
09:55Kerentanan itu, keluarga yang rentan seperti apa?
09:58Lansia, kemudian dari keluarga yang tidak lengkap,
10:02single parent, kemudian miskin dan lain sebagainya.
10:05Kemudian di sekolah kami juga minta, mbak.
10:07Di sekolah itu kami minta, sekolah juga menyisir, memetakan kondisi anak.
10:13Karena itu juga nanti berkaitan dengan pendekatan yang dilakukan oleh sekolah.
10:17Tentunya anak yang satu dengan anak yang lain berbeda.
10:19Itu sudah kami sampaikan.
10:21Jadi artinya pemetaan anak maupun klasifikasi keluarga,
10:25terutama di Ngada ini perlu sekali.
10:26Karena kalau misalnya ada masalah kesehatan jiwa,
10:30begitu ya, maksudnya dalam arti mau curhat begitu ini susah ya untuk mendapatkan layanan.
10:35Seperti itu ya di sana.
10:36Jadi harus jemput bola.
10:38Betul.
10:38Terima kasih Komisioner KPAI, Ibu Dia, selamat malam.
10:41Terima kasih.
10:42Terima kasih Mbak Audrey.
10:43Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan