00:00Intro
00:00Saudara istana menyampaikan keprihatinan mendalam
00:06atas tragedi kasus anak sekolah dasar diduga bunuh diri di NTT
00:11melalui Menteri Sekretaris Negara Presidio Hadi.
00:14Istana menyebut kasus ini jadi atensi presiden.
00:21Pemerintah akan mengevaluasi, mengantisipasi agar tak terjadi kejadian serupa.
00:26Namun pihak istana menunggu hasil penyelidikan polisi
00:29mengetahui penyebab bunuh diri siswa sekolah dasar di Ngada.
00:37Kita sangat prihatin dengan adanya kejadian yang menimpa adik kita
00:42yang sudah barang tentu kita tidak menghendaki.
00:47Maka sebagai sebuah tanggung jawab, kita sebagai pemerintah, sebagai bangsa,
00:52mari kita menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan pembelajaran
00:57yang sangat keras kepada kita untuk ke depan memastikan hal-hal seperti ini
01:05tidak terjadi kembali.
01:08Tidak kalah pentingnya juga, ini juga alarm, warning buat kita untuk
01:14sekali lagi mari kita menumbuhkan rasa kepedulian sosial di antara kita semua.
01:19Mungkin program kepedulian itu bisa diwujudkan dalam bentuk misalnya orang tua angka
01:27atau ada keluarga yang lebih mampu untuk memperhatikan keluarga yang kurang mampu
01:34dan seterusnya dan seterusnya.
01:36Tentu kasus siswa sekolah dasar di Ngada NTT bukan hanya duka bagi keluarga korban
01:43tapi juga alarm keras bagi kita semuanya tentang kondisi perlindungan anak.
01:50Selengkapnya saudara, kita akan sapa malam hari ini dengan komisioner KPAI
01:58ada Ibu Dia Puspitarini, selamat malam Bu Dia.
02:03Selamat malam Mbak Udri.
02:04Bu Dia ini kan kasus siswa SD di NTT tentu bukan hanya duka bagi keluarga korban
02:11tetapi juga alarm keras bagi kita semuanya tentang kondisi perlindungan anak.
02:15Nah belajar dari kasus yang baru saja terjadi, apa kira-kira menurut Bu Dia
02:21faktor yang lebih dominan membuat anak kemudian berbuat keputusan yang tidak selazimnya?
02:29Apakah murni karena faktor keluarga, ada faktor sosial, atau kegagalan dalam sistem perlindungan anak?
02:37Oke, baik terima kasih Mbak Udri.
02:39Yang pertama kita harus mendudukkan persoalan ini kembali kepada Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 20
02:46dimana setiap kasus perlindungan anak itu siapa yang bertanggung jawab?
02:51Yang pertama adalah anak sendiri, tetapi kita lihat ya kalau anak masih SD
02:56tentu saja dia belum bisa berpikir dengan sengah jernih, berbeda dengan anak usia 15 tahun begitu ya.
03:02Kemudian yang kedua adalah keluarga, keluarga itu orang tua, keluarga itu juga bertanggung jawab.
03:09Yang ketiga adalah masyarakat, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan juga.
03:14Nah kemudian yang keempat adalah negara, negara pemerintah daerah, pemerintah pusat.
03:19Jadi kalau kita melihat dari sini saja, siapa yang paling bertanggung jawab?
03:25Ya semuanya bertanggung jawab.
03:27Dan ingat Mbak, kalau kasus perlindungan anak, perlindungan khusus pada anak, terutama di dalam kasus anak mengakhiri hidup,
03:35itu motifnya tidak bisa berdiri sendiri.
03:37Artinya selama ini ketika kami menangani kasus, menampingi kasus seperti ini sejak 2023,
03:44itu ada banyak kompleksitas persoalan yang pada akhirnya anak menjadi memutuskan untuk mengakhiri hidup.
03:53Data di KPAI Mbak, faktor yang mempengaruhi anak mengakhiri hidup itu yang pertama adalah bullying.
03:59Ini faktor yang terbesar.
04:01Kemudian yang kedua adalah pengasuhan dalam keluarga.
04:06Jadi kalau kita melihat di kasus ini kan memang anak tidak hidup dengan orang tua,
04:10kemudian orang tua juga tidak lengkap.
04:14Itu sebenarnya sudah kerentanan ya.
04:16Kemudian yang ketiga adalah ekonomi.
04:19Betul Mbak, ada faktor ekonomi yang mengakibatkan anak mengakhiri hidup.
04:24Tidak hanya di Ngada.
04:25Ini di Ngada ini juga salah satunya.
04:27Kemudian yang keempat adalah game online.
04:30Dan yang kelima adalah faktor asmara atau percintaan anak-anak.
04:33Itu juga ada faktornya.
04:36Apa yang kira-kira membuat Mbak, tadi kan ada beberapa faktor gitu ya,
04:40tapi kemudian ketika anak memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri,
04:47ini apa yang dibendak anak itu kira-kira Bu Dia?
04:52Ya, jadi...
04:53Kenapa ada optik itu Bu gitu?
04:55Ya, ini mohon maaf saya luruskan ya Mbak.
04:58Kalau untuk mengakhiri hidup pada orang dewasa itu pilihan.
05:02Tetapi kalau pada anak itu keputusan.
05:04Karena anak tidak punya pilihan.
05:06Namanya anak-anak dia tidak mempunyai choice life yang lebih gitu ya.
05:11Jadi dia hanya taunya ya sudah mungkin ini cara mengakhiri hidup.
05:14Nah, kemudian kenapa sampai anak memutuskan demikian?
05:19Ya, saya yakin ini kompleksitas persoalan yang kemudian anak mengalami kebingungan.
05:25Dia mau menyalurkan ke siapa, dia mau ngomong ke siapa, dia merasa sedih,
05:29mungkin juga dia merasa terpojokkan, sehingga pada akhirnya dia memutuskan demikian.
05:34Nah, faktor yang lain, mohon maaf, mungkin ini perlu kita perdalam lagi,
05:37adalah socioculture di sana itu seperti apa?
05:41Kenapa? Dalam catatan kami, di Ngada ini bukan kejadian pertama,
05:46anak pengakhiri hidup Mbak.
05:48Oke, jadi artinya temuan dari KPI ada juga anak-anak atau siswa di Ngada?
05:53Di Ngada juga?
05:54Di Ngada, tahun yang lalu ada Mbak.
05:56Apa temuannya?
05:59Ya, memang ada, kalau yang tahun yang lalu itu, mohon maaf,
06:04lebih ke pelecehan seksual, yang pada akhirnya memang keluarga,
06:08ini dari keluarga miskin juga Mbak, dari keluarga miskin juga.
06:11Ya, pada akhirnya terus dia mengakhiri hidup dengan membakar diri.
06:15Ya, nah kemudian di tahun ini kejadian lagi, begitu ya, di Ngada.
06:20Nah, kalau melihat ini, makanya tadi saya sampaikan,
06:22socioculture masyarakat di sekitar itu bagaimana?
06:25Itu yang ingin sebenarnya saya highlight juga, gitu loh.
06:29Setelah kami dalami lagi, oh ternyata ini kejadian ada.
06:32Bahkan di tahun 2023 juga ada Mbak, juga ada.
06:36Oke.
06:36Nah, sehingga kalau tiap tahun ada, ini kan ada persoalan.
06:40Ada pertanyaan kenapa ya, mengapa gitu ya?
06:43Ya, mohon maaf, mohon maaf sekali ini harus kami sampaikan.
06:47Data di KPI, kami gitu ya, itu dua provinsi dengan anak mengakhiri hidup tertinggi,
06:55salah satu, yang paling tinggi adalah di NTT, kemudian yang kedua di Bali Mbak.
06:58Oke.
07:00Nah, ini mungkin yang harus menjadi catatan kita, jangan sampai kejadian berulang,
07:06dan kalau di NTT memang faktor ekonomi itu sangat kuat ya Mbak,
07:10dari keluarga yang, apa, dari keluarga garis kemiskinan yang ekstrim dan lain sebagainya,
07:17itu memang menjadi salah satu catatan tersendiri untuk kita.
07:19Nah, kalau tadi tercatat masuk dalam garis kemiskinan ekstrim,
07:24sehingga tadi kejadiannya mungkin dengan kasus atau latar belakangnya berbeda,
07:29tetapi kemudian untuk memilih keputusan yang berat itu dilakukan di Ngada,
07:33dan tadi sudah ada track recordnya atau rekam jejaknya ya, Budia ya.
07:38Apakah hal ini kemudian sudah pernah disampaikan oleh pemerintah kabupaten,
07:43pemerintah provinsi mengenai apa yang terjadi?
07:46Sudah Mbak, tahun yang lalu itu kami kes konferensi kasus ya,
07:49bahkan kami mengundang dari PORES juga,
07:52dari unsur pemerintah daerah, organisasi pemerintah daerah,
07:57lintas organisasi pemerintah daerah sudah,
07:59dan bahkan ya ternyata terjadi lagi ya.
08:04Begitu.
08:05Nah, kemudian kami juga expose ya,
08:08anak mengakhiri hidup ini di akhir tahun kemarin di dalam RAKORNAS KPAI
08:14bahwa kita tidak boleh menyepelekan,
08:16ini alarm yang kuat,
08:17dan kita tidak melihat dari jumlah angka,
08:21ya jumlah angka.
08:21Kita melihat ini satu anak itu masa depan bangsa loh,
08:25gitu ya.
08:25Jadi tidak bisa disamakan dengan jumlah angka,
08:28tetapi walaupun ada data angka,
08:30tetapi kita melihat lebih jauh bahwa ini adalah generasi bangsa
08:33yang meninggal dengan memutuskan untuk mengakhiri hidup
08:37dengan cara yang tragis gitu.
08:40Budia, saya belum pernah ke Ngada,
08:41tapi kalau kita lihat apa yang terjadi pada saat baru-baru ini,
08:45ini nampaknya antara satu rumah berjauhan ya dengan tetangga lainnya,
08:49tidak berdekatan begitu hidup,
08:51tidak saling berdekatan antara satu rumah dengan rumah lainnya.
08:55Apakah kemudian ketika tadi sudah berbicara dengan pemerintah daerah,
09:00apakah ini juga kemudian ketika anak-anak mungkin merasa cemas,
09:04merasa bingung, mau cerita, mau curhat ke siapa,
09:07begitu buntu,
09:08apakah karena faktor juga untuk mereka curhat tidak bisa,
09:12bingung mau kemana, ini yang juga akhirnya jadi pasrah anak-anak ini di sana.
09:19That's right, betul mbak.
09:21Begitu kira-kira ya.
09:22Jadi kalau kemarin kami konfirmasi ketika case conference untuk yang kasus ini,
09:27yang terakhir ini, sebelum dulu kan juga udah pernah,
09:30tapi yang ini juga kami case conference kemarin,
09:33itu memang salah satunya kultur masyarakat di Ngada kan memang berbeda.
09:40Begitu ya, memang daerahnya agak berjauhan dan lain sebagainya.
09:45Nah artinya ini kan PR dari pemerintah, PR untuk pemerintah daerah mendatang,
09:50ya kerentanan warga.
09:52Itu yang sekali lagi kami sampaikan.
09:55Kerentanan itu, keluarga yang rentan seperti apa?
09:58Lansia, kemudian dari keluarga yang tidak lengkap,
10:02single parent, kemudian miskin dan lain sebagainya.
10:05Kemudian di sekolah kami juga minta, mbak.
10:07Di sekolah itu kami minta, sekolah juga menyisir, memetakan kondisi anak.
10:13Karena itu juga nanti berkaitan dengan pendekatan yang dilakukan oleh sekolah.
10:17Tentunya anak yang satu dengan anak yang lain berbeda.
10:19Itu sudah kami sampaikan.
10:21Jadi artinya pemetaan anak maupun klasifikasi keluarga,
10:25terutama di Ngada ini perlu sekali.
10:26Karena kalau misalnya ada masalah kesehatan jiwa,
10:30begitu ya, maksudnya dalam arti mau curhat begitu ini susah ya untuk mendapatkan layanan.
10:35Seperti itu ya di sana.
10:36Jadi harus jemput bola.
10:38Betul.
10:38Terima kasih Komisioner KPAI, Ibu Dia, selamat malam.
10:41Terima kasih.
10:42Terima kasih Mbak Audrey.
10:43Terima kasih.
Komentar