Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 jam yang lalu
Psikolog Keluarga Alissa Wahid berbicara agar kasus siswa SD di NTT yang mengakhiri hidup tidak terulang
Transkrip
00:00Menyambung sebelumnya, bagaimana kita bisa membenahi dari mulai calon orang tua,
00:08orang tua yang sedang menghadapi beban hidup, anaknya, juga lingkungan terdekat sekolah misalnya?
00:13Ya, kalau yang saya tahu ya Mbak, sebenarnya sudah banyak beberapa program terkait dengan persiapan catin ini.
00:21Yang tadi Mbak Alisa sampaikan, di Kemenang itu sudah berlangsung beberapa.
00:26Saya juga tahu ada program PKPT, kalau di Kemenpora itu, itu juga menyiapkan para pemuda,
00:33para calon orang tua untuk bagaimana salah satunya adalah pengasuhan.
00:38Nah, ini kan juga menyasar para pemuda lintas agama sebenarnya ya, tidak hanya muslim gitu.
00:44Nah, ini bagian dari salah satu upaya yang bisa dilakukan menurut saya,
00:48meskipun kalau ini dilakukan, ini saja, ya nggak selesai juga, butuh ada support atau upaya-upaya lain yang juga harus dilakukan.
00:59Misalnya kepada orang yang sudah menjadi orang tua, gitu ya.
01:04Bagaimana kemudian ini juga disupport dengan ilmunya.
01:08Dengan ilmunya bagaimana melakukan pengasuhan, kalau dalam bahasa saya pengasuhan berkualitas gitu ya.
01:14Kalau di era sekarang ditambahi yang berperspektif literasi digital, itu kan udah kayak berat banget nih kayaknya gitu ya.
01:22Apalagi kasus-kasus digital sekarang kan juga banyak sekali.
01:25Dan ini juga banyak sekali orang tua yang tidak aware loh terkait dengan kasus-kasus yang berbasis cyber gitu ya.
01:32Yang ini juga mengancam kepada anak-anak.
01:35Terus kemudian tidak kalah penting juga sebenarnya disatuan pendidikan, Mbak.
01:38Karena anak ini sebagian masanya itu juga ada disatuan pendidikan.
01:44Dan tentu disini sangat penting bagaimana juga pengasuhan yang efektif, yang berkualitas juga ada di sekolah.
01:52Meskipun juga lagi-lagi saya kan bilang, nggak wise ya, kalau saya bilang itu kalau di sekolahan nggak mampu menjalankan pengasuhan yang seperti ini,
02:00berarti salahnya, itu saya nggak wise disitu.
02:02Karena kita tentu juga harus bisa membaca terkait dengan kondisi bagaimana tenaga pendidiknya kita yang ada di sekolah pendidikan sekarang.
02:13Bebannya seperti apa, berapa jumlah yang mampu menjadi konselor atau melakukan konseling kepada anak, ini kan jauh.
02:20Selama ini kan dalam pembacaan dan juga dalam beberapa pengawasan KPI turun kan,
02:24kita melihat kondisi bahwa memang jumlah tenaga pendidik yang mampu menjadi konselor atau memberikan konseling kepada anak, ini kan terbatas, Mbak.
02:35Guru BP terbatas, nggak ngatasi dengan, nggak ngatasi bahasa jawab, nggak cukup dengan jumlah anak yang harus dilakukan pendampingan untuk melakukan pendampingan psikologis nih.
02:47Untuk arah menghindari hal-hal yang tadi itu gitu kan, untuk mengkanal atau mencegah jangan sampai terjadi kasus yang sama kan gitu.
02:56Termasuk ya pendampingan psikologis dari berbagai sisi.
02:59Kalau tadi kita lihat di awal tayangan bahwa Gubernur NTT menyebutkan bahwa marah dengan kondisi ini, ini kegagalan dari berbagai layer pemerintahan,
03:09tapi kan tidak cukup untuk meratapi. Apa yang harus dilakukan sebenarnya agar pendampingan psikologis untuk warga sekitar misalnya di lingkungan itu di NTT,
03:17khususnya di Ngada, termasuk keluarganya, apalagi ibunya. Apa yang bisa dilakukan, Mbak Alisa?
03:24Ya, saya setuju dengan apa yang disampaikan Mbak Margaret bahwa saat ini membutuhkan effort bersama ya.
03:31Pendekatan-pendekatan yang lebih community center itu lebih penting.
03:35Community dalam hal ini bukan sekedar sekampung gitu, tetapi setiap anak itu berada di lingkungan yang bermacam-macam ininya, apa namanya, pengaruhnya.
03:48Ada para tokoh agama di situ, ada guru-gurunya, lingkungan sekolahnya, ada orang tuanya, ada keluarga besarnya.
03:56Tetapi juga ada pemerintah desa, ada pemerintah kecamatan, kabupaten, kota, yang itu juga kita butuhkan kehadirannya.
04:07Kementerian sampai pemerintah daerah itu perlu untuk melihat ini bukan lagi sebagai kasus, tetapi perlu ada perubahan cara pendekatan.
04:20Begitu. Jadi misalnya kalau mau berbasis desa atau mau berbasis sekolah, maka sekolah menyiapkan semua ekosistem ini.
04:32Proses pendidikan, penguatan ekosistem dilakukan dari satu titik.
04:37Misalnya sekolah, guru-gurunya diberikan penguatan kapasitasnya untuk mendampingi anak-anak, memahami pertumbuhan psikologinya anak-anak.
04:47Lalu orang tuanya, pendidikannya juga dari sekolah. Komite sekolah misalnya menyiapkan ruang-ruang itu.
04:55Para pemuka agama yang ada di sekitar sekolah itu juga bisa dihadirkan untuk membantu memperkuat.
05:02Begitu. Tapi itu semua harus ada orkestratornya.
05:05Dan dalam hal ini kita membutuhkan kehadiran negara.
05:08Karena negara lah yang saat ini memiliki daya jangkau, kemudian daya gerak yang terkonsolidasi gitu mbak.
05:19Dan ini yang kita butuhkan.
05:21Karena kalau tidak ada upaya yang beramai-ramai ini, akan terlalu berat untuk semuanya.
05:30Terlalu berat membebankan kepada RT-nya.
05:32Terlalu berat untuk membebankan kepada sekolahnya.
05:36Terlalu berat untuk membebankan kepada apalagi seperti sang ibu yang ibu tunggal.
05:42Seberapa banyak ibu tunggal di Indonesia?
05:44Banyak sekali.
05:45Yang juga terhimpit secara ekonomi.
05:49Jadi tidak bisa memang kita gunakan kemudian apa namanya linear, pendekatan yang linear.
05:57Harus semuanya bersama-sama.
05:58Harus semuanya bersama-sama dan harus ada orkestratornya.
06:01Dan disinilah negara dibutuhkan untuk mengorkestrasi berbagai layer, berbagai tingkat pranata sosial sebagai satu ekosistem yang kuat.
06:10Oh saya lupa menyebutkan, kelompok masyarakat sipil itu juga sangat perlu untuk di, karena biasanya yang mengingatkan negara itu kelompok masyarakat sipil.
06:22Seperti Mbak Margaret ini kan dari, selain dari KPAI kan juga di Fatayat NU gitu ya.
06:29Fatayat NU punya banyak sekali program yang terkait dengan pencegahan kekerasan.
06:33Dan parenting misalnya.
06:36Ini kelompok-kelompok masyarakat sipil ini yang biasanya mengingatkan negara dan juga melakukan pendidikan langsung kepada masyarakat.
06:45Kelompok masyarakat sipil mengingatkan negara untuk berbagai lapisan masyarakat.
06:49Sehingga kasus ini harus jadi kasus yang terakhir.
06:53Kita awasi bersama, jangan sampai berulang.
06:55Terima kasih Mbak Alisa Wahid, psikolog keluarga.
06:58Terima kasih juga Mbak Margaret Alia Tolmaimunah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
07:03Dan kami mengingatkan kepada Anda, jika pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional,
07:09atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
07:16Terima kasih Anda telah menyaksikan Rosie.
07:18Kita jumpa lagi Kamis depan hanya di Kompas TV independen, terpercaya.
07:23Saya Friska Klarissa, terima kasih. Selamat malam, sampai jumpa.
07:53Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan