Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Psikolog Keluarga, Alissa Wahid menyebut saat ini pemerintah berbicara soal bagaimana negara harus bersikap merespons tragedi pilu seorang anak kelas 4 SD yang mengakhiri hidupnya di Kabupaten Ngada, NTT.

"Itu pertanyaan yang tentu paling berat saat ini. Saya rasa rakyat bertanyanya berat, negaranya, penyelenggara negaranya juga berat untuk menjawab ini," ujar Psikolog Keluarga, Alissa Wahid.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 20222027, Margaret Aliyatul Maimunah menyinggung pentingnya edukasi terhadap calon pengantin yang hendak menikah.

#ntt #sd #siswasd

Dunia pendidikan kembali berduka. Seorang anak kelas 4 SD di Kabupaten Ngada, NTT, diduga mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari 10 ribu rupiah. Korban sempat menulis surat untuk ibunya. Apa makna psikologis tindakan ini?

Program ROSI mengundang Psikolog Keluarga, Alissa Wahid dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2022-2027, Margaret Aliyatul Maimunah. Saksikan dalam ROSI episode Mama Relakan Saya Pergi. Tayang Kamis, 5 Februari 2026 pukul 20.30 WIB LIVE di KompasTV.


**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube KompasTV, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.

Jangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia, yuk subscribe channel youtube KompasTV. Aktifkan juga lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/648852/kasus-siswa-sd-di-ntt-akhiri-hidup-bagaimana-negara-harus-bersikap-rosi
Transkrip
00:00Terima kasih masih bersama kami di program ROSI, kali ini bersama saya Friska Klarissa,
00:06saya masih bersama dengan psikolog keluarga Alisa Wahid dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia,
00:12Margaret Aliatul Maimunah.
00:14Yang sangat menyedihkan, kasus dingadan usaha Tenggara Timur ini bukan yang pertama.
00:20Bahkan menurut data dari KPAI, Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara
00:26terkait kasus anak yang mengakhiri hidupnya.
00:29Kita lihat dulu datanya.
00:31Ini dia, ada 46 kasus di tahun 2023, 2024 43 kasus, 2025 26 kasus,
00:392026 dari rentang Januari sampai Februari ada 3 kasus.
00:44Bukan soal angkanya, satu nyawa tidak layak untuk dilakukan.
00:47Betul banget, betul banget mbak.
00:50Dan tentu ini jadi alarm yang pakai banget ya sebenarnya buat kita semua.
00:54Bahwa ini sampai dalam satu tahun 46-43 kasus itu kan luar biasa ya mbak.
01:01Faktor penyebabnya ini?
01:03Nah faktor penyebabnya macam-macam memang.
01:05Tapi beberapa yang masuk di dalam ininya KPAI,
01:11yang pertama kaitannya dengan bullying,
01:14yang kedua berkaitan dengan pengasuhan,
01:16yang ketiga berkaitan dengan ekonomi,
01:21kemudian yang keempat karena kaitannya dengan asmara.
01:24Nah bullying ini memang menjadi hal yang
01:29banget-banget menjadi perhatian dan fokus kita bersama ya hari ini ya.
01:35Karena kan kasusnya luar biasa D2D dan kemudian
01:39apa namanya masih banyak mengakibatkan anak-anak yang kemudian juga
01:46tidak tertolong ya beberapa kasus bully ini.
01:51Dan pada kondisi tertentu itu bisa memunculkan sisi anak ingin membalas dendam
01:58terkait dengan kondisi situasi dari bully yang dia alami.
02:03Nah balas dendam ini ya tergantung mereka,
02:07kacamata mereka, tergantung juga faktor yang mempengaruhi mereka.
02:12Nah salah satu kasusnya kemarin misalnya kayak ledakan di sekolah ya,
02:17di sekolah 72, itu kan juga salah satunya karena faktor itu.
02:21Dan dia sedang ingin membuktikan bahwa dia tidak selemah yang dikira oleh teman-temannya.
02:27Sehingga kemudian dia bisa sampai melakukan sejauh itu.
02:30Bullying dan kemudian memang pengasuhan juga.
02:36Kalau pada anak ini memang betul-betul hal yang harus menjadi apa ya mbak.
02:43Ya jadi hal utama karena ini adalah support sistemnya anak yang utama gitu.
02:49Sementara ya seperti yang tadi kita sudah diskusikan ya,
02:52tidak semua keluarga, jangankan keluarga yang seperti kasus di NTT yang sendiri ibunya gitu ya,
02:59yang keluarganya lengkap saja, itu belum tentu mampu menghadirkan pengasuhan yang berkualitas kepada anak.
03:07Nah untuk faktor-faktor ini bagaimana kalau kita sebagai lingkungan sekitar,
03:14bisakah kita mendeteksinya, misalnya apakah anak ya tetangga kita atau lingkungan keluarga terdekat,
03:21punyakah kendala-kendala tadi?
03:23Sehingga masih ada intervensi yang dilakukan untuk mencegah sampai ke arah bunuh diri, Mbak Alisa.
03:29Ya, memang itu tidak mudah.
03:32Karena begini, tidak semua manusia itu extrovert yang dia bisa bercerita.
03:40Nah ada orang-orang yang dia sebetulnya sehat, tetapi dia memang lebih suka menyimpan semuanya dalam dirinya.
03:47Itu kan tidak akan bermasalah, tidak akan kelihatan bermasalah begitu.
03:51Tetapi ada juga orang-orang yang kelihatan riang gembira,
03:55tetapi sebetulnya dia di dalam hatinya menyimpan beban psikologis yang sangat besar.
04:00Nah karena itu ekosistem, apa namanya, support sistem ini,
04:07ini memang menjadi sangat penting untuk memberikan ruang untuk semuanya.
04:10Yang paling penting adalah memberikan ruang aman bagi mereka untuk menyampaikan apapun yang ada di dalam hatinya.
04:19Lalu kemudian yang kedua, memberikan mereka pemahaman bahwa mereka boleh
04:25untuk menyampaikan apa yang menjadi beban pikirannya.
04:31Jadi misalnya ketika di sekolah, apakah kepala sekolah itu atau tendiknya, tenaga pendidikannya, atau gurunya,
04:40itu membuat anak-anak merasa anak-anak bisa mendekati mereka dan bercerita.
04:47Apakah dia introvert atau extrovert, dia tetap merasa ketika ada yang tidak nyaman, dia bisa bercerita.
04:54Kalau tanpa itu, itu memang sering luput, Mbak.
04:58Kita sering tidak terlalu memperhatikan.
05:00Kita menganggap, dan seringkali juga ya,
05:02anak-anak yang diam kita anggap anak-anak yang baik.
05:06Anak-anak yang...
05:07Aduh nurut nih, begitu ya, karena aman, tidak ada masalah, aman.
05:12Padahal sebetulnya dia membutuhkan bantuan.
05:16Karena itu memang saya setuju dengan tadi yang disampaikan Mbak Margaret,
05:19menyiapkan orang tua dan orang dewasa di sekitar anak-anak,
05:24bahwa ada pertumbuhan anak yang kita semua orang dewasa ini perlu lebih peka,
05:31dan memberikan mereka rasa aman itu.
05:33Misalnya ketika anak mengeluh sesuatu, respons kita bagaimana?
05:38Apakah respons kita, alah, cuman begitu aja kok, gitu.
05:42Atau misalnya, sama sekali tidak pernah mengalami kesulitan.
05:48Apa-apa diselesaikan oleh orang tuanya, oleh pengasuhnya, oleh orang terdekatnya, begitu.
05:55Sehingga dia tidak terbiasa juga untuk mengendalikan dirinya, gitu.
05:59Jadi memang tidak mudah membangun ekosistem bagi seorang anak, apalagi anak yang banyak.
06:08Apalagi dalam kondisi kemiskinan, sekali lagi, gitu.
06:10Jadi memang itu menjadi PR kita saat ini untuk memperkuat,
06:16bagaimana, apa namanya, kesadaran dan pemahaman orang tua,
06:22bagaimana cara dia akan mengasuh anak-anaknya dengan dunia yang seperti sekarang, gitu.
06:32Dengan beban yang berat juga sekarang.
06:35Betul, betul, betul.
06:37Dan itu sebenarnya kan bisa dilakukan, disiapkan dari awal ya.
06:44Misalnya kepada para catin, misalnya gitu mbak, kepada yang belum menikah, gitu ya.
06:50Para calon pengantin, itu bisa.
06:53Kita dari sekarang tuh mulai memberikan penguatan edukasi,
06:57kalau nanti menikah, kemudian punya anak, bagaimana melakukan pengasuhan yang berkualitas.
07:01Itu bisa, salah satu yang bisa kita lakukan.
07:05Atau penguatan kepada yang sudah jadi orang tua,
07:08atau yang sudah menikah, misalkan begitu.
07:11Atau membuat kebijakan, mungkin kita hari ini agak hopeless ya mbak,
07:16kalau mau membangun komunitas, pengasuhan yang berkomunitas tadi itu.
07:20Agak hopeless ya dengan situasi sekarang.
07:23Tapi bukan berarti itu nggak bisa dilakukan.
07:25Itu masih bisa dilakukan.
07:27Dengan kekuatan dari para pejabat atau aparat di desa.
07:31Itu sangat bisa dilakukan.
07:32Yang menggerakkan justru pejabat atau aparat di desa itu.
07:35Saya teringat pernah ada kayak best practice ya di Jogja mbak Alisa.
07:40Saya lupa desanya apa.
07:42Tapi di desa itu punya kebijakan bersama nih.
07:45Antara semua warga di situ, anak-anak harus terbebas dari gadget.
07:49Tapi tidak hanya segedar larangan ya.
07:53Tapi kemudian di situ punya kebijakan untuk memberikan ruang bermain untuk anak,
07:58tapi yang tidak gadget.
08:00Misalnya sepedaan, lompat tali zaman kayak dulu misalnya.
08:04Atau ini.
08:05Artinya kebijakan bersama ini sebenarnya juga sangat mungkin untuk bisa tetap dilakukan di era sekarang.
08:11Yang terpenting adalah komitmen dari para aparat yang ada di situ.
08:16Karena kan kalau pengasuhan kan tentu yang kemudian bisa dilibatkan kan tetangga ya.
08:22Maka tentu kan mungkin apakah se-RTRW atau satu desa punya kebijakan yang sama,
08:28menjaga anak bersama misalnya secara komunitas.
08:31Itu sangat bisa dilakukan.
08:32Iya, dan di mana negara harus bersikap dalam kodis ini?
08:37Iya, betul.
08:38Itu pertanyaan yang tentu paling berat saat ini.
08:42Saya rasa rakyat bertanyanya berat, negaranya, penyelenggara-negaranya juga berat untuk menjawab ini.
08:51Karena memang Indonesia itu rakyatnya banyak ya.
08:55Jadi saya tahu itu tidak mudah.
08:57Tapi kadang-kadang memang sebagai seorang psikolog keluarga,
09:02saya juga membantu Kementerian Agama untuk mempersiapkan itu tadi ya,
09:08program Bimbingan Perkawinan untuk Calon Pengantin.
09:11Dan dari lima sesi, itu ada sesi pengasuhan memang.
09:15Mempersiapkan para calon pengantin untuk prinsip-prinsip pengasuhan.
09:20Tapi kita harus mengakui bahwa kemudian daya dukung anggarannya pemerintah itu tidak mencukupi
09:26untuk kita bisa menjangkau semua calon pengantin.
09:29Karena ya hanya 10 persen saja dari para calon pengantin yang kemudian mendapatkan kesempatan
09:36untuk menerima pengajaran itu atau pelatihan itu.
09:42Bagaimana kita membaca calon orang tua ke depan yang harus di edukasi,
09:45orang tua yang sedang menjalani kehidupan dalam kondisi yang sulit,
09:49plus anak misalnya dengan berbagai tantangannya, paparan informasi dan sekolah.
09:54Nah bagaimana untuk kita bisa memperbaiki setidaknya agar jangan ada kasus berulang
10:00seperti ini lagi, usah jeda kita akan bahas di Rosi.
Komentar

Dianjurkan