00:00Anda masih bersama kami di ROSI, kami menghadirkan psikolog keluarga Alisa Wahid
00:05dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Margaret Aliatul Pahimudah.
00:09Mengenyambung pertanyaan yang tadi, parenting di keluarga dengan kondisi ekonomi mampu,
00:15dengan kemiskinan ekstrim tentu jauh sekali berbeda.
00:19Mereka untuk bertahan hidup saja di keluarga ini misalnya, bertahan hidup saja sudah sulit.
00:23Ibu tunggal, anaknya lima, kerja serabutan, harus menghidupi lima anak yang bergantung.
00:30Apa-apa sebenarnya yang harus jadi concern utama Mbak Alisa soal ini, soal kondisi psikisnya?
00:37Ya, ini kan bertumpuk ya Mbak, apa namanya, beban psikologisnya itu bertumpuk.
00:45Yang pertama, kondisi ibunya ibu tunggal, orang tua tunggal.
00:50Dan dia punya kakak adik, dia tinggal lebih memilih tinggal bersama neneknya.
00:56Lalu ibunya dalam kondisi kemiskinan.
01:00Jadi, satu dia harus coping bahwa dia tidak punya ayah yang ada di dekat dia.
01:05Jadi, figur ayahnya sendiri atau figur laki-laki dewasa itu mungkin juga tidak ada.
01:12Lalu, itu kan sesuatu beban tersendiri.
01:15Lalu kemudian tinggal bersama nenek, jauh dari ibu, itu sendiri juga pasti menciptakan diri.
01:23Apakah itu sebuah pilihan melarikan diri, atau pilihan terpaksa karena tidak ingin mebebani ibunya,
01:30itu tetap ada beban psikologisnya.
01:32Jadi, sudah ketambah itu.
01:33Apalagi dengan kondisi kemiskinannya.
01:40Begitu.
01:41Jadi, pasti dengan kondisi kemiskinan itu, apa-apa yang dia harapkan,
01:47atau apa-apa yang dia inginkan, lebih sulit untuk dicapai.
01:52Apa yang misalnya dibawa oleh teman-temannya bekal ke sekolah,
01:57dengan apa yang dia bawa, misalnya, tentu sangat berbeda.
02:00Nah, kita juga perlu, seperti tadi kata Mbak Margaret, kita memang belum tahu ya,
02:06tapi kita juga belum tahu bagaimana relasi antara dia dengan ibunya.
02:12Apakah ibunya misalnya secara tidak sadar, lebih emosional misalnya,
02:20karena beban hidup ini lebih emosional terhadap anak-anaknya misalnya, seperti itu.
02:26Atau lebih tertekan, sehingga ketika misalnya anaknya meminta,
02:31tadi meminta buku, terus ibunya bisa jadi,
02:36ada orang tua yang akan menjawab, jangan minta-minta terus, gitu.
02:39Tapi ada juga yang kemudian, ibu nggak punya nak, gitu.
02:43Itu kan semuanya, dua-duanya tetap membebani anak.
02:46Jadi kita bayangkan anak ini mendapatkan beban psikologisnya yang terlalu bertumpuk-tumpuk,
02:55sehingga meledak jadi satu titik seperti ini.
03:00Nah, bagi kita, masyarakat, ini sebetulnya harus menjadi pelajaran yang sangat berharga,
03:08terutama sebagai komunitas.
03:12Ada yang kita sebut sebagai prinsip, apa namanya, community parenting.
03:18Di mana saling menjaga rukun tetangga, rukun warga,
03:23itu perlu untuk memahami kondisi anggota keluarga,
03:29kondisi keluarga-keluarga di dalam lingkungan itu.
03:32Sehingga beban-beban kemiskinan seperti ini,
03:36tidak kemudian diemban secara personal atau perkeluarga.
03:41Dalam hal ini personal sang ibu, begitu.
03:45Itu mungkin yang bisa retrospeksi kita, ya, seperti itu.
03:51Tetapi dalam kondisi saat itu, tentu saja bebannya berat sekali.
03:55Ketika dia berbeda dengan teman-temannya,
03:59dan kita juga tahu sekarang media sosial
04:02membuat, apa namanya,
04:06membuat benchmark yang sangat tinggi,
04:11anak itu harus seperti apa.
04:12Dulu anak yang tinggal di desa,
04:15tidak tahu apa yang anak-anak seusianya yang dilakukan di kota.
04:20Atau anak yang tinggal di Indonesia,
04:21tidak tahu apa yang anak-anak di Eropa.
04:24Seperti apa kehidupan mereka.
04:26Dengan benchmark yang seperti itu ada di kepalanya,
04:29lalu itu tidak bisa terwujud.
04:31Jaraknya sangat jauh,
04:33itu tentu beban juga yang sangat besar.
04:39Bahkan bagi orang dewasa saja,
04:42dalam kondisi seperti itu sudah berat.
04:44Apalagi ini anak yang umur 10 tahun.
04:48Dan kita jangan lupa,
04:49anak umur 10 tahun itu sebetulnya dia memasuki
04:51masa pancaroba,
04:53yang hormonnya sudah mulai masuk ya,
04:57hormon-hormon menuju ke dewasaan,
05:00itu sudah mulai muncul.
05:02Tapi di masa-masa itulah,
05:04kegamangan terhadap segala sesuatu
05:06mulai terasa lebih besar gitu,
05:10dibandingkan masa-masa sebelumnya.
05:12Jadi ini,
05:13biasanya kita menyebut ini sebagai
05:15pritin kan,
05:16pra-remaja.
05:17Yang itu memang
05:18pergolakan emosinya
05:21atau psikologinya juga
05:22lebih berat.
05:24Untuk community parenting tadi,
05:26di lingkungan kemiskinan ekstrim,
05:28itu bagaimana yang sejauh ini berjalan,
05:31Mbak Margaret,
05:31kalau KPAI lihat?
05:33Sebenarnya,
05:35kalau kita bicara tentang parenting ya,
05:39bahkan di luar
05:40komunitas yang
05:42kemiskinan ekstrim,
05:44itu pun juga seringkali kan
05:46tidak bisa dilakukan.
05:48Anak-anak
05:49dalam keluarga yang utuh saja,
05:52itu masih banyak yang mengalami
05:53pengasuhan yang tidak berkualitas.
05:56Apalagi dalam kondisi
05:58kasus ini yang
05:59berlapis-lapiskan beratnya
06:01si ibu gitu.
06:02Cuman saya mau bilang begini, Mbak,
06:04bahwa sebenarnya
06:06itu adalah hak anak
06:07untuk mendapatkan pengasuhan
06:09yang berkualitas.
06:12Sekarang ini kan problemnya
06:13bagaimana kemudian
06:15anak mendapatkan haknya ini.
06:18Tentu beban berat
06:20kemudian seolah-olah
06:21ada di orang tua dan keluarga
06:23untuk bisa memenuhi
06:25pengasuhan berkualitas
06:26kepada anak ini.
06:28Tapi kan juga tidak
06:29apa ya,
06:30tidak wise juga
06:31kalau kemudian
06:31itu kita serahkan sepenuhnya.
06:34Pokoknya bagaimana caranya
06:35orang tua
06:35harus mampu melakukan
06:37pengasuhan berkualitas
06:38tanpa kita mau memandang
06:40apapun kondisi orang tua.
06:41kan itu juga tidak fair.
06:43Nah, di sini kemudian
06:44saya kira
06:45yang kemudian
06:46butuh lahir
06:47adanya intervensi
06:49atau mungkin
06:50kebijakan dari pemerintah
06:52untuk mendorong.
06:54Kan tidak semua juga
06:55masyarakat faham dan tahu
06:56tentang bagaimana
06:57yang pengasuhan
06:58yang berkualitas gitu ya.
07:00Tidak semua orang tahu gitu.
07:02Kadang-kadang kan
07:02sebagian terbawa
07:04pada masa lalu
07:05yang namanya
07:06pengasuhan itu
07:07kayak dulu zaman kita
07:08masih kecil yang sebenarnya
07:10itu tidak lagi bisa
07:11dipraktekan dan
07:13malah terbentur
07:14dengan peraturan
07:14perundang-undangan
07:15sebenarnya kan.
07:16Kita tidak boleh melakukan
07:17pengasuhan dengan
07:18kekerasan kan begitu.
07:20Nah, tapi kemudian
07:22kewajiban dari
07:23pemerintah adalah
07:24memastikan bagaimana nih
07:26supaya
07:27anak ini
07:28mendapatkan
07:28pengasuhan berkualitas.
07:30Pada keluarga
07:32gitu ya
07:32yang mungkin tidak memahami
07:34ya berarti butuh
07:34diedukasi.
07:35maka butuh
07:36ada intervensi
07:37untuk memberikan
07:37edukasi kepada
07:38masyarakat
07:39terkait bagaimana
07:40pengasuhan berkualitas
07:41bagaimana pengasuhan
07:43di era sekarang nih
07:44yang zaman dulu
07:45kita tidak kenal
07:46ada konten-konten
07:47negatif yang mempengaruhi
07:49eh sekarang ada
07:50true crime community lah
07:52apalah-apalah
07:53nah ini kan
07:54masyarakat
07:55orang tua harus
07:56diupdate kan begitu.
07:57Tidak hanya orang tua
07:58sebenarnya.
07:59Hal yang sama juga
08:00menjadi
08:01apa namanya
08:02dibebankan
08:04atau dilekatkan
08:05kepada
08:06orang-orang yang ada
08:07di lingkungan terdekat
08:08dengan anak.
08:09Misalnya di satuan pendidikan
08:10seperti yang tadi saya sampaikan
08:11hari ini guru
08:12memang
08:13ya bagaimana
08:14dengan kondisi yang
08:15seperti sekarang
08:16gak mungkin
08:17kalau kemudian
08:18hanya memikirkan
08:19bagaimana proses
08:20belajar berjalan
08:21tapi tanpa
08:22memperhatikan
08:23kondisi-kondisi psikologis
08:24yang mengiringi
08:25anak-anak.
08:26Ada anak yang harus
08:27berjuang
08:27jauh lebih keras
08:28ke sekolahnya
08:29belum tentu punya
08:30situasi belajar
08:32yang sama dengan
08:32dalam kondisi
08:33keterbatasan
08:34seperti yang tadi
08:35Mbak Alisa sampaikan
08:36butuh ada
08:37komunitas yang tadi
08:39untuk membantu
08:40saling menjaga
08:41itu kan juga
08:42salah satu
08:42untuk mengatasi
08:43kalau-kalau
08:45ya
08:45ada tetangga
08:47yang kemudian
08:47mungkin dari sisi
08:49keterbatasan
08:49seperti
08:50ibu yang ada di
08:51apa namanya
08:52NTT ini
08:53gitu ya
08:54sehingga kemudian
08:55itu bisa
08:55di-backup
08:57diisi oleh
08:58tetangga yang ada
08:59di sekitar
09:00sebagai support system
09:01bisakah kita katakan
09:02bahwa di kasus ini
09:03bukan maksud
09:04menyalahkan siapa-siapa
09:05tapi jadi pembelajaran
09:07bahwa ini
09:07ada kegagalan
09:08peranata sosial
09:09di sana
09:10artinya
09:10lingkungan
09:11dalam skala kecil
09:13maupun besar
09:13tidak bisa mendeteksi
09:15ada seorang anak
09:16yang butuh
09:16bantuan
09:17baik itu di lingkungan sekolah
09:19maupun lingkungan terdekatnya
09:20Mbak Alisa
09:21saya rasa
09:23sebagian besar
09:25masyarakat
09:26saat ini
09:27memang
09:28sedang beradaptasi
09:29dengan
09:29perubahan
09:30peradaban
09:31peradaban kita
09:33yang sekarang ini
09:33yang tadi
09:35apa namanya
09:35informasi datang
09:36dari sumber-sumber
09:38yang tidak ada
09:38di sekitarnya
09:39secara fisik
09:40itu kan juga
09:41banyak
09:41nah
09:42saya melihat
09:43ada pergeseran
09:45nilai-nilai
09:45dalam masyarakat
09:46yang membuat juga
09:48ini terlewatkan
09:50artinya
09:50kalau zaman
09:51kita dulu
09:53anak-anak itu
09:54kita tahu
09:55anak-anak itu
09:56mainnya itu
09:56ya itu
09:57dia tidak ada
09:58informasi lainnya
09:59gitu
09:59lebih terkontrol
10:00ya kita tahu
10:01betul
10:02misalnya
10:02teknik
10:03mengakhiri hidup
10:05itu
10:06dapat dari mana
10:07itu kan juga
10:08sebuah pertanyaan
10:10begitu
10:10jadi kalau kita
10:13sekarang
10:13melihat
10:15masyarakat kita
10:16sedang
10:17grappling
10:19itu apa ya
10:19mbak sedang
10:20sedang
10:21berusaha
10:23untuk mencari
10:23cara-cara baru
10:24itu
10:25misalnya
10:28dengan anak-anak
10:29terhadap gadget
10:30atau pengaruh
10:32dari teman-teman
10:32sebaya
10:33itu
10:34saya rasa
10:35ini memang tugas
10:37masyarakat saat ini
10:38untuk belajar
10:39menjadi
10:40support system
10:42bagi setiap
10:43anak-anak
10:44di Indonesia
10:44karena sekali lagi
10:46kita tidak pernah tahu
10:47apakah anak ini
10:48benar-benar
10:49happy
10:50walaupun dia ketawa-ketawa
10:51begitu
10:52atau kok masih ada
10:54masih ada ruang-ruang
10:55semakin
10:58anak ini
10:58beranjak
10:59remaja
10:59semakin sulit
11:01dia menyampaikan
11:02apa yang ada
11:03di dalam
11:04hatinya
11:04kepada orang dewasa
11:06yang mungkin
11:07selama ini ada
11:08misalnya seperti itu
11:09karena itu
11:10kalau di dalam
11:11komunitas itu
11:12ada orang-orang
11:14yang memang
11:16menjalankan
11:17peran pendamping
11:18misalnya guru
11:20yang akrab
11:21dengan murid-muridnya
11:22dan dipercaya
11:23oleh murid-muridnya
11:24maka si anak ini
11:26tidak akan segan
11:26untuk menyampaikan
11:27kepada gurunya
11:28atau misalnya
11:29dia dengan pamannya
11:30atau dengan
11:32guru ngajinya
11:33atau pendeta
11:35di gerejanya
11:37misalnya
11:37itu
11:38nah
11:39ini
11:40bagian dari
11:41community parenting
11:42sebetulnya
11:42seperti ini
11:43pengasuhan
11:45komunitas itu
11:46seperti ini
11:47bukan berarti
11:47kemudian
11:48semua harus
11:50apa namanya
11:52menjadi orang tua
11:53seperti bayangan kita
11:55normalnya orang tua
11:56setidaknya bisa
11:57bisa peduli
11:58peduli
11:59terhadap lingkungannya
12:00betul
12:01khususnya anak-anak
12:02di lingkungan
12:02betul
12:03betul
12:04karena juga
12:05bicara soal
12:06anak
12:07dan kasus bunuh diri
12:09dari sumber
12:10KPAI
12:11ini ada grafis
12:12angka yang memprihatinkan
12:15ada banyak faktornya
12:16kita akan bahas
12:17nanti usah jeda
12:18tapi sekali lagi kami
12:19kembali mengingatkan
12:20bahwa diskusi ini
12:20tidak bertujuan
12:21menginspirasi tindakan bunuh diri
12:23jika Anda pernah memikirkan
12:24atau merasakan
12:25tendensi bunuh diri
12:26mengalami krisis emosional
12:27atau mengenal orang-orang
12:28dalam kondisi tersebut
12:29jangan ragu
12:30untuk bercerita
12:31dan berkonsultasi
12:32kepada ahlinya
12:37selamat menikmati
Komentar