00:00...permintaan maaf yang benar-benar berbeda
00:02...alang-alang berbeda di sekolah
00:04Ketar jam 17
00:28Ada tetangga di desa sebelah sekretaris
00:33Di desa nenor ya
00:34Dia telpon saya ke kantor
00:38Dia bilang ini ke Kelipus
00:41Tolong pulang dulu
00:42Langsung kami ke TKP
00:44Melihat itu anak sudah tidak bernyawa
00:47Ini anak ini tidak tahu lagi mungkin
00:51Dia juga terasa bermakir itu terlalu tinggi
00:54Kena tiap hari
00:56Informasi yang didapatkan juga di sekolah
01:13Periang anaknya aktif
01:15Juga baik, taat
01:18Prestasi semester 1 kemarin di kelas 4 itu dia peringkat kelima
01:22Sekedar untuk tidak bisa membeli buku dan ballpoint itu
01:25Saya rasa itu terlalu rendah lah
01:26Buat masyarakat saya
01:28Ini cukup kompleks
01:30Juga berbeda di sekolah
01:35Juga berbeda di sekolah
01:36Juga berbeda di sekolah
01:37Juga berbeda di sekolah
01:38Juga berbeda di sekolah
01:38Juga berbeda di sekolah
01:39Juga berbeda di sekolah
01:40Juga berbeda di sekolah
01:41Juga berbeda di sekolah
01:42Juga berbeda di sekolah
01:44Juga berbeda di sekolah
01:46Juga berbeda di sekolah
01:48Juga berbeda di sekolah
01:49Juga berbeda di sekolah
01:50Juga berbeda di sekolah
01:51Juga berbeda di sekolah
01:52Juga berbeda di sekolah
01:53Juga berbeda di sekolah
01:54Juga berbeda di sekolah
01:55Juga berbeda di sekolah
01:56Selamat malam saudara, program Rosi kembali hadir ke hadapan Anda bersama saya Friska Clarissa.
02:13Indonesia kembali berduka, seorang siswa kelas 4 sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur,
02:20diduga mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari 10 ribu rupiah.
02:29Malam ini kami mengundang psikolog keluarga Alisa Wahid dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Margaret Aliatul Maimunah.
02:38Saudara diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.
02:41Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri mengalami krisis emosional
02:46atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
02:54Dalam peristiwa yang memilukan ini saudara, seorang siswa SD berusia 10 tahun bunuh diri
03:01diduga lantaran tak mampu membeli buku dan pena.
03:06Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya yang ditulis tangan.
03:10Dalam surat tersebut, korban mengisyaratkan sebuah kalimat pamitan kepada sang ibu.
03:18Begini bunyinya.
03:21Surat buat Mama Reti.
03:25Mama, saya pergi dulu.
03:29Mama relakan saya pergi.
03:31Jangan menangis ya, Mama.
03:36Mama, saya pergi.
03:39Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya.
03:46Selamat tinggal, Mama.
03:50Mbak Alisa,
03:53membaca surat ini tidak ada satupun dari kita yang tidak tergetar hatinya.
03:58Betul, Mbak.
03:59Bagaimana Mbak Alisa membaca luka yang teramat dalam yang dialami anak ini
04:09yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?
04:13Ya, kita tahu bahwa seorang anak usia 10 tahun itu secara psikologis
04:21dia sedang dalam masa yang sebetulnya memandang dunia dengan penuh sukacita.
04:27Ya.
04:28Seharusnya ya, selayaknya anak-anak usia itu.
04:33Mungkin kalau kita ingat masa lalu juga begitu.
04:37Hidup yang lebih sederhana, tapi penuh dengan sukacita.
04:41Kita belum punya beban, belum merasakan beban-beban kehidupan.
04:45Jadi ketika seorang anak mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya,
04:51berarti dia sudah di ujung kesabaran dirinya, sudah tidak mampu lagi untuk memaknai kehidupan ini.
05:05Sudah tidak mampu lagi melihat ada harapan di kemudian hari.
05:11Bukan soal sepuluh ribunya.
05:14Satu sepuluh ribu untuk kita yang ada di kota besar, itu mungkin tidak begitu terasa.
05:21Tapi untuk mereka yang ada di perdesaan, apalagi yang jauh seperti di Ngada, bahkan seribu rupiah pun, itu besar maknanya.
05:34Dicarinya lebih susah, dan dimaknai lebih berharga.
05:46Tapi pena dan buku itu tentu tidak sama dengan kehilangan rumah, atau kehilangan orang tua.
05:56Jadi kalau sampai ini menjadi lantaran, menjadi the last straw, berarti sudah ada proses yang sangat panjang,
06:08yang mengerus harapannya, yang mengerus sukacitanya itu, dan yang membuat dia tidak sanggup lagi
06:16untuk mungkin tidak sanggup lagi merasa menyakiti ibunya, atau tidak sanggup lagi melihat ibunya terbebani oleh dia,
06:30tapi intinya adalah sudah tidak ada harapan lagi, sudah tidak ada gunanya lagi.
06:35Dan untuk anak sepuluh tahun, itu kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di masa-masa, di hari-hari sebelumnya.
06:43Yang disimpan, tadi sempat disebutkan anak ini periang.
06:52Kadang-kadang anak-anak yang penuh tawa, itu mereka menyimpan luka-luka di dalam hatinya.
06:59Jadi itu sesuatu yang, ya ini harusnya bukan duka keluarganya saja, tapi duka untuk kita semua ya.
07:06Betul, seandainya ada saja satu orang yang bisa meringankan beban pikiran sang anak.
07:17Mungkin dia masih ada saat ini, Mbak Alisa.
07:21Kalau dia sebelumnya sudah punya ruang untuk melegakan hatinya,
07:31orang yang akan bisa bicara dengan dia dan bilang bahwa,
07:35it's okay, gak apa-apa, hidup memang berat, tapi kita masih bisa.
07:41Untuk bertahan satu hari lagi, mungkin dia masih bisa memaknai kehidupannya.
07:48Tapi ketika sudah makna itu sudah tidak ada, itu yang paling berat.
07:53Orang ketika mengakhiri hidupnya, itu karena dia meyakini bahwa sudah tidak ada lagi makna.
07:59Sudah tidak ada lagi perlunya saya ada di dunia ini.
08:03Dan mungkin dengan saya tidak ada, hidup akan jauh lebih baik.
08:09Makanya suratnya akan seperti itu.
08:12Jangan tangisi saya, jangan cari saya mama.
08:18Itu pesan yang menurut saya bahwa kepergian saya itu adalah supaya mama tidak menangis,
08:28supaya mama tidak sedih lagi gitu.
08:30Padahal pasti kita yakin bahwa tidak ada ibu yang merasa anaknya sebagaimana.
08:35Pasti.
08:37Di surat itu, anak-anak saat menggambar itu kan apa yang dia rasakan.
08:41Betul.
08:42Menutup suratnya dengan gambar dia yang sedang nangis.
08:50Kita bagaimana bisa membayangkan betapa beban anak itu sangat berat saat itu.
08:54Artinya saat itu pun dia tidak sedang dalam kondisi yang tidak peduli begitu.
09:02Dia mengambil keputusan pun dia dengan kondisi kesedihan.
09:07Tapi mungkin saat itu ya, karena kita tidak tahu.
09:10Mungkin saat itu dia merasa bahwa ini satu-satunya cara membuat situasi menjadi lebih ringan.
09:16Untuk semuanya.
09:18Untuk dia, mungkin karena dia tidak sanggup lagi.
09:21Untuk ibunya, mungkin dia merasa dia akan menjadi beban bagi ibunya seterusnya.
09:28Dan mungkin neneknya juga.
09:31Itu yang sepertinya sebuah pertanyaan yang kita tidak akan bisa menemukan jawabannya.
09:38hanya bisa menduga dan mencoba memahami dari serpihan informasi yang bisa kita dapatkan
09:48dari teman-teman sekolahnya, dari ibunya, dari keluarganya, dari tetangganya, dan lain-lain.
09:54Kalau dari KPAI, bagaimana kita bisa melihat perspektif secara utuh dari kasus ini, Mbak Margaret?
10:05Kalau dari kami, sebenarnya kami tentu akan mengajak bahwa kasus ini tidak bisa dilihat dalam,
10:13atau dari satu perspektif ya.
10:15Misalnya, oh mungkin hanya karena faktor ekonomi misalnya.
10:20Tapi tentu kita akan mengajak untuk melihat secara banyak perspektif tentang kondisi anak ini.
10:28Sebelum kita mengambil atau berada pada satu titik kesimpulan terkait dengan
10:33apa sih yang menjadi faktor utama yang mendorong anak ini sampai kemudian memilih
10:41untuk mengakhiri hidupnya gitu ya.
10:44Nah faktor ini kan ada banyak ya, kami kira gitu.
10:49Yang paling utama kan sebenarnya kalau bicara anak, kita selalu tahu bahwa anak ini berada dalam kondisi yang rentan,
10:55labil, mereka butuh support dari orang-orang di sekitarnya.
11:00Support system.
11:01Ya, support system ini.
11:03Support system ini kan bisa dari orang tua, bisa dari keluarga,
11:08bisa juga dari lingkungan yang ada di sekitar anak, mungkin teman-teman sekolahnya,
11:12atau lingkungannya ada di satuan pendidikannya gitu ya.
11:15Untuk kemudian bisa membantu anak dalam menghadapi problem.
11:22Kalau bicara problem kan mungkin dalam bayaran kita anak kecil apa sih problemnya,
11:27tapi jangan disangka bahwa semua meskipun anak-anak itu juga punya problem.
11:32Ketika anak punya mau-mau beli mainan atau misalnya mau makan ini,
11:37ketika nggak mampu diwujudkan itu bisa jadi problem gitu kan buat anak, sesederhana itu gitu ya.
11:43Nah, dalam kasus ini tentu kan butuh juga diperhatikan beberapa perspektif tadi.
11:51Misalnya dari sisi perspektif support system orang tua dan keluarga,
11:57kita tahu bahwa support system dari sisi ini pada anak ini kan bisa dilihat lemah ya,
12:04karena memang kan yang bersangkutan tidak tinggal bersama orang tua,
12:08tetapi kan bersama neneknya.
12:09Nah, kemudian informasinya kan bapaknya juga katanya sudah tidak membersamai gitu ya.
12:16Sehingga kemudian kan dari sisi ini tentu kan anak sudah tidak mendapatkan support system seperti yang diharapkan.
12:23Nah, kita kan nggak tahu hari-hari day to day-nya dia ketika tidak bersama dengan mamanya gitu ya.
12:30Ini kan problem apa nih yang dihadapi selama ini gitu.
12:35Sehingga kemudian pada kasus yang terakhir itu menjadikan dia mengambil keputusan untuk bunuh diri misalnya ya.
12:44Kemudian support system yang lain juga nggak kalah penting kan dari sisi teman-teman di sekolah.
12:50Nah, apakah perlu didalami saya kira, tapi kan ini KPI juga nggak punya kewenangan ya di sini.
12:55Tentu kewenangan ini kan ada di pihak yang berwenang kan untuk mendalami lebih lanjut.
13:00Apakah pada anak yang mengalami misalnya nggak punya peralatan sekolah,
13:07bagaimana support system yang ada di lingkungan di statuan pendidikannya
13:11mendukung untuk tetap nggak masalah, nggak punya bullpen yang penting tetap misalnya ya.
13:16Bisa pinjam aja punya kuah atau ubrinya melihat itu.
13:19Atau sebaliknya gitu ya.
13:21Sebaliknya itu saya juga belum tahu kondisi yang sebenarnya di sana ya.
13:26Maksud saya apakah kemudian ketika ada teman yang mengalami kekurangan dalam beberapa hal gitu,
13:32ini mendapatkan support dari teman-temannya atau justru sebaliknya.
13:38Kita kan sering dengar ya hari ini kasus-kasus banyak sekali bully di sekolah, di satuan pendidikan gitu ya.
13:44Pada beberapa anak kadang-kadang faktor kemiskinan itu menjadi salah satu bully gitu ya.
13:49Faktor ekonomi juga menjadi salah satu hal yang kemudian menjadi bullian di satuan pendidikan.
13:56Nah, ini kan tentu juga perlu didalami.
13:59Kemudian juga tentu saya sering sampaikan bahwa hari ini rasa-rasanya memang nggak bisa kita membiarkan proses di sekolah itu
14:11hanya melulu fokus pada bagaimana proses belajar itu berjalan.
14:17Tanpa memperhatikan terkait dengan kondisi atau faktor psikologis anak yang ada di sana.
14:23Kan ini ada beberapa kasus nih yang saya kira menunjukkan betapa pentingnya nih faktor psikologis itu menjadi salah satu yang tidak boleh diabaikan ya ketika anak berada di satuan pendidikan.
14:38Kita bahas satu-satu soal ini.
14:39Tadi soal faktor kemiskinan misalnya.
14:41Saat bicara soal kondisi dalam satu rumah, satu lingkuan rumah, untuk cara mendidik atau parenting di kondisi normal dengan kondisi kemiskinan ekstrim tentu tidak bisa apple to apple.
14:56Termasuk dalam kasus ini.
14:58Betul banget.
14:59Nah bagaimana kita melihat kemiskinan ekstrim ini jadi salah satu faktor pemicu sehingga baik itu dari sisi ibunya maupun anaknya tidak punya kanal yang tepat untuk menyalurkan emosinya, menyalurkan bebannya secara psikis.
15:16Kita akan bahas ini usah jeda tetap bersama kami di Rosi.
15:29Terima kasih.
Komentar