KOMPAS.TV - Seorang bocah di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal diduga bunuh diri di kebun milik neneknya.
Korban juga meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
Surat yang ditulis tangan itu ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Bocah 10 tahun diduga bunuh diri, meninggalkan duka sekaligus pertanyaan bagi banyak orang tua dan kita semua.
Untuk memahami bagaimana keluarga dan lingkungan dapat lebih peka pada kondisi anak, kita berbincang dengan Sani Budiantini Hermawan, psikolog anak, remaja, dan keluarga.
#bocahsd #ngada #psikolog
Baca Juga Kisah Haru Bocah SD Bongkar Celengannya untuk Bantu Korban Banjir Sumatera | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/635582/kisah-haru-bocah-sd-bongkar-celengannya-untuk-bantu-korban-banjir-sumatera-kompas-siang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/648383/siswa-diduga-bunuh-diri-karena-tak-mampu-beli-buku-pena-psikolog-negara-ikut-bertanggung-jawab
Korban juga meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
Surat yang ditulis tangan itu ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Bocah 10 tahun diduga bunuh diri, meninggalkan duka sekaligus pertanyaan bagi banyak orang tua dan kita semua.
Untuk memahami bagaimana keluarga dan lingkungan dapat lebih peka pada kondisi anak, kita berbincang dengan Sani Budiantini Hermawan, psikolog anak, remaja, dan keluarga.
#bocahsd #ngada #psikolog
Baca Juga Kisah Haru Bocah SD Bongkar Celengannya untuk Bantu Korban Banjir Sumatera | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/635582/kisah-haru-bocah-sd-bongkar-celengannya-untuk-bantu-korban-banjir-sumatera-kompas-siang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/648383/siswa-diduga-bunuh-diri-karena-tak-mampu-beli-buku-pena-psikolog-negara-ikut-bertanggung-jawab
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Kita beralih ke informasi lain, saudara.
00:03Seorang bocah di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur,
00:07ditemukan meninggal, diduga bunuh diri di kebun milik neneknya.
00:11Korban juga meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
00:14Surat yang ditulis tangan itu ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
00:20Dalam suratnya, belajar kelas 4 sekolah dasar itu pamit
00:24dan minta agar sang ibu merelakan kepergiannya,
00:27tidak menangis atau mencarinya.
00:30Sehari-hari, korban tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun,
00:35sementara ibunya tinggal terpisah.
00:38Dari hasil pemeriksaan polisi, sebelum ditemukan meninggal,
00:42korban meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen.
00:46Namun perempuanan itu tidak terkabul karena sang ibu tidak memiliki uang.
00:50Kalau keseharian yang kami tahu ini tetangga,
00:57ini anak ini tidak tahu lagi mungkin dia juga terasa beban kehidup terlalu tinggi.
01:04Kena tiap hari.
01:05Ya, pola sekolah itu lapar.
01:14Saudara, berita tadi tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri.
01:19Jika Anda atau orang-orang yang Anda kenal pernah memikirkan atau merasakan keinginan untuk bunuh diri
01:26dan mengalami krisis emosional,
01:28maka jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.
01:33Ya, dan Saudara, Polda NTT mendalami motif bunuh diri bocah di Kabupaten Ngada.
01:39Polisi telah mendatangi keluarga korban dan memberikan pendampingan psikologis.
01:43Dan dari hasil penyelidikan awal,
01:44anak kelas 4 itu sempat meminta dibelikan buku dan pulpen kepada ibunya.
01:50Permintaan itu tidak dapat terpenuhi karena sang ibu tidak memiliki uang.
01:55Saya sudah memerintahkan Kapolres hari ini langsung menuju ke rumah duka.
02:00Untuk memberikan bantuan, baik bantuan material maupun pembinaan pendampingan mental.
02:09Psikologi kita sudah mengirim juga psikolog maupun konsulor
02:12untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
02:16Kita harapkan kita juga bisa membantu meringankan kesulitan dari mereka.
02:23Untuk sementara dari hasil penyelidikan awal, dari hasil olah TKP demikian.
02:29Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan keprihatinan mendalam
02:46atas kasus meninggalnya seorang siswa SD di Kabupaten Nga dan Nusa Tenggara Timur
02:51yang diduga bodoh diri.
02:53Menswas menegaskan kejadian ini menjadi alarm bagi pemerintah
02:57untuk memperkuat pendampingan dan pemutahiran data keluarga dengan kemiskinan ekstrim.
03:02Tentu kita prihatin dulu ya dan turut berduka.
03:07Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama.
03:13Ya tentu bersama pemerintah daerah.
03:16Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita.
03:21Ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata.
03:25Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data.
03:30Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin
03:34sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga
03:38yang memang memerlukan perlindungan,
03:41memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan.
03:44Ya, jadi itu sampai di situ dulu dan ini
03:46sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama.
03:49Anak 10 tahun diduga bunuh diri, meninggalkan duka,
03:55sekaligus pertanyaan bagi banyak orang tua dan kita semua.
03:58Untuk memahami bagaimana keluarga dan lingkungan dapat lebih peka
04:02pada kondisi anak, kita berbincang dengan Sani Budiantini Hermawan,
04:06psikolog anak, remaja, dan keluarga.
04:09Selamat siang Ibu Sani dengan Bella di studio.
04:13Selamat siang.
04:14Ibu Sani dari Kacamata Psikologis Anak,
04:17Sebenarnya apa yang mendorong anak 10 tahun
04:20mengakhiri hidupnya sendiri,
04:22bahkan sempat-sempatnya nulis semacam pesan perpisahan gitu
04:26untuk ibunya, Bu Sani?
04:29Iya, saya pertama-tama ingin mengumumkakan
04:33bahwa kasus ini adalah kasus yang sangat memprihatinkan
04:36dan mari kita pelajari bagi kita orang dewasa yang memiliki anak juga.
04:39Dan pertanyaan tadi,
04:41apa faktor yang membuat anak bisa menghabisi nyawanya?
04:43Memang ada beberapa faktor yang bisa muncul.
04:45Salah satunya faktor depresi,
04:48faktor bullying,
04:49faktor tekanan ekonomi.
04:51Dan yang jelas di sini adalah
04:52bagaimana ketidakpekaan orang tua terhadap keadaan emosi anak
04:56itu menjadi gerbang yang sangat menyakitkan anak,
05:00membuat anak merasa terabaikan,
05:01tidak dihargai.
05:03Mungkin ada rasa malu,
05:04dan akhirnya dia frustrasi,
05:06dan lebih baik akhirnya mengakhiri hidupnya.
05:09Seperti itu.
05:09Mbak Sani,
05:11ini kalau kita lihat,
05:13kalau di Kabupaten Ngada ini,
05:14dia diketahui kan tinggal terpisah dengan ibunya,
05:17dia tinggal dengan neneknya.
05:20Ada keterbatasan ekonomi di situ.
05:22Kepala desa bilang,
05:23anak ini sering ngelapar gitu.
05:25Bagaimana sebenarnya kondisi,
05:27terutama kondisi ekonomi keluarga,
05:29bisa mempengaruhi perasaan seorang anak?
05:32Iya, betul.
05:34Faktor ekonomi juga salah satu yang membuat anak itu
05:37menjadi merasakan ketidakbahagiaan, ketidaksejahteraan.
05:42Kadang-kadang anak juga bisa membandingkan.
05:44Kok saya seperti ini?
05:45Kok anak lain tidak?
05:46Nah, itu sebenarnya.
05:47Kemiskinan itu membuat seorang anak juga menjadi terpuruk secara perasaan,
05:51dimotivasi, merasa putus asa.
05:55Bahkan kalau kita lihat,
05:56keluarga-keluarga yang dalam taraf kemiskinan,
05:59itu terkadang kurang berdialog.
06:01Karena kan prioritas kehidupannya adalah
06:04bagaimana memenuhi kehidupan dasarnya dulu nih.
06:07Boro-boro untuk membuat,
06:08apa namanya,
06:09waktu atau ruang berkomunikasi,
06:11memahami emosi anak, dan sebagainya.
06:13Nah, makanya di sini,
06:14kalau kita ngomong kemiskinan,
06:16berarti bukan masyarakat saja yang bertanggung jawab,
06:19tapi juga pemerintah juga ikut harus
06:20bagaimana memerintaskan kemiskinan.
06:23Sehingga anak yang mustinya adalah generasi penerus,
06:27tidak menjadi korban.
06:28Karena adanya kemiskinan yang tidak terberantas,
06:31tetapi akhirnya menimbulkan korban pada anak yang
06:33luar biasa melukai perasaan anak,
06:37menimbulkan trauma.
06:38Dan akhirnya tadi,
06:39tidak menjadikan anak itu sehat secara mental,
06:42dan akhirnya bisa jadi mengakhiri hidupnya.
06:44Tadi sempat menyinggung soal bagaimana peran negara.
06:48Nah, kalau kita lihat lagi,
06:51sebenarnya anak ini sudah mengalami
06:54masalah kemiskinan ekstrim seperti itu.
06:57Tadi ada statement bahwa
06:59kepala desa sebenarnya sudah tahu
07:01kalau anak ini sering lapar.
07:03Lalu, karena keluarganya ini tidak bisa
07:06seperti memberikan bantuan secara ekonomi
07:09dan juga mental kepada anak ini,
07:11apa yang harus dilakukan pemerintah,
07:13terutama pemerintah daerah tersebut,
07:16agar anak-anak seperti ini
07:17tidak juga semakin terpuruk itu masa kecilnya.
07:23Ya, memang anak itu kan sebenarnya tanggung jawab negara
07:26ketika orang tua juga tidak mampu
07:28dalam hal ekonomi,
07:30yang dalam hal ini yang terdekat adalah
07:32pemerintah desa.
07:33Memang perlunya bagaimana pemerintah desa
07:36menggalakkan lagi mungkin apapun dipundi
07:40sumbangan yang bisa membantu,
07:43paling tidak memerantas kelaparan misalnya.
07:45Atau bagaimana juga masyarakat setempat
07:47diberdayakan juga untuk bisa berempati,
07:50aware, ya.
07:51Kemudian juga ada bantuan,
07:53sehingga tidak ada lagi pertama kelaparan.
07:56Kemudian anak yang trauma karena kelaparan.
07:58Ketiga, hal-hal seperti ini bisa terantisipasi
08:01karena sebenarnya kekurangan atau masalahnya
08:06ini bisa mudah sekali diselesaikan
08:08apabila ada yang namanya social awareness,
08:11ada empati,
08:12ada rasa tanggung jawab sosial.
08:1410 ribu itu kan sebenarnya sangat murah
08:16buat orang kalau sama-sama menyumbang
08:19dan bisa memenuhi.
08:21Di sini juga menurut saya peranan sekolah
08:22juga sangat penting.
08:24Bagaimana sekolah juga bisa memetakan
08:26mana anak-anak yang kurang, mana tidak.
08:28Dan bagaimana juga anak juga diberikan
08:30semacam keyakinan bahwa
08:33kalau dia tidak mampu,
08:34dia bisa berbicara dengan guru,
08:36dengan mungkin counselor,
08:37dan bagaimana juga bisa saling membantu.
08:40Sehingga tidak ada anak yang merasa sendiri.
08:43Saya mengalami penderitaan ini sendiri.
08:46Tidak ada yang bisa membantu.
08:47Orang tua tidak bisa.
08:48Masyarakat tidak.
08:49Sehingga anak ini menjadi lonely.
08:51Dan akhirnya muncullah emosi-emosi yang berubah.
08:56Seperti memurung,
08:57kemudian dia merasa tidak ada jalan keluar.
09:00Maka akhirnya biasanya jalan singkat adalah
09:02dia ingin menghabisi
09:03karena menurut dia itu yang paling cepat
09:05yang bisa dia lakukan.
09:06Walaupun itu dalam hal yang
09:08tidak disarankan dan tidak dibenarkan.
09:12Memang ada semacam permasalahan
09:14secara komunikasi.
09:16Karena kita banyak juga orang-orang yang
09:18berpendapat bahwa
09:19anak SD belum bisa berbicara
09:22sejujur-jujurnya mereka.
09:24Seperti itu.
09:25Nah Bu Sani,
09:26kalau di Ngada
09:27ada kasus anak SD
09:28yang diduga bunuh diri.
09:31Lalu kemarin ada
09:31seorang siswa SMP
09:33di Kalimantan Barat
09:35diduga memicu ledakan
09:36di sekolahnya.
09:38Nah,
09:39sebenarnya
09:40apa sih yang sedang terjadi
09:42pada anak-anak kita?
09:43Karena di November lalu juga ada
09:44siswa SMA di Jakarta.
09:46Apa yang terjadi sebenarnya?
09:48Bu Sani.
09:48Kalau dipukul rata ya,
09:50secara umum ini kan banyak juga
09:52anak-anak itu mendapat
09:54ilmu atau terpapar
09:57dari apa yang dia lihat.
09:59Sekarang ini kan memang
10:00media sosial segala macam
10:01itu bisa tidak mudah
10:03bagi anak itu menyaring.
10:04Ya, jadi kadang-kadang
10:05emosi yang tidak bisa diregulasi,
10:08kemudian tontonan-tontonan yang agresif
10:10itu bisa membuat anak akhirnya
10:11berpikir menjadi menyerang.
10:13Itu semata-mata sebenarnya
10:14anak ini ingin didengarkan,
10:16diperhatikan,
10:17dan ingin juga orang itu
10:19memenuhi keinginannya,
10:20begitu.
10:21Juga termasuk
10:22di sini kita katakan
10:23darurat anak,
10:24karena berarti
10:25anak juga butuh
10:26yang namanya
10:27regulasi emosi.
10:29Ketika dia sedih seperti apa,
10:30ketika dia marah seperti apa,
10:32ketika dia menginginkan sesuatu
10:34dan tidak terjadi,
10:35tidak terpenuhi,
10:36frustrasi,
10:36dan itu harus apa.
10:38Jadi memang mustinya
10:39ada pembekalan
10:40cara-cara bagaimana
10:41anak meregulasi emosi
10:43secara sehat.
10:44Baik dari orang tua yang mengajarkan,
10:46baik dari sekolah,
10:47maupun dari
10:47misalnya media-media sosial
10:49yang mengajarkan bagaimana
10:50regulasi emosi
10:50secara sehat.
10:51Karena kalau tidak,
10:52muncullah pasif agresif.
10:54Anak diam,
10:54habis itu dia menyerang.
10:55Atau dia bahkan
10:56destruktif ke dalam dirinya,
10:57menyakiti dirinya,
10:59ada suicidal thought,
11:00dan sebagainya.
11:01Nah, ini yang kita harus
11:02antisipasi bahwa
11:03kita sudah darurat
11:03anak loh.
11:04Bahwa anak sekarang
11:05mungkin tidak pandai
11:06atau tidak mampu
11:08meregulasi emosinya.
11:09Bahkan
11:09gadget yang dimainkan
11:11atau tayangan yang
11:12diserap adalah
11:13banyak hal-hal yang
11:14sifatnya instan.
11:15Menyerang,
11:16kemudian marah,
11:17atau tadi bahkan
11:18menyakiti dirinya sendiri
11:19seperti itu.
11:20Bu Sani,
11:21ini kalau kita lihat
11:22bagaimana
11:22meregulasi emosi
11:24seperti itu.
11:25Dan kalau kita
11:25tarik lagi,
11:27ini kasusnya ada
11:27anak SD,
11:28anak SMP,
11:29dan juga anak SMA
11:29yang tentu
11:31regulasi emosinya
11:32akan berbeda-beda
11:33di setiap tahapan.
11:34Apa yang harus
11:35dilakukan,
11:36baik itu orang tua,
11:37lingkungan sekitar,
11:38dan pemerintah
11:39agar semua
11:40kalangan ini
11:41paham bagaimana
11:41caranya
11:42anak-anak ini
11:43mengajarkan
11:43anak-anak ini
11:44bisa mengatur
11:47emosinya
11:47agar tidak terjebak
11:48dalam hal-hal
11:49yang merugikan
11:50banyak orang.
11:52Sebenarnya mudah
11:53sekali ya.
11:53Kita bisa buat
11:54kempen,
11:55pemerintah bisa masuk
11:56dalam tips-tips
11:57yang mudah
11:57untuk anak lakukan.
11:58Tapi yang terutama
11:59adalah orang tua
12:00harus bisa
12:01memvalidasi
12:02perasaan anak.
12:03Kadang-kadang
12:03perasaan anak itu
12:04diabaikan saja.
12:05Orang tua tidak peka.
12:06Jadi penolakan
12:07orang tua itu
12:08penolakan orang tua
12:09pada anak
12:10tidak dirasakan
12:11sebagai luka batinnya
12:12anak.
12:12Jadi anak orang tua
12:13juga biasanya
12:14tidak menghargai
12:15perasaan anak.
12:16Bahkan tadi
12:16mengabaikan,
12:19mendinai,
12:20padahal emosi itu
12:21kan ada,
12:22benar,
12:22wujudnya ada.
12:23Dan itu yang
12:24anak rasakan.
12:25Jadi seperti
12:25sebenarnya
12:27hotline service
12:28yang KPI ada
12:29itu tampil
12:30di semua
12:31dini-dining sekolah
12:32misalnya.
12:33Sehingga ketika
12:33anak ingin
12:34berjurhat,
12:35itu ada hotline service
12:36yang bisa
12:36memvalidasi,
12:38bisa memberikan
12:39ruang anak
12:39untuk berjurhat
12:40tanpa ketahuan
12:42atau tanpa
12:43diketahui
12:43siapa anak tersebut.
12:44Karena biasanya
12:45anak juga
12:45mungkin malu,
12:47mungkin takut bocor,
12:48dan sebagainya.
12:48Jadi menurut saya
12:49baik pemerintah,
12:50sekolah,
12:50orang tua
12:51bisa
12:51memberikan
12:53pembekalan
12:54anak,
12:55melakukan
12:55regulasi
12:56emosi
12:57ketika juga
12:58orang tua
12:58paham
12:59bagaimana
12:59memvalidasi
13:00anak,
13:01tersedia hotline service
13:02yang bisa
13:02dijangkau oleh
13:03anak dengan mudah
13:04dan kempen-kempen
13:05yang menyatakan
13:06bagaimana
13:08anak bisa
13:08menyalurkan
13:10emosi secara
13:11sehat.
13:11Seperti
13:12ada teknik
13:12pernafasan,
13:13ada jurnaling,
13:15ada kemudian
13:15melakukan
13:17hobi
13:17misalnya,
13:18atau
13:18misalnya
13:19melakukan hal-hal
13:19yang sementara
13:20ini adalah
13:21curhat kepada
13:23teman yang
13:23dianggap
13:24dipercaya
13:24misalnya.
13:25Hal itu juga
13:26bisa sedikit
13:27banyak mengeluarkan
13:28bongkahan-bongkahan
13:29emosi yang terpendam
13:30sehingga bisa keluar
13:31dan paling tidak
13:32bisa mengeram
13:33anak untuk
13:33tidak melakukan
13:34penyerangan
13:36atau tidak
13:37melakukan
13:37menyakiti
13:39dirinya sendiri.
13:41Yang paling penting
13:42tadi menjadi
13:43catatan juga
13:44adalah bagaimana
13:45semua pihak
13:46orang tua,
13:46keluarga,
13:47sekolah,
13:48dan juga pemerintah
13:49memvalidasi
13:50perasaan anak
13:51dan bisa
13:51berkomunikasi
13:52di situ.
13:53Terima kasih
13:54atas perbincangannya
13:55siang hari ini.
13:56Ibu Sani Budiantini Hermawan
14:00psikolog anak
14:01remaja
14:01dan juga keluarga
14:02selamat beraktifitas
14:03kembali.
14:04Selamat siang.
Komentar