00:00Saudara bencana yang menelan banyak korban serta memorak-porandakan banyak wilayah di Sumatera
00:06menggerakkan hati sepasang suami istri menjadi relawan medis
00:11untuk membantu para korban di lokasi yang masih terisolasi.
00:19Para relawan termasuk tenaga medis memantapkan langkah kaki
00:23menaiki perahu menuju salah satu dusun yang masih terisolasi
00:28akibat banjir dan longsor di Desa Lubuk Pusaka Langkahan Aceh Utara.
00:34Setelah menyusuri sungai menggunakan perahu,
00:38para relawan masih harus berjalan kaki dengan waktu tempuh berjam-jam lamanya
00:43hingga sampai di lokasi pengungsian.
00:47Di antara para relawan ada sepasang suami istri
00:49yang berprofesi tenaga medis ikut menembus desa terisolasi demi memberi bantuan.
00:56Para relawan yang tiba di pengungsian saat hari sudah gelap
01:00disambut antusias para pengungsi.
01:02Bencana di Sumatera menggerakkan hati para relawan melahirkan kepedulian
01:26menolong para penyintas bencana.
01:29Medan yang terjal tak menyurutkan tekat
01:32membawa bantuan yang diperlukan korban bencana.
01:37Zikri Maulana, Kompas TV Aceh Utara, Aceh.
01:44Saudara perjuangan tenaga medis hingga berhasil menembus lokasi terisolir di Aceh.
01:50Kita akan berbincang bersama relawan medis.
01:54Pasangan suami istri, ada dokter, ibu Nelly Sayanti dan juga seorang perawat.
02:00Ada Bapak Muhyibudin. Selamat malam, Bapak Ibu. Apa kabar?
02:08Alhamdulillah sehat.
02:10Alhamdulillah sehat. Kami turut senang mendengarnya dan terima kasih
02:13sudah memberikan cerita inspiratif kepada kami
02:16penolongan yang tiada gentar dalam menyelamatkan nyawa manusia
02:21di saat Bapak Ibu sendiri juga merupakan keluarga yang menjadi korban bencana.
02:26Sebelum kita bicara soal bagaimana cerita untuk bisa menembus ke lokasi yang terisolasi,
02:32Pak Bu, mungkin saya bisa diberikan informasi.
02:35Masyarakat juga penasaran.
02:36Apa yang menjadi latar belakang tekad untuk berusaha menembus tempat yang terisolasi,
02:44menyembuhkan warga di sana?
02:50Baik, sebelumnya yang kelangkahan pada hari Rabu 10 Desember kemarin
02:58itu perjalanan kami yang kedua setelah kami melakukan perjalanan yang 4 Desember hari Kamis 2025.
03:09Jadi untuk perjalanan yang kedua ini kelangkahan,
03:13memang sudah rencana setelah perjalanan pertama kemarin.
03:19Karena ada titik-titik lokasi yang pada saat perjalanan pertama
03:22belum bisa kami tempuh, belum akses ke sana dengan jalan yang penuh rintangan
03:28dan waktu tempuhnya pun sangat jauh.
03:33Selanjutnya keadaan setelah malam itu kami tidak bisa melakukan lagi
03:38ke titik lokasi yang baru bisa kami melakukan hari Rabu kemarin.
03:42Ke Desa Kebuk Pusaka, Dusun Bidari, Sarah Raja, dan Tanah Mirah.
03:50Jadi kami ingin dari hati ya, hati kami yang di dalam
03:59ingin membantu warga di sana yang memang sangat-sangat membutuhkan
04:05dari segi medisnya, pengobatan, dan juga untuk logistiknya
04:13seperti beras dan pakaian, serta mungkin untuk bisa dari
04:22misalnya dari sandal-sandal yang belum ada di sana tersedia.
04:27Ibu, ini kan kalau melihat situasi atau medan tempat Ibu datangi
04:32di gambar Kompas TV ini juga terlihat jalanan rusak, jembatan putus,
04:37kemudian masalah listrik mati, ini kok bisa kuat begitu Ibu untuk menembus medan seperti ini?
04:46Boleh saya tambahkan sedikit.
04:48Boleh.
04:49Setelah berembuk kami sebenarnya semua ini berawat dari Kecamata Simpang Kerawat
04:57yang sangat-sangat beda satu kabupaten dengan langkahan.
05:01Jadi seperti ditekan tadi, tanggal 4 yang untuk kunjungan pertama,
05:06kunjungan kedua kami, tanggal 10 kemarin,
05:09tekat kami karena mendengar di beberapa dusun di desa langkahan yang sama sekali belum.
05:18Jadi kesepakatan dari Andalta KPA Simpang Keramat,
05:23termasuk Pangeraja dan beberapa kawan lainnya,
05:25kita malam pun harus bergerak, harus sampai sayang saudara kita di sana yang sama sekali,
05:33belum ada yang mengunjungi dalam hal kesehatan.
05:35Jadi dengan tekat Bismillah, kami sampai ke sana, di titik awal sampai ke sana,
05:42kemarin jam 3 sore, itu titik pertama di Bidari, di Dusun Bidari.
05:50Begitu, Ibu dengan jalan tempuh yang kami harus turun mendorong mobil dan banyak lagi rintangan,
05:58cuma karena tekat dari awal kita dititakan,
06:01mudah-mudahan semua tim dari kami kesehatan juga masyarakat Simpang Keramat juga masih semangat
06:07dengan saudaranya yang lagi musibah.
06:12Begitu, Ibu.
06:14Iya, tapi Bapak Ibu kan juga punya keluarga di rumah.
06:17Ini berarti kan mereka harus ditinggalkan dengan waktu yang lama.
06:19Padahal Bapak Ibu juga dikatakan di sini sebagai korban.
06:23Bagaimana ini, Pak, untuk membagi waktu dengan fokus terhadap keluarga,
06:28sementara juga fokus terhadap profesi dengan pergerakan hati menyembuhkan mereka?
06:36Memang ya, di keadaan yang seperti ini, memang kita harus ada pilihan.
06:42Memang sangat sulit ya, maksudnya pilihan untuk dengan keluarga dan pilihan untuk profesi.
06:49Jadi pada saat ini mungkin kami lebih prioritaskan ke profesi kami.
06:57Memang ya, yang harus kami tinggalkan, orang tua, anak-anak dengan waktu yang begitu lama.
07:02Tapi apapun keadaannya, kami memang sudah dekat, berniat,
07:08tim medis dan warga Kecamatan Simpang Keramat ingin membantu masyarakat yang ada di Kecamatan Langkaan.
07:15Karena keadaan mereka lebih parah dari kami yang di Kecamatan Simpang Keramat.
07:21Kalau yang di Kecamatan Simpang Keramat, memang ada dampak banjir untuk beberapa desa,
07:26tapi tidak merusak bangunan seperti bangunan rumah.
07:31Kalau di Kecamatan Simpang Keramat, hanya terendam banjir dan Alhamdulillah sudah teratasi.
07:37Pengusinya sudah balik ke rumah.
07:39Tapi kalau misalnya di Kecamatan Langkaan, memang sama sekali bangunan rumahnya hancur,
07:45tidak ada lagi tempat tinggal.
07:46Dari situlah kami bertekad dari tim medis Kecamatan Simpang Keramat,
07:52yang didukung oleh KPA Simpang Keramat, Pangraja,
07:55dan Dewan dari Kecamatan Simpang Keramat,
07:59dari Partai Aceh, Bapak Muhammad Rami.
08:01Kami bergerak dengan niat yang ikhlas,
08:06untuk membantu warga di Kecamatan Langkahan.
08:11Jadi kami harus memilih.
08:12Memilih di sini, walaupun sangat sulit,
08:15tapi tetap harus ada yang kita prioritaskan.
08:18Pasal ini kami prioritaskan untuk profesi kami.
08:21Dan terima kasih.
08:22Prioritasnya adalah warga korban yang sangat banyak ini,
08:26yang pastinya membutuhkan bantuan di tengah.
08:28Saat itu distribusi bantuan sangat minim.
08:30Bu, ketika pertama kali sampai di lokasi pengungsian di Langkahan Aceh Utara,
08:36gimana kondisi warga di sana, Bu, saat itu?
08:41Untuk kondisi warga memang sangat mempriotinkan,
08:45karena yang pertama rumah, tempat tinggal mereka sudah tidak ada lagi.
08:52Namun masih ada juga masyarakat yang mungkin ya,
08:57untuk membahagiakan diri sendiri,
09:00mereka masih bisa bersyukur.
09:01Artinya rumah yang hilang, rumah yang rusak,
09:04tapi dia masih selamat.
09:06Jadi keadaannya memang sangat memperhatikan,
09:08memprihatinkan.
09:11Karena memang tempat tinggal yang utama sudah tidak ada lagi.
09:16Hancur semua rumah untuk mereka tinggalin.
09:19Baik, Bapak Muhyibudin melihat situasi hingga saat ini,
09:25sebenarnya bantuan apa saat ini,
09:29apalagi yang masih dibutuhkan oleh mereka?
09:34Sebenarnya bantuan yang mereka butuhkan yang pertama sekali,
09:38logistik.
09:39Cuma logistik ada sebeberapa yang sudah datang ke sana.
09:41Yang kedua, mereka sangat membutuhkan seperti ceritakan sama Ibu Dokter,
09:46yaitu obat-obatan.
09:47Dengan kemarin kami turun ke sana,
09:49dengan obat seadanya,
09:51hasil dari sumpang swadaya masyarakat,
09:53alhamdulillah mereka sangat-sangat senang,
09:57ada yang mengunjungi.
10:00Terlalu air bersih,
10:05terpal tempat untuk tidur.
10:09Karena semua sekali tidak ada terpal,
10:10jadi mereka ada yang mengalahkan,
10:12masih alas dengan tanah.
10:14Jadi mereka di sana sangat mengharapkan ada terpal dan kelambu.
10:19Kelambu untuk,
10:20karena banyak balita-balita yang terpapar langsung,
10:23dengan alam bebas.
10:25Jadi begitu Ibu.
10:26Baik, air bersih, terpal hingga kelambu.
10:30Ini yang dibutuhkan oleh warga langkahan di Aceh Utara.
10:34Terima kasih sudah berbagi cerita bersama kami di Kompas Malam Kompas TV.
10:38Salam sehat selalu untuk Bapak Muhyibudin dan juga Ibu Nelly Sayanti.
10:43Terima kasih.
Komentar