- 5 bulan yang lalu
- #spbuswasta
- #bbm
- #dpr
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sudah tiga pekan SPBU swasta tak kunjung mendapat pasokan BBM dan menyebabkan banyak SPBU swasta sepi pembeli.
Yang terbaru, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia malah mengusulkan agar SPBU swasta membeli stok BBM murni ke Pertamina.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik kosongnya stok BBM selama berminggu-minggu? Malam ini akan kita bahas lebih dalam dengan dua narasumber kami:
Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI Fraksi Golkar dan Tulus Abadi, Ketua Forum Berdaya Indonesia.
Baca Juga Polemik Kosongnya BBM di SPBU Swasta: Pengamat Sebut Bentuk Monopoli, DPR Akan Panggil Bahlil di https://www.kompas.tv/nasional/618398/polemik-kosongnya-bbm-di-spbu-swasta-pengamat-sebut-bentuk-monopoli-dpr-akan-panggil-bahlil
#spbuswasta #bbm #dpr
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/618402/stok-bbm-di-spbu-swasta-kosong-3-pekan-dpr-fraksi-golkar-pengamat-ungkap-hal-ini
Yang terbaru, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia malah mengusulkan agar SPBU swasta membeli stok BBM murni ke Pertamina.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik kosongnya stok BBM selama berminggu-minggu? Malam ini akan kita bahas lebih dalam dengan dua narasumber kami:
Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI Fraksi Golkar dan Tulus Abadi, Ketua Forum Berdaya Indonesia.
Baca Juga Polemik Kosongnya BBM di SPBU Swasta: Pengamat Sebut Bentuk Monopoli, DPR Akan Panggil Bahlil di https://www.kompas.tv/nasional/618398/polemik-kosongnya-bbm-di-spbu-swasta-pengamat-sebut-bentuk-monopoli-dpr-akan-panggil-bahlil
#spbuswasta #bbm #dpr
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/618402/stok-bbm-di-spbu-swasta-kosong-3-pekan-dpr-fraksi-golkar-pengamat-ungkap-hal-ini
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Ya, sudah tiga pekan SPBU swasta tak kunjung mendapat pasokan BBM dan menyebabkan banyak SPBU swasta sepi pembeli.
00:07Dan yang terbaru, Menteri SDM Bahlila Hadalia malah mengusulkan agar SPBU swasta membeli stok BBM murni ke Pertamina.
00:15Apa sebenarnya yang terjadi di balik kosongnya stok BBM selama berminggu-minggu?
00:19Malam ini kita akan bahas lebih dalam dengan dua narasumber kami.
00:23Ini ada Bambang Patijaya, Ketua Komisi 12 DPR RI, Fraksi Golkar, dan Tulus Abadi, Ketua Forum Berdaya Indonesia.
00:30Selamat malam Pak Bambang, selamat malam Pak Tulus.
00:32Selamat malam.
00:32Sebelum saya ke Pak Bambang, saya ke Pak Tulus dulu.
00:35Pak Tulus ini selama dua pekan setidaknya BBM di SPBU swasta kosong.
00:42Apakah ada hak-hak konsumen yang dilanggar soal ini? Ada apa Anda lihat?
00:45Ya tentu saja, karena kan di dalam proses transaksi jual-beli kan konsumen harus mendapatkan satu kenyamanan.
00:54Baik dalam konteks barang ataupun jasa dan di sini ketika kita mau membeli dan tidak ada kan tentu akan merasa dikecewakan dan dirugikan.
01:04Tapi memang dalam hal ini konsumen juga mesti punya hak pilih dan juga harus tahu duduk persoalannya.
01:12Kenapa kemudian ini mengalami kekesongan?
01:16Karena kan sebenarnya kalau tadi dikatakan Pak Bahlil, saya kira kalau pemerintah sudah memberikan kuota 110% dan sekarang sudah habis, ya sudah itu kan risiko korporasi.
01:29Jadi, artinya kalau korporasi konsisten untuk melayani konsumennya, ya dia harus stok baru dong, agar konsumennya terlayani kembali dan tidak mengecewakan konsumen.
01:39Kalau mau nambah stok baru, mereka harus izin dulu dari pemerintah Pak?
01:41Ya, ini kan semua memang harus ada izinnya.
01:44Tadi kan gini, kuotanya sudah diatur kan 110%, nah sudah habis.
01:49Nah, mengapa habis itu juga diusut?
01:51Kenapa sudah habis dan mau minta lagi gitu loh?
01:54Karena kan semua harus ada kuota, karena 110% ini ketika habis, ya harus mencari jalan keluar yang lain.
02:02Kalau SPBU swasta memang konsisten ingin melayani konsumennya dengan produk yang dia jual.
02:09Nah, ini yang saya kira saya melihat dari sisi korporasi begitu.
02:13Nah, kalau kemudian, ini kan saya menduga, beberapa kali isu ini terus dikoreng ya.
02:23Dalam waktu dekat mungkin awal tahun lalu.
02:25Dan saya melihat ini kayak ada perang dagang.
02:28Perang dagang?
02:28Antara?
02:29Ya, antara SPBU swasta khususnya ya, yang merasa ingin tadi merebut pasar.
02:36Merebut pasar karena pasarnya sudah dianggap baik gitu.
02:42Nah, kenapa habis?
02:43Saya menurut logika saya dan juga data yang saya peroleh,
02:47Karena ini kan selama dalam kasus kemarin ada kasus oposan gitu ya,
02:52yang menimpa BBMnya Pertamina, itu kan kemudian ada migrasi ke SPBU swasta yang cukup signifikan.
03:00Nah, migrasi itulah yang tidak diantisipasi oleh SPBU swasta.
03:05Yang kemudian sudah dikasih stok 10% dari 100 tadi menjadi 110%,
03:11harusnya kan sangat cukup kalau memang bisnis plannya terkelola dengan baik dan sudah dimitigasi.
03:19Nah, ini kan ada proses migrasi yang signifikan, kemudian stoknya habis, mau minta lagi.
03:25Ya, silakan.
03:26Tapi kalau minta lagi tentu dengan prosedur yang berbeda,
03:29yang mungkin lebih mahal dibanding prosedur biasanya.
03:32Seperti yang dikawarkan oleh Menteri Bahlil, begitu ya maksud Anda?
03:35Ya, saya kira itu ada logikanya ya.
03:37Karena kan BBM ini kan dikelola dengan dasar hajat hidup berang banyak dan konstitusi gitu.
03:44Oke, baik saya ke Pak Bambang.
03:45Pak Bambang, 3 pekan BBM di SPBU swasta itu kosong.
03:49Sebenarnya tadi yang disampaikan oleh Pak Tulus juga,
03:51kita mau tahu sebenarnya, duduk perkara awal kenapa bisa terjadi seperti swasta kayak meleset hitungannya,
03:58terus kemudian tampaknya swasta juga tidak mengingatkan tawaran dari pemerintah?
04:02Nah, ini kan saya melihat ini terkait dengan proses bisnis ya.
04:08Sebetulnya semua badan usaha swasta yang pemain SPBU ini,
04:16mereka itu sebetulnya kan harus punya rencanaan bisnis.
04:21Kemudian juga terkait dengan kuota impor mereka,
04:24ini kan mereka sendiri yang mengajukan kepada pemerintah.
04:28Lalu kemudian secara umum ini kan ada 5 badan usaha yang diberikan,
04:32apa namanya, kuota impor.
04:34Mereka sendiri yang mengajukan.
04:35Lalu kemudian ini dimasukkan di dalam neraca komoditas negara.
04:40Jadi ini terencana, terencana dengan baik.
04:42Mereka yang mengajukan, kemudian disetujui,
04:45dimasukkan dalam neraca komoditas bensin namanya.
04:49Nah, lalu kemudian diberikan lagi kestimewaan,
04:51mereka boleh menambah 10%.
04:54Nah, kalau saya lihat ini,
04:56senada dengan yang disampaikan Pak Tulis,
04:58ini mungkin apakah SPBU ini keasikan dia,
05:01ya kan sehingga situasinya seperti ini.
05:04Tetapi yang jelas adalah memang di satu sisi pelainan kepada masyarakat,
05:08walaupun ini adalah merupakan barang komersil,
05:11bukan barang subsidi, ya.
05:13Tetapi, ya, kita tetap harus mengatur itu.
05:16Nah, saya pikir win-win itu sudah diberikan.
05:18Nah, saya cek tadi kepada Dirjen Migas.
05:22Ini gimana progresnya?
05:23Kan ada ide dari Pak Menteri,
05:24terkait dengan bagaimana kuotanya sudah habis ini,
05:28lalu mereka boleh,
05:30apa namanya, pengadaan BBM-nya,
05:34melalui Pertamina,
05:36dalam hal ini Patra Niaga.
05:37Apa yang diambil?
05:39Ada dua tawaran, kan.
05:40Pertama, apakah itu final product?
05:43Yang kabarnya mereka belum setuju, nih.
05:45Tapi kalau base fuel, oke.
05:47Tapi jangan terlalu lama.
05:48Maksud kami itu kan begini.
05:50Ini para badan usaha swasta,
05:53jangan ngulur-ngulur.
05:54Jangan kemudian pada akhirnya,
05:56ini menjadi terlalu gaduh.
05:58Karena barang ini sebetulnya,
06:00mereka ini kan cuma hadir,
06:01cuma ada di kota-kota besar saja.
06:03Oke, Pak Bambang,
06:04kalau saya potong,
06:05artinya pihak swasta sudah mengiakan
06:07untuk membeli base fuel ke Patra Niaga?
06:10Mereka baru menyatakan ketertarikan.
06:13Tetapi saya cek lagi,
06:15saya cek tadi ke Dirjen Migas,
06:17dan juga kepada Patra,
06:19termasuk kuota untuk kebutuhan pun
06:20mereka belum sampaikan.
06:23Jadi ini kan kita jangan terlalu berlama-lama.
06:26Segera saja,
06:26jangan kemudian seolah-olah situasi ya,
06:28dibenturkan antara pemerintah
06:30dengan konsumen masyarakat.
06:31Jangan.
06:32Udah putusin aja.
06:33Ya, negosiasi saja.
06:34Karena ini base fuel,
06:36nanti keuntungannya apa?
06:37Mereka tinggal memblend it,
06:40itu dengan Z-additif yang merupakan kekhususan.
06:45Sehingga itu memang betul-betul menjadi produk mereka.
06:47Oke, tapi kalau dalam kasus seperti ini,
06:49Pak Bambang,
06:50yang namanya konsumen,
06:51sekali lagi kan harusnya punya pilihan.
06:52Kenapa mereka memilih ke Shell,
06:54misalnya bukan ke Pertamina,
06:55itu biasanya kan mereka punya pertimbangan.
06:57Kalau kondisi seperti ini,
06:58bukankah seperti mengabaikan kebutuhan dari konsumen?
07:00Ya, saya pikir begini,
07:02kita kan sekali lagi tidak mengabaikan juga
07:04kesempatan daripada SPBU swasta tersebut
07:07untuk pengadaan mereka.
07:09Tetapi ini kan persoalan cara.
07:10Caranya adalah silakan,
07:12base fuel yang merupakan bahan baku,
07:14ini sama standar,
07:15RON 92,
07:16RON 98,
07:18RON 95,
07:19ini sama.
07:20Tinggal beli saja melalui Patra,
07:23tinggal runding saja harganya,
07:25yang tidak merugikan konsumen.
07:26Ini kan persoalan proses bisnis.
07:28Legawa saja,
07:29maksud saya,
07:30jangan kemudian gara-gara ini,
07:32sorry ya,
07:32seolah-olah nanti pemerintah dibenturkan dengan masyarakat.
07:35Jangan,
07:35udah,
07:36ini proses bisnis.
07:37Ataukah mungkin begini,
07:38Pak Bambang,
07:39kita tahu yang namanya bisnis kan
07:41maunya untungnya gede.
07:42Nah ini kalau beli di Patra Niaga,
07:44mungkin kemahalan,
07:45mungkin atau gimana,
07:46atau mungkin ada kebijakan tertentu,
07:47bisa hitung-hitungan biaya,
07:50supaya nggak lebih mahal,
07:50jadinya harga jualnya mereka mungkin ke pasar.
07:53Betul,
07:53saya pikir ini kan juga menjadi satu momentum.
07:56Kita juga mendesak,
07:57segera,
07:58udahlah,
07:59ini,
07:59apa,
08:00SPBU swasta,
08:01nego yang cepat lah.
08:02Oke.
08:03Dengan Patra.
08:04Yang penting ini win-win lah.
08:05Seperti itu.
08:06Jangan kemudian situasi ini digoreng.
08:07Ingat,
08:08bahwa SPBU swasta ini,
08:09market share-nya cuma 6%
08:11dari kebutuhan nasional kita.
08:12Ya,
08:13jadi,
08:14memang mereka ada di kota besar,
08:16tapi jangan kemudian ini menjadi gaduh.
08:18Tapi kita dengan tidak ingin mengabaikan juga,
08:20apa namanya,
08:21apa yang menjadi harapan masyarakat.
08:25Yang memang mungkin misalnya,
08:26menjadi loyalis merek tertentu misalnya.
08:29Itu terbuka,
08:30kita tidak ada masalah.
08:31Cuma jangan juga berlama-lama,
08:33runding saja dengan Patra selesai kok.
08:35Jadi kebutuhan mereka terhadap produk mereka,
08:37tidak terganggu penyediaannya,
08:39speknya juga tetap spek mereka.
08:41Oke.
08:42Baik, Pak Tulus,
08:43kegaduhan berlarut-larut,
08:44bagaimana melihat tanggapan dari pemerintah
08:46mengatasi masalah ini?
08:47Dan meredam kekhawatiran dari konsumen?
08:50Ya, pertama,
08:52mestinya kan ini aksi korporasi ya.
08:54Harusnya pihak pengusaha swasta tadi
08:56juga memberikan penjelasan yang clear
08:58kepada masyarakat terkait dengan
09:00duduk persoalan yang terjadi.
09:02Ada apa sebenarnya?
09:03Baik di bisnis akhirnya,
09:04maupun dari hulunya.
09:06Kenapa kemudian terjadi seperti ini
09:07dan solusi yang harus dilakukan seperti apa?
09:09Karena kan negara sudah hadir
09:11dengan adanya misalnya SBBU Pertamina
09:13yang begitu banyak.
09:14Kemudian ada SBBU swasta.
09:17Silakan semua sudah diberikan
09:18satu regulasi yang cukup clear ya.
09:20kan kalau ada klaim bahwa ini monopoli,
09:25tidak.
09:25Karena kan Undang-Undang Migas
09:27sudah jelas mengatur adanya privatisasi,
09:30adanya SBBU Pertamina,
09:32ada SBBU swasta,
09:33juga berbagai merah.
09:34Itu kan bukti tidak ada monopoli.
09:37Jadi, kalaupun monopoli,
09:38kan monopoli yang sifatnya alamiah.
09:40Juga itu tidak masalah.
09:42Nah, sebenarnya itu yang mesti dijelaskan
09:43kepada masyarakat,
09:45kenapa ini terjadi.
09:46Dan saya kira juga kalau
09:48tadi Pak Balil berkali-kali mengatakan
09:50ini saja tidur yang banyak.
09:52Sebenarnya konteksnya kan
09:53itu juga harus jelaskan.
09:54Karena kan
09:55kebutuhan BBM nasional kita
09:58itu jauh lebih tinggi
09:58dibanding produksi nasional kita.
10:01Lifting minyak kita tidak pernah naik.
10:02Lifting minyak kita jauh dari itu kan.
10:03Kita hanya 600-an sekian ya Pak.
10:06Kemudian kebutuhan kita
10:07hampir 1,7 juta barrel.
10:09Nah, itu kan impor.
10:10Nah, kalau tidak dikendalikan,
10:12tidak ada kuota,
10:12itu nanti impornya makin jebol.
10:14Devisia kita makin terkuras
10:16dan mungkin subsidi-nya juga
10:17makin terkuras sehingga ketika
10:19swasta sudah diberikan kuota 100 persen,
10:23bahkan kemudian ada 10 persen
10:25dan semua sudah terbeli, ya sudah.
10:27Itu kan dalam konteks untuk negara
10:29agar tidak bleeding
10:30di dalam impor BBM.
10:33Ingat, devisa kita,
10:35rupiah kita habis untuk impor BBM
10:37yang setiap hari itu hampir
10:391,6 juta atau bahkan
10:421,7 juta barrel per hari.
10:44Oke, baik.
10:46Terkait dengan solusi pemerintah,
10:48justru muncul dugaan
10:49adanya monopoli pasar.
10:50Nanti kita bahas saudara,
10:51tetap bisa sampai Indonesia malam.
10:53Pak Bambang,
10:54solusi yang diberikan pemerintah
10:55justru memantik dugaan
10:57upaya monopoli pasar.
10:59Jangan, Anda?
11:00Monopoli pasar oleh siapa?
11:03Ya, dari Platmerah lah.
11:05Dari pemerintah.
11:07Sebetulnya,
11:08bagaimana kita bisa mengatakan
11:09ini monopoli atau tidak?
11:10Barang ini,
11:11urusan 6% market share
11:13dengan 94% market share.
11:16Ya.
11:16Kan memang Pertamina
11:17diberikan amanat
11:19oleh negara
11:20untuk mendistribusikan BBM
11:22termasuk yang PSO,
11:25yang bersubsidi,
11:26maupun yang non-subsidi.
11:28Pertamina punya 6 ribu lebih
11:30SPBU seluruh Indonesia,
11:32Pertashop juga 6 ribu lebih,
11:34lalu SPBU milik swasta
11:37itu total se-Indonesia
11:38tidak lebih dari 400 SPBU.
11:40Nah, maksud kami itu begini intinya,
11:43silakan ini ya,
11:44persoalan yang ada di kota,
11:47ya, ini diselesaikan lah
11:48dengan pendekatan B2B.
11:50Sebetulnya sudah diberikan solusi,
11:51bahwa mereka di dalam pengadaan
11:53untuk BBM mereka,
11:55silakan berkolaborasi bahasanya kan,
11:57dengan Pertamina,
11:58dengan Patra.
11:59Bahannya beli dari Patra,
12:01karena kenapa?
12:02Mereka punya kuota impor kan sudah habis,
12:04sudah ditambah 10% sudah habis.
12:06Silakan beli dari Patra,
12:08lalu kemudian mereka blend it sendiri,
12:10blending sendiri,
12:10dengan segala kekhususan yang ada
12:12pada zat aditif yang mereka punya,
12:14sehingga tetap keciri khasnya tidak berubah,
12:16kualitas tidak berubah.
12:17Nah, sekarang kami dorong lah ya,
12:19dua hal.
12:20Pertama,
12:21segera duduk satu meja,
12:24Dirjen Migas,
12:25dengan SPBU swasta,
12:26dan Patran Yaga,
12:28untuk menentukan kuota sampai akhir tahun
12:29sebetulnya berapa?
12:30Itu satu.
12:30Yang kedua,
12:32seolah harga,
12:32runding lah.
12:33Jangan persoalan bisnis kalian,
12:35lalu yang dikorbankan masyarakat,
12:37lalu kemudian seolah-olah pemerintah tidak aware.
12:40Oh, jangan begitu,
12:41jangan dibenturkan lah.
12:42Masuk kami itu,
12:42ini udahlah,
12:43ini hanya proses bisnis saja,
12:45jangan digoreng-goreng.
12:47Saya juga kasihan,
12:47misalkan.
12:48Digoreng-goreng?
12:49Siapa yang goreng-goreng?
12:50Nah, itulah,
12:50atur sendirilah,
12:52seperti apa bahasanya,
12:52seperti itu.
12:53Jadi,
12:54intinya,
12:55kita,
12:56jangan sampai membuat gaduh lah.
12:58Intinya poinnya seperti itu.
13:00Ini proses bisnis,
13:02kemudian jangan sampai,
13:03kemudian ada yang dibenturkan.
13:04Seperti itu.
13:05Ada pertanyaan dasar sih,
13:06Pak Bambang.
13:07Kenapa kota sosial harus diatur?
13:09Dasar hukumnya apa?
13:11Ya,
13:12tentu,
13:13ini kan barang komersil
13:14dan menguasai hidup hajat banyak orang banyak.
13:15Tentu harus diatur juga.
13:17Ingat bahwa,
13:18ini kan tentang hajat hidup orang banyak.
13:21Dan ini sudah ditentukan di dalam peraturan kita,
13:24dan ditentukan di dalam neraca komoditas barang,
13:27yaitu bensin.
13:28Ya,
13:29sudah ditentukan.
13:29Kalau enggak barang ini membanjir,
13:32bagaimana?
13:32Tetapi kalau lewat PATRA,
13:34lewat Pertamina,
13:35semua akan diatur.
13:36Itu negara.
13:37Negara.
13:38Ya,
13:38kadang-kadang itu menyakut APBN juga sih.
13:40Karena ada tugas PSO kan.
13:41Betul.
13:42Jadi,
13:42ini harus diatur.
13:44Tidak boleh bebas begitu saja.
13:45Tetapi,
13:46tentu kita dengan tidak mengabaikan
13:48kesempatan daripada swasta tersebut
13:50untuk menikmati untung.
13:52Kita tidak membatasi itu,
13:54tetapi dengan cara yang memang sudah diatur sesuai dengan regulasi.
13:58Pak Tulus,
13:59swasta itu dibatasi.
14:01Karena seperti tadi dikatakan bahwa untuk kestabilan...
14:03Sorry,
14:03diatur,
14:04bukan dibatasi.
14:04Oke,
14:05diatur.
14:05Iya.
14:06Diatur untuk kestabilan energi nasional.
14:08Betul.
14:08Ya,
14:09sebenarnya kan bukan hanya swasta.
14:12Pertamina ataupun kuota BBM untuk nasional kan memang diatur jalikan.
14:16Ya,
14:16karena ada kewajiban subsidi dan lain-lain.
14:17Ya,
14:19kan ini tadi saya katakan,
14:20impor kita sudah sangat tinggi terhadap BBM.
14:23Nah,
14:23oleh karena itu kan harus ada pengendalian ketat agar tidak semakin tinggi,
14:27tapi juga pemerintah harus berupaya menaikkan lifting dan segala macam sehingga ketergantungan impor itu bisa dikurangi.
14:35Jadi bukan hanya swasta yang dibatasi ataupun diatur,
14:38tapi konsumsi secara nasional pun kan pemerintah memang akan mengendalikan,
14:42mengatur ya,
14:42baik untuk BBM,
14:44untuk gas LPG,
14:45dan lain sebagainya.
14:46Kan ini menyangkut devisa yang sangat besar dan menyangkut kemandirian energi.
14:51Kalau kita selalu ribut soal impor yang kurang,
14:54jangankan swasta ya Pak,
14:57kalau misalnya kita rangkum beberapa kali juga terjadi kesalahan kalkulasi sehingga harus melakukan impor migas lagi,
15:02itu bolak-balik sering terjadi.
15:03Nah,
15:04soal lifting migas tadi,
15:05artinya Anda melihat pemerintah ini serius nggak sih meningkatkan lifting migas gitu,
15:10supaya mengurangi tergantung ke impor?
15:12Karena kalau mau dibatasi impor,
15:13kalau permintaannya naik kan nggak mungkin juga?
15:16Sebenarnya lifting itu juga bukan hanya dari impor,
15:19tapi juga kemampuan dalam negeri dengan kemampuan kilang-kilang yang ada kan.
15:22Nah itu,
15:23membangun kilang maksud saya?
15:24Sekarang sudah selesai atau belum,
15:26ini komisi 7 bisa,
15:27komisi 12 ini ya,
15:28bisa mengontrol itu sehingga kilang minyak sebagai infrastruktur bisa kemudian menghasilkan minyak yang kita pakai,
15:37tetapi kan tetap itu mentahnya dari luar juga kan,
15:41yang juga kita ujung-ujungnya juga masih ada impor.
15:44Pak Bambang,
15:45lifting migas kita ini tidak pernah menunjukkan yang namanya,
15:49kepuasan lah untuk kita,
15:51karena kan kebutuhannya kita dengan jumlah yang bisa disediakan itu lebih sedikit begitu.
15:58Jadi artinya kapan ini DPR Komisi 12 mungkin lebih menekankan kepada SDM aktif begitu,
16:04biar tidak ketergantungan dengan impor?
16:05Kita nggak ribut-ribut lagi nih soal hal yang kayak gini.
16:07Begini,
16:08kabar baiknya adalah di tahun 2025 ini,
16:11untuk pertama kali sejak 7-8 tahun ini ya,
16:15itu kita punya lifting minyak naik sesuai dengan asumsi makro yang ditetapkan di APBN.
16:23Jadi mendapat laporan itu sekarang sudah rata-rata sekitar 608 sampai 609 barel per hari.
16:30Asumsi makro APBN itu 605,
16:33ini satu prestasi.
16:34Jadi selama ini natural decline,
16:36ini menjadi hambatan kita.
16:38Nah ini di sektor hulu.
16:39Nah kita sudah menunjukkan komitmen di dalam bagaimana untuk mengatasi itu.
16:44Nah lalu kemudian terkait dengan apa yang kita perbincangkan saat ini,
16:49ini kan terkait dengan kebutuhan masyarakat.
16:51Nah ini variabelnya banyak lagi nih.
16:52Jadi yang jelas tentu sekali lagi sampaikan Pak Tulsi,
16:57saya sangat setuju bahwa negara ini ingin mengatur,
16:59jangan sampai impor berlebihan jebol.
17:02Harus diatur lah,
17:03jangan sampai terlalu bebas barang ini.
17:05Nah intinya itu saja.
17:06Jadi dengan upaya-upaya yang dilakukan sekarang ini,
17:09saya pikir kita ada harapan,
17:12dan memang menuju kepada bagaimana perbaikan itu semua.
17:15Jadi saya pikir persoalan ini ya itu,
17:19tentang bagaimana pengaturan saja.
17:21Ini kan Mbak, sebenarnya kan nanti kita tunggu,
17:25kan Presiden Prabowo berjanji kan,
17:27selama 5 tahun ke depan,
17:29ini sudah tinggal 4 tahun ya,
17:31itu kan ada kemandirian energi,
17:33dan juga kemandirian pangan.
17:35Nah ini 2 hal ini,
17:37kita monitor 4 tahun ke depannya,
17:39apakah kita bisa mandiri di energi,
17:42juga masalah BBM,
17:44atau juga pangan.
17:45Nah ini sangat-sangat mendasar bagi kebutuhan masyarakat 2 produk ini.
17:48Oke Pak Bambang, tapi ini singkat saja,
17:50jadi rekomendasi dari DPR, KSDM apa,
17:52karena sebenarnya per 25 Februari kemarin,
17:54Kementerian mengatur izin impor BBM,
17:57sebelumnya berlaku untuk 1 tahun menjadi 6 bulan,
17:59dan tampaknya ini yang menganggung korporasi,
18:01sehingga terjadi kelangkaan ini.
18:02Saya pikir enggak, saya cek tadi kepada Patra,
18:05pengaturan impor itu seperti ini,
18:07bahwa impor itu kuotanya 1 tahun,
18:10tetapi evaluasinya,
18:13evaluasinya per 3 bulan.
18:15Nah kemudian saya pikir,
18:16tadi saya tanya,
18:17enggak Pak, tetap masih seperti itu?
18:19Tetap, enggak ada kebaan?
18:20Evaluasi ya,
18:21jadi bukan kuotanya tetap seperti itu,
18:23dan itu dicantumkan dalam neraca komoditas.
18:26Nah jadi saya pikir,
18:28ini closing statement ya,
18:29jadi saya pikir intinya,
18:31yuk ini para SPBU swasta,
18:34segera,
18:36lo gola,
18:36jangan mikir cuan terus nih,
18:37kita terus terang nih,
18:38pelayanan kepada masyarakatnya harus diutamakan.
18:41Namanya bisnis semuanya untung Pak?
18:43Ya seperti itu kan,
18:44tetapi ingat,
18:45jangan kemudian juga dibenturkan
18:47antara pemerintah dengan masyarakat.
18:49Selama ini,
18:50ini udah baik,
18:51ya kan kuota sudah diberikan,
18:53tambah lagi 10%,
18:54silakan.
18:55Kalau untuk sisa tahun berjalan,
18:57itu dibicarakan dengan,
18:59kemudian best fuelnya,
19:01tinggal dirundingkan harganya berapa,
19:03lalu mereka blending,
19:04dan jual kepada masyarakat,
19:05melalui tenan-tenannya.
19:07Oke, kita berharap?
19:08Ya saya set point,
19:09bahwa kepercayaan masyarakat,
19:11bagi konsumen harus dikembalikan,
19:13baik oleh SPBU swasta,
19:14ataupun juga SPBU pertamina.
19:16Artinya ini juga harus menjadi,
19:18dua-duanya harus melakukan rebranding.
19:20Jangan sampai,
19:22kepercayaan itu hilang,
19:23karena kasus-kasus seperti ini,
19:24baik itu untuk swasta,
19:26ataupun juga pertamina.
19:27Jangan terulang lagi itu harapan kita,
19:29masa ini dapat segera selesai.
19:30Terima kasih Pak Bambang,
19:31terima kasih Pak Tulusrah,
19:32bergabung di Sapa Indonesia Malam.
Komentar