00:00Membaca pelaku yang sudah membunuh tiga korban ini kita akan bahas bersama ahli psikologi forensik Reza Indragiri.
00:07Mas Reza selamat petang.
00:09Selamat petang Mbak.
00:10Mas Reza, apa yang sebenarnya bisa kita baca kalau Anda dari kacamata psikologi forensik?
00:15Apa yang bisa Anda baca dari pola pembunuhan yang terkait mutilasi modusnya?
00:20Banyak masyarakat yang salah kaprah menganggap bahwa pokok persoalannya adalah pada mutilasi.
00:25Sehingga muncul diskusi, muncul pertanyaan tentang bagaimana ya mencegah agar orang tidak melakukan mutilasi.
00:32Saya anggap itu salah kaprah karena pokok persoalan atau pokok pidananya adalah pembunuhannya.
00:38Kalau tidak ada pembunuhannya maka tidak ada mutilasinya, tidak sebaliknya.
00:43Karena itu alih-alih mempertanyakan hal ikhual terkait kenapa terjadi mutilasi, bagaimana mencegah mutilasi.
00:50Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana mencegah terjadinya pembunuhan.
00:54Itu satu hal.
00:55Yang kedua, terkait dengan mutilasi.
00:57Perbuatannya memang keji, kejam, brutal, biadab, sadis, dan sejenisnya.
01:02Tapi apakah serta-merta mutilasi dilatar belakangnya oleh luapan emosi yang menggelegah?
01:06Belum tentu.
01:08Kalau kita bicara mutilasi yang dilatar belakangnya oleh motif emosional,
01:12maka kita bisa bayangkan,
01:13anggaplah ada orang yang di dalam hatinya ada perasaan marah, benci, bendam, sakit hati,
01:19dan perasaan negatif lainnya.
01:20Begitu hebatnya perasaan-perasaan negatif itu sampai-sampai,
01:24seseorang tidak cukup rasanya melampiaskan amarahnya hanya dengan maaf menghabisi orang lain.
01:29Tapi harus disusul dengan tindakan pengerusakan,
01:32mengcacah-cacah, memotong-motong tubuh korbannya.
01:34Atau kita bicara tentang motif instrumental, dibalik mutilasi.
01:39Bahwa mutilasi tidak ada asam put-pautnya dengan perasaan hati,
01:42tapi mutilasi merupakan cara berencana,
01:45merupakan cara atau instrumen untuk misalnya mendapatkan manfaat tertentu.
01:49Dalam hal ini, menghilangkan barang bukti,
01:52menghilangkan tubuh korban,
01:54sehingga mempersulit kerja otoritas penegakan hukum.
01:58Mas Reza, kalau gitu kita juga fokus ke pembunuhan dan juga modusnya.
02:01Dari tiga korban ini kan caranya juga berbeda-beda.
02:04Ada yang dimutilasi, ada yang disembunyikan di sumur,
02:08cara pembunuhan juga berbeda.
02:10Tapi apa yang bisa Anda lihat?
02:11Kenapa modus yang digunakan oleh pelaku bisa berbeda?
02:14Sekali lagi, mutilasi belum tentu bisa kita sebut sebagai modus.
02:17Kalau mutilasi merupakan cara atau merupakan strategi
02:21untuk menghilangkan barang bukti,
02:22maka praktis mutilasi sesungguhnya bukan modus.
02:24Modus adalah rangkaian perilaku
02:26yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai target atau visi kejahatannya.
02:31Jadi misalnya, seseorang punya visi untuk menghabisi orang lain.
02:35Si A ingin menghabisi si B.
02:38Maka modusnya yang bisa dipakai,
02:40mulai dari bacok, gantung, bakar, racun, dan seterusnya.
02:45Sementara mutilasi adalah tindakan yang dilakukan pasca modus itu dilakukan.
02:50Mutilasi yang dilakukan pasca modus berarti ditunjukkan,
02:54sebagaimana tadi saya katakan,
02:56untuk menghilangkan barang bukti.
02:57Untuk mempersulit proses penegakan hukum.
02:59Oke, kalau gitu membaca ya tadi,
03:01ada cara-cara berbeda yang digunakan oleh pelaku.
03:04Itu bagaimana Anda menganalisisnya, Mas Reza?
03:07Harus dicek ya, lewat otopsi,
03:10untuk memastikan korban A, korban B, korban C dihabisi dengan cara apa.
03:16Apakah dengan cara yang sama, misalnya menggunakan senjata tajam.
03:19Atau dengan cara dibenturkan ke benda keras, dan seterusnya.
03:21Jadi saya tidak tahu apakah seluruh korban ini dihabisi dengan modus yang sama,
03:26atau dengan modus yang berbeda.
03:28Oke, kalau dari polisi, menggunakan modus yang berbeda, Mas Reza.
03:32Ada yang dengan dicekik, ada yang juga dengan cara menggunakan senjata tumpul.
03:39Nah, dengan adanya perbedaan itu, apa yang bisa Anda analisis?
03:41Ketika seseorang berencana melakukan asli kejahatan,
03:46maka hitung-hitungan dia harus mempertimbangkan salah satunya adalah instrumen,
03:49sumber daya, apa yang akan dia gunakan untuk menghabisi korbannya.
03:54Bisa kita bayangkan, kalau pelaku adalah orang biasa-biasa saja,
03:58bukan misalnya pembunuh bayaran atau sejenisnya,
04:01maka dia akan memanfaatkan instrumen atau sumber daya yang seadanya.
04:04Entah itu dengan tangan kosong, berarti dia menggunakan cara pukul atau cekik dan sejenisnya,
04:08atau dia menggunakan sembarang alat yang tersedia di sekitarnya.
04:11Mungkin pisau, mungkin balok kayu, atau sejenisnya.
04:15Tapi saya harus berikan garis bawahnya, semoga perbincangannya tidak secara keliru ditangkap
04:19oleh pemirsa Kompas Dini sebagai sebuah edukasi tentang pertinan yang melakukan sebuah tindak pidana.
04:23Oke, Mas Reza, itu juga yang jadi salah satu yang masih didalamnya adalah soal motif.
04:29Ketika semua korban yang sudah meninggal dunia,
04:31bagaimana polisi bisa memastikan soal motifnya,
04:34apalagi ini kan juga berkaitan dengan ada atau tidaknya perencanaan dalam kasus pembunuhan.
04:39Pertama yang paling tanda petik muda adalah mendapatkan pengakuan dari pelaku.
04:43Kalau tadi saya simak pemberitaan, dikatakan karena ada faktor asmara,
04:47berarti kita bisa bayangkan motifnya adalah motif emosional.
04:50Bagaimana seseorang melakukan aksi kejahatan untuk mendapatkan perasaan lega
04:54karena telah meluapkan perasaan-perasaan negatifnya.
04:57Atau motif instrumental, sebuah aksi kejahatan dilakukan tidak ada sangkut patinya dengan suasana hati,
05:05tapi untuk mendapatkan manfaat tertentu, harta, popularitas, menutupi kejahatan lain, atau sejenisnya.
05:11Nah, motif paling mudah didapat lewat cara apa?
05:13Tadi saya katakan paling mudah dengan cara mendapatkan pengakuan dari pelaku.
05:18Kalaupun tidak bisa didapat dari situ,
05:20barangkali otoritas kedokteran forensik bisa menelisik tentang bentuk-bentuk perlukaan.
05:25Apakah bentuk perlukaan itu mengindikasikan adanya luapan emosi
05:28ketika seseorang melancarkan aksi kekerasan terhadap pihak lain?
05:32Begitu pula akan dilakukan dengan menggunakan visum psikologikum.
05:37Bagaimana kemudian membaca profil seseorang,
05:40kondisi keperbadian seseorang,
05:41baik kondisi sesaat maupun kondisi berkesenambungan
05:45untuk memastikan seberapa jauh sesungguhnya kekerasan melatar belakangi perbuatan seorang pelaku.
05:51Kalau untuk menentukan ada atau tidaknya perencanaan,
05:53selain dari pengakuan dari pelaku sendiri,
05:56apalagi yang bisa dioptimalkan oleh polisi dalam penyidikan?
06:00Untuk memastikan pasal 340 atau pasal pembunuhan berencana bisa dibuktikan,
06:04maka ada empat hal yang harus dicek keberadaannya.
06:07Pertama target, dalam kasus ini tampaknya sudah jelas terang-benerang
06:11targetnya adalah korban A, korban B, korban C.
06:15Unsur yang kedua yang harus dicek oleh pihak kepolisian adalah insentif.
06:18Manfaat apa sesungguhnya yang dicapai oleh pelaku dengan melakukan aksi pembunuhan terhadap ketiga korban tersebut?
06:25Yang ketiga, sumber daya, instrumen.
06:27Barusan kita singgung.
06:28Ketersediaan alat, ketersediaan kesempatan,
06:31ketersediaan bantuan orang lain barangkali yang digunakan oleh seseorang untuk melancarkan aksi kejahatannya.
06:36Yang keempat adalah resiko.
06:38Bagaimana seorang pelaku kejahatan melakukan serangkaian perilaku
06:41guna menghindari kejaran otoritas penegakan hukum,
06:46menghilangkan barang bukti,
06:47mempengaruhi saksi,
06:49merusak CCTV,
06:50merusak TKP,
06:51melarikan diri,
06:52dan sejenisnya.
06:53Itu merupakan cara-cara pengelolaan resiko.
06:55Nah, kalau pihak kepolisian bisa membuktikan
06:58ada target, insentif,
07:01sumber daya atau instrumen,
07:02dan resiko,
07:03sebagaimana tadi saya coba elaborasi,
07:05maka terpunyai sudah ini adalah pembunuhan berencana.
07:08Oke, Mas Reza juga,
07:12kalau dari polisi menyebutkan ini adalah pembunuhan berantai,
07:16Anda bisa sepakat dengan itu?
07:18Apa yang sebenarnya bisa menjadi indikator?
07:21Pembunuhan berantai sebetulnya,
07:22atau istilahnya multiple killing,
07:23itu punya beberapa versi,
07:25beberapa variasi.
07:27Variasi A, B, C.
07:29Yang dilihat adalah pertama,
07:30jumlah korban.
07:30Apakah jumlah korbannya sudah mencapai 3 atau lebih?
07:32Kalau ya,
07:33maka boleh jadi ini termasuk dalam kategori pembunuhan berantai.
07:37Yang kedua,
07:38sebaran tubuh korban,
07:40apakah berada di titik yang sama,
07:42ataukah tersebar sedemikian rupa.
07:44Dan yang ketiga,
07:45masa jeda,
07:46apakah antara pembunuhan yang satu dengan pembunuhan berikutnya,
07:49ada jeda atau tidak jeda.
07:51Nah, kalau tiga hal ini,
07:53sekali lagi,
07:54jumlah korban,
07:55jumlah TKP,
07:56dan masa jeda itu diperhitungkan oleh polisi,
07:59maka mudah-mudahan polisi akan secara lebih spesifik,
08:02bisa menyimpulkan,
08:03ini pembunuhan berantai tipe apa.
08:06Oke,
08:08Mas Reza Indragi,
08:09Risikolog Forensik,
08:10terima kasih,
08:10sudah berbagi di Kompas Petang,
08:11sehat selalu Mas.
08:12Terima kasih.
08:14Terima kasih.
Komentar