Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Menjadi orang yang sulit bilang "tidak" di lingkungan kerja atau dalam bahasa kini dikenal sebagai people pleaser memiliki beberapa konsekuensi.

Salah satunya ialah beban kerja yang lebih banyak hingga kelelahan mental.

Sosok people pleaser, atau seseorang yang selalu rela berkorban dan berusaha membuat orang lain senang, menjadi fenomena sosial.

Tim Kompas Bisnis menelusuri apa saja alasan seseorang sulit bilang tidak, atau dalam istilah psikologisnya, people pleaser.

Salah satunya Rita Oktaviani. Dalam pekerjaannya, Rita mengaku sulit bilang "tidak" karena ingin berusaha maksimal dalam bekerja.

Bahkan saat diberi tugas yang ia tak mampu, Rita tidak menolak, melainkan meminta waktu lebih untuk mempelajari tugas yang diberikan, sampai harus berkorban lembur.

Menyenangkan orang lain tidak terdengar buruk. Tapi menyenangkan orang lain dengan cara yang salah dapat berdampak buruk pada diri sendiri.

Salah satunya ialah susah bilang "tidak" dalam dunia pekerjaan, atau kerap disebut people pleaser, ternyata bisa memberikan dampak yang cukup serius bagi Anda.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Dan harus bagaimana supaya kita bisa lantang berucap "tidak"?

Kita bahas di Kompas Bisnis melalui sambungan daring bersama Psikolog Bisnis, Irfan Agia.

#karier #peoplepleaser #kerja

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/593675/konsekuensi-people-pleaser-di-kantor-karier-naik-atau-justru-mandek-ini-kata-psikolog-bisnis
Transkrip
00:00Saudara Anda menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya Putri Otaviani.
00:04Jadi orang yang sulit bilang tidak di lingkungan kerja atau dalam bahasa kini dikenal dengan people pleasure
00:12memiliki beberapa konsekuensi saudara.
00:15Salah satunya ialah beban kerja yang lebih banyak hingga kelelahan mental.
00:24Sosok people pleasure atau lebih dikenal dengan seseorang yang selalu rela berkorban dan berusaha
00:29membuat orang lain senang menjadi fenomena sosial.
00:32Tim Kompas Bisnis menelusuri apa saja alasan seseorang sulit bilang tidak
00:37atau bahasa psikologisnya people pleasure.
00:40Salah satunya Rita Otaviani.
00:42Di dalam pekerjaannya Rita mengaku sulit bilang tidak karena ingin berusaha maksimal dalam bekerja.
00:48Bahkan saat diberi tugas yang ia tak mampu, Rita tidak menolak
00:51melainkan minta waktu lebih untuk pelajari tugas yang diberikan sampai berkorban lembur.
00:56Sebisa mungkin sih ingin lebih memenuhi.
01:05Kalau dikasih tugas atau kejaan, sebisa mungkin saya harus bisa memenuhi.
01:12Kalau dari diri saya sendiri pengennya lebih memuaskan.
01:17Hanya kalau iya sih ke atasan, tapi ke teman-teman juga yang se-level juga tetap iya.
01:26Kalau enggak tuh biasanya kalau kerjanya agak susah, terus butuh belajar dulu itu biasanya
01:30baru saya jawabnya masih, enggak selalu enggak sih.
01:37Terusnya dipelajarin dulu gitu.
01:39Hal serupa juga di Amini Joseph, karyawan perusahaan swasta ini pun menyadari
01:44selalu ada konsekuensi saat sulit berkata tidak di lingkungan kantor.
01:48Yang ini, lot kerja yang lebih banyak.
01:51Lebih sering bilang iya sebenarnya sih.
01:54Ke atasan sebenarnya sih, kalau atasnya memang dari atasan ngomong minta tolong harus A, harus B,
02:00ya mau enggak mau saya sih sebagai karyawan harus nurut sih.
02:04Sekuensinya udah pasti jadi pekerjaannya lebih banyak ya lotnya ya.
02:08Cuma ya kalau kita lebih banyak kerjaan, kayak saya rasa lebih banyak ilmu sih ntar ke depannya.
02:15Sementara, warga bernama Yusuf Imam mengaku sudah bekerja di empat perusahaan dari sektor berbeda.
02:21Menurutnya, jadi people pleasure sudah membudaya, sehingga kata iya pasti diucap terutama saat atasan yang beri perintah.
02:28Kenapa mas kalau bilang iya terus?
02:32Kalau menurut saya, kebetulan ini kantor saya yang sudah keempat.
02:36Sepertinya untuk perusahaan di Indonesia ini sudah menjadi culture untuk melakukan hal yang di luar dari job desk.
02:42Jadi saya selalu bilang iya.
02:43Asan dan kebetulan belum pernah bilang enggak sih.
02:47Karena masih berhubungan dengan perusahaan.
02:50Sehingga kalau bilang iya terus mungkin jadi dalam tanda kutip diandalkan ya.
02:54Jadi untuk next-nya diminta tolong lagi.
02:58Kami kutip dari berbagai sumber beberapa dampak yang bisa timbul jika Anda menjadi people pleasure.
03:04Yang ini, yang pertama Anda akan merasa frustasi dan kesal.
03:08Lalu orang-orang memanfaatkan Anda.
03:11Kemudian hubungan dengan orang lain tidak memuaskan Anda.
03:14Lalu Anda juga bisa stres dan kelelahan.
03:16Serta metra dan teman menjadi frustasi dengan Anda.
03:20Menyenangkan orang mungkin terdengar sungguh berjasa.
03:22Tetapi, memprioritaskan pekerja sendiri adalah bentuk tanggung jawab yang utama dalam karir.
03:28Menumpuknya beban pada satu orang juga berdampak tidak berjalannya sistem organisasi perusahaan.
03:32Diputu Trisnanda, Sefta Yoga, Kompas TV, Jakarta.
03:42Menyenangkan orang lain tidak terdengar buruk.
03:45Tapi, menyenangkan orang lain dengan cara yang salah dapat berdampak buruk pada diri sendiri.
03:51Salah satunya ialah susah bilang tidak dalam dunia pekerjaan atau kerap disebut people pleasure.
03:56Ternyata bisa memberikan dampak yang cukup serius bagi Anda.
04:01Lalu bagaimana mengatasinya dan harus bagaimana?
04:04Supaya kita bisa lantang berucap tidak.
04:07Kita bahas di Kompas Bisnis, Saudara.
04:09Melalui sambungan daring, sudah ada psikolog bisnis Irvan Agia.
04:12Selamat pagi, Mas Agia.
04:14Selamat pagi, Putri.
04:15Mas Agia, kita ke definisi dulu deh dari people pleasure itu dalam pekerjaan apa sih sebetulnya?
04:20Ya, jadi people pleasure itu sebetulnya adalah seseorang yang punya kecenderungan kuat untuk selalu menyenangkan orang lain.
04:28Nah, seringkali dengan cara mungkin mengorbankan dirinya sendiri dari sisi tenaga, waktu, gitu ya.
04:33Dan ini seringkali mereka merasa nggak enak hati, gitu, untuk menolak permintaan orang lain.
04:39Nah, dalam psikologi, people pleasing itu sebetulnya bisa berakar dari dulu,
04:42misalnya pola asuhnya, atau punya pengalaman masa lalu.
04:45Misalnya, anak yang tumbuh dengan penghargaan yang bersyarat.
04:48Misalnya, kalau kamu baik, baru misalnya mau apa-apa sayang atau kasih hadiah.
04:53Atau pernah mengalami penolakan, pengabayan, sehingga tumbuh keinginan kuat untuk diterima oleh semua orang.
04:59Nah, tapi juga betul dalam sisi konteks kerja ada konteks budaya juga, gitu.
05:04Ada tekanan sosial atau tekanan di tempat kerja,
05:07di mana bilang tidak itu adalah sesuatu yang buruk, gitu, atau membuat kita merasa jadi egois, gitu ya.
05:14Nah, contoh misalnya dalam keseharian kerja, ada orang yang mungkin udah lelah,
05:18kerja seharian, tapi tetap setuju untuk ngebantuin bosnya,
05:23atau mungkin rekan kerjanya, gitu ya.
05:24Hanya karena merasa nggak enak.
05:26Atau ketika terus menyetujui permintaan orang lain,
05:29padahal dia sendiri sudah kewalahan, gitu, dengan tugasnya sendiri.
05:32Oke, jadi ada perasaan tidak enak, ini juga bisa berpengaruh tadi ya,
05:37misalnya dari pola asu, ataupun juga rasa, apa ya, sifat tidak mau bilang tidak, gitu, bisa dikatakan gitu.
05:43Nah, tadi, Mas Agia, apa sih sebenarnya ciri lain, people pleasers,
05:46lain tadi sulit bilang tidak, misalnya apakah banyak minta maaf,
05:50cenderung menghindari konflik, atau ada ciri-ciri yang lain?
05:54Betul, mereka seringkali merasa bersalah, gitu ya.
05:57Jadi, ada perasaan guilty ketika mereka menolak permintaan orang lain, gitu,
06:01dimana mereka merasa bahwa penolakan itu, mereka mendefinisikan penolakan sebagai sesuatu yang buruk, gitu ya.
06:08Dan ini juga sangat bergantung dengan budaya kita, terutama misalnya di Indonesia, gitu,
06:13dimana membantu orang lain, itu adalah, sudah berakar, gitu ya, dan itu adalah sesuatu yang baik.
06:18Namun, kita sendiri sering lupa untuk mendefinisikan kembali sebagai orang yang baik, gitu ya,
06:23bahwa orang yang baik itu seseorang yang selalu membantu orang lain, selalu siap sedia, gitu ya,
06:29tidak dibutuhkan, gitu, tapi sebetulnya kita perlu melihat bahwa sebelum kita menolong orang lain,
06:34kita pun juga perlu menolong diri kita sendiri.
06:36Jadi, kita sendiri perlu aware, gitu ya, dengan apa yang bisa kita berikan pada orang lain,
06:42tanpa harus berpikir bahwa saat kita menolak, kita adalah seseorang yang egois atau jahat, seperti itu.
06:47Oke, nah, jadi apakah people pressure ini lebih karena kultur, atau sebenarnya yang gak percaya diri aja, gitu,
06:54apalagi kalau misalnya tadi bilang enggak ke orang yang misalnya minta tolong?
06:58Betul, jadi sebetulnya ada beberapa akumulasi, ya, sebetulnya akumulasi dari sumber-sumber orang
07:04kenapa menjadi seorang people pressure.
07:06Pertama dari kemarin, gitu ya, tolal asusnya dulu, gitu ya,
07:11kemudian mungkin punya pengalaman masa lalu, terkait konteks sosial,
07:14jadi ada teori juga attachment, misalnya dia butuh external validation,
07:18atau validasi eksternal di mana kalau mereka mendapatkan misalnya terima kasih dari orang lain,
07:24kita kemudian dipuji, itu memvalidasi, gitu ya, self-worth dia istilahnya,
07:29atau juga yang ketiga dari budaya kerja.
07:32Ada juga orang yang menjadi people pleaser karena tekanan juga, gitu,
07:35tekanan bahwa mereka melihat bahwa ini adalah norma yang biasa terjadi di rumah kerja,
07:41jadi ketika kita, ketika kita atau dia menolak,
07:45dia menolak suatu pekerjaan atau misalnya suatu bantuan, gitu, dari orang lain,
07:50itu akan membuat dia merasa berbeda dari norma di lingkungan kerja maksa seperti itu.
07:56Oke, Mas, ini bisa menyerangnya atau bisa terjadinya ke orang yang seperti apa sih?
08:01Apakah misalnya ada karyawan baru, gitu, mereka try to fit in, gitu,
08:04atau memang ini bisa jadi kebiasaan, gitu, dari orang-orang tertentu?
08:08Ya, jadi terutama untuk karyawan baru, gitu, itu juga akan menjadi orang yang cukup rentan, ya, istilahnya.
08:15Kenapa? Karena mereka ini adalah orang-orang yang belum punya konteks norma sosial di tempat kerjanya itu secara utuh,
08:23jadi mereka biasanya melihat dulu, gitu, melihat, oke, biasanya seperti apa sih berpilaku di tempat kerja ini,
08:29biasanya seperti apa? Nah, ketika dia juga melihat, oh, orang-orang juga terbiasa,
08:33walaupun dia lembur, gitu, ya, atau mungkin masih ada pekerjaan, dia tetap harus available, gitu, ya,
08:40ketika bosnya atau rakan kerjanya butuh.
08:43Atau juga orang yang memang punya keinginan untuk diakui, gitu, ya, oleh orang lain.
08:49Jadi mereka dengan sengaja juga bisa, gitu, oke, ada yang bisa saya bantu, tidak, gitu, ya,
08:54atau mungkin mereka sendiri yang menawarkan bantuan tersebut padahal tidak minta, gitu.
08:59Jadi memang ada orang-orang yang secara bawaan, gitu, atau secara pribadinya ingin diakui oleh orang lain,
09:06atau mungkin yang kedua, orang yang tidak ingin seperti itu, tapi tidak enak, gitu,
09:10tapi tidak ingin juga dianggap seseorang yang egois, gitu, terutama yang ketiga tadi ada budaya lingkungan kerja juga, seperti itu.
09:18Nah, ada istilah gini, Mas Agia, Good People Syndrome.
09:21Nah, itu tuh ada hubungannya kah, atau sama, atau gimana sih dengan People Pleasure ini?
09:25Ya, jadi kalau Good People Syndrome ini adalah orang yang ingin mungkin secara value-nya itu dianggap seseorang yang baik, gitu,
09:34padahal kembali, gitu, ya, kita juga perlu mendefinisikan ulang Good People itu seperti apa, gitu,
09:39karena kalau ada konteks budaya Indonesia, seperti yang tadi kita sempat bahas, gitu,
09:43jadi selalu ada di saat membutuhkan budaya gotong-royong, gitu, itu ada sesuatu nilai kolektif yang sangat umum di masyarakat Indonesia terutama.
09:52Jadi, kita selalu gotong-royong, baik susah ataupun senang, gitu, bersama, gitu,
09:57nah, padahal juga kita perlu punya batasan, gitu, ya, ketika senang bersama, oke, gitu,
10:02tapi ketika susah, apakah harus selalu bersama juga?
10:05Kita harus kompak ketika orang lain lembur, kesulitan tempat kerja, apakah kita juga harus selalu menolong mereka, gitu,
10:12padahal itu bukan satu-satunya jenis bantuan yang bisa kita berikan, gitu, ya,
10:17jenis bantuan yang kita berikan adalah dengan memberikan batasan yang jelas, gitu, ya,
10:21membuat mereka tidak selalu bergantung pada diri kita, gitu, ya, untuk mendapatkan tolongan,
10:26itu punya sesuatu yang baik, atau kita pun bisa dengan Good People ketika bisa membuat orang lain jadi lebih mandiri,
10:32sebetulnya, seperti itu.
10:34Oke, guyup boleh, tapi harus tahu batasan,
10:36Nah, Mas Agia, nanti kita lanjutkan kembali di Kopas Bisnis Saudara, dan tetaplah bersama kami.
10:41Terima kasih, ya, akan melanjutkan perbincangan dengan psikolog bisnis Irvan Agia.
10:44Mas Agia, tadi kita udah membahas nih, sebetulnya apa definisi people pleaser, dan lain sebagainya.
10:48Nah, sebetulnya tadi kalau dikatakan,
10:50kalaupun kita menjadi dalam artian people pleaser,
10:53tapi harus tahu batasan, ini sebenarnya sesuatu yang baik juga, gitu,
10:55karena kita bisa sesuai dengan nilai ataupun norma yang ada, terutama di perusahaan.
10:59Nah, apa sebetulnya untung rugi,
11:00kalau seorang itu jadi people pleaser di dunia kerja?
11:03Jadi, tentu ada keuntungan, ya, jadi people pleaser.
11:07Namun, dalam hanya jangka pendek, gitu, contohnya, jadi disukai banyak orang,
11:12karena sering membantu, gitu, ya, terus juga dianggap team player solid, gitu, ya,
11:16karena kompak, jika dalam kesulitan, atau dalam senang, selalu ada saat dibutuhkan,
11:21kemudian terlihat fleksibel, cepat tanggap,
11:23tapi kerugiannya justru baru terasa dalam jangka panjang.
11:26Jadi, dia akan mudah kelelahan, atau mudah burn out, istilahnya,
11:30tidak punya waktu untuk pekerjaan yang benar-benar penting untuk dirinya sendiri,
11:35sulit menetapkan batasan, akhirnya juga jadi rawan dimanfaatkan juga, gitu,
11:38dan juga yang terakhir jadi sulit sebetulnya menemukan rasa percaya diri dan harga diri yang sehat.
11:43Karena contohnya, misalnya sering membantu untuk presentasi orang lain,
11:47misalnya di tempat kerja, padahal dia sendiri sudah punya deadline-nya.
11:51Akhirnya, hasil kerja dia sendiri itu jadi kurang maksimal,
11:53dan dianggap orang atau mungkin bosnya jadi tidak fokus, seperti itu.
11:57Oke, nah jadi gini nih, sebetulnya kita pun nggak boleh self-diagnose ya,
12:01tapi bisa nggak ada batasan di mana,
12:03oh kayaknya nih saya udah jadi people pleaser nih di kantor atau di pertemanan,
12:07itu gimana sih orang bisa tahu?
12:10Jadi ada indikasinya ya, sebetulnya indikasinya akan terlihat,
12:13mungkin tidak dalam jangka pendek,
12:15karena jangka pendek kita akan mendapatkan reward-reward dalam sosial,
12:19seperti tadi, banyak dipuji, kemudian kita jadi merasa banyak diandalkan,
12:24sering dilibatkan dalam proyek-proyek yang mungkin sebetulnya itu bukan tugas atau kewarangan dia,
12:30jadi dalam jangka pendek itu tidak akan terlihat.
12:32Namun jangka panjang akan terlihat ketika misalnya saat melihat schedule atau jadwal kita,
12:37ternyata kita banyak hadir atau waktu diberikan tenaga untuk mungkin justru kebutuhan-kebutuhan orang lain.
12:45Kita akan merasa jarang punya waktu untuk diri kita sendiri,
12:49jadi mungkin ketika kita weekend, misalnya Sabtu atau Minggu,
12:53kita masih berputat dengan pekerjaan-pekerjaan,
12:56atau mungkin kegiatan-kegiatan yang sebetulnya kita hadir hanya untuk menyenangkan orang lain,
13:02atau kita hadir sebenarnya kita tidak begitu mau,
13:04tapi harus hadir, merasa harus hadir.
13:06Jadi kita akan merasa bahwa kesulitan untuk punya waktu untuk diri sendiri.
13:10Nah itu mungkin salah satu indikasi yang paling terlihat.
13:14Yang kedua ya kita jadi merasa tidak enak,
13:16untuk setiap ada ajakan baru, kita sulit merasa menolak.
13:20Nah itu adalah tanda-tanda yang mungkin sudah utama untuk merasa bahwa
13:24oke mungkin saya sudah terlalu menjadi people pleaser seperti ini.
13:28Oke ini berarti ada kaitannya dengan psikologis juga ya,
13:30ketika kita oh kayaknya ini capek banget nih lama-lama jadi people pleaser nih.
13:35Betul.
13:35Oke berarti tadi menarik nih soal ya hati-hati nih,
13:39karena pujian itu bisa jadi racun ternyata untuk kita sendiri.
13:41Nah kalau dilihatkan tadi artinya lebih banyak ya sebetulnya bahwa kerugiannya.
13:46Gimana cara ngatasinnya supaya jangan sampai kita menjadi people pleaser
13:49atau ya preventif lah gitu,
13:51jangan sampai kita tenggelam terlalu jauh jadi people pleaser?
13:55Ya jadi kembali ini tuh sangat manusiawi ya,
13:57jadi kita juga jangan terlalu merasa tidak enak hati gitu untuk menjadi people pleaser,
14:01karena ini banyak juga dari kita dibesarkan dengan nilai bahwa
14:05jadi orang baik itu harus selalu membantu,
14:07jadi tidak heran kalau kita bilang tidak itu terasa egois atau tidak enak hati.
14:12Nah cara mengatasinya sebetulnya pertama,
14:14mulai dari sadar apakah saya berkata iya atau mengiakan keinginan orang lain itu ada
14:20karena kita mau memang ingin menolak tersebut atau memang karena takut menolak gitu ya.
14:24Atau yang kedua, belajar bilang tidak secara bertahap
14:28dan juga sopan atau asertif istilahnya.
14:30Jadi misalnya asertif ini contohnya kita bisa bilang bahwa
14:34saya senang bisa dipercaya untuk membantu kamu misalnya,
14:38tapi saat ini saya harus fokus ke prioritas saya dulu.
14:41Jadi itu adalah suatu hal atau cara yang bisa kita lakukan secara bertahap ya.
14:46Kembali ditekankan bahwa perubahan ini tidak mudah,
14:48apalagi kalau sudah terbiasa jadi yes person,
14:51tapi ini bisa dilatih, ini sangat bisa dilatih
14:54dan perubahan kecil ini sangat berarti bahwa
14:56kita tidak harus selalu menolak di awal gitu ya.
14:59Kita bisa mengapresiasi orang yang datang ke kita.
15:02Terima kasih sudah mengajak saya, saya mengapresiasinya,
15:07tapi saya juga harus fokus ke prioritas saya dulu.
15:10Misalnya seperti itu.
15:11Oke, lagi-lagi ya harus tahu batasan nih gitu
15:13dimana kita harus mementingkan diri sendiri dulu.
15:15Nah, itu tadi Mas Agia kebawa kan kita kan kadang-kadang
15:18kalau sudah jadi people pleaser, sulit nih buat bilang enggak ke orang lain.
15:22Nah, ini ada hubungannya enggak dengan persepsi orang lain terhadap diri sendiri
15:25dan ini apakah bisa menjadi penting ketika kita berkarir?
15:30Betul, jadi people pleaser ini adalah mungkin tadi gitu ya,
15:34kebanyakan bisa disematkan juga dari persepsi orang lain gitu ya.
15:37Jadi bahwa oke, misalnya saya setiap kali minta tolong pada orang ini
15:42selalu mendapat respon yang positif.
15:44Jadi persepsi orang terhadap kita itu baik gitu ya, bagus.
15:48Tapi kembali lagi, karena kita bisa seringkali mengiakan
15:52orang akan istilahnya take it for granted gitu ya.
15:55Jadi merasa bahwa, oh kalau saya minta tolong pada orang ini
15:58pasti akan selalu membantu.
16:00Nah, sehingga kembali akan menjadi rawan untuk dimanfaatkan orang lain.
16:04Bahwa sebetulnya niat kita baik gitu.
16:07Tapi orang menganggap bahwa setiap kali saya meminta tolong pada orang ini
16:10saya selalu dibantu gitu ya.
16:12Jadi orang akan dalam jangka panjang itu akan makin sedikit
16:16menghargai effort yang kita berikan.
16:18Karena itu sudah dianggap bahwa orang ini pasti akan membantu saya.
16:21Karena setiap kali saya minta tolong selalu dibantu.
16:24Nah, ini akan akhirnya menjadi membuat self-worth kita itu semakin kecil nilainya gitu.
16:30Jadi sudah kita kasih effort tinggi gitu ya.
16:33Dan kita juga sudah capek.
16:35Tapi ternyata makin kecil dihargai oleh orang lain.
16:38Orang lain merasa take it for granted dengan effort kita gitu.
16:41Jadi persepsi seperti inilah yang akan menjadi buruk gitu ya dalam jangka panjang seperti itu.
16:46Oke, nah itu tadi ya.
16:48Jangan-jangan kita nih kalau jadi people pleaser bukannya jadi andalian tapi malah jadi diandalin gitu.
16:52Mas Agia, jadi seberapa besar sebetulnya sifat people pleaser ini?
16:55Bisa mengganggu efektivitas kerja atau bahkan menutup sebuah kebenaran gitu.
17:01Jadi orang itu ketika bekerja nggak bisa orang lain melihat true color-nya orang itu sendiri.
17:06Betul.
17:06Jadi akan sangat mengefektivitas kerja.
17:08Karena bisa seringkali membuat fokus yang pertama terlihat adalah fokus kita akan selalu terpecah.
17:13Karena kita tahu bilang ya padahal kapasitas kita itu sudah terbatas.
17:17Kedua juga kita akan semakin sulit menentukan prioritas kerja.
17:20Kembali kita juga semua punya waktu yang sama 24 jam dalam sehari.
17:24Tapi effort, tenaga dan juga fokus itu kan akan berbeda.
17:28Nah semakin kita mengiakan kebutuhan orang lain itu akan menambah kapasitas yang kita punya.
17:35Jadi akan menentukan prioritas itu akan semakin sulit.
17:37Dan akhirnya waktu kita akan habis untuk membantu hal-hal yang sebetulnya itu bukan tanggung jawab utama kita.
17:43Jadi contohnya seseorang akan menjadi istilahnya go-to person.
17:47Atau orang yang selalu dicari untuk membantu banyak kebutuhan tim.
17:51Tapi laporan utamanya sendiri misalnya pekerjaannya dia, report atau laporan yang harus dia kerjakan.
17:56Itu jadi selalu terlambat.
17:58Jadi mungkin orang akan menganggap dia helpful.
18:00Tapi dia juga dianggap kurang reliable dalam tugas pokoknya sendiri.
18:04Oke, nah itu tadi ternyata pada kenyataannya menjadi people pleaser, menyenangkan orang lain.
18:10Lebih banyak mudorotnya, lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya.
18:13Ini tadi harus bisa mempentingkan diri sendiri karena tadi ini berhubungan dengan bagaimana kesehatan mental kita.
18:19Dan ya egois untuk diri sendiri rasanya ini jadi in a good way lah ya untuk diri kita.
18:23Terima kasih psikolog bisnis Ivan Agia sudah bersama di Kompas.
18:27Sehat selalu Mas Agia.
18:29Terima kasih Putri, sehat selalu.
Komentar

Dianjurkan