- 4 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Asa perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kian redup. Meski gencatan diperpanjang sepihak oleh Amerika, Iran tegas menolak berunding jika Trump masih memaksakan syarat.
Di tengah buntunya negosiasi, sekutu AS, Israel, menebar ancaman. Militer Israel menyatakan telah menyisir target-target strategis dan siap menarik pelatuk jika Washington mengizinkan, dengan meluncurkan serangan yang diklaim akan mengembalikan Iran ke "zaman batu".
Namun Iran tak gentar. Mereka mengklaim persenjataannya masih banyak untuk melawan serangan Israel. Bahkan Kementerian Pertahanan Iran menyatakan sebagian besar kemampuan rudalnya masih belum dimanfaatkan, serta memproduksi lebih dari 1.000 jenis senjata di seluruh negeri.
Seperti dikutip dari media Iran Press TV, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, menyebut kapasitas rudal merupakan hasil investasi dan persiapan selama lebih dari 25 tahun di industri pertahanan. Ia menegaskan, meskipun beberapa fasilitas mengalami kerusakan, proses produksi dan dukungan tetap berjalan di seluruh wilayah negara tersebut.
Upaya perdamaian Amerika dan Iran semakin pelik setelah Selat Hormuz menjadi titik sengketa kedua negara. Militer Amerika Serikat dilaporkan mengusir, menyita, bahkan menembak sejumlah kapal tanker yang terafiliasi dengan Iran.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran juga melakukan langkah serupa dengan menangkap kapal-kapal yang terhubung dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya di kawasan Hormuz.
Israel mengklaim telah menandai titik-titik strategis dan siap kembali menyerang Iran setelah mendapat lampu hijau dari Amerika Serikat. Sementara itu, Iran menegaskan masih memiliki banyak cadangan rudal untuk menghadapi potensi serangan.
Pembahasan lebih lanjut menghadirkan pakar strategi Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara sekaligus alumni US Air War College, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, serta peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/665244/full-pakar-strategi-ppau-dan-peneliti-soal-iran-siap-lawan-as-israel-klaim-rudal-masih-banyak
Di tengah buntunya negosiasi, sekutu AS, Israel, menebar ancaman. Militer Israel menyatakan telah menyisir target-target strategis dan siap menarik pelatuk jika Washington mengizinkan, dengan meluncurkan serangan yang diklaim akan mengembalikan Iran ke "zaman batu".
Namun Iran tak gentar. Mereka mengklaim persenjataannya masih banyak untuk melawan serangan Israel. Bahkan Kementerian Pertahanan Iran menyatakan sebagian besar kemampuan rudalnya masih belum dimanfaatkan, serta memproduksi lebih dari 1.000 jenis senjata di seluruh negeri.
Seperti dikutip dari media Iran Press TV, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, menyebut kapasitas rudal merupakan hasil investasi dan persiapan selama lebih dari 25 tahun di industri pertahanan. Ia menegaskan, meskipun beberapa fasilitas mengalami kerusakan, proses produksi dan dukungan tetap berjalan di seluruh wilayah negara tersebut.
Upaya perdamaian Amerika dan Iran semakin pelik setelah Selat Hormuz menjadi titik sengketa kedua negara. Militer Amerika Serikat dilaporkan mengusir, menyita, bahkan menembak sejumlah kapal tanker yang terafiliasi dengan Iran.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran juga melakukan langkah serupa dengan menangkap kapal-kapal yang terhubung dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya di kawasan Hormuz.
Israel mengklaim telah menandai titik-titik strategis dan siap kembali menyerang Iran setelah mendapat lampu hijau dari Amerika Serikat. Sementara itu, Iran menegaskan masih memiliki banyak cadangan rudal untuk menghadapi potensi serangan.
Pembahasan lebih lanjut menghadirkan pakar strategi Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara sekaligus alumni US Air War College, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, serta peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/665244/full-pakar-strategi-ppau-dan-peneliti-soal-iran-siap-lawan-as-israel-klaim-rudal-masih-banyak
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:10Asal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kian redup.
00:14Meski gencatan senjata diperpanjang sepihak oleh Amerika,
00:18Iran tegas menolak berunding jika Trump masih paksakan syarat.
00:26Di tengah buntunya negosiasi, sekutu AS, Israel, mendebar ancaman.
00:32Ya, militer Israel menyatakan telah menyisir target-target strategis
00:36dan siap menarik pelatuk jika Washington mengizinkan.
00:40Meluncurkan serangan yang diklaim akan mengembalikan Iran ke zaman batu.
01:05Tetapi Iran tak dentar.
01:07Mereka mengklaim persenjataannya masih banyak untuk melawan serangan Zionis.
01:12Bahkan Kementerian Pertahanan Iran menyatakan,
01:15sebagian besar kemampuan rudal Iran masih belum dimanfaatkan
01:18dan memproduksi lebih dari seribu jenis senjata di seluruh negeri.
01:24Kami kutip dari media Iran Press TV,
01:27jurubicara Kementerian Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Reza Talainik bilang,
01:32kapasitas rudal merupakan hasil dari investasi
01:35dan persiapan selama lebih dari 25 tahun di industri pertahanan.
01:40Sehingga meskipun beberapa fasilitas mengalami kerusakan,
01:43proses produksi dan dukungan tetap berjalan di seluruh wilayah negara ini.
01:49Upaya perdamaian Amerika dan Iran kian pelik setelah Hormuz jadi sengketa kedua negara.
01:55Militer Amerika Serikat mengusir,
01:57menyita bahkan menembak sejumlah kapal tanker yang terafiliasi dengan Iran.
02:02Garda Revolusi Iran juga melakukan hal serupa,
02:05menangkap kapal-kapal yang terkoneksi dengan Amerika Serikat,
02:09Israel, dan sekutunya di kawasan Hormuz.
02:23Israel mengklaim telah menandai titik-titik strategis
02:27dan siap kembali menyerang Iran setelah dapat lampu hijau dari Amerika Serikat.
02:32Tapi, Iran menyatakan masih punya banyak cadangan rudal.
02:36Kami akan diskusikan ini bersama dengan para narasumber.
02:39Di Studio Kompas TV, sudah bergabung pakar strategi dari Perimpunan Purnawirawan Angkatan Udara,
02:43sekaligus alumni US Air World College Marsma TNI Purnawirawan Agung Sasongkojati.
02:48Pak Agung, apa kabar pak?
02:49Kabar baik, terima kasih.
02:49Terima kasih sudah datang di Studio Kompas TV.
02:51Sementara lewat sambungan dalam jaringan,
02:53juga bergabung bersama kami peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusumasomantri.
02:58Mbak Aisyah, apa kabar mbak?
03:00Baik festival, selamat malam.
03:02Sudah bergabung bersama kami kali ini.
03:04Dua-duanya sudah hadir, kita langsung mainkan saja.
03:07Klaim Israel siap serang lagi, Pak Agung.
03:09Sebetulnya kapasitas alutsista mereka masih mumpuni untuk perang yang sekarang ini.
03:12mau genap dua bulan ya?
03:15Jadi Israel itu pesawatnya, dia punya pesawat F-35I sama F-15I Adir.
03:25Dia juga punya pesawat F-16, tapi untuk jarak sejauh ini kelihatannya yang paling menilai F-15I dan F-35.
03:33Cuman masalahnya untuk mengebom sasaran yang dituju itu sebetulnya adalah bangker-bangker nuklir ya.
03:39Di Natanz dan Fordo.
03:41Kalau Natanz itu adalah pusat pengayaan uranium, kalau di Fordo itu pusat ini, apa namanya, produksi uranium.
03:49Nah, yang di Fordo ini yang jadi sasaran itu dia memiliki kedalaman ataupun di dalam tanah itu di atas 100
03:58meter.
04:00Sedangkan biasanya kalau menghantam sasaran seperti itu menggunakan GBU-57 Massive Ornan Penetrator yang biasa dijatuhkan pesawat pembom B-2
04:10atau B-1 ya.
04:11B-2.
04:12Cuman Amerika kan belum memutuskan itu.
04:16Nah, Israel pengen itu.
04:17Cuman masalahnya dia nggak punya pesawat.
04:18Jadi, masalah dia juga yang lain karena jaraknya 1.500 kilometer dari Israel.
04:23Dia harus lewat jalur Syria dan Iraq yang itu di bawah pengendalian Central Command.
04:29Jadi, dia harus dapat izin dari Central Command untuk masuk di situ.
04:32Nah, Amerika sendiri kan berkepentingan kalau perundingan ini jalan ya.
04:36Kalau sudah gagal, mungkin kasih lampu hijau pada Iran menyerang.
04:40Tapi kalau selama ini masih perundingan berjalan, mungkin Amerika tidak mengizinkan atau tidak akan membiarkan Israel mengganggu ini.
04:49Dan juga selain paling Israel menggunakan bom GBU-28 Deep Throat atau tenggorokan dalam istilahnya.
05:00Tapi Deep Throat itu, itu beratnya cuman 2,2 ton dibandingkan dengan GBU-57 yang beratnya 13,3 ton.
05:09Nah, kalau dia terbatas yang punya bom yang 2,2 ton, maka pilihan dia adalah multiple shot.
05:16Jadi, multiple shot itu jadi di satu titik, di bom, kayak di film itu loh, film Impossible terakhir.
05:21Oke.
05:22Jadi, ngebom, lobang, nanti DC lagi, bom kedua, tiga, empat, lima, enam.
05:27Itu, nah itu baru bisa nembus.
05:29Tapi tetap susah juga.
05:30Kan kedalamannya 100 meter dan itu belum tentu juga tempat itu di situ.
05:33Nah, tapi ada masalah kedua yaitu pesawat tanker.
05:38Kebanyakan tanker KC-135-nya itu bermasalah ya.
05:42Udah bisa digunakan.
05:44Nah, sekarang menggunakan KC-46.
05:46KC-46 itu pesawat yang lebih baru.
05:48Nah, itu butuh Amerika.
05:49Karena praktis Israel sendiri juga terbatas ini tankernya.
05:54Jadi butuh tanker.
05:55Nah, jadi serangan daripada Israel kalau mungkin itu pasti
05:59atas pengetahuan atau seizin.
06:01Dan kalaupun dia punya ide untuk serangan inisiatif ya,
06:05uniteral istilahnya, itu ya gak bisa pada fase ini.
06:11Namun, ya itu dikejakan.
06:13Dan dia kalau menyerang target lain,
06:15sudah tidak banyak target yang bisa dihancurkan.
06:17Karena kebanyakan target yang itu sudah habis.
06:19Jadi, pilihannya Israel ya hanya menyerang reaktor nuklir ini
06:23untuk menghancurkan yang kebanyakan sudah dihancurkan,
06:25tapi masih belum dihancurkan.
06:27Oke.
06:27Nah, Mbak Aisyah, tapi satu lagi yang kita juga perlu cermati,
06:30Israel ini akan menyerang kalau dapat lampu hijau dari Amerika Serikat.
06:34Lampu hijau ini konteksnya kode-kode semacam apa yang ditunggu Israel sebetulnya, Mbak?
06:40Ya, kita lihat di sini sebenarnya kan Amerika Serikat ini masih tetap berusaha
06:45untuk menarik konflik ini ke jalur perundingan ya.
06:48Karena Amerika Serikat juga tahu bahwa ketika konflik ini berlangsung
06:52dalam jangka waktu yang lama, maka Amerika Serikat akan semakin dirugikan.
06:56Karena di satu sisi memang Amerika Serikat ini selalu mengklaim bahwa
07:00Amerika ini unggul secara taktik.
07:02Dan betul, secara taktis memang Amerika Serikat ini memiliki IR superiority
07:05meskipun akhirnya di-challenge oleh Iran.
07:08Lalu kemudian kita lihat juga sebenarnya dari segi, apa namanya,
07:12Angkatan Laut, Amerika Serikat juga lebih unggul dan lebih besar.
07:16Akan tetapi kan sepertinya kita lihat di sini bahwa tekanan dari segi ekonomi
07:21dan kemudian dari segi politik yang dihasilkan dari penutupan Selat Hormos ini
07:25sebenarnya dampaknya juga sangat signifikan bagi Amerika Serikat.
07:28Khususnya karena ada pengaruh terhadap kemudian sentimen masyarakat Amerika Serikat
07:34terhadap Partai Republik.
07:35Ditambah lagi kemudian harga-harga energi dan bahan pangan yang semakin naik.
07:40Nah, Amerika Serikat sekarang seperti yang diinginkan adalah
07:43berusaha untuk melakukan coercive diplomacy.
07:46Jadi ini sebenarnya belum berubah dari kemudian beberapa minggu yang lalu ya strateginya
07:51untuk bisa melakukan ekskalasi dalam titik tertentu yang masih terkontrol
07:55untuk bisa menarik dan menyaret Iran ke meja perlundingan.
07:58Nah, saya rasa sebenarnya Amerika Serikat ini tidak mau Israel melakukan sabotase
08:03terhadap apa yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat.
08:05Oleh karena itu, kemudian Amerika Serikat memberikan kemudian abu-abu terhadap Israel.
08:12Di titik apa kemudian Israel bisa melanjutkan serangannya.
08:15Karena Amerika tidak mau nih Israel di dalam kemudian ritme peperangan
08:23yang harusnya ditentukan oleh Amerika Serikat.
08:25Tiba-tiba Israel melakukan serangan unilateral.
08:28Walaupun bisa saja mereka bandel ya Pak?
08:31Betul, betul.
08:32Karena dari awal memang yang diinginkan Israel adalah perangnya tetap berlanjut.
08:35Jadi sebenarnya di sini kita lihat memang ada sedikit perpecahan
08:39di antara Amerika Serikat dan Israel juga.
08:41Karena di awal kita lihat, yang menjadi main proponen dari peperangan ini kan sebenarnya Israel.
08:46Dan itu sudah disebutkan sebenarnya dari hampir 40 tahun yang lalu ya
08:50bahwa Israel ini memang ada niat untuk menyerang Iran.
08:53Nah, ditambah kemudian lobi-lobi dari Benjamin Netanyahu ini sudah terjadi
08:57sejak ngasak Presiden Obama.
08:59Tapi ketika Obama dulu, Obama tegas mengatakan bahwa
09:02Obama mau mengambil jalur diplomasi untuk bisa meredam ancaman dari Iran.
09:07Nah, sementara di Trump 2.0 kita lihat bahwa
09:10lobi dari Israel ini akhirnya berhasil.
09:12Kita nggak tahu apa hasilnya, alasannya ya kenapa kemudian itu bisa berhasil.
09:16Nah, satu hal yang kemudian perlu kita soroti di sini.
09:19Meskipun Amerika Serikat sekarang sudah ngos-ngosan
09:21tetapi masih ada kepentingan Israel untuk melanjutkan pertempurannya.
09:25Makanya kemarin kita lihat, sebenarnya secara diplomasi ya
09:28Israel ini juga berusaha untuk mengikuti keinginannya Amerika Serikat.
09:32Tetapi kan terkait apakah kemudian gencatan senjata misalnya
09:35Lebanon dan Israel kemarin dilaksanakan atau tidak.
09:39Ternyata-nyatanya Israel juga melakukan pelanggaran-pelanggaran
09:42yang mana ini constituting pelanggaran yang bisa saja membuat
09:49negosiasi di antara Amerika Serikat dan Iran menjadi batal
09:54dan pada akhirnya lebih merugikan Amerika Serikat dibandingkan dengan Iran itu sendiri.
09:59Jadi saya rasa di sini Amerika Serikat berusaha untuk ya
10:03coordinating to some extent dengan Benjamin Netanyahu
10:06agar apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Amerika Serikat itu jadinya tidak kontraproduktif.
10:11Oke. Nah, satu hal lagi direspon oleh Iran juga nih Pak Agung
10:15bahwa mereka siap menyerang dengan sisa persenjataan mereka
10:18bahkan ada klaim mereka sudah nabung rudal 25 tahun.
10:20Bisakah kita percaya sepenuhnya dan emang bisa nabung rudal 25 tahun Pak?
10:24New York Times mengatakan beberapa hari yang lalu
10:26bahwa Iran itu masih punya 70 persen persediaan rudal.
10:31Iran itu sanggup memproduksi rudal itu sekitar 100-150 rudal sebulan.
10:36Pada saat yang sama Amerika kalau dia memproduksi rudal
10:39contohnya seperti rudal Tomahawk itu cuma 100-200 rudal setahun.
10:44Kemudian untuk Patriot cuma 300 setahun.
10:46Jadi untuk menghabisi, dan nyatanya rata-rata rudal Amerika tinggal 50 persen
10:50dan rudalnya Tomahawk itu yang dari kapal ditembak itu cuma sudah dihabis 30 persen, tinggal 70 persen.
10:58Nah, yang terjadi masalah adalah Amerika itu punya 4 hotspot.
11:03Satu di Timur Tengah, satu negara Amerika sendiri untuk membela negara,
11:10atau di Amerika Latin lah ya.
11:11Kemudian yang ketiga di Eropa, keempat di Timur Jauh di Korea, Cina, Taiwan itu ya.
11:22Itu membutuhkan 100 persen rudal untuk siap.
11:26Masalahnya 50 persen rudal itu sudah habis di Timur Tengah dalam waktu 5 minggu.
11:30Lalu apa sekarang dia mau habis-habisan lagi rudalnya?
11:34Nah, kalau Israel dia percaya diri aja kenapa dia udah ditambah lagi,
11:37rata-rata mungkin ditambah sama Amerika, ditambah dia siap gini.
11:40Karena bagi dia, lebih bagus perang ini berlanjut sehingga bisa lebih menghancurkan Iran
11:46atau membuat Iran tidak ada sanksi ekonomi dilepas.
11:52Dia nggak peduli itu nanti ekonominya Amerika hancur segala macam
11:56dan mengakibatkan Donald Trump turun.
11:59Karena yang penting sampai Donald Trump mau lolos pemilu salah atau tidak lolos,
12:04yang penting tetap tidak ada perdamaian,
12:07dan sampai nanti diganti Donald Trump dengan fans atau siapapun,
12:11nanti yang penting perangnya lanjut terus.
12:14Berarti kalau kemudian kondisi seperti ini, Mbak Aisyah,
12:17posisinya Iran benar-benar bisa membalas
12:19kalau kemudian Israel akan melakukan serangan itu ke Iran balik
12:22atau malah kebalikannya?
12:23Tapi jawabannya nanti, kita jeda dulu ya.
12:25Tetap di Kompas TV.
12:35Mbak Aisyah, melanjutkan pertanyaan saya di segmen sebelumnya.
12:37Kalau kemudian Iran bilang mereka sudah punya cadangan persenjataan
12:40masih lengkap, masih ada sisanya buat melawan Israel,
12:43jadi posisinya imbang atau malah kebalikannya nih, Mbak?
12:46Ya, kita kira sebenarnya Iran ini dari awal memang sudah mempersiapkan ya
12:51peperangan ini sejak 20 tahun yang lalu gitu.
12:54Dan bahkan Iran ini juga menyatakan kalau misalnya,
12:57dia kan belajar sebenarnya dari PLO ya, dari Yasser Arafat,
13:00kalau misalnya ada strategi yang bisa dipergunakan
13:02untuk bisa melawan pihak yang lebih besar,
13:04khususnya adalah pihak negara demokrasi ya,
13:07atau negara-negara barat gitu ya.
13:08Nah, yang digunakan Iran selama ini,
13:10itu bukan sebenarnya dominasi di medan tempur secara face-to-face,
13:14tetapi apa yang kemudian dikembangkan Iran adalah strategi
13:17untuk bisa tetap bertahan, melakukan retaliasi ya,
13:21tetapi juga kemudian membangun resiliensi di antara masyarakat sipilnya gitu ya.
13:26Jadi meskipun Amerika Serikat sekarang melakukan blokade
13:28dan kemudian juga diiringi dengan serangan-serangan udara gitu ya,
13:33kita bisa expect sebenarnya masyarakat Iran ini akan tetap bertahan gitu ke depannya gitu.
13:38Nah, blokade sendiri kan memiliki jangka waktu sekitar 2-6 bulan
13:42untuk bisa ya take place, take effect, sorry, take effect gitu.
13:46Tetapi kemudian kita lihat di sini pertanyaannya adalah
13:48apakah kemudian Amerika Serikat punya waktu 6 bulan gitu ya,
13:51dan kemudian Israel sendiri apakah mereka punya kemampuan
13:54untuk bisa ya menghancurkan Iran gitu secara serangan siege warfare?
14:00Dan saya rasa tidak gitu,
14:01karena tadi sekali lagi sudah disebutkan juga sama Pak Agung
14:03bahwa ada persenjataan Iran yang sebenarnya ditaruh di bawah tanah
14:08sehingga sulit untuk sebenarnya dijangkau gitu.
14:11Nah, kan kita lihat sebenarnya sekarang juga Iran ini sudah berusaha untuk
14:14apa namanya, mengirimkan Arakci ya ke Islamabad pada hari ini gitu.
14:20Tetapi kita lihat, jelas dia untuk prasyaratnya harus dibuka dulu blokade
14:25yang ditetapkan oleh Amerika Serikat.
14:27Kalau misalnya tetap ada force untuk kemudian bisa melakukan perundingan atau negasiasi,
14:32Iran tidak akan mau berbicara dan itu hanya merupakan sebenarnya sebuah rangkaian
14:36perjalanan Arakci ke negara-negara yang mungkin bisa jadi mediator ya,
14:40dan kemudian jadi garantor terhadap negosiasi ini.
14:43Khususnya adalah ke Oman dan kemudian ke Rusia gitu.
14:47Nah, ini kan kita melihatnya ini cukup menarik,
14:49karena Amerika Serikat sepertinya ini sekarang sudah terburu-buru
14:52untuk kemudian bisa merayu kembali Iran untuk bisa melakukan negosiasi.
14:56Karena seperti yang kita tahu, setelah berita Arakci ini ya,
15:00sampai ke Islamabad gitu ya, ini langsung ternyata Trump mengirimkan
15:04Witkow dan Kushner untuk terbang ke Pakistan gitu.
15:07Jadi saya rasa di sini kalau ditanyakan apakah kemudian Iran punya resiliensi untuk bertahan?
15:12Yes, karena memang ya strateginya itu dirancang untuk kemudian bisa bertahan
15:18di dalam perang jangka panjang, bukan perang-perang yang sifatnya adalah quick win.
15:22Anda sepakat juga Pak Agung bahwa itu maksud dari pesan yang mau dibawa Iran
15:27dengan menyatakan bahwa persenjataan mereka masih lengkap?
15:29Atau ada makna lain dibalik itu?
15:30Dia nggak usah bilang, tapi dia membocorin ke New York Times,
15:34dan New York Times itu sudah langsung punya pengaruh di media barat ya.
15:39Dan yang penting, selain itu saya perlu ditambahkan,
15:4370% rudalnya masih utuh dan itu lagi produksi terus,
15:49dengan kemampuan produksi sebulan itu 100.
15:52Drone-nya lebih mengerikan, 100 drone itu seminggu.
15:55Orang bilang, wah ini ngarang saja Pak Agung ini ngarang, nggak benar.
15:59Sebelum perang, itu 5 ribu loh sebulan.
16:03Nah sekarang kalau dia sebulan, seminggu bisa 500 kan masuk hitungan.
16:09Kenapa bisa gitu?
16:09Ya bisa kan, drone-nya itu kan cuma badan luarnya berupa di molding, berupa fiber,
16:16di tempat tinggal pasang mesin, tinggal pasang komputer,
16:19sebagai orang yang biasa menekunin drone di Indonesia.
16:23Saya adalah bagian daripada UAV Drone Federal Service Sport Indonesia,
16:29saya tahu.
16:29Betul itu tidak sulit bila sudah disiapkan,
16:31kita bisa siapkan ratusan rak apa namanya,
16:35molding badannya drone, kemudian kita masukkan mesinnya,
16:38kita masukkan ini.
16:38Itu adalah hal yang, apalagi dia sudah sampai level industri,
16:41karena yang mengekspor drone Geran ke Rusia kan Iran.
16:46Itu dia ngirim sampai 30 ribu drone loh.
16:48Nah sekarang kalau dia memproduksi cuma 500 drone seminggu,
16:53itu kan hal yang sehari 100 itu biasa.
16:55Kalau dia udah tinggal cetak, pasang, cetak, pasang, cetak.
16:57Dan kemarin malah yang selama gencat-senjata patut dibuka,
17:01itu Cina sudah mengirim, bukan mesin yang propeller loh,
17:06mengirim mikrojet loh.
17:07Jadi drone-drone side-nya, drone side 238 yang lebih kencang,
17:10yang speednya 500 km per jam.
17:12Jadi lebih mengerikan lah.
17:14Seperti, kalau kemudian saya compare begini,
17:16karena kan posisi tiga kapal induk AS juga sudah mulai merapat ke Timur Tengah.
17:20Dengan niat Israel akan menyerang Iran ini,
17:22apakah dengan seketika Israel akan diuntungkan posisinya, Pak?
17:26Israel itu tidak merasa diuntungan kalau selama itu datang,
17:30nggak mengapain gitu loh.
17:32Jadi ada tiga kapal induk ya.
17:33Pertama kapal induk Abraham Lincoln nongkrong di Laut Arab,
17:37di Lepas Tel Oman.
17:38Kemudian USS Gerald Ford berada di Laut Merah,
17:43ditemani sama kapal induk marinir Bataan namanya.
17:47Boxer, boxer.
17:50Nah terus yang di kapal induk USS,
17:55satu lagi.
17:56George H.W. Bush?
17:57Bush ya, George H.W. Bush itu ada di Samudera India,
18:00itu datang dari selatan.
18:01Nah, dua kapal induk marinir lainnya,
18:04satu adalah dari USS Tripoli,
18:07itu berada di sebelah barat Laut Arab,
18:09untuk di jalur pelairan itu,
18:10dan USS Bataan nunggu di jalur timur.
18:13Nah itu yang nangkepin kapal-kapal itu.
18:15Nah,
18:17itu menambah jumlah kekuatan udara pesawat fighter
18:21di seluruh kapal induk itu,
18:23itu total jumlahnya 200 pesawat.
18:24Terdiri dari F-35C, F-35B,
18:31sama F-18,
18:33ini F.
18:34Sama pesawat F-18 yang untuk serangan elektronik.
18:39Oke.
18:39Itu cukup besar.
18:41Cuma masalahnya sekarang,
18:43mereka mau nyerang apa lagi?
18:44Mau nyerang balik, nyerang di Teheran,
18:46segala-galanya target-target itu.
18:47Itu kan tetap nggak ada perubahan,
18:49apa hubungannya.
18:49Nah sekarang dia rencana ya,
18:51menyerang di Hormuz,
18:52pertahanan Iran.
18:53Nah masalahnya,
18:54kalau dia nyerang pertahanan Iran,
18:56itu biasanya nyerang pakai jarak jauh
18:57dengan rudal, tomahawk, dan segala macam.
18:59Itu sudah tipis.
19:00Sekarang dia menerang pesawat,
19:01pesawat kapal induk,
19:03musah pesawat dari kapal induk,
19:04pesawat tempur itu,
19:06ya targetnya bisa.
19:07Tapi targetnya mana itu?
19:08Di balik tebing-tebing.
19:09Nah yang sekarang perintah Trump,
19:11menghancurkan kapal cepat.
19:13Kalau kapal cepat,
19:14itu nggak bisa pakai dari ketinggian tinggi,
19:16pasti dia terbang rendah menggunakan rudal EJM-65 Maverick.
19:20Saya pernah nembakin itu,
19:21saya tahu itu jaraknya sekitar 20 kilo ya,
19:24siang hari atau malam hari,
19:26atau menggunakan helikopter dengan roket yang 11 kilometer.
19:31Nah, dengan kondisi seperti itu Pak?
19:33Resiko.
19:34Karena apa?
19:35Begitu dia terbang di bawah,
19:36maka resiko dia dihantam sama rudal anti serangan udara
19:39yang bisa jaraknya 50 kilometer,
19:41200 kilometer,
19:42Iran punya itu.
19:44Bagaimana?
19:45Mereka nggak,
19:46meskipun stealth ya,
19:47tapi kan Iran juga punya rudal inframerah
19:49yang tidak peduli,
19:50nggak kelihatan radar,
19:51dia kelihatan di inframerah kan.
19:53Apalagi kapal-kapal cepat itu juga bawa rudal anti kapal
19:56dan juga bawa rudal anti udara.
19:58Jadi,
19:58mereka berhadapan dengan,
20:00ya cari gara-gara,
20:01nyatanya kan,
20:03F-15E sama A-10 Thunderbolt jatuh tuh di,
20:06di mana,
20:07di pada saat mau cerita membebaskan,
20:10apa,
20:11ada pembebasan,
20:12dia ada yang jatuh,
20:12ditembak pembebasan.
20:13Nah itu,
20:14itu kan terjemah,
20:15karena begitu berani terbang di bawah,
20:16karena keunggulan udara di bawah 15 ribu kaki,
20:18sekarang dipegang sama Iran.
20:20Iran punya keunggulan geografis di sini ya?
20:22Geografis dan keunggulan udara,
20:23karena dia nggak ada yang berani terbang rendah sekarang.
20:26Oke.
20:26Apalagi pesawatnya relatif pelan,
20:28kayak A-10,
20:29atau F-18,
20:30kalau mau ngejer-ngejer gitu,
20:31itu resiko besar gitu.
20:32Oke.
20:33Kalau kemudian potensi eskalasinya makin pecah di sini,
20:36Mbak Aisyah,
20:36Anda melihat bahwa eskalasinya akan hanya terfokus ke Iran saja,
20:39atau malah makin meluas satu kawasan?
20:45Boleh dibuka dulu audionya,
20:46sorry Mbak.
20:47Oke, mohon maaf.
20:47Nah, oke.
20:48Jadi begini,
20:48sekarang sebenarnya kita berbicara tentang kemungkinan terkait perundingan dulu nih.
20:53Sebenarnya kan sekarang ada beberapa kemungkinan.
20:55Yang pertama adalah perundingannya tidak berjalan sama sekali,
20:58dan ini status,
20:59apa namanya,
21:01ceasefire sementara ini akan berlangsung ya,
21:03meskipun satu arah ya,
21:04dalam jangka waktu yang panjang dengan low intensity conflict.
21:07Yang kedua adalah AS menurunkan ego-nya,
21:10tetapi Iran kalah ya,
21:11lalu kemudian yang ketiga adalah,
21:13apa namanya,
21:15sorry,
21:16AS menurunkan ego-nya,
21:17tetapi Iran menang,
21:18lalu kemudian yang ketiga adalah sebaliknya,
21:19dan yang keempat adalah sebenarnya ini diplomasi yang terus berjalan.
21:22Bahwa AS ini di balik layar,
21:25sebenarnya masih terus melakukan diplomasi secara backdoor gitu ya.
21:28Jadi,
21:29AS ini sebenarnya sekarang menginginkan salah satu strategic purpose-nya ini bisa tercapai gitu ya.
21:34Apa yang disebutkan oleh pidato awal Trump ini,
21:36at the very least,
21:37satu saja itu bisa dipenuhi oleh Iran gitu.
21:39Jadi,
21:40setidaknya legasi yang bisa diinginkan oleh Trump gitu ya,
21:43itu bisa didapatkan oleh AS.
21:46Seolah-olah ya,
21:47AS ini mendapatkan victory di sana.
21:49Nah,
21:50tetapi kan ini sulit untuk discapai,
21:51karena Iran ini pada akhirnya menginginkan sebenarnya aspek yang lebih jauh.
21:55Ya,
21:55itu bukan Iran yang sebenarnya mengalami pergantian rezik,
21:58tetapi kemudian Iran ini menginginkan AS ini terus-menerus mengalami ya sakit tadi ya,
22:04secara ekonomi maupun politik,
22:05sehingga pemerintahan Donald Trump ini bisa digoyang dari dalam gitu.
22:09Nah,
22:09kita punya threshold,
22:10ada beberapa nih di dalam konflik ini.
22:13Nah,
22:13yang pertama ini adalah sebenarnya penutupan dari selat hormus ya oleh Amerika Serikat.
22:18Jadi,
22:18ada blokade,
22:19itu sudah dilakukan.
22:20Yang kedua adalah respon dari Iran ya,
22:22untuk melakukan penutupan selat hormus secara total.
22:24Itu juga sudah dilakukan.
22:26Respon ketiga,
22:27threshold-nya ya,
22:28threshold ketiga ini adalah,
22:29di mana kemudian konfliknya ini akan menyebar.
22:31Karena penutupan dari selat hormus secara total,
22:34ini tidak hanya sebenarnya berbahaya untuk Amerika Serikat ya,
22:37tetapi juga kemudian ini kita bicara tentang kepentingan China yang terganggu,
22:41ya,
22:41lalu kemudian kita bicara tentang kepentingan negara-negara lain di level global,
22:45juga kemudian,
22:46di sini ada access of resistance,
22:48yang selamat.
22:49Sebenarnya belum diaktifasi setelah penuh gitu.
22:51Meskipun kita tidak mendengar,
22:53Hezbollah ini kan sudah bertempur sebenarnya dengan Israel,
22:56lalu kemudian ada serangan-serangan kecil dari Houthi ya di Yemen gitu,
23:00tetapi sebenarnya ini belum melakukan serangan secara penuh gitu.
23:05Jadi kita bisa expect,
23:06kalau perang ini berkepanjangan,
23:07dan kalaupun misalnya Iran nanti terdampak secara ekonomi
23:10dari blokade yang dilakukan Amerika Serikat ya,
23:13maka kita akan bisa ya mengharapkan,
23:16sebenarnya di masa depan ini konfliknya akan semakin melebar juga gitu ya.
23:20Jadi sebenarnya konfliknya kemungkinan besar,
23:22kalaupun misalnya tidak bisa bertemu di meja perundingan ya,
23:26pasti ini akan terpaksa harus berlangsung dalam jangka panjang,
23:30dan kemudian ini akan berakhir dari segi taktikal dan dari segi strategis.
23:34Tapi dari segi legitimasi,
23:36AS ini bisa dibilang tidak lagi sebagai pengendalinya di sini begitu mbak?
23:40Saya kira di sini,
23:42sebenarnya Amerika Serikat ya,
23:44itu awalnya berusaha sangat desperately untuk bisa mendapatkan leverage.
23:49Makanya kemudian,
23:50ini kan blokade yang sebenarnya dilakukan secara ilegal ini,
23:54diterapkan oleh Amerika Serikat gitu ya.
23:56Meskipun Amerika Serikat juga tahu,
23:58ini kan kontraproduktif dengan strategi mereka di awal,
24:01karena ini akan mengganggu harga stabilitas energi dan minyak,
24:05sorry,
24:05minyak global gitu ya.
24:08Nah,
24:08tetapi kita lihat di sini,
24:10Amerika Serikat ini yang dicari adalah leverage sebenarnya.
24:13Karena dia paham betul,
24:15kalau dia turun ke meja perundingan sekarang dengan Iran,
24:17yang terjadi adalah,
24:19Iran ini tidak akan mau bernegosiasi,
24:21dan akan tetap menetapkan red line yang kuat,
24:23seperti di negosiasi pertama.
24:24Oleh karena itu,
24:26AS ini berusaha untuk mendapatkan strategi LIB.
24:29Jadi dia berusaha untuk mencari cara,
24:32agar dia bisa memiliki keunggutan dalam bernegosiasi dengan Iran.
24:36Meskipun kita tahu bahwa sampai saat ini,
24:38sebenarnya Iran pun menginginkan hal yang sama.
24:41Oke.
24:42Pete Hexeth juga nih Pak Agung,
24:44sudah menyatakan bahwa akan melakukan,
24:46memperluas areanya,
24:47sampai mengitari wilayah bahkan keluar Iran,
24:50keluar kawasan Timur Tengah.
24:51Nah, ini efeknya akan bagaimana,
24:53dan bagaimana dunia akan merespon itu?
24:55Global hegemon,
24:56apa hegemon global,
24:58berhadapan dengan hegemon lokal,
25:01atau regional.
25:02Iran sekarang otomatis sudah menjadi hegemon regional,
25:05karena dia berhasil menangkis serangan apapun,
25:07dan dia berhasil eksis,
25:08tetap hidup.
25:09Suka nggak suka,
25:10dia adalah hegemon regional.
25:11Di mana yang lain nggak berdaya,
25:13dia megang.
25:14Hegemon regional yang memegang 20% minyak dunia,
25:17tergantung sama dia.
25:18Sedangkan sekarang menekan secara global.
25:21Masalahnya,
25:22apakah tekanan global menyerang di mana-mana,
25:25menyetop di mana,
25:26itu akan membuat minyak keluar.
25:27Karena hidupnya dari pemerintah Trump,
25:31ini tergantung nanti keluar itu,
25:33minyak itu keluar lagi,
25:35atau kemudian lain lagi,
25:36sehingga inflasi turun.
25:37Kucinya cuma satu.
25:39Jadi,
25:39Amerika itu harus sadar bahwa dia,
25:41era dia sebagai unipolar,
25:44adidaya satu-satunya di dunia sudah berakhir,
25:46dia sudah tahu.
25:47Ada China,
25:47ada Asia.
25:48Tetapi,
25:49dengan kebodohannya sendiri,
25:51melakukan serangan yang tidak penuh strategi ini,
25:54mengakibatkan timbul adidaya regional,
25:56yang namanya Iran,
25:57pada saat dia berhasil menangkis Amerika.
26:00Adidaya itu bukan soal dia berapa banyak punya huludak nuklir,
26:03tapi berapa besar influence-nya di dunia,
26:06dan influence-nya di daerah itu.
26:07Iran itu besar sekali loh influence-nya sekarang,
26:09di mana orang datang menghadap ke dia,
26:11dia naik gengsinya,
26:12naik levelnya.
26:13dunia kan bukan hanya soal berapa banyak punya barang,
26:16berapa punya uang,
26:17tapi berapa berwibawanya negara ini.
26:21Nah, Iran wibawanya naik.
26:22Nah, sekarang dengan itu,
26:23ya Iran harus,
26:24Amerika harus tahu,
26:25ya mungkin nggak,
26:26Iran dapat 100%?
26:27Nggak.
26:27Tapi,
26:28yang jelas,
26:28Iran pasti harus lebih banyak dari Amerika.
26:30Menurut saya,
26:32dibawa tangan kan di perundingan,
26:34tapi menurut saya,
26:34yang penting Amerika itu nggak kelihatan kalah gitu ya sekarang.
26:37Praktisnya dia kalah,
26:38gimana nggak kalah?
26:40Efek Furi gagal.
26:41Nggak tercapai tujuannya.
26:43Tapi memang pihak orang-orang pendukung Amerika bilang kan,
26:45wah ini sudah mati semua,
26:46ini apa,
26:47itu kan kalah.
26:48Nggak kalah kamu kalau,
26:48tapi nyatanya si Irannya nggak nyerah,
26:50nggak apa,
26:51kamu ribut bilang dia kalah,
26:52nyatanya nggak nyerah,
26:53terus kamu mau apa,
26:54kan nggak bisa.
26:55Sama juga orang Amerika modelnya begitu.
26:57Nyatanya,
26:57akhirnya Efek Furi gagal.
26:59Nah,
26:59apa yang dicari ke sekarang adalah,
27:03bagaimana bisa tercapai kesepakatan,
27:05agar satu,
27:08uraniumnya itu bagaimana,
27:10nanti diserahkan kegala ketiga,
27:11terus nanti mulai moratoriumnya berapa,
27:1310 tahun,
27:13atau berapa,
27:14pasti akan dealnya itu.
27:16Karena Iran sudah pernah setuju dengan deal itu sebelumnya.
27:19Oke.
27:19Pak Agung,
27:20terima kasih sudah mau datang ke studio.
27:21Mbak Aisyah,
27:22terima kasih sudah bergabung lewat sambungan dalam jaringan.
27:24Selamat malam semuanya.
27:26Terima kasih.
Komentar