Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan di tengah perdebatan mengenai respons pemerintah Indonesia terhadap Singapura.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengingatkan pentingnya respons yang proporsional dalam menyikapi pernyataan dari negara tetangga.

Sementara itu, Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo, menilai nasionalisme harus didukung tata kelola pemerintahan yang kuat, kapasitas negara, dan langkah diplomasi yang terukur.

Menanggapi kritik tersebut, Juru Bicara Partai Gerindra, Kamrussamad, menjelaskan bahwa komunikasi IndonesiaSingapura telah membahas perkembangan pemadaman karhutla, penegakan hukum, serta rencana kerja sama kedua negara. Perdebatan ini mengangkat pertanyaan penting: apakah ketegasan diplomatik sudah sejalan dengan penyelesaian masalah di lapangan?

Di tengah karhutla yang berulang, mampukah pemerintah membuktikan komitmennya melalui pemadaman api, penegakan hukum, dan perbaikan tata kelola lingkungan?

Produser: Prayogi Haro

Editor: Lintang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/698937/dialog-cerdas-karhutla-belum-tuntas-gerindra-pakar-soroti-diplomasi-prabowo-dengan-singapura
Transkrip
00:02Ya, Profit, Profit Mak, kalau ulusan protek luar negeri yang terkesan, ini yang terkesan, saya tetap pendapat Anda bahwa Pak
00:10Presiden itu agak tampak terganggu begitu, sangat sensitif kalau udah ngomongin asing.
00:16Contoh, ada bantuan nih, gitu, dari asing misalnya, itu tidak semua diterima, yang dulu juga begitu.
00:23Terus kemudian ada tagar protes asap, itu juga dianggap sebagai asing, begitu.
00:29Apakah, ya, ataupun mungkin, oh ini protes dari politisi sebelah, seperti itu. Anda melihat itu tidak di sikap politik luar
00:36negeri, Pak Presiden?
00:38Ya, kecuali ada Trump ya.
00:42Tapi ginilah, kalau menurut saya, kita proporsional aja.
00:47Tentu kita kan sebenarnya berharap banyak kepada Bapak Presiden ya.
00:50Bagaimana beliau pergi ke luar negeri, dan kemudian bertemu dengan para pemimpin berbagai negara.
01:01Menurut saya, saya senang nih awalnya.
01:04Tapi, kok saya bertanya-tanya, kenapa nggak dikapitalisasi?
01:08Kapan dikapitalisasinya?
01:11Kapan misalnya kita bisa seperti kayak Pakistan bener menjadi mediator?
01:18Kapan misalnya kita bisa benar-benar membuat mereka mau mendorong perlaku usahanya untuk berinvestasi di Indonesia?
01:28Itu pertanyaan-pertanyaan.
01:31Jadi, kapan kemudian ASEAN itu bisa dipimpin oleh beliau, walaupun beliau mungkin bukan sebagai ketua ASEAN?
01:40Ini kan menjadi pertanyaan-pertanyaan tentunya.
01:43Nah, saya sendiri melihat bahwa harusnya bisa dimaksimalkan apa yang beliau lakukan selama ini.
01:54Itu pertama.
01:55Yang kedua, saya nggak tahu ya, beliau mungkin sensitif ketika terkait dengan karhutlah ini.
02:06Tapi mungkin juga untuk supaya masalah karhutlah ini, rakyat mendukung beliau.
02:15Karena sekarang kita punya musuh bersama.
02:17Jadi sensitif karena ada isu kedaulatan, menurut Anda tidak?
02:20Iya, jadi seperti itu. Jadi, supaya kita udah nggak mikir lagi karhutlah lah.
02:26Napas kita yang sesak ini udah nggak apa-apa.
02:29Yang penting kita punya musuh bersama.
02:31Tapi kalau menurut saya nggak benar kalau seperti itu.
02:34Kalau saya melihatnya.
02:36Belum lagi, di bawah beliau, bukannya menenangkan, nyipas terus.
02:42Nyipas terus?
02:43Jadi yang bikin panas presiden sendiri?
02:46Betul.
02:46Saya ambil contoh ya.
02:48Kalau misalnya kita bicara antara hubungan Indonesia-Singapura itu, patokan kita adalah pejabatnya.
02:56Misalnya Bu Mutia Hafid itu, itu dia mengomentari mantan anggota parlemen.
03:04Anggota parlemen, udah itu mantan.
03:07Anggota parlemen juga kita harus lihat juga.
03:09Dia oposisi atau bukan.
03:11Kalau dia oposisi, ya wajar kalau dia teriak-teriak kayak begitu.
03:15Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana pemerintah merespon.
03:20Iya kan?
03:21Nah, hal yang seperti ini, ini yang harusnya kita lihat.
03:24Jadi jangan gebiah-uyah bahwa, oh ini kuara Singapura.
03:28Oh ini suara Malaysia, kayak begitu.
03:30Enggak.
03:32Belum lagi, kalau misalnya rakyat sudah ada di belakang Bapak Presiden, oke kita lawan, kita siap.
03:41Tiba-tiba nanti kan tanggal 17 November nanti akan ada pertemuan ASEAN, peluk-pelukan dan lain sebagainya.
03:47Rakyat gimana?
03:49Itu kalau menurut saya irresponsible, tidak bertanggung jawab.
03:54Nah ini yang harusnya diperhatikan betul.
03:59Kalau misalnya memang, kalau saya selalu mengatakan, pertama padamkan api.
04:06Bahwa ada penindakan hukum, oke.
04:08Tadi ditanya, penindakan hukum, kenapa setelah ada Satgas, Singapura berani?
04:13Enggak, Singapura itu sudah manggil mereka sejak awal.
04:16Bukan pada waktu Satgas ini.
04:19Saya juga kaget juga, saya pikir Satgas dibentuk.
04:22Wah Alhamdulillah, sekarang Singapura akan masuk, mungkin Malaysia akan masuk, dibuka.
04:27Kan terakhir Pak Menko Polka mengatakan, bahwa kita tidak perlu, kita bisa sendiri menyelesaikan masalah ini.
04:33Kan begitu.
04:34Nah saya pikir, oh Satgas bagus.
04:37Tapi saya baca, ya Satgas untuk melakukan proses hukum.
04:41Di mana ini dan lain sebagainya.
04:43Dan kita tahu ya, pada waktu Singapura bilang bahwa ada 8-10 perusahaan,
04:48langsung buru-buru, Kapolri bilang kita naikkan.
04:52Ada 80, dan di antara mereka ada Singapura, pasti ada Singapura, ada Malaysia.
04:58Ya kan?
04:59Yang kasihan Korea juga masuk.
05:00Apa urusan saya?
05:01Tapi supaya nggak kelihatan bahwa ini kita bicara soal Singapura dan Malaysia, masukin aja Korea.
05:06Oke, nanti dijawab sama.
05:07Tapi menurut saya, proses hukum boleh dilakukan.
05:10Tapi...
05:11Padamkan dulu api, proses hukum dilakukan.
05:14Saya tahun 2015 dan lain sebagainya, ketika Singapura memperlakukan undang-undang heistnya itu secara ekstratoritorial,
05:23saya juga keras juga bicara.
05:25Oke, nanti dijawab sama Kang Samad soal itu.
05:27Iya.
05:28Saya ke Mas Ibu Bawanto dulu.
05:30Mas Ibu Bawanto, Diplomat Sinur Singapura, bila hari kau Sikan mengatakan,
05:35dengan pemangkasan suplegas itu, itu bentuknya intimidatif.
05:37Dan justru, nanti bisa merugikan Indonesia yang lebih telak.
05:42Menurut Anda ini harus dipertimbangkan oleh RI,
05:44atau sebenarnya adalah sikap kalkulasi keputus asan Singapura yang sudah bergantung kepada suplegas Indonesia?
05:51Even katanya 2% doang sih.
05:53Iya, jadi saya coba mereframe lagi ya pertanyaan tadi.
05:57Jadi ini kembali ke nasionalisme ya.
06:02Saya jawabnya ya.
06:03Jadi nasionalisme itu sebenarnya mendapatkan legitimasi,
06:06jika memang bisa melindungi kepentingan nasional bangsa itu.
06:10Dan bisa dipercaya oleh audiens domestik.
06:14Dan yang sekarang Anda melihat tidak dipercaya oleh audiens domestik?
06:16Saya gak bilang begitu.
06:17Saya gak bilang begitu.
06:18Belum sampai situ.
06:19Belum sampai situ.
06:20Oke lanjut.
06:21Nah, jadi ini bisa berbahaya nasionalisme,
06:24bisa berbahaya jika dipelintir menjadi retorika emosional yang tidak produktif.
06:29Nah, jadi dalam kondisi seperti ini,
06:32persoalannya bukan siapa yang lebih keras bicara mbak.
06:34Baik Singapura atau Indonesia gitu.
06:36Tapi bagaimana kita bisa mengelola instrumen of national power kita
06:41dengan governance yang benar.
06:43Proses yang benar.
06:44Algoritma berpikir yang benar.
06:45Step-step yang tadi Prof Higgs sudah jelaskan juga misalnya.
06:48Nah, ini penting gitu loh.
06:50Nah, contoh ya misalnya dalam diplomasi.
06:52Siapa membalas siapa?
06:53Ini pernyataan resmi apa?
06:54Bukan.
06:55Proporsional atau tidak.
06:56Secara hukum.
06:57Tadi Pak Syed sudah bilang kualitas hidup di Singapura.
07:00Secara ekonomi.
07:02Secara keamanan dan lain-lain.
07:03Jadi ujung-ujungnya mbak, apa sih?
07:05Ini masalah governance.
07:07Governance.
07:08Governance di Singapura itu memang baik.
07:10Karena mereka memang mau menjadi bangsa yang world class.
07:13Gitu loh.
07:14Dia sesuai dengan standar dunia gitu katakan.
07:16Nah, contohnya SQ dan Garuda.
07:19Bagaimana dikelolanya perbandingannya?
07:21Satu.
07:23Profesional, satu lagi.
07:24Bagaimana misalnya?
07:25Di Selat Malaka.
07:28Service itu disediakan oleh sisi Singapura.
07:30Bukan Indonesia-nya misalnya.
07:32Dari tahun 2005 sampai 2015, kita kehilangan 24 pulau.
07:37Gitu.
07:38Karena mining sand.
07:40Sand mining disana.
07:41Nah, jadi ujung-ujungnya tuh kita mau menjadi pemain di tingkat dunia.
07:45Gitu.
07:46Atau kita mau menjadi revisionist yang mengubah sistem.
07:48Kalau kita mau menjadi revisionist yang mengubah sistem, dia gak apa-apa.
07:51Asalkan kita kuat ke dalam governance-nya.
07:53Dan bisa dipercaya.
07:54Itu poinnya tuh.
07:55Oke, itu poinnya.
07:56Sekarang kita kuat atau tidak?
07:58Apanya?
07:59Anda kan mengatakan memperkuat governance-nya.
08:01Jadi governance kita sudah kuat atau belum?
08:02Belum.
08:03Belum.
08:03Belum.
08:04Karena kalau kita kuat statecraft-nya, Mbak.
08:07Kita akan punya daya tawar.
08:08Nah, untuk bisa punya daya tawar harus punya kapasitas dan kapabilitas.
08:11Bukan hanya kapasitas yang Francis Fukuyama mengatakan.
08:15Pemerintah suka tergoda untuk melebarkan kapasitasnya.
08:18Tapi tidak diikut oleh kapabilitasnya.
08:19Dan kita tuh perlu dipercaya oleh audience domestik dan internasional.
08:24Apalagi sekarang model governance.
08:25Itu udah bukan lagi old paradigm government.
08:28Tetapi the new paradigm governance.
08:31Tata kelola bersama mengelolanya.
08:34Digital based.
08:35Everybody can't ask.
08:37Domestic audience.
08:38Di internasional audience bisa memotret Indonesia secara detail.
08:42Kepala negaranya.
08:43Wakil presidennya.
08:44Satu sama lain negara.
08:45Satu sama lain.
08:45Rakyatnya.
08:46Rakyatnya menilai.
08:48Persepsi is reality gitu loh.
08:50Nah, jadi kita semua memang harus menjadi introspeksi.
08:53Dan kita harus bisa melakukan langkah-langkah yang sekarang adalah langkah-langkah pembelajaran.
08:57Itu poinnya tuh.
08:58Oke.
08:59Nah, jadi ya itu.
09:01Oke.
09:02Kang, silahkan jawab.
09:04Dua kritik dari dua orang.
09:05Governance-nya dulu yang diperbaiki.
09:07Ya, sebelum saya menjawab itu.
09:09Saya merespon yang dari Prof. Juwono.
09:12Jadi, pertama yang kami dapatkan update ketika pihak pemerintah Singapur datang ke kementerian luar negeri.
09:22Mereka juga mengupdate langkah-langkah yang sudah dilakukan.
09:25Begitu juga sebaliknya, pemerintah Indonesia menyodorkan data-data apa yang dilakukan dalam pemadaman karhutlah.
09:34Di titik koordinasi mana, berapa luas di Kalimantan Tengah yang sudah padam, berapa luas di Kalimantan Barat, berapa luas di
09:43Sumatera, di Riau, dan terakhir di Jambi.
09:46Lalu kemudian ada lokasi yang sulit untuk dijangkau juga ditunjukkan karena faktor alam.
09:52Lalu kemudian disampaikan juga penindakan yang sudah dilakukan.
09:57Ini nama-nama perusahaan yang sudah dicabut, ini SK pencabutannya, ini sanksinya, ini yang tersangka, ini orangnya ditangani di 17
10:06polda.
10:07Jadi disampaikan ke mereka, mereka juga mengupdate bahwa sudah memanggil dan seterusnya.
10:13Jadi ini adalah komunikasi yang menurut saya sangat produktif.
10:17Sehingga mereka tahu sampai pompa, penambahan pompa pun diupdate.
10:21Dan rencana jangka menengahnya juga disampaikan tentang peningkatan jumlah polisi kehutanan.
10:28Dan disampaikan dalam perencanaan jangka menengah ke depannya.
10:33Sehingga dalam pertemuan diplomasi tersebut menunjukkan kesamaan.
10:38Bahwa kedua negara menginginkan kerjasama untuk sama-sama bisa bergerak cepat mengatasi keadaan yang ada.
10:47Itu yang sudah kami dapatkan update-nya.
10:50Kemudian yang kedua, saya memahami kalau menyangkut masalah governance.
10:55Ini memang tantangan kita.
10:57Dan banyak hal.
10:59Karena salah satu masalah utama kita memang adalah tumpan tindi perizinan lahan.
11:06Ini yang tidak pernah selesai.
11:10Makanya moratorium yang pernah dilakukan berhasil permasalahan.
11:15Setelah moratorium itu diharapkan landscape-nya itu jauh lebih baik.
11:20Sehingga bisa dilakukan penataan ulang.
11:23Nah makanya sekarang kalau kita lihat ada langkah-langkah selektif untuk sektor-sektor pertambangan misalnya dalam penerbitan RKAB.
11:36Selektif dalam arti dalam banyak hal diminta komitmen yang kuat terhadap ekosistem lingkungan.
11:46Itu yang dilakukan dalam satu tahun terakhir ini.
11:50Untuk jangka menangahnya saya yakin dan percaya bahwa pemerintah dengan kejadian tahun ini akan jauh lebih siap untuk tahun depan
12:00menghadapi kejadian yang terus terulang.
12:05Nah karena itu inilah kenapa kemudian menyepakati ada John Committee antara dua negara.
12:12Karena memang ada kesamaan ketika mereka saling mengupdate tentang langkah yang sudah dilakukan bukan yang akan dilakukan.
12:20Yang akan dilakukan itulah yang menjadi agenda kerjasama ke depan.
12:24Jangka pendeknya mereka sedang merumuskan.
12:26Jangka panjangnya juga, jangka menengahnya juga sedang dirumuskan.
12:29Dan saya yakin ini adalah kerja produktif.
12:32Dan ini komitmen pemerintah Indonesia untuk melestarikan hutannya.
12:37Bukan hanya buat negara tetangga, tapi buat masyarakat kita.
12:41Boleh gak?
12:42Boleh sedikit-sedikit aja ya.
12:43Nanti saja kita bahas.
12:44Usai Jedak, tetap bersama kami.
12:46Bola Liar.
12:46Terima kasih.
12:47Terima kasih.
12:49Terima kasih.
12:50Terima kasih.

Dianjurkan