00:02Ya, Profit, Profit Mak, kalau ulusan protek luar negeri yang terkesan, ini yang terkesan, saya tetap pendapat Anda bahwa Pak
00:10Presiden itu agak tampak terganggu begitu, sangat sensitif kalau udah ngomongin asing.
00:16Contoh, ada bantuan nih, gitu, dari asing misalnya, itu tidak semua diterima, yang dulu juga begitu.
00:23Terus kemudian ada tagar protes asap, itu juga dianggap sebagai asing, begitu.
00:29Apakah, ya, ataupun mungkin, oh ini protes dari politisi sebelah, seperti itu. Anda melihat itu tidak di sikap politik luar
00:36negeri, Pak Presiden?
00:38Ya, kecuali ada Trump ya.
00:42Tapi ginilah, kalau menurut saya, kita proporsional aja.
00:47Tentu kita kan sebenarnya berharap banyak kepada Bapak Presiden ya.
00:50Bagaimana beliau pergi ke luar negeri, dan kemudian bertemu dengan para pemimpin berbagai negara.
01:01Menurut saya, saya senang nih awalnya.
01:04Tapi, kok saya bertanya-tanya, kenapa nggak dikapitalisasi?
01:08Kapan dikapitalisasinya?
01:11Kapan misalnya kita bisa seperti kayak Pakistan bener menjadi mediator?
01:18Kapan misalnya kita bisa benar-benar membuat mereka mau mendorong perlaku usahanya untuk berinvestasi di Indonesia?
01:28Itu pertanyaan-pertanyaan.
01:31Jadi, kapan kemudian ASEAN itu bisa dipimpin oleh beliau, walaupun beliau mungkin bukan sebagai ketua ASEAN?
01:40Ini kan menjadi pertanyaan-pertanyaan tentunya.
01:43Nah, saya sendiri melihat bahwa harusnya bisa dimaksimalkan apa yang beliau lakukan selama ini.
01:54Itu pertama.
01:55Yang kedua, saya nggak tahu ya, beliau mungkin sensitif ketika terkait dengan karhutlah ini.
02:06Tapi mungkin juga untuk supaya masalah karhutlah ini, rakyat mendukung beliau.
02:15Karena sekarang kita punya musuh bersama.
02:17Jadi sensitif karena ada isu kedaulatan, menurut Anda tidak?
02:20Iya, jadi seperti itu. Jadi, supaya kita udah nggak mikir lagi karhutlah lah.
02:26Napas kita yang sesak ini udah nggak apa-apa.
02:29Yang penting kita punya musuh bersama.
02:31Tapi kalau menurut saya nggak benar kalau seperti itu.
02:34Kalau saya melihatnya.
02:36Belum lagi, di bawah beliau, bukannya menenangkan, nyipas terus.
02:42Nyipas terus?
02:43Jadi yang bikin panas presiden sendiri?
02:46Betul.
02:46Saya ambil contoh ya.
02:48Kalau misalnya kita bicara antara hubungan Indonesia-Singapura itu, patokan kita adalah pejabatnya.
02:56Misalnya Bu Mutia Hafid itu, itu dia mengomentari mantan anggota parlemen.
03:04Anggota parlemen, udah itu mantan.
03:07Anggota parlemen juga kita harus lihat juga.
03:09Dia oposisi atau bukan.
03:11Kalau dia oposisi, ya wajar kalau dia teriak-teriak kayak begitu.
03:15Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana pemerintah merespon.
03:20Iya kan?
03:21Nah, hal yang seperti ini, ini yang harusnya kita lihat.
03:24Jadi jangan gebiah-uyah bahwa, oh ini kuara Singapura.
03:28Oh ini suara Malaysia, kayak begitu.
03:30Enggak.
03:32Belum lagi, kalau misalnya rakyat sudah ada di belakang Bapak Presiden, oke kita lawan, kita siap.
03:41Tiba-tiba nanti kan tanggal 17 November nanti akan ada pertemuan ASEAN, peluk-pelukan dan lain sebagainya.
03:47Rakyat gimana?
03:49Itu kalau menurut saya irresponsible, tidak bertanggung jawab.
03:54Nah ini yang harusnya diperhatikan betul.
03:59Kalau misalnya memang, kalau saya selalu mengatakan, pertama padamkan api.
04:06Bahwa ada penindakan hukum, oke.
04:08Tadi ditanya, penindakan hukum, kenapa setelah ada Satgas, Singapura berani?
04:13Enggak, Singapura itu sudah manggil mereka sejak awal.
04:16Bukan pada waktu Satgas ini.
04:19Saya juga kaget juga, saya pikir Satgas dibentuk.
04:22Wah Alhamdulillah, sekarang Singapura akan masuk, mungkin Malaysia akan masuk, dibuka.
04:27Kan terakhir Pak Menko Polka mengatakan, bahwa kita tidak perlu, kita bisa sendiri menyelesaikan masalah ini.
04:33Kan begitu.
04:34Nah saya pikir, oh Satgas bagus.
04:37Tapi saya baca, ya Satgas untuk melakukan proses hukum.
04:41Di mana ini dan lain sebagainya.
04:43Dan kita tahu ya, pada waktu Singapura bilang bahwa ada 8-10 perusahaan,
04:48langsung buru-buru, Kapolri bilang kita naikkan.
04:52Ada 80, dan di antara mereka ada Singapura, pasti ada Singapura, ada Malaysia.
04:58Ya kan?
04:59Yang kasihan Korea juga masuk.
05:00Apa urusan saya?
05:01Tapi supaya nggak kelihatan bahwa ini kita bicara soal Singapura dan Malaysia, masukin aja Korea.
05:06Oke, nanti dijawab sama.
05:07Tapi menurut saya, proses hukum boleh dilakukan.
05:10Tapi...
05:11Padamkan dulu api, proses hukum dilakukan.
05:14Saya tahun 2015 dan lain sebagainya, ketika Singapura memperlakukan undang-undang heistnya itu secara ekstratoritorial,
05:23saya juga keras juga bicara.
05:25Oke, nanti dijawab sama Kang Samad soal itu.
05:27Iya.
05:28Saya ke Mas Ibu Bawanto dulu.
05:30Mas Ibu Bawanto, Diplomat Sinur Singapura, bila hari kau Sikan mengatakan,
05:35dengan pemangkasan suplegas itu, itu bentuknya intimidatif.
05:37Dan justru, nanti bisa merugikan Indonesia yang lebih telak.
05:42Menurut Anda ini harus dipertimbangkan oleh RI,
05:44atau sebenarnya adalah sikap kalkulasi keputus asan Singapura yang sudah bergantung kepada suplegas Indonesia?
05:51Even katanya 2% doang sih.
05:53Iya, jadi saya coba mereframe lagi ya pertanyaan tadi.
05:57Jadi ini kembali ke nasionalisme ya.
06:02Saya jawabnya ya.
06:03Jadi nasionalisme itu sebenarnya mendapatkan legitimasi,
06:06jika memang bisa melindungi kepentingan nasional bangsa itu.
06:10Dan bisa dipercaya oleh audiens domestik.
06:14Dan yang sekarang Anda melihat tidak dipercaya oleh audiens domestik?
06:16Saya gak bilang begitu.
06:17Saya gak bilang begitu.
06:18Belum sampai situ.
06:19Belum sampai situ.
06:20Oke lanjut.
06:21Nah, jadi ini bisa berbahaya nasionalisme,
06:24bisa berbahaya jika dipelintir menjadi retorika emosional yang tidak produktif.
06:29Nah, jadi dalam kondisi seperti ini,
06:32persoalannya bukan siapa yang lebih keras bicara mbak.
06:34Baik Singapura atau Indonesia gitu.
06:36Tapi bagaimana kita bisa mengelola instrumen of national power kita
06:41dengan governance yang benar.
06:43Proses yang benar.
06:44Algoritma berpikir yang benar.
06:45Step-step yang tadi Prof Higgs sudah jelaskan juga misalnya.
06:48Nah, ini penting gitu loh.
06:50Nah, contoh ya misalnya dalam diplomasi.
06:52Siapa membalas siapa?
06:53Ini pernyataan resmi apa?
06:54Bukan.
06:55Proporsional atau tidak.
06:56Secara hukum.
06:57Tadi Pak Syed sudah bilang kualitas hidup di Singapura.
07:00Secara ekonomi.
07:02Secara keamanan dan lain-lain.
07:03Jadi ujung-ujungnya mbak, apa sih?
07:05Ini masalah governance.
07:07Governance.
07:08Governance di Singapura itu memang baik.
07:10Karena mereka memang mau menjadi bangsa yang world class.
07:13Gitu loh.
07:14Dia sesuai dengan standar dunia gitu katakan.
07:16Nah, contohnya SQ dan Garuda.
07:19Bagaimana dikelolanya perbandingannya?
07:21Satu.
07:23Profesional, satu lagi.
07:24Bagaimana misalnya?
07:25Di Selat Malaka.
07:28Service itu disediakan oleh sisi Singapura.
07:30Bukan Indonesia-nya misalnya.
07:32Dari tahun 2005 sampai 2015, kita kehilangan 24 pulau.
07:37Gitu.
07:38Karena mining sand.
07:40Sand mining disana.
07:41Nah, jadi ujung-ujungnya tuh kita mau menjadi pemain di tingkat dunia.
07:45Gitu.
07:46Atau kita mau menjadi revisionist yang mengubah sistem.
07:48Kalau kita mau menjadi revisionist yang mengubah sistem, dia gak apa-apa.
07:51Asalkan kita kuat ke dalam governance-nya.
07:53Dan bisa dipercaya.
07:54Itu poinnya tuh.
07:55Oke, itu poinnya.
07:56Sekarang kita kuat atau tidak?
07:58Apanya?
07:59Anda kan mengatakan memperkuat governance-nya.
08:01Jadi governance kita sudah kuat atau belum?
08:02Belum.
08:03Belum.
08:03Belum.
08:04Karena kalau kita kuat statecraft-nya, Mbak.
08:07Kita akan punya daya tawar.
08:08Nah, untuk bisa punya daya tawar harus punya kapasitas dan kapabilitas.
08:11Bukan hanya kapasitas yang Francis Fukuyama mengatakan.
08:15Pemerintah suka tergoda untuk melebarkan kapasitasnya.
08:18Tapi tidak diikut oleh kapabilitasnya.
08:19Dan kita tuh perlu dipercaya oleh audience domestik dan internasional.
08:24Apalagi sekarang model governance.
08:25Itu udah bukan lagi old paradigm government.
08:28Tetapi the new paradigm governance.
08:31Tata kelola bersama mengelolanya.
08:34Digital based.
08:35Everybody can't ask.
08:37Domestic audience.
08:38Di internasional audience bisa memotret Indonesia secara detail.
08:42Kepala negaranya.
08:43Wakil presidennya.
08:44Satu sama lain negara.
08:45Satu sama lain.
08:45Rakyatnya.
08:46Rakyatnya menilai.
08:48Persepsi is reality gitu loh.
08:50Nah, jadi kita semua memang harus menjadi introspeksi.
08:53Dan kita harus bisa melakukan langkah-langkah yang sekarang adalah langkah-langkah pembelajaran.
08:57Itu poinnya tuh.
08:58Oke.
08:59Nah, jadi ya itu.
09:01Oke.
09:02Kang, silahkan jawab.
09:04Dua kritik dari dua orang.
09:05Governance-nya dulu yang diperbaiki.
09:07Ya, sebelum saya menjawab itu.
09:09Saya merespon yang dari Prof. Juwono.
09:12Jadi, pertama yang kami dapatkan update ketika pihak pemerintah Singapur datang ke kementerian luar negeri.
09:22Mereka juga mengupdate langkah-langkah yang sudah dilakukan.
09:25Begitu juga sebaliknya, pemerintah Indonesia menyodorkan data-data apa yang dilakukan dalam pemadaman karhutlah.
09:34Di titik koordinasi mana, berapa luas di Kalimantan Tengah yang sudah padam, berapa luas di Kalimantan Barat, berapa luas di
09:43Sumatera, di Riau, dan terakhir di Jambi.
09:46Lalu kemudian ada lokasi yang sulit untuk dijangkau juga ditunjukkan karena faktor alam.
09:52Lalu kemudian disampaikan juga penindakan yang sudah dilakukan.
09:57Ini nama-nama perusahaan yang sudah dicabut, ini SK pencabutannya, ini sanksinya, ini yang tersangka, ini orangnya ditangani di 17
10:06polda.
10:07Jadi disampaikan ke mereka, mereka juga mengupdate bahwa sudah memanggil dan seterusnya.
10:13Jadi ini adalah komunikasi yang menurut saya sangat produktif.
10:17Sehingga mereka tahu sampai pompa, penambahan pompa pun diupdate.
10:21Dan rencana jangka menengahnya juga disampaikan tentang peningkatan jumlah polisi kehutanan.
10:28Dan disampaikan dalam perencanaan jangka menengah ke depannya.
10:33Sehingga dalam pertemuan diplomasi tersebut menunjukkan kesamaan.
10:38Bahwa kedua negara menginginkan kerjasama untuk sama-sama bisa bergerak cepat mengatasi keadaan yang ada.
10:47Itu yang sudah kami dapatkan update-nya.
10:50Kemudian yang kedua, saya memahami kalau menyangkut masalah governance.
10:55Ini memang tantangan kita.
10:57Dan banyak hal.
10:59Karena salah satu masalah utama kita memang adalah tumpan tindi perizinan lahan.
11:06Ini yang tidak pernah selesai.
11:10Makanya moratorium yang pernah dilakukan berhasil permasalahan.
11:15Setelah moratorium itu diharapkan landscape-nya itu jauh lebih baik.
11:20Sehingga bisa dilakukan penataan ulang.
11:23Nah makanya sekarang kalau kita lihat ada langkah-langkah selektif untuk sektor-sektor pertambangan misalnya dalam penerbitan RKAB.
11:36Selektif dalam arti dalam banyak hal diminta komitmen yang kuat terhadap ekosistem lingkungan.
11:46Itu yang dilakukan dalam satu tahun terakhir ini.
11:50Untuk jangka menangahnya saya yakin dan percaya bahwa pemerintah dengan kejadian tahun ini akan jauh lebih siap untuk tahun depan
12:00menghadapi kejadian yang terus terulang.
12:05Nah karena itu inilah kenapa kemudian menyepakati ada John Committee antara dua negara.
12:12Karena memang ada kesamaan ketika mereka saling mengupdate tentang langkah yang sudah dilakukan bukan yang akan dilakukan.
12:20Yang akan dilakukan itulah yang menjadi agenda kerjasama ke depan.
12:24Jangka pendeknya mereka sedang merumuskan.
12:26Jangka panjangnya juga, jangka menengahnya juga sedang dirumuskan.
12:29Dan saya yakin ini adalah kerja produktif.
12:32Dan ini komitmen pemerintah Indonesia untuk melestarikan hutannya.
12:37Bukan hanya buat negara tetangga, tapi buat masyarakat kita.
12:41Boleh gak?
12:42Boleh sedikit-sedikit aja ya.
12:43Nanti saja kita bahas.
12:44Usai Jedak, tetap bersama kami.
12:46Bola Liar.
12:46Terima kasih.
12:47Terima kasih.
12:49Terima kasih.
12:50Terima kasih.