00:03Intro
00:05Pompas Motang kami lanjutkan, istana kembali menambah wajah baru dalam jajaran Dewan Pertimbangan Presiden
00:10yang bertugas untuk membantu program kerja Prabowo.
00:13Sebanyak 26 tokoh dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggotawan tim pres dengan latar belakang yang beragam.
00:20Mulai dari politisi, ulama, pengusaha, akademisi, mantan pejabat negara, hingga pengamat.
00:32Istana kembali melantik sejumlah pejabat baru untuk memperkuat dan mempercepat kerja-kerja program Presiden Prabowo.
00:39Ada 26 tokoh dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
00:43Di antaranya mantan Menko PMK Pratikno, dilantik sebagai Ketua One Team Pres.
00:49Sementara mantan Menko Perekonomian Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menjadi Wakil Ketua.
00:56Muhammad Kodari yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, kini menjabat Sekretaris One Team Pres.
01:02Anggota One Team Pres berasal dari berbagai latar belakang.
01:05Mulai dari ulama, pengusaha, mantan kepala daerah, akademisi, hingga pengamat politik.
01:11Termasuk mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, yang ikut dilantik sebagai anggota One Team Pres.
01:18Anwar Usman menjadi Ketua MK pada 2018 dan mengakhiri masa jabatannya sebagai Hakim Konstitusi pada April 2026.
01:27Dan eks Menko Polhukam Budi Gunawan, yang ikut dilantik sebagai anggota One Team Pres.
01:32Roki Gerung, salah satu akademisi, juga kini jadi bagian dalam pemerintahan.
01:36Roki menyebut, One Team Pres akan mengolah persepsi publik yang berbeda dengan pemerintah, agar sama dengan persepsi presiden.
01:45Dan yang paling penting adalah menunjukkan tanpa ragu-ragu apa yang salah di dalam persepsi publik terhadap kekuasaan,
01:56dan bagaimana kekuasaan mengolah persepsi itu menjadi positif bagi negeri.
02:05Bukan mengolah persepsi, mengolah persepsi itu supaya sama dengan persepsi presiden.
02:11Kan seringkali itu persepsi publik itu berbeda.
02:15Perombakan kabinet dan pengisian sejumlah posisi baru ini juga mendapat sorotan terkait komposisi kekuatan politik di pemerintahan Prabowo.
02:22Sugiyat Santoso, juru bicara Partai Gerindra menilai, setelah dilantik, para pejabat tidak lagi ditempatkan berdasarkan latar belakang politiknya.
02:32Ini, kalau terlepas dari latar belakang bahwa sebelumnya dia dari partai mana, dari kelompok mana,
02:38ketika dia sudah dilantik menjadi katakanlah pejabat negara, apalagi menjadi masuk dalam kabinet,
02:45saya pikir tidak ada lagi dikotomi antara orang Pak Jokowi, orang Pak Prabowo, orang Golkar, orang partai lain.
02:51Saya yakin dan percaya, ketika mereka sudah dilantik, satu paksi semua, paksinya adalah paksi Prabowo.
02:58Di sisi lain, pengamat politik Yunarto Wijaya melihat,
03:01masih adanya tokoh dari kubu atau kelompok politik lama dalam pemerintahan dapat dibaca sebagai representasi,
03:07maupun bagian dari dinamika kompensasi politik.
03:11Yunarto menilai sejumlah tokoh yang sebelumnya dikenal dekat dengan Jokowi,
03:15kini masih berada di lingkaran kekuasaan.
03:18Namun dengan posisi yang dinilai tidak sestrategis sebelumnya.
03:23Representasi saja, representasi ini dalam arti entah untuk kemudian menyenangkan kelompok yang diwakili oleh orang tersebut,
03:32atau kemudian dalam konteks kompensasi secara politik.
03:37Karena kalau kita lihat kan, misalnya di tengah kritik dari, bukan kritik ya,
03:43di tengah tafsir dari resafal kabinet kemarin,
03:47yang banyak menafsirkan mulai terpinggirkannya kekuatan politik Jokowi,
03:53kita tahu juga gitu.
03:54Kemudian dalam resafal kemarin,
03:57Nistio Sigit dan Pak Pratikno masih masuk ke dalam sistem di istana.
04:02Walaupun secara fungsional sudah terpinggirkan, tidak sestrategis sebelumnya.
04:06Dengan tugas utamanya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden,
04:1026 tokoh One Team Press ini akan jadi upaya memperkuat arah kebijakan dan program-program prioritas Prabowo.
04:18Tim Liputan Kompas TV
04:25Penataan kembali komposisi pemerintahan Prabowo,
04:28termasuk-masuknya sejumlah tokoh ke dalam One Team Press,
04:31menjadi perhatian publik.
04:32Sejumlah sosok yang tergeser dari posisi sebelumnya sebagai menteri,
04:35dimasukkan ke dalam struktur One Team Press.
04:38Sejumlah sosok yang dikenal dekat Presiden ketujuh Republik Indonesia,
04:42Jokowi Dodo, juga masuk sebagai anggotawan One Team Press.
04:45Lalu bagaimana membaca penempatan ini?
04:47Kita bahas bersama Kunto Adiwibowo,
04:49analis komunikasi politik Universitas Pejaran.
04:52Pak Kunto, selamat petang.
04:54Selamat petang, Mas Dipo.
04:55Pak Kunto, ada 26 anggotawan One Team Press dengan berbagai latar belakang.
05:00Apa kesan politik yang Anda tangkap dari penempatan?
05:03Tokoh-tokoh ini di One Team Press?
05:04Ya, kalau yang pertama tentu yang kita tangkap bersama adalah
05:09Pak Prabowo ingin menjamin stabilitas politik nasional.
05:13Jadi dengan memasukkan tokoh-tokoh kunci dari berbagai elemen politik
05:18maupun organisasi keagamaan besar,
05:21juga bahkan ada mantan birokrat, pakar hukum, akademisi,
05:26lalu kemudian juga ada pengusaha.
05:28Ini tampaknya Pak Prabowo ingin membuat narasi bahwa
05:34pemerintahannya memang solid gitu.
05:37Dan didukung oleh banyak anasir politik maupun masyarakat.
05:41Lalu yang kedua, Pak Prabowo juga ingin ada peningkatan kualitas
05:47kebijakan strategis yang selama ini kebijakan-kebijakan yang lahir dari pemerintah
05:52sering blunder gitu kan, dikritik oleh masyarakat.
05:55Nah, di sini kemudian mungkin dengan ada banyak elemen perwakilan
06:01dari elemen-elemen masyarakat ini,
06:03ini diharapkan kebijakan yang dihasilkan lebih matang,
06:08lebih komprehensif, lebih meminimalisi risiko kesalahan
06:13dan blunder lah dalam pemerintahannya Pak Prabowo.
06:16Tapi kemudian, ini juga punya problem.
06:21Problem pertama, tentu saja kesan akomodasi politik ini yang tampak mengemuka.
06:27Karena bagi komposisi yang besar ini,
06:32ini saya karenakan ya hanya bagi-bagi jabatan saja gitu kan,
06:37apalagi Watim Pres ini dipertanyakan oleh banyak pihak efektivitasnya.
06:43Apakah benar dengan 26 ini akan efisien dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden?
06:50Oke.
06:51Justru yang terlap pertimbangan ke Presiden dari 26 orang ini.
06:56Oke, akomodasi politik ini bahkan ada sejumlah tokoh yang memiliki nama besar,
07:01vokal terhadap pemerintahan.
07:03Apa yang kemudian Anda lihat?
07:05Seperti misalnya adalah Rokigerung gitu,
07:07apakah ini juga ada arah untuk mengantisipasi mungkin dukungan politik
07:11yang kemudian juga dapat regerus ketika kritik di luar?
07:14Ini sangat kencang.
07:16Ya, kalau dari awal kan Rokigerung kelihatan memang lebih pro ke Pak Prabowo ya, Mas ya.
07:22Oke.
07:23Dalam komentarnya di banyak podcast, di media gitu kan,
07:29Rokigerung tampaknya posisinya memang tidak berhadap-hadapan dengan pemerintahan Prabowo,
07:35beda dengan waktu pemerintahnya Pak Jokowi.
07:37Sekarang Rokigerung mungkin lebih dari pemerintahnya Pak Prabowo,
07:45tapi perlu dilihat bahwa ketika tadi soal akomodasi politik yang dimasukkan ke dalam,
07:52tadi Anda juga sudah menyimbung soal orang-orangnya Pak Jokowi dalam tanda petik,
07:58ya ada Pak Patikno di situ, ada Anwar Usman, bahkan ada Muhammad Kodari yang di situ tentu pengaruhnya harus dinetralisir.
08:07Dan salah satu penetralisirnya di Wati Impres ya Rokigerung,
08:11karena selama ini Rokigerung sangat berhadap-hadapan, sangat galak gitu ya dengan Pak Jokowi.
08:19Nah, ini yang diharapkan dinamika ini akan terjadi di Wati Impres gitu, Mas.
08:24Oke, kan ada nama Pak Patikno juga, bahkan dipilih sebagai Ketua Wati Impres,
08:28dan juga ada nama Anwar Usman, yang kita tahu dua nama ini dekat dengan Pak Jokowi.
08:32Lalu ada nama Pak Budi Gunawan, yang kemudian dekat dengan PDIP.
08:35Ada Pak Rokigerung yang tadi sudah dibahas.
08:37Apakah dengan nama-nama ini, bukankah berpotensi adanya perbedaan pendapat yang mungkin saja,
08:44justru menjadi tantangan solidaritas, ataupun soliditas di dalam internal Wati Impres?
08:48Ya, betul. Itu salah satu resikonya yang saya sudah sebutkan.
08:53Sebutkan politis, ini kan lebih pada tadi.
08:57Jadi, narasinya memang Pak Prabowo ingin narasinya agar pemerintahan dia memang didukung oleh semua pihak.
09:05Oke.
09:07Jadi, ketika apa yang terjadi di dalam kan sebenarnya kita nggak tahu ya, Mas.
09:12Ketika Wati Impres ini sudah hadir, bahkan nasihatnya pun sifatnya rahasia.
09:18Ya, jadi publik tidak bisa tahu nasihat-nasihat apa yang keluar dari Wati Impres.
09:23Tapi kemudian, harusnya ada bentuk akuntabilitas berupa kajian atau beberapa hal yang mungkin tidak keluar dalam bentuk nasihat,
09:32tapi pertanggung jawaban bahwa ya, Wati Impres ini bekerja.
09:36Dan menurut saya itu yang harus dipikirkan oleh Pak Pratik, yang sebagai ketua selanjutnya.
09:41Tapi, kalau orang-orang yang berbeda latar belakang ini dikumpulkan, apakah memang hanya untuk katakanlah stabilitas politik nasional?
09:47Atau mungkin justru ada tujuan lain, seperti misalnya adalah memperluas dukungan politik Pak Prabowo?
09:53Ya, tentu saja itu.
09:54Yang pertama kan, semakin akomodatif Pak Prabowo, semakin susah atau semakin mahal bagi sebuah partai atau kekuatan politik
10:04untuk keluar dari koalisi dan menarik dukungannya dari Pak Prabowo.
10:09Karena kan, ya sudah kebagian kan Mas, gitu.
10:12Nah, ini kan problem kebagian, lalu kemudian kan lu juga ada di dalam,
10:17ini yang kemudian akan membuat kos politik keluar dari koalisi akan lebih besar.
10:22Lalu yang kedua juga, selain kos politik, ada problem ekonomi.
10:28Di situ ada Pak Hairul Tanjung, ada Pak Dato Sri Tahir,
10:33yang kemudian mengusaha yang di situ diharapkan juga akan membuat konsumsi ekonomi lebih kuat.
10:42Baik, terima kasih analis komunikasi politik UNPAD, Pak Kunto Adi Wibotlah bergabung di Kampas Matang.
10:49Saudara aliansi masyarakat menggugat dan pengacara jawara bela umat atau pejabat
10:54melaporkan oleh Pres Gibran Raka Buming ke Baris Grimpol.
10:56Terima kasih telah menonton!