Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 7 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden Prabowo Subianto membentuk Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres dengan 26 anggota dari berbagai latar belakang.

Analis komunikasi politik Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo menilai komposisi tersebut menunjukkan upaya pemerintah menjamin stabilitas politik nasional.

"Pak Prabowo ingin menjamin stabilitas politik nasional. Dengan memasukkan tokoh-tokoh kunci dari berbagai elemen politik maupun organisasi keagamaan besar, mantan birokrat, pakar hukum, akademisi, lalu kemudian juga ada pengusaha," ujar Kunto. (timecode 5:10)

Kunto menilai keberadaan berbagai elemen tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas kebijakan strategis pemerintah.

"Ini diharapkan kebijakan yang dihasilkan lebih matang, lebih komprehensif, lebih meminimalisir risiko kesalahan dan blunder dalam pemerintahannya Pak Prabowo," katanya. (timecode 6:03)

Namun, Kunto menyebut komposisi besar Wantimpres juga menimbulkan kesan adanya akomodasi politik.

"Problem pertama tentu saja kesan akomodasi politik ini yang tampak mengemuka karena komposisi yang besar ini seakan-akan hanya bagi-bagi jabatan saja," ujar Kunto.

Kunto Adi Wibowo menilai keberadaan Rocky Gerung dapat menjadi penyeimbang di tengah masuknya sejumlah tokoh yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

"Kalau dari awal kan Rocky Gerung kelihatan memang lebih pro ke Pak Prabowo," ujar Kunto. (timecode 7:37)

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Aqshal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/694038/arah-politik-di-balik-wantimpres-prabowo-usai-rocky-gerung-hingga-anwar-usman-dilantik
Transkrip
00:03Intro
00:05Pompas Motang kami lanjutkan, istana kembali menambah wajah baru dalam jajaran Dewan Pertimbangan Presiden
00:10yang bertugas untuk membantu program kerja Prabowo.
00:13Sebanyak 26 tokoh dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggotawan tim pres dengan latar belakang yang beragam.
00:20Mulai dari politisi, ulama, pengusaha, akademisi, mantan pejabat negara, hingga pengamat.
00:32Istana kembali melantik sejumlah pejabat baru untuk memperkuat dan mempercepat kerja-kerja program Presiden Prabowo.
00:39Ada 26 tokoh dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
00:43Di antaranya mantan Menko PMK Pratikno, dilantik sebagai Ketua One Team Pres.
00:49Sementara mantan Menko Perekonomian Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menjadi Wakil Ketua.
00:56Muhammad Kodari yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, kini menjabat Sekretaris One Team Pres.
01:02Anggota One Team Pres berasal dari berbagai latar belakang.
01:05Mulai dari ulama, pengusaha, mantan kepala daerah, akademisi, hingga pengamat politik.
01:11Termasuk mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, yang ikut dilantik sebagai anggota One Team Pres.
01:18Anwar Usman menjadi Ketua MK pada 2018 dan mengakhiri masa jabatannya sebagai Hakim Konstitusi pada April 2026.
01:27Dan eks Menko Polhukam Budi Gunawan, yang ikut dilantik sebagai anggota One Team Pres.
01:32Roki Gerung, salah satu akademisi, juga kini jadi bagian dalam pemerintahan.
01:36Roki menyebut, One Team Pres akan mengolah persepsi publik yang berbeda dengan pemerintah, agar sama dengan persepsi presiden.
01:45Dan yang paling penting adalah menunjukkan tanpa ragu-ragu apa yang salah di dalam persepsi publik terhadap kekuasaan,
01:56dan bagaimana kekuasaan mengolah persepsi itu menjadi positif bagi negeri.
02:05Bukan mengolah persepsi, mengolah persepsi itu supaya sama dengan persepsi presiden.
02:11Kan seringkali itu persepsi publik itu berbeda.
02:15Perombakan kabinet dan pengisian sejumlah posisi baru ini juga mendapat sorotan terkait komposisi kekuatan politik di pemerintahan Prabowo.
02:22Sugiyat Santoso, juru bicara Partai Gerindra menilai, setelah dilantik, para pejabat tidak lagi ditempatkan berdasarkan latar belakang politiknya.
02:32Ini, kalau terlepas dari latar belakang bahwa sebelumnya dia dari partai mana, dari kelompok mana,
02:38ketika dia sudah dilantik menjadi katakanlah pejabat negara, apalagi menjadi masuk dalam kabinet,
02:45saya pikir tidak ada lagi dikotomi antara orang Pak Jokowi, orang Pak Prabowo, orang Golkar, orang partai lain.
02:51Saya yakin dan percaya, ketika mereka sudah dilantik, satu paksi semua, paksinya adalah paksi Prabowo.
02:58Di sisi lain, pengamat politik Yunarto Wijaya melihat,
03:01masih adanya tokoh dari kubu atau kelompok politik lama dalam pemerintahan dapat dibaca sebagai representasi,
03:07maupun bagian dari dinamika kompensasi politik.
03:11Yunarto menilai sejumlah tokoh yang sebelumnya dikenal dekat dengan Jokowi,
03:15kini masih berada di lingkaran kekuasaan.
03:18Namun dengan posisi yang dinilai tidak sestrategis sebelumnya.
03:23Representasi saja, representasi ini dalam arti entah untuk kemudian menyenangkan kelompok yang diwakili oleh orang tersebut,
03:32atau kemudian dalam konteks kompensasi secara politik.
03:37Karena kalau kita lihat kan, misalnya di tengah kritik dari, bukan kritik ya,
03:43di tengah tafsir dari resafal kabinet kemarin,
03:47yang banyak menafsirkan mulai terpinggirkannya kekuatan politik Jokowi,
03:53kita tahu juga gitu.
03:54Kemudian dalam resafal kemarin,
03:57Nistio Sigit dan Pak Pratikno masih masuk ke dalam sistem di istana.
04:02Walaupun secara fungsional sudah terpinggirkan, tidak sestrategis sebelumnya.
04:06Dengan tugas utamanya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden,
04:1026 tokoh One Team Press ini akan jadi upaya memperkuat arah kebijakan dan program-program prioritas Prabowo.
04:18Tim Liputan Kompas TV
04:25Penataan kembali komposisi pemerintahan Prabowo,
04:28termasuk-masuknya sejumlah tokoh ke dalam One Team Press,
04:31menjadi perhatian publik.
04:32Sejumlah sosok yang tergeser dari posisi sebelumnya sebagai menteri,
04:35dimasukkan ke dalam struktur One Team Press.
04:38Sejumlah sosok yang dikenal dekat Presiden ketujuh Republik Indonesia,
04:42Jokowi Dodo, juga masuk sebagai anggotawan One Team Press.
04:45Lalu bagaimana membaca penempatan ini?
04:47Kita bahas bersama Kunto Adiwibowo,
04:49analis komunikasi politik Universitas Pejaran.
04:52Pak Kunto, selamat petang.
04:54Selamat petang, Mas Dipo.
04:55Pak Kunto, ada 26 anggotawan One Team Press dengan berbagai latar belakang.
05:00Apa kesan politik yang Anda tangkap dari penempatan?
05:03Tokoh-tokoh ini di One Team Press?
05:04Ya, kalau yang pertama tentu yang kita tangkap bersama adalah
05:09Pak Prabowo ingin menjamin stabilitas politik nasional.
05:13Jadi dengan memasukkan tokoh-tokoh kunci dari berbagai elemen politik
05:18maupun organisasi keagamaan besar,
05:21juga bahkan ada mantan birokrat, pakar hukum, akademisi,
05:26lalu kemudian juga ada pengusaha.
05:28Ini tampaknya Pak Prabowo ingin membuat narasi bahwa
05:34pemerintahannya memang solid gitu.
05:37Dan didukung oleh banyak anasir politik maupun masyarakat.
05:41Lalu yang kedua, Pak Prabowo juga ingin ada peningkatan kualitas
05:47kebijakan strategis yang selama ini kebijakan-kebijakan yang lahir dari pemerintah
05:52sering blunder gitu kan, dikritik oleh masyarakat.
05:55Nah, di sini kemudian mungkin dengan ada banyak elemen perwakilan
06:01dari elemen-elemen masyarakat ini,
06:03ini diharapkan kebijakan yang dihasilkan lebih matang,
06:08lebih komprehensif, lebih meminimalisi risiko kesalahan
06:13dan blunder lah dalam pemerintahannya Pak Prabowo.
06:16Tapi kemudian, ini juga punya problem.
06:21Problem pertama, tentu saja kesan akomodasi politik ini yang tampak mengemuka.
06:27Karena bagi komposisi yang besar ini,
06:32ini saya karenakan ya hanya bagi-bagi jabatan saja gitu kan,
06:37apalagi Watim Pres ini dipertanyakan oleh banyak pihak efektivitasnya.
06:43Apakah benar dengan 26 ini akan efisien dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden?
06:50Oke.
06:51Justru yang terlap pertimbangan ke Presiden dari 26 orang ini.
06:56Oke, akomodasi politik ini bahkan ada sejumlah tokoh yang memiliki nama besar,
07:01vokal terhadap pemerintahan.
07:03Apa yang kemudian Anda lihat?
07:05Seperti misalnya adalah Rokigerung gitu,
07:07apakah ini juga ada arah untuk mengantisipasi mungkin dukungan politik
07:11yang kemudian juga dapat regerus ketika kritik di luar?
07:14Ini sangat kencang.
07:16Ya, kalau dari awal kan Rokigerung kelihatan memang lebih pro ke Pak Prabowo ya, Mas ya.
07:22Oke.
07:23Dalam komentarnya di banyak podcast, di media gitu kan,
07:29Rokigerung tampaknya posisinya memang tidak berhadap-hadapan dengan pemerintahan Prabowo,
07:35beda dengan waktu pemerintahnya Pak Jokowi.
07:37Sekarang Rokigerung mungkin lebih dari pemerintahnya Pak Prabowo,
07:45tapi perlu dilihat bahwa ketika tadi soal akomodasi politik yang dimasukkan ke dalam,
07:52tadi Anda juga sudah menyimbung soal orang-orangnya Pak Jokowi dalam tanda petik,
07:58ya ada Pak Patikno di situ, ada Anwar Usman, bahkan ada Muhammad Kodari yang di situ tentu pengaruhnya harus dinetralisir.
08:07Dan salah satu penetralisirnya di Wati Impres ya Rokigerung,
08:11karena selama ini Rokigerung sangat berhadap-hadapan, sangat galak gitu ya dengan Pak Jokowi.
08:19Nah, ini yang diharapkan dinamika ini akan terjadi di Wati Impres gitu, Mas.
08:24Oke, kan ada nama Pak Patikno juga, bahkan dipilih sebagai Ketua Wati Impres,
08:28dan juga ada nama Anwar Usman, yang kita tahu dua nama ini dekat dengan Pak Jokowi.
08:32Lalu ada nama Pak Budi Gunawan, yang kemudian dekat dengan PDIP.
08:35Ada Pak Rokigerung yang tadi sudah dibahas.
08:37Apakah dengan nama-nama ini, bukankah berpotensi adanya perbedaan pendapat yang mungkin saja,
08:44justru menjadi tantangan solidaritas, ataupun soliditas di dalam internal Wati Impres?
08:48Ya, betul. Itu salah satu resikonya yang saya sudah sebutkan.
08:53Sebutkan politis, ini kan lebih pada tadi.
08:57Jadi, narasinya memang Pak Prabowo ingin narasinya agar pemerintahan dia memang didukung oleh semua pihak.
09:05Oke.
09:07Jadi, ketika apa yang terjadi di dalam kan sebenarnya kita nggak tahu ya, Mas.
09:12Ketika Wati Impres ini sudah hadir, bahkan nasihatnya pun sifatnya rahasia.
09:18Ya, jadi publik tidak bisa tahu nasihat-nasihat apa yang keluar dari Wati Impres.
09:23Tapi kemudian, harusnya ada bentuk akuntabilitas berupa kajian atau beberapa hal yang mungkin tidak keluar dalam bentuk nasihat,
09:32tapi pertanggung jawaban bahwa ya, Wati Impres ini bekerja.
09:36Dan menurut saya itu yang harus dipikirkan oleh Pak Pratik, yang sebagai ketua selanjutnya.
09:41Tapi, kalau orang-orang yang berbeda latar belakang ini dikumpulkan, apakah memang hanya untuk katakanlah stabilitas politik nasional?
09:47Atau mungkin justru ada tujuan lain, seperti misalnya adalah memperluas dukungan politik Pak Prabowo?
09:53Ya, tentu saja itu.
09:54Yang pertama kan, semakin akomodatif Pak Prabowo, semakin susah atau semakin mahal bagi sebuah partai atau kekuatan politik
10:04untuk keluar dari koalisi dan menarik dukungannya dari Pak Prabowo.
10:09Karena kan, ya sudah kebagian kan Mas, gitu.
10:12Nah, ini kan problem kebagian, lalu kemudian kan lu juga ada di dalam,
10:17ini yang kemudian akan membuat kos politik keluar dari koalisi akan lebih besar.
10:22Lalu yang kedua juga, selain kos politik, ada problem ekonomi.
10:28Di situ ada Pak Hairul Tanjung, ada Pak Dato Sri Tahir,
10:33yang kemudian mengusaha yang di situ diharapkan juga akan membuat konsumsi ekonomi lebih kuat.
10:42Baik, terima kasih analis komunikasi politik UNPAD, Pak Kunto Adi Wibotlah bergabung di Kampas Matang.
10:49Saudara aliansi masyarakat menggugat dan pengacara jawara bela umat atau pejabat
10:54melaporkan oleh Pres Gibran Raka Buming ke Baris Grimpol.
10:56Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan