Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Ombudsman RI, Syafrida R. Rasahan, mengungkap bahwa Cibinong ternyata bukan tujuan pertama Ombudsman.

Menurut Syafrida, awalnya Ombudsman menerima laporan terkait dugaan pungutan liar di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Laporan tersebut kemudian berkembang setelah Syafrida mengaku menerima banyak pesan langsung atau DM dari masyarakat. Ombudsman juga disebut ramai ditandai di media sosial.

Dari laporan tersebut, Ombudsman kemudian melakukan pembahasan internal untuk menentukan lokasi yang akan didatangi.

Syafrida mengatakan, pihaknya tidak ingin hanya memeriksa Pondok Bambu. Ombudsman kemudian mempertimbangkan sejumlah lapas dan rutan lain yang lokasinya relatif dekat dari Jakarta.

Dari sejumlah lokasi yang dipertimbangkan, Cibinong akhirnya masuk dalam pilihan karena pertimbangan jarak.

Syafrida mengungkap, pihaknya sebelumnya sempat melakukan kunjungan dalam rangka peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional pada 26 Juni.

Dalam kunjungan tersebut, Ombudsman belum mendengar persoalan mengenai fasilitas khusus di dalam Lapas Cibinong.

Meski demikian, Ombudsman telah mengetahui bahwa Cibinong menampung sejumlah tahanan dengan perkara yang menarik perhatian.

Syafrida juga menegaskan, pemilihan Cibinong bukan semata-mata karena adanya informasi mengenai tahanan dengan perkara besar.

Menurutnya, Ombudsman justru memiliki perhatian lain, termasuk persoalan narkoba serta masalah pemasyarakatan yang sebelumnya sedang ditangani.

Syafrida mengatakan, Ombudsman saat itu juga tengah melakukan investigasi atas inisiatif sendiri mengenai belum dieksekusinya tahanan menjadi warga binaan.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/0K2J2Ivev9Q



#lapascibinong #ombudsman #sidak

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/693530/terungkap-ombudsman-sidak-lapas-cibinong-dari-laporan-pungli-rutan-pondok-bambu-satu-meja
Transkrip
00:00Selamat malam. Seminggu lalu, Ombudsman Republik Indonesia menyedak lembaga pemasyarakatan kelas 2A Cibinong, Kabupaten Bogor.
00:08Dalam sidak ditemukan 13 bangunan dengan fasilitas mewah, diantaranya sofa, pendingin suhu ruangan, televisi, dan lemari pendingin.
00:17Ombudsman seperti mengingatkan kita semua, praktek lama di lapas masih terjadi.
00:23Cerita lawas, fasilitas mewah lapas. Inilah satu menjadi forum malam ini bersama saya, Yogi Nugraha.
00:31Sudah hadir di studio, Ibu Safri daerah Rasahan, anggota Ombudsman Republik Indonesia. Selamat malam Ibu Ida.
00:37Selamat malam Mas Yogi.
00:38Semangat?
00:39Insya Allah, semangat.
00:39Masih banyak lagi daftar lapas yang akan disedak?
00:43Bukan hanya lapas, tapi pelayanan publik di seluruh hari.
00:46Oke, baik. Hadir juga Andreas Hugo Parera, Wakil Ketua Komisi 13 dari Fraksi PD Perjuangan.
00:52Dan Pak Andreas, apa kabar?
00:53Baik, Mas Yogi.
00:54Oke, saya langsung ke Bu Ida.
00:58Tapi saya mau menyampaikan bahwa sebelumnya kami sudah meminta perwakilan dari Dirjen Pemasarakatan untuk hadir,
01:06untuk memberikan kesempatan juga ruang hak jawab.
01:10Tetapi sampai dengan ini ditayangkan, kita memulai, tidak ada respon.
01:14Jadi kita memutuskan memulai dari DPR dan dari Ombudsman yang memulai dengan sidak ke Cibidong.
01:22Bu Ida, kalau melihat kemarin kan seminggu yang lalu, wah dramatis lah mendobrak satu apresiasi.
01:30Yang kedua publik juga sama.
01:33Tapi ada satu pertanyaan, kenapa lapas Cibidong?
01:37Kenapa Cibidong dan awalnya gimana?
01:39Nah, memang Ombudsman ini kan posisinya adalah mengawasi pelayanan masyarakat dan juga salah satunya menerima laporan.
01:48Boleh diceritakan yang belum Ibu sampaikan di Komisi 2 kemarin?
01:52Nah, kebetulan di RDP Komisi 13, tanggal 28, Pak Andreas juga sama, ingin mengundang Ombudsman.
02:01Tetapi kan itu wilayahnya Komisi 2.
02:02Nah, sekarang ketemu di meja ini boleh disampaikan.
02:05Iya, sebenarnya kalau pertanyaannya, kenapa pilihan Cibidong?
02:09Jadi sebenarnya Cibidong ini bukan pilihan pertama, Pak Andreas.
02:12Oh, bukan?
02:12Bukan.
02:13Jadi begini, kita itu, kami itu mendapatkan laporan, itu pertama itu Pondok Bambu.
02:20Laporan pertama Pondok Bambu?
02:21Pondok Bambu.
02:22Pungli di Pondok Bambu.
02:24Nah, akhirnya setelah Pungli di Pondok, saya banyak sekali dapat DM, dapat tag, dan Ombudsman di tag juga di Instagram.
02:31Instagram, oke, oke.
02:32Nah, akhirnya di antara pimpinan menge-tag saya, ini kapan nih mau di eksekusi, gitu loh kan?
02:36Pondok Bambu ini pertama.
02:38Nah, akhirnya kita bersama tim, kita rapat, merencanakan.
02:42Nah, saya bilang kalau cuma Pondok Bambu, kita rasa nggak fair juga.
02:46Mungkin ada yang lebih baik daripada Pondok Bambu, makanya kami membuat pilihan waktu itu.
02:50Nah, jadi akhirnya setelah rapat, setelah dengan tim, itu kita terdiri dari bukan hanya dari bidang saya saja,
02:57tapi ada dari bidang pengaduan masyarakat, keasistenan bidang pengaduan masyarakat,
03:01dan juga keasistenan bidang politik dan keamanan.
03:04Nah, karena kita mau melakukan sosialisasi sekalian nih, sama warga binaan Pak.
03:09Jadi intinya kita nih sebenarnya pengennya kehadiran Ombudsman, mereka tahu kalau mereka mau mengadu,
03:14mungkin mereka tidak mendapatkan ruang yang cukup, boleh kita hadir.
03:18Jadi, apa nih keluhannya, air bersih, kesehatan, mungkin makanan, nah itu bisa laporan, nanti kita bisa tindak lanjutin.
03:25Nah, itu sebenarnya awalnya. Jadi trigger pertama itu sebenarnya...
03:28Laporan Pondok Bambu, kenapa bisa jadi Cibino?
03:32Jadi, kita memetakan, ini yang dekat, kebetulan kan Ombudsman juga sebenarnya bukan punya anggaran yang lebih.
03:39Kita ngambil yang jaraknya cuma berapa jam lah dari Jakarta.
03:41Oh, disini karena pertimbangan jarak ya?
03:43Iya, jarak gitu. Nah, jadi Pondok Bambu, Tangerang, mana lagi yang dekat gitu?
03:50Awalnya mau Bogor, Bogor tapi yang bukan Cibinong.
03:53Kenapa gak aku pikiran Salemba, kenapa gak aku pikiran Cibinong?
03:56Kita kemarin sudah, itu sudah waktu anti penyiksaan.
03:59Aman, itu sudah selesai kita kunjungin.
04:01Cibinong ini itu, jadi masuklah Cibinong.
04:03Waktu saya tanya, saya bilang, ini kira-kira Cibinong kita ditolak lagi gak?
04:07Dia matur dapat nih.
04:08Enggak lah, kan Pak Dirjen udah dateng.
04:10Sempat ditolak?
04:11Ya, bulan Juni akhir.
04:14Jadi, bulan Juni itu sudah yang kedua dan sempat ditolak?
04:17Itu yang pertama, itu kita dalam rangka hari anti penyiksaan.
04:21Kan, tanggal 26 Juni adalah...
04:26Ya, 26 Juni peringatan hari anti penyiksaan internasional,
04:30di mana kita lembaga NHRI yang tergabung untuk Komnas HAM, KPAI, LPSK, Komnas Perempuan dan Anak itu.
04:40Tapi Bu Ida sebelumnya belum pernah mendengar.
04:42Ya, namanya kan ini, tadi judulnya aja kan cerita lawas ya.
04:45Kalau soal fasilitas tidak, ya kami belum mendengar.
04:48Tapi soal bahwa di dalam itu banyak tahanan-tahanan, ya tanda petik presisius dari...
04:54Tahanan-tahanan berduit yang bisa membeli fasilitas.
04:56Bukan soal berduit, tapi kasus-kasus besar yang menarik perhatian.
05:00Nah, itu yang kami dengar.
05:02Tapi juga bukan karena itu.
05:04Kami juga mungkin sekalian karena kami melihat Cibinong ini kan...
05:10Ya, hampir mirip-mirip yang dekat dengan Salemba, dengan Cipinang.
05:15Yang malah kami khawatirkan kemarin itu narkoba sebenarnya di sana.
05:19Bukan...
05:19Cibinong itu?
05:20Ya, jadi kita pikir Cibinong itu karena itu.
05:22Ditambah lagi sebenarnya Pak Andres kami itu dari Pak Wisnu ini sebenarnya kita hubungan bagus sebenarnya.
05:28Ini sesuatu yang saya bilang...
05:28Kalapas ya?
05:29Kalapas.
05:30Kenapa saya bilang bagus?
05:31Kami itu sekarang sedang melakukan investigasi atas inisiatif sendiri terkait dengan belum diesekusinya.
05:39Tahanan menjadi warga binaan.
05:41Nah, kan ada tahanan yang dititipkan nih di Lapas Darutan.
05:44Iya, iya.
05:44Jumlahnya per Mei itu se-Indonesia ada hampir 7 ribu, Pak.
05:50Seluruh Indonesia?
05:51Seluruh Indonesia.
05:51Seluruh Indonesia.
05:52Dan Cibinong termasuk yang tertinggi, Pak.
05:54Termasuk besar juga.
05:56Dan Pak Wisnu inilah yang bilang ke kita, bantu dong kita supaya ini bisa diesekusi oleh kejaksaan.
06:03Jadi sebenarnya secara hubungan saya harus sampaikan, bukan ini dalam rangka membela, tapi saya harus sampaikan juga hubungan itu terjadi
06:10dengan baik.
06:11Cuma kami heran, terjadi dengan baik kok kita nggak boleh masuk, gitu kan.
06:15Hubungannya bagus, tapi tadi Ibu bilang sempat ditolak dua kali.
06:18Iya, nah itu yang kita herankan, belum memberikan informasi.
06:21Oh, itu yang membuat Ibu curiga, jangan-jangan.
06:22Iya, ini ada apa, gitu kan.
06:24Nah, jadi sebenarnya pilihan itu sekali lagi saya sampaikan mungkin kepada Pak Andreas, kepada Mas Yogi juga.
06:30Kami tidak punya trigger tertentu, malah pondok bambu lah yang menjadi fokus kami sebenarnya.
06:35Oke, sementara saya ke Pak Andreas, Pak. Baru saja Komisi 13 juga bukan sidak, karena sidaknya milik ombudsman.
06:45Tapi lebih kepada berkunjung melihat situasi langsung di Cibinong.
06:48Apa yang Pak Andreas bisa sampaikan?
06:50Di samping tadi melengkapi apa yang disampaikan Bu Ida?
06:53Ya, barusan tadi pagi sampai dengan sedang, kami melakukan kunjungan kerja untuk melanjutkan hasil rapat-rapat.
07:04Teripai dengan digit pas, ya.
07:05Lebih terutama untuk mengkonfirmasi apa yang kemarin hasil sidak atau informasi awal dari sidak yang dilakukan oleh teman-teman ombudsman.
07:18Artinya saya apresiasi, artinya apa yang dilakukan oleh teman-teman ombudsman ini.
07:23Kenapa?
07:24Kita lihat ke belakang dulu, Mas Yogi.
07:26Artinya, kayak misalnya, ya kayak lapas-lapas atau rutan, itu kan kehidupan yang ada di balik tembok, kan ya.
07:35Yang ada di balik tembok dan ya tadi tidak semua orang tahu apa yang terjadi di balik tembok tersebut.
07:43Ada, mungkin ada penyiksaan, ada pemerasan, banyak hal yang mungkin menjadi tanda tanya, gitu.
07:52Dan itu memang otoritas terbatas ada di lapas ini, gitu.
07:56Dan semua kemungkinan bisa terjadi di situ, gitu.
08:00Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh teman-teman ombudsman ini, ini sesuatu yang membuka tabir kehidupan yang ada di
08:10dalam lapas.
08:11Salah satunya, ini salah satunya, gitu.
08:13Jadi memang ketika kami melakukan kunjungan kerja tadi, ya memang terkonfirmasi, gitu.
08:20Bahwa ada yang tidak wajib.
08:21Iya, artinya ada diskriminasi fasilitas di situ.
08:26Tapi memang betul apa yang disampaikan juga, ini sebenarnya ada di luar wilayah, wilayah lapas itu sendiri, gitu.
08:35Jadi ada di bantaran sungai, di bantaran Kali Ciriung sebenarnya.
08:40Di luar wilayah, artian di luar pagar, tetapi kan dalam nasi.
08:45Dalam lingkungan.
08:46Dan yang paling penting kan dalam koordinasi otoritas lapas, itu yang menjadi temuk.
08:50Ya, ada di pinggiran, tapi di luar, sebenarnya di luar pagar.
08:56Dan itu sebenarnya dibangun fasilitas itu untuk kalapas, untuk petugas lapas sebelumnya.
09:04Artinya tahun 2000...
09:05Ini yang mau saya tanyakan justru, ketika dua hari setelah sidak ombudsman, datanglah ke lokasi Mbak Pitsus, Aris Marsudianto, dan
09:15Menteri.
09:18Waktu itu kan media, saya sendiri melihat kok aneh ya.
09:21Bukannya berterima kasih kepada ombudsman, tapi justru mengatakan bahwa ini fasilitasnya kalapas.
09:26Satu hal yang aneh adalah, kalau emang fasilitas kalapas, kenapa harus ditutupi?
09:32Memang ada tiga.
09:35Dan tiga belas itu?
09:36Dari tiga belas itu ada tiga.
09:36Apakah komisitiko juga?
09:37Ada tiga yang memang fasilitas kalapas.
09:41Nah yang lain itu tambahan.
09:43Yang lain itu tambahan.
09:44Ya, ada sepuluh bangunan baru dengan fasilitas ONAH.
09:47Itu tambahan.
09:48Dan sempat dicopotkan.
09:50Itu yang ada di situ juga.
09:52Jadi, ya ini tahu sama tahu lah, apa yang ada di dalam lapas itu.
09:59Jadi, tentu yang kita ini adalah yang bukan barang milik negara.
10:05Yang tadi dibongkar.
10:06Waktu RDP dengan Dirjen PAS itu kan dalam situasi yang menjadi pusat perhatian orang.
10:13Itu kok menterinya nggak datang?
10:15Itu sebenarnya masalah nggak sih buat komisi tiga?
10:18Tahan dulu jawabannya.
10:19Satu meja akan kembali sajidah.
10:21Tahan dulu jawabannya.

Dianjurkan