Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 jam yang lalu
PONOROGO, KOMPAS.TV Presiden Prabowo Subianto tampak mengusap air mata usai teriak Free Palestina dan dipeluk Dubes Palestina.

Momen ini terjadi saat Prabowo sampaikan sambutannya di Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jatim pada Sabtu (19/9/2026).

Prabowo kemudian mengatakan bahwa dirinya teringat penderitaan warga Palestina.

"Saya minta maaf. Tadi saya teringat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah kurang berdaya untuk membantu mereka," kata Prabowo.

Dirinya mengatakan bahwa kondisi tersebut jadi dorongan untuk anak bangsa dalam membangun Indonesia yang kuat.

Produser: Theo Reza

Video Editor: Lintang Amiluhur

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/691630/prabowo-usap-air-mata-usai-peluk-dubes-palestina-teringat-saudara-palestina-dibantai-dibom
Transkrip
00:00Para Duta Besar Negara Sahabat, Duta Besar Republik Turkiye, Duta Besar Mesir, Duta Besar Qatar, Duta Besar Kuwait,
00:18Duta Besar Sudan, Duta Besar Suriah, Duta Besar Yaman, Duta Besar Palestina,
00:41Free Palestine! Free Palestine! Free Palestine!
01:19Free Palestine! Free Palestine!
01:47Yang saya hormati, Wakil Duta Besar Yordania.
02:00Yang saya hormati, Gubernur Jawa Timur, Ibu Kofifah Indar Parawasa.
02:14Yang saya hormati, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saudara Emil Dardak.
02:25Yang saya muliakan, Para Kiai, Para Alim Ulama, Para Pengasuh Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor,
02:39Para Pimpinan Universitas dan Pimpinan Pesantren Salaf yang hadir,
02:45Yang saya cintai, Para Santri dan Santriwati, Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor,
02:54Dan seluruh hadirin undangan dan rekan-rekan-rekan Pesantren Media yang saya hormati.
03:04Saya tentunya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kehormatan besar diberikan kepada saya.
03:16Diundang untuk memberi sambutan di acara 100 tahun di acara peringatan dan kesyukuran 100 tahun Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo,
03:33Jawa Timur.
03:34100 tahun yang lalu, Para Pendiri Gontor, Kiai Haji Ahmad Sahal, Kiai Haji Zainuddin Fanani dan Kiai Haji Imam Sarkasi,
03:49Menanam sebuah cita-cita luhur.
03:52Mereka mungkin tidak pernah membayangkan sejauh apa cita-cita yang mereka tanamkan sekarang telah tumbuh dengan sangat besar dan tersebar
04:11di mana-mana.
04:13Hari ini kita melihat buahnya tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai penjuru dunia.
04:22Terima kasih atas kehormatan diberikan kepada saya.
04:30Saya minta maaf.
04:34Tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina.
04:49Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus.
05:09Dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka.
05:23Saya kira ini justru yang mendorong kita semua.
05:29Apalagi saudara-saudara, apalagi para Kiai, apalagi para ulama, apalagi para pendidik di institusi-institusi seperti Gontor ini.
05:43Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak.
05:55Kehendak untuk belajar sungguh-sungguh.
06:06Kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat.
06:13Karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjek-injek oleh bangsa-bangsa lain.
06:25Kita harus belajar dari sejarah, tadi dikatakan.
06:31Ya, kita ingin membangun sejarah.
06:34Tapi kita harus belajar dari sejarah.
06:36Dan kita harus jujur kepada diri kita.
06:39Kita harus jujur bukan kepada orang lain.
06:43Kita harus jujur kepada diri kita sendiri.
06:46Kita harus berani melihat kelemahan-kelemahan kita.
06:52Gampang untuk kita bicara dengan hebat.
06:58Sulit untuk kita lihat kekurangan-kekurangan kita sendiri.
07:04Kelemahan-kelemahan kita sendiri.
07:08Saya berharap dari generasi penerus,
07:13dari ustadz-ustadz, dari ulama-ulama,
07:17untuk bisa membangunkan keberanian
07:23untuk belajar dari kelemahan-kelemahan kita sendiri.
07:28Kekurangan-kekurangan kita sendiri.
07:32Kita pernah dijajah oleh bangsa lain.
07:38Itu kenyataan yang pahit.
07:42Yah!
07:44Bapak-bapak kita,
07:46eyang-eyang kita,
07:48kakek-kakek kita,
07:52pendahulu-pendahulu kita,
07:54yah berjuang,
07:55yah melawan,
07:57tapi
07:58cukup lama
08:00kita
08:01di bawah
08:03telapak kaki
08:05bangsa lain.
08:07Ini pahit,
08:08tapi kita harus berani mengakui,
08:10dan kita harus belajar dari situ,
08:13dan kita harus bertekad,
08:14jangan sekali-sekali kita akan dijajah kembali
08:17oleh siapapun.
08:24Kita harus kuat,
08:26karena kita
08:27dengan kekuatan,
08:30kalau kita kuat,
08:31kita bisa bantu
08:32saudara-saudara kita
08:34yang tertindas,
08:35dan yang ditindas
08:36oleh bangsa-bangsa lain.
08:38Kalau kita tidak punya kekuatan,
08:40bagaimana kita bisa membantu?
08:42Saudara-saudara,
08:45saya terima kasih,
08:46saya diundang
08:47hari ini
08:51gontor
08:52institusi
08:53yang luar biasa
08:56berhasil sukses.
Komentar

Dianjurkan