- 2 hari yang lalu
- #mbg
- #makanbergizigratis
- #keracunanmbg
- #bgn
- #hardinsyah
- #pgri
KOMPAS.TV Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjelaskan bahwa kepala dapur, pengawas gizi, dan asisten lapangan turut mencicipi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini meluruskan anggapan bahwa hanya guru yang bertugas mencoba makanan sebelum disantap bersama siswa.
Sudaryono juga menyebut Person in Charge (PIC) atau penanggung jawab di setiap sekolah mendapat insentif untuk turut mengecek menu MBG. Dalam prosesnya, guru juga wajib menjelaskan kandungan gizi sebelum menyantap MBG bersama siswa.
Kasus dugaan keracunan setelah menyantap MBG terus berulang dan menyebabkan siswa serta guru menjadi korban. Pelibatan sekolah dalam mendeteksi kelayakan menu MBG pun menjadi perhatian.
Untuk membahas peran sekolah dan guru dalam memastikan kelayakan MBG serta upaya mencegah kasus keracunan kembali terjadi, KompasTV menghadirkan Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Prof. Hardinsyah, dan Wakil Sekjen PB PGRI, Wijaya Winarja.
#mbg #makanbergizigratis #keracunanmbg #bgn #hardinsyah #pgrI
Baca Juga Sudaryono Sebut Kepala Dapur hingga PIC Sekolah Ikut Cek Menu MBG | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/690667/sudaryono-sebut-kepala-dapur-hingga-pic-sekolah-ikut-cek-menu-mbg-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690692/full-pengamat-pro-kontra-sekolah-ikut-cek-mbg-mampukah-guru-menentukan-makanan-layak-sapa-mala
Sudaryono juga menyebut Person in Charge (PIC) atau penanggung jawab di setiap sekolah mendapat insentif untuk turut mengecek menu MBG. Dalam prosesnya, guru juga wajib menjelaskan kandungan gizi sebelum menyantap MBG bersama siswa.
Kasus dugaan keracunan setelah menyantap MBG terus berulang dan menyebabkan siswa serta guru menjadi korban. Pelibatan sekolah dalam mendeteksi kelayakan menu MBG pun menjadi perhatian.
Untuk membahas peran sekolah dan guru dalam memastikan kelayakan MBG serta upaya mencegah kasus keracunan kembali terjadi, KompasTV menghadirkan Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Prof. Hardinsyah, dan Wakil Sekjen PB PGRI, Wijaya Winarja.
#mbg #makanbergizigratis #keracunanmbg #bgn #hardinsyah #pgrI
Baca Juga Sudaryono Sebut Kepala Dapur hingga PIC Sekolah Ikut Cek Menu MBG | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/690667/sudaryono-sebut-kepala-dapur-hingga-pic-sekolah-ikut-cek-menu-mbg-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690692/full-pengamat-pro-kontra-sekolah-ikut-cek-mbg-mampukah-guru-menentukan-makanan-layak-sapa-mala
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:02Saudara Kepala Badan Gizi Nasional, Saudar Yono menjelaskan,
00:05Kepala Dapur, Pengawas Gizi, dan Asisten Lapangan juga harus mencicipi menu makan bergizi gratis.
00:11Pernyataan ini meluruskan anggapan bahwa hanya guru yang mencoba MBG sebelum disantap bersama siswa.
00:19Kepala BGN, Saudar Yono menambahkan, person in charge atau penanggung jawab para sekolah
00:24juga mendapatkan insentif untuk turut mencegah menu MBG.
00:30Dalam prosesnya, guru juga wajib berperan menjelaskan kandungan gizi sebelum akhirnya menyantap MBG bersama dengan siswa.
00:43Bukan kok yang nyicipi itu hanya guru sedangga, dari barang itu sudah matang dijicipi, disisikan.
00:51Sebelum ini Kepala Dapurnya nyicipi, pengawas gizi nyicipi, kemudian aslatnya nyicipi.
00:57Baru kemudian dibagi omprenya, makanan itu ke semua siswa, termasuk gurunya, itu dapat makan, Pak.
01:06Tujuannya adalah edukasi, ada pendidikan karakter, termasuk guru menjelaskan kenapa protein itu manfaatnya apa,
01:13karbohidrat apa, kenapa harus masakan sayur, dan lain-lain itu.
01:16Jadi guru mendapatkan menu itu sebagai fungsinya untuk sebagai pendidikan gizi.
01:23Kok diminta nyicipi bagaimana? Karena gurunya ikut makan di kelas itu bareng-bareng dengan siswanya,
01:30jadi minta sebagai terakhir sebelum dikonsumsi itu dilihat, organoletik namanya Pak,
01:36dilihat ada bau apa tidak, kalau dirasa aman, dicek ke siswanya, kalau sudah aman, mari kita makan.
01:45Awal September lalu, lebih dari 200 siswa dan puluhan guru dari tiga sekolah diduga mengalami keracunan.
01:52Hosek menyantap makan bergizi gratis di Pati, Jawa Tengah.
01:56Mereka mengonsumsi MBG pada selasa 8 September,
01:59tapi mulai merasakan gejala keracunan seperti pusing, mulas, diare, dan gaguan pencernaan pada Rabu malam 9 September.
02:07Pemerintah Kabupaten Pati mencatat, korban dugaan keracunan MBG mencapai 424 orang,
02:13termasuk para guru, sehingga status kejadian luar biasa KLB tetap berlaku.
02:19Kondisinya adalah KLB, karena kami utamakan masalah penyelamatan dulu.
02:24Makanya kami handle secara langsung, dan kami juga sudah berkondensi dengan Pak Wakil BKN,
02:30bahwa minggu depan kami akan sisir semua dapur-dapur yang ada di Kabupaten Pati.
02:36Sebelumnya pada 1 September, 726 orang, termasuk 10 guru di Sidoar, Jawa Jawa Timur,
02:42juga mengalami gejala keracunan usai mengkonsumsi MBG.
02:46Dalam waktu yang hampir bersamaan, ratusan siswa dan guru di Agam Sumatera Barat juga diduga keracunan MBG.
02:53Beberapa waktu lalu, badan gizi nasional sempat mengimbau.
02:56Guru mencicipi dulu menu MBG sebelum dikonsumsi murid.
03:00Direktur Pasca Sarjana Universitas Siarsi menilai,
03:03guru sebaiknya mencicipi menu MBG bersama murid,
03:06sebagai suatu budaya seperti di Jepang.
03:09Dalam pengertian mengajarkan budaya makan, budaya makan sama-sama.
03:14Bukan sebagai si gurunya menjadi,
03:16mencoba dulu sebelum dikasih ke anak.
03:18Bukan itu, intinya adalah makan itu bukan cuma sekedar makan,
03:22tapi makan itu menjadi budaya yang sehat.
03:24Mungkin bisa dijelaskan sambil makan, ini karbohidrat, ini protein, dan sebagainya.
03:30Dan ini, makan bersama-sama itu satu poin penting kalau di Jepang itu dipakai sebagai salah satu hal.
03:38Peragustus 2026, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, JPPI,
03:42mencatat lebih dari 40 ribu orang, termasuk guru dan siswa, jadi korban keracunan MBG.
03:47BGN meminta sekolah juga terlibat mengecek layakan menu MBG
03:51melalui person in charge atau penanggung jawab persekolah.
03:55Tapi, mampukah cara ini mencegah keracunan MBG kembali terjadi?
03:59Tim Liputan, Kompas TV
04:05Saudara, kasus dugaan keracunan usaha menyatap makan bergizi kreatis MBG terus berulang.
04:10Siswa dan guru jadi korban.
04:12Bagaimana pelibatan sekolah untuk bisa mendeteksi kelayakan menu MBG?
04:16Dan apakah peran guru saja ini cukup untuk bisa menghindari keracunan kembali terjadi?
04:22Kita bahas malam hari ini bersama guru besar Fakultas Kedokteran dan Gizi,
04:26Institut Pertanian Bogor IPB, Prof. Hadinsyah.
04:29Selamat malam, Prof.
04:31Selamat malam, Kak Undri.
04:33Gimana kabar? Selamat malam, Kak Wijaya.
04:36Baik, Prof.
04:37Dan ada juga wakil LSEK JNPB PGRI, Wijaya Winarjaya.
04:40Selamat malam, Pak Wijaya.
04:45Ya, masih di mute sepertinya.
04:47Saya mau tanya dulu ke Prof. Hadinsyah.
04:50Selamat malam, Mbak Undri.
04:51Mohon maaf.
04:52Sudah terdengar ya.
04:53Aman, oke.
04:54Saya mau ke Pak Hadinsyah dulu.
04:55Pak Hadinsyah, menurut Anda cukup nggak sih dengan melibatkan guru,
04:59ikut bersama-sama, mencoba MBG,
05:02ini tiba-tiba langsung semuanya akhirnya ini bisa mencegah keracunan MBG dari para siswa?
05:09Bisa nggak itu?
05:11Tidak mungkin mencegah keracunan semuanya di satu titik.
05:15Titik kritis itu banyak dalam suatu pelayanan makanan massal.
05:19Tidak hanya di sekolah, ada juga ini kentuk 3B juga ya.
05:23Jadi, rantai penyaluran makanan itu dari awal harus diidentifikasi titik-titik kritisnya.
05:30Titik di mana risiko-risiko bakal muncul.
05:34Dan itu yang diantisipasi.
05:36Sehingga ada pengawasan-pengawasan.
05:38Disiap titik-titik tadi mulai dari hulunya.
05:41Makan tadi dari supplier datang.
05:44Ada yang sudah semi olah.
05:46Ada yang sudah diolah.
05:47Ada yang belum diolah.
05:49Bagaimana menyimpannya.
05:50Titik kritis suhu dingin, suhu ruangnya.
05:54Kemudian ketika dia diolah.
05:56Kemudian ketika dia dikemas di dalam omprengan-omprengan.
06:01Sebelum diberangkatkan.
06:02Karena itu jaraknya bisa 2-6 jam ya.
06:06Mulai dari proses penyiapan pengolahan tadi.
06:10Tapi kalau dari omprengan yang sudah keisi.
06:14Bisa jadi hanya 2-4 jam gitu ya.
06:17Jadi, semua titik ini perlu ada pengawasan.
06:23Organoleptiknya.
06:24Makasih.
06:25Pertama tentunya kita prihatin ya.
06:28Akan permasalahan yang masih muncul lagi.
06:31Upaya kita diskusi tentunya untuk mencari alternatif.
06:34Artinya nanti solusi.
06:36Berarti artinya.
06:37Artinya mulai dari awal sampai dengan nanti dibagikan ya.
06:40Nah, kalau gitu.
06:41Saya mau ke Pak Hardinsyah lagi.
06:44Kalau terma.
06:46Nah, ini kan kalau misalnya guru kan tadi dibilangnya.
06:48Kalau bisa ya.
06:50Ini nanti akan sama-sama makan gitu ya.
06:52Barengan dengan siswanya ya.
06:54Prof ya.
06:54Nah, pertanyaannya adalah ketika.
06:57Kasus yang kita terjadi saja yang dikaru.
06:59Itu kan efek ketika mengalami keracunannya tidak langsung, Prof.
07:04Nah, ini gimana caranya juga ketika pun makan bareng-bareng bersama dengan guru.
07:07Kan kita belum tahu nih.
07:08Ini baik, masih bagus atau enggak makannya.
07:11Karena efeknya bisa satu hari setelahnya baru ketahuan nih.
07:15Ya, tapi kan zat-zat yang terkandung yang hampir sebagian besar itu kan mikroba patogen ya.
07:23Ya, itu berarti patogen itu mengikuti alur mulai dari bahan pangan tadi.
07:27Kalau dia tadi enggak baik cara masaknya, suhunya enggak tepat.
07:31Kemudian tadi bolak-baliknya karena partai besar enggak terbiasa bolak-balik kuali yang kapasitasnya seribu potong.
07:41Itu kan bisa ada kemungkinan patogennya enggak mati.
07:45Apalagi kalau ada pekerja yang sakit.
07:48Ya, sakitnya sakit menular.
07:50Ya, itu kan kemungkinan juga terkontaminasi di sana.
07:55Dibawa lagi ya.
07:56Sampai nanti dibawa ke sekolah.
07:59Jadi, patogen itu bisa dari hulu ya.
08:02Bisa di tengah jalan, dia numpang.
08:04Tergantung tadi kita melakukan pemeriksaan titik-titik kritis tadi.
08:10Oke, kalau menurut Pak Wijaya sendiri apakah cukup tadi dengan hanya pemeriksaan mulai dari titik kritis.
08:15Dari pengolahannya, pemotongannya, sampai masaknya, sampai ketika makanannya tiba dan dimakan.
08:22Apakah cukup itu untuk kemudian tidak ada lagi kasus racunan MBG?
08:26Atau ada punya pandangan sendiri dari Pak Wijaya?
08:29Ya, Mbak Uda, ini menarik ya.
08:32Beberapa hari kebelakang nih.
08:33Kebetulan saya di sini bisa bertetap maya dengan Prof Hardin.
08:36Saya mendapatkan beberapa pesan yang masuk terus menerus sampai saat ini.
08:41Terkait dengan persoalan, tanda kutip di sini, guru yang menjadi tertuduh gitu ya.
08:46Padahal secara substansi dan regulasi,
08:49kita kembalikan dulu bahwa tugas guru menurut undang-undang guru dan dosen,
08:54nomor 14 tahun 2005 di sini adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi.
09:01Nah, dalam konteks amanah undang-undang ini, guru tidak bisa diberikan tugas utama
09:06untuk menjadi bagian daripada proses yang tanda kutip boleh dibilang organoleptik ya.
09:14Sehingga guru yang tidak memiliki kapasitas, tidak memiliki kompetensi dalam hal menentukan
09:21apakah makanan ini layak untuk konsumsi, apakah makanan ini memang layak dan tidak mengandung bakteri ataupun patogen,
09:30tentu kemampuan ataupun kompetensi ini bukan menjadi sesuatu hal yang ada di dalam pribadi sebagai seorang guru ya, Mbak Audrey.
09:41Nah, menarik di sini, ketika dalam proses organoleptik di sini kan,
09:47kita hanya terbatas hanya penglihatan, bagaimana melihat makanan yang ada di dalam ompreng itu gitu,
09:54dari sisi warna mungkin ukuran, kilap dan sebagainya,
09:57terus penciuman, perasa gitu, perabah, ini tentu sudah dilakukan oleh guru,
10:04meskipun Mbak Audrey ya, ini bukan menjadi tugas pokok dan fungsi utama sebagai seorang guru.
10:11Tetapi untuk mensukseskan tetap kita lakukan proses organoleptik ini sebanyak dua tahap
10:16ketika datang sebelum didistribusikan dan sebelum disantap.
10:20Titik-titik yang menjadi rawan tadi ini tentu menjadi tugas utama lah dari BGN dan juga SPPG.
10:29Kita membantu mensukseskan program pemerintah dan tentu dengan catatan-catatan yang jangan sampai ini berdab gitu ya,
10:38dan mendeskreditkan bahkan guru menjadi tertuduh dan dilaporkan pada penegak hukum.
10:45Karena dianggapnya kalau seperti ini dianggapnya jadi guru jadi gardai yang terakhir ya,
10:48untuk bisa menentukan apakah ini makanannya bagus atau enggak buat siswa ya,
10:51kalau enggak berarti guru nih jangan-jangan gitu maksudnya ya Pak Wijaya?
10:54Betul Maudre, satu itu. Yang kedua ya ini dari sisi waktu, ada proses pembelajaran yang memang ini harus dipertimbangkan oleh
11:04BGN dan juga pemerintah.
11:07Pemproses mulai dari penerimaan, terus juga menghitung jumlah ompreng, terus melakukan organoleptik,
11:14dan sampai pendistribusian ke kelas-kelas, dan mengumpulkan gembali, mendampingi sampai dengan mengumpulkan,
11:21ini memakan waktu yang tidak sedikit.
11:24Hampir lebih dari satu JP waktu tersita, belum ketika menunya lagi itu mengandung bau amis,
11:31sehingga kelas harus dibersihkan dulu dan lain sebagainya.
11:34Ini menambah, apa ada artian, tugas yang sejatinya bukan tugas guru.
11:39Tetapi, fakta di lapangan, guru menjadi selalu pihak yang tertuduh,
11:45batang menjadi pihak yang dilaporkan.
11:47Ini sangat menyakitkan bagi kami, termasuk saya sebagai seorang guru,
11:52menyikapi dan melihat hal seperti ini, Baudre.
11:56Oke, kalau menurut pandangan dari Prof sendiri, gimana nih?
11:59Apakah benar begitu ketika guru menjadi garda terakhir,
12:02untuk kemudian bisa menentukan apakah makanan ini baik atau enggak sebelum dikonsumsi
12:06oleh siswa dari menu makan MBG?
12:09Usah jadinya, nanti Prof Hardin akan menjawabnya tetap bersama kami di Sampai Indonesia Malam.
12:18Menyambung pertanyaan saya sebelumnya, Prof Hardin,
12:21kalau gitu apakah guru menjadi pihak yang bisa disalahkan ketika ada kasus keracunan MBG
12:27yang terjadi pada seorang siswa atau beberapa siswa pada saat makan menu MBG?
12:33Kita bukan sesederhana itu untuk dijawab ya, Kak Andri.
12:40Ini kan lagi-lagi kita baca saja apa yang ditugaskan di dalam panduan tadi
12:46dan panduan itu disepakati enggak oleh lintas sektor.
12:49Kalau panduan tadi disepakat lintas sektor, berarti pimpinan masing-masing sektor
12:54itu kan menyetujui ada pekerjaan tambahan.
12:58Saya enggak tahu ya apakah itu prosesnya sudah seperti apa.
13:02Tapi lagi-lagi saya bilang tadi, titik itu banyak
13:06dan bisa jadi bakterinya tadi istilahnya itu dorman.
13:11Dorman itu seakan-akan mati,
13:14tapi begitu suhunya mulai anget dalam hati suhu ruang,
13:18dia mulai hidup, mulai mengeluarkan racun.
13:21Nah itu tadi yang saya bilang mulai dari hulunya,
13:24itu penting sekali pemilihan bahan baku.
13:28Kan itu sudah ada kriteria syarat dalam pengadaan pemilihan bahan baku.
13:33Kriteria syarat dalam penyimpanan suhu dingin yang mana, suhu ruang yang mana.
13:38Bagaimana tata-tata cara berpakaian di dapur,
13:42rambutnya harus ditutup ya.
13:45Nah tinggal diawasi aja yang gitu-gituan.
13:47Sampai nanti bagaimana ngantarnya, bagaimana menerimanya, bagaimana membagikannya.
13:53Jadi semua itu memang sistem dia.
13:56Enggak bisa kita menyalahin satu-satu.
13:58Enggak bisa ya hanya satu pihak ya.
14:00Kalau gitu Pak Wijaya, sebenarnya sejauh ini sampai dengan sekarang,
14:04gimana sih pelibatan di sekolah begitu ketika sebelum memberikan menu-menu makan ini kepada siswanya.
14:12Atau jangan-jangan mungkin guru ada pandang-lain,
14:14oh sepertinya kayaknya letaknya di sini deh yang harus dievaluasi.
14:19Ini tentu sesuatu yang perlu kita selesaikan ya.
14:24Kita gali secara rutut, secara menyeluruh.
14:27Bahwa persoalan keracunan ini kan bukan sekali dua kali, Pak Udre.
14:31Ini perlu kita betul-betul evaluasi ya.
14:34Saya mencatat dalam kurun waktu dua bulan terakhir kan seperti kasus di Separang.
14:39Itu ada tanggal 31 Juli, terus di Jayapura, Brastagi, Boyo Ali, Solo, Sidojo, Nganjuk, Agam,
14:48Tanatoraja, Arembang, Jombang, Dairi, NTB, dan lain-lain.
14:52Itu dalam kurun waktu yang berdekatan.
14:55Dan ini tentu, jangan kita anggap enteng soalan ini.
14:59Nah, dalam konteks guru, dalam hal ini guru jangan ramah.
15:03PGRI menegaskan, guru jangan sampai menjadi pihak tertuduh,
15:07apalagi sampai menjadi pihak yang dilaporkan.
15:11Karena perlu diketahui, Pak Udre,
15:13PGRI telah melakukan MOU,
15:16Perjanjian Kerjasama dan Nota Kesepahaman dengan Pak Mabes Polri,
15:21dan lain-lain dengan PGRI dan Polri,
15:23itu setiap tahun, lima tahun diperpanjang.
15:26Terakhir 2022, yang satu di antaranya,
15:29bagian dua, disana sangat tegas, Pak Udre.
15:34Paragraf satu tentang perlindungan hukum dan terkait dengan pasal empat.
15:39Jadi, posisi di sini kita menegaskan bahwa guru jangan menjadi satu pihak yang tertuduh.
15:45Itu kehadiran guru, ini sangat membantu sekali,
15:49meskipun banyak catatan-catatan yang beberapa waktu ke belakang,
15:52dan lain-lain sudah dibicarakan.
15:54Jadi, Mbak Udre, mohon maaf,
15:56di sini yang harus kita tegaskan,
15:59guru jangan menjadi titik kritis.
16:03Karena peran guru pada saat di sekolah itu bukan untuk mengecek MBG gitu ya,
16:08karena kan peran guru adalah mengajar siswanya ya.
16:10Kemampuannya pun terbatas.
16:11Kemampuannya terbatas.
16:12Ketensinya, organoletik ini,
16:14dari sisi kompetensi, dari sisi tugas,
16:17dari sisi waktu,
16:19karena mulai dari proses tadi bahan,
16:21sampai pendistribusian,
16:22sampai mengkonsumsi,
16:24itu kan banyak titik-titik yang dilalui.
16:26Dan ini tentu harus ada kontrol yang ketat.
16:28Jadi, jangan sampai dalam hal ini,
16:30karena titik terakhir adalah pendistribusian itu di sekolah,
16:34dan gurulah yang mendistribusikan.
16:37Dan catatan di sini, Mbak Udre,
16:39guru itu ada yang sebut tugasnya PIC.
16:43Ada komitmen yang ditandatangani itu ada 8 poin ya, Mbak Udre.
16:48Tugas guru di sini ya, tugas sekolah.
16:50Salah satu di antaranya dari 8 poin itu melakukan uji organoletik itu ya, Pak Hardin.
16:56Nah, dua, ketika datang, yang kedua, sebelum dikonsumsi.
17:01Itu sudah dilaksanakan, Mbak Udre.
17:03Tetapi, ketika terjadi yang namanya keracun,
17:06nah itu di luar kuasa, di luar kompetensi guru.
17:11Dan yang berikutnya, guru itu hanya PIC,
17:15itu ada rentang nominal, Mbak Udre, di sini.
17:17Ini yang perlu diluruskan.
17:19Karena ada suara-suara sumir, guru dibayar.
17:21Langsung sehingga tidak kritis dan sebagainya.
17:24Itu hanya PIC.
17:26Dan rentangnya berdasarkan jumlah penerima.
17:28Kurang dari 500 orang, 500 komplek, Mbak Udre,
17:32itu hanya 30 ribu rupiah.
17:35500 dan seterusnya itu 50 ribu per hari.
17:3830 ribu rupiah per hari, bau 500.
17:41Seperti itu.
17:42Jadi, ini persoalan dilakukan itu sangat tidak sesederhana.
17:45Dan perlu memang evaluasi besar-besaran,
17:49bukan hanya tadi harus tanggung jawab guru yang sebagai ganda terakhir,
17:52sebelum seluruh siswa mencoba menu makan bergisi gratis yang dibagikan.
17:57Terima kasih.
17:58Kalau begitu, Wakil Sekjen PBB PGRI, Pak Widjaya Winaryah,
18:03dan juga ada guru besar fakultas kedokteran.
18:06Pak Udre, maksud saya memang harusnya ini jadi masukan kepada BGN
18:11untuk menata bagaimana tata kelola ujung tangan dari SPPG itu di sekolah.
18:16Karena kalau guru terganggu, kan itu tidak baik.
18:19Mungkin saran-saran kita ini, Pak Widjaya, bagus juga.
18:22Kita sampaikan ke BGN.
18:24Terima kasih.
18:25Terima kasih.
18:26Pak Udre sedikit, ya Pak Udre terakhir mungkin ya.
18:29Jadi, masukan-masukan kami pertama terkait dengan bagaimana peran guru itu
18:35yang memang harus dievaluasi.
18:38Bahwa guru berusaha untuk mensukseskan program pemerintah
18:41dalam tanda kutip untuk menghentikan laju stunting,
18:44terus meningkatkan giji murid,
18:47yang nanti berhubungan tentu dengan bagaimana kemampuan kognitif
18:51yang ingin dicapai untuk generasi MAS 2045 nanti.
18:55Tetapi, dalam pelaksanaannya,
18:57suara-suara sumir itu jangan diarahkan
19:00dan guru menjadi tertuduh.
19:02Ini sangat menyakitkan.
19:03Dan tentu dalam posisi ini,
19:07PGRI berdiri di sisi guru
19:09dan akan membela guru-guru yang menjadi tertuduh itu sendiri, Pak Udre.
19:13Pak Widjaya Minarnya, terima kasih.
19:16Prof. Hardinsya, terima kasih.
19:18Selamat malam, Bapak-Bapak.
Komentar